Tidak berpendidikan tinggi, diceraikan suami ketika pernikahannya belum seumur jagung, pun menjadi anak tengah ketika kakak-adiknya tidak dapat diandalkan, membuat Mirah Paramastri harus menutup telinganya rapat-rapat dari gunjingan tetangga. Kesempatan baru hinggap ke hidup Mirah. Atas keinginan memperbaiki nasib keluarga, Mirah hanya ingin bekerja tanpa drama dan menabung untuk kembali menata masa depannya. Namun, insiden kopi di hari pertamanya bekerja seperti benang yang mengikat tangannya pada sosok Adhirajasa Gama Saputra, kepala gudang pabrik kecap tempat Mirah bekerja. Segala keramahan dan perhatian yang dicurahkan Dhira ternyata menimbulkan masalah baru nan pelik. Mirah harus buru-buru menarik diri sebelum terlambat, atau justru dia terbuai oleh kehadiran Dhira?
Rasa-rasanya sudah agak lama tidak membaca novel romance sekali duduk seperti ini. So here we go.
Baca ini sebenernya agak, ini kenapa nasibnya Mirah gini amat :(( Menceritakan Mirah, seorang perempuan yang sudah menyandang status janda di usia muda, akibat kegagalan di pernikahan karena mantan suami gagal move on. Tinggal di kampung yang akhirnya statusnya menjadi bahan omongan tetangga. Menjadi anak tengah yang paling waras di antara tiga bersaudara. Kakaknya, Eka, seorang preman, kerap berjudi. Adiknya, Suma, masih kuliah dan sepertinya simpanan om-om.
Tawaran bekerja dari Pak Syaiful yang akhirnya mempertemukan Mirah dengan Dhira, seorang kepala gudang di tempatnya bekerja. Berawal dari keisengan Dhira yang akhirnya justru menjadikan Dhira tertarik kepada Mirah. Seperti kondisi di pabrik pada umumnya, tembok pun bisa berbicara, yang artinya gosip begitu cepat beredar. Hubungan Dhira dan Mirah, status Mirah yang tidak banyak diketahui, problematika keluarga Mirah menjadi pembicaraan orang-orang di kantor. Ditambah dengan hubungan pelik Dhira-Danti-Tyas. Lumayan menjadi bumbu hubungan Mirah dan Dhira.
Saya suka cara penulis menceritakan ini. Problemnya lumayan banyak, tapi tidak terlihat tumpang tindih. Hubungan Dhira dan Mirah juga cukup dewasa, tidak terlalu banyak drama, padahal banyak pemicunya. Bahkan hubungan Dhira dengan Tyas yang sudah berjalan sekian tahun pun tidak terlalu banyak mengusik-tetep ada cemburu tapi tidak berlebihan. Mungkin karena disini diceritakan bahwa Mirah sudah pernah menikah dan Dhira juga sudah mature. Kegigihan Mirah untuk tetap peduli kepada Eka, merawat ibunya yang mengharuskan Mirah resign dari tempat kerjanya, gagal kuliah (lagi), mengembangkan usaha ibunya itu patut diacungi jempol sih. Juga tidak lupa Dhira. Ahh, I love him. Saya suka cara Dhira memperlakukan Mirah, memprioritaskan Mirah, mensupport Mirah dalam titik terendahnya. Juga Dhira yang berjuang untuk mendapatkan restu dari keluarganya. So sweet 😍 Endingnya pas, tidak terburu-buru. Bahkan saya berekspektasi ada extra part Dhira Mirah menikah. Hahaha. Ohh ya, baca ini saya baru tau adanya pengajuan Anulasi di kepercayaan Katolik. Pengetahuan baru.
Kalimat yang cukup mengena dari novel ini, "Stereotip janda begitu purba. Mungkin tidak semua orang begitu, memandang janda adalah golongan orang "kelas dua"."
Mirah menyadari, tak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya. Sejak bercerai dari suaminya, dia hanya menumpukan hidup pada Ibunya. Sementara itu, Eka kakaknya juga tidak bisa diharapkan. Hidup sebagai berandalan dan punya utang di mana-mana. Ketika Mirah mendapat tawaran pekerjaan di pabrik kecap dari tetangganya, dia segera memantapkan diri untuk melamar.
Mirah diterima bekerja, setelah melewati serangkaian tes. Nilainya tertinggi, namun tetap saja ada suara miring yang menyebutkan bahwa dia diterima karena koneksi orang dalam. Salah seorang yang menyangsikan kemampuan Mirah adalah Dhira, kepala gudang kantor mereka. Namun setelah Dhira mengenal Mirah lebih jauh, dia justru berbalik mengejar wanita itu.
Novel ini kisahnya cukup realistis. Perjuangan Mirah untuk memantaskan diri, mencari kehidupan yang layak dan membahagiakan ibunya berkali-kali menemui batu sandungan. Bahkan saat dia mulai membuka hati kepada Dhira, ada saja yang menjadi penghalangnya. Untungnya Dhira seorang pria yang sangat sabar dan membuktikan ketulusannya kepada Mirah. Setiap orang layak mendapat kesempatan kedua, dan berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.
Awalnya tertarik dengan novel ini karena covernya warna kesukaanku, warna ungu. Setelah baca sinopsisnya, ternyata warna ungu ini punya makna mendalam mengenai novel ini. Tokoh utama dalam novel ini seorang janda, seperti warna cover ini yang diidentikkan dengan warna janda.
Novel ini cukup anti mainstream dengan mengambil latar janda untuk tokoh utamanya. Tak hanya latar sosialnya yang menarik, latar ekonomi tokoh Mirah juga tidak biasa dalam pernovelan, yaitu berasal dari ekonomi menengah ke bawah dengan segala problematikanya. Bisa dibilang Mirah ini benar-benar menggambarkan problem menengah ke bawah sejati. Mulai dari tidak bisa lanjut kuliah karena keterbatasan ekonomi, ibu sakit-sakitan, kakak pengangguran, dan adik yang tidak peduli keluarga.
Saya suka dengan penulis yang membuat tokoh Mirah ini terasa sangat realistis. Mirah ini hanya lulusan SMA, sehingga ketika bekerja hanya bisa melamar pekerjaan entry level, apalagi setelah menikah Mirah berhenti bekerja, dan setelah bercerai hanya membantu usaha warung makan sederhana Ibunya. Itu sebabnya ketika melamar pekerjaan yang bahkan masih entry level, Mirah butuh orang dalam agar diterima. Bukan asal dapet pekerjaan hanya karena dianggap menarik atau disukai seseorang seperti alur novel picisan pada umumnya.
Pria yang menyukai Mirah pun masih realistis. Dhira, Kepala Gudang. Bukan CEO, Direktur, atau pemilik perusahaan seperti novel percintaan pasaran. Dhira mungkin bukan lelaki kaya raya atau punya wajah super ganteng, tapi secara realistis di dunia nyata, Dhira merupakan pria idaman karena memiliki ekonomi yang stabil, keluarga yang harmonis, dan baik hati.
Gaya pacaran Mirah dan Dhira ini sangat pas sekali dengan latar sosial dan ekonomi mereka. Pacaran keliling kota dengan sepeda motor dan mengunjungi tempat-tempat yang harganya masuk akal. Gaya pacaran mereka dewasa, tetapi bukan jenis yang vulgar.
Konflik yang disajikan dalam novel ini juga merupakan konflik yang biasa terjadi di masyarakat. Mulai dari Mirah yang kesulitan ekonomi dan kurangnya pendidikan sehingga harus melamar kerja dengan bantuan orang dalam, Mirah yang terbelit dengan masalah kakaknya yang toxic, Mirah yang tidak mau terlibat urusan percintaan karena ingin fokus mengurus keluarganya sehingga selalu menolak Dhira, setelah berhasil menjalin hubungan pun banyak sekali hambatan karena status sosial Mirah yang kurang cocok untuk Dhira, hingga penyelesaian yang mungkin tidak terlalu realistis tetapi juga tidak terlalu dreaming ala Cinderella.
Meski konflik utama dalam novel ini bisa terselaikan, masih ada beberapa konflik yang belum terselesaikan dengan baik, seperti tentang Adik Mirah yang begitu saja dihilangkan. Kemudian kondisi ekonomi Mirah yang masih belum mencapai stabil.
Novel ini termasuk bacaan yang cukup berat, karena emosi Mirah dalam menghadapi permasalahan bisa tersampaikan dengan baik kepada pembaca. Sebaiknya sediakan waktu khusus saat membaca novel ini agar pembaca lebih memahami emosi para tokohnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Genre: - Office romance - Kesempatan kedua - Isu perempuan (stigma masyarakat) - Keluarga (masalah dan kehidupan kelas menengah)
Awalnya, yang membuatku tertarik tentu saja warna covernya. Tapi, kalau sudah baca ceritanya dan mengulik lebih dalam, ternyata cover bukan sembarang cover. Semua ada makna dibaliknya (azeek!!). Menurutku ini point plus!
Bercerita tentang Mirah, seorang perempuan yang sudah menyandang status janda di usianya yang terbilang masih muda. Sebagai perempuan yang tinggal di daerah kabupaten, tentu saja isu ini menjadi konsumsi hangat para tetangga 😌🤌🏼 Kakaknya pun seorang pembuat onar, adeknya (kayanya) cabe-cabean 🥲— jadi cuma dia aja yg sebenernya cukup waras untuk memikirkan ibu dan kelanjutan kehidupan keluarganya. Rada pedih juga baca kisah Mirah, beban hidup dia beratnya kerasa sampe sini 🥺
Yang aku suka dari novel ini, ceritanya sebenernya cukup ringan, cocok untuk menyelamatkanmu dari fase reading slump. Walau ringan, tapi konflik dan permasalahan yang disajikan cukup realistis. Ga ada itu cerita yang tiba-tiba ditaksir bos kaya pemilik 7 perusahaan dunia atau si karakter pria tiba-tiba ternyata punya jet pribadi. Super realistis, namun sentuhan tentang ‘harapan’ itu masih ada.
Membaca kisah Mirah, aku percaya kalau kesempatan kedua itu layak untuk diterima kebanyakan orang. Selama orang tersebut benar-benar mau memanfaatkannya dengan baik, dan mau bagaimanapun hidup kita di luar sana, cuma keluarga yang akan selalu membuka pintu dan menerima kita kembali. Aku juga jadi percaya kalau laki-laki baik itu masih ada.
Poin terakhir yang aku suka dari novel ini ialah.. Malang pooolll!! 😂 dialog-dialog Malangan otomatis bernada di kepala, tapi ini ytta. Ada beberapa dialog menggunakan bahasa Jawa (Malangan), tapi aman, karena sudah ada terjemahannya di catatan kaki.
Ungu kovernya cakep, judulnya juga. Biasanya saya berpikir dua kali buat ambil buku yang judulnya nama tokoh utama tok, tapi karena pernah baca nukilan karya penulis yang judulnya Meet Me in the Middle dan suka, dan lagi kangen tokoh di cerita itu yang namanya Giri, jadi tanpa ragu saya ikuti romance lokal ini. Dan Giri jadi cameo di sini 😭🙏 seneng banget bisa ketemu lagi huehehe.
Ceritanya dewasa banget, dalam artian masalah dan penyelesaiannya dilakukan secara dewasa oleh orang-orang dewasa. Nggak ada miskom, nggak ada ngambek, nggak ada labrak atau gombal berlebih. Hm, ada adegan make out, sih (namanya juga dewasa). Ngikutinnya mulus dan lancar, tahu-tahu habis aja. Padahal konfliknya cukup bergejolak.
Habis baca ini makin pengin ketemu Giri 🙂🙃 selamat Kak Pitha buat debutnya, semangat nulis MMITM-nya, ya! Kutunggu selalu 😁
Tulisan Kak Elisabeth Ika memang nggak perlu diragukan lagi. Diksinya halus dan bikin betah baca. Karakter2nya konsiten. Konflik yg diangkat sederhana tp sangat relate.
Poin plus buku ini adalah memberikan informasi ttg pernikahan dan perceraian di agama Katholik, yg mana sangat jarang dibahas. Juga tentang stigma janda yg sering mendapat label buruk dr masyarakat.
Selain itu, ada juga tentang romansa, keluarga, dan sandwich gen yang seru untuk diikuti.