Cerobong Tua Terus Mendera merupakan kumpulan cerpen terbaru karya Raudal Tanjung Banua. Buku ini memuat 11 cerpennya yang ditulis dalam rentang waktu 2004–2021; termasuk cerpen yang memperoleh Anugerah Horison. Pemilihan cerpen-cerpen dalam kumpulan ini didasarkan adanya kesamaan antara cerpen yang satu dengan lainnya, yakni sama-sama khas “majalah” atau “jurnal” (biarpun ada cerpen yang publikasi awalnya di surat kabar) dengan watak “berkisah” serta format yang relatif panjang dengan kedalaman narasi dan eksplorasi tema-tema sosial-budaya yang kaya. Hal-hal itulah yang menjadikan cerpen-cerpen Raudal selalu mendapatkan perhatian pembacanya.
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Harian Haluan, Padang, untuk akhirnya memutuskan merantau ke Denpasar, Bali, bergabung dengan Sanggar Minum Kopi dan intens belajar pada penyair Umbu Landu Paranggi; lalu ke Yogyakarta, menyelesaikan studi di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mendirikan Komunitas Rumahlebah dan bergiat di Lembaga Kajian Kebudayaan AKAR Indonesia - sebuah lembaga budaya yang menerbitkan JURNAL CERPEN INDONESIA.
Ada dua alasan penting saya menantikan kumcer Raudal ini: (1) saya rindu buku-buku cerpen yang mengingatkan era 2000-2010-an ketika kumcer marak dan dirayakan; (2) blurb yang dijanjikan penerbit: "...sama-sama khas “majalah” atau “jurnal” (biarpun ada cerpen yang publikasi awalnya di surat kabar) dengan watak “berkisah” serta format yang relatif panjang dengan kedalaman narasi dan eksplorasi tema-tema sosial-budaya yang kaya."
Dari sebelas cerpen saya justru menyukai 3 cerpen yang menurutku sangat menggugah dengan caranya: (1) Toko Wong, (2) Matinya Guru Mengaji, dan (3) Ke Kota, di Kota, Dia Duduk di Muka.
Tiga cerpen ini menurut saya mewakili apa yang saya pikir menjadi khas dan kemegahan Raudal berkisah. Khusus cerpen "Ke Kota, di Kota, Dia Duduk di Muka" saya harus mengacungkan jempol. Indah sekali dan satire menertawakan nasib-nya indah sekali. Soal "Matinya Guru Mengaji" menurutku sangat padat soal adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat yang mengedepankan guru mengaji dan langgar. Juga keisengan-keisengan bocah yang seru......
Raudal bercerita seperti tukang cerita pada umumnya. Bukan seperti kebanyakan cerpen yang memotret "satu adegan/satu episode", Raudal mengisahkan banyak di sekitar "satu adegan" itu dengan komplet sekali. Misalkan cerpen "Lebaran di Laut, di Laut" atau cerpen "Toko Wong" jelas betul...snapshot adegan tidak menjadi fokus.
Baguuuuus. Menyenangkan membaca cerita dari tukang cerita.
"Isak apatah yang tak runtuh dari dada seorang perempuan?" (Hlm. 67)
🌾 Merupakan antologi yang memuat 11 cerpen dengan mengangkat tema-tema sosial, budaya, dan politik. Aku membeli karena tertarik dengan judulnya: Cerobong Tua Terus Mendera. Kata 'mendera' rasanya punya pesona yang kuat buatku.
Nyatanya, benar saja. Membaca cerpen ini rasanya seperti membaca puisi. Diksi dan susunan kalimat yang membuatku rasanya dimanjakan hingga terbuai. Banyak sekali kata dan istilah baru yang kutemukan dan benar-benar harus aku googling dulu biar tau artinya. Wah 👏
Penulisan narasi yang detail namun tidak berlarut-larut, porsinya pas. Aku sendiri dibuat menebak-nebak setting tempat yang dideskripsikan penulis. Di mana sih? Penasaran dan ingin lihat langsung. Beberapa cerita berlatar di Bali, Sumatera, dan Jawa.
Cerita di awal terbilang cukup panjang, makin ke belakang ceritanya makin ringkas. Dari 11, 4 diantaranya aku sangat suka dengan ide ceritanya.
● Cerobong Tua Terus Mendera: tentang Wiji, seorang buruh penebang tebu yang mengalami trauma sehingga ia akan terhuyung hingga pingsan setiap mendengar cerobong tua di pabrik gula menggema.
● Matinya Seorang Guru Mengaji: tentang seorang guru mengaji yang tegas dan galak. Menyinggung tentang pentingnya peran suami.
● Ke Kota, di Kota, Dia Duduk di Muka: menceritakan dunia bus kota dan tingginya kekuasaan supir bus. Dijelaskan dengan POV kernet.
● Sri Tanjung - Jaya Prana: tentang sutradara yang menulis naskah drama dengan menggabungkan dua kisah yang menjadikan kisah itu cinta terlarang.
Sisanya, menceritakan kisah-kisah menarik dengan sudut pandang baru. Penulis menyampaikan kritik dengan halus. Buku yang aman dan nyaman menurutku.
Kekurangan dari buku ini, buatku beberapa bagian agak rumit dimengerti, begitu juga dengan nama tokoh yang kurang familiar. Banyak juga bahasa daerah yang menghambatku memahami isi bacaan. Dan, seperti membaca puisi, ada kalimat yang aku perlu baca ulang 2-3 kali, biar mengerti.
Tapi, overall, ini akan jadi salah satu antologi kesukaanku yang suatu saat akan aku baca ulang.
🌾 Cerobong Tua Terus Mendera • Raudal Tanjung Banua • Shira Media • 2024 • 146 hlm ⭐️ 4,2 / 5
Ini buku kumcer penulis Raudal Tanjung Banua yang saya baca pertama kali. Kangen dengan suasana tulisan-tulisan sastra media (koran). Melihat historinya di bagian belakang, banyak cerpen di buku ini diterbitkan di media populer. Seperti Tempo, Kompas, dan Jawa Pos. Dua media yang dianggap memiliki kurasi baik untuk parameter kualitas cerpen media.
Tulisan yang menjadi judul, bahkan menjadi pemenang pertama Sayembara Cerpen Majalah Sastra Horison tahun 2004 —yang saya kaget juga ketika membaca catatan di bagian depan, tidak jadi dibukukan. Padahal penulis sudah menunggu lama penerbitan buku dijanjikan yang hingga saat ini tak pernah ada. Hingga kemudian naskah ini coba digabungkan dengan naskah-naskah lain dan diterbitkan dalam bentuk kumcer.
Cara ini dulu biasa dilakukan oleh penulis. Apalagi jika sudah memiliki banyak karya terbit di media. Atau namanya relatif sudah dikenal publik. Kumcer juga menjadi alternatif cara bagi pembaca baru untuk mengenal lebih jauh tentang gaya tulisan penulis. Menjadi cara singkat berkenalan sebelum masuk ke dalam tulisan yang lebih panjang seperti novel. Ini juga jadi cara yang bagus juga untuk belajar bagi para calon penulis : belajar dari para senior.
Bagi saya, nama penulis Raudal Tanjung Banua ini tidak asing. Tapi saya belum pernah coba mengenali gaya tulisannya. Baru di kumcer ini coba saya lakukan. Gayanya relatif naratif, deskriptif, dengan gaya bahasa khas Melayu. Pandai menjelaskan sesuatu dengan panjang dengan pilihan kata yang kaya. Seperti orang biasa berpantun atau sedang mendongeng. Halus menggulirkan cerita, tidak terasa pembaca diajak masuk ke antar plot-nya. Penulis juga seperti memindai semua yang ditangkapnya dari mata. Semua dijelaskan dengan detail dan komplit.
Catatan yang bagi saya perlu adalah perlunya penambahan nuansa dan tensi. Format cerpen yang ini masih sangat panjang. Di media dulu bisa diijinkan sepanjang ini. Saat ini lebih singkat. Sehingga untuk bisa menarik dan mempertahankan fokus pembaca, dua hal penting itu perlu dibuat lebih baik lagi.
Perpaduan antara akarnya sebagai orang Sumatera Barat dengan perantauannya di Bali, membuat keunikan pada Raudal Tanjung Banua, sebagaimana tecermin dalam cerpen-cerpen dalam buku ini. Tema dan gaya bahasa yang lahir dari dua identitas itu terasa kental dalam sebagian besar cerita di kumpulan cerpen ini.
Ada sebelas cerpen dengan tema berbeda-beda. Namun, bisa jadi karena ada hubungan psikologis secara personal, maka aku merasakan tema tentang Sumatera Barat dan Bali, yang paling kuat dan sedap. Misalnya dalam cerpen Matinya Seorang Guru Mengaji dan Toko Wong, Raudal memberikan narasi tentang Bali yang berbeda.
Tentang pergumulan guru ngaji di Loloan, Negara, Bali bagian barat yang juga salah satu titik awal hadirnya Islam di Bali. Juga tentang sebuah toko yang tak hanya ada secara fisik, tetapi menyimpan kisah kelam pembantaian orang-orang yang dituduh komunis di Bali pada 1965-1966.
Gaya berceritanya asyik. Aku menikmati kata, frasa, dan alinea sebagai sesuatu yang segar karena menyajikan hal-hal baru.
Kumcer berisi potret tajam isu-isu sosial yang kompleks dan intens
#lintangbookreview
Isi buku ini adalah Kumpulan cerita pendek yang pernah dimuat di koran dan majalah dalam rentang watu 2004 hingga 2021. Salah satu cerpennya pun pernah mendapat penghargaan Sastra Horison. Ga heran, sih.. setiap cerpen dalam buku ini seperti punya sentuhan magis yang membuat pembaca larut dalam plotnya.
Sebelas cerpen di dalamnya kaya akan tema sosial-budaya yang melekat di masyarakat. Mulai dari kemiskinan yang menjangkit, pencarian jati diri, dinamika keluarga berkuasa, praktik penghilangan paksa dan pembunuhan, perebutan kekuasaan, kesetiaan yang diuji, hingga eksploitasi alam yang merusak.
Penulis juga berhasil menggabungkan unsur mitos dan legenda dengan realitas sosial yang kelam, menciptakan narasi yang indah dan memikat, mengajak pembaca untuk larut dalam emosi yang beragam. Latar waktu dan tempatnya juga tak kalah bervariasi. Banyak pengetahuan baru tentang kebiasaan, budaya, dan adat di kota-kota di Indonesia yang belum aku ketahui sebelumnya.
Cerpen pertama yang berjudul sama dengan title buku ini berhasil mengundang raa penasaranku akan cerpen-cerpen selanjutnya. “Cerobong Tua Terus Mendera” mengisahkan seseorang yang dilanda trauma berat namun disalah artikan sebagai gangguan makhluk halus. Ada juga kisah tentang ‘sepenggal’ kepala yang menggoyahkan takhta di cerpen “Ibrahim dari Barus”, dan kisah seorang pelaut yang pantang pulang namun rasa rindu rumah terus meraung dalam cerpen “Lebaran di Laut, di Laut…”
Delapan cerpen lainnya pun punya ciri khasnya sendiri yang tentunya akan membuat emosi pembaca campur aduk, entah itu ngeri, kaget, hingga haru. Setiap cerpen meninggalkan kesan mendalam dan mengundang renungan.
Secara keseluruhan, buku ini kaya akan simbolisme budaya dan kearifan lokal, menjadikannya sebuah karya yang bermakna dan memperkaya khazanah sastra Nusantara.
Cerpen kedua di kumcer ini, “Matinya Seorang Guru Mengaji” mungkin adalah cerpen terbaik yang saya baca tahun ini. Sepintas seperti cerita slice-of-life hidup di desa dengan mata Aida sebagai jendela untuk pembaca menonton hidup di desa. Tapi cerpen ini penuh dengan persimpangan dan keputusan-keputusan kecil yang diambil tokohnya (biasanya narasi cerpen Indonesia aroma utamanya adalah keniscayaan). Keputusan orang tua Aida untuk membawa Aida belajar ngaji dengan Uncu Eba. Keputusan Aida dan teman-teman sepiketnya untuk tidak menyiarkan batuk darah Uncu Eba. Keputusan Aida untuk meleletkan minyak di kuping agar tidak sakit dijewer Uncu Eba, yang nahas. Sayangnya cerita-cerita lain di kumpulan ini tidak sememukau cerita ini.
Aku baca setengah dari seluruh cerpen karena... Aku kesulitan mencerna berbagai diksinya yang ga familiar.
Pak Raudal mengemas kisah kaum marjinal menjadi cerpen yang menyentil. Saya sedikit sedih mendapati bahwa kaum menengah ke bawah tidak seberuntung itu untuk mendapatkan segala kemudahan akses. Satu cerpen yang membekas di ingatanku adalah tentang meninggalnya seorang guru mengaji. Sudah lah miskin, matinya tragis pula padahal tugasnya mulia. T_T
Ga sanggup baca sampai akhir. Bukunya kukasih teman yang asalnya dari Sumbar juga. Barangkali lebih bermanfaat. :(