Tarung jajanan terjadi lagi. Yodomi dari Tatarimedo masih ingin mengalahkan Zenitendo. Tata cara lomba: Zenitendo harus menjual jajanan titipan berefek jahat dan aktif menawarkannya bersama jajanannya sendiri. Jajanan mana yang laris?
Jajanan dalam buku ini, di antaranya: Cokelat Koki, Pir Ramah Tamah, dan Biskuit Mentega Pemburu.
Setelah sekian lama menyelami reviu demi reviu bertebaran sana-sini, akhirnya berkesempatan icip series ini juga. Ternyata bisa langsung dibaca tanpa perlu dimulai dari yang pertama, karena yang kupunya hanya volume 7 ini.
Sebagai perkenalan, Zenitendo adalah sebuah toko yang bisa mengabulkan keinginan pembelinya. Ajaibnya, toko ini dapat muncul di mana saja, khususnya di gang-gang sempit. Aturan menarik lainnya, pembeli hanya diperkenankan untuk membeli satu jajanan maksimal per transaksi. Metode pembayarannya menggunakan uang koin cetakan lawas—yang belum dapat aku pahami kenapa ini penting untuk di-mention.
Suatu hari, Beniko—pemilik Zenitendo—mendapatkan tantangan dari rivalnya, Yodomi—pemilik Tatarimedo—melalui Kaido. Mereka mesti battle jajanan mereka, mempertarungkan penjualan siapa yang lebih digemari. Ternyata, jajanan buatan Tatarimedo punya efek negatif terhadap pemakainya.
Sebut saja Pir Ramah-Tamah, yang menyihir konsumernya berbuat baik, ramah, dan bersikap menyenangkan terhadap semua orang yang ditemui. Hal tersebut memang memberikan kesan positif. Namun, siapa yang menyangka “terlalu ramah” justru bisa mencelakai diri?
Zenitendo 7–maupun volume lainnya—cocok dibaca oleh siapa saja. Sifatnya menghibur, sekaligus mengingatkan akan keinginan-keinginan manusia beranekaragam yang tak ada habisnya. Bagus juga dijadikan sebagai bacaan untuk instropeksi diri.
Seri ke-7 ini menceritakan Zenitendo vs Tengokuen feat. Tatarimedo. Kaido, pemilik Tengokuen, memberikan tantangan kepada Beniko, pemilik Zenitendo, untuk meraih hati pelanggan. Mereka berlomba-lomba paling banyak dapat pelanggan.
Ada 10 cerita di sini: 1. Prolog 2. Kubah mimpi 3. Roti kering tertawa terakhir 4. Biskuit mentega pemburu 5. Suatu hari di Zenitendo 6. Cokelat koki 7. Pir ramah tamah 8. Permen kayu manis tamak lapar 9. Epilog 10. Buku harian Sumimaru
Untuk seri ke-7 ini nggak ada cerita yang buatku berkesan sih. Fokusnya lebih ke perlombaan antar toko jajanan. Tapi, yang aku suka adalah cara Beniko. Dia tidak menghasut pelanggan dalam memilih mau jajanan yang mana. Dia bermain fair-play. Lain halnya dengan Kaido yang penuh tipu muslihat—satu geng dengan Yodomi dari Tatarimedo.
Di sini pun dikisahkan awal mula Yodomi ingin mengalahkan Beniko. Wih, kayaknya seri selanjutnya bakal lebih seru karena Yodomi akan segera bebas dari sangkarnya. Tidak sabar menunggu 😄
“Haruskah kejahatan dibalas dengan kejahatan? Bukankah setiap tempat memiliki tokohnya masing-masing?” Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 7 memberikan sentuhan berbeda dibandingkan seri-seri sebelumnya yakni munculnya tokoh antagonis dengan jajanan sebagai saingan Zenitendo. Beniko menyetujui kesepakatan dengan tokoh tersebut untuk membiarkan pembeli memilih sendiri jajanan yang mereka inginkan. Tentu saja antara hal yang mampu menolong atau justru menjerumuskan. Dikemas dengan konsep magical realism membuat sentuhan fantasi dari bukunya sangat menyatu. Masih di toko Zenitendo yang mendapatkan pelanggan beruntung setiap harinya. Tak sembarang orang boleh membeli dan hanya bisa dibayar dengan koin khusus sesuai permintaan Beniko. Untuk unsur dan konsepnya masih sama dengan seri 1-6 sebelumnya. Gaya penulisan yang mengalir dan santai membuat pembaca sangat menikmati dan berhasil menangkap makna yang memang ingin disampaikan oleh penulisnya. Buku dengan kumpulan cerita yang menggunakan beragam tokoh dan alur maju. Polanya adalah masalah, penyelesaian dan konklusi mengenai tindakan yang diambil. Toko Zenitendo 7 cocok untuk pembaca yang menyukai kisah-kisah ajaib dengan media jajanan. Penamaan jajanan yang diberikan juga unik sesuai dengan khasiatnya seperti kubah impian sampai dengan pir ramah tamah. Kamu tidak akan bosan karena setiap cerpen membawa konflik berbeda jadi tidak ada keterkaitannya meskipun membacanya secara tidak runtut. Jujur saja saya sangat menikmati setiap cerita yang diberikan karena pada umumnya semua tokoh yang ada di dalam buku ini sangat related dengan lingkungan kita atau bahkan kita sendiri. Ketika menelisik mundur membaca cerita yang berjudul “Kubah Impian” sampai di halaman 29 saya menemukan diri saya pada tokoh tersebut. Hati saya merasa lebih tenang dan ringan ketika memahami konsep takdir dan apa yang sudah kita miliki saat ini. Sebagai manusia biasa kita tentu pernah berpikir memiliki kehidupan lebih bebas, rumah besar atau sekedar memiliki peliharaan banyak namun terhalang kondisi. Selalu ada jawaban mengenai kerisauan. Selalu ada alasan di samping sebuah kejadian. Saya sempat berpikir juga andai saja dunia ini seperti Zenitendo yang langsung memberikan pembalasan. Siapa jahat akan mendapatkan kejahatan, siapa yang baik akan selalu dikelilingi kebaikan. Nyatanya kita hidup di dunia nyata yang terlalu panjang untuk hanya sekedar memikirkan pembalasan atas apa-apa yang merugikan kita. Kumpulan cerpen yang mampu menyampaikan maksud utama ceritanya dan saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca apalagi bagi yang sedang mencari bacaan ringan penuh makna. Kalau disuruh memilih karakter, jagoan saya masih tetap Beniko (pemilik toko Zenitendo) yang memiliki pembawaan tenang dan pemikiran positif. Bukankah dengan selalu mengulurkan tangan dan pemikiran kita bisa menjadi Beniko di dunia nyata ini sebagai bentuk meringankan beban sesama? Konsekuensinya masih sama siapa yang memahami maksudnya akan terselamatkan dan yang tidak akan terjerumus lebih jauh.
Setelah menerima tantangan dari Kaido yang bekerja sama dengan Yodomi sebagai kaki tangan, di buku ketujuh ini Nyonya Beniko selama satu bulan mau tidak mau menerima jajanan buatan Kaido yang berefek jahat untuk ditawarkan bersama jajan-jajanan dari Zenitendo. Pelanggan sendiri yang akan memilih jajanan untuk masalah mereka. Pelanggan tidak tahu bahwa masing-masing jajanan memiliki keajaiban yang bertolak belakang, entah keberuntungan yang akan membantu, atau justru kesialan yang menunggu.
Buku kali ini seru banget karena duel jajanan yang terjadi. Nyonya Beniko istilahnya nerima "titip jual" di tokonya dia HAHAHA, yang jelas meski jajanan yang dititip punya efek jahat, tetap harus dipromosikan secara adil demi persaingan yang sehat. Terus di akhir cerita juga ada kilas balik alasan yang melatarbelakangi ketidaksukaan Yodomi kepada Nyonya Beniko. Seru deh karena jadinya nggak fokus ke pelanggan aja. Aku juga suka dengan buku harian Sumimaru di akhir buku, gemes sekali! Coretan-coretan yang menggambarkan hari-hari yang dia jalani sejak diadopsi oleh Beniko.
Akhir buku ini bikin penasaran banget karena Yodomi punya "senjata baru" yang bisa membuatnya menandingi Beniko. Nggak sabar buat baca buku kedelapan!
Di buku ketujuh ini, Beniko menerima tantangan Yadomi dari Tatarimendo yang disampaikan lewat tangan Pak Kaido. Tantangannya adalah menawarkan barang dari Zenitendo dan Tatarimendo kepada satu pelanggan yang beruntung. Istilahnya, Pak Kaido titip jualan di wariungnya Beniko. Si pelanggan harus memilih salah satu, tidak boleh membeli dua-duanya. Barang yang ditawarkan juga mirip, hanya dampaknya yang jauh berbeda. Jika barang dari Zenitendo membahwa keberuntungan saat digunakan dengan benar, maka barang dari Tatarimendo akan memunculkan penyesalah tak berujung. Produk siapa yang lebih laris kali ini.
Kerasa banget aroma konflik dan persaingannya di buku ketuju ini, semakin seru!
Seperti ending buku 6, di sini Beniko bersaing sama toko lain. Kali ini Kaido yang menitipkan beberapa jajanan di Zenitendo. Beniko harus merekomendasikan jajanan Kaido juga buat pelanggan-pelanggan yang datang.
Overall tetap seru. Dan dunia Zenitendo juga lebih tergali gitu. Penasaran sama alasan Yodomi sebenci itu sama Beniko dan gimana rencana Yodomi di buku berikutnya.