What do you think?


Nak, Kamu Gapapa, Kan?
Pernah gak ingin bersuara, tapi sudah tahu tidak akan didengar? Bukannya tidak berani bersuara, tapi aku terbiasa disepelekan.
Pak, Bu, andai kalian tahu, aku hanya ingin didengar. Aku hanya ingin merasakan suasana rumah yang hangat. Aku hanya ingin ada foto keluarga kita terpajang di rumah. Namun, rumah yang seharusnya jadi tempat yang nyaman untuk pulang, malah terasa asing untukku. Tidak ada yang mau mendengarku. Tidak ada yang menemaniku saat aku tumbuh. Aku sendirian. Sepertinya aku memang tak sepenting itu untuk kalian.
Pak, Bu, andai kalian tahu, aku hanya ingin didengar. Aku hanya ingin merasakan suasana rumah yang hangat. Aku hanya ingin ada foto keluarga kita terpajang di rumah. Namun, rumah yang seharusnya jadi tempat yang nyaman untuk pulang, malah terasa asing untukku. Tidak ada yang mau mendengarku. Tidak ada yang menemaniku saat aku tumbuh. Aku sendirian. Sepertinya aku memang tak sepenting itu untuk kalian.
164 pages, Paperback
Published June 13, 2024
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
January 25, 2026
Entah sebuah kebetulan atau bukan, tapi semua tulisan dan penggambaran dalam buku ini adalah hal yang selama ini selalu berputar dalam pikiran dan batinku. Aku sangat berterima kasih kepada sang penulis karena sudah mewakilkan apa yang aku sangat amat ingin ungkapkan tapi selalu tertunda karena perasaan takut yang tiada henti. Satu hal terakhir, setelah membaca buku ini aku merasa aku tidak sendirian dan banyak orang diluar sana yang mungkin sama dengan kondisiku 2-3 tahun kebelakang. Terimakasih untuk tetap hidup untuk diriku dan orang-orang yang mengalami kondisi sepertiku 👊🏻
September 6, 2026
Nak, Kamu Gapapa, ‘kan? merupakan buku debut karya Mas Koko Ganteng di Gradien Mediatama. Sebagai buku debutnya, penulis berhasil memproyeksikan bagaimana kehidupan yang sepi dan penuh kesendirian. Buku ini memiliki lima bab yang masing masing mendefinikan sebuah makna ‘kesepian’ dari berbagai bentuk dan situasi.
Penulis menggambarkan definisi ‘sepi’ dari berbagai aspek yang dekat dengan para pembaca muda, seperti ketidakhadiran keluarga, pasangan, bahkan pertemanan. Pada bab pertama, penulis menceritakan bagaimana karakter Aku selalu ‘dinomorduakan’ oleh orangtuanya. Ia merasa tidak sepenting kedua saudara lainnya. Efek dari perasaan yang terpendam itu membuat tokoh Aku menjadi kesulitan dalam berkomunikasi dan menyampaikan perasaan yang ia miliki. Bab 3 dan bab 4 menceritakan efek dari perasaan-perasaan yang dipendam oleh tokoh Aku kemudian menjadi dampak bagi kehidupannya.
Di bab 3, diceritakan bahwa tokoh Aku lebih memilih pergi meninggalkan sosok yang ia cintai daripada harus merasakan sakitnya ‘ditinggal duluan’. Di bab 4, diceritakan bagaimana tokoh Aku memiliki rasa takut atas hal-hal yang belum ia capai. Ia membanding-bandingan dirinya dengan pencapaian orang lain, serta ia memandang ‘mudahnya’ hidup orang lain dibandingkan dirinya.
Tokoh Aku juga diceritakan mengalami rasa takut akan ketinggalan terhadap pencapaian teman-teman atau orang disekitarnya. Seperti bagaimana ia terus membanding-bandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain, serta bagaimana ‘mudahnya’ hidup orang lain dibandingkan dirinya. Ia merasa tidak pantas untuk mendapatkan mimpinya karena orang-orang disekitarnya tidak ada yang mendukungnya, bahkan mencemoohnya.
Meskipun begitu, pada bab 5 tokoh Aku mengalami perubahan. Semakin ia pikirkan orang lain, semakin lelah dirinya. Maka, pada bab 5 ia memutuskan untuk mencintai dirinya. Ia mulai belajar bahwa ketakutan-ketakutan yang ia miliki sebelumnya memang harus dilalui, tidak ada guna jika terus menghindarinya. Bab 5 ini membuat pembaca jadi merefleksikan dirinya, apakah kita sudah mensyukuri apa yang kita miliki hari ini? Bagaimana jika kita coba lagi esok hari, daripada hanya menyesalinya tiap hari?
Penulis menggambarkan definisi ‘sepi’ dari berbagai aspek yang dekat dengan para pembaca muda, seperti ketidakhadiran keluarga, pasangan, bahkan pertemanan. Pada bab pertama, penulis menceritakan bagaimana karakter Aku selalu ‘dinomorduakan’ oleh orangtuanya. Ia merasa tidak sepenting kedua saudara lainnya. Efek dari perasaan yang terpendam itu membuat tokoh Aku menjadi kesulitan dalam berkomunikasi dan menyampaikan perasaan yang ia miliki. Bab 3 dan bab 4 menceritakan efek dari perasaan-perasaan yang dipendam oleh tokoh Aku kemudian menjadi dampak bagi kehidupannya.
Di bab 3, diceritakan bahwa tokoh Aku lebih memilih pergi meninggalkan sosok yang ia cintai daripada harus merasakan sakitnya ‘ditinggal duluan’. Di bab 4, diceritakan bagaimana tokoh Aku memiliki rasa takut atas hal-hal yang belum ia capai. Ia membanding-bandingan dirinya dengan pencapaian orang lain, serta ia memandang ‘mudahnya’ hidup orang lain dibandingkan dirinya.
Tokoh Aku juga diceritakan mengalami rasa takut akan ketinggalan terhadap pencapaian teman-teman atau orang disekitarnya. Seperti bagaimana ia terus membanding-bandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain, serta bagaimana ‘mudahnya’ hidup orang lain dibandingkan dirinya. Ia merasa tidak pantas untuk mendapatkan mimpinya karena orang-orang disekitarnya tidak ada yang mendukungnya, bahkan mencemoohnya.
Meskipun begitu, pada bab 5 tokoh Aku mengalami perubahan. Semakin ia pikirkan orang lain, semakin lelah dirinya. Maka, pada bab 5 ia memutuskan untuk mencintai dirinya. Ia mulai belajar bahwa ketakutan-ketakutan yang ia miliki sebelumnya memang harus dilalui, tidak ada guna jika terus menghindarinya. Bab 5 ini membuat pembaca jadi merefleksikan dirinya, apakah kita sudah mensyukuri apa yang kita miliki hari ini? Bagaimana jika kita coba lagi esok hari, daripada hanya menyesalinya tiap hari?
March 6, 2025
To whoever wrote this 'book', go touch some grass. Bukan malah merasa menjadi orang paling menderita di dunia.
In one page he said, "Aku ingin jadi seperti mereka yang tanpa banyak usaha bisa mendapatkan apa yang bisa mereka inginkan."
Udah kayak dia sendiri aja yang paling usaha keras. Pantes gelisah terus, irian sih 👎👎👎
In one page he said, "Aku ingin jadi seperti mereka yang tanpa banyak usaha bisa mendapatkan apa yang bisa mereka inginkan."
Udah kayak dia sendiri aja yang paling usaha keras. Pantes gelisah terus, irian sih 👎👎👎
December 23, 2025
Sebuah catatan paling dalam tentang kehilangan susuk yang disayangi. Setiap orang punya cerita masing-masing. Mungkin catatan ini akan memberikan sedikit pujukan atau paling tidak perkongsian yang menunjukkan bukan kamu seorang yang kehilangan.
June 24, 2025
Twice to read it and still cry.
Too relate to my life
Too relate to my life
Displaying 1 - 5 of 5 reviews





