MENGGUGAT MITOS KEMAJUAN
“There is infinite hope - just not for us.”—Franz Kafka, dikutip Žižek pada halaman 55
SUATU kali saya pergi ke toko buku dan tertarik dengan buku tipis berwarna hijau neon, cerah, tanpa gambar sampul, dengan nama eksotis dari Slovenia: “Againts Progress” dari Slavoj Žižek. Buku terbitan Bloomsbury Academic setebal 122 halaman itu menyebut soal “progress”—sebuah kata yang membuat kita membayangkan sesuatu yang selalu bergerak ke depan, linier, bersih, menuju “yang lebih baik”. Progres, kemajuan, menjual harapan seperti dalam brosur dan bertanya retoris: siapa yang tak menginginkan kemajuan dalam hidupnya?
Beberapa penulis telah mencoba meyakinkan kita soal kemajuan, bahwa kita tengah berada dalam periode terbaik dalam sejarah umat manusia. Melalui berbagai data, Hans Rosling percaya bahwa dunia telah mengalami banyak kemajuan. Bill Gates bahkan mengagumi pendekatan Hans dalam buku Factfulness: Ten Reasons We're Wrong About the World—and Why Things Are Better Than You Think (Begley, 2018). Ray Kurzweil, pakar AI dari Google, memprediksi bahwa kemajuan teknologi telah menghasilkan banyak lapangan kerja baru untuk mengkompensasi pekerjaan-pekerjaan manusia yang hilang, dan dengan pendapatan 10 kali lipat dari gaji pekerja 100 tahun yang lalu (Corbyn, 2024).
Tapi Žižek berbeda. Ia memulai dengan nuansa keresahan. Pertanyannya: seperti apa akhir dunia yang kita bayangkan? Apakah, seperti kata Fukuyama, kita tengah berada “di akhir sejarah”? Dalam politik internasional kontemporer, kita mudah menemukan kutub-kutub dunia yang sedang berjalan berlawanan, seperti Korea Utara-Selatan, Palestina-Israel, atau Ukraina-Rusia. Dengan konflik-konflik tersebut, menurut Žižek, jika orang-orang berharap ketenangan menjelang akhir dunia, mungkin semua orang akan kecewa.
●●●
Žižek, dengan caranya yang khas—kadang cerewet, kadang seperti orang yang sedang bergurau dalam kegilaan—menulis 13 esai pendek dalam Against Progress. Judulnya seperti pukulan pertama: provokatif, frontal, dan mungkin, oleh sebagian orang, dianggap sebagai penistaan terhadap iman zaman modern. Isinya, tidak kalah provokatif, seperti pukulan membabi buta: layaknya petinju yang mengincar luka lama yang dibalut terlalu rapi, berkali-kali. Progres, barangkali, telah menyembunyikan rasa sakit yang tak pernah pulih bagi umat manusia. Kita perlu membuka ‘luka lama’ itu, ‘realitas’ itu. Di halaman 3, Žižek menulis:
“Mao said: ‘Revolution is not a dinner party.’ But what if the reality after the revolution is even less of a dinner party? This in no way implies that we should abandon progress – we should rather redefine it, and the first step towards doing so is to be able to acknowledge uncomfortable realities, even those which appear squalid and mangled, and especially those we find shamefull and grievous and which seem to have no remedy.”
Untuk mengetahui realitas apa yang sebenarnya ada di hadapan kita, Žižek mengamati politik dunia dengan serius. Ia bicara soal Gaza dan Tepi Barat (dalam esai Civil War, Concrete Analysis of a Concrate Situation, We Are Biomass), situasi Ukraina (Acceleration, Worsting, Civil War), BRICS (Against Progress, Worsting), Korea (The End of the World), dan Afrika (From Bad to Worse). Di tangan Žižek, bahkan pop kultur bisa berubah menjadi medan kritik sosial. Ia mencari perumpaan dalam film, seperti Civil War, Serpico (1973), atau Prison Notebooks. Ia menyandingkan Star Wars dengan politik identitas, dan membedah Barbie bukan dengan nostalgia, melainkan dengan kegelisahan tentang tubuh, gender, dan citra.
Dalam esai-esainya, Žižek mengkritik narasi-narasi dominan Barat seperti modernitas, kapitalisme, maupun kebebasan. Žižek tidak membantah kemajuan dengan nostalgia atau romantisisme masa lalu, melainkan dengan menguliti bahasa moral yang menyertainya. Kolonialisme Barat, misalnya, kerap dipresentasikan sebagai jalan masuk ke modernitas, seperti kasus India—sebuah penderitaan yang konon perlu demi masa depan (hal. 3-4). Pencerahan ala Barat, yang menjanjikan rasio dan emansipasi, ternyata juga memproduksi mekanisme kekerasan yang dingin dan sistematis. Dalam kata-kata Marx, kolonialisme Barat menunjukkan “hypocrisy and inherent barbarism of bourgeois civilization”. Sejarah, dalam pembacaan ini, adalah arsip ambiguitas yang terus disapu bersih oleh kata “progress”.
Tapi yang mengganggu dari argumen Žižek bukan melulu pesimisme, melainkan ketenangan saat menyebut bencana sebagai sesuatu yang normal. Perang, krisis iklim, teror, kecanduan opioid—semuanya bukan gangguan dalam sistem, melainkan bagian dari cara sistem itu bekerja. Dunia maju, dengan seluruh perangkat rasionalitas dan teknologinya, justru hidup dalam ancaman permanen yang ia ciptakan sendiri. Di sini, sains dan teknologi kehilangan aura netralnya. Sainstis dikontrol oleh kepentingan kapital sehingga mengabaikan pengaruh ekologi dari aktivitas manusia (hal. 82). Ada dominasi sosial di sana. Kecerdasan buatan, misalnya, tidak hanya menjanjikan efisiensi, tetapi juga menyimpan fantasi menggantikan manusia yang rapuh dengan sistem yang lebih patuh dan tanpa cela. Progres bergerak cepat, tetapi refleksi tertinggal jauh di belakangnya. Oleh karena itu, menurut Žižek,
“True progress thus occurs in two steps: first, we make a step towards actualizing what we consider progress, and when we become aware of the squashed bird that was the victim of this progress, we then accordingly redefine our notion of progress.” (hal. 8)
Žižek juga mencurigai optimisme yang terlalu mudah percaya pada bahasa kebebasan. Kita harus sadar/bangun dari kebebasan palsu (hal. 83). Demokrasi liberal, dengan ritual pemilihan dan retorika hak individu, sering kali bekerja sebagai tirai yang menutup relasi dominasi dan eksploitasi yang tetap utuh. Kapital itu, kata Marx, seperti vampir atau parasit. Dia menghisap darah kehidupan (hal. 91). Ketimpangan politik dan ekonomi direduksi menjadi perbedaan budaya; ketidakadilan disulap menjadi soal selera hidup (menurut Benjaminian, di situlah terjadi “politicization of culture”, hal. 6). Bahkan janji-janji global seperti “pembangunan berkelanjutan” tampil sebagai penghiburan moral—memberi harapan tanpa mengganggu fondasi sistem yang sama. Karena itu, Žižek tidak menawarkan solusi yang menenangkan. Ia justru mengajak kita berhenti sejenak, menunda iman terhadap kemajuan, dan kembali ke pertanyaan yang lebih tua dari modernitas itu sendiri: apa yang kita maksud ketika mengatakan “hidup yang lebih baik”? Apakah pilihan yang tersedia bagi negara berkembang hanya “bad” (neokolonialisme Barat) atau “worse” (pemerintahan otoriter anti-kolonialisme yang palsu) (hal. 86)?
●●●
Saya rasa Žižek tidak bermaksud menjadi musuh dari perubahan. Ia hanya menulis bahwa dunia bisa dijelaskan oleh kontradiksi—bukan semata-mata oleh harmoni. Sebab menurutnya, dunia ini memang tak rapi. Tapi justru di dalam kekacauan itulah, ada kejujuran. Ia menyerang progresifisme palsu: dari teknologi hijau yang hijau hanya di permukaan, hingga terapi psikis yang menjanjikan penyembuhan tanpa bertanya apa sebenarnya penyakit zaman ini.
Kelebihan esai-esai dalam buku ini, selain analisisnya yang tajam, adalah gaya menantang yang memaksa orang untuk berpikir ulang. Namun, referensi intelektual yang padat mungkin akan membuat buku ini tidak cocok untuk kebanyakan orang. Buku ini filosofis di mana-mana. Pemikiran Marx, Lacan, Lenin, Kierkegaard, Adorno, atau Mary Poppins, bisa jadi terlalu rumit bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan tulisan-tulisan filosofis-kritis. Selain itu, kumpulan esainya nampak tak rapi dan berkelok-kelok, seperti pikiran yang menolak disederhanakan. Di awal, Slavoj Žižek membahas akhir dunia, lanjut menulis Korea Utara vs Selatan di pertengahan, lantas bicara budaya populer di akhir.
Tapi tentu, buku ini bukan bacaan bagi kita yang mencari solusi cepat. Againts Progress bukan buku motivasi. Žižek bahkan tidak terlihat berusaha untuk memotivasi. Ini adalah buku yang lebih suka membuat kita gelisah. Pada halaman 97, Žižek mencatat:
“Images of the end of the world, imagined and otherwise, pervade our media. Alenka Zupančič noted ironically that one should not expect tto much from the end of the world – it may disappoint us. I offer similar sentiment, only phrased slighlty differently: don’t worry, sooner or later the end will come.”
Esai-esai dalam Againts Progress bukan akhir dari perbincangan—Žižek hanya memberi kita waktu untuk mulai berpikir lagi: tentang arah kemajuan, siapa yang ikut, dan apa yang diam-diam tertinggal di belakang.