Mereka menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Tapi memandang satu sama lain dengan cara yang sama.
Kania selalu merencanakan segalanya. Ia meletakkan logika di atas perasaan. Ia mengubur dalam-dalam sebuah rasa tanpa nama yang diam-diam mengusiknya. Rasa asing yang membuatnya tersenyum ketika menatap sahabatnya.
Erga menjalani harinya satu per satu, tak pernah bercita-cita besar, dan cukup bahagia ketika orang yang bersamanya tertawa, Kania.
Lalu, ketika bersahabat rasanya terasa tidak lagi cukup, mereka menghadapi ketakutan masing-masing. Kania percaya pada Erga, tapi ia tidak percaya pada waktu. Waktu bisa mengubah banyak hal, termasuk perasaan mereka. Erga tak peduli berapa waktu yang ia perlukan untuk menunggu Kania membuka hati. Tapi bagaimana kalau ternyata Kania benar, bahwa cinta mereka hanya karena kebersamaan yang tenang.
Kalau Erga melihat dunia dan menemukan pilihan-pilihan lain, masihkah ia akan menoleh pada Kania?
Sebut saja saya penyuka drama. Saya menyukai lika-liku drama terlebih cerita romance. Andai saja sinetron itu memiliki drama yg apik mungkin saya akan terus - menerus menontonnya. Bukan drama sinetron yg matanya hampir copot atau saya mengerang frustasi karena cerita yg tak berlogika.
Di novel ini, kisa yang di ceritakan memang klise yaitu drama persahabatan yang mempertanyakan tentang rasa cinta itu diperlihatkan. Kalau dikehidupan nyata saya lebih memilih langsung menghindar atau memberikan langsung pernyataan bahwa saya suka kamu tetapi saya butuh keyakinan apakah rasa suka itu tidak hilang bersama dengan waktu. Dan untungnya Kania bukan saya. Saya bisa gila kalau menjadi kania. Terlalu memaksakan diri atau keras untuk menjadi terbaik bagi diri sendiri.
Ketika saya membaca di pertengahan halaman ada pertanyaan yg mengelitik saya. "Ini Kania punya masa lalu yg berhubungan dengan cinta atau apa, hingga membuat dia mempertanyakan tentang cinta yg hilang bersamaan dengan waktu?"
Akhirnya saya mengerti "isi" pikiran Kania. Saya tidak menyalahinya hanya gemas mengetahui isi pikirannya.
Erga di satu sisi membuat saya geram. Dia tidak jelas mau apa. Hanya tahu akhir tujuannya tanpa tegas memberitahu rasa yg dia rasakan.
Erga membiarkan harapan kecil untuk Nina padahal Erga mengetahui bahwa akhirnya tujuannya hanya Kania. Kadang kala pria memang tidak tegas dalam memperjelas suatu hubungan. Padahal ketidak jelasaan itu akan berdampak besar nantinya.
Ketika novel ini selesai. Lagi-lagi ada yang menyentil saya. Di cerita ini mengeksporasi sudut Kania tetapi saya ingin melihat Erga ketika bekerja. Tentang cita rasa kopi, racikan-racikan espresso.
Lalu yang menjadi pertanyaan saya. Kok nggak tahu malu Nina ini. Sudah tahu janda mengharapkan pria yang belum menikah terlebih dari awal Erga sudah memberitahu bahwa dihidupnya hanya ada Kania.
Itu yang saya pikirkan.
Untuk dari segi gaya cerita tidak menjadi masalah bagi saya. Pas dan tidak berlebihan. Malahan, saya merasakan kekelaman Kania. Berarti penulis berhasil membawa saya untuk merasakan kekelaman Kania.
Saya juga setuju ketika Erga harus pergi untuk merasakan apakah rasa yang mereka miliki itu nyata atau semu. Bahkan kadang kala kita harus membuat jarak untuk mengetahui apa yang akan kita ingin dan rasakan. Kalau pun ternyata tidak sesuai dengan apa yg kita harapankan anggap saja bahwa memang bukan jodoh dan cerita itu menjadi pembelajaran untuk kisah yang akan datang. Sebagai warna atas cerita kehidupan kita.
Dari segi penokohan. Saya suka Oma Linda. Semangatnya, keceriaannya membuat orang-orang disekitarnya selalu mendapatkan tempat hangat untuk singgah dan menyayangi beliau.
Nah, saya jadi tergelitik lagi. Saya mempertanyakan maksud Erga kesal ketika Kania lebih memilih Evan ketimbang dirinya. Tetapi dihalaman keberapa gitu, saya merasakan kalau Erga sudah tahu lama kalau Evan menyukai adik Kania yaitu Vidya.
Saya hanya menginginkan lebih dari cerita ini terlebih ketika Erga pergi. Saya ingin merasakan pergolakan batin Kania ketika di masa-masa Erga pergi. Dan emosi Erga ketika dia berjauhan dengan Kania.
Ketika saya membaca bab akhir-akhirnya kok merasa cepat. Tidak ada yang menyetil dan alasan kenapa mereka berdua saling menunggu ketika fase Erga pergi. Kalau Erga sih saya tahu alasannya terus menunggu Kania sampai dia pergi pun pasti dia akan pulang ke tempat Kania. Hanya saja saya menginginkan alasan Kania menunggu Erga kembali. Itu saja yang saya harapkan.
Cukup sekian saya menyampaikan apa yang saya rasakan di novel ini. Dan ini rekor bagi saya setelah membaca langsung menulis komentar dengan cepat. Padahal hari ini novel ini sampai di tangan saya.
Membaca Amore ini karena Mas Ijul dan beberapa teman dari Readers Hangout bilang suka dengan buku ini. Sejujurnya, mungkin ini masalah selera, tapi saya nggak bisa menikmatinya.
Kalau misalnya Erga dan Kania ini temen lama yang akrab sekali (sesuai premis), kok tidak terasa ya. Seperti sepasang manusia yang kebetulan berinteraksi saja. Nggak ada gegap familier di antara mereka berdua. Kalau dibilang sahabat yang saling menyimpan rasa, kok tidak terasa juga sensasinya. Seperti hanya membaca deskripsi saja. Datar, flat.
Yang paling mengganggu menurut saya justru terlalu banyak tokoh yang kurang penting, tapi diceritakan. Malah membuyarkan fokus cerita dan menghilangkan kesempatan mengeksplorasi hubungan Kania dan Erga secara keseluruhan. Tokoh-tokoh ini sering memakan ruang terlalu banyak. Misal dokter ini diceritakan detail, terus karyawan yang ini, terus dokter yang ini lagi. Penokohannya juga nggak terasa yang mana siapa. Kayak Vidya kan katanya ceplas-ceplos. Tapi kok nggak berasa ceplas-ceplosnya
Salutnya, research untuk dunia dokternya cukup bagus, walau masih ada yang aneh sih. Saya kurang tahu apa penulis adalah dokter atau bukan, tapi deskripsinya mendekati dunia dokter nyata. Contoh aneh : 1. Dokter UGD nyemplung ruang operasi hampir nggak mungkin sih. KEcuali dia asisten, diminta atau diijinkan utk turut dalam operasi. 2. Dokter obsgyn umur 30 tahun tuh agak terlalu muda. Yah, kecuali ybs masuk cepat, keluar tepat waktu, yang tidak dijelaskan di dr. Bian ini.
Flat banget bacanya, kayak dataaaar aja. Interaksi Erga-Kania juga datar banget, nggak kayak teman akrab. Cuma kayak kenal-kenal gitu doang. Dan oh please, oh my God! Erga sangat-sangat kekanakan! Heran deh, kenapa Kania bisa mau sama dia. Pret abis.
Terus, kayaknya mbaksis pengarangnya harus riset lagi deh soal jobdesk dokter. Yang gue bingung lagi, kenapa sih dokter itu digambarkan sekinclong itu? Harus ya? Kayaknya dosen-dosen gue tuh slengean semua, hahaha. Terus kayaknya dokter-dokter di RS gue kaga ada tuh yang sampe ngadopsi anak-anak pasien... Bruh.
Rate : 4/5 Novel ini menceritakan sepasang sahabat, Kania dan Erga. Kania dengan pribadi yang apa-apa harus sesuai dengan rencananya dan Erga sang sahabat yang memendam rasa sejak pertemuan pertama dengan Kania.
Baca buku ini karena Ku sudah membaca Damar Hill-nya Bulan Nosarios sebelumnya, bisa dibilang telat sih kenal sama novel ini. Tapi, karena membaca Damar Hill terlebih dahulu membuat Ku jatuh cinta dengan gaya penulisan Ka Bulan.
Jujur, Ku suka sama tema yang diangkat di novel ini. Tentang seseorang yang memiliki pendirian dalam hidupnya, semua hal harus berdasar rencana, tidak mau terjatuh dalam percintaan karena menganggapnya sebagai hal absurd. Dan tentang seseorang yang memerjuangkan cinta dalam diamnya agar hubungan persahabatan yang dibangun bertahun-tahun tidak hancur. Sebenarnya mereka ngga bersalah, karena hidup itu pilihan masing-masing pribadi. Tapi ketika badai cobaan menerpa, orang ketiga pun hadir, apakah mereka tetap tidak mau jujur dengan perasaan masing-masing?
Sebagai anak yatim-piatu, Kania sangat bertanggung jawab atas adik-adiknya. Ia ngga mau hidup dengan manja, ia banting tulang belajar hingga akhirnya cita-cita menjadi seorang dokter pun ia raih. Kania ini bisa dibilang sosok yang rasional, ia memikirkan dengan baik apa yang harus dia lakukan, termasuk percintaan. Sebagai seorang yang gila bekerja, tentu saja percintaan menjadi nomor terbelakang untuk ia pikirkan. Namun, datangnya masa lalu dari sahabatnya-Erga, membuat kontrol hatinya mulai oleng. Erga sangat mencintai Kania, jika ditanya apa yang ingin dilakukan Erga di masa depan, jawabannya selalu "Di sekitar kania".ya. Mungkin saking bucinnya Erga, ia hanya memikirkan Kania di masa depannya. Sayang, Erga termasuk pengecut dalam hal mengutarakan cinta, tapi sekali lagi gue maklum banget, karena ngga mudah lho buat mengakui perasaan sendiri sama sahabat.
Gue ngga mau spoiler panjang lebar deh, intinya gue sangat terbawa sama perasaan masing-masing tokoh di novel ini. Rasa sakit, cemburu, senang, gugup, semua gue rasain. Keren. Entah gue yang baper atau gimana, tapi penulisan perasaan para tokoh dibuat dengan sangat baik. Ini nilai plus gue buat novel ini.
But, ada tapinya nih. Menurut gue terlalu monoton sih konfliknya, banyak adegan yang butuh penjelasan lebih daripada selalu mengutik masalah percintaan yang terlalu berbelit. Apa mungkin memang cerita novel ini menitikberatkan ke perasaan tokoh utama aja. Oiya entah gue yang ketinggalan part paragrafnya atau gimana, gue masih penasaran sama gelar CI dibelakang nama Kania yang ada di kontak hp nya Erga hahaha.
Overall gue cukup menikmati novel ini buat bacaan ringan aja. So, enjoy your book guys. Gue selalu ngga enak kalo mengkritik karya seseorang, karena gue pun belum tentu bisa bikin karya kayak gini, dimana gue terbawa perasaan sang tokoh. -- Bonus clip: "...Lagi pula, sepertinya kita sama-sama butuh ruang," Kania menekankan kata ruang. "Ruang untuk?" "Untuk membiarkan orang lain masuk dalam kehidupan kita," katanya pelan. hal. 187
Kania, dia bercita-cita menjadi seorang dokter jantung. Kenangan akan ayahnya yang meninggal karena penyakit jantung menjadi salah satu pemicunya. Selama ini, bisa dibilang, Kania tak pernah memikirkan dirinya sendiri, dia terlalu sibuk. Sampai-sampai dia merasa tak punya waktu untuk mengurus masalah cinta, dan menikah. Semua orang tahu, Kania pun mungkin juga tahu, meskipun tak ada kata-kata lisan yang mengatakan, Erga – sahabat baik Kania – sangat mencintai dokter muda yang penuh ambisi ini. Orang-orang di sekitar merekapun lebih senang menganggap mereka sepasang kekasih. Padahal, status mereka hanya sahabat sangat baik. Dan, orang-orang itu tak peduli dengan status mereka yang sebenarnya. Mungkin, karena mereka berharap Kania dan Erga bisa bersatu. “Kalian ultracomplicated. Apa? Bukannya begitu status kalian? Terlalu panjang dan berbelit untuk dijelaskan?” – Evan – hlm. 23
Sering kali, Kania memang tampak menghindar. Kania tahu dirinya. Jika dia membiarkan Erga masuk sebagai cinta di hidupnya, dia takut Erga akan terluka. Erga sangat mengenal Kania. Dia takut, jika dia memaksa mengatakan perasaannya, Kania akan menjauh, dan dia tidak siap untuk itu. Erga memilih memendam perasaannya. Menjadi bagian dari hidup Kania, dan selalu ada untuknya, sudah cukup untuk Erga. “Kita terbiasa merencanakan banyak hal yang mudah kita jalani, Kan. Tapi Tuhan membuat rencana supaya kita menjadi kuat. Sedikit hal yang tidak pasti, sedikit kepedihan, sedikit kebimbangan, begitulah hidup.” – Oma Kania – hlm. 226
Selesai dalam semalam. Satu-satunya yang kusenangi adalah jarangnya membaca buku yang tokoh utamanya berprofesi sebagai dokter (selain buku-buku Mira W tentunya), rasanya ini baru pertama kali dari genre Amore. Tetapi sayangnya, aku merasa ini terlalu berputar-putar. Tebal memang, tapi bertele-tele, hingga rasanya ingin menjitak kedua tokoh utamanya. Dan saat mendekati ending, terkesan anti-klimaks. Tidak ada deskripsi detil bagaimana keduanya dalam perjalanan menuju klimaks itu. Rasanya kurang menggigit. :|
Yeaaaay akhirnya selesai juga baca buku ini! Saya skip-skip sih bacanya. Saya tidak punya pilihan lain :') Gimana sih caranya menguatkan diri menamatkan novel? :')
Novel ini datar sekali. Meski menurut saya penulis sudah baik dalam merangkai kata, sayangnya tulisannya belum menyentuh kalbu.
Halah.
Intinya saya belum bisa merasakan emosi tokoh-tokohnya. Kalau Kania sedih, saya enggak ikut sedih. Yah, begitulah...
Sebenarnya saya nggak ngerti sih masalah si Kania ini apa sampai nggak mau sama Erga. Ya mungkin karena penyampaiannya kurang emosional juga sih.
Terus, si Kania ini dokter apa sih? Dia masih mau menjalani pendidikan untuk jadi spesialis jantung, berarti saat ini dia dokter umum, kan? Atau dia residen jantung? Saya nggak terlalu ngerti sih jobdesk dokter umum di RS seperti apa. Makanya saya penasaran karena di sini nggak dapat penjelasannya.
Apa lagi ya?
Sisanya sama deh, kayak review reader yang lainnya, ehehe.
Kania dan Erga terjebak dalam kata "persahabatan" yang selalu mereka gaungkan. Membuat mereka ragu untuk meminta lebih, atau menawarkan sebuah hubungan baru yang lebih dari pertemanan. Akankah semuanya sudah terlambat ketika ada orang lain yang sedang mendekat ke antara mereka?
***
Maafkan aku yang membandingkan buku ini dengan buku Kak Bulan yang satunya, tapi dari segi alur buku ini "terjahit" lebih rapi dibandingkan Damar Hills. Penandaan flashback-nya juga cukup jelas. Karakter tokoh utamanya juga kuat. Setiap keputusan mereka selaras dengan penokohan yang digambarkan.
Sepanjang novel aku geregetan sama Erga dan Kania yang maju mundur nggak mau saling mengungkapkan perasaan dan kemauan mereka. Pingin kucubiit mereka satu-satu. Dan meski endingnya buatku agak buru-buru, aku ikut senang dengan akhir kisah Erga dan Kania :)
Membaca novel ini seperti sedang duduk di dalam bioskop, menonton langsung filmnya. Keadaan di sekeliling tokoh dinarasikan sedetail mungkin tanpa menjemukan. Penulis paham, mana yang harus dituliskan dan mana yang lebih baik dibebaskan dalam ruang imajinasi pembaca.
Sepanjang mengikuti kisah Erga dan Kania, perasaan saya campur aduk. Baper, lucu, nyesek, bisa muncul di halaman yang sama. Ajaibnya, perasaan kedua tokoh utama itu tersampaikan dengan baik. Kadang saya merasa di posisi Erga yang mungkin merasa diabaikan, tapi kadang pula saya merasa di posisi Kania yang memang harus mempertahankan komitmen.
Kania dan Erga sudah bersahabat selama 8 tahun sejak jaman kuliah. Kania dan Erga saling menyukai satu sama lain. Erga menahan perasaannya karena dia tahu Kania adalah tipe orang yang sibuk mengejar karirnya sebagai dokter daripada membagi perhatiannya pada masalah percintaan. Sementara Erga tak terlalu ambisius dan cenderung santai terhadap hidupnya. Sampai suatu hari, mantan pacar Erga datang dan tinggal disekitar mereka. Kania dilema, disatu sisi, dia tak mau hubungannya lebih dari sahabat pada Erga. Tapi, disisi lain, dia tak rela jika Erga menikah dengan mantannya. Keseluruhan plot cukup monoton dan ditambah plot cenderung lambat. Kurang suka dengan sikap Kania yang sedikit egois terhadap hubungannya dengan Erga.
|"Tak perlu meluruskan, orang-orang dengan sendirinya akan tahu mereka hanya teman. Dua orang sahabat yang terlalu susah dipisahkan."|
Kania dan Erga adalah sepasang sahabat yang menjalani segala hal dengan cara yang berbeda, tetapi memiliki pandangan yang sama tentang satu sama lain. Kania adalah tipe pribadi pemikir, tak banyak bicara, selalu berpikiran logis, dan merencanakan segala tetek bengek kehidupannya. Sedangkan Erga adalah seorang pria yang memercayai bahwa hidup itu mengalir. Sebab hidup tak selalu harus direncanakan.
Erga mencintai Kania, tetapi ia tidak yakin apakah Kania juga mencintainya. Kania tahu Erga mencintainya, tetapi ia bahkan tidak tahu apakah hatinya siap menerima semua itu.
|"Tidak ada dalam rencananya untuk jatuh cinta saat cita-citanya masih jauh. Kania tidak berani menebak-nebak akan ke mana ujungnya hubungan ini."|
Bagi Kania, jatuh cinta bukanlah prioritas utama. Karena ada cita-cita yang selalu menjadi pemenang peran dalam kehidupannya. Ada banyak rencana-rencana masa depan yang harus Kania raih. Dan jatuh cinta pada Erga tidak ada dalam rencana hidupnya itu.
|"Kadang kala, perasaan tidaklah penting..." "Lalu apa yang penting buatmu?" "Masa depanku yang tidak diisi hal-hal absurd?" "Bagaimana kalau memasukkan sedikit hal absurd ke dalam rencana hidupmu? Biar lebih berwarna..."|
|"Kita terbiasa merencanakan banyak hal yang mudah kita jalani, Kan. Tapi Tuhan membuat rencana supaya kita menjadi kuat. Sedikit hal yang tidak pasti, sedikit kepedihan, sedikit kebimbangan, begitulah hidup."|
Namun Erga tak bisa terus-menerus menunggu. Dan Kania tak bisa selamanya membohongi diri sendiri. Ada perasaan yang perlahan menyusup ke dalam kebersaman mereka. Yang kini menuntut lebih dari sekadar sepasang sahabat.
Dan, cinta yang Erga miliki untuknya pun rasanya masih belum cukup untuk Kania. Di samping cita-citanya yang sudah ia rencanakan rapi-rapi, belum ada hal yang mampu meyakinkan akan seperti apa nantinya cinta itu di masa depan.
|"Aku selalu menunggumu, Kan. Meski tidak pernah diberitahu sampai kapan aku harus menunggu."|
|"Kania percaya pada Erga, tapi ia tidak percaya pada waktu."|
Maka, sebuah keputusan pun dibuat Erga. Ia ingin pergi menjauh. Keluar dari zona nyamannya bersama Kania dan menjauhi kebersamaan mereka yang tenang. Dengan begitu, ia akan tahu, apakah ada kemungkinan-kemungkinan lain yang akan ia dapatkan di luar sana.
Apakah ada kehidupan yang ia cari--selain kehidupannya yang selama ini statis berjalan hanya di sekitar Kania.
|"Ada yang berdendang lebih harmonis di antara mereka. Sebut saja itu cinta."|
-----By Your Side-Bulan Nosarios-----
Ah, jatuh cinta dengan setiap kalimat yang tertulis. Plus kalimat penutup yang sangat manis.
Jujur saja, novel ini bukanlah sebuah novel dengan tema atau alur cerita yang luar biasa. Daripada dikatakan luar biasa, aku lebih senang menyebutnya sederhana. Karena tema, alur, bahkan konflik dalam novel ini begitu sederhana.
Tapi kesederhanaan itu membuatku jatuh cinta.
Dari awal, aku sudah tahu akan dibawa ke mana cerita ini sebenarnya--which is, so boring, karena ceritanya sudah 'tertebak'. Tapi aku tidak bisa merasa bosan. Karena setiap kata yang ditulis Kak Bulan di sini begitu memesona. Rasanya mencandu. Di samping itu, aku juga salah seorang pembaca yang sangat menyukai tema sahabat jadi cinta, jadilah buku ini menjadi sebuah kesatuan yang sempurna dalam pandangan subyektifku.
Aku suka semua isinya. Tema, tokoh, latar tempat, latar belakang profesi tokoh, dan segala gambaran scene-nya. Dan yang paling kusuka adalah bagaimana Kak Bulan membangun karakter para tokohnya dengan begitu kuat. Begitu pun dengan hubungan antartokoh yang begitu hangatnya. Tidak ada tokoh yang kubenci di sini. Sekalipun si tokoh yang ditempatkan untuk menjadi orang ketiga.
Potongan-potongan flashback di awal-awal cerita juga sama sekali tidak mengganggu. Meski terkadang ditaruh tanpa peringatan, tapi toh tidak membingungkan sedikitpun.
Dan dunia kedokteran memang selalu menarik untuk dibahas :) meskipun tidak terlalu banyak, tapi profesi dokter yang dimiliki Kania sedikit banyak mampu membuat cerita ini menjadi lebih menarik.
Kekurangannya hanya beberapa typo dan masih terdapatnya kalimat tidak efektif yang kutemukan beberapa. Tapi sama sekali tidak mengganggu cerita, sih, menurutku :D oh ya, juga di akhir-akhir cerita, antiklimaksnya kurang nendang xP karena jarak antiklimaks dan ending (menurutku) sangat cepat. Jadi terkesan terburu-buru.
Tapi kekurangan-kekurangan itu rasanya tidak terlalu berarti dibandingkan dengan keberhasilan Kak Bulan membawaku menikmati keseluruhan cerita. I want more! Encore! xD
Yang paling kukagumi, sih, pemakaian diksi Kak Bulan :'3 sumpah, adem banget. Rasanya tenang, mengalir, sampai-sampai hatiku ikut 'cekit-cekit' nyesek di sini :')
Dan itu yang membedakan novel ini dengan novel-novel bertema sama lainnya. Biasanya novel-novel lain itu akan bercerita tentang hubungan antarsahabat yang meledak-ledak. Light and sweet. Tapi di sini, kita akan menemukan cerita yang calm but sweet and heartwarming♥
Pokoknya terima kasih untuk Bang Ijul dan Kak Bulan yang sudah memberiku kesempatan menjadi salah satu teman #BacaBarengMinjul #ByYourSide with @fiksimetropop dan Kak Cinthya seminggu ini :)
Can't wait for your next sweet story, Kak Bulan xD
lagi-lagi kak Bulan Nosarios gak pernah gagal dalam menggambarkan latar suasana dengan baik dan bikin aku terlarut ngebayangin Kedai Oma sehangat apa orang-orangnya. rasa sakit yang dikasih ketika Kania dan Erga tarik ulur juga gak main-main, keren!
reread novel pas sma,,, ckckckck,,, dari dulu aku pecinta kesalahpahaman trope cewe avoidant dan cowo yearning HHHHHHHH makin gede jadi refleksi ini cerminan diri sendiri kali yak hiks 😭😭😭😭 butuh cowo yg pure yearning kayanya emg deh aku hopeless romantic hiks
Cerita yang cukup menguras emosi Dan kesabaran. Endingnya kurang memuaskan. Karena Dua karakter utama sangat kurang ditunjukan. Seolah-olah memang dipaksa harus sampai disini (ending). Secara keseluruhan cerita ini bagus. Worth to read
Awalnya memberikan hampir 4 bintang karena sejak baca Damar Hill aku sangat menyukai gaya tulisan Mbak Bulan yang rijik dan mengalir. Tipe novel dengan cerita yang rapi. Apalagi aku orangnya pemilih kalau baca novel lini Amore ini, tetapi setelah menimbang ulang dan membandingkannya dengan Damar Hill, akhirnya kuturunkan setengah bintang saja jadi 3,5 bintang. Bukan berarti aku tidak suka ceritanya, aku suka walau cerita Friendzone bukan tipeku banget, tetapi karena udah jatuh hati sama Damar Hill, aku yakin By Your Side juga worth buat dibaca. Tapi kurevisi lagi dengan memberikan 4 Bintang nih, aku kepikiran karena merasa nggak adil sejak dalam pikiran kalau cuma 3 bintang yang tersemat di rating goodreads Hahaha.
Masuk ke cerita ya, aku gemas banget deh sama cerita friendzone Erga sama Kania ini, gila ya, dua orang ini bikin aku sesebal Vidya--adik Kania--karena hubungan kakak dan 'sahabatnya' itu jalan di tempat aja. Meski begitu, aku suka detail-detail pekerjaan Kania yang sebagai dokter, juga Restoran di Kedai Oma, walaupun baru menyadari kalau Erga rupanya punya kedai kopi, tak banyak percakapan tentang kopi yang disisipkan, kecuali bahwa Erga suka kafein--berulang kali dikatakan dalam cerita--dan Erga ingin mengembangkan usaha kedainya itu. Padahal kupikir dengan sampul yang sedemikian representatif, bakal banyak juga ngomongin kopi, macam Damar Hill.
Aku juga suka setiap karakter pendukung di lingkaran keluarga Kania, Erga, dan juga rumah sakit, walau beberapa memang tak begitu penting, tetapi tak masalah, aku tak terganggu. Aku suka prinsip Kania, ambisinya untuk cepat-cepat daftar spesialis dan belajar keras buat beasiswanya, serta mimpi-mimpi lain yang sudah terencana dengan baik, meski dia lupa memperhitungkan bahwa tidak semua hal bisa sesuai dengan rencananya. Termasuk jatuh cinta. Walau bebal, aku sering nyesek waktu Kania sakit hati, aku juga sebal ke Erga di pertengahan cerita walau enggak lama, sebab alasan laki-laki itu bikin aku mengerti bahwa menunggu ketidakjelasan adalah kepayahan yang hakiki. Aku prihatin dikit sama Nina sebagai antagonis, tetapi selebihnya aku agak senang waktu dia patah hati. Hahaha, maaf.
Ada beberapa kutipan bagus dari Oma Linda yang sempat kutandai di ipusnas, tetapi aku kadung gondok karena ulasanku yang udah kusemat kutipan sempat hilang sebelum tersimpan. Jadi kucukupkan aja sampai sini. Nanti kalau lagi niat, kuedit deh walau engga janji. waks :v
Oke, kuputuskan menyukai By Your Side, walau membacanya kedua kali belum jadi rencanaku. Cukup puas dengan membaca di Ipusnas. (engga modal banget? seenggaknya modal kuotalah) Hahahaha. Terima kasih untuk cerita yang berakhir manis. Tuh kan, enggak usah friendzonan, deh. karena cowok-cewek sahabatan bukan perkara mudah kayak Erga dan Kania. Hahaha
This entire review has been hidden because of spoilers.
bagi Kania, inilah kebahagiaannya. Hidup lurus meraih apa yg ia cita-citakan tanpa sekalipun kesleo.
novel ini menceritakan tentang persahabat Kania dan Erga, dimana diantara keduanya mulai tumbuh rasa cinta satu sama lain. Namun karena kedekatan mereka yg diawali dengan label "pertemanan" membuat mereka berdua menjadi kesulitan untuk mengarahkan hubungan menjadi sepasang kekasih.
Tentang Kania yg punya ambisi dan mimpi yg besar, bekerja dibidang yg dia sukai, dan ttg menjadi tumpuan untuk keluarganya. Kania merasa akan sangat mmbuang waktu untuk mengurus apa itu "relationship" dan dia lebih mengikuti hidup ssai dg yg dia rencanakan, dokter, sesialis bedah jantung, dan membahagiakan keluarganya. tanpa sadar justru ini yg membuat Kania jauh dari orang yg mencintainya. Membuan kesempatan untuk lebih bahagia, karena Kania takut kalo "jatuh cinta" bisa merusak impian dan kerjakerasnya.
Erga yg bersahabat dg Kania sejak jaman kuliah. Cowok yg harus mengorbankan mmpinya untuk menjadi ssuai dg keinginan ayahnya (tosss...). Sampai pada perjalanannya Erga mampu memilih untuk melanjutkan mimpinya. Erga yg mencintai Kania tidak mampu terpisah dari cewek itu meskpun hanya sbentar. Hingga dia selalu berada dilingkaran hidup Kania. saat erga mncoba mengungkapkan perasaannya, Kania ragu dan merasa perasaan itu ada hanya karena terbiasa bersama. dan Erga mulai berpaling, sesuai keinginan Kania. Ayahnya yg merasa Erga tidak pantas untukberdampingan dg Kania semakin menyadarkn Erga dimana posisinya dan mencoba mmperbaiki segalanya....
satu kesimpulan dari novel in: Sukaaaa.... semuanya terasa manis, ga berlebihan dan ga me*um hehe... Novel ini membuat saya merasa bahwa jgn terllu mnyangkal apa yg kamu rasakn, karena itulah kebenarannya.. Suka dg chitchat antara Kania dg dokter gita ttg "suami", ttg mungkinkh cinta hilang dan bosan mulai datang saat sudah bersama dlm waktu yg lama... :D
"Kita terbiasa merencanakan banyak hal yg mudah kita jalani, Kan. Tapi Tuhan membuat rencana supaya kita menjadi kuat. Sedikit yg tidak pasti, sedikit kepedihan, sedikit kebimbangan, itulah hidup."
Baca novel ini, dan rasakan bahwa pengorbanan untuk saling melepaskan orang yg kita cintai dan mencintai kita dg tulus itu menyakitkan, buat semuanya... :D
By Your Side merupakan novel debut Mba Bulan yang dicetak ulang dengan cover baru. Membaca ulang kisah Erga dan Kania masih sama menyenangkannya seperti membaca kisah mereka beberapa tahun lalu.
Mba Bulan sudah membuatku jatuh cinta sejak lembaran pertama. Kisah Erga dan Kania memang tidak menawarkan sebuah kisah romansa yang kompleks atau rumit, malah cenderung sederhana tentang persahabatan dan cinta. Tapi, karena gaya menulis yang mengalir membuatku begitu betah membacanya.
Aku dibuat gregetan dengan pasangan ini. Bagaimana 2 orang sahabat yang saling memendam rasa tapi penuh pertimbangan. Kania yang masih berjuang meraih cita-citanya dan Erga yang lebih memilih untuk memendam saja.
Layaknya bom waktu, mereka pada akhirnya tidak bisa terus seperti ini, mereka harus memilih. Apalagi ketika sosok Nina dan dr.Bian hadir sedikit banyak sudah mengusik kebersamaan mereka.
Aku jatuh cinta dengan ceritanya, tokohnya, settingnya dan semua elemen dalam novel ini. Apalagi cover baru novel ini terasa adem sekali melihatnya 😍
Novel ini akan selalu masuk dalam list novel favoritku dan aku akan selalu menunggu tulisanmu selanjutnya Mba Bulan.
Ahhhhhhhhh jatuh cinta dengan novel ini. Meskipun mengusung tema terjebak friendzone, tapi ceritanya dikemas dengan manis. Bukan hanya jatuh cinta dengan gaya penulisan, tapi jatuh cinta dengan dua karakter utama, Kania dan Erga. Dua manusia dengan karakter dan gaya hidup berbeda tapi bisa awet sahabatan sampai 8 tahun dan saling jatuh cinta. Agak gemes dengan Kania yang selalu lari dari perasaannya karena masih mementingkan pekerjaan dan keluarganya, tapi disitu juga letak konfliknya. Munculnya orang ketiga juga makin menggemaskan karena Kania yang juga masih keras kepala. Berbanding terbalik dengan Kania, Erga malah begitu manis karena selalu menunjukkan perhatian dan rasa sayangnya buat Kania. Dialog Kania dan Erga juga lucu, manis, ngegemesin, sarkastis. Karakter-karakter pendukungnya juga menambah serunya novel ini. Dan selama membaca novel ini, mataku terasa nyaman karena tidak menemukan typo. Bukan cuma romansanya yang menarik dari novel ini, tapi juga rasa kekeluargaan, persahabatan dan profesionalisme dalam pekerjaan. Dan meskipun gemas dengan Kania dalam soal percintaan, tapi salut dengan sikapnya dalam bekerja dan menjadikan keluarga sebagai prioritas utama.
awal liat sinopsisnya memang agak males juga sih yaa karena intinya 1, persahabatan yg sekian lama terjalin dan saling jatuh cinta tapi gk bisa pacaran.. ya memang klise dan banyak banget kita temuin di novel2 lainnya.. tapi, yang bikin gue mau baca ini adalah, gue yakin tiap penulis punya 'sesuatu' yang berbeda di dalamnya. tentu aja gue temuin itu di cerita ini ^^
Kania dan Erga yang sudah bersahabat sejak mereka kuliah ini saling mencintai, hanya aja Kania seperti menjaga jarak dengan Erga karena dia gk mau persahabatannya ini hancur karena adanya hubungan lebih. hanya saja saat mantan pacar Erga datang kembali, Kania merasakan hatinya perih pedih ngeliatnya kya ngiris bawang merah.
intinya seperti itu. yang bikin gue suka dengan cerita ini adalah sang penulis yg membuat tiap tokoh mempunyai peran yang enak. dalam artian, gue suka sama tokoh2 di dalam sini. beda dengan kisah lainnya, dan gue cukup menikmati baca ini di dalam kamar walau selalu digangguin doggy gue yg loncat2 minta keluar kamar terus eerrr *lah ini malah curhat*
Kania dan Erga, bersahabat sejak mereka sama-sama diospek ketika masuk kuliah kedokteran. Sejak saat itu sampai 8 tahun kemudian, ketika Kania telah menjadi dokter dan Erga akhirnya menjadi manajer restoran. Dan tentu saja mereka sebenarnya saling cinta.
Nah, gak banyak alur atau twist dalam cerita ini, malah bisa dikatakan ceritanya berputar-putar ditempat yang sama, sama seperti status Kania dan Erga. Hubungan mereka menurut saya dibandingkan bersahabat lebih cocok dikatakan seperti HTSan, karena dari awal Erga jelas-jelas suka sama Kania, dan Kania tau hanya lebih berusaha menghindar dengan dalih fokus ke karirnya di bidang kedokteran.
Endingnya sedikit menggangu menurut saya ketika . Saya kurang mengerti apa perlunya itu terjadi, karena dari awal Erga sudah jelas-jelas serius ingin berkomitmen dengan Kania. Kalau seandainya pencariannya itu berfungsi untuk membuat dia lebih maju di bidang karir ataupun karakter itu lain cerita. Well, walaupun begitu saya cukup nyaman membaca novel ini.
Sudah dari kemarin2 sih kelar baca. Tp baru skrg updatenya. :p Kata bbrp temen yg baca, bahasanya 'alus' bin 'adem'. Memang betul. Ada yg bilang jg konfliknya kurang nendang. Betul. Tapi semua balik ke selera ya? :) Pertama baca blurb-nya, males. Soalnya sahabat jadi cinta. Nggak terlalu menarik minat. Tapi krn terpengaruh temen2 juga, akhirnya nyoba baca. Tidak terlalu greget, sih. Kecuali Erga yang keturunan Turki. Alamak, kok ya pas, pas ngefans orang wajah2 TimTeng dan atau hidung mancung :p *ah, abaikan*. Tapi pendeskripsian karakter Kania pas (kaku, serius, pintar mengendalikan diri [atau menyimpan segalanya untuk diri sendiri?]). Kania yang serius, Erga yang santai... melengkapi satu sama lain, begitulah idealnya (betul nggak?), aku suka! Yang bikin (sedikit) gemes adalah mereka kadang main kucing-kucingan. Terus si mantannya Erga, hadeuuhh... perusak banget, sih! Tapi konfliknya di sini memang kurang menguras emosi secara maksimal. Overall, ternyata aku bisa suka walau temanya sahabat jadi cinta. :)