Kekurangan apa yang ada dalam diri Ciara? Cantik, cerdas, ramah, sekretaris Manajer HRD di salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Semarang ini juga hobi memasak dengan tingkat keterampilan yang tidak bisa diremehkan. Dan karena tak membeda-bedakan teman bergaul, fans Ciara datang dari berbagai kalangan.
Bahkan Sena, Managing Director Centro Prime pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Hati Ciara menyambut gembira. Tapi saat dengan bangga Sena memperkenalkan si calon istri ideal kepada keluarganya, ada ketidaksetujuan yang tersirat dari sikap sang mama.
Kalau bukan karena menganggap Ciara cewek matre, apakah mama Sena tahu tentang Danny dan rahasia The Supper Club, klub kuliner tempat Ciara bergabung? Akankah Ciara mampu menepiskan perasaan demi kepentingan klub, meski akan ada korban yang berjatuhan?
I was born on May 4, 1971, on a small village called Gedongan in Magelang County, the province of Central Java, Indonesia. Following the footsteps of my father who is a comicbook artist and cartoonist, I want to be a comicbook artist and a cartoonist too. Then, something happened that change my life completely. In 1985, I became a member of Perpustakaan Keliling or Mobile Library, a service provided by the Local Government Public Library Office of Semarang to urge young people to read. The Mobile Library comes in a small truck fully loaded by books, especially teenage romance novels, children storybook, and detective novels. It arrives in my neighborhood once a week every Wednesday at 3 PM. Through the Mobile Library I read books by Agatha Christie, Enid Blyton, and Indonesian legends such as Arswendo Atmowiloto and deeply impressed by them. Soon after, I switch my future dreams from comicbook and cartoon into literature and fiction. Then I swore myself to dedicate my life as a novelist like those big names. I started my writing career as a freelance writer at Cempaka Minggu Ini family tabloid in 1992. Five years later I became an editor at Dharma news tabloid and in Tren teens tabloid in 2001. My first big break on publishing world came exactly 20 years after I enrolled to become the member of the Mobile Library. In 2005, I published my first novel, Kok Jadi Gini?Kok Jadi Gini, literally means How Come It Could be Like This in English. To this day, I’ve written five novels which are all published by PT Elex Media Komputindo and 2 more which are published by Gramedia Pustaka Utama, both in Jakarta. Now I write novels and work as an editor at Gradasi teens magazine since August 2007.
Hanya dengan membaca novel ini, membuat kita ingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dibalik kecantikan dan halusnya budi pekerti seseorang ternyata tersimpan sisi gelap yang mengejutkan.
Kali ini aku bener bener kebingungan harus kasih nilai berapa, mungkin 3 nilai yang pas buat buku ini. Siapa yang sangka endingnya bakal seplot twist itu? I thought it was just an ordinary romance-type novel but I was wrong. Seandainya plot twist itu ngga ada aku bakal kasih nilai 2,5 tapi yaahh karena it was astonishing, I decided to raise the score. Di awal aku agak kurang sreg sama pembawaan ceritanya yang dewasa dan gamblang banget (untung aku bukan minor 😡) dan awalnya juga aku bingung kenapa judulnya the supper club padahal plotnya jarang membahas club itu, lebih banyak membahas Ciara dan cowo-cowonya. Kinda satisfied with the ending tho, great read.
Ini kali kedua saya baca karyanya Wiwien Wintarto. Karya beliau yang pertama saya baca adalah The Rain Within. Saya suka banget sama novel itu. Makanya saya memutuskan membeli novel ini. Saya agak sedih tidak menemukan kesan yang sama setelah selesai membaca The Supper Club ini.
Hmmm mulai dari mana ya?
Sebenarnya saya suka banget sama idenya. Romance-crime-mystery agak thriller gitu. Jadi mengingatkan saya sama Metropolis-nya Windry Ramadhina. Nggak sama banget juga, sebenarnya. Cuma kedua novel ini sejumlah dari novel Indonesia yang temanya agak crime gitu.
Sayangnya menurut saya, The Supper Club ini romance-nya terlalu mendominasi. Kalau bisa agak berimbang sama misterinya, kayaknya bakal keren banget. Mungkin penulis merasa agak terbatas ya karena memilih POV 1 untuk mengisahkan cerita ini.
Omong-omong soal POV, rasanya agak sayang penulis memilih penceritaan orang pertama. Soalnya menurut saya, pembaca nggak dapat apa-apa dari point of view itu.
Seperti yang saya bilang tadi, kalau memilih POV 3 penulis mungkin bisa lebih leluasa menyelipkan thriller di depan supaya alurnya nggak terlalu lambat di awal. Diselang-seling gitu antara romance dan thriller, biar mendebarkan--seperti perasaan ketika aku berada di dekatmu. Ciadow. Nyebelin.
Terus apa lagi ya?
Saya nggak terlalu suka sama Ciara. Dia kayak nyadar banget bahwa dirinya itu nyaris sempurna. Sebel banget bacanya, ahahahah. Karakternya juga rasanya kurang hidup. Meski dari POV 1, penulis kurang mengeksplorasi karakter Ciara. Menurut saya, lho.
Saya juga sebal baca cerita tentang cowok-cowok yang mendekati Ciara. Agak mubazir rasanya.
Yang saya sayangkan lagi, kurang sekali informasi mengenai The Supper Club. Maksudnya, apa yang membuat terbentuknya klub itu, kenapa Danny membuatnya... yang gitu-gitu deh.
Yah, pokoknya novel ini bikin saya agak kecewa. Padahal potensinya bagus. Cuma mungkin untuk bagian thriller-misterinya kurang dieksekusi dengan rapi.
Sayang banget :( Tapi tetap semangat untuk penulisnya! Saya mungkin baca buku yang lainnya, soalnya sudah terlanjur terkesan sama The Rain Within, teenlit kece itu :3
Awal ketertarikan karena sampulnya bergambar makanan. Mulai penasaran dengan jalan cerita yang dimulai dengan acara makan-makan. Penuh dengan romansa, tapi menyimpan sedikit teka-teki ketika ada saja yang penasaran dengan The Supper Club karena para anggotanya seakan menyimpan sebuah rahasia yang hanya mereka saja yang boleh tahu. Benar saja, ending tidak terduga.
Saya jatuh cinta dengan plot twist yang benar-benar tidak terduga dan ending yang entah mengapa memberikan kepuasan tersendiri bagi hati mana pun yang pernah dikecewakan dengan sedemikian rupa.
"Man's got to do what a man's got to do."-Hal. 260. My favorite irony in this book. Thanks to Ciara who decided to call Toni in the last time and Toga, a man like him, God bless him! I would love to be loved by Toga. No certain excuse, he's just done what he needed to do to get the love he wanted.
Ketika bosan dengan alur dan tema biasa-biasa aja, novel ini bisa jadi tempat pelarian. Awalnya ga ada yg ga biasa dari novel ini. Hanya genre romance tentang Ciara -si tokoh utama, yang didekati tak sedikit laki-laki. Kemudian sedikit bergeser ke arah genre misteri ketika ada cerita mengenai hilangnya beberapa orang dan rahasia klub kuliner Ciara. Dan fix, novel ini jadi salah satu novel gak biasa yang pas jadi teman bacaan ketika bosan dengan genre romance yang itu itu aja. Quote : Air mata terus turun. Bukan oleh kesedihan dan penyesalan, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidup, baru sekali ini cinta akhirnya sanggup membuatku merasa damai dan terpenuhi. Terlengkapi (Ciara - hal 305)
Awal membaca tidak ada pretensi apa pun namun mendekati paruh akhir, plot twist berkali-kali yang muncul sukses membuat perasaan menjadi lebih tercengang dengan arah ending yang tak terduga ini.
Pengarang mampu menyembunyikan dengan rapi kecenderungan aneh seorang perempuan cantik yang berkamuflase menjadi sekretaris HRD baik-baik, terlebih berkaitan dengan acara makan dan kumpul-kumpul itu.
Terlalu banyak tokoh mungkin juga sengaja disodorkan untuk lebih mengaburkan sosok yang memang harus menjadi kejutan mengerikan di akhir cerita.
Terkecoh sih dan terlampau mendadak eksekusinya, seakan semua masalah harus dituntaskan segera sementara problem Ciara yang ditolak oleh calon mertua pun belum tuntas. Ini novel memang rada sinting, wow banget.
Novel ini sangat tidak biasa. Ketika kita mulai membaca, mungkin kita merasa ini sekedar novel romance biasa mengenai hubungan percintaan Ciara dan Sena. Namun, kejutan di bab - bab akhir cerita mengantar kita pada tema thriller yang dibalut apik dengan latar The Supper Club, komunitas kuliner yang diikuti Ciara. Keselurahan cerita memang sangat seru karena kita dibuat terhibur dengan plot yang mengalir dan tak monoton.
3,5⭐ Ceritanya lumayan bagus, nggak ngebosenin, plot twist nya gak nyangka sih, gak pernah kepikiran sedikit pun bakal kayak gitu kejadiannya Tapi kenapa rating di goodreads dibawah bintang 3, harusnya masih bisa 3 koma lah, makanya sekarang aku kasih bintang 4 biar keangkat dikit Kekurangannya sih lebih ke ending yg gak selesai, kurang jelas nasib para tokohnya, dan ada beberapa tindakan tokoh yg gak dijelaskan alasannya
Merinding. Gokil, creepy abis sampai ngga bisa tidur :"( Pertama ngira ini klub tukang tukar pasangan gitu, taunya... why oh whyyy. Kena jackpot banget huhu :(
alurnya memang lambat tapi membuat penasaran karena ada sesuatu dari ceritanya. sesuatu yang pasti membuat kamu tercengang. sayang sesuatu itu baru terkuak menjelang akhir dan tidak dikembangkan lebih jauh. eh tapi bagus sih, kalau benar-benar dibuat sedetail mungkin, bisa-bisa bikin aku enek.
Perkenalkan Ciara, gadis berusia 26 tahun yang bekerja sebagai sekretaris manajer HRD di salah satu perusahaan swasta terkemuka di Semarang. Kecantikannya memikat hampir semua pria yang dikenalnya, termasuk Sena, managing director perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan tempat Ciara bekerja, a wealthy man yang menjadi pacarnya. Ditambah dengan kebaikan hatinya dan keluwesannya dalam bergaul, lengkaplah sosok Ciara sebagai wanita sempurna. Ciara juga hobi memasak - hasil masakannya sempurna - dan ia juga tergabung dalam The Supper Club, sebuah klub kuliner yang memiliki anggota dari berbagai kota di Indonesia. Tidak hanya sekadar kumpul dan makan, The Supper Club juga aktif mengadakan bakti sosial. Di permukaan, semuanya tampak baik-baik saja. Namun, seiring berjalannya cerita, kita diajak menemukan keanehan dari The Supper Club - klub itu begitu tertutup, baik terhadap media yang ingin meliputnya, juga terhadap orang luar yang ingin bergabung di dalamnya. Keanehan juga muncul dari mamanya Sena - wanita itu tidak menyukai Ciara tanpa alasan yang jelas, padahal Ciara merasa tidak ada yang salah dengan dirinya, kecuali…
The Supper Club. Kover depannya menarik dengan foto sepotong daging yang tampak nikmat, sedangkan kover belakangnya secara singkat menceritakan Ciara, Sena, dan mamanya Sena yang tidak menyukai Ciara - dan diduga ada kaitannya dengan The Supper Club. Hal yang menonjol dari novel ini adalah ending-nya yang sangat tidak terduga, meskipun penulis sudah menyisipkan berbagai petunjuk di sepanjang cerita. Namun, ada beberapa hal yang kurang dari novel ini. Penulis terlalu banyak menggambarkan Ciara sebagai the most wanted girl. Terlalu banyak isi pikiran Ciara mengenai cowok-cowok yang menurutnya pasti naksir dia - termasuk cowok yang baru sekali bertemu - membuat Ciara kurang classy dan malah tampak ke-GR-an. Namun, secara keseluruhan novel ini cukup nikmat sebagai bacaan ringan. Bahasa penuturannya pun enak diikuti sampai akhir. Dan satu pesan yang berhasil disampaikan oleh The Supper Club: everyone has a dark side, sometimes a very unexpected one. Selamat menikmati!
Done!!!Penulis bisa aja menyatukan ide Hannibal dengan MasterChef..Hihihi. Kalau sebelumnya aku nggak dikasih tau ini ada bau2 Thriller atau makanan 'khusus' ku pikir aku bisa saja kaget dengan kejutan di bagian akhir. Sayangnya sebelum baca, aku udah ngeh duluan tentang kejutan2 itu karena baca review novel ini.
Gaya penulisannya khas Mas Wiwien sih buatku. Aku dulu udah pernah baca Say No To Love dan suka banget dengan cara penulisan beliau yang lincah dan mengalir mebuatku nyaman membacanya. Dan itu juga kutemukan dalam novel ini. Mengalir saja pas baca. Cuma sayang penggambaran sosok Ciara terlalu sempurna untukku. Penggemarnya di cerita dalam novel ini banyak banget. Bukannya iri ya, hahahah...Tapi too much aja sih. Dan dari segala macam golongan serta hampir semuanya 'berani' mengungkapkan perasaannya. Lalu, Ciara yang senantiasa diagung2kan sebagai 'Dewa' nya memasak. Mungkin sebenarnya pujiannya biasa saja, tapi koq pas kubaca jatuhnya terlalu mengagung-agungkan. Tapi overall, itu nggak menggangguku sih saat menikmati cerita di novel ini. Well, metropop dengan rasa yang berbeda ;).
Aku suka banget covernya, dan tidak pernah menyangka apa yang ada dibalik cover yang menggugah selera itu. Oiya btw, 'bertamperasan' di halaman 12, itu artinya apa sih?aku kok jarang dengar kata itu...
buku ke2 mas wiwien yang gue baca setelah teenlit Unfunniest Comedy.. dan yaa memang agak gimana ya sama cerita ini.
Ciara yang cantik, seorang sekretaris di salah satu perusahaan gede di Semarang ini menjalin hubungan bersama Sena, anak pemilik perusahaan dari salah 1 klien nya di kantor. hanya saja hubungan mereka ditentang oleh ibunya Sena yang tidak setuju.
Ciara mempunyai satu klub kuliner yang bernama the Supper Club. gk taunya menu2 yang mereka hidangkan ini adalah dari daging manusia, makanya gk heran banyak orang yang secara tiba2 hilang gitu aja..
well, agak weird sih sama ceritanya. jujur aja, susah banget buat nerusin baca nih novel. makanya sampe ditunda2 juga.. fiuhh.. sorry, gue tau kalo nulis itu gk gampang, susah banget malah. dan bukannya gue meremehkan mas wiwien juga, tapi sorry dorry banget untuk buku ini gue sama sekali gk nemuin gregetnya dan kenikmatan baca suatu novel..
ceritanya datar, agak bingungin karena banyak yang gk jelas.. sorry mas wiwien cuma bisa kasih 1,5 bintang aja untuk cerita ini ^^
Hore aq bikin review lagi . aq tahu nih buku dr temanku. langsung nilai ni buku yah .
bagusnya nih buku 1. Pintar banget sih penulis menyamarkan point penting dalam nih cerita , aq sebagai pembaca di bikin ketagihan baca sampai tengah- tengah n so sweet banget chiara n pacarnya di the supper club 2. Aq di bikin berasa nonton film ada actionnya gt .keren mas wiwin winarto !!! 3. Aq di bikin ikut laper sama makanan yang di gambarkan mas wiwin winarto , padahal thu makanan ranjau menurutku. 4.Alurnya santai menurutku , cocok di baca untuk semua kalangan. 5.Ini cerita bikin aku susah lupa sampai sekarang. terukir di otak ku .
jelek nih buku 1. Vocabulary yang di pakai kayak lagi nonton berita , mungkin karena dulunya mas ww wartawan makanya ke bawa gitu di bukunya. 2.Terlalu banyak tokoh laki-laki di ceritanya jadinya bikin salah nebak si chiara sama siapa akhirnya. 3. Endingnya biasa aja .
Segitu aja yang bisa aku review .Kalau tidak suka dengan reviewku maaf ya ,saya hanya menulis apa adanya. terima kasih
Ide memadukan Hanibal dan Masterchef oke. Tetapi alurnya sangat lambat, terutama di separuh depan. Ide cerita yang bagus seperti tenggelam dalam romance yang menurut saya agak ganjil (kalau tidak bisa dibilang berlebihan). Memangnya ada ya cewek yang begitu sempurna sampai semua laki-laki dari berbagai golongan naksir sama dia? hehe Dan sepertinya si cewek (Ciara)sadar banget dengan kelebihannya itu. Ceritanya beralih menghentak begitu masuk kira-kira sepertiga belakang, sayang banget. Dari sini saya mulai semangat membacanya. Sebenarnya di awal-awal sudah hampir menyerah, tetapi karena penasaran dengan judulnya, akhirnya memutuskan untuk bertahan. *hallah* Menurut saya, novel bisa jadi lebih misterius dan menarik seandainya bumbu romance-nya tidak terlalu banyak porsinya.
not my favorite book of all.... alasan? karena buku ini creepy parah :(((
bagus sih sebenernya....semacem menyadarkan kita kalo di dunia ini gak ada yang sempurna. buktinya aja cewek sesempurna Ciara masih ada aja kekurangannya, yaitu seneng makan daging manusia. dan contoh lain, sesempurnamya Sena as a man, tetep aja dia anak mami.....
anyway, selain karena buku ini creepy, gue juga gak begitu seneng bacanya karena alurnya lambaaaaatttt banget!!! huft. saya yang biasanya baca buku gak sampe seminggu tiba22 pas baca buku ini bisa ngelewatin seminggu. males banget gitu loh bacanya, karena gak nemu22 intinya....huft
Novel ini berakhir tak terduga, sedikit creepy & bikin penasaran, nasib Sena & Davina berakhir di dalam sebuah masakan?....atau.....? Untuk kategori novel Indonesia, karya sdr. Wiwien Wintarto masuk kategori yang tidak biasa, layak untuk dibaca. Singkirkan pikiran kalau novel ini sebangsa chicklit
Mual! Untung bacanya bukan pas makan :)) Hihihihi... 2.75 bintang yang aku bulatkan jadi 3 rasanya pantas untuk Metropop yang 'berbelok' genre ini. Walaupun ada beberapa bagian yang aku lompati seperti penjelasan tentang sego kucing (karena aku udah tau apa itu sego kucing tanpa harus diceritain lagi :D) tapi secara garis besar aku kasih dua jempol untuk ide dan cara bercerita yang bikin nggak bisa berhenti. Aku bahkan berhasil menyelesaikan novel ini dalam 3 jam saja! Bravo, Mas WW!
Aku lumayan suku bukunya, gak nyangka sih sama plot twistnya. Padahal aku udah mulai curiga pas di mana ada orang yang hilang, pasti ada sangkut pautnya. Eh, ternyata bener dong! Jadi penasaran sama lanjutan hidup Ciara sama Toga gimana, yang lebih detail! Kuharap bakal ada sekuelnya dehh, greget bikin penasaran banget!!
Ceritanya beda banget dari cerita yang biasa aku baca. Alurnya lambat jadi ada yg aku lewatin. Ending nya bikin penaran apakah senanya dibunuh apa ga. Secara keseluruhan ceritanya bagus tapi bukan cerita yang akan aku baca berkali kali.
Satu yang kusuka dari cerita ini pas bagian Ciara jelasin tentang masalah kuliner. Btw, alur ceritanya lambat banget, sumpah. Ada yg skip-skip. Maapkeun.
There's somethin' about this book that makes you addicted to it!
Setelah berbulan bulan minat membaca hilang because I lost in the dramaland ^^, ga sengaja nemu buku ini di tengah tumpukan buku-buku Gramed Edu Fair CSB Mall. Don't know why tiba-tiba kangen pengen baca lagi.
Sampai rumah, lepas kerudung, langsung baca. Daaan tamat dalam waktu kurang lebih 5 jam-an.
Impression? Awal baca agak kurang sreg karena beberapa dialog antar tokoh made me cringe, tapi tetep lanjut karena super penasaran ada apa sih ini sama clubnya Ciara?? *gigitin jari frustasi* what's wrong with that club? Dialog-dialog Ciara dengan Danny bener-bener mencurigakan! Sampai bab 26 pun I still had no idea what on earth is goin on, then HA!!!!! Suddenly the author gave me surprise and now I'm still in shock when I'm writing this! Honestly, I love that kind of feeling when the author could give me an unexpected story..... I won't spoil anything, silahkan baca sendiri bagi yang penasaran and get ready for the shocking ending ><
Note: Berharap ada sekuelnya, penasaran kelanjutan cerita Ciara dan Toga C:
Aku baca ini karena mengira isinya tentang kuliner. Ternyata ya... memang kuliner, sih. Tapi kuliner yang sangat ganjil. Aku mulai agak ngerasa off ketika Ciara mulai berhubungan badan dengan Sena. Dan jadi makin "ngek" begitu tahu ternyata supper club yang diikuti Ciara itu klub penggemar daging manusia! Kanibal! Hiiiiiiiih...