Segala tujuan hidup Maura semakin kabur dari genggamannya. Rasa bersalah atas kematian Kiel, sahabat satu-satunya, semakin mengempiskan keinginannya untuk melanjutkan hidup. Apalagi dia juga dituntut untuk melunasi utang mendiang ayahnya.
Maura sudah banting tulang menarik ojol dan mencari kerjaan paruh waktu lainnya sambil kuliah. Namun, rasanya tidak pernah cukup untuk meladeni gaya hidup ibu dan adiknya yang mati- matian menampik status miskin mereka.
Maura memutuskan untuk menyerah saja. Lalu datanglah panggilan telepon itu. Panggilan telepon yang tidak masuk akal, tapi sangat dibutuhkannya. Maura pun perlahan merangkak bangkit. Namun kehadiran Fizar, kakak Kiel, membuatnya gamang mengambil keputusan demi keputusan. Belum juga Maura sanggup berdiri, kenyataan di balik kematian Kiel terungkap. Panggilan-panggilan telepon itu tak lagi menjadi penyemangatnya. Maura harus bagaimana?
Demi menafkahi keluarga dan membayar kehidupan kuliahnya, Maura menjadi driver ojol. Sebagai driver perempuan, Maura kerap menerima ketidakadilan dan diskriminasi berbasis gender. Tidak hanya di pekerjaannya sebagai ojol, tetapi di kampus dan proyeknya sebagai seorang mahasiswa Teknik Sipil. Berbagai masalah pun menimpa Maura, mulai dari perangai ibunya yang toxic, adik perempuannya yang seenaknya, dan mesti membayar utang-utang keluarganya, Maura pun kehilangan sahabat terdekatnya yaitu Kiel untuk selama-lamanya. Hingga suatu hari kakak laki-laki Kiel, Fizar, mendekatinya dan satu per satu kenyataan yang memilukan terungkap.
Peringatan pembaca: mengandung pemikiran untuk mengakhiri hidup dan tindakan bunuh diri.
Baca buku ini baiknya dalam keadaan stabil dari segi emosi karena peristiwa bunuh dirinya digambarkan dengan begitu detail. Tokoh-tokohnya pun "gelap" banget. Baik Maura, Kiel, dan Fizar berada pada keluarga yang toksik. Jadi, ku sebagai pembaca banyak mengelus dada dan bertanya-tanya ini bakal bahagia nggak sih? Karena sisa 2 chapter, masih bergumul dengan kesedihan yang depresif sekali.
#
Beberapa catatan yang aku sukai dari novel ini:
Sudut Pandang Yang aku suka dari buku ini adalah bagaimana penulisnya yang notabene adalah laki-laki, begitu baik meng-capture suara Maura. Sebab, biasanya kalau penulis laki-laki menggambarkan perasaan tokoh perempuan tuh masih ada kesan maskulin dan suara laki-laki, tapi di sini suara Maura terdengar Maura—perempuan dengan segala dinamika dan kesedihannya. Begitu pun saat suara Fizar. Ada perbedaan antara suara Fizar dan Maura. Sebagai orang yang sering ngeh soal head hopping, buku ini cukup berhasil membuatku "tenang". Hats off buat penulisnya.
Isu Gender Diskriminasi gender yang Maura dan Kiel alami begitu nyata dan dekat. Maura yang disepelekan karena perempuan kerja sebagai driver dan teknik sipil, Kiel yang sering dipanggil "banci" karena lembut dan menyukai seni yang katanya tidak untuk laki-laki, serta Fizar, korban dari toksik maskulinitas yang didorong oleh perilaku ayahnya, kerap kali terjadi di sekitar kita. Dan aku menyukai bagaimana penulisnya mengeksekusinya dengan baik.
Karakter Maura, Kiel, dan Fizar adalah tiga karakter yang kuat, tapi begitu rentan di buku ini, yang surprisingly pengembangan karakternya bagus banget. Terutama Fizar. Tidak menyangka dia se[beep] itu. Cukup mengelus dada. Tetapi, perjalanan emosional ketiganya bikin ku sebagai pembaca ikut terhanyut.
Scene heartwarming Suka dengan scene Rani dan para geng ojol yang nyamperin Maura pasca [redacted]. Ngerasa kalau banyak yang sayang sama Maura♡
#
Nah, sekarang yang agak mendapat "perhatian" buat aku.
Maura-Fizar Kenapa konklusi hubungan mereka hanya sebuah paragraf saja di epilog? Itu pun epilog bukan fokus ke Maura-Fizar. Mereka adalah pasangan yang terhalang genre :""
Peran orang tua Nggak ada yang bener sih. Baik orang tua Maura dan orang tua Fizar-Kiel asshole semua. Terus background story kenapa mereka se-asdfghjkl nggak membuat aku jadi bersimpati. Emang nggak selamanya orang tua itu mulia.
Kiel Sebenarnya masih belum mengerti mengapa Kiel bisa demikian, ya. Atau memang bumbu magical realism aja. Tapi, beneran penasaran sih—apalagi ending epilognya. Ini hanya penulis dan editornya yang tahu :""
Teknik Sipil Perihal metode dan pelajaran soal teknik sipil jelas banget, ya. Baca buku ini bisa-bisa ku jadi pengawas proyek atau asisten lab Mekanika Tanah, hehe.
#
Baiklah, buku ini meskipun bikin draining, tapi banyak pelajaran hidup yang bisa diambil. Tentang mimpi, hidup, cita-cita, dan mendengarkan. Peluk untuk Maura, Kiel, dan Fizar.
Kalau suka buku young adult yang agak "berat" pembahasannya tentang perspektif gender dan mental health issue, bisa baca buku ini—ps. romansanya tipis.
Maura harus banting tulang jadi driver ojol, bolos kuliah sampe hampir kehilangan beasiswanya! Itu semua cuma buat memenuhi gengsi Mama yang sering iri pada tetangga dan memaksa beli barang mewah. Adiknya sama saja, kerap merengek minta dibelikan barang branded! Ayahnya meninggal dunia dan meninggalkan banyak utang! Rasanya kepala Maura seperti mau pecah 💢 Lantas mampukah Maura keluar dari belenggu permasalahan ini?
Nggak sampai di situ, Kiel-sahabatnya tiba-tiba meninggal. Kini Maura merasa sendirian. Maura putus asa dan berniat untuk menyerah! Namun panggilan telpon dari Kiel mencegahnya!!! Bagaimana bisa? Mana mungkin seseorang yang telah tiada bisa menghubunginya??
Di saat itu, tiba-tiba Fizar -kakak Kiel, berusaha mendekatinya. Maura berusaha menjauhi cowok itu, tapi keadaan membuat mereka semakin dekat. Panggilan telpon dari Kiel datang lagi, Kiel memperingatkan Maura untuk menjauhi Fizar!! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Fizar terlihat bersalah pada Kiel???
🔈🔈🔈baca review lainnya di IG ku @tika_nia
Sebuah novel dengan konflik yang kompleks tapi disajikan dengan begitu menawan. Memadukan kisah tentang broken home, ketimpangan gender, toxic relationship, persahabatan, dan proses untuk pulih dari trauma yang disebabkan oleh keluarga! Cukup berat tapi penuh makna 🤍
Aku suka banget sama karakter Maura yang kuat. Cewek mandiri, penuh tekad, pantang menyerah tapi juga pemaaf dan sangat menyayangi keluarga. Meski di sisi lain, Maura terlalu keras pada diri sendiri, tapi aku suka dengan perkembangan karakternya yang akhirnya mau berbenah dari kekurangannya! Lovee sekebon buat Maura 💖🤍💖 #womansupportwoman
Insight lain yang ku dapat dari Voiceless: • Ada baiknya jika kita lebih peka dengan kondisi (psikologis) orang-orang di sekitar kita. • Sudah saatnya perempuan dan laki-laki berada pada posisi setara (terutama dalam hal pekerjaan). • Adakala kekaguman dan rasa sayang perlu ditunjukkan, daripada rasa itu dipendam lalu berubah menjadi rasa iri. • Kurangi gengsi untuk minta maaf dan bilang sayang, sebelum terlambat. • Jangan ragu, tak ada salahnya untuk minta bantuan saat kita membutuhkan. • Hal kecil bagimu, bisa jadi besar dan bermakna bagi orang lain. Teruslah berbuat baik 🤍✨
Sedikit saja yang kurang ku suka dari novel ini adalah penjelasan yang detail tentang prosedur praktik mahasiswa Teknik Sipil. Mungkin karena topik ini jauh dari keseharianku, aku jadi agak bosan dengan bagian ini. Selebihnya aku bisa menikmatinya! Banyak pertanyaanku yang berhasil terjawab di bagian akhir, tapi aku masih penasaran tentang telpon dari Kiel itu! Apakah ini kode: bakal ada sekuel dari Voiceless? 🤭 Hmmm.. Salut juga sama penulisnya, laki-laki yang peduli kesetaraan gender itu keren 🎉
"yandi, seberapa dalam kamu memahami perempuan?" pertanyaan kak raya, editor nih nopel keknya nampol yandi banget wkwwkwkkw sehingga yandi berusaha kerasa memahami perempuan. ciyeeee. untungnya berhasil. di nopel pov maura udah terasa banget ceweknya. pas pov kiel atau abangnya ya balik laki. gue suka banget 3 karakter utama dieksplor detail. ditonjolin rasa 'sakit' dan perjuangan mereka. -premisnya juga unik. bikin penasaran jadi yang nelpon maura di hp kiel itu hantu atau gimana? -gue juga suka kegiatan maura dieksplor detail. dari praktikum sampe kerja lapangan. abis ini gue lulus kuliah teknik jalur nopel yandi. jadi nggak ngebucin doang wkwkwkw
tapi sayangnya, masih ada 3 hal yang nggak gue like. -temen2 ojol maura total 9 orang patungan buat beliin maura hp baru walau bekas, nalangin orderan fiktif. anggep lah masing2 nyumbang 100k. berasa kurang relate. penghasilan ojol di jabodetabek udah banyak ya? terakhir gue pernah ngobrol sama bapack2 ojol pas di jekardah, beliau bilang penghasilan cuma cukup buat bensin, nalangin orderan fiktif dan jajan anak karena makin banyak persaingan ojol. maura imi tipe orang kerasa kepala nggak mau merepotkan orang. gue bakal lebih like klo mau beli hp bekas hasil kerja sambilan atau ada yang tawarin kerjaan freelancer. -gue bakal lebih like adegan maura konsul psikolog tuh dijelasin detail. psikolognya ngasih diagnosa penyakitnya maura. skizo kah? -discamer tentang kesehatan mental di awal bab tuh malag spoiler nggak sih? baca itu gue langsung tau arah nih novel ke mana. mungkin lebih like taruh di akhir halaman aja 🙄🙄🙄
udah gitu aja. secara keseluruhan nopel yandi layakkkk banget dibaca. udah berasa taste terbitan GPU banget. nggak nyangka nih otor yang dulu gue omelin telo gosong pas TAT 2019 wkwkwkwk
"Masih ada orang tua yang merasa bahwa anak mereka harus memiliki hobi, pekerjaan, atau apa pun yang sesuai gender mereka..." Hal.243 . Bagian awal dari novel ini langsung dibuka dengan permasalahan yang dialami Maura ketika harus menjadi tulang punggung dan bertanggung jawab dengan kondisi ekonomi di keluarganya dengan menjadi ojek online. Jujur, bagian ini membuat saya sesak karena meski ada perbedaan kondisi, namun penolakan karena perempuan juga pernah saya alami. Rasanya jadi ingin balik memarahi mereka karena memandang pekerjaan tertentu berdasarkan gender, padahal selama tidak menyalahi kodrat dan memahami batasan, tidak masalah apakah individu yang mengerjakannya adalah perempuan atau laki-laki. Bahkan, di jurusan kuliah, kadang-kadang membedakan seperti ini juga dilakukan meski tidak selalu disadari. Karena penolakan yang Maura alami ini, saya jadi terpikir apakah sesungguhnya dalam proses penulisan novel ini, kak Yandi terbersit untuk menulis tentang 'diskriminasi' pada jurusan kuliah secara umum? Namun, saya pikir, gambaran 'diskriminasi' didalam jurusan yang dalam novel ini jurusan teknik juga dibahas walaupun masih terbilang cukup tipis.
Saya pribadi menyukai cara kak Yandi mengeksplorasi jurusan yang dikuliahi Maura dan Fizar, karena jurusan teknik ini bagi beberapa orang menjadi jurusan yang dipilih ketika masuk kuliah karena peluang kerjanya yang cukup besar sekaligus bikin beberapa calon mahasiswa teknik baru menelan ludah karena khawatir dengan image teknik yang dikatakan keras dan sangat menguji mental. Namun, saya pribadi merasakan bahwa mungkin tidak semua dari pembaca mudah untuk relate karena barangkali penjelasan yang cukup spesifik memberi kesan bahwa bahasan tentang suka duka Maura dalam berkuliah di jurusan teknik tidak selalu dapat dirasakan oleh pembaca yang tidak berkuliah di jurusan teknik. Namun, dari sisi yang lain menambah wawasan dan khazanah pengetahuan kami tentang gambaran jurusan teknik.
Perkembangan hubungan Maura-Fizar cukup menguras emosi, walaupun dari sudut pandang saya pribadi, 'kehadiran' Kiel cenderung menjadi dominan dan seperti membuat Fizar timbul tenggelam dalam dinamika cerita. Namun, secara keseluruhan, nyeseknya cerita hidup Maura dan Fizar serta Kiel membuat nyesek. Pengen pukpuk semua tokoh di novel ini, bahkan ayah Fizar dan Kiel.
Pada awalnya, saya merasa bertanya-tanya dengan cara ibu Maura menjadikan putrinya ini sebagai tulang punnggung ekonomi. Rasanya, tidak berempati bahkan cenderung menjadikan Maura samsak untuk kemelaratan yang ia rasakan. Setelah tahu alasan dibaliknya, maaf, saya masih merasa kurang dapat merasakan atau memaklumi penyebab sikap ibunya kepada Maura. Sementara, pada keluarga Kiel, nyaris sama tetapi rasanya lebih masuk akal mengapa tokoh dalam keluarga Kiel mendapatkan maaf dari pembaca.
Ada bagian yang membuat saya berpikir "mengapa kedua tokoh ini masih bertahan di lingkungan yang menyesakkan bagi mereka?" sekalipun alasan dibaliknya adalah melindungi dan mempertahankan sesuatu yang menurut mereka berharga. Juga, saya merasa belum menemukan gambaran yang kuat mengapa kedua tokoh harus bertahan dan bukannya pergi menjauh dari lingkungan mereka saat itu.
Mungkin ini termasuk fiksi magical realism bagi sebagian pembaca, tetapi bagi saya pribadi, apabila mendapatkan penambahan dan beberapa hal dalam ceritanya, mungkin kisahnya lebih terasa ajaib tapi nyata. Kehadiran Kiel melalui media dalam cerita, jujur sempat membuat saya berpikir hal tersebut cukup fantasi, namun magical realism mungkin seperti begitu.
Apakah akhir novel ini termasuk akhir yang terbuka? Sepertinya hanya Allah, kak Yandi, dan mungkin editor yang tahu hehe. Yang pasti, saya menyukai endingnya.
Semangat berkarya, kak Yandi. Semoga karya berikutnya memberikan banyak kesempatan untuk kak Yandi mengeksplorasi ide idenya yang lain :)
Topik yang diangkat di novel ini sering banget kita jumpai dan familiar. Kesetaraan gender, toxic masculinity, ditambah bumbu magical realism ✨️
Basically, ini tentang keseharian Maura yang harus menghidupi keluarganya dengan narik ojol tapi di sisi lain dia juga masih harus kuliah. Keluarga Maura juga ngga bisa dibilang baik baik aja. Dengan keadaan mereka saat itu yang masih harus membayar hutabg. ibu dan adik perempuannya justru lebih milih buat foya foya dan ngelimpahin tanggung jawab keuangan ke Maura.
Tapi ngga cuma itu, di sisi lain Maura juga masih dibayangin rasa bersalah terhadap sahabatnya, Kiel. Awalnya emang ngga dijelasin langsung gimana masa lalu mereka berdua. Semakin dibaca semakin banyak benang merah yang berkaitan. Tokoh tokoh yang muncul pun ngga banyak, tapi mereka berkaitan satu sama lain.
Kemarin, waktu baru baca beberapa chapter awaln aku udah penasaran kaya.. kok bisa Kiel masih bisa nelpon Maura walau udah beda dunia? Terus Fizar ini siapa lagi? Kan ngga mungkin ngga berkaitan sama Maura ataupun Kiel. Nyatanya, Fizar sama Maura ada di posisi yang sama. Mereka dilingkupi perasaan bersalah ke Kiel. Alesannya pun berbeda.
Tadi aku sempet singgung di awal terkait toxic masculinity, aku mau bahas sedikit aja supaya kalian ada gambaran ceritanya tentang apa *soalnya aku ngga mau spoiler juga ada apa sama Kiel 🫢 Lanjutan Menurut kalian apa salah kalo seorang laki punya mimpi untuk jadi seorang penari balet? Ini yang jadi titik awal konflik di novelnya. Kiel itu.. anaknya pantang menyerah buat mimpi dia. Tapi sayangnya, ayahnya ngga pernah ngizinin dia untuk gapai mimpi itu. Bagi ayahnya, balet itu buat perempuan, dan laki laki ngga seharusnya punya passion di bidang itu. Karakter karakter di sini itu bikin gemess pengen nyubit ginjalnya 🥰🤏🏻 ngga pernah seemosi ini. Apa lagi ibu Maura, dapet banget emosinya aku pas baca. Keren sih Maura bisa bisanya ngga pengen nampar gitu. Buat Maura sendiri, aku akui dia ini orang yang apa ya nyebutnya.. berani(?) Duh bingung. Intinya aku suka sifat dia yang pengen nunjukin bahwa perempuan juga bisa ngelakuin hal hal yang di stereotip masyarakat cuma bisa dilakuin sama laki laki. Tapi terkadang pun Maura kesannya malah maksain. Dan ngga jarang juga dia gampang ke distract sama pikirannya sendiri. Narasinya nyaman banget dibaca, bikin page turner 😆☝🏻 baca ini bener bener ngga kerasa tiba tiba udah abis aja. Such an amazing book to starting this year 🥹🫰🏻 aku hampir nangis waktu tau kenyataan tentang Kiel, ditambah waktu akhirnya Maura nyoba perbaikin hubungan dia sama ibunya. Cuma satu yang bikin aku aga bingung. Latar Maura ini kan mahasiswa teknik sipil, aku sebagai orang awam terkadang aga bingung juga kalo Maura udah ngelakuin praktikum, atau masuk ke proyek. Cuma bisa ngangguk ngangguk walaupun penjelasan yang dikasih itu udah rinci 😭🙂↕️ Voiceless bener bener ngajarin tentang penerimaan. Saking masih bengongnya ini aku bingung mau ngetik apa lagi di review 😭✌🏻 soalnya endingnya malah munculin tanda tanya baru. Apa bakal ada lanjutannya kah ini 😌
Ini adalah novel Kak Yandi yang pertama kali saya baca. Dari awal peluncurannya, sih, saya yakin kalau karyanya pasti nggak kaleng-kaleng secara novel saya 'La Venganza' itu dulu editornya juga Kak Yandi 😁
'Voiceless' adalah sebuah novel yang menggambarkan betapa beratnya hidup protagonis, Maura, yang terjepit dari segala penjuru hingga untuk menyuarakan keluhan pun tak sanggup. Maura menjadi tulang punggung keluarga semenjak ayahnya meninggal. Stigma soal gender pun dibahas dengan apik di sini. Sosok Maura yang menjadi driver masih sering diremehkan calon penumpang. Hanya karena ia perempuan, para lelaki yang memesan akan menekan 'cancel'. Belum lagi impiannya untuk lulus dan bekerja di proyek sebagai sarjana teknik pun sering diejek.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga lalu kakinya masuk lumpur isap, Maura tak punya kesempatan rehat. Utang mendiang ayahnya masih sebukit, mama dan adik perempuannya hanya tahu cara menuntut serta boros, kuliah yang terbengkalai sampai beasiswa hampir dicabut, plus kehilangan sahabatnya, Kiel.
Fizar, kakak Kiel, menjadi kawan baru Maura. Namun, hidupnya sendiri pun juga jauh dari kata bahagia karena masalah keluarga.
Potongan-potongan cerita di dalam novel ini sangat menyesakkan hati. Saya jadi belajar tentang kerelaan dan bagaimana seharusnya kita bertahan di tengah banyaknya impitan. Bercerita pada sahabat adalah salah satu caranya. Novel ini juga memiliki sisi misterius yang membuat saya penasaran hingga akhir terutama soal sosok Kiel. Genrenya angst, jadi siapkan mental dan hati ☺️ Very recommended.
Berkisah tentang Maura yang bekerja sebagai ojek online siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan melunasi utang ayahnya. Selama bekerja dia menerima banyak sekali perlakuan tidak adil karena dia seorang perempuan.
Baru halaman awal dari buku ini aja aku udah geram bacanya, belum ditambah masalah lain yang ada di halaman-halaman selanjutnya.
Tokoh Maura dipertegas sekali di dalam buku ini untuk dapat menghadapi segala badai yang datang silih berganti di kehidupannya. Belum lagi ditambah dia harus mencari tahu kebenaran yang selama ini ia tidak ketahui dari Fitz, Kakak Kiel.
Aku suka ide dari buku ini karena mengangkat isu kesenjangan sosial yang terjadi antara pria dan wanita, apalagi kasus ini seringkali terjadi di dalam kehidupan kita. Soal mimpi yang harus dikubur karena menurut orang awam hal tersebut hanya dapat dilakukan oleh gender tertentu saja.
Buku ini menurutku juga cukup berta karena membahasa secara detail tentang kekerasan dalam rumah tangga dan pencobaan s word.
Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik untuk dibaca bukan hanya mengangkat isu kesenjangan sosial antar gender tapi juga tentang keluarga dan mimpi yang seharusnya dicapai tanpa perlu mendengarkan omongan orang lain.
oh, satu karakter yang aku suka dari buku ini bunda Nisa wkwk karena menurutku cukup kooperatif buat bantu Maura mencari tahu
Waktu beli buku ini aku merasa tertarik, walau tau akan cukup menguras emosi membacanya.
Kisah Maura dan Fizar ini memang mungkin banyak terjadi. Anak-anak yang harus tersiksa secara psikis karena orang tua yang tidak mendukung, menyiksa dengan kekerasan. Hingga soal bunuh diri. Kehidupan ekonomi seseorang pasti banyak yang kayak Maura, tapi gak banyak yang harus berperan tanpa dukungan orang tua begitu. Jahat banget jadi orang tua kayak Mamanya Maura dan Ayahnya Fizar.
Emosiku sebagai pembaca juga sebagai orang tua rasanya campur aduk. Bisa dibilang penulis mampu mengungkapkan inti dan tujuannya dalam buku ini, peran psikolog yang dibutuhkan tokoh juga tersampaikan. Namun, dari sisi cerita kurasa masih bisa gimana ya,... alurnya dibuat lebih enak, dan gak sedih sepanjang buku.... rasanya mellow banget setelah kelar baca.
"Lagian cewek itu kodratnya jadi ibu rumah tangga. Di kasur, di sumur, di dapur. Kamu pernah dengar kata-kata itu kan?" Hal 35 - Voiceless Yandi Asd Penerbit Gramedia, 2025 392 Halaman Baca di PYC Library - Woah, selesai baca ini dan cukup suka. Topiknya masyaallah berat. Tapi jujur aku suka prakata di awal. Mengingatkan pembaca bila membaca kisah Maura ini bisa berdampak secara emosional, maka sikapi dengan bijak. Alhamdulillah aku bisa ngelus dada. - Dibuka dengan kejadian tidak mengenakkan saat Maura yang seorang driver ojol. Ditolak berkali-kali hanya karena dia seorang perempuan. Bila semua orderannya di cancel udah pasti berimbas pada performa Maura. Padahal bisa saja penumpangnya yang bawa, asal nggak dibawa kabur, gitu nggak sih. Laki perempuan kan sama aja. Apalagi kalau konteksnya cari rejeki. - Belum lagi dari sisi keluarga Maura yang ternyata cukup beracun. Bikin sakit telinga dan hati. Sosok tulang punggung keluarga yang udah bebal sama sikap semua keluarga di rumah. Kalau nggak istighfar, ya Allah. Pilihannya cuma satu, sudahi semua, lepaskan dunia. Namun, apakah semua selesai, usai? Nah, di bagian ini aku suka sama Maura yang tetap lurus. Mikirin seseorang yang kerap ada di sampingnya, membantu Maura untuk berpikiran yang baik, positif. Berusaha di kala situasinya udah chaos pisan. Aku yakin banyak di luar sana, mereka yang tetap kuat, saling mendukung. Meskipun lingkungan dan keluarga selalu menebar racun. - Gacernya enak, nyaman. Karakter Maura oke pisan. Apalagi sama babang Fizar, berasa klop. Aku suka di bab-bab awal yang ikutan emosi, ditambah pake sudut pandang orang ketiga, jadi semua rasa dan pikiran tokoh masuk dalam benakku. Semua konflik yang penuh tanya itu terjawab pelan-pelan menuju akhir, dan aku suka dengan akhirnya yang related. Nggak semua pilihan buruk itu buruk dan pilihan baik itu baik. - Penulis juga mengajak pembaca menyelami kegiatan lain Maura di kampus. Dan aku mungkin salah satu pembaca yang nggak bisa masuk dalam kegiatan Teknik sipil pertanahan yang cukup detail dan nggak bisa kubayangkan kegiatan itu seperti apa, masih awam buatku.
This entire review has been hidden because of spoilers.
INI BUKU APA WOII!!??? BAGUSNYA KEBANGEEETAAAAAANNNN!!!! 😭😭😭 Baca ini langsung kerasa banget perjuangan Maura sampai mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang masih terngiang di kepalanya. Endingnya pun juga agak nggak keduga sih, gila gila gila 🤯 BUKU INI WAJIB BACA POKOKNYA!!!!😭👍🏻