Pelangi waktu malam adalah sebuah kemustahilan, seperti luka yang tak mungkin kita lupakan rasa sakitnya.
Sapta mesti menelan fakta bahwa sahabatnya, Tobias, bunuh diri. Padahal Tobias yang dia kenal adalah sosok yang penuh hidup. Di dalam surat-surat yang ditinggalkannya, Tobias menuliskan borok mengerikan yang dia simpan rapat-rapat dalam dirinya.
Di kisah lain, Ayana melarikan diri ke Bandung setelah menggugat cerai suaminya di hari ulang tahun pernikahan mereka. Di sana, dia bukannya menyembuhkan trauma, malah bertemu Ezra, cinta pertama yang tak akan siap diterima oleh hatinya.
Pada hari jadi mereka yang ke-8, Nalu ditinggalkan kekasihnya, Praya. Kilasan indah masa lalu tak sanggup membuat keduanya menyelamatkan cinta yang setengah mati diperjuangkan. Praya pergi, tanpa pernah tahu apa yang sudah Nalu siapkan untuk masa depan mereka.
Pada cerita terakhir, Hana memberanikan diri untuk duduk di depan kamera, mengulang malam mengerikan yang telah merenggut bagian berharga dari dirinya, dan juga hidupnya. Hana tahu, malam itu akan memenjaranya untuk selamanya.
Empat cerita, empat penulis, empat luka. Ini tentang kisah yang terlambat disuratkan, tentang mereka yang pernah hampir bahagia, tentang impian yang hancur sebelum sempat dibangun, juga tentang pagi yang tak akan pernah tiba.
Pelangi Waktu Malam merupakan sebuah buku yang berisi empat cerita yang ditulis oleh empat penulis. Setiap cerita menawarkan kisah penuh luka yang akan membuat hati pembacanya ikut remuk.
Ini keempat judulnya: - To be Tobias - Kita Pernah Hampir Bahagia - Kilasan - Pagi Yang Tak Pernah Datang
Dari keempat cerita di buku ini aku gak bisa milih mana yang paling disukai. Semua ceritanya membekas, dibeberapa bagian aku sampai nangis. Gak kuat bacanya. Sakit banget apa yang dialami tokoh-tokohnya.
Para penulis di buku ini berhasil menyajikan sebuah buku yang sepertinya memang dirancang buat bikin pembaca nangis, kesel, marah, pokoknya bikin emosi campur aduk.
Aku juga suka setiap penulis punya gaya berceritanya masing-masing yang unik tapi terasa menyatu di buku ini.
Bagus banget. Cerita pertama sudah mengoyak hatiku. Lemah aku. Cerita kedua kerasa emosinya, sesuatu yang berat. Cerita ketiga mungkin gak terlalu, tapi kayaknya bakal banyak pembaca yang relate. Cerita keempat gongnya. rasanya meledak dan kerasa sesak, tiba-tiba nangis dan ya, ditutup dengan cukup. Aku juga suka bagaimana tiap cerita ditutup.
buku ini menceritakan 4 kisah berbeda tentang bagaimana luka tiap orang dan gimana hal tersebut berefek dalam hidupnya.
aku jujur baca ini tanpa ekspektasi apa-apa dan suka banget. walaupun cerita pendek, tiap penulis berhasil menyalurkan rasa pilu dan sedih di tiap cerita.
walaupun cerita pendek, buku ini berhasil membekas dalam hatiku, dan bikin aku sampai nangis terutama di cerita terakhir.
untuk yang tertarik baca, please beware of the trigger warning :)
Kumcer ini terbagi menjadi empat cerita dari empat penulis. Masing-masing cerpennya berisi luka. Yah, definisi hidup selalu memiliki luka, tak luput dari cobaan. Buku ini terlalu menyayat perasaan hingga ke rongga dada. Kumcer ini bukan kumcer yang enteng dan membuat pembaca merasa senang, tapi cerpen ini memiliki banyak makna yang bisa dipelajari dan mungkin terjadi di kehidupan sekitar.
Dimulai dari cerpen pertama, To Be Tobias. Tentang Tobias yang merasa hidupnya tidak berarti lagi. Meski dia memiliki Sapta—sahabatnya, tak berarti semua cerita hidupnya dapat ia bagikan padanya meski hanya beberapa. Namun, Sapta adalah sahabat yang sangat baik. Aku merasa makna cerpen ini adalah orang-orang selalu menganggap enteng soal mental health. Orang terdekat seperti keluarga bisa saja menjadi monster yang amat sangat buas, sangat menakutkan. Tinggal bagaimana respon orang di sekitarnya ketika menghadapi korban yang sedang terluka. Pesannya, jangan sampai terlambat hingga menyesali kehilangan orang yang disayang.
Cerpen kedua berjudul Kita Pernah Hampir Bahagia. Cerita tentang kehidupan pernikahan Savian dan Ayana yang tidak berujung mulus. Yang aku dapati dari cerpen ini adalah komunikasi itu sangat penting dan cerpen di sini menimbulkan bibit-bibit perselingkuhan. Aku tak habis pikir karena tokoh di sini tidak bisa selesai dengan masa lalunya. Apalagi sejak kedatangan Ezra yang membuat kehidupan Ayana berputar lagi ke masa lalu. Semua tokoh di cerpen ini menurutku bersalah.
Cerpen ketiga tentang kesalahpahaman dan tidak seimbang dalam suatu hubungan. Judulnya Kilasan. Benar, di cerpen ini sangat ditonjolkan bagaimana tokoh perempuan, Praya yang hidup selalu serba cepat sedangkan Nalu, pacarnya masih tergopoh-gopoh untuk bisa menyesuaikan diri dengannya. Meski Nalu bekerja keras untuk Praya, tapi Nalu juga salah karena ia tidak pernah melibatkan sosok Praya sebagai kekasihnya di dalamnya yang membuat gadis itu bertanya-tanya, "kita itu apa?" Dan yang lebih membuatku sakit hati ketika melihat bahwa selama ini Nalu tulus pada Praya, hanya saja gadis itu terlalu cemburu dan hatinya telanjur tertutup.
Sebagai cerpen keempat, Pagi yang Tak Pernah Datang tak kalah triggering. Bercerita tentang sosok Hana—seorang korban pemerkosaan. Hidupnya tidak sama lagi sejak kejadian itu. Yang lebih menyakitkan, orang-orang di sekitar malah membela si pelaku bukan si korban! Tak habis pikir ketika aku membaca cerpen ini. Emosiku terkuras habis oleh orang-orang yang memojokkan Hana. Untungnya ada Emir, saudara kembar Hana, keluarga Hana satu-satunya yang akan berdiri mendampinginya agar Hana tetap hidup.
Keempat cerpen ini memiliki nilai masing-masing dengan gaya cerita yang berbeda di tiap karyanya. Aku tidak banyak komentar karena sangat menyukai keempat cerpennya yang berhasil menguras emosi dan menguak sisi manusia ketika berada di titik terendah.
So sorry, but I feel like the whole dark and depressed storyline in this book feels super forced. It’s like the author tried way too hard to make readers cry (which I did not).