Adin adalah gadis kecil yang berusia enam tahun. Dia suka menggambar dunia di dinding kamarnya. Dunia Adin warna-warni dan kaya cerita. Di sana dia dan Coki, sahabatnya, pernah menyelamatkan seekor ikan yang hampir dimasak. Pernah juga bertemu penyihir yang ternyata bidadari. Adin juga pernah bermain dengan Dombiru, seekor domba berwarna biru. Pernah pula mewarnai melati Jepang dengan spidol ungu.
Seorang teman tertarik pada dunia Adin. Dia pun mencatatkan keseharian Adin untuk kita semua. Setelah terlibat dalam keseharian Adin, mungkin kamu pun akan menemukan dirimu di sana. Lalu tanpa kamu sadari, dunia Adin tahu-tahu sudah menjadi duniamu juga.
Saya mulai suka membaca, benar-benar tertarik pada dunia baca ketika saya SMP, itu pun lebih ke komik. Sebelumnya saya tidak tertarik dengan children literatur karena merasa sudah sok dewasa, bacaan yang pernah saya enyam waktu kecil pun novel romance, novel dewasa, hahaha, dewasa sebelum waktunya. Baca Bobo aja nggak tertarik. Kemudian tahun lalu saya mencoba merambah children literatur dalam proses perluasan genre bacaan saya, di mulai dengan meminjam buku anak dari penulis yang terkenal, Enid Blyton. Nggak tanggung-tanggung, mbak (berasa aneh penambahannya :p) Dewi meminjami saya dua boxset buku dari Enyd Blyton, seri Malory Towers dan St. Clare. Saya membaca terlebih dahulu seri Malory Towers karena banyak yang bilang bagus, keren, memorable, memicu orang untuk sekolah di asrama, tapi kesan yang saya dapat adalah cerita tentang anak-anak iri dengki, proses pendewasaan dengan berbagai drama, kata-kata/perbuatan kasar dan saya tidak nyaman membacanya. Saya bisa bertahan membaca keenam seri tersebut namun gagal dalam seri St. Clare, hanya membaca seri pertama dan itu pun ceritanya nggak jauh beda dari Malory Towers. Kemudian saya membaca fabel pertama di dunia, The Wind In The Willow yang juga gagal menarik hati saya. Yang menurut saya terlalu sulit dipahami untuk bacaan anak kecil. Bukan cerita kasar atau sulit dicerna yang ingin saya dapatkan dari buku bertema children literatur, saya membayangkan buku anak itu bercerita tentang kepolosan anak-anak, bagaimana dengan kepolosannya itu bisa merubah banyak hal. Saya temukan di buku dalam negeri, yap, nggak perlu jauh-jauh ke Inggris atau ke masa lalu untuk mendapatklan cerita anak sesuai dengan selera saya, saya menemukan buku anak yang benar-benar cetar membahana badai -meminjam istilah Syahrini- yang ditulis oleh penulis dalam negeri, tentang kepolosan anak kecil, cerita yang tidak kasar, mudah dipahami, mengandung pesan moril yang mungkin sering kita temui dikehidupan sehari-hari, cerita yang bisa diterima semua kalangan, Dunia Adin.
Seperti judulnya, Dunia Adin bercerita tentang kehidupan Adinda Alissa atau yang biasa disapa Adin atau gembul, gadis kecil berusia enam tahun yang polos dan disayangi semua orang. Di cerita awal kita akan dikenalkan kepada keluarga Adin, Papip dan Mamim-nya, tidak ketinggalan dengan keluarga besar yang tinggal di seberang rumah Adin, yang sangat menyukai Adin, keluarga Panggabean. Berbeda dengan keluarga Adin yang hanya berisi dirinya dan kedua orangtuanya, keluarga Panggabean sangat 'ramai'. Ada Lambok Hasudungan atau biasa dipanggil Coki, teman klop Adin, mereka berusia sama. Abang tertua bernama Darwin, berumur enam belas tahun. Kemudian diikuti bang Ruli (yang suka memeriksa pe-er Adin dan Coki), bang Edu (suka bermain basket), bang Barry yang sangat usil. Yang terakhir ada Dodo yang ingin menjadi jagoan sehingga dia ikut les karate. Mereka muncul di kisah-kisah Adin.
Selain dua bab tentang pengenalan tokoh yang ada di buku ini, ada 20 cerita yang bisa berdiri sendiri, cerita yang akan membuatmu tertawa akan kepolosan seorang anak kecil, dan kita akan belajar dari tingkah polahnya.
Pak Angin yang Menyeberangkan Anak Balon: Adin khawatir dengan balon yang melintas di depan mobil yang sedang dikendarai oleh ibu dan dirinya. Adin takut balon itu di tabrak mobil. Dia ingat perkataan Mamim kalau anak kecil haruslah menyeberang dengan orang besar. Begitu juga dengan balon tersebut yang harus menyeberang dengan balon yang sudah besar atau benda apa pun yang lebih besar darinya.
Sebuah Cerita tentang Seekor Ikan Bernama Maub-Maub: Coki memperkanalkan teman barunya yang bernama Maub-Maub kepada Adin, seekor ikan mas. Karena takut abangnya, Barry yang mengancam akan memakannya, ikan itu dititipkan di rumah Adin. Setelah mendapatkan rumah yang cocok untuk Maub-Maub, mereka kebingungan memberi makan, dicoba dikasih roti dan nasi Mau-Maub nggak mau memakannya, Papip pun mengajak mereka ke toko ikan dan menemukan pelet, makanan yang pas untuk Maub-Maub. Sayangnya, keesokan harinya Maub-Maub nggak bangun dari tidurnya, dia tergeletak tak sadarkan diri di luar baskomnya. Adin langsung menangis. Untuk menghiburnya Mamim bercerita kalau Tuhan kasian melihat Maub-Maub kesepian, kemudian Dia menawarkan surga agar tidak kesepian lagi. maub-Maub langsung mau dan berkenalan dengan ikan-ikan yang lain di kolam surga, Maub-Maub sudah bahagia disana.
Domba-Domba Pak Dumdum: Adin tidak bisa tidur dan Mamim mengusulkan agar Adin menghitung domba-domba Pak Dumdum yang gendut-gendut dan lucu-lucu. Adin pun langsung mencoba saran Mamimnya dan dia langsung bertemu dengan Pak Dumdum.
Penyihir yang Menyihir Bang Ruli: Sekarang bang Ruli tidak punya waktu lagi untuk memeriksa pe-er Adin dan Coki, keluhan tidak hanya datang dari mereka berdua saja tapi semua adik-adiknya. Dodo terlambat latihan gara-gara bang ruli mengantar ceweknya, Kak Angla. Bang Edu kesel karena motornya selalu dibawa Bang Ruli. Pokoknya Bang Ruli benar-benar berubah, dia telah terkena sihir Kak Angla. Dodo dan Barry pun berniat mengerjai Kak Angla, tapi melihat kebaikan Kak Angla kepada Adin dan Ciko pendapat mereka jadi ragu, apakah benar Kak Angla seorang penyihir?
Penyakit Batuk Selamanya: Akhir-akhir ini Edu sering membawa teman perempuannya yang serba bisa, jago maen game, basket dan karate, dia periang dan cepat akrab dengan orang lain. Tapi suara Dhamma saat berbicara terdengar aneh, serak. Adin heran dengan suara kak Dhamma, dia selalu ingin berdeham untuk menormalkan suara kak Dhamma. Adin berpendapat kak Dhamma batuk nggak sembuh-sembuh. Barry langsung nyletuk kalau kak Dhamma mengidap penyakit BS, singkatan dari Batuk Selamanya, menakut-nakuti Adin dan Coki kalau keseringan maen sama kak Dhamma mereka bisa ketularan. Mereka percaya saja dengan bualan Barry, mereka menghindari Dhamma dan perempuan itu mengira kalau mereka marah padanya. Suatu hati ketika bangun tidur Adin demam dan suaranya menjadi serak, dia ketakutan karena merasa sudah tertular penyakit kak Dhamma.
Bambang Suharjiwan, Papip, dan Mamim: Adin kedatangan teman baru dikelasnya, namanya Bambang Suharjiwan. Adin merasa aneh dengan nama Bambang, seperti bapak-bapak. Bambang juga heran kenapa Adin memanggil papa dan mamanya dengan sebutan Papip dan Mamim. Kata-kata Bambang membuat Adin berpikir kenapa dia bisa menyebutnya begitu? Karena berasa aneh, Adin menganti sebuatan kedua orang tuanya menjadi papi dan Mami, dia juga mengganti nama bambang menjadi Dodi agar terdengar keren. Sebuah kejadian menyadarkan Adin, panggilan Mamim begitu lekat di hatinya.
Celana Pendek Seperti Milik Bambang dan Dimas: Waktu istirahat, Bambang, Dimas dan Adin bermain polisi-maling. Bambang dan Dimas berperan sebagai maling sedangkan Adin menjadi polisinya. Adin hampir menangkap kedua maling tersebut ketika berhasil memojokkan mereka antara dinding SD dan SMP. Bambang dan Dimas langsung memanjat tembok tersebut yang kemudian diikuti Adin. Naasnya, rok Adin sobek ketika memanjat. Adin curhat sama Papip kalau dia ingin memakai celana saja kayak Bambang dan Dimas biar kalau mau manjat lebih gampang. Keesokan harinya Papip mengajak Adin ke rumah eyang untuk panen jambu air. Papip bertugas mengambil jambu dan Adin menangkapnya. Sayangnya trik ini membuat tangkapan Adin meleset. Kemudian tante Alya datang dan mengusulkan memakai cara pemadam kebakaran. Papip melempar 'orang-orang jambu' ke arah Adin, mengganggap kalau jambu tersebut adalah korban kebakaran di gedung. Jambu-jambu tersebut ditangkap dengan memakai rok Adin, selayaknya trampolin pemadam kebakaran. Kalau Adin pakai celana mana bisa dia bermain pemadam kebaran yang sangat mengasikan?
Teman Tante Alya yang Bertampang Berantakan: Waktu tante Alya berkunjung ke rumah Adin dia bercerita kalau punya teman yang bertampang berantakan. Adin bingung, kira-kira tampang berantakan itu seperti apa? Dia pun mulai mencoba membuat gambar teman tante Alya yang bertampang berantakan tersebut.
Lampu Kerja Papip: Papip sebal karena lampu kerja yang ingin diagunakan tidak mau menyala. Adin mendengar keluh kesah Papipnya dan dia mencoba membantu mengatasi masalah Papip. Dengan lembut dan manis Adin berkata sama si lampu, membujuknya agar menyala.
"Kadang orang dewasa tidak mengerti kalau benda-benda pun mempunyai perasaan. Mereka bisa menjadi sahabat kita, bisa juga marah kepada kita. Sama seperti manusia, mereka cuma perlu diperlakukan dengan baik dan penuh kasih sayang."
Tidak Semua Dinding Boleh Digambari: Karena ada temannya yang tidak bisa membaca tulisan di papan dengan jelas, Adin bertukar tempat duduk dengan temannya sehingga kini dia duduk di pojok belakang. Adin duduk sendirian dan dia lama-lama bosan, kemudian dia melihat dinding di sebelah abngkunya yang berwarna putih bersih, mirip dinding di kamarnya. Bedanya dinding Adin ada gambarnya, dia lalu menyimpulkan sendiri kalau dinding kamar Adin mirip dengan dinding kelas, berarti dinding kelas juga boleh digambari. Sejak itu Adin mempunyai kegiatan baru dan tidak terlalu kesepian lagi. Dia juga mengajak dua teman yang duduk di depannya untuk berpartisipasi dalam membuat komik di dinding, yang tidak lama kemudian kena marah sama gurunya. Saya kasih percakapan mereka yang menurut saya beginilah seharusnya para orang tua menjelaskan dan membenarkan kesalahan anaknya.
"Mim,misalnya nih ya, misalnya Adin gambar-gambar di dinding pas nggak lagi belajar boleh nggak? Terus, kenapa sih, Mim, dinding kamar Adin boleh digambar-gambar, tapi dinding sekolah nggak?" tanya Adin di dalam angkot. "Misalnya nih, misalnya ya Din. Adin punya mainan yang Adin sayaaang ... banget. Terus Dimas merebut mainan dan merusak mainan itu karena menurut Dimas, mainan itu mirip dengan miliknya, Adin marah, nggak?" Mamim malah balik bertanya. "Ya marah! Mainan itu, kan, punya Adin!" jawab Adin segera. "Nah, soal dinding juga begitu. Dinding sekolah bukan punya Adin. Jadi aturannya, biarpun dinding itu mirip dengan dinding kamar Adin, kamu nggak boleh seenaknya mencoret-coret. Kenapa di jalan ada rambu lalu lintas? Kenapa kita harus bilang terima kasih setelah ditolong? Kenapa kita tidak boelh merusak barang milik orang lain? Karena ada aturan dan sopan santun, Din. Sesuatu yang harus dilakukan supaya hubungan kita dengan orang lain di sekitar kita tetap baik." terap Mimim panjang lebar. "Ooo ...," tanggap Adin sambil menggangguk-angguk paham. "Tapi, Din, aturan di setiap tempat berbeda-beda, lho. Misalnya begini, Adin boleh mencoret-coret dinding kamar Adin sendiri, tapi Dimas dan Azmi belum tentu. Anak yang baik adalah anak yang tahu menempatkan diri. Waktu Adin datang ke rumah Dimas atau Azmi, Adin harus mengikuti aturan di rumah mereka. Kalau di sana dinding kamarnya tidak boleh docoret-coret, Adin tidak boleh mencoret-coretnya. Kalau di sana tidak boleh pake sepatu di dalam rumah, Adin jangan pakai sepatu di dalam rumah. Dengan begitu, Adin akan disayang oleh semua orang, di mana pun Adin berada." tambah Mamim sambil tersenyum.
Demikian beberapa cerita yang sangat berkesan, penggennya menceritakan semua sayangnya durasi waktunya nggak cukup #loh.
Saya yakin, menulis cerita anak tidaklah mudah, penulis harus benar-benar bisa menyelami pikiran anak kecil, berperan sebagai sosok anak kecil yang polos, mempunyai rasa tahu sangat tinggi dan tanpa sadar kecerobohan atau kesalahan yang dilakukannya bisa membuat orang tersenyum. Sundea berhasil menjelma sebagai anak kecil tersebut, dia menciptakan karakter Adin yang loveable, di sukai banyak orang dan pemikirannya benar-benar.... pengen nyubit pipinya :D. Begitulah seharusnya anak kecil, polos apa adanya, yang awalnya nggak tahu apa-apa (Adin yang menggambar daun dengan spidol agar warnanya tetap awet), belajar dari kesalahannya (Adin yang mencoret-coret tembok), menyayangi tanpa pamrih dan orang yang lebih besar pun memberikan penjelasan yang sekirannya mudah dicerna oleh si anak tersebut. Cerita seperti inilah yang ingin saya temukan pada children literatur. Di balik kisah si anak polos tersimpan pesan moril yang fun.
Selain cerita-cerita yang seru, ada ilustrasi kece di tiap bab yang mewarnai buku ini, memudahkan membayangkan isi cerita. Setelah membaca buku ini saya jadi ketagihan ingin membaca tulisan Sundea lainnya, terutama yang tentang children literatur :D.Buku ini recomended banget bagi setiap orang tua yang ingin mendongeng kepada anaknya, banyak ilmu yang bisa dipetik yang tidak jauh-jauh dari keseharian kita, yang mungkin pernah juga kita alami. Oh ya, saya juga merekan beberapa cerita di buku ini yang awalnya saya buat untuk ini, cekidot buat yang ingin dengar http://soundcloud.com/peri_hutan, maaf saja kalau masih kagok, baru pertama ini bercerita, sekalian minta ijinnya ya mbak Sundea :D
Tiba-tiba aja pengen ngereview buku ini. Aku baca buku ini udah lama banget banget banget. Mungkin lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi gatau kenapa aku masih inget karakter Adin sama Coki. Adin yang "grapyak" dan menyenangkan. Coki yang suka nangis tanpa suara dan itu bikin kerasa makin sedih :' Awal tertarik sama buku ini karena nama karakternya sama kayak panggilanku di rumah. Dan ini buku pertama yang aku pinjem dari perpus SMP. Ringan banget bahasanya dan heartwarming menurutku❤️ Dan yang paling aku suka, sudut pandang yang dipake adalah orang ketiga dan ternyata dia temennya adin yang misterius! Dulu aku sama sekali gabisa nebak itu siapa hahahah. Yang jelas, ini awal dari puluhan buku yang aku baca waktu SMP 😊
Tuhan memercikkan benih-benih bayi dari langit. Benih yang jatuh pada Ibu menjadi anak-anak, benih yang jatuh ke tanah menjadi bunga.
( Simon, 6 tahun )
Sebetulnya Dea sudah punya persepsi tentang anak-anak, tapi supaya lebih yakin dan bisa berbahasa seperti mereka, ketika memutuskan untuk menulis novel Dunia Adin ini Dea terjun ke tengah-tengah mereka. Dea melakukan observasi di SDK Yahya dan Sanggar Kreativitas Bumi Limas.
Kemudian ….ctak! Anak-anak yang secara nyata berlari, tertawa, berbicara, bermain, dan bersentuhan dengan Dea seperti menyentil mind set Dea. Mereka ternyata jauh lebih cerdas daripada yang Dea kira. Pada logika mereka yang tidak terikat pada klise-kilise dan stereotipe, terkandung kelirisan dan berbagai metafor yang bisa menonjok hampir semua persepsi tentang berbagai aspek kehidupan.
Mereka menangkap macam-macam isu, bahkan isu politik yang sedang berkembang, lalu secara menakjubkan mampu menghubungkannya dengan keseharian. Mereka bisa membangun konsep Tuhan melalui cara berpikir yang sangat sederhana tapi ternyata filosofis. Mereka punya kecerdasan emosional untuk keluar dari persoalan. Tidak betul anggapan “anak-anak cepat melupakan masalah”. Mereka bukan lupa, mereka mengatasinya.
Waktu Dea sungguh-sungguh masuk ke dunia bermain mereka (betul-betul terlibat, lho, bukan sekedar menemani mereka bermain) terasa benar bahwa anak-anak adalah seniman yang kreatif dan produktif. Mereka bermain di mana saja dan kapan saja. Lingkup inspirasi mereka tidak dibatasi ruang dan waktu. Dalam semua permainan, mereka mensimulasikan kenyataan dalam kehidupan, seperti seniman merepresentasikan realitas pada ungkapan mereka.
Melihat betapa dalam makna yang bisa dijaring dari kegiatan bermain di dunia anak-anak itu, Dea jadi percaya ada sebuah wilayah pada ekspresi seni yang berpangkal pada kesenangan bermain.
Dea percaya anak-anak makhluk yang cerdas. Itu sebabnya, Dea tidak takut menggunakan bahasa liris yang metaforis dalam menuturkan kisah Adin; Dea yakin anak-anak punya cara sendiri untuk memaknainya.
Ini adalah buku favorit saya di masa kecil. Karna buku ini, saya menjadi lebih suka baca buku. Di dalamnya terdapat seorang anak kecil bernama Adin yg membuat saya masuk ke dalam alur ceritanya. Imajinasi saya seakan meresap bersama buku ini. Ini layak untuk di baca anak2 di usia sekolah dasar.
Saya mempunyai kenalan seorang gadis kecil berumur enam tahun. Adin namanya. Wajahnya sangat imut, pipinya tembam, dan rambutnya hitam tebal. Dia sangat suka bermain dan menggambar di tembok kamarnya. Saya suka bermain dengannya karena cara berpikir dia yang mengejutkan dan jenaka.
Demikianlah buku cerita anak Dunia Adin dibuka. Pembukaan yang konvensional. Selanjutnya, kisah tertuang dalam bab-bab yang kadang-kadang tidak berhubungan satu dengan lainnya. Lebih sering tiap bab itu berisi kisah yang berdiri sendiri. Tapi tetap tokohnya Adin. Ya..mirip catatan harian mengamati gerak-gerik dan aktivitas Adin sehari-hari.
Umpamanya saja, ketika Adin dan mamim–demikian Adin menyebut ibunya–terjebak kemacetan di salah satu ruas jalan di Bandung. Atau saat Adin dan sahabatnya, Coki, bersedih hati karena ikan mas peliharaan mereka mati. Hal-hal semacam itulah yang tertulis di buku karya Sundea ini. Untuk menambah daya tarik, buku ini dilengkapi oleh gambar-gambar lucu sebagai ilustrasi hasil torehan kuas Triyadi Guntur W. Ilustrasi ini, bagi pembaca anak-anak, sangat membantu mereka untuk lebih memahami jalan cerita.
Secara fisik, tampilan buku Dunia Adin ini sudah sangat memadai sebagai bacaan anak-anak. Selain tampilan ilustrasi tadi, ukuran hurufnya pun dibuat cukup besar untuk memudahkan membacanya.
Ceritanya sendiri lumayan menarik. Memungut kejadian sehari-hari yang dialami bocah perempuan kelas I SD, penulisnya berupaya menyajikan kisah yang diharapkan akrab dengan pembacanya. Pesan yang disampaikan cukup efektif tanpa berkesan menggurui, meskipun ada satu yang saya kurang setuju, yakni perihal si papip (ayah Adin) yang memanggil putri tunggalnya itu dengan julukan Si Gembul.
Menurut saya, tidak seharusnya seorang ayah menyebut putrinya yang cantik dengan panggilan kesayangan seperti itu. Panggillah anak kita dengan nama-nama yang cantik atau julukan yang baik yang akan menambah kepercayaan diri anak dan bukan malah membuatnya minder.
Menurut penulisnya seperti yang dapat dibaca diblog miliknya, untuk memperoleh pemahaman yang sebenarnya mengenai dunia anak-anak, ia menyempatkan diri melakukan observasi dengan terjun langsung bermain dan bergaul bersama bocah-bocah cilik itu di SDK Yahya dan Sanggar Kreativitas Bumi Limas, Bandung. Dan dari sana cewek lulusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran itu mendapatkan realita yang mengejutkan. Ternyata anak-anak itu jauh lebih cerdas dari yang ia kira.
"Mereka menangkap macam-macam isu, bahkan isu politik yang sedang berkembang, lalu secara menakjubkan mampu menghubungkannya dengan keseharian", tutur Dea lebih lanjut, "Mereka bisa membangun konsep Tuhan melalui cara berpikir yang sederhana tapi ternyata filosofis", tambah gadis berusia 26 tahun ini lagi.
Lantaran itulah, penulis yang bernama lengkap Ardea Rhema Sikhar ini tak ragu menggunakan kosa-kata dan kalimat-kalimat liris plus metafor-metafor dalam buku keduanya tersebut. Dea, begitu ia biasa disapa, percaya dengan caranya sendiri anak-anak itu akan dapat mengartikannya.
Akan tetapi, buku ini tentu belum bisa dikatakan mewakili seluruh kenyataan yang ada di dunia atau untuk skup lebih sempit lagi, Indonesia (Kalau mau lebih kecil lagi : Bandung). Dea hanya mengambil sampel anak-anak dari kelas sosial menengah ke atas yang nota bene tak mengalami kesulitan ekonomi sebagaimana terjadi pada anak-anak di keluarga miskin. Jangan lagi untuk sekolah, buat sekadar makan pun susah. Bagi mereka, masa kanak-kanak bukanlah masa yang manis penuh gula. Setiap saat mereka dituntut untuk bekerja agar tetap bisa survive. Sejak dilahirkan , hidup sudah kejam pada mereka.
Namun, baiklah. Mari sebaiknya kita berharap agar anak-anak kita kelak bisa hidup lebih baik lagi. Seperti Adin dan Coki.***
Tapi, apa yang bisa diceritakan dari sisa kenangan? - Dunia Adin
Seperti judulnya, buku ini menceritakan tentang kehidupan Adin. Kisahnya penuh warna dan cerita. Adin bersahabat baik dengan Coki, tetangganya. Mereka berdua sering bermain bersama, bahkan Adin sering menginap di rumah Coki. Lain dengan Coki yang sedikit pendiam, Adin adalah sosok gadis kecil yang punya rasa keingintahuan yang besar, tapi mereka berdua sama-sama berhati lembut dan penyayang.
Buku ini lucu, cocok untuk refreshing setelah baca buku yang tergolong berat. Kata-katanya yang sederhana dan khas anak-anak bikin kita senyum-senyum sendiri.
Buku anak yg ditulis oleh orang dewasa tergolong cukup jarang di Indonesia. Kalaupun ada, kebanyakan berbentuk cerita bergambar, bukannya narasi seperti buku ini.
Buku ini membuat saya jatuh cinta pd Adin, juga mamim dan papipnya. Pada Coki, bocah lelaki berhati lembut, dan keluarga besarnya.
Saya tak bisa berhenti tersenyum selama membaca buku ini. Meski ada kalanya juga saya ingin ikut menjitak kepala Adin atau mencubit pipinya yg tembem.
Sepertinya saya telah terseret masuk ke dalam Dunia Adin....
Dunia Adin, buku yang membawa saya kembali mengenang masa lalu, kembali merindukan saat-saat kecil bermain bersama dengan saudara dan sepupu-sepupu saya... Cerita dalam buku ini betul2 bisa mengubah pandangan bahwa anak kecil ternyata lebih cerdas dibanding dari yang kita pikir...dan dapet insight juga apa yang bisa kita lakukan untuk mendidik anak kelak... Betul2 buku yang bisa dibaca oleh semua umur ngga cuma anak-anak aja... Gaya buku ini, Sundea banget deh! =) Salut De!
Ini adalah sebuah buku tentang kehidupan seorang anak kecil yang sangat imut dan menarik. Cara berceritanya asyik dan menyenangkan, dan kejadiannya lucu-lucu banget! Nggak terlalu memorable sih karakternya, tapi cukup untuk bikin, "Iiih, itu buku lucu banget!!" kalo liat bukunya. Intinya, fun banget. I luv Adin, she's wonderful. Buku ini juga bisa mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan penting lho, seperti kasih sayang dan persahabatan.
membaca buku ini kita seperti tenggelam kembali ke dunia anak-anak yang ceria, gembira, kadang2 mereka punya masalah yang harus mereka selesaikan sendiri... lucu memang klo ingat masa kanak2..:)
yang bikin buku ini ngga dapet full 5 bintang cuma sedikit typo dan beberapa istilah yang menurut saya agak aneh untuk digunakan dalam dunia anak kecil yang "ideal" seperti dunia adin.
A must read book for parents or parents to b or ev one who want to understand children world. A simple world, simple mind, simple life. Very intriguing