Friska bekerja sebagai direktur di perusahaan ayahnya, grup raksasa pemegang perusahaan makanan kaleng di Indonesia. Dia mengurus CSR (Corporate Social Responsbility) bidang kesenian; sebagai bentuk apresiasi perusahaan kepada masyarakat. Bertubuh mungil, Friska dikenal ramah dan aktif, sayangnya dia menderita diabetes sejak kecil.
Suatu hari, ketika mengadakan pameran lukisan, Friska pingsan ketika berdesak-desakan keluar dari gedung yang diancam bom. Dia ditolong oleh Bara, polisi gagah dari satuan K-9. Ternyata ancaman bom itu menjadi awal ancaman yang dialami Friska. Sejak saat itu kedekatan Friska dengan Bara dan anjingnya, Bubu, terjalin erat. Namun, kedekatan mereka tidak disetujui keluarga Friska, yang menganggap ia lebih pantas mendapat lelaki yang sederajat dengannya.
Friska dijodohkan dengan putra konglomerat meskipun hatinya tertambat pada Bara. Tapi ketika ancaman maut mengintai Friska, Bara kembali hadir dan tanpa ragu menyelamatkan gadis itu.
Diskon 50% dari grazera. Lumayan banget bagi saya anakmahasiswa terlebih lagi sudah mau liburan kuliah.
Di sini saya suka dengan covernya yang lembut berserta bubu.
Saya mengerti betul perasaan orang yang takut pada anjing padahal anjing itu nggak ngapa-ngapain kita.
contohnya saja saat saya lagi pergi ke suatu mall yang ternyata lagi mengadakan kontes anjing bla.bla.. *lupa* di dekat kaki saya tetiba sudah ada anjing yang mirip serigala. *Jangan tanya saja namanya apa, saya kagak tahu* Kaget dong dan langsung menghindar untung saja nggak pakai teriak.
Nah, si pemilik aning ini bilang kalau anjing itu nggak bakalan mengigit. Tapi tetap saja saya takut. Padahal saya mau ngelus-ngelus anjing. belum pernah :(
Nah, cerita di novel ini ada anjingnya. Namanya Bubu. dari pola tingkahnya Bubu ini lucu dan melindungi banget. Andai saja saya nggak takut saya pun mau memelihara Bubu. *Itu pun kalau diijinin sama Babah*
Baiklah. kita masuk dalam cerita.
BErhubung saya nggak mau spoiler jadi seadanya aja,ya :D
Ceritanya tentang seorang wanita dari keluarga kaya dan memiliki pekerjaan yang mapan. sudah beberapa hari dia selalu bermimpi tentang seekor anjing. Nah, suatu hari dia bertemu dengan anjing tersebut tetapi perempuan ini tidak sadar bahwa anjing itulah yang ada di dalam mimpinya.
Pertemuan kedua ketika perempuan itu hampir pingsan karena terinjak-injak oleh orang-orang yang ingin keluar dari ruang karena ada pengumuman soal bom di dalam ruang tersebut. Itu pun dianggap ilusi oleh perempuan itu.
Dan akhirnya perempuan itu mengetahui nama anjing terserbut dan nama sang pemilik seorang polisi. KArena suatu kejadian yang membuat sang pemilik akhirnya dekat dengan perempuan itu dan tibullah benih cinta diantara mereka.
Ketika masa kasmaran terjadi datanglah badai berupa keluuarga terlebih sang kakak perempuan yang tak menyetujui hubungan tersebut. Sang kakak perempuan menganggap bahwa derajat keluarga mereka lebih terpandang dan tidak sesuai dengan polisi itu. Terlebih perempuan itu akan dijodohkan kepada pria yang lebih terpandang. *Lagi-lagi permainan kasta yang tak kasat mata*
Hubungan mereka bubar. Perempuan memilih keluarga daripada pria yang dicintai.
Sampai sini saja saya cerita kisah di dalam novel ini,ya. Kalau di lanjutin bisa-bisa spoiler :D
Nah, itu kisah asmaranya. Saya hanya tidak habis fikir ketika ada demonstran yang tetiba kalap dan ingin memukul wanita. Bagi saya itu terlalu mengerikan terlebih lagi melakukan tindak kejahatan terhadap seekor binatang.
Lagi-lagi subjektif. Saya tidak suka banyaknya isu bom dan kekerasan di novel ini. Pilu hati saya. *Hiks*
Bagi saya yang tidak masuk di dalam logika saya yaitu seorang pelukis yang sangat ditentang pemerintah bahkan sampai mengirim bom ketika pameran lukisan pelukis itu diselenggarakan. Bahkan sampai membuat pelukis itu tidak tinggal di tanah air. Tetapi itu pendapat saya pribadi.
Yang saya suka di sini selain Bubu adalah penggabaran perempuan itu terhadap karya seni lukis. penggabarannya terasa nyata bahkan saya sendiri bisa membayakan seperti apa lukisan yang sedang ditatap oleh perempuan itu.
Dari awal novel ini sudah membuatku bertanya2. Mulai dari prolog yg panjang, setting waktu yang menurutku nggk jelas. Pas baca, menurutku novel ini nggk terlalu amore2 banget. Karena interaksi dua tokoh utamnya nggak intens. Hampir 1/3 bagian buku isinya ttg usaha Friska untuk menyukseskan pameran lukisan. Walaupun ku akui, penulis jago banget dalam mengkurator i lukisan. Not my cup of tea :")
Pertama baca blurb-nya, saya berharap akan ada action-nya, meski saya nggak tahu yang seperti apa satuan K-9 itu apa.. Haha~ Tapi, sedikit ada harap yang seperti itu karena ada novel dengan cerita yang sedikit action juga yang ingin saya beli kapan hari itu, jadi saya pikir, “Ah, I should buy this one!” Ternyataaaa… setelah sampai hampir setengah buku, saya belum menemukan interaksi gamblang antara tokoh utamanya. Oh, Pak Bara… saya berharap adegan yang bikin ketar-ketirnya… Mana? >_<
Kalau dibilang amore, rasa-rasanya masih kurang yaa… kurang mengharu biru, bahasa yang biasa saya pakai yaa semacam “alay”. Hihi~ But, that’s okay, saya menikmatinya. Baru kemarin lusa seharian saya terus mengikuti jalannya aksi damai 411 dari berbagai channel TV dan sosmed dan jantung saya juga sudah dibuat kebat-kebit. Jadi, saat saya membaca novel ini, membuat pikiran saya kembali pada saat itu lagi… I feel so depressed, really T_T
Saya mengharapkan interaksi lebih banyak antara keduanya.. Tapi ternyata hanya beberapa kali, itu pun sudah cukup manis bagi saya... *Apa lagi sih yang nggak bikin kamu baper, Yes? :3 Love finds its way..... ^_^
Aku kasih 3.5 bintang. Ya ampun, novel ini semanis judulnya :')
Ini tulisan Mi Rae pertama yang aku baca dan aku suka! Aku langsung cocok sama gaya tulisannya, pilihan tema, pilihan konflik, pilihan karakter, pilihan ending, aku langsung cocok sama semuanya deh :D
Tema dan karakternya seru banget deh. Penderita diabetes dan polisi. Ini novel bertema polisi pertama yang aku baca dan aku puas banget. Mungkin Mi Rae punya suami polisi dan pengin mengubah pandangan masyarakat soal polisi, bisa jadi. Apa pun motif penulis, baca novel ini kayak nonton acara 86 di .NET yang emang bertujuan memperbaiki citra polisi di mata masyarakat.
Aku paling suka endingnya yang menurutku nggak drama. Mi Rae sukses ngejaga rasa nggak sabarku di bab terakhir. Novel ini bener-bener sweet as sugar, less drama, sekaligus thought-provoking. Ah, aku jadi pengin beli novel kedua Mi Rae yang judulnya Honey ;)
Yaaa Bubu, I love you boy!! Dibikin jatuh cinta sama anjing ini. Dibikin nangis jg pas dia luka. Ini yang bikin gue kasih 3 bintang untuk novel ini, tadinya cuma mau kasih 1,5 aja. Tapi berhubung gue suka sama si Bubu, jadi gue kasih 3 bintang.
Konflik yg ada disini agak aneh emang. Hanya membahas masalah bom aja. Ini yang bikin sang tokoh utama bertemu. Friska diselamatkan oleh Bara saat dia sedang berada di suatu pameran lukisan. Dan akhirnya mereka jatuh cinta. Hanya saja ayah dan kakak Friska tidak setuju.
Yauda intinya begitu sih.
Bisa dibilang yang bikin cerita ini menarik karena adanya si Bubu. Bacanya juga (seperti biasa) selalu dilompat2 karena bikin bete. Pas bagian bahas si Bubu, baru gue baca bener2 ._.
Sebetulnya idenya seru, tapi eksekusinya nanggung. Penulis sepertinya terobsesi dengan bom, padahal anjing pelacak bisa dikaitkan dengan banyak hal, seperti pencurian, penculikan, pencarian tersangka suatu kejahatan tertentu. Bagian yang paling membekas justru tentang persahabatan Bara dan Bubu. Oh ya, review lengkap ada di www.penyuntingaksara.blogspot.com.
Dua bintang khusus diberikan untuk Bubu. :)) Hei, kamu cute banget! Bahkan hanya dari deskripsi tingkah polahmu saja, aku suka. Lebih dari kesukaanku terhadap dua tokoh utamanya, Bara dan Friska. Karena menurutku, eksekusinya terasa terlalu cepat, belum lagi konfliknya terasa terlalu dangkal.