Ini kedua kalinya aku tertarik pada manhwa karena art style nya. Biasanya art style seperti ini hanya digunakan untuk ilustrasi cover. Namun saat aku membaca prolog, aku terkejut karena pewarnaannya sangat konsisten dari awal hingga akhir. Permainan shading dan lighting nya luar biasa. Ini mengingatkanku pada artstyle Kematian Adalah Akhir Sang Antagonis. Dua manhwa ini sama-sama konsisten. Mereka tidak hanya mempercantik cover manhwa, tapi juga semua chapter. Umumnya, ilustrasi pada isi per chapter tidak sedetail cover. Biasanya aku akan mengabaikan itu jika plot ceritanya bagus. Tapi kedua manhwa ini tidak seperti itu. Terutama The Villainess Is A Marionette ini. Setiap panel nya sangat detail. Dari background, desain gaunnya hingga ekspresi para tokohnya.
Palet warna nya juga unik. Glassy effect? Glossy effect? Aku tidak tahu istilah mana yang benar. Intinya, efek yang digunakan ilustrator dalam manhwa ini sangat unik dan cantik. Pasti butuh waktu yang lama untuk mewarnai setiap panel dengan teknik seperti ini. Ditambah lagi, desain motif pada pakaian setiap karakternya juga sangat detail. Aku terkejut melihat motif-motif pada pakaian yang dikenakan karakter pria. Biasanya, untuk pria, pakaiannya jarang diberikan motif penuh. Namun di manhwa ini, baik karakter utama maupun sampingan, semuanya diberi motif. Ini pertama kalinya aku menemukan ilustrator yang tidak hanya memberi perhatian lebih pada karakter utamanya, tapi juga karakter sampingan.
Art style nya memang cantik, tapi masalahnya, bagaimana dengan plotnya?
Terkadang, ada manhwa yang memiliki visual cantik, namun plotnya berantakan. Ada juga manhwa yang art style nya sederhana, namun plotnya tertata rapi dan menarik. Lalu ada juga manhwa yang memiliki keseimbangan yang bagus antara art style dan plot. Untuk The Villainess Is A Marionette, baik itu art style maupun plotnya, keduanya sama menariknya.
Sama seperti Kematian Adalah Akhir Sang Antagonis, art style pada The Villainess Is A Marionette menyesuaikan dengan plot ceritanya. Dalam The Villainess Is A Marionette, karakter Cayena Hill digambarkan sebagai wanita yang paling cantik dengan penampilan seperti boneka. Tidak hanya penampilannya, segala tindak-tanduknya pun seperti boneka tali yang digerakkan. Karena di kehidupan pertamanya Cayena diperlakukan bagai boneka, Cayena bertekad untuk lepas dari tali yang mengekangnya dan berhenti menjadi “boneka” sepenuhnya.
Manhwa ini tidak hanya menarik dari segi art style, tapi juga storytelling-nya. Aku suka cara tim produksi manhwa ini mengatur pacing per panel sehingga tidak terasa cepat maupun lambat. Lalu, pada setiap panel yang berfokus pada ekspresi wajah karakter, aku bisa merasakan emosi yang memancar dari wajah karakter tersebut. Bisa dibilang, ini bagian terfavoritku. Tidak perlu banyak efek tambahan (misalnya ketika karakternya terkejut, ada tulisan ‘terkejut’) untuk mengetahui apa yang dirasakan karakter tersebut. Aku sering melihat efek tulisan semacam ini di manhwa-manhwa lain. Ada kalanya aku merasa terganggu dengan efek tersebut, karena menurutku, efek-efek itu tidak perlu ditambahkan. Tanpa diberi efek seperti itu, pembaca akan tahu emosi macam apa yang sedang dirasakan karakter melalui ekspresi wajahnya.
Pada awalnya aku hanya ingin mempelajari art style nya untuk referensi latihan. Tapi kemudian aku tidak bisa berhenti menekan tombol “berikutnya”. Aku penasaran apakah strategi Cayena akan berhasil atau tidak. Sayangnya, season pertama berakhir dengan kasus penculikan. Karena kasus itu, aku menjadi penasaran. Apakah Cayena akan melawan atau hanya menunggu sampai Raphaelo datang menyelamatkannya?