Ariel Latisha hanyalah anak SMA yang menganggap dirinya tidak cantik. Namun, kehidupannya berubah drastis saat dia diminta menjadi model foto Gyn the Label, merek baju milik ibu sahabatnya, Wendy. Siapa sangka, orang-orang justru menyukai sosok Ariel sebagai model dan dia mendadak terkenal di Instagram.
Ariel awalnya kikuk menjadi pusat perhatian, tapi dia memberanikan diri mengunggah banyak konten sesuai permintaan netizen. Berbagai kesempatan pun terbuka lebar: pengikutnya menembus angka ratusan ribu, diajak bergabung dalam influencer management agency, mendapatkan banyak tawaran endorsement, hingga menarik perhatian aktor ternama!
Segala kemewahan itu membuat Ariel terlena, sampai suatu hari video syurnya tersebar dan viral.
Laili Muttamimah telah menulis lima novel yang diterbitkan di bawan naungan Kelompok Penerbit Kompas Gramedia: Inseparable (2014), Haru no Sora (2015), Mayday, Mayday (2018), Fresh Grad (2021), dan yang terbaru, Viral (2024). Dia jatuh cinta dengan genre realistic fiction, yang turut memengaruhi tulisannya-tulisannya, terutama dalam membingkai isu-isu penting kehidupan remaja dan dewasa muda. Silakan sapa Laili di lailimuttamimah.com.
awal aku baca ini nggak ada ekspektasi apa-apa, kupikir “yaa oke, novel remaja menuju YA biasa, yang kebetulan topiknya rumit (KGBO). yang jadi pertanyaan, topik ini bisa dideliver dengan baik, atau cuma jadi tempelan doang nih?” bagiku, itu tantangan tiap buku yang punya isu rumit.
eh, malah end up aku kasih bintang 4. kenapa?
Pros:
karena menurutku penulis berhasil bawa pembaca seakan ikut masuk ke dalam buku, dan ikut merasakan apa yang ariel (tokoh utama) rasakan. dan itu penting banget buat pembaca. aku jadi pengin baca terus & pengin tau nasib ariel gimana di 1/3 akhir buku.
1/3 awal buku aku bacanya sambil lalu aja, nggak terlalu peduli, nyantai, karena part ini cenderung panjang buat ngenalin & nge-build karakter & dunia di sekitar ariel yang masih anak sekolah.
nah, part-part selanjutnya yang langsung berhasil menarik perhatianku. penulis berhasil nyeritain alurnya dengan rapi dan runut! dari A berakibat ke B lalu berakibat ke C, dan seterusnya.
kita berasa depresi dan frustrasi juga dengan masalah KBGO yang dialami ariel. di sini, penulis berhasil banget bikin pembaca peduli sama karakter utamanya.
poin plus lagi, aku peduli sama ariel karena secara umum buatku, ariel ini cukup pintar dalam cara berpikirnya dibanding beberapa anak SMA pada umumnya. untuk decision making terkait apa yang terbaik buat dirinya & hidupnya, ariel bisa memutuskan dengan cukup baik. aku suka itu.
Cons (*mungkin mengandung spoiler?*)
hanya saja, aku sedikit merasa skenario ariel jadi terkenal itu agak terlalu unbelievable karena terkesan mudah sekali. sebab, ariel di part awal buku ini nggak digambarkan punya karakter yang spesial, yang bikin dia bisa se-cepat itu terkenal hanya karena tiba-tiba jadi model baju brand. menurutku agak too good to be true. untuk jadi terkenal nggak segampang sekali pasang foto cantik dalam one try, apalagi kalau kamu nggak sesuai dengan standar kecantikan indonesia. that’s the hard truth. 🥲
selain itu, chara development ariel terkesan cepat banget, dari seorang anak SMA yang lugu & insecure-an parah, lalu jadi alpha girl yang bisa stand up for herself & punya mindset cukup baik. jadi kayak ada time skip kenapa dia bisa se-berbeda ini. dua bagian itu yang paling “menggangguku” dalam novel Viral ini.
Conclusion:
tapi ya overall, itu belum berhasil menurunkan bintang yang kukasih ke Viral ini, karena penulis berhasil bikin pembaca peduli banget sama karakter utamanya. pembaca ikut misuh-misuh, stres, frustrasi, greget, dan simpati sama masalah-masalah yang terjadi, dan semuanya bisa dirangkum dengan baik jadi satu kesatuan buku, yang punya alur runut dan rapi! 👍🏻
waktu aku pertama kali liat buku ini di toko buku, aku komen “novel remaja se-tebel ini ceritain apa ya, pasti filler-nya banyak. isinya mungkin dipanjang-panjangin.” tapi aku salah, ternyata halaman novelnya bisa merangkum dengan baik semua hal yang terjadi.
menurutku para remaja bahkan orang-orang yang usianya udah di atas ariel (17 tahun), mesti baca buku ini sih, karena pembaca bisa banyak memetik pelajaran berharga. nggak cuma tentang KBGO, banyak hal lainnya yang sebenarnya dimuat dalam buku ini. misalnya, tentang hubungan anak-orangtua yang salah sedikit dampaknya bisa besar BANGET.
3.8 out of 5 ⭐️ aku kasih buat Viral. buku pertama yang bisa kuselesaikan di 2025.
Ariel terlahir dari keluarga tak mampu. Dia bisa bersekolah di sebuah SMA swasta terkenal karena beasiswa. Sekarang dia sedang berusaha untuk mengumpulkan uang agar bisa kuliah Psikologi di UI. Sayangnya, keinginannya tidak didukung oleh orang tuanya yang menginginkan Ariel bisa bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Apalagi ketika Ibunya membuat keluarga mereka terlibat pinjol.
Kesempatan menjadi model di Instagram tiba-tiba datang karena sahabatnya Wendy. Ibu Wendy memiliki usaha fashion dan menjadikan Ariel sebagai model dadakan karena model yang mereka sewa membatalkan kontrak secara sepihak. Sejak saat itu, pintu kesuksesan terbuka bagi Ariel. Dia mendapatkan banyak tawaran endorsement dan iklan. Didesak kebutuhan akan uang, Ariel terpaksa mengorbankan sekolahnya demi mendapatkan dana tambahan agar bisa berkuliah.
Bolos sekolah, tidak bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah karena dicurangi oleh pihak sekolah sampai akhirnya diputuskan oleh pacarnya, membuat Ariel semakin kalap mencari uang. Di sisi lain, dunia maya mebawanya berkenalan dan menjadi dekat dengan seorang artis. Di puncak karirnya, Ariel tersandung dengan masalah Kekerasan Berbasis Gender Online yang disebabkan oleh artis itu. Ariel terpuruk dan berniat mengakhiri hidupnya.
Tadinya saya berpikir ceritanya tentang bagaimana gemerlapnya dunia influencer dan endorser. Tidak salah juga tebakan saya, tapi ternyata kisah Ariel di novel ini jauh lebih dalam daripada itu. Meski alurnya agak lambat, saya bisa menikmati cerita dan ketegangannya. Sebagai siswa SMA, karakter Ariel cukup kuat menjalani semua permalasahannya seorang diri. Novel ini bagus buat dibaca oleh para remaja supaya lebih berhati-hati dengan dunia maya.
gue suka idenya. tentang ariel yang nggak sengaja jadi model Gynn the label buat awalnya cari duit buat kuliah+bantu lunasin utang. Lama2 menikmati jadi influencer. boom. viral saat pacaran sama keenan. gue nyaris DNF karena plotnya lambat. dikulik detail perjalanan ariel dari bawah. untungnya lama2 konflik menukik tajam dan seru. cuma gue nggak like banget karakter ariel. dia kan pinter ya calon penerima beasiswa, bisa2nya bucin tolol ke keenan. cowok baru dikenalnya. mana nih dia malah kabur dan nginep ke apartemen keenan padahal dia masih punya wendy. sahabatnya. kenapa nggak kabur ke wendy aja sih? cuma ya sisi lainnya gue bisa memaklumi sih. dia panik. mana bisa mikir jernih. pesannya tuh dapet banget buat membela diri sendiri. nggak nurut gitu aja diteken pihak berkuasa. sisi buruk sosial media. sayangnya, ada satu yang nggak gue like. setelah semua yang terjadi atas kasus ariel, kenapa cuma bu sekar yang merasa bersalah? ke mana kepsek yang dari awal curang lebih milih lolosin beasiswa julian? pihak sekolah malah mengeluarkan ariel dari sekolah. harusnya cuma bikin ariel nggak naik aja nggak sih?
Dibuka dengan prolog tentang seorang endorser sekaligus influencer yang tengah kalut dan ketakutan karena banyak denting notifikasi yang masuk serta komentar bernada negatif penuh ujaran kebencian juga intimidasi. Pikirannya kacau hingga berniat memilih jalan lain yang mungkin jalan keluar terbaik. - Berawal dari keinginan Ariel untuk bisa masuk Universitas impian melalui jalur beasiswa yang diadakan sekolah. Dan tidak membebani keuangan orang tuanya yang tengah dalam kondisi sulit. Ariel dibantu sahabat juga pacarnya untuk fokus pada tujuan dan impian mereka. Namun, semua fokus Ariel berubah, Ibunya terlilit hutang sangat besar. Dan pilihan menjadi influencer dadakan karena dirinya menjadi model fashion disukai banyak orang hingga mendongkrak penjualan. Mulai aktif berselancar di media sosial dan menerima semua endorse yang masuk. Hingga fokus belajar pun berkurang dan menambah pundi-pundi dompet digitalnya. Pengaruh media sosial makin besar, sampai pada hal-hal tak terduga di hidupnya. Beberapa langkah lagi hidupnya akan berubah. Namun, Ariel lupa, bahwa dunia Maya bukanlah dunia nyata. Apa pun bisa berubah seperti satu kedipan mata, ketika para followers menemukan hal-hal yang berbeda. - Karakter Ariel, sahabat dan pacarnya aku suka. Saingan sesama influencer juga oke. Hanya karakter Ariel yang polos dan apa adanya itu berubah setelah aktif menjadi endorser. Perubahan yang sangat signifikan, bukan yang pelan-pelan plus keras kepala. Semua itu terjadi karena keadaan, posisinya yang merasa ingin lebih lagi, lupa kalau semua memiliki proses. - Konflik-konflik bertumpuk yang akhirnya pecah dan terselesaikan satu per satu itu page turn sekali. Seakan semua emosi penulis dituangkan ke satu tokoh yang mematik rasa empati, meski kadang gondok juga karena sifat kepala batu Ariel. Hingga pada penyelesaiannya yang sangat realistis.Teman-teman yang menjauh dan berusaha memanfaatkan pun nggak banyak. Semua kembali secara bertahap. - Banyak sekali pesan dari buku ini yang bisa dipetik. Mulai dari persahabatan, keluarga, pilihan yang harus diprioritaskan dan tentunya rasa ikhlas. Jadi aku rekomendasikan buku ini untuk para remaja dan pelajar yang aktif di media sosial. Kita tidak bisa mengikuti kemauan semua followers. Ada banyak hal yang harus bisa diprioritaskan. Salah satunya pendidikan. Karena aktif sosial media tidak bisa jadi tolak ukur masa depan akan lebih baik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku "Viral" ini bikin emosiku kaya Roller Coaster. Ceritanya tentang remaja kelas 12 bernama Ariel yang insecure dalam segala aspek kehidupannya. Kemudian dia beruntung bisa jadi pengganti model utama untuk pemotretan Gyn The Lebel. Setelah itu, BOOM! dia mulai viral. Awalnya emang malu-malu, tapi lama-lama mau juga.
Disamping nikmati popularitasnya yang sekarang, Ariel juga harus membantu orangtuanya melunasi hutang. Makanya dia sibuk ambil job kesana kemari setelah bergabung dengan salah satu agency.
Tapi ya namanya popularitas bisa bikin gelap mata, Ariel sampai mengesampingkan sekolahnya. Dia jadi sering bolos untuk syuting. Dan makin parah saat ia dinyatakan ga berhasil dapet beasiswa dari sekolahnya. Karena ngerasa ga adil, Ariel makin menjadi. Ia kecewa kepada sekolahnya, ia juga kecewa sama orangtuanya yang anggap dia beban. Dan ini puncaknya, Ariel pilih kabur dari rumah. Niat hari mau nenagin diri malah jadi sumber masalah baru. Video skandalnya tersebar. Dia dibully habis-habisan oleh netizen.
Kelebihan: 1. Buku ini ngebahas tentang cyber bullying yang sekarang gampang bgt dilakuin banyak orang dan secara ga langsung ngajarin kita untuk ga gampang ngejudge orang lain apa lagi seleb, yang jelas-jelas kita kenal dia cuma di dunia maya, gatau di kenyataannya kaya apa. 2. Karakter yang kompleks. Ga semua yang keliatan buruk itu jahat dan sebaliknya. Terbukti waktu skandal Verena mencuat, banyak yang hujat sampai dia vakum (termasuk Ariel ikutan mikir negatif tentang Verena), padahal dia cuma korban. 3. Pesan moral di buku ini cukup ngena; bijak dalam bermedia sosial.
Kekurangan: 1. Alurnya predicable. Ya mungkin karena relate sih ya sama kehidupan sekarang yang apa-apa viralin di medsos. Jadi belum baca sampe ending, aku udah nebak endingnya gimana :( 2. Beberapa aspek terlalu disederhanakan. Misal nih, pengumuman bahwa Ariel ga jadi dapet beasiswa dan itu udah jadi rahasia umum bahwa ada kecurangan, tapi dibiarin udah gitu aja selesai. Padahal ini juga point penting yang bikin Ariel jadi pilih jalan yang salah. Huhuhu.
Tapi, Its okay. Aku tetep rekomendasikan novel ini untuk dibaca, terutama buat remaja. Buku ini mungkin bisa jadi gambaran buat kalian yang baru mulai terjun di media sosial. Pesanku, hati-hati dalam bermedia sosial ya, temen-teman semua.
Satu lagi Young Adult dengan topik mendalam: gemerlap dunia influencer & kekerasan seksual di dunia maya. Laili berhasil banget menghidupkan cerita ini, mulai dari building dunia para karakternya sampai menuju puncak konflik dan penyelesaian.
Mixed feeling banget rasanya baca kisah Ariel. Hampir semuanya terasa kayak nyata. Mulai dari dia yang terjebak kemiskinan struktural & bingung dihadapi opsi harus kerja atau sekolah; nggak didukung oleh Ibra (tbh kesel banget sama Ibra. Tapi di sisi lain aku juga melihat sendiri di sekitarku kalau anak-anak berprivilege dari segi ekonomi seperti dia, ya, emang kayak gitu pola pikirnya); direbut beasiswanya sama Julian yang demen power abuse — semua kejadian ini memang sangat mungkin terjadi di kehidupan nyata.
Begitu juga part Ariel digrooming sama Keenan (bagian manipulatif dan dijebak tuntutan ganti rugi itu somehow ngingetin sama kasus mendiang Kim Sae Ron...). Pertengkarannya dengan Wendy pun sangat bisa dibayangkan terjadi di dunia nyata, apalagi mengingat mereka sama-sama masih SMA—"porsi" emosinya pas. Emosi Ariel yang meledak-ledak, kayak di bagian "nantangin" Keenan via live IG, juga terasa banget "wah nih orang beneran bocah yg masih 'hijau'." Perfect.
Di sepanjang cerita, aku benar-benar melihat sosok Ariel sebagai bocah yang kebingungan. Bocah yang baru "melek" dengan popularitas, nggak punya pegangan sama sekali karena nggak satupun orang di sekitar dia yg bener2 mau merangkul dan membimbing dia. Jadinya kayak... mau kesel sama keputusan yang dia buat pun rasanya salah. Kalau aku di posisi Ariel pun, aku mungkin akan melakukan yang sama — atau bahkan lebih buruk.
Ending buku ini juga menurutku pas. Di posisi Ariel, bisa menghadapi semua itu dalam kondisi dirinya di bawah 18 tahun sungguh adalah keajaiban. Kudos untuk authornya 🫡
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku dengan main character ndableg bin bulol, tapi pesannya penting dan dapet.
Sebenernya bagaimana Ariel ga bisa berpikir jernih tuh didukung dengan kondisi yang ga berpihak pada dirinya (konflik dengan ortu, utang...) tapi tetep bikin gemes yak.
Tapi entah kenapa kok karir Ariel lancar banget ya as a rookie yang berkecimpung dalam dunia influencer hanya dalam hitungan bulan? Bahkan kejadian di buku ini (Ariel as an influencer) tuh cuma 5 bulan...apakah biasanya sampe secepet ini ya? (ngerti kan apa yang aku pertanyakan di sini?)
Tapi aku salut dengan riset bagaimana endorsement, kerjasama, agensi di dunia influencer bekerja, jadi banyak tau juga aku wkwk.
Dan ngomong2 soal pesan, ya, kesadaran akan KBGO itu sangat penting dan jadinya buku ini perlu untuk dicoba untuk dibaca (walau ya gitu, MC-nya ndableg WKWK)
Baca novel ini kayak naik rollercoaster. Aku merasa relate sih, soalnya anak2 remaja itu memang ada rasa ingin dikenal dan dilihat banyak orang. Tapi intinya sama, menjadi viral dan diperhatikan banyak orang itu ga enak sebenarnya. Privasi kita kayak diobrak-abrik. Attitude kita harus menyesuaikan standar orang banyak, padahal suara mayoritas belum tentu benar.
Dan terakhir, pas kasus Ariel sama Keenan ini emang relate di dunia nyata sih. Aktor tampan melakukan kesalahan akan dibela mati2an sama fansnya. Makanya kita jangan terlalu fanatik buta sama idola. Soalnya yang ditampakin di sosmed pasti yang baik2 aja kan? Dan mereka itu manusia, sama kayak kita yang melakukan kesalahan. Jadi kalau mereka bikin salah jangan terlalu dibela kayak kasus Keenan, dan juga jangan dihina kayak kasus Ariel.
Story-wise, I really like it yo. Lima bulan bisa seterkenal itu mungkin gak ya? Hmmm... Biasanya kudu ada kejadian apa gitu yang viral kayak Fajar Sadboi 🤣 Tapi yo wislah. Aku suka alurnya, jadi ini lolos.
Bagian menggantung seperti sekolah yang bikin kecurangan beasiswa, sebenarnya realistis, sih. Banyak kasus kayak gini menggantung di dunia nyata. Seenggaknya sekolah masih punya tanggung jawab buat nyambungin Ariel ke LBH, nggak cuma main ngeluarin terus lepas tangan.
Ending hubungan dia sama Tante Gynna dan Wendy juga realistis. Masih ada harapan, meski jauh.
Cuma, twist di epilog yang maksudnya mau bikin akhir novel ini jadi lebih mindblowing, kurasa justru mencederai isu "Kekerasan Berbasis Gender Secara Online"-nya. Sayang sekali. Padahal, tanpa epilog itu, novel ini akan sempurna.
Baru kali ini nemu buku yang FMC nya nyebelin banget tapi ceritanya bagus dan berakhir bagus juga. Sedikit loose end karena ada satu karakter yang cuma ada di awal sampe tengah sedangkan di akhir gak diceritain lagi kelanjutannya. Tapi no big deal sih, cuma jadi penasaran aja ✌🏼
Sepanjang baca nih kesel banget sama FMC nya, sampe ketika dia kena imbas dari sifat ngeselinnya itu, uhhh puas banget bacanya 😄
Suka banget sama gaya penulisan si penulis, ringan, bahasanya juga mudah dicerna, gak terlalu baku tapi tetep enak dibacanya. Ngalir aja gitu, sampe sulit berhenti baca. Termasuk yang page-turner gitu.
So, ini salah satu buku YA, settingan anak SMA yang menurutku harus dibaca terutama buat kalian2 yang suka main sosmed.
novel keduanya Laili yg saya baca. buat yg usia belasan-20an awal, terutama cewek, coba baca ini deh!
kali ini novelnya Laili lebih tebal karena bener-bener mengulik dari bawah tokoh yg nobody into somebody yang kebetulan 'dapet rezekinya'.
somehow saya masih merasa semua karakternya masih baik, termasuk yg jahat sekalipun 😂 mungkin karena segmentasinya YA ya, jadi gak boleh jahat-jahat. wkwkwk...
Page Turner, menurut ku ini fiksi yang sebenernya mirip sama kehidupan nyata. Kadang kita memang selalu mengambil decision yang ga ideal karena pertaruhannya keluarga. Bacanya deg2an karena penasaran bakal gimana endingnya dan cukup puas sama endingnya. Recommended buat semua umur terutama yang masih muda dan berniat jadi content creator
Capek banget, sepanjang baca buku ini pengennya misuh-misuh terus, serius, tapi mendekati ending dibuat nangis😭
Sejujurnya kasian banget sama Ariel, gak seperti teman-temannya yang punya privilege, dia harus berusaha keras buat bisa kuliah. Sayangnya, kesempatan yang datang malah bikin dia gak bisa bedain mana prioritas mana bukan, dan bikin hubungan dengan orang terdekatnya jadi renggang. Sebenernya untuk anak se-usia Ariel ini dapat dimaklumi, wajar karena masih pengen cari jati diri. Tapu aku salut, sih sama Ariel karena dia bener-bener berani banget buat nyelesaiin masalah yang terlanjur besar.
Buku ini mengangkat isu mengenai KBGO (Kekerasan Berbasis Gender Online), bagaimana dunia influencer termasuk sisi gelapnya dan juga bagaimana media sosial itu bekerja. Yang bikin aku marah banget karena apa yang dibahas di buku ini tuh terasa relate banget. Kenapa ya, kalau ada masalah kayak Ariel gini pasti pihak perempuan yang disalahin, padahal si laki-laki juga turut andil, bahkan kadang si laki-laki emang yang bersalah sementara perempuan cuma korban😭