Buku ini tidak memberi tahu tujuan, tapi dia membantu kita mengarahkan perjalanan.
Seperti buku pertama saya, isi buku ini adalah tulisan-tulisan yang pernah diterbitkan di kanal-kanal saya, sambil mengelompokkan mereka ke dalam nilai-nilai yang diwakili oleh setiap jari tadi.
Semoga ketika kamu bingung nanti, kamu bisa tinggal melihat tanganmu, dan tahu apa yang kamu mau lakukan di hari itu.
Buku apa pun yang Ko Edward tulis ke depannya, akan aku (usahakan) beli—pokoknya jadi autobuy author. Panduan Lima Jari merupakan kumpulan essay terbaik—Mulai Mengerti juga sih—yang pernah kubaca. Kata aku mah, bukunya mesti dibaca sekali seumur hidup. Bisa dibilang, nggak ada kalimat biasa-biasa doang dalam buku ini, semuanya 👏🏼.
Seperti buku sebelumnya (Mulai Mengerti) di buku ini juga masih merupakan kumpulan artikel yang pernah dituliskan oleh Edward Suhadi di media sosialnya. Kalau mengikuti IG-nya beliau, pasti ada artikel yang pernah dibaca. Menariknya, artikel itu dikelompokkan dalam lima bagian seperti jari tangan.
Jari Jempol adalah tentang selalu memberikan yang terbaik. Jari telunjuk adalah tentang selalu bertumbuh. Jari tengah adalah tentang bersyukur untuk diri kita yang berbeda. Jari manis adalah tentang membangun hubungan-hubungan yang dalam. Jari kelingking adalah tentang menanam benih di kehidupan orang lain.
Dengan tagline, "untuk yang bingung mau ke mana", buku ini bukan hanya ditujukan bagi mereka yang masih mencari jati diri. Tetapi juga yang tengah menjalani hidup atas pilihan yang dibuat. Meski isinya seperti motivasi, namun tidak terkesan menggurui.
There are much wisdom that we can carry out of this book! Will write down to remind myself too: -buat kapan? tidak semua buah untuk dinikmati hari ini -genk apa ya ~ utk org yg sudah selesai/berdamai dg dirinya to ease this world’s harshness, pls dont be a difficult person -be generous with pujian, even when things work normally it’s also a result of so much effort being put in -keluhan hanya menambah kesulitan -let people fight their battles for them to grow -berani adalah takut yg dihadapi -remove ‘gw orang nya ga bisa…’ give it a try, be curious & see from a different perspective -work on that love, invest in the relationship -make, not find the perfect partner, and for this particular person justru ego kita harus masuk kandang
As Ko Edward himself said, this book doesn’t give you the way and I agree, it doesn’t. But I don’t think that’s the point.
Most of the ideas in this book felt familiar to me. In fact, I already shared many of the same values and perspectives on what to pursue in life and what to be grateful for.
Some of the lessons that resonated with me include:
* The most important part of traveling isn’t where you go, but who you go with. * Life becomes less fulfilling when we keep focusing on what we don’t have instead of appreciating what we already do. * Work should be driven by enthusiasm, not just by the need to make a living. If you want to be paid more, you need to create more value first.
And there are many more.
Maybe I’m fortunate to have grown up with a similar mindset and in an environment that, while far from wealthy, was also far from poverty. That probably made many of these lessons easier for me to understand and relate to.
Even so, I genuinely enjoyed this book. Sometimes, we don’t need new ideas, we just need to be reminded of the right ones. This book did exactly that.
It’s also a very light and enjoyable read, especially after finishing heavier books. If you’re looking for an easy yet meaningful Indonesian book, I’d definitely recommend it.
Buku ini akan menjadi buku favorit saya sepanjang tahun 2024. Buku yang ringan, tapi kekuatan bercerita yang kuat dan bersahaja. Setiap bab punya ide yang kuat dan menginpirasi. Tidak banyak kata-kata yang bersayap, ringan tapi bermakna. Penulis juga berupaya agar pesannya melekat dengan menambahkan metafora jari jari tangan untuk menguatkan dan menginspirasi menjalani hidup. Buku yang membuktikan bahwa penceritaan yang sederhana juga bisa jadi mendalam. Kudos.
Baru pertama kali saya baca buku sehari langsung kelar!! Buku ini berhasil membuat saya merenungkan kembali nilai-nilai hidup namun tidak terasa seperti sedang diguruin. Analoginya sederhana but memorable, serasa nyata dan relatable. Gaya penulisan yang ringan dan personal membuat saya jatuh hati, bakalan baca ulang setiap ada waktu senggang <3
Buku ini bagus dibaca untuk orang-orang yang mau memulai karir karena isi bukunya menjelaskan tentang bagaimana persiapan sebelum masuk dunia kerja, hal yang harus dilakukan saat di dunia kerja, dan langkah yang perlu dipertimbangkan untuk karir masa depan serta bagaimana seharusnya menjalani kehidupan
Bahasanya ringan dan mengalir. Memberi sejumlah pencerahan untuk pembaca yang banyak terpengaruh kehidupan yang tampak di media sosial sehingga bisa lebih memaknai usaha-usaha yang saat ini sedang diperjuangkan. Buku ini juga menguatkan kita yg ingin mempertahankan nilai-nilai baik di tengah lingkungan yg membingungkan.
Sebuah buku 'deep' dari pengalaman dan pemahaman hidup Edward Suhadi, bahasanya sederhana tapi sungguh menggugah dan menggelitik cara kita memandang beberapa kejadian hidup. salah satu bab yg paling saya sukai dan mengubah cara pandang saya adalah "Liburan supaya bisa kerja, bukan sebaliknya". Buku yg sangat bisa kamu baca, ulang kapan saja,saat kamu perlu mencari 'kompas, cermin, dan refleksi'.
A life-lessons collection by #EdwardSuhadi built around a five-finger framework — thumb for the best, index for growth, middle for gratitude, ring for love, pinky for planting.
Simple enough to remember. Deep enough to return to. Recommended.
Edward Suhadi mengasosiasikan hidup manusia dengan lima jari. Jari jempol: selalu memberikan yang terbaik Jari telunjuk: selalu bertumbuh Jari tengah: selalu bersyukur untuk diri kita yang berbeda Jari manis: membangun hubungan yang dalam Jari kelingking: menanam benih di kehidupan orang lain.
Membaca buku ini seperti mendengar nasihat seorang mentor. Uniknya, saya tidak merasa terhakimi. Tulisannya mengencourage saya untuk bertumbuh jadi pribadi yang lebih baik. Memang ada topik-topik yang rasanya too ideal, sulit untuk dilakukan, namun karena dibungkus dengan bahasa yang sederhana, rasanya applicable untuk dipraktikkan kapan saja (diri ini siap).