Save the date: Eve and Morgen are getting married! Begitulah rencananya, sampai hubungan rahasia mereka di tempat kerja terbongkar. Meskipun tidak dilarang, ketahuan berpacaran dengan rekan sekantor bisa merusak profesionalitas yang telah Eve bangun dengan susah payah. Terlebih lagi, karier sangat penting bagi generasi roti lapis seperti dirinya. Eve bertekad mencapai kebebasan finansial demi masa depan rumah tangganya dengan Morgen.
Namun, ada satu rahasia besar yang dia sembunyikan: utang yang menggunung! Selama ini, Eve berpikir kalau dia bisa melunasi utangnya, Morgen tidak perlu tahu. Namun, ketika hubungan mereka diguncang oleh serangkaian situasi tak terduga, Eve menyadari bahwa bukan hanya dia yang menyimpan beban dan rahasia. Ternyata, Morgen juga memiliki rahasia yang bisa mengubah segalanya. Dengan tanggal pernikahan yang dipertaruhkan, mampukah Eve dan Morgen mengungkapkan rahasia masing-masing demi kebahagiaan bersama?
Morgen dan Eve adalah definisi dari half of each other. Mereka [mencoba] memahami, compromise, dan menoleransi satu sama lain untuk menuju ke tahap selanjutnya, yaitu pernikahan. Sebuah kisah romansa yang dewasa dan begitu realistis.
Actual rating: 4.5⭐️
Aku bisa bilang novel ini benar-benar exactly my type and my style dalam novel romance—metropop or citylite or else—kayak "nah, beginilah novel romance untuk orang-orang yang berkarir dan berusia di atas 25 tahun." Sukak banget. Let's breakdown the scale.
📍Ini bisa jadi ulasan yang panjang [sorry, hehe ... because i wanna making an essay about why this book is my type]
✏️Sinopsis Sentral dari novel ini adalah Morgen dan Eve. Mereka akan menikah setelah pacaran [backstreet] selama 5 tahun. Mereka bekerja di satu hotel yang sama, Morgen jadi chef di sana, Eve di bagian event—terutama wedding planner. Bayangin deh 5 tahun pacaran dan nggak ketahuan sama sekali? Keren. Dan ternyata urusan mau nikah tuh nggak segampang itu. Ada intrik keluarga, dilema karir, polemik di kantor, dan lainnya.
✨️Karakter Morgen itu too good to be true banget. Ini lakik anomali nih. Biasanya kan dalam hubungan asmara di satu kantor terus berakhir dengan pernikahan, yang resign adalah pihak perempuan. Tapi, ini malah Morgen. DDANG! Morgen, kamu hijau sehijau-hijaunya. Nah, meski demikian, Morgen ternyata ada sisi lelah-nya. Sebagai anak laki-laki tunggal di keluarga, Morgen menjelma menjadi sosok "bapak" di rumah—setelah papanya. He must deal with his mother and his siblings. Dan menurutku itu sangat manusiawi.
Demikian dengan karakter Eve. Sebagai anak bungsu yang menjelma jadi anak pembebas hutang keluarga, Eve menjadi strict soal keuangan. Padahal dia naik jabatan, tapi tetap frugal living karena tetiba ada perkara warisan. Konflik dia dengan mamanya, bikin aku merenung. Yang dibilang mamanya ada benarnya—namun ada ngeselinnya. Konflik ibu dan anak perempuan banget deh.
Dan Izel, supporting actor sungguh scene stealer—feat Sisil. Eve akhirnya punya "teman" setelah bertahun-tahun dia hanya fokus cari uang dan bekerja. Polemiknya tuh pelik tapi untungnya nggak ada pemeran yang antagonis bak sinetron di novel ini. Semua "jahat" dan "baik" sesuai porsinya masing-masing.
✨️Plot Bisa dibilang novel ini banyak ngobrol. Ya, emang gitu kan kalau pasangan mau nikah? Banyak ngobrol dan duduk bareng, segala hal dibicarakan—meskipun ada "rahasia"-nya. Dari obrolan itu aku jadi belajar bahwa menyiapkan pernikahan nggak sesederhana itu. Instead of the party, the important thing is what next after married. Karir gimana, tinggal di mana, masalah personal apa yang belum selesai, dan lainnya.
Saat ada konflik pun tak kira Morgen sama Eve bakal ngedrama apa gitu, sebab khas metropop konfliknya miskomunikasi; tapi ini selesai dengan ngobrol dan duduk bareng. Nah, beginilah penyelesaiannya. Jujur, aku sudah jenuh dengan penyelesaian yang dramatis. Mereka malah "save the date" kapan harus mulai ngobrol lagi—setelah berantem—agar bisa bicara dengan kepala dingin. Woy, kok ga ada adegan ke luar negeri atau ngilang dulu? Haha, kidding.
Dari segi romance-nya, duh ... tipis-tipis membuat merona banget deh. Jangan mengira dewasa yang aku tuliskan di awal berhubungan adegan-adegan ykwim, tapi ini permasalahan orang dewasa. Ya, "dewasa". Hit the reality, truly madly deeply. Tapi, Morgen selalu ada Eve dan Eve selalu ada Morgen buat menghadapinya bersama. Love birds.
📍spoiler dikit Ini serius ending-nya begitu? Butuh adegan pernikahannya, butuh membaca adegan Morgen Eve kissed each other in their wedding *my hopeless romantic is really hopeless, hiks.
-----
Sudah panjang banget ulasannya, huaaah. Intinya aku suka dengan novel ini. My type and my style untuk novel romansa. Terima kasih penulisnya sudah membuat cerita yang indah nan realitis untuk Morgen dan Eve 💐
“Surely. Bagaimanapun situasinya, kalau kesempatan ini datang, pasti aku ambil. This is my choice. My own pursuit. Bukannya setiap orang harus punya itu? Aku dan resto, kamu dan keinginanmu untuk sekolah lagi demi karier yang lebih baik. Cita-cita itu ada karena bisa bikin hidup kita lebih bermakna ketika tercapai, kan?” (Hal 162). . Selesaiiiii! Dan sukaaa 😍😍😍. Ini novel kedua Kak Priska yang aku baca. Cukup suka cara berceritanya meskipun ada yang mengganggu buatku pribadi aja sih, tapi masih oke, manis, lucu, hangat, bikin gregetan, pengen guncang-guncang bahu Eve 🫣. Horor juga kalau punya tante kayak Tante Di dan punya calon mertua kayak mamanya Morgen. Salut banget sama Eugene dan Morgen 👏🏼 bagaimana mereka menghadapi Eve. Suka juga sama Izel dan Sisil. . Novel ini bercerita tentang Eve dan Morgen, hubungan rahasia mereka di tempat kerja terbongkar. Meskipun tidak dilarang, ketahuan berpacaran dengan rekan sekantor bisa merusak profesionalitas yang Eve bangun dengan susah payah, apalagi karier sangat penting bagi generasi roti lapis seperti dirinya. Tentang ketidakjujuran yang bisa merugikan. Tentang menikah itu bukan cuman aku dan kamu, tapi dua keluarga jadi satu. Tentang Eve yang selalu bersikap bahwa dia baik-baik saja. Tentang mendengarkan bisa terasa amat melegakan. Tentang ‘Kamu terlalu fokus sama sukses, sampai lupa bahwa kamu udah usahain yang terbaik. Makanya setiap rencana kamu melenceng atau bahkan gagal, rasanya kayak kiamat’. Tentang ‘Anggap aja semacam mekanisme. Lagi lapar, ya, makan. Lagi kecewa, takut, atau sedih, ya berarti ada yang nggak beres. Setelah diterima, emosi negatif bakal pergi dan digantiin sama emosi lain’. Tentang tembok yang selama ini dibangun tak selalu memberikan kedamaian. Boleh loh novel ini dibaca, masukkan ke wishlist yaa sekalian kenalan dengan tulisan Kak Priska Natasha 😊. . “Aku nggak bisa kayak kamu, kamu pun nggak bisa kayak aku. My new venture is gonna be way more challenging, but I want to feel— alive as I work my way to the top. Kita beda aja soal ini. Buat aku, kalau kamu nyaman kerja di area yang lebih stabil sampai pensiun nanti, ya, nggak apa-apa. Asal jangan abai sama keinginan kamu sendiri.” (Hal 162). . “Iya, itu. Excellent service, tuh, omong kosong tanpa great hospitality, Eve. Padahal selama ini, tujuan utamaku, ya, yang pertama. Jadi, pas tahu kamu go to the extra mile buat klien, semata-mata supaya hari mereka menjadi lebih baik… that exact moment, aku paham kenapa Bapak bela-belain masak, walau lagi libur. Bukan sekadar gantiin Ibu, tapi supaya hari itu jadi hari yang lebih baik buat keluarga dan teman-temannya.” (Hal 169). . “Tapi kemarin— mungkin karena aku bener-bener berusaha dengerin dan nggak ngelawan— lumayan juga. Sempat nyuruh bikin rencana buat gagal segala. Seakan-akan mau tegasin bahwa nggak apa-apa kalau sesekali hidup kita kacau, asal tahu apa langkah selanjutnya supaya dampaknya nggak sampai kiamat.” (Hal 281).
Inilah romance “dewasa” sesungguhnya. Aku suka banget sama tulisan Kak Priska. Bukan ceritanya ya, karena ini tipe yang bikin aku sakit kepala wkwkwk tapi karakter-karakternya oke banget, dan tulisannya rapiiii. Sumpah nggak ngerti lagi mau bilang apa buat muji. Reviu lebih koheren menyusul.
Novel office romance yang bagus banget. Ngga ekspektasi bakal serealistik ini ceritanya, tapi tetep ada gemes, lucu sampe bikin nyengir.
Meet Eve, kerja sebagai Event Sales Executive di sebuah hotel. Dia nanggung beban utang keluarga yang rencananya bakal lunas sebelum tanggal pernikahannya. Pekerja keras, strong woman tapi tetep gampang nangis juga.
Meet Morgen, seorang Chef yang diinginkan ibunya berkarier mengikuti ayahnya sebagai Executive Chef di hotel bintang lima. Emotional Intelligence beliau Top Tier. Suka cara Morgen memperlakukan Eve.💚
Eve dan Morgen udah saling melengkapi banget.
Mereka punya masalah masing-masing. Tapi ternyata masalah Eve lebih berlapis. Apakah setelah Save The Date, mereka mampu meneruskan hubungan yang sudah serius ini? Mari ikuti kisah mereka.🤗
🩷Novel ini pake sudut pandang orang pertama, yaitu Eve. Perasaan tokoh-tokohnya tetep nyampe ke pembaca.
🩷 Serunya mereka kerja di satu tempat, bertahun-tahun pacaran, tetep bisa backstreet. Sampe ketahuannya juga bukan ditempat kerja.🤭
🩷Konfliknya cukup menegangkan, tapi yang aku rasaain tetep menggembirakan karena aku tahu karakter mereka sudah diusia dewasa dan punya pemikiran yang terbuka, ngga langsung salah-salahin orang, tapi bisa introspeksi diri. Jadi diskusinya itu enak didenger.
🩷 Kekeluargaan dan pertemanan juga ada. Aku suka hubungan antara Eve dan kakaknya. Hubungan Eve yang bisa dekat dengan adik Morgen. Hubungan Eve dengan rekan kerjanya.
Aku rekomendasiin ini ketemen-temen yang suka baca novel in general. Kalo yang suka genre metropop, kalian wajib baca.👍
"Menikah memang bukan perkara mudah, terutama jika kita tidak berhati-hati dalam memilih pasangan."
Ga nyangka buku yg covernya cute banget ini ternyata isinya cukup complicated. Tentang Eve dan Morgen yg sudah berpacaran selama 5 tahun dan berencana akan menikah. Mereka yg bekerja di sebuah hotel yg sama, selama ini berhasil merahasiakaan hubungan mereka dari orang lain, namun jelang pernikahan, hubungan mereka tiba-tiba terbongkar dan rahasia-rahasia yg mereka tutupi satu sama lain pun terbongkar dan mengguncang hubungan mereka.
Pertama kali baca tulisan kak Priska dan aku suka. Novel ini tuh cukup page turning buatku, walaupun konflik yg diangkat lumayan complicated dan bikin pusing kepala.
Novel ini mengangkat tema masalah jelang pernikahan, sandwich generation, juga hubungan antara orang tua dan anak.
Aku suka banget relationship Eve dan Morgen disini, keduanya tuh kayak saling melengkapi banget, disaat Eve yg lagi emosi, Morgen bisa tetep kalem dan ga ikutan emosi juga, jadi berantemnya mereka tuh ga sampe yg berlarut-larut gitu. Disaat salah satu dari mereka menyimpan rahasia dan akhirnya terbongkar pun keduanya ga yg ribut sampe teriak-teriak gitu, tapi dijelaskan pelan-pelan sampe nemu solusi yg pas, jadi ga ikutan emosi juga bacanya.
Aku juga suka sama Eugene atau yg bisa dipanggil kak Jin, abangnya Eve, dia sebenernya jarang muncul tapi pas dia muncul tuh bisa bikin aku berkaca-kaca. Apalagi part dia ngobrol sama Eve, nasihatnya kayak sambil lalu tapi jleb banget, jadi pengen punya abang kayak kak Jin 😍.
Disini justru para orang tua yg lumayan bikin emosi, papanya Eve yg kurang tegas, mamanya Eve yg seenaknya sendiri dan mamanya Morgen yg terlalu banyak ngatur. Perpaduan mereka ini yg bikin hubungan Eve dan Morgen jelang pernikahan jadi makin ruwet.
Penyelesaian konfliknya menurut udah oke, salah paham antara Eve dan Morgen terselesaikan dengan baik. walaupun masalah papa Eve juga selesai, tapi bagian mama Eve yg ga diperjelas lagi itu lumayan mengganjal buatku pribadi.
Oh sama endingnya aku berharap setelah semua keruwetan yg bikin pusing kepala itu, bakal dikasih ending yg lebih manis dari itu, kayak ya kok udah selesai gitu loh, i need more 😆😆 🗓️ Disini kita bisa belajar jangan mengukur kemampuan sendiri hanya berdasarkan kegagalan orang lain. Jangan takut gagal dan seperti orang yg gagal, tapi jadilah berhasil supaya tidak seperti orang yg gagal. 🗓️ Oh iya penjelasan tentang pekerjaan Eve dan Morgen di hotel juga lumayan detail. Dan aku juga suka sama Izel dan Sisil, temen-temen Eve di hotel yg lucu dan supportif banget. 🗓️ Overall aku menikmati baca novel ini, perkenalan yg cukup berkesan sama tulisan kak Priska, jadi penasaran pengen baca tulisan beliau yg lain. Yg cari novel romance dewasa yg ga melulu membahas tentang romansa, boleh banget baca novel ini. Recommended 👍
Eve dan Morgen telah berpacaran selama 5 tahun, dan sedang mempersiapkan acara lamaran mereka. Karena bekerja di hotel yang sama, tidak ada rekan kerja mereka yang mengetahui hubungan mereka. Salah satu alasannya adalah karena tempat kerja mereka tidak membolehkan adanya hubungan asmara apalagi sampai menikah. Eve dan Morgen sebenarnya sudah mulai merencanakan siapa yang akan resign dari tempat kerja saat mereka menikah. Namun ada kejutan bagi mereka. Eve mendapatkan promosi, sehingga kini rencana untuk resign menjadi tidak tersedia bagi Eve.
Selain rencana pernikahan itu, ada hal yang memenuhi kepala Eve dan kesehariannya, yaitu utang yang ditinggalkan oleh mamanya. Sebagai anak, Eve merasa harus bertanggung jawab atas orang tuanya. Papanya memang masih memiliki sedikit penghasilan dari berjualan buah, namun sama sekali tidak bisa menutupi utang yang ditinggalkan oleh mamanya. Sementara mamanya, pergi begitu saja. Eve tidak bisa mengandalkan kakaknya, Eugene, yang saat ini sudah punya tanggungan istri dan dua anak kembar mereka. Belum lagi ada tuntutan dari tantenya, untuk segera menjual rumah warisan yang mereka tempati saat ini.
Jujur saja membaca novel ini, saya ga bisa "masuk" ke dalam karakter utamanya. Karena ceritanya dari POV Eve, jadinya sebagai pembaca saya merasa harus bisa memahami jalan pikiran Eve. Tapi sampai halaman terakhir ga tahu ya...rasanya kayak ngambang. Eve terlalu overthinking, punya dugaan segudang, merasa sangat bertanggung jawab sampai mengesampingkan kehadiran orang-orang di dekatnya. Kesannya hanya dia doang yang bisa menyelesaikan tanggung jawab membayar utang orangtuanya. Dia sampai menutupi hal itu dari calon suaminya, karena tidak mau membebani Morgen dengan persoalan keluarganya. Sementara itu, dia juga menganggap urusan keluarga Morgen harus dia ketahui. Terutama harus menyenangkan calon ibu mertuanya. Bagi Eve yang sudah kehilangan mama, dia tidak mau sampai kehilangan Ibu. Ketika Morgen punya rencana tentang karirnya yang belum sempat dibicarakan dengan ibunya sendiri, Eve yang uring-uringan. Asli... capek banget jadi Eve.
Kalau ada yang positif dari cerita Eve dan Morgan, ya si Morgen itu. Dia berusaha memahami kekasihnya, mencoba meringankan bebannya, dan mau memberi ruang bagi Eve untuk sendiri. Dua bintang buat Morgen ajalah....
Eve dan Morgan backstreet selama 5 tahun sebab tidak ingin teman kerjanya mengetahui hubungan mereka. Pasalnya, ada aturan bahwa pasangan suami isteri dilarang bekerja di tempat yang sama.
Meskipun demikian, keduanya sudah merencanakan pernikahan mereka. Akan tetapi, Eve punya isu besar. Dia mesti membayar 1/2 harga rumah peninggalan keluarganya—yang kini ditempati oleh ayahnya—kepada Tante Di. Di saat yang bersamaan, dia dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi, sayang banget mesti resign. Belum lagi permasalahan dia dengan mamanya. Dilema akut.
Isu-isu yang terjabarkan dalam buku ini cukup banyak, tapi lewat begitu saja dalam kepalaku. Nggak hidup, berasa “telling” aja. Penceritaan menggunakan sudut pandang orang pertama pun tidak membantuku untuk bersimpati dengan Eve. Malah uring-uringan yang ada.
Narasinya juga kurang natural. Ada beberapa percakapan yang disisipin dengan idiom berbahasa Inggris yang terkesan dipaksakan. Kesannya bukan jadi keren sebab hambur dialog—nggak penting. Selain itu, perpindahan topiknya juga nggak pas di selera aku. Beberapa kali kayak lost gitu, bingung tokohnya lagi bahas apa.
Secara penokohan, karakter utamanya belum nendang. Hubungan Eve dan Morgan terasa “kurang romantis”. Mungkin karena mereka dewasa? Entahlah. Porsi Morgan seperti tokoh sampingan. Permasalahannya juga kurang resap ke Eve, jadi bingung apa goals-nya. Tokoh sampingan seperti Izel dan Sisip juga seperti kurang development, “suara” mereka seperti sama. Overall, aku belum bisa enjoy.
Sebagai orang yang selalu berusaha menghindari utang, buku ini bikin kepalaku nyut-nyutan bayangin kondisi Eve. Tapi keberadaan Morgen di sisi Eve bikin aku betah bacanya. Seperti nama kedua tokohnya yang bermakna 'malam dan pagi', Eve dan Morgen adalah pasangan yang saling melengkapi. Suka banget ceritanya, meski endingnya kentang. Aku berharap bakal sampai di bagian resepsi pernikahan Eve dan Morgen, tapi ... ya gitu deh. Bikin sekuel lanjutannya dong Kak Priska. They deserve it.