Jump to ratings and reviews
Rate this book

Masa Depan yang Tidak Boleh Dibicarakan

Rate this book
Pada suatu podcast, Danu dan Geraldy membayangkan apa yang akan terjadi pada dunia di masa depan. Mereka bermimpi tentang dunia di mana kapitalisme dikalahkan, manusia tidak lagi mengenal uang, dan manusia bekerja bukan demi upah, tapi demi kesejahteraan bersama. Mereka membahas hal-hal yang seharusnya tidak boleh dibicarakan.

Tanpa diduga, obrolan penuh canda itu menjadi kenyataan di masa depan. Pasca perang dunia ketiga, Neopolis berdiri sebagai peradaban terakhir umat manusia di bumi. Kota yang dikelilingi tembok tinggi itu sepakat untuk meninggalkan demokrasi, dan menyerahkan kepemimpinan pada kecerdasan buatan bernama Sang Komputer. Semua penduduk Neopolis berbahagia dengan kehidupan mereka yang tanpa sistem ekonomi seperti sekarang.

Kecuali satu orang. Ben, seorang urologis yang sudah bosan dengan tugasnya untuk mensterilisasi manusia, kini harus berjuang untuk sebuah kebebasan. Ia memprediksi batas antara kebebasan dan ketaatan dalam peradaban yang dibangun di atas trauma. Apakah kebebasan itu hal utopis atau memang layak diperjuangkan?

258 pages, Paperback

Published November 18, 2024

3 people are currently reading
41 people want to read

About the author

Adit MKM

1 book

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (45%)
4 stars
9 (25%)
3 stars
2 (5%)
2 stars
2 (5%)
1 star
6 (17%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books100 followers
May 24, 2025
Sudah lama sekali saya tidak mempermasalahkan gaya menulis seorang penulis, sampai kemudian mulai membaca novel ini.

Bagi penulis yang sudah punya jam terbang tinggi, mungkin tak perlu lagi diajari tentang penggunaan frasa pelengkap dialog yang dikenal dengan istilah “dialog-tag”—sebab itu sudah menjadi semacam cara penulis bernapas. Ada kalanya ia bernapas seperti biasa, ada kalanya juga ia perlu menghela napas panjang.

Salah satu yang perlu dikritik dari tulisan Adit MKM dalam novel perdananya ini ialah bagaimana cara ia menulis dan memilih dialog-tag yang cenderung monoton dan membosankan. Penggunaan dialog-tag yang berulang, seperti "berkata" atau "bertanya" tanpa variasi frasa lain, membuat narasi tulisannya sangat kaku. Awalnya, saya menduga akan ada selingan dialog-aksi yang membuat deskripsi percakapan antartokohnya menjadi lebih luwes, akan tetapi harapan itu pupus juga.

Saya ambil contoh potongan narasi pada halaman 146:
“Ben mundur selangkah lalu berkata, ....”
“Arthur tertawa lalu berkata, ....”
“Ben bertanya, ....”
“Arthur menjelaskan, ....”
“Melinda berkata, ....”
“Arthur menambahkan, ....”
“Melinda menjelaskan, ....”

Deskripsi percakapan di atas betul-betul ditulis di halaman yang sama sesuai urutannya, dan sayangnya penampakan semacam itu hampir terjadi di sepanjang halaman buku. Bukan hanya mengurangi kenikmatan membaca, gaya penuturan yang cenderung datar pun membuat suara para karakternya nyaris tak bisa dibedakan. Asumsi saya, minimnya referensi (teknik) menulis adalah alasan mengapa Mas Adit gagal menyampaikan emosi lewat tulisannya. Saya tidak akan memberi saran untuk hal ini, sebab itu seharusnya menjadi tugas editor sebelum novel ini terbit.

Di novel pertamanya ini, Adit MKM juga terlihat gagap dalam menerapkan prinsip “show don't tell” saat menyusun narasi di tiap paragraf. Coba perhatikan kalimat ini:
“Michael berjalan ke arah sofa dan duduk di situ. Brenda berjalan ke dapurnya. la menyiapkan minuman untuk kedua tamunya. Michael dan Ben masih terduduk dengan kebingungan.”

Tentu saja saya bisa tahu aktivitas para tokoh di atas karena penulisnya memang bermaksud "mengatakan" demikian. Padahal, seandainya penulis memilih kalimat “Michael berjalan ke arah sofa dan mengempaskan pantatnya di sana,” saya tetap bisa menangkap maksud penulis untuk menjelaskan bahwa tokoh Michael sedang ingin duduk. Menjelaskan peristiwa 'duduk' tanpa menyebut kata 'duduk' itulah yang dikenal dengan istilah “show” dalam ilmu kepenulisan. Sayangnya, Mas Adit melewatkan betapa pentingnya mempraktikkan pengetahuan dasar tersebut dalam novel ini.

Meskipun begitu, kurangnya hal-hal teknis tadi tidak serta merta menihilkan ide ambisius Masa Depan yang Tidak Boleh Dibicarakan. Selain premis tentang dunia apokaliptik pasca perang dunia ketiga, bagian menarik dari novel ini justru konsep “podcast” yang memfasilitasi percakapan antara Geraldy dan Danu—obrolan ngawur mereka berdualah yang kemudian memicu lahirnya Neopolis, sebuah peradaban terakhir umat manusia yang rela menyerahkan hidupnya dipimpin oleh kecerdasan buatan bernama Sang Komputer.

Saya tidak akan membahas plot ceritanya lebih jauh, tapi saya akan menutup ulasan dengan satu kutipan favorit dari novel ini:
“Manusia sering tergoda oleh kebebasan padahal yang mereka butuhkan adalah kebahagiaan. Kadang, keduanya tidak ada di tempat yang sama.”
Profile Image for Adit MKM.
49 reviews13 followers
December 2, 2024
Buku gue. Tapi ini buku tolol sih
Profile Image for Agustinah Wulanda.
1 review
December 2, 2024
Awalnya tertarik beli jujur karena pertama mengangkat tentang kecerdasan buatan yang menjadi keresahanku belakangan ini. Kedua, karena covernya keren banget, serius. Ketiga, kukira bakal membosankan ternyata tidak ya pemirsa. Aku baca novel ini dalam sehari itu pun masih aku sambi dengan kerja di siangnya, malamnya baru aku gempur lagi sampai menjelang pagi (karena weekend hoho). Penulis yang merupakan juga seorang komika sangat apik mengemas alur dengan humor-humor cerdasnya, tapi juga tetap bikin ngakak. Jenaka tapi penalaran-penalarannya sampai di aku. Kisah novel ini memang bukan yang unik sekali, tapi entah kenapa di akhir bagian banyak hal yang mengubah sudut pandangku tentang manusia dan segala keyakinannya. Worth it to buy and read. Good Job, Author.
Profile Image for Kazread_.
15 reviews1 follower
February 25, 2025
Bercerita tentang sebuah dunia ideal bernama Neopolis yang dipimpin oleh AI super canggih bernama Sang Komputer. Sang komputer mengatur semua aspek kehidupan yang ada di Neopolis, semua orang hidup tanpa uang, setiap orang sudah ditentukan harus bekerja apa, makan, minum, berobat, semua gratis, lingkungan aman, tapi minusnya, tidak ada orang yang punya hak untuk berkembang biak secara alami. Semua orang yang sudah cukup umur langsung disteril dan hanya bibit unggul aja yang bisa digunakan untuk membentuk manusia baru melalui proses in vitro.

Novel ini terbagi ke dalam dua bagian, yang pertama bagian podcast dan yang kedua adalah bagian cerita tentang neopolis. Kalau kamu terbiasa dengan obrolan tongkrongan yang asbun, atau podcast komika yang sering membahas banyak hal ngalor ngidul, pasti nggak asing dengan punchlinenya. Tapi kalau nggak terbiasa, kamu tetap bisa membacanya kok, karena obrolan absurdnya tidak sampai masuk jurang🤣.

Cerita di novel ini berfokus pada Ben, seorang urologis yang bosan dengan tugasnya mensterilisasi manusia. Ben sudah muak setiap hari harus melihat pe*nis, padahal selama ini cita-citanya ingin menjadi polisi. Namun, Ben juga tidak bisa melakukan apa-apa karena segala hal sudah ditentukan oleh Sang Komputer.

Novel ini bercerita tentang sekumpulan orang-orang yang lelah hidupnya ditentukan oleh Sang Komputer, mereka ingin memperjuangkan kebebasan manusia. Dan tentu saja ada harga yang sangat mahal untuk sebuah Revolusi. Di tengah keterbatasan, Ben dan teman-temannya harus berjuang untuk meruntuhkan sistem yang sudah dipercayai manusia seperti mereka mempercayai Dewa. Tokoh-tokoh di novel ini cukup banyak, tapi mudah diingat karena nama tokohnya cukup singkat dan setiap tokohnya memiliki peran penting dalam cerita.

Novel ini juga diwarnai dengan adegan tembak-tembakan dan adegan kejar-kejaran seperti di film action. Namun sayangnya, novel ini tidak dilengkapi dengan peta, sehingga aku cukup kesulitan untuk membayangkan letak tempatnya.

Overall, aku suka dengan novel ini, tipe novel ringan, dengan adegan action dan bumbu obrolan absurd khas podcast, jokesnya yang agak bahaya juga ternyata masuk di aku🤣🤣
Profile Image for Adhi Newgraha.
32 reviews2 followers
December 19, 2024

Narasi yang Memikat
Masa Depan yang Tidak Boleh Dibicarakan adalah novel yang sangat unik dengan teknik narasi paralel antara dua jenis bab: Podcast dan Bagian Cerita. Dialog podcast yang santai dan terasa sangat natural, serta narasi cerita yang lebih baku tetapi tetap nyaman dibaca. Dua gaya ini awalnya terasa seperti dunia yang berbeda, namun seiring perkembangan cerita, keduanya saling bertautan dengan cara yang tidak terduga dan sangat memuaskan.

Dunia yang Kaya Detail
Di awal, dunia yang dibangun membawa saya ke suasana ala anime, penuh drama dan fantasi. Namun, saat cerita beralih ke genre action, vibe-nya berubah drastis menjadi seperti film action penuh adrenalin—mirip Mad Max. Transisi ini memberikan pengalaman membaca yang benar-benar seru, bahkan terasa seperti menonton film.

Referensi yang Luas dan Isu yang Berani
Mas Adit MKM berhasil memasukkan banyak referensi menarik ke dalam novel ini—mulai dari buku, film, hingga anime—yang membuat cerita terasa kaya dan personal. Topik yang diangkat juga penuh keberanian, membahas isu ekonomi, teknologi (AI yang menjadi tokoh penting di cerita ini), agama, hingga politik. Sesuai judulnya, novel ini berani menyentuh hal-hal yang sering dianggap tabu.

Kesimpulan
Masa Depan yang Tidak Boleh Dibicarakan adalah bacaan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperluas wawasan. Sangat cocok untuk yang ingin meningkatkan imajinasi atau mencari cerita yang mendalam namun tetap engaging.

Profile Image for Jenderal Buku.
5 reviews1 follower
December 5, 2024
"Gimana kalo pemerintah diganti AI?" Adit MKM banyak punya ide liar. Salah satunya ini. Dan ide itu berhasil dikemas jadi novel ini. Novel ini memiliki 2 bagian yang diceritakan bergantian. Bagian pertama adalah khayalan tentang masa depan yang diceritakan dengan sangat lucu, yang bikin ngakak terus. Bagian kedua adalah peristiwa dimana khayalan itu benar-benar terjadi. AI menjadi diktator. Tidak ada lagi sistem uang. Populasi dikontrol. Semua indah. Tapi menakutkan. Jadi, novel ini berhasil bikin ngakak, mikir, dan tegang! Dan di akhir, saya jadi punya gambaran baru mengenai masa depan, dan peradaban manusia. Ini adalah karya yang wajib dibaca oleh semua orang Indonesia!
Profile Image for Raihan Nagara.
6 reviews
January 11, 2026
Premis awalnya bagus, tapiii dialognya kaku + formal banget. Apalagi nama karakternya juga terlalu general, sama plot ceritanya gampang ditebak.

Saranku kepada penulis lebih banyak baca buku novel fiksi yang bahasanya kasual agar pembaca ikut terhanyut juga.

Jujur aku gak habis baca nih buku gara² mulai monoton ditengah, konfliknya juga kayak hah? Kok tiba-tiba kesini? Plot antar karakternya juga gak dapet.

Coba deh cobain baca buku karya Tere Liye, Brian Khrisna, atau sastra/light novel jepang biar smooth penggunaan bahasanya~
11 reviews
December 27, 2024
Sebuah buku "Tolol" pertama dari seorang pengajar, stand up comedian dan title "penulis", yang baru diperoleh karena menulis buku ini.

Buku gambaran post-apocalypse tentang dunia yang hancur karena perang dunia tiga, lalu sisa manusia memutuskan membuat dunia tanpa kapitalisme.

Sebuah dunia yang menunjuk AI sebagai pemerintah bahkan perwujudan Tuhan. Dunia ideal di pikiran semua orang. Tapi, benarkah itu dunia yang kita inginkan?
Profile Image for dip..
24 reviews
June 9, 2025
Well well well! Ada sekitar dua minggu-an, cerita ini nempel di kepala dan terus membayangkan kalau negara dipimpin sama AI. Sebenarnya, feels bacanya itu seperti nonton Divergent seri awal sampai akhir. Kalau aku pribadi, narasi podcast-nya lumayan "apaan sih?" padahal awal dari semuanya ya dari podcast itu. Salut sama premis ceritanya. Kenapa buku ini ngga rame ya?

ᴅɪᴘ's ᴏᴡɴ ʙᴏᴏᴋs ᴄᴏʟʟᴇᴄᴛɪᴏɴ 𖹭.ᐟ
Profile Image for nobody.
212 reviews20 followers
January 22, 2025
Narasi, dialog, penokohan, semuanya membosankan. Keliatan banget minim referensi. Satu bintang buat kenekatan menulis dan judul bukunya. Daripada baca ni buku, mending langsung aja baca buku2nya Ted Chiang, Isaac Asimov, Arthur C.Clarke, Robert Heinlein, William Gibson atau Philip K. Dick sekalian.
Profile Image for Yosafat Elim.
21 reviews1 follower
February 4, 2025
Rasa ingin tahu itu dilarang di Taman Eden.

Mau bebas atau bahagia?

Kedua hal yang lebih kompleks dari roket sains. Hampir tidak ada solusinya.

Kalau mau bahagia,
Ya harus mau diatur, supaya hidup ini adil dan sejahtera. Tidak ada kesenjangan, keserakahan, semua orang mendapat porsi yang sesuai. Tapi, kita tidak bisa beropini, memilih, dan melakukan apa yang kita mau. Kita akan merasa terkekang dan akhirnya tidak bahagia.

Kalau mau bebas,
a peraturan tidak boleh ketat. Bebas beropini dan berekspresi dijunjung tinggi. Tidak ada larangan untuk ingin tahu. Tapi, kalau manusia diberi kebebasan, munculah kesenjangan, perbudakan (baik tradisional maupun modern), konflik, kejahatan, dan kebencian. Yang memiliki kekuasan akan bahagia, yang lainnya, ya terima nasib saja.

Jadi solusinya apa?

Ya gak tahu, saya cuma pembaca. Mungkin ya emang gak ada solusi. Mungkin kita gak berhak cari solusi, karena kita masalahnya.
Profile Image for Andrez Pabenteng.
8 reviews
January 3, 2026
Mind-blowing! Novel ini menyajikan masa depan tanpa uang, sounded like utopia, right? Tapi ternyata, society yang katanya super duper adil ini punya kontrol yang creepy dan disturbing.

Kita ikutin Ben, yang job-nya literally mengatur populasi, mulai feel kalau kebebasan itu cuma ilusi. It’s basically a deep dive into "Is this true freedom, or just a beautiful cage?"

I love cara Adit MKM mengkritik society kita without being preachy. Ide-idenya super strong, thought-provoking, dan the pacing is surprisingly engaging meskipun bahasannya berat.
Cocok buat: Pecinta Black Mirror vibes dan yang lagi cari fiksi sci-fi lokal yang witty dan penuh existential crisis.

Disclaimer: review ini bantu ditulis oleh AI 😅
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.