Dari 18 tulisan di sini, yang benar-benar saya sukai hanyalah kisah-kisah pendek yang bercerita. Sebagian besar goresan-goresan indah susah diinterpretasikan—maaf, Dee—karena tidak semuanya saya pahami. Sebagiannya lagi memadai dan tidak, namun hanya untuk kebutuhan masturbasi saja dengan kenikmatan sesaat tanpa keberlanjutan yang berarti.
Oke, berikutnya saya mau bahas yang menggugah hati saya saja. Yang bener-bener bikin saya keranjingan baca saking senangnya sama kisah tersebut walau hanya sepenggal. Dua judul yang saya sebutkan di bawah sungguh cocok dengan seleraku. Sementara yang satunya lagi karena bikin saya merenung. Kuberharap mereka (yang kusebut pertama dan terakhir) dapat hidup dalam sebuah buku tersendiri, nggak numpang bersama kisah lain karena keterbatasan tempat, soalnya bener-bener menarik untuk dikisahkan lebih lanjut.
Surat Cinta di Botol Kaca—saat tahu usia tokohnya saya berdecak kagum. Seorang pria lima puluh satu tahun & seorang wanita lima puluh tahun. Sudah begitu, prianya masih sangat gesit mencari jodoh (dan “mainan”, mungkin?) di usia emasnya itu. Yang bikin melongo, ia masih aktif menebar pesona di aplikasi dating app yang fenomenal, yaitu Tinder. Sementara itu, sang wanita yang juga mendekati paruh baya akhir menantikan botol beling berisikan surat cinta. Sungguh konyol, kan? Cara klasik untuk menemukan cinta yang sepertinya tidak akan terjadi. Mereka berdua sahabatan, sudah saling nyaman akan satu sama lain. Sudah sering liburan berdua, tidur bareng dalam satu kasur, dan dikira pasangan tapi tak pernah berhubungan intim. Banyak dialog mereka yang menggetarkan gelak tawaku yang sulit keluar di permukan akhir-akhir ini, Dee berhasil menyajikan humor melalui kisah mereka. Memang receh, tapi sebagiannya ada makna mendalam. Ending-nya? Ketebak. Saya kira pembaca yang lain juga merasakan hal yang sama. Namun, saya tetap mencintai kisah mereka, ada rasa “butterfly in the stomach” gitu.
48 yang kelihatannya sebagai suatu angka yang biasa-biasa juga memantik penasaranku. Ternyata Dee bercerita tentang ringkasan hidupnya. Buat saya, yang bikin spesial—yang diulangi oleh Dee—adalah angka ini tidak istimewa: bukan angka ganda, tak ada gelar monumental yang terkandung, tidak bulat (berkelipatan 10), dan biasa aja. Ini cuma sekadar checkpoint biasa, tapi membuatku merenungi juga apa yang telah saya lakukan di usia saya yang genap di 30 tahun ini. Refleksi Dee sampai di benakku walau sekenanya saja.
Ada pun kisah lain yang kusukai yaitu penutup dari buku ini. Siapa yang menyangka Dee akan membahas Transendensi Ampas Insani (disingkat TAI) dengan begitu filosofis yang begitu dalam tapi juga lucu? Saya sampai membayangkan di suatu pagi Dee mulas dan meditasi di kamar mandi lalu memutuskan taik bakalan menjadi bahan cerita yang bagus. Dan ternyata… memang bagus! Masuk akal pula. Mengenai alasannya, ada dijelasin lima prinsip & lima As dari Meditasi TAI. Kesemuanya kocak-kocak, aku teriak berdiri di atas kasur karena tersentil dengan semua teori yang sekilas memang kedengarannya receh tapi make sense, kok.
Anyway, Dee pernah berkata di sebuah talkshow bahwa ide-idenya biasanya muncul di momen-momen yang biasa aja. Nggak selalu diagendakan khusus dengan bepergian ke suatu tempat atau yang lainnya. Begitupun Tanpa Rencana ini. Saya jadi mikir, kita juga bisa seperti Dee lho, yang memulai suatu hal—apa pun itu, mau nulis, jualan, berkarya—tidak mesti lahir dari momen yang direncanakan. Ide yang terlintas begitu saja di kala rebahan nyambi order Gofood bisa jadi cemerlang. Intinya, tidak ada kata terlambat atau momennya nggak tepat.
Oh ya, sebagai penutup, buku ini cukup oke. Ada beberapa tulisan yang menggerakkan hatiku, seperti Temu & Power Rangers dan kedua cerita di atas. Ada juga yang bikin hati terkopek-kopek mengharukan. Sebagian besarnya justru berasa kosong, lewat sekelebat saja; nggak mengundangku untuk berpikir lebih dalam memaknai tulisan tersebut. Saya rasa cukup fair bahwa nggak semua tulisan perlu dicerna sama saya, karena masing-masing dari itu akan menemukan hatinya dari para pembaca yang lain.