Aku kira, aku orang yang selalu berusaha melihat sisi baik dalam diri orang lain. Namun, ternyata aku tidak sesuci itu. Aku hanya terlatih menerima sisi monster orang lain hingga batas yang tidak masuk akal. Hanya karena aku membiarkan sisi gelap itu dilemparkan kepadaku, tidak berarti mereka akan pulih. Dan tidak berarti juga aku akan semakin kuat.
Barangkali aku terlalu mengusahakan orang-orang di sekitarku baik-baik saja, sampai aku sendiri yang tidak baik-baik saja.
Barangkali selain doa, cara kita terhubung dengan yang tak lagi terjangkau oleh pelukan, melalui luka yang sengaja diawetkan. Dari sisa-sisa kehilangan dan jejak-jejak kepergian.
Barangkali, seseorang yang bisa melihat apa yang ada di kedalaman, sadar bahwa ia telah jauh dari permukaan. Namun, ia yang tak bisa lagi melihat dirinya sendiri, berarti tersesat di kedalamannya sendiri.
Luka terhebat, kerap lahir dari satu harapan cacat. Memaksa manusia menjadi obat.
"Jadi, terima kasih sudah berusaha menjadi sosok yang kamu harap kamu punya saat kecil."
Selesai baca ini, rasanya penuh aja. Lewat Ranu dan Sabrina sekaligus, aku kayak lagi lihat diri sendiri dalam dua tokoh. Ada di posisi Sabrina, tapi juga ngerasain apa yang dirasain Ranu. Aku suka karena karakter teman-teman Ranu semuanya kuat. Mereka bukan tokoh utama, tapi mereka tetap punya keunikan masing-masing. Jadi kelihatan kalau semuanya punya peran penting melalui karakter mereka di dalam proses Ranu sembuh.
Teman-teman Ranu di Indonesia, kayaknya lumayan banyak menggambarkan lingkungan yang selama ini sering kulihat bahkan kualami. Waktu akhirnya Ranu bisa nyampein semuanya, ada perasaan lega yang ikut aku rasain. Karena gak pernah punya kesempatan untuk ngelakuin itu di dunia nyata, aku lega karena ada yang bisa ngelakuin hal berani dan benar itu (meski cuma di cerita).
Setelah baca ini, aku merasa perlu lihat jauh lebih dalam ke diri sendiri. Perlu lebih baik ke orang sekitar tanpa perlu berusaha bikin mereka sembuh karena itu tetap tugas mereka. Perlu lebih kenal sama diri, apa yang udah buat sakit dan gimana cara sembuhinnya.
Memang betul, kalau ada yang diambil dari kita, pasti akan diganti sama yang jauh lebih baik. Lewat tokoh Ranu, kita akan sama-sama lihat seberapa jauh lingkungan kita bisa memengaruhi pikiran dan kebiasaan kita, juga berani ambil langkah untuk keluar dari sesuatu yang bisa menjelma jadi kita. Belajar untuk cari tahu, supaya sosok yang menyebalkan itu, gak bisa ada di kita.
Kekurangannya ada di beberapa penulisan yang salah. Kata "yang" ditulis "yg", kurangnya tanda titik di akhir dialog, dan lain sebagainya. Tapi di luar itu, harus tepuk tangan sama keseluruhan ceritanya👏🏼.
"Namun, semua orang tampak baik-baik saja, dan ia tak suka merasakan hal itu sendirian. "
~~~ Novel ini mengisahkan tentang Ranu, seorang lelaki yang berprofesi sebagai psikolog klinis dewasa. Setelah lima tahun sibuk dalam pekerjaannya, ia mengalami burnout. Ranu pun mengurangi pekerjaan dan mulai ikut aktif pada kegiatan olahraga lari. Aktifitas barunya itu membawanya pada perjumpaan dengan teman-temannya sekarang, terkhusus Sabrina yang penuh energi positif.
Karena suatu hal, Ranu jadi menjaga jarak dengan Sabrina. Ketika Ranu ingin kembali membangun pertemanan dengan Sabrina, berita duka lebih dulu datang. Sabrina meninggal dan Ranu sangat menyesal. Kehidupan Ranu menjadi tidak baik-baik saja, bahkan masuk IGD. Suatu hari, selembar foto ia temukan, dan dari foto itu Ranu memutuskan langkahnya untuk melakukan perjalanan ke Kota Almaty sebagai penebusan rasa bersalahnya kepada Sabrina. Perjalanan ini pula, kelak akan disadari oleh Ranu sebagai usahanya untuk pulih atas hal-hal yang belum selesai. ~~~
Novel pertama yang kutamatkan di 2025. Novel yang banyak menguras air mata 😭 karena perjalanan Ranu untuk pulih perlu menengok kembali pada luka-lukanya yang haha ternyata bikin diri jadi 😭😭😭
Narasinya terasa nyaman, banyak kalimat indah sekaligus hangat yang kudapati sepanjang membacanya. Proses perjalanan pulih tokoh Ranu bagiku terasa sangat detail dikisahkan, meskipun bagian akhir sama ibunya terasa agak kecepatan, tapi inti dari prosesnya itu cukup jelas, dan sangat membantuku juga untuk belajar menemukan diri sendiri.
Dari kisah Ranu, mengingatkan bahwa sebagai upaya pulih, kita perlu berani melepaskan dan meninggalkan orang-orang yang beracun agar orang-orang yang berenergi positif, punya tempat untuk datang dan tinggal. 🥹
Dari upaya yang dilakukan Ranu, pembaca diajak belajar bahwa untuk bisa pulih kita perlu menerima bahwa penderitaan kita itu layak kita rasa, tanpa dibanding-bandingkan dengan penderitaan orang lain.
Dari upaya Ranu, pembaca juga diajak belajar bahwa menerima rasa kemarahan adalah salah satu langkah untuk pulih. Iya. Ngga papa banget kalau belum bisa memaafkan. Ngga papa banget kalau lukanya masih terasa sakit. 😭 Ngga papa, kita memang harus belajar dengan pelan-pelan untuk bisa pulih dan sembuh.
Buat yang lagi berproses menemukan diri sendiri. Buat yang lagi berproses ingin pulih. Novel ini sangat kurekomendasikan kalian baca juga. 🥹🌻✨️
#unfinishedgoodbye #syahidmuhammad #jejak_sibuku
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku pertama di tahun 2025~ Unfinished Goodbye yang awalnya ku kira cerita tentang kisah seorang pasangan yang akhirnya berpisah namun ternyata mereka belum seselesai itu wkwk.
Tapi ternyata buku ini menyentuh tema yang cukup mendalam tentang hubungan dan bagaimana seseorang berusaha memahami dan menerima sisi baik dan buruk orang lain yang pada dasarnya kita harus menjaga keseimbangan antara membantu orang lain dan juga merawat diri sendiri, yang kadang terabaikan dalam dinamika hubungan.
Buku yg topik utamanya bittersweet hidup di usia dewasa yang masih membawa luka dan trauma ditinggalkan sedari kecil. Tentang luka. Tentang trauma. Tentang keluarga. Tentang perjalanan menemukan diri sendiri. Tentang ikhlas. Tentang memaafkan. Dan tentang memilih orang yang berkenan memberi kasih dengan tepat. Definetely sebuah buku yg seakan ngasih tau, "hei, semua hal yang telah terjadi bukan tanggung jawabmu seorang diri."
"Pastikan untuk membatasi berapa banyak kesempatan bagi mereka untukmu menentukan pilihan, karena kita selalu harus memilih orang- orang yang akan kita undang ke sisi kita. Orang-orang yang bagus untuk menghadapi keadaan saat ini, orang yang bagus untuk tujuan kita, lalu orang yang bagus untuk bagaimana kita sedang bertumbuh." (Hal. 224)
Selama 11 hari berproses bareng buku ini, diajak untuk menemukan diri yang gak pernah bisa keluar karena beban yang belum usai.
Gak mudah untuk selesaikan buku ini. Tidak hanya karena bahasannya yang cukup mendalam tetapi juga muncul banyak ketakutan saat baca buku ini. Takut saat aku membalik halamannya, tulisan seperti apa yang akan muncul. Rangkaian kalimat yang mengundang senyum, tawa, tangis, marah, atau justru luka di masa lalu?
Terima kasih sudah membuat buku ini ya mas Iid, buku yang menyakitkan juga menghangatkan. Buku yang tepat untuk diterbitkan di akhir tahun sebagai bekal untuk bisa ‘selesai’ dengan kesulitan apapun yang sedang dihadapi, entah itu agar menemukan diri yang baru di tahun baru atau sekadar pelepas tangis yang sulit keluar itu.
Seperti buku-buku lainnya, buku ini juga punya kekurangan. Ada beberapa salah ketik dan juga timeline waktu yang cukup membingungkan di akhir. Namun, kesalahan-kesalahan kecil itu ga menjadikan buku ini buruk. Buku ini sangat layak dibaca untuk menjadi teman berproses.
Banyak sekali kutipan yang ku simpan dari buku ini tapi ini salah satu yang paling ku suka; “…tolong berhenti merasa semua hal adalah tanggung jawabmu seorang diri. Lepaskan ikatan itu. Silakan, kau boleh hancur sehancur-hancurnya,”
Sekali lagi, terima kasih telah hadir dan menemaniku berproses di akhir tahun ini.
Bagaimana kalau sebenarnya kita tidak pernah selesai dgn masalah kita sendiri? Bagaimana kalau sebenarnya selama ini kita hanya kabur dari masalah tersebut?
Hal tersebut lah yg dirasakan Ranu Anggara. Sebagai seorang psikolog, ia pasti sudah terbiasa mendengar dan membantu para pasien nya dalam menghadapi berbagai masalah. Tapi, apakah berarti Ranu dapat mengatasi masalahnya sendiri?
Buku ini mengemas cerita yg apik tentang bagaimana Ranu menelusuri setapak demi setapak akar masalahnya, berani meminta pertolongan dan pada akhirnya ia perlahan sembuh dan berdamai dengan segala kalut malut kehidupannya. Permulaan cerita Ranu dimulai dr penggambaran dirinya sebagai seorang psikolog, yg selalu membantu para pasiennya. Dilanjutkan dgn lingkaran pertemanannya sebagai orang dewasa, yg ternyata penuh dengan hal - hal ‘toxic’. Pemicu retaknya pertemanan Ranu, bermula dari ejekan teman - temannya, akan kedekatan Ranu dengan Sabrina. Dsni dpt dilihat karakter Ranu yg cenderung ragu dan cukup memikirkan pandangan org lain.
Kabar kepergian Sabrina yg cukup mendadak, membuat Ranu dipenuhi rasa bersalah dan memutuskan untuk pergi ke Kazakhstan untuk menemui sahabat jauh Sabrina, Damira. Tujuan Ranu ke Kazakhstan adalah ingin memberi tahu Damira, terkait kabar duka tersebut, dengan harapan ia dapat menemukan alasan agar dia bisa disalahkan atas kepergian Sabrina.
Keberangkatan Ranu, bisa dibilang cukup nekat. Hanya bermodal postcard yg pernah diberi Sabrina, yg memuat fotonya dan Damira disebuah toko roti, Ranu mulai menjelajah setiap sudut Kota Almaty.
Perjalanan Ranu menjelajah Kota Almaty, digambarkan cukup detail didalam buku ini. Sedikit bisa merasakan bagaimana kota tersebut lewat narasi yg diberikan penulis. Lewat perjalanan Ranu, kita juga akan ikut mendapatkan banyak pesan hidup. Seperti Ranu yg perlahan mulai terbuka dgn teman satu hostelnya selama di Almaty. Dan juga Ranu yg berangsur berani menghadapi masalahnya karena dukungan Janelle - barista ditoko roti milik Damira
Karakter Janelle, dalam buku ini mungkin akan menjadi favorit para pembaca. Karena diri nya digambarkan sebagai sosok perempuan yg blak - blakan dan juga punya pemikiran yg dewasa. Seperti dirinya yg terus medukung Ranu untuk tidak ragu menjadi dirinya sendiri dan mengajarkan Ranu untuk berani menghadapi masalahnya
Pesan dalam buku ini dikemas dengan baik oleh Syahid Muhammad. Dan genre Healing Fiction, sangat cocok untuk disematkan bersama buku ini. Bagaimana para pembaca tanpa sadar juga menyembuhkan para pembacanya. Buku ini memiliki plot yg cenderung agak lambat, konflik yg ada cukup familiar dan bahasa yg digunakan adalah bahasa sehari - hari
Apakah buku ini layak untuk direkomendasikan? Saya pribadi memberi rating 5/5. Dan feel yg dirasakan selesai membaca adalah, ‘this book finish me’. Krn beberapa part dalam buku ini cukup relate dgn kehidupan pribadi. Banyak pelajaran yg bisa diambil dr buku ini dan tentunya buku ini juga membuat kita kembali mengintropeksi diri
Aku membaca buku ini karena teman mutualan di akun X merekomendasikan sekaligus lagi viralnya di tiktok. Awalnya aku agak ragu untuk membaca buku ini karena asing dengan penulisnya. Namun tak disangka berakhir menyukai buku ini dan kuberi rating ⭐5/5
Menceritakan seorang Ranu Anggara yang bekerja sebagai psikolog. Ia memiliki tugas untuk menghadapi dan menjadi tempat curhat orang lain. Namun diam-diam, Ranu menyimpan luka dan konflik batin yang belum terselesaikan.
Moment terberat datang ketika Sabrina, sahabat terdekatnya meninggal. Kematian itu membuat Ranu Merasa bersalah. Untuk mengatasi kesedihannya dan mencari jawaban atas rasa bersalah, Ranu pergi ke Almaty, Kazakhsta, untuk bertemu dengan seseorang kenalan dekat Sabrina. Perjalanan ini bukan sekedar langkah fisik, melainkan perjalanan emosional dan spiritual untuk mengurangi rasa sakit, menantang masa lalu dan merajut kembali jati diri.
Yang aku suka saat proses Ranu untuk menghadapi sakitnya, berdamai sama masa lalu, dan perlahan menemukan siapa dirinya. Akupun tersadar dan berhenti sejenak buat mikir, "iya ya, ternyata yang terlihat baik-baik saja belum tentu benar-benar tanpa masalah." Dan aku mulai berusaha untuk menghindari membandingkan hidupku dengan orang lain karena semua orang memiliki ujiannya sendiri-sendiri.
Alur yang lambat dan gaya penulisan yang mudah dipahami membuat setiap kalimat itu ngenah di hati. Konflik lebih banyak bersifat internal seperti perasaan, ingatan, dan keinginan. Karena hal ini ada bagian-bagian dimana tema terkait muncul berulang-ulang dan berkesan bertele-tele.
Buku ini relate sekali dengan kenyataan: -Tentang membantu orang lain saat kesusahan, tapi lupa untuk menolong dirisendiri. -Tentang lingkungan pertemanan yang toxic dan bingung bagaimana mengakhirinya. -Tentang bagaimana kita sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain. -Tentang ikut campur dalam urusan oranglain. -Tentang trauma masa lalu yang belum selesai.
Semua orang punya lukanya sendiri. Semua orang berproses menghadapi rasa sakitnya. Dan semua orang berhak menemukan jati dirinya.
Buku ini bisa menjadi pilihan jika kalian mencari bacaan dengan genre healing fiction. Bukan hanya sekedar kisah menyembuhkan luka, tapi juga tentang keberanian untuk berhenti berpura-pura kuat.
GILAAAAA BANGET INI BUKU SUMPAH!!! Di beberapa adegan bikin keluar air mata dan relate banget sama apa yang dialami Ranu selama ini 😭😭😭 Ni buku kalau difilmkan atau dibuat seriesnya udah pasti keren banget sih, huaaa andaikan di posisi Ranu pasti udah melampiaskan amarahku sejak lama. Pingin deh nangis kejer dan marah di bukit atau di mana gitu buat teriak sampai capek... Untuk saat ini, posisiku adalah keadaan memaksaku untuk selalu mengerti orang lain, tapi aku nggak pernah dimengerti sama orang lain. Ada nggak sih di sini yang benar-benar mengerti aku dan nggak ngejudge bahkan meremehkan (menggampangkan) aku? Pingin punya seseorang yang tulus menerima aku apa adanya dan mengejarku dengan niat seperti Janelle yg follow up terus. Walaupun duniaku bukan dunia normal, tapi setidaknya aku membutuhkan sesosok siapapun seperti Janelle. Bang syahid sukseees karirnya dan sukseees pokoknya bikin aku keluar air mata 😭😭
Butuh waktu yang lumayan lama untuk menyelesaikan buku ini, karena setiap membaca per halamannya aku membutuhkan jeda untuk bernapas rasanya setiap untaian kata yang terjalin membentuk sebuah kalimatnya menyadarkan begitu banyak hal yang sebenarnya selama ini dicoba untuk disangkal atau sebenarnya takut untuk diakui terima kasih karena dengan keberadaan buku ini, aku jadi semakin sadar, bahwa setiap hal yang aku rasakan mendapatkan sebuah tempat yang nyaman dan aman untuk diakui semoga bisa terus melanjutkan perjalanan hidup ;
Pesan bukunya bagus ya, tapi (ini selera ya) kalimat2 dibukunya terlalu melankolis dan terlalu kayak bukan percakapan sehari2. Tapi mungkin gue aja yg br baca tulisan penulis ini kali ya, dan kadang ada hal2 yang tpo dark dalam buku ini. Tadinya beli ini gak mikir bukunya dark banget krn lg stress butuh hiburan taunya udh terlanjur kecemplung. selesein juga deh
Kisah laki-laki dengan trauma masa kecil yang belum selesai jadi berdampak pada kehidupan dewasanya. Dari buku ini jadi belajar kalau trauma masa kecil harus kita hadapi dan selesaikan agar langkah kaki lebih ringan untuk menjalani kehidupan di masa dewasa
Sayang finishing dari trauma masa kecilnya hanya dibahas dalam 1 bab terakhir, terlalu pendek dan kurang rinci
buku tentang seseorang yang mempunyai masalalu kelam, kemudian diperjalanan hidupnya mendapatkan sebuah masalah yang lumayan mengganggu kehidupannya, yang kemudian seseorang tsb mencari jalan keluar dengan bbrp cara sehingga trauma masalalu nya pun mendapatkan jawaban kedamaian
This entire review has been hidden because of spoilers.
This is the first book that has ever made me cry a lot, and I don’t know maybe because I could relate to the ending? To be honest, at first, the book felt a bit boring, until I reached the last chapter. Thank you for writing this.
Honestly, I haven’t finished this book yet. I’m only a few chapters in, but it has already triggered me a lot. I think I’ll come back to read it later when my mental state is better.
Novel ini adalah novel terlama yang aku selesaikan di tahun ini. Mungkin krna ga terbiasa dengan genre yang berat aja sih, tapi ketika baca pelan pelan ternyata fun juga untuk diikuti dan i really enjoyed the story and the ending, the ending that i and all the readers had expected maybe.
Novel ini kisah utamanya membicarakan penyelesaian luka dan duka dari Ranu, seorang psikolog yang kehilangan seseorang yang dia anggap sangat baik, terlalu baik bahkan untuk dirinya sehingga rasa kehilangannya ini akhirnya jadi kompleks menyatu dengan banyak emosi lain. Penyesalan, dendam, benci, bersalah, takut, dan ternyata semua emosi ini awalnya berasal dari trauma masa kecilnya yang kebawa sampai dewasa.
Cara Ranu menyelesaikan dukanya diceritakan dengan sangat baik, bagaimana dia bertemu dengan banyak orang asing dan akhirnya menjadi teman baik, bagaimana dia bisa menyelesaikan penyesalannya dan rasa bersalahnya, bagaimana ia bertemu seseorang yang spesial yang mau mendengar dan berbagi kesulitannya, bagaimana ia bisa mengubah sudut pandangnya terhadap orang lain, dan bagaimana penyelesaian trauma masa kecilnya juga terhadap orangtuanya. Semuanya diceritakan dengan baik dan penuh makna. Romancenya sehat banget, tipis tapi bikin kesemsem.
Buku ini menceritakan tentang belajar menerima kenyataan dan berdamai dengan diri sendiri. Cocok untuk pembaca yg sedang melalui fase introspektif dan ingin memahami kompleksitas emosi manusia yang tidak sederhana.