Buku ini membuka mata kita bahwa Baitul Maqdis bukan hanya situs sejarah atau lokasi konflik. Ia adalah "Sanctuary Place" — tempat suci yang menjadi saksi risalah para nabi, dari nabi Adam hingga nabi Muhammad saw.
Dengan narasi yang kuat dan ilustrasi yang mendalam, buku ini menegaskan bahwa Baitul Maqdis adalah poros keimanan, bukan sekadar simbol geopolitik.
Bahasa buku ini sederhana, komunikatif, dan menggigit. Meski ringan dibaca, substansinya berat: mulai dari sejarah para nabi, arah kiblat, hingga makna strategis wilayah Syam dan Palestina bagi umat Islam.
Buku ini dengan cerdas mengangkat tema “mind liberation”, mengajak umat Islam keluar dari mental block yang membelenggu. Melalui ilustrasi dan analogi (seperti "umat Islam seperti singa yang dikurung"), buku ini menyentil kondisi umat hari ini yang kehilangan kepercayaan diri atas jati dirinya.
Tidak berhenti pada nostalgia sejarah, buku ini mengarahkannya ke perjuangan nyata hari ini. Bahwa membela Palestina dan Baitul Maqdis bukan hanya soal simpati, tapi soal tanggung jawab aqidah dan harga diri umat.
Buku ini membuat pembaca sadar: kemerdekaan tidak dimulai dari senjata, tapi dari akal dan iman.
Desain grafisnya kreatif dan informatif: ada peta, ilustrasi menarik dan perbandingan strategis yang memudahkan pembaca mencerna tema besar seperti aqidah, sejarah, dan geopolitik dalam Islam.
Buku ini bukan hanya mengajak kita merasakan penderitaan Palestina, tapi juga memahami mengapa ia penting dalam iman kita. Ia membangun jembatan antara sejarah, Al-Qur’an, dan arah perjuangan umat hari ini menjadi penguat identitas Islam, yang mampu membangkitkan pemahaman, kecintaan, dan keberanian.