Dipinjemin adik, baru mulai sampai halaman 45, bagus bukunya. Judulnya lucu, cuma terjemahan yang Buku buat kamu yang bosan cari duit melulu itu yang sempat menggagalkan niat saya membeli. saya pikir buku ini berisi tentang tips n trik menjadi kaya dengan cepat, ternyata salah besar.
Buku ini menarik, dari judulnya, ilustrasinya, tulisannya besar-besar, sedikit 'meringankan' isi cerita yang semestinya cukup dalam. Agak-agak mirip who moved my cheese.
Setelah belajar kehidupan dari tikus dan Enzo si filsuf, mari kita belajar dengan Buzz the Bee.
To Bee or Not to Bee telah membuat saya jatuh cinta dari saat saya mulai membacanya, kertasnya tebal, ilustrasinya menarik dan kisahnya yang membuat saya tertawa kecil. Buku buat kamu yang bosan cari duit melulu, ternyata buku ini tidak mengajarkan cara mendapatkan uang secara singkat tapi membuat kita kembali menelaah hidup kita, merenungkan sejenak apa yang kita cari dalam hidup dan pencarian akan Tuhan.
Cerita bergulir manis tentang seorang lebah bernama Buzz yang tinggal di lembah hijau tenang penuh dengan bunga dandelion dan bunga poppy. Rupanya Buzz ini cukup filosofis, terbukti dengan pertanyaannya di awal cerita. Mengapa segala sesuatunya ada? Dari mana asalnya? Mengapa ia berada di sini? Apa maksud dari semuanya ini? Siapa sih ia sebenarnya?
Buzz adalah seekor lebah pekerja, bertugas untuk membangun sarang, mencari makan, menyimpan madu dan serbuk sari dan mempertahankan koloni dari serangan Boris si beruang madu. “ Buat apa terburu-buru? Lembah ini sangat indah namun sepertinya semua terfokus untuk bekerja dan memperluas koloni.” Buzz tak mengerti mengapa begitu penting bagi koloni untuk terus berkembang. Sepertinya hanya Buzzlah yang berpikir seperti ini dalam koloni sampai akhirnya ia memutuskan untuk ikut dalam suatu kegiatan agama lebah, mungkin ia bisa menemukan jawaban akan segala pertanyaannya. Namun yang terjadi Buzz semakin banyak bertanya. Ada satu paragraf menarik antara Buzz dan pemuka agama lebah.
“Seperti apa Yang maha kuasa itu?”, tanya Buzz lugu.
“Yang Maha kuasa adalah roh yang berada di mana-mana dan maha kuasa. Ia menciptakan kita serupa dengannya yang artinya ia berpikir dan bertindak seperti lebah. Beginilah cara kita mengetahui keinginannya. Ia mengasihi dan menjaga kita”
Buzz berpikir sungguh-sungguh dan kembali bertanya, “Tapi kalau Tuhan di mana-mana dan maha kuasa, di manakah iblis berada?”
Pemuka agama lebah yang bernama Bobby mulai frustasi.
“Iblis itu culas, selalu menggoda kita dengan kejahatan, dan ketika kita menyerah ia mendapatkan pijakannya”, jawabnya.
“Jadi sebenarnya iblis hanya ada di pikiran kita?”
“Bukaan!! Iblis adalah mahluk spiritual kejam yang ada di neraka”
“Jadi Tuhan ada di mana-mana kecuali di tempat iblis berada?”
Bobby semakin jengkel, “Kurasa begitulah!”
“Tapi itu berarti Tuhan sebenarnya tidak berada di mana-mana dan maha kuasa”
Buzz akhirya mendapatkan teman akrab (lebih pas dibilang seorang mentor) lebah tua bijaksana bernama Bert yang berantena satu. Kembali Buzz berbincang-bincang tentang Tuhan dan ada satu kalimat yang menarik perhatian saya.
Bert : “Bagiku Tuhan sangat jauh dari membutuhkan penghargaan dari kita para lebah kecil yang tidak berarti, hingga tampak agak konyol. Kurasa banyak yang menyembah Tuhan lebih karena berpikir ingin berada di sisi Tuhan daripada berterima kasih akan keadaan mereka. Kecuali kau berhati-hati, banyak yang bisa tersesat dalam rutinitas dan ritual itu”
Nice job, Bert
Buzz diajak Bert untuk semakin menyelami arti kehidupan, menyadarkan bahwa sempurna bukanlah keadaan, melainkan cara berpikir. Buzz ingin bahagia selalu. Itu sama saja dengan menginginkan naik tanpa turun, lembut tanpa keras. Bagaimana bisa merasakan dingin kecuali tau apa itu panas? Bagian ini sedikit mengingatkan saya akan Sang Nabinya Kahlil Gibran.
Kesimpulan yang diambil Buzz dari pembicaraan bersama Bert kali ini, kebahagiaan apapun yang dialami merupakan akibat. Kebahagiaan tidak dapat dikejar melainkan mengikuti. Saya suka kalimat itu, mengingatkan saya untuk senantiasa bersyukur dan tidak berusaha keras mencari kebahagiaan yang sepertinya terlalu jauh di luar sana. Beda banget yang diterapkan oleh Harry Silver, tokoh utama di buku Man and Wife yang baru minggu lalu saya baca. Kehidupan ini terlalu penting untuk ditanggapi secara serius. Dalam kehidupan, penderitaan itu tidak dapat dihindari. Menderita itu pilihan.
Buku ini bagus untuk dibaca bagi semua orang, cukup singkat karena hanya 153 halaman namun cukup dalam untuk dipahami dan diterapkan dalam kehidupan. Cheerz to life, temans