Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
E-mail blast ke seluruh penggemar HEARTBREAKERS:

HEARTBREAKERS BUBAR? HELL NOOOOOOOO!!!

Desas-desus kalau boyband ini akan bubar, sepertinya semakin jelas, Sweethearts!

Kabarnya, Leon akan keluar dari HEARTBREAKERS. Dua personel lainnya, Axel dan Sandro, nggak berkomentar soal gosip ini. Mereka cuma menggeleng dan senyum.

Waktu dikonfirmasi langsung ke Leon, dia juga bersikap sama. Termasuk saat ditanya tentang kedekatannya dengan seorang gadis berinisial J.

OK. Siapa itu gadis berinisial J?


*sigh*


Belum ada konfirmasi resmi dari pihak Popster Entertainment tentang semua gosip tadi. Tapi, Admin dapat kabar dari salah satu "orang dalam" manajemen, kalau ternyata HEARTBREAKERS akan berlibur satu bulan.


Hm, konon bukan berita cukup bagus, sih, buat Leon, Axel, dan Sandro.

Well, Admin belum berhasil mengorek lebih dalam informasinya. Yang jelas, Sweethearts pastinya berharap HEARTBREAKERS nggak bubar dan tetap punya album baru.


*teriak amin bersama-sama*


ADMIN SWEETHEARTS

FANBASE RESMI BOYBAND HEARTBREAKERS

264 pages, Paperback

First published May 9, 2014

Loading...
Loading...

About the author

Fei

33 books11 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (21%)
4 stars
14 (30%)
3 stars
18 (39%)
2 stars
4 (8%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 20 of 20 reviews
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,548 reviews76 followers
October 21, 2018
FEI! CONGRATZ, YOU'VE GOT A NEW FAN. WHICH IS MEEEEEH!

Aku lebih suka novel ini daripada Remember The Flavor. Andai di Goodreads ada 6 bintang kukasihin semua ke novel ini (soalnya buat Remember The Flavor udah aku kasih 5 bintang puol). Aku tadinya agak ragu dengan BLURB-nya. Cerita tentang seleb...euh...boyband? Bakal seklise apa, sih? Tapi begitu tahu ini yang nulis Feikassy, aku langsung beli dari Indomaret. Haha...

Seru banget. Meskipun Leon yang jadi center cerita novel ini digambarkan sebagai anak konglomerat, konfliknya sama sekali nggak klise. Iya, ada bagian pas dia ditentang sama ayahnya, dianggap manja, egois, etc. Tapi di luar itu, digambarkan sekali perkembangan kepribadian Leon secara wajar. Hidup Leon berubah begitu Darwin, sahabat gamernya yang mendirikan perusahaan game bernama Game Castle mengejar-ngejarnya demi meminta tambahan modal. Pasalnya game LunaSol yang jadi andalan perusahaan itu dapat review jelek banget dari para game tester. Mereka terpaksa harus mengulang semua dari awal dan usaha itu butuh uang 100 juta. Meskipun Leon anak orang kaya, tapi konflik dengan ayahnya bikin ia jadi ragu untuk mengucurkan uang lagi.

Pertemuannya dengan Jocelyn, teman Lana, ternyata secara tidak langsung membawa perubahan drastis pada Leon. Berawal dari curhat masalahnya yang terus-menerus dinyinyiri Richard Sang Papa, dan kejaran Darwin Minta Modal yang bikin dia makin bete, berkat dikompori Jocelyn dan Lana, Leon malah nekat bekerja sebagai co. producer Game Castle di masa vakum Heartbreakers yang seharusnya digunakan untuk mempersiapkan album kedua. Leon pun dihadapkan pada dunia nyata untuk pertama kalinya, dan termotivasi untuk mempelajari dunia yang dia kira sama sekali bukan bidangnya: bisnis.

Di sini meskipun hingar-bingar dunia selebritas nggak terlalu disorot, tapi justru menarik karena menampilkan sisi paling humanis seorang artis. Siapa bilang artis yang anak orang kaya nggak punya masalah? Justru ia harus berjuang keras demi melepaskan diri dari bayang-bayang kekayaan keluarganya. Plus cibiran orang awam yang bisanya cuma meremehkan dan mengira semua hasil kerja kerasnya itu hanya berkat modal duit.

Yang menarik, konflik dengan Game Castle ini rupanya menyindir bagaimana orang-orang industri dunia kreatif di Indonesia yang tadinya lebih mengutamakan masalah grafis dan teknis daripada kekuatan storytelling dan concept suatu produk. Berkat Jocelyn yang mengajukan Misteri Kota Emas Inca menjadi dasar dari pengembangan story concept LunaSol, game itu pun berhasil diselamatkan.

Fei benar-benar penulis novel teenlit/young-adult/romance yang sangat berbakat. Narasi dan dialognya benar-benar mengalir dan bikin pembacanya terseret untuk terus mengikuti ceritanya. Poin-poin yang klise jadi nggak terasa klise karena kekuatannya pada detail dunia profesional. Dalam hal ini dunia profesional yang berhasil ia buat untuk mewarnai universe Heart Out adalah dunia perusahaan game dan boyband yang digambarkan secara realis.

Aku jadi tertarik buat mengikuti novel-novel yang lain meski sepertinya rada telat. Duh Gagas, ayo gencarin proyek novel ini. Jangan cuma karena novel ketiga ratingnya nggak sesuai harapan terus potensi serial ini jadi terbengkalai begitu saja. Kasihani para Sweethearts dan calon Sweethearts yang sudah deg-degan mengikuti jalinan kisah empat cowok anggota boyband ini.

Dan satu lagi yang paling menarik. Fei mungkin punya kecenderungan untuk menggantung kisah cinta dua tokoh utamanya? Seperti yang dia lakukan pada Remember The Flavor, hubungan Jocelyn dan Leon pun dibiarkan menggantung, meski dari cara nulisnya dia kasih banyak banget ruang bagi Sweethearts untuk berharap ada kelanjutan dari hubungan keduanya. Aku suka karena porsi romance di novel ini nggak kebablasan. Jocelyn berhasil berperan sebagai cewek jutek, nyebelin, cuek yang ternyata care, sedikit boyish, dan selalu punya ide cemerlang buat membantu Leon menyelesaikan masalah-masalah peliknya.

Dan meski chemistry keduanya terbangun begitu kuat, Jocelyn tidak muncul setiap saat. Leon tetap menjadi sentral yang teramat kuat di sini. Cewek itu hanya muncul sesekali. Ini berbeda dengan novel-novel romance lain yang kayaknya dua tokoh utama cowo-cewenya harus selalu berada pada satu scene yang sama di sepanjang novel. Which is kurang realistis. Di kehidupan nyata kan kalau masih tahap pedekate, kita juga nggak akan terus-terusan ketemu ama love crush kita, kan. Kita juga masih punya banyak elemen kehidupan lain buat diurusin daripada sekedar masalah cinta. Dan Fei berhasil mengisi ruang-ruang jeda terpisahnya Jocelyn dan Leon ini dengan apik.

Konflik Leon dan Richard, Sang Papa, juga digambarkan nggak klise. Sang Ayah ternyata memang care dengan perkembangan Leon, hanya saja dia udah eneg karena si anak suka kabur. Plus kedua orang ini tampaknya punya masalah komunikasi sehingga nggak bisa mengungkapkan perasaan sayang yang sebenarnya antara satu sama lain. Ini digambarkan dengan cantik di sini. Senyebel-nyebelinnya ayah Leon, Richard-lah yang membuat Leon bangkit dari keterpurukan saat ia diserang masalah double combo di Game Castle dan Heartbreakers sekaligus. Tampaknya sebagai pebisnis handal Papa Leon ini tahu benar cara menghadapi manusia. Kan ada aja tuh jenis ayah yang seolah bakal "bersorak" waktu anaknya gagal. Kesempatan untuk menjatuhkan mental anaknya, nggak cuma untuk saat itu tapi untuk jangka panjang #kenerakaajamodelayahkayagini

Beberapa plot device juga dipakai di saat yang tepat, sehingga masalah nggak sampai ngedrama berlarut dan justru bisa move on ke tahapan berikutnya. Misalnya pas Jocelyn ternyata punya kenalan panitia di Jakarta International Game Show.


Ah, Fei... Aku jatuh cinta pada cara menulismu. Ini adalah novel pertama yang berhasil kutuntaskan dari 200 target buku Goodreads Challenge 2017. Dan kau bikin aku lebih semangat membaca dan belajar lagi. Aku akan memburu semua karyamu, Fei. Aku janji!

FEIKASSY, TERIMAKASSY!
Profile Image for Biondy.
Author 9 books237 followers
June 4, 2014
Judul: Heart Out
Penulis: Fei
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 264 halaman
Terbitan: Mei 2014

Setelah bercerita tentang Axel, anggota baru HEARTBREAKERS, dalam Heart Attack, kini fokus cerita pindah pada Leon. Sebagai anak dari seorang Suryadiputra, Leon selalu merasa bahwa dia tidak memiliki insting bisnis seperti ayahnya.

Leon yang selama ini hidup dengan cuek, berkutat dengan game dan segala gadget-nya, tidak pernah menyangka bahwa libur sebulan yang HEARTBREAKERS terima akan membawa perubahan besar pada dirinya.

Review. Spoiler alert.

Wah, ternyata cepat juga buku kedua seri Heartbreakers ini keluar (nulisnya pakai huruf kecil aja ya. Jangan caps lock jebol ^^). Suka sama konsep dan cerita buku pertamanya. Makanya begitu novel ini keluar, langsung masuk daftar to-buy.

Dari segi cerita saya lebih menikmati Heart Out ini ketimbang Heart Attack. Lebih suka konflik dan perjuangan Leon dalam menyelesaikannya.

Dialognya di sini juga seru. Mungkin karena Leon orang yang lebih santai ketimbang Axel kali yah, makanya gaya dialognya juga jadi lebih bebas. Cuma kadang saya merasa dialog antar karakternya terlalu panjang. Kalau dipotong sedikit atau disisipi narasi di dalamnya, mungkin bakal lebih membekas dialognya.

Hal lain yang kurang saya suka? Lana, adiknya Leon. Gila, tuh anak hyper banget yah. Punya adik kayak gitu, sudah saya smack down kali :'). Untung adik saya gak ada yang sehiper dia.

Untuk akhir ceritanya, masih sama seperti Heart Attack. Ada bagian yang belum terselesaikan. Kebetulan plot yang masih menggantung itu sama-sama urusan cinta. Masalah percintaannya Axel juga belum terjawab di sini. Apa nanti Axel dan Leon bakal punya buku sendiri lagi ya?

Anyway, menantikan buku ketiganya. Apakah Sandro yang akan jadi fokus berikutnya?

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2014 Young Adult Reading Challenge
- 2014 New Authors Reading Challenge
Profile Image for Emilya Kusnaidi.
Author 3 books40 followers
February 16, 2016
3.5/5 yang dibulatkan ke bawah karena blurb-nya yang misleading.

Seri Heartbreakers pertama yang saya baca, dan saya suka! Meskipun kurang menyorot kehidupan seleb Leon sebagai artis, tetapi saya suka dengan gaya penceritannya yang luwes, dan karakter Leon sendiri yang digambarkan imut-imut sedikit gembul. Tema yang diangkat juga seru, karena jarang sekali novel yang menyuruti pasar game indie Indonesia. Dan risetnya sendiri udah terasa pas.

Satu-satunya hal yang saya komplain mungkin dari blurb-nya yang mengarahkan pembaca ke arah romansa, padahal menurut saya cerita romannya nggak kentara.

Jadi pengin baca seri Heartbreakers yang lainnya, deh :)
Profile Image for Jenny Faurine.
Author 18 books181 followers
November 7, 2014
Jujur, lebih suka Heart Out =3 Walaupun memang karena dalam rangka cuti-nya HEARTBREAKERS, interaksi para member nggak terlalu banyak, tapi suka sama jalan ceritanya. Leooon! Duh, bisa-bisa pindah hati dari Sandro ke Leon nih. Hihihi.
Nggak sabar sama ceritanya Sandro. Semoga nggak mengecewakan. Kalau kejadian, fix pindah hati ke Leon! Wkwkwk *just kidding*
Dan entah kenapa tadi malem gue mimpi kalo gue nulis ceritanya Dima. Kayaknya seru kalo ada ceritanya si Dima. Atau emang bakal ada? Well, we'll see. Saking ngefansnya sampe kebawa mimpi. Hahaha. Mungkin seru kalo ada ceritanya Dima. Bayanginnya sih di cerita Dima bakal banyak rahasia. Iya, dia kan dari awal bikin penasaran. Kenapa dia keluaaaar? *jambak rambut penasaran*
Profile Image for Dinur A..
278 reviews99 followers
May 27, 2014
buku keduanya ini nggak ngecewain. walaupun nggak fokus ke ingar-bingar kehidupan keartisannya si Leon, tapi tetep seru. perjuangan dan proses perubahan diri Leon itu enak diikutin. agak kecewa sih karena interaksi antar member Heartbreakers di sini sedikit banget dibandingin sama Heart Attack. romance nya nggak terlalu menonjol, but still ok. suka pokoknya. kalau di Heart Attack tentang persahabatan dan kepercayaan, menurutku Heart Out lebih ke perjuangan dan pembuktian diri. dan kenapa ya covernya kok bukan flip cover kayak Heart Attack? jadi nggak lucu deh.

overall it was worth the wait. nggak sabar sama seri selanjutnya yang bakal ditulis Kak Lia Indra. :)
Profile Image for Riyan Raditya.
Author 2 books
May 26, 2014
Dibandingkan seri pertama, buku kedua dari Heartbreakers ini lebih ngebahas personal Leon. Secara keseluruhan saya menyukai bagaimana penulis menuliskan cerita ini. Seru mengikuti jejak Leon mempertahankan investasi-nya di perusahaan game temannya. Tadinya saat tahu seri Heartbreakers ini ditulis oleh beberapa penulis saya tidak begitu yakin, tapi melihat buku kedua ini saya rasa tak ada yang diragukan dari para penulis seri berikutnya.

Siap menunggu seri ketiga ^^
Profile Image for Gus.
620 reviews62 followers
May 10, 2026
--- Heart Out ---
🎲 Penokohan: Ok.
📕 Plot: Hmm... kental dengan moral yang bisa ditebak dan dipetik bahkan sebelum cerita berakhir.

╰⁠(⁠⸝⁠⸝⁠⸝⁠´⁠꒳⁠`⁠⸝⁠⸝⁠⸝⁠)⁠╯╰⁠(⁠⸝⁠⸝⁠⸝⁠´⁠꒳⁠`⁠⸝⁠⸝⁠⸝⁠)⁠╯╰⁠(⁠⸝⁠⸝⁠⸝⁠´⁠꒳⁠`⁠⸝⁠⸝⁠⸝⁠)⁠╯

Baiklah, untuk karya ini... sudah lama ada di rak tapi barulah sekarang saya baca. Salah satu YA yang mengambil sudut pandang orang ketiga. Yiihaaa! (⁠☆⁠▽⁠☆⁠)
Saya juga harus mengapresiasi halaman perkenalan Heartbreakers yang disisipkan sebelum kisah benar-benar dimulai. Informasi ini bagus untuk pembaca yang baru bergabung seperti saya huehehee... 😆

Nah tapi berbicara tentang cerita... It was ok!^^
Saya rasa awalnya mulai menikmatinya sampai tiba-tiba; salah satu tokoh yang baru bertemu satu sama lain, tiba-tiba menebak— menyebut— orang yang baru ditemuinya sebagai;
...
Sebaliknya, Jocelyn hanya diam ia menatap lekat Leon selama beberapa saat, kemudian berkata lambat-lambat, "Lo... punya Peterpan syndrome, ya?"


Tokoh Jocelyn bahkan melanjutkan mengenai isi arti Peterpan syndrome untuk tokoh Leon (yang lagi-lagi baru dikenalinya) hanya dari ucapan Leon.
Girls, really?



Mungkin saja saya bilang seperti ini karena ikut tertusuk atas kalimat Jocelyn wwww. Saya mungkin Peterpan syndrome juga, karena jiwa anak-anaknya selalu lebih tinggi dibanding usia seharusnya yang mengharapkan saya sebagai tokoh dewasa.

Tapi kesampingkan mengenai saya, tidak sepantasnya seseorang menilai orang yang baru ditemuinya secara gamblang seperti hakim yang sedang mengetukkan keputusannya :(. Jadi jika saya menjawab sesuatu secara asal, apakah itu sudah menandakan saya kekanakan dan tidak bisa berkembang secara mental? Apakah sebuah impresi pertama cukup untuk membuat orang merasa: 'Ih, orang ini mentalnya sepuluh tahun dan sepertinya akan selalu lari dari masalah, tanggung jawab, dan komitmen' --> Tidak seberlebihan contoh, tapi kesan yang saya dapat dari ucapan tokohnya terasa seperti ini.

Yah, sudah saya duga sih, pasti akan ada cerita di mana tokoh Jocelyn ini orang yang tidak berbasa-basi. Tapi di masalah lain, dia tiba-tiba pintar baca situasi. Nice :> *gus sarkas. Ah ya sudahlah.

Meski ucapannya tidak di filter, tetapi intinya sebenarnya benar. Maksud saya adalah bagian di mana kita harus mempersiapkan masa depan. Hidup tidak seperti main game yang memiliki tombol perulangan. Maka dari itu, penting untuk memikirkan; 'Nanti seperti apa ya? Apa yang bisa dipersiapkan untuk seperti itu?'



Berkat kalimat tokoh Jo di atas, saya secara tidak langsung mulai menebak lajur muara novel ini. Poin yang saya harapkan agak... keliru. Tapi tidak, semuanya sesuai bayangan saya. Ini kisah mengenai Leon yang belajar bertanggung-jawab atas uang, pekerjaan, dan keputusannya (kurang lebih).

Setengah buku kebelakang, saya sudah lebih menikmati ceritanya. Meski ada juga perasanya agak... melelahkan ya membacanya ^^;; (mungkin saya saja). Kadang terlalu sarat makna memang perlu waktu lebih untuk dicerna.

Tokohnya beragam. Ada yang dhuar-dhuar, ada yang minta ditanam di bawah pohon pisang, ada yang minta dilempar ke dasar samudera... lho?
Rasanya banyak sekali kalimat yang ingin saya ucapkan pada tokoh Leon yang notabene masih pakai cara ala anak-anak saja. Kabur dari rumah karena marahan? Ugh, meski ayahmu memang menyebalkan, kamu juga tahu! Tapi kabur hanya menggarisbawahi ayahmu benar (meski memang benar lolololll).

Darwin. Tokoh ini bikin saya geleng-geleng kepala. Rasanya seperti memperjelek citra dev game saja. Beta test itu ada beberapa bagian... atau tipe... hmm... (gus tidak 10000% mengerti juga) tapi kalau mendapatkan masukan yang tidak sesuai, mungkin ada yang salah dengan bagaimana cara dev ini menyampaikan kebutuhannya? Atau gagal dalam menyaring orang-orang yang memang mau memberikan masukan dalam sebuah closed beta? Dalam forum game yang saya ikuti, bahkan steam (saya juga perlu mengecek kapan steam rilis. Ternyata memang jauh rilis sebelum novel ini terbit kok), atau grup sosial media, sebenarnya banyak sekali para gamer yang memberikan masukan yang membantu. Seperti mengatakan 'A terasa tidak begitu baik. Bagaimana kalau B?'

Lana.
... ... ... ...Hm. Yah. Dhuar-dhuar ya^^;;; rasanya seperti bom berjalan /woi.

Nah di penghujung, saya suka solusi cerita game dari Jocelyn. Yang saya bicarakan adalah konsep yang dijelaskan Jocelyn. Karena memang benar, meski awal idenya tentang peradaban tertentu, tapi tidak berarti harus tentang peradaban itu.
Buat fiktif saja!
Ganti ini! Ganti itu! (⁠☆⁠▽⁠☆⁠)✨✨
Let the imagination shine! Afterall, there's nothing stopping the imagination works! ᕙ⁠(⁠@⁠°⁠▽⁠°⁠@⁠)⁠ᕗ

--> Btw ini bagian favorit saya sepanjang buku. Karena akhirnya ada bagian yang sepemahaman dengan saya. Tidak berarti saya membenci yang tidak sepaham, tapi yang ini semacam ada satu gelombang otak yang akhirnya sama, sehingga saya merasa: YEAH!! ᕙ⁠(⁠@⁠°⁠▽⁠°⁠@⁠)⁠ᕗ

Menulis pendapat di atas membuat mood saya membaik. Lho... keduanya memuat Jocelyn ya? Wah wah, seperti kata Leon, untuk saya, gadis ini juga spesial di buku ini 😆✨
[7.5/10]
Profile Image for Naza N.
359 reviews10 followers
October 28, 2017
TBH, saya lebih suka yang ini dibanding seri sebelumnya. Meskipun fokusnya cuma ke satu member HB (yang membuat member lain cuma muncul sebentar-sebentar doang--I need more Sandro, please!), tapi deskripsi di novel ini lebih detail dan nggak terlalu cepat alurnya untuk dibaca.

Tapi,serius, blurb-nya misleading banget. Kukira HB bakal... ah, sudahlah.

Ngomong-ngomong, di buku ini sisi keartisan Leon kurang diulas, sih, karena HB lagi cuti, sehingga interaksi trio Sandro-Leon-Axel pun kurang. Tapi tetap, pertemanan erat mereka masih kerasa. Dan setelah mendapatkan sedikit sekali porsi Leon di Heart Attack, di sini pendeskripsian dia jadi lebih detail, dan dia lovable juga. :3

Anyway, kalau para mahasiswa bisnis bosen baca materi matkul yang membosankan, bolehlah beralih baca ini. Hehehe.

P.S. What I love about this book is the portion of the romance. Not really exist. Jarang banget lah nemu buku yang porsi romens-nya sedikit :') *derita orang yang tidak menggemari romansa*
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,057 reviews284 followers
February 26, 2016
review lengkap http://kubikelromance.blogspot.com/20...

Walau agak nggak puas dengan Heart Attack, yang namanya baca cerita berseri mau nggak mau tetap lanjut dengan seri berikutnya, toh saya emang penasaran cerita HEARTBREAKERS ini mau dibawa kemana :p. Kalau di buku pertama yang menjadi tokoh utama adalah Axel, personil baru yang menggantikan sang leader, Dima, kali ini yang menjadi sorotan adalah personil yang maniak game, lucu, serampangan, suka bangun siang dan es cokelat. Siapa lagi kalau bukan Leon.

HEARTBREAKERS akan hiatus selama sebulan penuh sebelum peluncuran album kedua. Jadwal yang biasanya padat kemudian tidak ada kegiatan apa-apa membuat Leon bisa menghabiskan waktu untuk dirinya pribadi, dia bisa main game sepuasnya, bangun siang sesuka hatinya dan kembali ke rumah, ke keluarganya. Tapi, ketika HEARTBREAKERS hiatus, selalu saja ada masalah. Dan kali ini bernama Darwin.

Darwin adalah teman Leon ketika tergabung dalam sebuah forum internet para penggemar game. Awalnya hanya bertemu di dunia maya, semakin lama semakin akrab dan cocok, mereka pun bertemu di dunia nyata. Leon adalah orang pertama yang mendukung Darwin ketika ingin membangun sebuah perusahaan pembuat game. Dia pun investasi di sana. Perkembangan usaha Darwin jarang dipantau Leon karena dia sibuk dengan karirnya. Ketika Darwin mengunjungi Leon di rumah, dia mengatakan kalau LunaSol, proyek game RPG (Role Playing Video Game, seperti Final Fantasy) yang sedang dia kembangkan ternyata mendapatkan review jelek dari para kritikus game yang mencobanya pertama kali. Singkatnya, perusahaan Darwin bangkrut dan dia ingin meminjam uang kepada Leon untuk modal menciptakan atau memperbaiki game yang dia buat.

Dulu dengan mudahnya Leon memberikan modal, sekarang, dengan berbagai pertimbangan dan ditegur ayahnya -seorang pengusaha sukses yang bisnisnya sudah turun temurun, mengganggap kalau Leon sembarangan menjadi investor tanpa mengetahui detail dari perusahaan tersebut, Leon tidak langsung memberi jawaban kepada Darwin. Ayahnya memang tidak setuju ketika Leon menjadi anggota boyband, dia ingin Leon mengikuti jejaknya terjun ke dunia bisnis, seperti Suryadiputra lainnya. Sindiran ayahnya yang mengganggap kalau Leon tidak dewasa benar-benar seperti cambuk, waktu liburan ini Leon gunakan untuk membuktikan kepada ayahnya kalau dia bisa berbisnis dan bisnis game bukan hal yang remeh.

Sandro dan Axel heran dengan perubahan yang dialami Leon, dia memilih tinggal di basecamp HEARTBREAKERS selama libur. Sekarang dia rajin belajar, meminjam diktat kuliah dari adiknya, Lana yang mengambil jurusan bisnis. Leon melakukan riset, mencari apa yang salah dan seharusnya bagaimana dengan game yang Darwin buat. Semua itu berkat solusi Joycelyn, teman adiknya yang memberikan saran akan masalah yang dia hadapi, cewek yang tidak histeris melihat dirinya, cewek yang dengan seenaknya memanggil dia Hamtaro.

Semua rencana yang dilakukan Leon untuk membangun kembali LunaSol tentu saja ada sandungannya. Leon harus bisa membagi waktu antara bisnis dan karirnya sebagai anggota boyband, di mana akan menjadi padat karena untuk persiapan album kedua, dia harus memilih mana yang utama. Selain itu, Leon juga ingin membuktikan kepada ayahnya dan dirinya sendiri kalau dia bisa 'berdiri dengan kakinya sendiri', dia bisa bertanggung jawab akan pilihan yang dia pilih, menunjukkan kalau dia mampu, bukan lagi cowok yang hanya hobi bermain game tetapi juga membuat game.

"I think... you just refused to grow up and take every chance to avoid responsibility and complexity."

Bisa dibilang cerita tentang Leon ini agak 'keluar jalur'. Buku ini lebih banyak membahas tentang hobi Leon, bukannya membahas tentang HEARTBREAKERS sendiri. Untungnya saya sangat menikmatinya, penulis menyuguhkan sesuatu yang baru dan cukup asik untuk diikuti. Kita bisa tahu tentang perencanaan dalam suatu bisnis dan tentang dunia game. Pesan moralnya juga terasa sekali, ada sesuatu yang bisa kita petik dan terapkan. Misalnya saja, ketika Leon berubah menjadi rajin demi impiannya. Dia harus menentukan prioritas, apakah hanya sekedar main-main atau serius.

Untuk kisah cintanya, ada tetapi bukan fokus utama, lebih ke pendalaman karakter Leon dan penulis sukses menyajikannya. Ada perkembangan karakter Leon yang saya suka di sini, dari awalnya hanya main-main, tidak pernah serius, ketika mendapatkan pecutan dari sang ayah dan keinginan membantu temannya, dia berubah menjadi orang yang bertanggung jawab dan serius. Bagian ketika Leon melakukan riset untuk LunaSol benar-benar asik, saya ikutan antusias. Oh, ya, saya juga suka ketika Jocelyn bilang ke Leon, "Tapi lo bisa bilang jelek, berarti lo juga mestinya punya gambaran yang bagus gimana, kan?" Agak tertohok nih, ini juga pelajaran buat saya agar kalau membuat review dan mengkritik saya juga harus mencarikan solusinya bagaimana :p.

Kekurangannya, tidak banyak kok. Sebenarnya saya ingin tahu sejarah Leon masuk menjadi anggota boyband, sayangnya tidak dibahas sama sekali. Sentuhan HEARTBREAKERS di buku ini bisa dibilang minim, hanya melibatkan anggota lain sebagai pemain pendukung dan penambah konflik ketika Wira, sang manager, membuat Leon kalang kabut perihal waktu yang tidak bersahabat dengan kesibukannya yang baru. Penggambaran karakter Leon kurang detail, saya masih agak kesusahan membayangkan Leon itu seperti apa, kebalikan dengan Axel yang lumayan detail di buku pertama.

Harapan untuk buku selanjutnya, masih sama seperti yang saya tuliskan di review Heart Attack, saya ingin sejarah bergabungnya para anggota HEARTBREAKERS (kecuali Axel) diulas lebih dalam lagi, perkuat chemistry mereka bertiga. Saya cukup penasaran dengan cerita Sandro karena saya merasa ada tekanan yang dia peroleh ketika menjadi leader yang baru, semoga ada sesuatu yang baru lagi, yang tentunya nggak melenceng jauh sehubungan dengan boyband paling ngehits ini :D.

3.5 sayap untuk LunaSol
Profile Image for Finesta Biyantika.
361 reviews
April 6, 2019
Wah wah wah! Gak nyangka ceritanya seseru ini sih. Temanya ttg anggota boyband yg nyambi nyelametin bisnis game gitu. Gaya tulisannya jg enak dibaca! Kesentil sama julukan "Peterpan syndrome" alias refused to grow up, karena ngerasa masih kaya gitu sih...
Profile Image for Pie ..
Author 3 books
January 26, 2021
Reviewed di Story Instagram @tifa998
Sudah dihiglight di bagian recommended books
Mau review di sini, tapi karena terlanjur di story jadi nggak bisa di-copas. Mau ditulis ulang tapi kayaknya aku nggak kuat, reviewnya lumayan panjang.
Profile Image for Salwa.
4 reviews
March 11, 2022
ini beneram bagus banget! jujur aja aku nemu buku ini dari pustaka sekolah but WOW awalnya aku gak expect bgt pas mau baca, tapi inii tuh bagusss sekalii! di tengah2 buku aku sampe nangiss! dan sekarang aku lagi bingung bgt mau beli buku ini di mana.. :(
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book276 followers
September 3, 2014
Masih ingat dong dengan boyband HEARTBREAKERS? Di buku pertama, Heart Attack, ada cerita perkenalan personil HEARTBREAKERS (HB) yaitu Sandro, Axel dan Leon. Di sana juga kita mengenal Axel lebih dekat. Kali ini giliran Leon yang mendapat sorotan penuh. Sudah siap mengenal Leon lebih dekat?

Sebelumnya, kita sudah tahu kalau Leon adalah personil HB paling imut, hobby main game, dan minum es coklat. Selain hobby main game, Leon ternyata pernah berinvestasi pada perusahaan game milik temannya, Darwin. Darwin pun dikenalnya dari ajang game online. Darwin memiliki impian mengeluarkan satu Game RPG (Role Playing Games) bernama LunaSol. Darah bisnis Suryadiputra yang mengalir di dalam diri Leon membuatnya nekat menanamkan modal untuk game LunaSol itu. Sayangnya, perusahaan game milik Darwin terancam bangkrut dan LunaSol di ambang kegagalan.

Ketika Darwin datang menemui Leon untuk meminta pinjaman modal tambahan, Leon jadi galau. Bukan karena dia tidak punya uang. Lebih tepatnya karena sindiran papanya. Selama ini papanya yang tidak setuju Leon ikut boyband, menilai Leon sering menghambur-hamburkan uang, tidak mandiri, dan tidak punya tujuan masa depan. Leon tidak sependapat dengan ayahnya. Tapi, ketika Jocelyn, kawan Luna (adiknya Leon), juga mempertanyakan hal yang sama, Leon jadi berpikir ulang. Dia harus membuktikan pada ayahnya bahwa pendapat ayahnya salah.

Leon mulai terjun sendiri dalam perusahaan milik Darwin, dan fokus untuk memperbaiki game LunaSol agar layak jual. Selain melakukan riset pasar, Leon juga bela-belain membaca diktat bisnis milik adiknya. Ternyata tidak mudah menjadi seorang pebisnis, apalagi ketika HB mulai terabaikan olehnya.

Saya pribadi memang sudah penasaran dengan Leon yang di buku sebelumnya mendapat porsi sedikit.Membaca buku ini dan mengenal Leon lebih jauh membawa kepuasan bagi saya. Dengan mengangkat latar belakang hobby Leon bermain game, novel ini terasa fresh. Kegiatan hingar-bingar HB pun tidak terlalu diulas banyak seperti di buku sebelumnya. Saya menyukai proses perubahan karakter Leon dari anak cuek menjadi seorang yang bertanggung jawab.

Novel remaja seperti ini tentu tidak lengkap tanpa sentuhan romance. Meski hanya dibahas sekilas, ada kisah di antara Leon dan Jocelyn. Serunya Jocelyn bukan penggemar HB, tapi selalu setia menjadi pendengar bagi Leon. Sosok Jocelyn yang cool mengimbangi watak Leon yang terlihat kekanak-kanakan.

Ohya, entah kenapa setiap membaca buku terbitan Gagas Media saya jadi lebih aware soal typo-nya. Mungkin karena dari pengalaman sering menemukan typo. Di buku ini ga banyak sih, tapi ada satu yang mengganggu. Akun twitter-nya Leon itu @o8o8_leon atau @leon0808 sih? Kalau melihat di buku sebelumnya dan kepo di twitternya @HB_Indonesia benar yang pertama. Trus, lagu Say Hi Aja yang ada di sampul buku ini bisa didengerin di mana? Ga ada petunjuknya sama sekali di buku ini. Beda banget dengan buku pertama yang full bonus, kali ini cuman dapat Sweetheart ID Card yang kecil, itupun berfungsi jadi pembatas buku. Padahal kalau dikasih bonus mini game buatan Darwin kan lebih sip. *pengennya*
Profile Image for R.A.Y.
293 reviews46 followers
June 19, 2014
suka! Hamtaro! <3 Leon ngingetin aku sama Tirtachu <333
buku pertama Fei yang aku baca dan kayaknya aku bakal baca buku-buku dia yang lain :D

yang ngilangin satu bintang cuma satu: karakter Sandro yang terasa OOC. gaya bicaranya terlalu akrab untuk ukuran Sandro, dan ketus/sadisnya yang di Heart Attack kerasa banget jadi kurang kerasa :(
#TeamSandro #kecewa

lainnya? udah sip.

maap males ngebacot wkwks.
Profile Image for Kazenithavi.
67 reviews
Read
July 2, 2014
kece lah ya, aku sih bayanginnya Leon mirip KimSooHyun wkwkwk! keren! ^^
Displaying 1 - 20 of 20 reviews