Lewat 20 kisah yang menghidupkan beragam suasana pesta, antologi cerpen ini menyuguhkan keindahan dan kompleksitas emosi yang tak terduga. “Pesta” tak sekadar tentang perayaan. Ini adalah panggung tempat berbagai perasaan tampil apa adanya. Dalam pesta yang ramai, ada mereka yang terasing. Di tengah riuh tawa, ada hati yang tak terjangkau. Ketika pesta berakhir, siapa yang benar-benar merasa bahagia? Siapa yang justru berusaha melupakan segalanya?
Antologi ini menyajikan bagaimana pesta dimulai, berlangsung, hingga berakhir dengan cara yang berbeda di setiap kisahnya, membawa pembaca pada kejutan yang membekas
Kumpulan cerpen pemenang sayembara Gramedia Writing Project ini sesungguhnya memiliki tema yang menyenangkan, yaitu "pesta". Maka dalam 20 cerita singkat para pembaca disuguhi kisah pesta yang nyatanya kusam dan tragis jauh dari warna warni ceria yang diharap. Nyaris seluruh cerpen menggelar kisah yang pilu dan muram durja, mungkin untuk menyasar target pembacanya yang secara demografi anak muda yang doyan cerita sejenis. Hasilnya, rata-rata berhasil sebagai hiburan layaknya kepingan dari serial Twilight Zone dengan kearifan lokal. Walau harus diakui, kisah-kisahnya mungkin tak banyak dikenang selepas disantap, kecuali satu kisah yang menyentil patriarki "Selepas Pesta, Saoha Menjelma Maciana", yang terasa getir dan kental akan nuansa budaya Nias serta tradisi hantu kuntilanak yang dibuat dramatis dan menyayat hati.