Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kidung Dalam Kabut

Rate this book
Sejumlah kematian aneh terjadi di sekitar Markus Khalid, salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Kasus yang teramat membingungkan kepolisian karena semua korban meninggal secara misterius. Tidak ada tanda-tanda penyusup, semua pintu tertutup, tetapi jasad mereka kuyup, seolah mati karena tenggelam.

Erik Bimasena, kapten divisi pembunuhan yang bertugas untuk memecahkan kasus-kasus ini, mengalami kesulitan saat melakukan deduksi karena keadaan korban yang tidak bisa diterima logika. Anehnya, semua proses kematian itu terputar jelas dalam mimpi anak Markus, seorang perempuan muda bernama Kyra.

429 pages, Paperback

Published October 1, 2024

15 people want to read

About the author

Naila Fauzia

6 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (28%)
4 stars
3 (42%)
3 stars
2 (28%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Henzi.
221 reviews23 followers
October 19, 2025
Kidung dalam Kabut menceritakan sejumlah kematian aneh yang berpusat di sekitar orang-orang Markus Khalid, salah satu pengusaha terkaya Indonesia. Erik Bimasena—kapten divisi pembunuhan—beserta tim mengalami kesulitan selama menginvestigasi kasus berikut karena kondisi mayat tidak masuk akal.

Korban-korban pembunuhan (walau tidak sama persis) selalu mati setelah listrik dipadamkan mendadak di rumah/gedung yang ditempatinya. Selain itu, paru-paru mereka selalu terisi oleh air—spesifiknya air rawa/danau—yang seolah-olah menandakan korban mati tenggelam padahal kondisi mereka sama sekali nggak kelihatan seperti itu.

Novel setebal 400+ halaman tidak hanya menyingkap proses penyelidikan kasus, tapi juga membuka layer demi layer sosok seorang Markus Khalid beserta apa yang membuatnya spesial. Sebut saja satu hal, ternyata ia memiliki seorang putri bernama Karina yang sempat menghilang selama belasan tahun. Karina yang telah berganti nama menjadi Kyra baru muncul ke permukaan akhir-akhir ini.

Saat korban pertama ditemukan, Kyra sempat mendapatkan penglihatan prosedur pembunuhan lewat mimpi. Yang anehnya, tiada orang lain yang dapat ia lihat selain korban. Untuk membuktikan penglihatannya benar, ia diam-diam berkunjung ke lokasi kejadian. Di situlah ia kemudian bertemu dengan Erik.

Kyra tidak dapat menjelaskan mimpinya kepada orang lain karena yakin akan diacuhkan. Siapa pula yang masih percaya dengan hal-hal takhayul lagi di zaman modern? Hampir nihil. Oleh karena itu, ia menyimpan rahasianya rapat-rapat agar tidak disangka gila.

Butuh waktu yang cukup lama agar proses penyelidikan bisa bergerak maju. Hampir separuh dari buku tidak banyak menjelaskan penemuan baru selain dari bertambahnya korban. Aku sempat bored 🥱, selain karena pace-nya yang lambat, penulis juga suka menjelaskan latar tempat & deskripsi tokoh yang terlampau detail. Apabila digambarkan dengan grafik, excitement levelku naik dikit-dikit, turun, naik lagi, terus turun terjal.

Menjelang ending, ketika semuanya dijelaskan, tidak ada yang mengejutkan sama sekali. Di sekitar pertengahan hingga 3/4 buku, aku sudah bisa menebak siapa pelakunya. Lagian, cara berceritanya (buatku pribadi) kaku, nggak “gripping” sama sekali—seakan-akan memang sudah waktunya narator menceritakan kebenarannya, semua diungkap begitu saja. Selain itu, kronologisnya juga nggak detail. Jatuhnya nggak make sense, sebab temuan-temuan awal nggak di-break down satu per satu pada saat kejadian sesungguhnya di-reveal. How to-nya itu lho gak dijelasin. Dilewatin begitu aja. Aku teramat tidak puas, padahal ini yang jadi inti cerita. Novel tebel-tebel mestinya difokuskan ke sini, bukan hal-hal lain yang tak menambah bobot cerita.

Satu lagi hal yang kurang, yaitu nuansa horror-nya. Seharusnya bisa lebih diperkuat lagi supranaturalnya bila memang buku ini SUDAH bermaksud menyelipkan genre berikut. Alhasil, magis atau hal-hal di luar nalar ya terjadi mendadak begitu saja. Takutnya gak dapet, mengejutkannya juga. Datar sajalah. Cukup disayangkan.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
November 25, 2024
Kidung dalam Kabut adalah perkenalan pertama saya dengan karya Uni Naila. Beliau telah lama berkecimpung dalam dunia tulis menulis dan belakangan juga menerjemahkan beberapa karya klasik dunia. Kidung dalam Kabut menjadi salah dua karya bergenre misteri horor yang diterbitkan oleh Falcon Publishing akhir bulan Oktober kemarin. Sebuah novel misteri dengan bumbu penelusuran khas detektif yang penuh ketegangan dari awal hingga akhir.

Dua orang penting di sekitar Markus Khalid, ditemukan tidak bernyawa dengan kondisi yang hampir mustahil. Keduanya adalah tangan kanan Markus dalam membangun imperium bisnis kreteknya yang menjadi nomor satu di Indonesia. Kedua orang itu adalah Purnama dan Linda. Keduanya suami istri yang setia pada keluarga Markus. Keduanya ditemukan mati karena paru-parunya dipenuhi air. Bukan air tawar atau semacamnya, justru air rawa yang jauh sekali dari lokasi mereka ditemukan.

Erik Bimasena sebagai kapten divisi pembunuhan ditugaskan memecahkan kasus ini. Hingga ia bertemu dengan wanita bernama Kyra, yang merupakan satu-satunya anak dari Markus dan Ratih Khalid. Sosok Kyra sendiri penuh tanda tanya bagi Erik. Masa lalunya yang pernah hilang dan kini ditemukan keluarganya kembali menyisakan tanya besar. Apa yang membuat Kyra kabur dari kedua orang tuanya?

Sementara itu sesosok pria kerap muncul mendatangi Erik di beberapa kesempatan. Seolah menunggu sesuatu untuk disampaikan atau diungkap? Kyra sendiri mendapati dirinya mengetahui bagaimana Purnama dan Linda terbunuh, tapi tak mampu melihat siapa yang melakukannya.

Semua misteri dalam buku ini menarik untuk diikuti lebih jauh. Pembabakan yang cukup baik dan kesabaran penulis untuk membuka satu persatu jalinan misteri yang ada terbangun sempurna. Saya sendiri di beberapa titik mendapati terlalu pelan, slow burning meski memahami bahwa penulis ingin membangun semua theatre of mind yang baik bagi para pembacanya. Novel setebal 429 halaman ini layak diacungi jempol akan kualitas penggambaran suasananya yang mencekam. Saya malah terbayang dengan semua adegan di film-film David Fincher yang gloomy, gelap, dekil dan tentu saja mengundang berbagai tanda tanya bagi para penikmat filmnya. Ada satu film lagi yang membawa suasana serupa, Mystic River.

Satu hal membuat saya bergidik adalah penggambaran satu sosok yang menjadi kunci dari semua misteri dalam buku ini cukup detail. Belum lagi deskripsi jenazah yang membusuk begitu cepat pada mereka yang mati tidak hanya menunjukkan kualitas riset yang tajam tetapi juga jangkauan penulis akan apa yang berusaha ia tunjukkan pada pembacanya.

Saran saya jangan baca buku ini malam-malam. Kita tidak pernah tahu siapa yang sedang mengamati kita, bukan?
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.