Malik Wartana, ia kelewat dewasa untuk seukuran remaja yang tumbuh dalam duka. Kelewat bijaksana untuk memandang kekosongan setelah ditinggal Ayah selamanya.
Sayangnya, Kal juga kelewat merah muda untuk Malik. Ia terlalu bahagia untuk bergabung dalam duka yang seumur hidup Malik rengkuh. Malik merasa tak bisa menodai keceriaan Kal dengan membagi biru dan kelabunya.
Dan di sanalah, Greta Tsahara berdiri. Merangkul gelap, kelam, dan sepi setelah ditinggal Bunda. Memandang Malik dengan duka yang setara.n Dengan keinginan untuk menemukan secercah cahaya agar tak terus tenggelam dalam lautan hampa.
Saling menemukan, menyembuhkan, menerangi gelap.
Namun, bukankah kita pernah mendengar, bahwa dua orang yang tumbuh dalam duka takkan bisa bersama?
ion really understand why, really sorry karena aku kasih rating segini, tapi aku jujur ngerasa kurang sama cetakan bukunya yang font nya terlalu kecil dan ga menyesuaikan sama kapasitas orang masing masing, fyi aku minus x silinder ya. jadi kalau dibaca malam hari agak mengganggu dimata, atau memang cetakan buku yang ku beli yang memang kurang?
let's back to the flow of the book. semua jalan ceritanya bagus, suka plot twist nya yang jarang banget aku temui dan banyak ngambil pengalaman dari sejarah indonesia dan referensi buku lain.. tapi ada beberapa kosakata atau penepatan majas yang kurang cocok aja menurutku dan proses pendekatan mereka yang secara tiba tiba cuma sekitar 1 bulanan tiba tiba udah deket dan mau ciuman terus ngajak jatuh cinta bareng bareng? malik nya agak nafsu ya disini, but okelah they are adults.
dari semua tokoh disini aku suka sebenernya banyak plus sifat yang bisa dijadiin pelajaran, tbh I was surprised because many people haven't rated it on Goodreads, I'm glad to be the first. aku juga suka sifat kal, seriusan buku ini bawa aku dejavu dimana aku selalu punya pacar beda agama dan selalu ada di posisi kal, other than that i really love this book!
Haiii, aku bener bener baru selesai baca buku ini walaupun aku udah beli dari bulan januari. Sebenarnya rating ku 4.5/5 dibuku ini karena aku agak lambat dalam menyelesaikan bukunya karena bahasa yang digunakan agak berat dan membaca kalimat-kalimat yang penuh dengan words of affirmation yang diberikan Malik kepada Tshara dan begitu juga sebaliknya bikin aku berhenti cukup lama bacanya karna aku ga relate dan love laguange aku juga bukan woa. Dan juga aku suka dengan gaya tulisan author yang tertata, rapi, alur cerita yang bagus dan runut, konflik dan cara mengatasi masalah dari setiap konflik tersebut dikemas dengan rapi juga.
Pada awal membaca aku kurang nyaman dengan POV malik yang menggunaka saya tapi setelah beberapa bab aku bisa paham kenapa author memilih menggunakan "saya" karena itu menujukkan sifat Malik yang sangat keras kepada dirinya dalam meraih mimpinya, sangat bekerja keras untuk membahagiakan keluarganya, dan ambisi-ambisi nya yang harus terwujud dalam pendidikan dan kegiatan BEM yang dia ikuti.
Untuk karakter Tshara oh i love her name, so cool G. Tsahara keren seperti orangnya, sangat aesthetic, pintar bangeet sering menang lomba, penyuka buku, (i want her energy) tapi penuh duka dan bergelung didunianya sendiri.
Aku suka banget ketika Malik dan Tshara memutuskan untuk melakukan proses sama sama jatuh cinta walaupun prosesnya panjang dan lama, dan harus mengalami duka bersama Malik. Oh how to be Tshara to be loved by Malik like that. Dan beruntung banget Tshara menemukan orang yang speak the same language as her, "because we are speaking in the same language" AAA find me a person who speak the same language as i am pleaseeee god.
DAAAAN aku suka banget author menyelipkan lagu 'Repeat Until Death' by Novo Amor salah satu lagu favorite ku dari Novo Amor dan aku setuju dengan pandangan kalau "lagu ini tentang kita yang takut kehilangan ataupun meninggalkan seseorang yang kita cintai". Aku juga suka bagaimana mereka menyikapi segala bahagia, masalah, dan duka yang mereka miliki dan cara menghadapi dan mencari solusi untuk masalah tersebut. How mature.
Sejujurnya pertanyaan aku sejak awal membaca adalah ada apa dengan kata "Sahara" di awal buku, ada apa dengan Julia? ada apa juga dengan papanya tsahara? dan juga Kala? yang akhirnya terjawab di bab-bab menuju ending, WOW plot twist yang sangat cukup bikin berpikir takdir bisa sebegini nya ternyata, bener bener definisi "in another universe" dari Julia dan Adam kek wow ga expect mana mirip bangeeettttt ternyata ya. Buat Tshara dan Malik long live for both of you.
hai kak kith, mungkin aku memang bukan ahli dalam membuat ulasan, but here's my thought 😊. i think, your writing is good, you can improve it kak, sebagai pembaca novel yang bu leila tulis, aku akui ada beberapa gaya bahasa bu leila yang sepertinya terserap di PIOH, i like it. tulisan kakak indah sekali. but aku ga suka penokohannya, i see G. Tsahara as my self, we have something in common about personality, i like her but i think kakak terlalu hebat untuk mendeskripsikan duka ia, sampai aku merasa "oh ya at the same time G. Tsahara is so weak and strong like me", gimana ya melihat penokohan G. Tsahara ini aku ngerasa kayak "ahh ternyata aku kayak gini ya", but its good kak karena artinya aku tertampar hehe. and then, for Malik, he is not my type. he is so mature, his mind and his behaviour. mungkin karena aku melankolis and im childish too, aku lebih suka cowok yang usil dan membawakan kebahagiaan in unique way. dan karena karakter Malik yang kurang cocok di aku, ini berpengaruh pada alur yang membosankan pada awalnya, saat halaman 200 akan terasa hangat, hangat tanpa perlu puitis, hangat seperti rumah nenek dengan beribu kenangannya. BTW KAK KENAPA SERU NYA PAS TERAKHIR SIHHHH 😵🖐🖐
im trying to be honest, setiap baca PIOH ada perasaan aneh yang ga aku bisa deskripsikan, yang ga aku temuin saat baca buku yang lain, i think its a compliment from me.
from this book, i can learn how to love someone in mature way, maybe someday. thanks udah tulis buku ini kak, semoga hari kak kith dipenuhi kebahagiaan 🎀🧸
Poetry in Our Heads deserve to be everyone's favorite. Cukup susah bagiku sekarang untuk kasih full star ketika membaca. Tapi ketika baca ini, bahkan belum habis bukunya aku udah yakin untuk kasih 5/5!!
Yang aku rasain selama baca ini tuh capek, capek banget. Karena aku merasa tokoh Tsahara ini miriiip banget diri aku sendiri. Even nyaris secara keseluruhan cerita. Karena hal ini juga terkadang aku butuh tutup bukunya sebentar untuk take a break karena beberapa hal mengingatkan aku pada hal hal yang udah aku alami. Jadi aku bener bener bisa masuk ke cerita dan paham akan segala jenis emosi yang Tsahara rasain.
Tsahara ngga pernah mau dipanggil Greta, karena menurut dia, orang orang bakal ninggalin dia dengan nama itu. Tsahara tumbuh jadi sosok yang takut akan kehilangan, terlebih semenjak bundanya tiada. Tapi aku suka dengan perkembangan karakter dia dari yang tadinya menutup diri jadi lebih terbuka saat dia kuliah, lagi lagi kaya ngeliat diri sendiri..
In another side, Malik juga didewasakan secara paksa oleh keadaan semenjak ditinggal ayahnya, selamanya. Malik pernah punya seseorang, seseorang yang ia beri cinta begitu besar tak lupa mawar merah yang akan selalu dia beri setiap hari selasa, seseorang yang menjadi pengalaman pertama untuk Malik. Tapi sayangnya, dua iman yang berbeda sampai kapan pun ngga akan bisa jadi satu. *now playing: Mangu 🎶
Sampai takdir mempertemukan Malik dengan Greta, seseorang yang memiliki duka sama sepertinya.
Bentar, switch gaya bahasa dulu. Nah, kira kira seperti itu lah gambaran ceritanya guys. Kisah mereka cukup complicated, tapi mudahnya kisah mereka ini seperti perwujudan "in another life," yang know know azzah 🤓🖐🏻
Sebenernya aku merasa perkenalan mereka ini terlalu cepat dan jatuhnya si Malik ini aga annoying karena aga sokab gitu ya. Tapi lucu banget ih modusnya minta ajarin buat resensi buku buat lomba, walau di akhir nanti ternyata ada kejutan tentang ini HAHAH Terus ini tuh font nya kecil kecil buangeet sayangnya, tolong dibesarkan tidak bisa kah ini dear Kune 😭☝🏻 tapi tapi banyak ilustrasinya gitu aku sukaa 😍🫶🏻 gaya bahasanya juga tipe aku banget ih intinya AKU CINTA PIOH 🫶🏻⭐️🫶🏻⭐️🫶🏻⭐️🫶🏻 WITH ALL OF MY HARTTT HUHUU. Definisi buku yang ini aku banget oemjii. Banyak pake kalimat puitis gitu, judulnya aja "Poetry" ya. Dan sebagai manusia pemuja metafora aku mau bilang lagi AKU CINTA PIOH 🤩🫰🏻🤩🫰🏻 udahan ih udahan bahas yang lain Tapi jujur aku agak kaget awalnya ketika pov nya tiba tiba switch ke Malik karena sebelumnya masih dari Tsahara. Bedanya cuma di kata ganti orang pertamanya aja antara "aku" sama "saya." Untuk konflik yang ada menurutku udah diselesaikan dengan baik ya terlebih masalah Tsahara sama ayahnya walau harus nunggu si Tsahara "begitu" dulu. Dan dann aku suka dengan bagaimana mereka itu menjalani sebuah hubungan, beuh adem banget bacanya. Emang pasti ada konflik tapi pasti dikomunikasiin gitu lho sama mereka walau sometimes mereka butuh waktu sendiri dulu. Hoho aku suka karakter yang dewasa begini 😎 galuh approved Hal lain yang aku suka itu banyak ilustrasi lucu di bukunya, another point plus ⭐️⭐️ Ya Allah perbanyak manusia seperti Malik di bumi ini ya Allah 🤲🏻 siapa yang ngga bakal kecintaan sama manusia modelan Malik ini. Udah mana pinter, BACA BUKU, family man, BACA BUKU, mahasiswa yang aktif, main kamera, kurang apa lagi... KURANG NYATA eh ada sih, langka banget tapi Banyak sekali hal yang bisa diambil dari sini, salah satunya ya tentang topik utama di sini which is gimana kita menyikapi duka. Bahwa dengan adanya duka, jangan membuat kita enggan untuk menjalani hidup ini. Hidup masih terus berjalan, jangan pernah sia siakan ketika kamu masih diberi waktu. Udah deh ini udah panjang kayanya. Untuk kalian semua yang juga sedang dalam perjalanan mencari terang dan ingin keluar dari gelap, semoga kalian dipertemukan dengan sosok Malik Wartana yang tak hanya membawa lilin, tapi juga merangkul dan membersamai langkah kalian hingga terang yang ada di luar sana dapat kalian rasakan bersama
────୨ৎ──── Such a beautiful writing, beautiful story too... Dua insan yang sama-sama menyimpan duka, dipertemukan oleh takdir yang membuat mereka tumbuh bersama—bigger than that grief.
ᯓ★ Malik Wartana, laki-laki yang terbiasa menanggung segalanya sendiri, memikul beban tanpa membiarkan orang-orang terdekatnya tahu. Ia selalu berusaha melihat dunia dari sisi yang positif, sampai kadang hal-hal tersebut justru berbalik melukainya. Sementara itu, ada Tsahara, gadis yang tumbuh dalam bayang-bayang kehilangan setelah bundanya pergi. Tsahara melihat dunianya begitu kelam, mendorong dirinya untuk tidak bergantung pada siapapun, sekaligus menjauhi orang-orang agar tak perlu kehilangan lagi untuk kesekian kalinya.
ᯓ★ Hubungan Malik dan Kalisa mulai merenggang sejak Malik diterima di Universitas Indonesia. Kesibukan kuliah, organisasi, dan kekhawatiran soal ekonomi membuatnya semakin jauh. Kalisa yang merasa diabaikan mulai mempertanyakan kehadiran Malik dalam hidupnya, sering kali terlihat seperti mengemis waktu dan perhatian. Keduanya semakin jarang berkomunikasi, terjebak dalam ketidaktahuan masing-masing. Kalisa tak mengerti kekalutan Malik, dan Malik menolak berbagi bebannya.
ᯓ★ Di sisi lain, Tsahara diam-diam sudah mengenal Malik sejak pertama kali menginjakkan kaki di Depok. Ada sesuatu dalam pemikiran Malik yang membuatnya melihat hidup dengan cara yang berbeda. Awalnya hanya sekilas, tapi tanpa disangka, mereka berjalan dalam garis takdir yang sama. Terlalu banyak kesamaan yang membuat mereka cepat menjadi teman baik, terutama dalam kecintaan mereka terhadap buku. Bersama Malik, Tsahara menemukan seseorang yang berani membawanya menuju terang, melalui ajakan paling absurd: jatuh cinta bersama-sama.
ᯓ★ Alur cerita ini tersusun begitu rapi. Tiap kalimatnya sukses bikin aku berkaca-kaca, terutama saat menggali latar belakang kedua tokohnya, khususnya Tsahara. Ia selalu merasa dirinya terlalu rumit untuk dimengerti, terlalu sulit untuk dicintai. But Malik, Malik came and made her believe that she’s worthy of love, that she deserves more than what she’s been giving herself. He helped her find the light she’s been searching for.
ᯓ★ Sebaliknya, Tsahara juga melakukan hal yang sama untuk Malik. Ia hadir sebagai tempat berbagi—sesuatu yang sebelumnya tak pernah Malik bayangkan akan bisa ia lakukan. Tsahara mengajarinya untuk lebih mencintai diri sendiri, untuk berani menerima kenyataan bahwa ia tak harus selalu menanggung segalanya sendirian. I really loveeee this book! The way Malik always compliments everything Tsahara does, and how Tsahara stays by his side no matter how hard it gets. They’re really meant a lot to be together.
As an AU reader on X, I've been catching my eyes on Kith's story, she got a vibe that i deadly want to match :p (tbh she is living in another world ig). Awalnya aku hook up sama cerita pertamanya, yaitu "Midnight in December" yang aku baca versi AU nya di X, dan dari situ aku penasaran kenapa Malik (atau beberapa cowok yang aku rasa relate di kehidupan aku) gapernah coba komunikasiin hal apa yang memberatkan langkahnya, justru memilih menghilang lalu kembali lagi di saat keadaan di antara kita sudah merenggang.. classic right?
Saat AU Poetry In Our Heads muncul dan menceritakan kisah dari kacamata Malik dan kehidupannya, aku excited banget untuk bacaaa. Ternyata instead of soft pink kind of thing, buku ini lebih mature daripada MID dengan warna coklat maroon. Oh! Itulah mengapa, karena memang disini ceritanya lebih mature daripada MID.
Grief is confusing dan selalu bikin orang jadi 'orang lain'. Ternyata Malik acted that way karena dia memang gamau kesulitannya di luar sana membebani orang-orang terkasihnya, itu adalah bahasa cintanya yang kadang di salah kiprahkan. Makanya dia gabisa bareng kal yang merasa susah senang harus di rasakan bersama.
Aku ga percaya sama red string theory until i read this book... Malik bertemu Tsahara yang sama sepertinya. Definisi sama. Mereka berdua sama-sama growing around the grief, mengasihi dan menghiasi luka yang tlah lama terlupakan, dan saling menyimpan satu sama lain dalam larik-larik puisi. They are match made in heaven! Aku bener bener suka sama plot twist yang ada di buku ini, jarang aku jumpai di buku lain, oh how i love this book T_____T
Referensi dan inspirasinya pun bagus, karena selain berbicara tentang puisi, grief, dan romance, ada juga historis yang gabisa di lupakan, yaitu saat Adam dan Julia hidup dalam masa kelam itu, yang juga memberi sedikit bayangan bagaimana kebebasan berekspresi masih sangat minim, bahwa membeli suatu buku saja harus 'bermain di bawah tanah', juga bagaimana seorang pengunjuk rasa di cap oleh sekitarnya.
Aku bener bener ngikutin AUnya sampe selesai (mungkin di tahun 2024 atau 2025?), and this story is living rent free in my head since then... sedihnya aku ga beli novel versionnya... gajadi sedih deh karena di perpustakaan sekolah baruku mengoleksi novel kak kith dari Midnight In december sampai Poetry In Our Head ^___^ (shotout to perpustakaan SMKN 2 Cikarang Barat)
P.S. I truly looking for your next romance story a.k.a Beyond The Lilies Door. I need to know what happened next between Laila and Gharza, so if you accidentally read my review, PLS UPDATE UR AU ASAPPPPP (aku udah nungguin loh dari tahun lalu?????)
sejujurnya aku baca buku ini atas rekomendasi teman, dan karena aku juga udah baca midnight in december juga sebelumnya. so yeah, i wanna know Malik’s POV too.
buku ini menceritakan tentang Malik dan Tsahara, dan tentang ‘apakah kedua orang yang sama-sama mengalami grief bisa bersama?’
sejujurnya awal-awal, aku merasa cukup sulit untuk get into this book karena penggunaan “aku-saya-gua” yang digunakan sekaligus. paham sih kalau itu untuk nunjukkin POV berbeda dan lebih untuk membedakan saat melakukan percakapan, but personally feels like too overwhelming di awal karena too much. (idk but it also feels awkward and unnecessary)
karna ada bagian di mana Malik prefer to speak with ‘aku’ (with Tsahara) dan jadi bingung what’s the point of using ‘saya’.
the plot was okay, it feels warmth and feels like a love where two people slowly fell in. their love is undeniably warmth and every words of them are poetry.
the concept and how it aligns the title was good. walau ada beberapa adegan yang menurutku too awkward and kind of ‘apa sih’. *sorry*
tapi menilai dari buku sebelumnya, i can see so much improvement dan tulisan-tulisan di buku ini bener-bener ditulis secara carefully and beautifully.
kalau disuruh deskripsikan tentang apa: buku ini tentang 2 orang yang memiliki duka (grief) dan memutuskan untuk bersama. tapi pertanyaannya apakah seseorang dengan duka berhak untuk memulai sebuah hubungan?
buku ini seperti romance dimana cinta mereka terasa kayak secangkir teh hangat. dimana cinta itu dinikmati perlahan-lahan sangat hangat, dan cinta mereka bukan sesuatu yang menggebu-gebu. tapi lebih ke hangat layaknya rumah.
overall it’s great, and honestly a well-written for au book.
No doubt, this book is beautifully written, the word choices are very elegant, trust me! But sorry, it just wasn’t for me.
I struggled to feel the chemistry between the characters. Many people say Malik is a “green flag,” and yes, he is. But when I looked at their romantic journey, Malik is the kind of character I wouldn’t like in real life because he expresses too many romantic words to the point that it almost feels cringeworthy. If I were in Tsahara’s position, I would feel quite scared. Why? Even before they had any kind of relationship, he was already asking for permission to kiss Tshara. So the romance didn’t feel smooth.
The same goes for Tsahara and her friend, Kala. I didn’t really see a strong bond between them, so when Kala was said to have passed away, it felt more like a decorative element rather than something emotional.
However, what I did like is that both of them are very mature when it comes to relationships. Tsahara makes Malik her first relationship while knowing the fact that Malik had a long history with Kal in the past. This also makes her close to Malik’s family, including his grandmother and mother.
But Tsahara understands the situation very well and doesn’t feel jealous at all, which is something often needed in building a relationship - mutual understanding.
Overall, I found it difficult to enjoy the story because the chemistry between the characters felt off. Even so, I like Kith’s writing style and decided to buy her first book, Midnight in December.
Menceritakan kisah dua orang yang diselimuti oleh duka, bernama Malik Wartana dan Greta Tsahara. Malik yang bertemu dengan Tsahara membuat Malik mengerti apa itu grief, karena mereka masih diselimuti oleh duka. Betapa manisnya pertemuan Malik dan Tsahara yang sebenernya udah tau satu sama lain, tapi mereka ga kenalan aja. Setelah pertemuan Malik dan Tsahara yang akhirnya mereka jadi dekat, gimana lucunya Malik yang ngasih christmas gift ke Tsahara dan lucunya Malik yang ngajak Tsahara untuk jalanin misi jatuh cinta sama-sama.
𓆝 𓆟 𓆞
Diantara MID dan PIOH, PIOH beneran masterpiece. Cara tulisan dari penulis di novel ini beneran dibuat rapi dan cantik yang akhirnya bikin enak dibaca. Alurnya pun seru banget, bikin ga kerasa kalo udah tamat. Selain cover dan tulisan yang cantik, di novel PIOH ada ilustrasi yang akhirnya ngebuat novel PIOH makin cantik sekali. Semua yang ada di novel PIOH beneran cantik banget. Gimana mereka berdamai dengan duka, proses pendewasaan, dan gimana mereka menerima semua keadaan. Malik selalu usahain semuanya untuk Tsahara ketika Tsahara merasa untuk mundur dan ngehindarin Malik. Aku suka gimana Kith menuliskan narasi dibuku ini, narasi yang beneran indah banget.
What a beautiful you used word, i drowning in this beautiful book. Novel berwarna maroon ini jadi salah satu novel favorite dan jadi novel kesayanganku
I give 5 stars for your book kith. Aku puas banget dari semua konflik yang diceritain di buku ini.
I love the way Greta and Mailik are portrayed. The main characters are given a picture of joy and sorrow that is not that simple. Penggambaran situati kebahagiaan dibuku ini sangat sederhana tapi impecnya ke pembaca bener bener berharga. Kesedihan diceritakan sangat detail sehingga pembaca terasa ikut hidup didalam cerita.
Sisi lain perempuan dan laki-laki juga merupakan fokus yang ga kalah penting dinovel ini. Dimana sosok Greta sang perempuan yang bisa mementingkan dirinya dalam hal-hal kecil, meski semua adalah imbas dari masalalunya adalah hal yang apik, karna bisanya perempuan akan digambarkan dengan perasaanya yang selalu megutamakan orang lain. Terus setiap baca part tentang Greta dan kehidupannya yang sendiri I WANT IT TOO. Aku suka cara Greta melalui harinya, minum teh, baca buku, denger musik, berdiam diri diapartemnnya. Aku suka hal-hal sederhana seperti itu.
Dan ada part favoritku di buku ini, part dimana Greta baca buku harian ibunya. Tentang Julia dan Adam yang tidak mampu menjemput Greta Tsahara bersama. Tentang buku Pram yang tak mampu mereka baca saat situasi sudah aman. Julia dan Adam memang tak mampu mewujudakan kisah mereka. Tapi mereka berhasil bereinkarnasi dan menjemput cinta mereka melalui Malik dan Greta.
Semua hal didunia ini tenyata sudah ada tempat, waktu, dan porsinya. Kalau belum menemukan orang-orang baik disekitarmu pasti mereka ada di tempat lain. Kalau belum menemukan kebahagiaanmu sekarang pasti itu ada dilain waktu. Kalau kau tak bisa bersama diwaktu ini, pasti ada waktu lain yang menunggu untuk mempertemukan.
Giving it 4 stars because actually I have high expectations of the book. I read the AU first and not gonna lie, it's well written and I got a lot of lessons, especially about grieving and maturing from the story, that's why I have high expectations for the book. Yet, I feel like the plot was being rushed. I expect it to be more elaborated in the book. Nevertheless, the book is still worth reading! It’s well written and I love how Kith described and more focused on the surroundings and the act between the characters instead of dialogs. I also can learn so much from Malik and Tsahara by the way they saw life, their thoughts about life, how to be mature, and how to grieve. I learned that everyone has their own way of grieving.
But I regret the font size of the book, it’s too small compared to other books that sometimes made my eyes tired when reading :(
Good job on this book, Kith. I’m waiting for your other books to come in the future!
Selalu kagum dengan orang yang bisa menulis dengan cantik dan menyentuh pembacanya dan kak kith salah satu penulis itu. Poetry In Our Heads, judulnya menarik pol, jadi ngerasa kalau ini bakal jadi buku yang nge sastra banget. Sebelum baca ini aku udah baca Midnight In December dan aku kesel banget sama Malik disitu tapi pas baca dari sudut pandang Malik seketika rasa kesel ku ilang gitu aja.
Tulisan Kak Kith menurutku bener bener punya vibe yang sendu dan sedih yang buat aku bener bener tenggelam sama perasaan Malik maupun Tsahara, pokoknya aku baca ini serasa jadi Malik ataupun Tsahara deh.
Terus Kak Kith juga beberapa mention, ga beberapa juga si, tentang buku Pulang dan Namaku Alam yang buatku aku penasaran dan setelah aku baca, ya aku ngerti apa yang sekarang Malik dan Tsahara bicarakan. Rasanya aku ikut membicarakan tentang isi buku Pulang bersama Malik dan Tsahara.
buku nya bener bener secantik itu tulisan yang ada di dalamnya juga mampu membawa kita untuk masuk ke dalam buku ini. poetry in our heads mengajarkan kita tentang takdir dan kehidupan yang akan kita lalui kedepannya, suka banget sama karakter Malik dan Tsahara, mereka saling melengkapi satu sama lain, banyak duka yang mereka rasakan namun mereka bisa melaluinya secara perlahan lahan dan mengikhlaskan apa yang terjadi. heartwarming story, bukannya cuma romance. cocok di baca sambil minum teh atau kalau kepala lagi berat. semoga ada sequel nya tentang kehidupan Malik dan Tsahara kedepannya, terimakasih Kith sudah menciptakan buku seindah ini, GBU!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sejujurnya, gua beli buku ini pure karena liat cover merah maroonnya yang menarik banget di marketplace, plus judul "Poetry in Our Heads" bikin gua penasaran. Gua kira ini bakal jadi buku puisi atau kumpulan quotes aja, eh ternyata novel. And honestly, I don't regret checking out without even knowing what it’s about.
Pas baca, gua bener-bener gabisa berhenti. Somehow, gua ngerasa ada bagian-bagian dari Malik yang mirip banget sama gua, especially soal hubungan dia sama Kal. A three-year-long interfaith relationship that had to end… it hits me so hard.
Dan btw, pas masuk dua chapter terakhir, badan gua merinding parah, padahal disini lagi panas-panasnya. Pokoknya baca buku ini, worth every second! And I hope I meet my Greta Tsahara.
This entire review has been hidden because of spoilers.
i love kith writing. beautiful. i love the way character malik nforting tsahara cause always feel being lefted. how's malik comforting her when she is overthinking, hard on herself, and i love it how the way malik being his self when with her, prioritize her on anything. and malik have a many words affirmation for tsahara. he did it cause she deserved it.
malik always on her side. they are show me how the healthy realationship works start from they have same a grief. and grief made them bigger.
oh! notes, this book from au and the cast for malik is mark lee from nct
speedrun buku ini setelah beli minggu kemarin. pertama tama, aku suka sekali dengan penokohan setiap karakter dalam ceritanya. aku suka tsahara dan malik yang bener bener komplemen dengan satu sama lain. terus pace ceritanya juga nggak terlalu cepat, semakin dibaca jadi semakin menarik, banyak hal yang terkuak di bab bab akhir buku ini. secara keseluruhan, menurut ku ini buku yang bagus. bahasanya ga terlalu berat, emosinya juga dapet. I love this book as much as Tsahara & Malik love each other, Kak Kith <3
Aku kagum sekali dengan penulisan Kith di buku ini. Dari pertama kali membuka buku dan membaca halaman demi halaman, hal pertama yang aku rasakan adalah kehangatan. Bukan hanya dari gaya penulisannya, tapi juga dari hubungan yang terjalin antara Malik dan Tsahara. Bagaimana mereka melalui berbagai hal bersama dengan cara berpikir yang cukup dewasa, membuat ceritanya terasa tenang tapi tetap mempunyai makna yang dalam.
And the plot twist?! Benar-benar menjadi bukti bahwa mereka ditakdirkan untuk bersama.
Halo kak Kith, thank you for writing such a wonderful book yaa! Pas baca bukunya ikut tenggelam rasanya. Ikut ngerasain perasaan senang, sedih, marah waktu membaca bukunya. Buku dan tulisan kak Kith cantikkkk sekali 💓. Tetapi, kekurangannya font hurufnya terlalu kecil apalagi untuk yang matanya minus sepertiku, jadi agak sedikit gak nyaman bacanya kalau malam hari, but so far sooo good kok kak! 😆🌟
i really love your book, kith. aku udah suka banget sama kisah tsahara dan malik sejak kamu post au-nya di twitter tapi at some point, aku sedikit terganggu dengan beberapa kekeliruan dalam penulisan seperti tanda kutip penutup yang tidak ada di beberapa dialog sampai ada beberapa huruf yang tidak ikut miring pada beberapa kata yang memang dibuat italic. sangat menunggu karyamu selanjutnya karena aku suka sekali penyusunan kalimatmu.
Aku baca nya di AU sih meskipun re-read emg seseru ituu, kata katanya cantikk, I love Malik Wartana so much, and I love Greta Tsahara's character too. Both of them are the definition of the right person at the right time. They both survived through grief. The way Kith talks about grief, about what we should do and how to walk through it—it hits deep. It gave me a whole new perspective as an adult. Thank you, Kith, for making me want to grow gently, slowly.
kak kith, i really like how you write your books ongg! tapi bagi aku, lumayan susah buat mahamin apa yang terjadi sebenarnya bcs di pertengahan tuh.. kayak complicated bgt. but overall aku sukaa bangett sama penulisan karakternya, especially Malik! wish i could find my Malik Wartana in rl 🥲 aku sukaa background dari Malik n tsahara, memang ditakdirkan bersamaaa!! tapi please.. pengen banget lebih banyak moment avengers HI didalam bukunyaa 🤍
bukunya bagus banget. this was literally my first time reading kith’s writing, and i genuinely love it. the writing is so good, and i love the plot of the story. honestly, i’m not really a sastra-book reader like Malik or Tsahara, but after reading this book, i started to feel interested in reading more sastra books. menurut aku, dari segi cerita there’s nothing lacking at all. maybe the only small note is the font size could be a bit bigger❤️
As anak UI baca ini butterfly effect nya dapet banget, makin bisa imagine karena crush aku juga persis bgt kayak Malik. Aktivis. Sangat suka dengan penulisan nya, banyak banget pelajaran yang bisa di ambil, terutama untuk kaum wanita 🥹. I cry a lot and laugh a lot at the same time. Would recommend this book!🌷
Minus nya menurutku font di buku nya terlalu kecil huhu, jadi kurang enak untuk di baca lama²🥲
Overall its a unique storyline and i loveeeee it. Kak kith puts beautiful words as usual jd kesannya cantik dan punya ciri khas sendiri, esp buat karakter2nya.
Aku cuma menyayangkan font yg kayanya agak kekecilan, cetakan dalemnya miring dan hard cover samping2nya agak penyok (atau aku aja ya yg kebetulan dapet gini) but its all good^_^
ini buku sedih tapi bukan yang bikin mewek, aku suka karena penulisan + kata² yang digunakan sangatt cantiik dan ngena di-diriku. jujur pas aku annotate this book, banyak banget hal² penting yang aku tab. maybe I will call this "every gengsi girl, needs their supportive boy". Malik is a boyfriend material (´∩。• ᵕ •。∩`)
"In another life, we will meet again and our story will be a happy ending". Yap itulah kira-kira gambaran dari buku ini yaa, kisah Malik dan Tsahara ternyata tidak sesederhana itu. Tidak seperti kisah percintaan antar Mahasiswa Fisip UI, kisah mereka lebih dari itu. Aku bener-bener amazed sama kata-kata yang tertoreh di buku ini, bener bener WaWww.
THIS BOOK IS ACTUALLY EVERYTHING TO ME 😭😭😭 i’m not even joking when i say this is my FAVORITE book EVER. i was screaming, highlighting, rereading, and just sitting there like “yeah this book gets me.” every page felt personal and i never wanted it to end. i will defend this book with my life and i’m 100% rereading it again and again.
pertama kali nemuin plot twist kayak gini uwaw bisa kepikiran gitu ya ahhahah ceritanya sangat amat heartwarming, sukaaaa! namatin ini setelah satu hari munaqosyah jadi thanks sudah menjadi penghibur 🥲
so far, it was the best romance novel i've ever read.. MALIK WARTANA WHAT KIND OF MAN U AREEEEE WAHHSHABAKJSBSBSH tsahara juga... she was so pure... I WISH MRK NYATAAA HMZMZMZM. Penulisan bukunya jg indah banget.... kith emg gaperna gagal kl nulis...
kurang rasa, terlalu rapih narasinya, aku gak benci bahasa Indonesia campur inggris, cuman. contoh dialog kal sama malik bahas grief, bahas duka jadi gak ada rasanya, terlalu teknis. bagian tsahara sama sahabat pun, beda dengan tsahaea sama ibunya, tanpa metaforis, penjelasan. tapi kena