Rifka adalah cewek yang mungkin kamu kenal. Tujuh belas tahun, cewek baik-baik, tak pernah jadi pusat perhatian, namun selalu percaya, dia punya hidup yang sempurna. Dia percaya kalau hidupnya begulir karena cinta; Cinta orangtuanya dan cinta pacar sejak SMP-nya: Vino. Bersama Vino, Rifka mengerti arti ‘sempurna’. Vino yang setia, juga teman baiknya. Vino yang selalu ada di waktu padat atau jedanya. Vino adalah masa lalu, kini, dan depannya. Tapi kini Vino koma, dunia Rifka seketika berubah. Keinginannya merawat Vino justru menyingkap fakta baru: Vino dan cinta mereka tak seperti yang dia tahu.
Rifka merasa hidupnya baik-baik saja sampai saat pacarnya selama tiga tahun mengalami kecelakaan dan koma. Lalu seperti beruntun teka-teka muncul ke hadapannya. Dan Rifka, dalam kesendiriannya karena ditinggal Vino, berusaha mengungkap apa yang menyebabkan Vino koma, siapa perempuan cantik yang ada di HP Vino, bagaimana perasaan Vino kepadanya, dan juga bagaimana perasaannya kepada Vino.
---------------
Idenya fresh, dan berpotensi menjadi kisah yang menyenangkan penuh teka-teki. Dan berikut hasil pembacaanku: menyajikan kisah berteka-teka, iya, menyenangkan, tidak terlalu. Entah mengapa aku kurang relate dengan tokoh Rifka. Dari awal, apapun yang dilakukan Rifka kayaknya nggak ok di mataku. Haha, iya, di sini aku berasa kayak ortu diktator yang selalu memprotes apapun yang dilakukan anaknya. Tapi gimana ya, pokoknya tokoh Rifka ini bukan favoritku. Kedua, terjadi pengulangan informasi. Penjelasn tentang A udah dibahas panjang lebar di satu bagian tapi diulang-ulang secara detil di bagian selanjutnya. Ini membosankan. Jadi maafkeun kalau aku sering skip-skip bacanya. Oh ya, ada satu pertanyaan yang masih mengganjal: gimana sih perasaan Vino ke Rifka sebenarnya? Dan kenapa Vino melakukan A jika dia tidak B? *oke, ini menyebalkan. tapi aku harus menghindari spoiler, kan?*
Tapi sebaiknya jangan percaya dengan review ini. Ini hanya soal selera.
Jadi, terbitan PlotPoint lain yang selesai saya baca. So far, saya cukup puas dengan alurnya. Saya enggak bilang page turner, tapi memang menyenangkan buat dibaca dan membuat bertanya-tanya "why"?. Gaya penulisannya renyah dan "cukup menari" meski ada juga beberapa dialog yang saya pikir redundant. Akan tetapi, keterkaitan anterkejadian disusun dengan cukup baik, sehingga menjadi enjoyable. Bahkan, saya pikir ada sedikit unsur misteri-investigasi di sini; sebuah pendekatan segar dari cerita yang menekankan tentang percintaan sebagai blurb.
Buku ini sendiri enggak cuma terkait dengan romansa dan "test of fidelity", tapi , meski memang porsi plotnya sedikit sekali dan kurang dielaborasi. Main plot saya rasa sempat sedikit menyimpang, tapi, overall, dia konsisten. Bahkan, main plot ini didukung pula oleh subplot dan subkonflik yang mendukung plot utama . Dari segi setting, cerita ini terasa set Indonesianya, tidak berusaha terlihat seperti film remaja Hollywood atau dorama Jepang. Otentisitas ini mungkin menarik bagi beberapa orang, tapi mungkin juga membosankan.
Rifka merasa sedih saat mengetahui pacarnya sejak SMP, Vino, kecelakaan motor dan koma. Dia juga merasa bersalah karena sebelumnya marah dan kesal dengan kelakuan Vino yang sedikit berubah, tidak mau mengantarnya daftar beasiswa dan mengingkari janji demi main futsal. Untuk menebusnya, dia rela menunggui Vino di rumah sakit selama berhari-hari. Di malam-malam itu, dia menemukan hal-hal ganjil tentang penyebab komanya Vino. Dia juga terganggu dengan isi ponsel pacarnya, yang dia dapat dari suster rumah sakit, yang memuat foto perempuan seksi yang sepertinya diambil diam-diam. Rifka lalu mencurahkan kegelisahannya pada sebuah program radio kesayangannya. Nindy, penyiar radio tersebut, dengan senang hati membantu Rifka. Dia sampai member Rifka trik masuk sebuah klub malam dan mencari perempuan seksi itu.
Jeda Dalam Koma ini oke banget. Ceritanya berbeda membuatku sedikit berpikir. Gila, ya, pacaran Rifka dan Vino ini serius banget untuk umur mereka yang masih muda. Pacarannya sih bisa dibilang sehat. Mereka saling membantu soal bidang akademik, saling dukung, selalu bareng kemana-mana dan kayaknya nggak macem-macem. Tapi aku ragu tuh, mereka emang nggak ngapa-ngapain, ya? Nggak ada reaksi hormon remaja yang lagi naik-naiknya, gitu? Sikap kedua orangtua mereka juga bikin aneh, mereka mendukung banget hubungan itu, sampe bilang calon menantu segala. Tapi ternyata, semua itu punya twist di ujungnya. Baca sendiri deh hehehe. Khusus untuk Rifka, aku juga merasa kasihan saat dia menyadari kalo dia terlalu banyak menghabiskan waktu buat Vino. Dia sampe bingung mau ngapain saat istirahat karena nggak biasa pergi ke kantin dengan orang lain kecuali Vino. Ckckck, separah itukah pacaran mereka :O
cara penulisannya nggak seemosional yang diharapkan, padahal seharusnya cerita kayak gini bisa bikin nangis. chemistry antara Rifka dan Vino juga nggak terasa karena nggak pernah sekalipun dibahas kenangan-kenangan yang pernah mereka laluin. minimal sekali deh. rentang waktu pacaran mereka cukup lama kan. ya memang sih fokus novel ini bukan membahas hubungan Rifka dan Vino, tapi lebih ke 'misteri' soal Vino yang Rifka coba pecahkan dari awal. dan endingnya.... (spoiler) kenapa Vino masih aja koma??? gimana nasibnya? you better never leave a fussy reader like me in a deep hole of curiosity... yah tapi plotnya cukup bikin penasaran walaupun narasinya terasa kurang luwes. dan penasaran sama foto penulisnya, kenapa nggak ada profilnya ya? yang ada malah profilnya si ilustrator.
Kesel sama semuanya! Apalagi sama Vino jadi kasian sama Rifka. Walau kesel sama orangnya, tapi tetep aja bertanya-tanya itu si Vino gimana nasibnya, deh?
Ide yang katanya "orisinal" ini ternyata tidak cukup. Yang membuat novel ini menarik adalah apa yang akan terjadi berikutnya. Rasa penasaran yang besar itu nggak cukup. Saya baca banyak skip, yang mana ini sangat bukan saya banget. Saya baca narasi dan dialog yang berhubungan ke cerita, karena banyak narasi ngoyo yang nggak penting. Banyak dialog yang basa basi busuk sekali yang kalau dihapus pun tidak masalah. Padahal idenya sudah cukup baik.