Jump to ratings and reviews
Rate this book

Before Happiness

Rate this book
Namaku Happy, dan seperti harapan saat orangtuaku memberi nama ini, semestinya aku orang yang selalu bahagia.

Aku mencintai sahabatku melebihi segalanya, termasuk diriku sendiri. Tapi, tak pernah bisa mengungkapkanya. Aku takut persahabatanku lenyap hanya karena satu kata itu; cinta.

Dan, ketika ia memintaku untuk melamarkan kekasihnya yang juga sahabatku, entah kenapa hatiku perih, seperti tertusuk pisau karatan dengan perlahan, lalu menghujam ulu hati yang terdalam.

Langit Jakarta, kota Batu di Malang, dan sungai Chao Phraya Thailand mungkin bisa jadi obat bagi sakit ini.

Dan, aku yakin hanya jarak dan waktu yang akan menyembuhkan. Tapi, haruskah aku melupakan cinta ini?

210 pages, Paperback

First published May 30, 2014

3 people are currently reading
69 people want to read

About the author

Abbas Aditya

2 books16 followers
pecinta film, buku dan perdamaian dunia saat negara api menyerang.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (12%)
4 stars
3 (7%)
3 stars
13 (32%)
2 stars
12 (30%)
1 star
7 (17%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for ijul (yuliyono).
813 reviews970 followers
September 11, 2014
Cinta dalam diam....

description

Selain perjodohan, tema sahabat jadi cinta menjadi salah satu tema yang sangat cukup sering saya dapati dalam novel, terutama pada novel romance. Buat saya, dua tema ini menduduki peringkat terendah dalam daftar tema favorit saya. Jika memungkinkan, dan masih ada novel dengan tema lain di luar sana, saya dengan senang hati akan meminggirkan novel-novel dengan dua tema itu dan lebih memilih membaca novel bertema lain itu.

Jujur saja, landasan awal saya langsung mencomot Before Happiness adalah harapan yang cukup tinggi dari pengarangnya. Meski tak mengenalnya secara pribadi, saya tahu Abbas dan ikut bersemangat menunggu novel debutannya. Hmm, sayangnya saya memasang ekspektasi terlalu tinggi sehingga hasilnya agak kurang bagus.

Saya tak bisa banyak bilang soal ceritanya. Well, yeah, saya mencoba mencari sisi-sisi lain dari novel ini untuk tetap dapat terhubung dengan plotnya. Tentu saja, ini bukan salah pengarang atau siapa, permasalahan ada di saya yang memang sudah sulit terhubung dengan temanya. Predictable. Padahal saya bukan orang yang selalu haus kejutan, tapi kejutan tetap kejutan yang mampu memompa adrenalin. Maka ketika cerita mengalir melalui liku-liku yang sudah diketahui, hmm, petualangan rasanya tak lagi menyenangkan.

Jika saya bilang, pilihan ending untuk kisah sahabat jadi cinta ini hanya ada dua: memang menjadi cinta atau memilih tetap bersahabat, mungkin akan ada yang bilang ke saya, semua cerita hanya punya dua cabang akhir. Entahlah, saya tetap merasa, untuk tema lain masih akan ada banyak pilihan akhir yang bisa digunakan. Oke, abaikan saja racauan saya tentang tema ini. Yang akan saya bilang, saya cukup menikmati gaya bercerita Abbas meskipun adegan demi adegan yang saya baca hanya berlalu begitu saja. Pada ujungnya, saya hanya ingin tahu cabang mana yang dipilih Abbas. Tentu saja, tak perlu menunggu sampai akhir untuk memastikannya, Abbas sudah menunjukkan tanda-tandanya. Saya rasa, di sepertiga bagian akhir novel ini.

Sejak awal saya sudah bermasalah dengan proses editing dan proofreading dari novel ini. Saya benci menjadi orang yang terkekang urusan teknis itu ketika menikmati membaca buku, but I can't help it. Sudahlah saya tak terkoneksi dengan temanya, typo-nya parah benar ditambah cukup banyak kalimat tak efektif yang berhamburan. Mendengar cerita bahwa novel ini bahkan melalui proses revisi sampai delapan kali, serius? Tapi masih cukup banyak yang tak tergunting dengan memadai? Saya bukan ahli editing atau proofreading, tapi saya mengharapkan hal yang lebih baik dari ini. Saya bahkan terlalu malas menandai banyak hal yang saya anggap tak benar/janggal. *tarik napas*

Cukup banyak momen canggung yang membuat saya turn off ketika membaca. Drama domestik dengan kehadiran Nara adalah salah satu yang tak saya suka serta napak tilas yang dilakukan Happy begitu mudah ditebak. Sekali lagi, ini soal selera, kok. Yang bisa saya sarankan, khususnya untuk Abbas yang saya tahu sudah membaca begitu banyak buku, suguhkan pada saya (sebagai pembaca) sesuatu yang unik dan berbeda yang mungkin belum dipakai pengarang lain. Oh, ini bukan soal tema, tapi adegan demi adegan, plot, karakter, dan eksekusi cerita yang bisa dimainkannya. Semoga di novel Abbas selanjutnya saya bisa menemukan kekuatan menulisnya.

Satu lagi, seperti banyak yang sudah berkomentar, saya pun tak begitu nyaman dengan Prince-Princess thingy dan chemistry yang kurang meyakinkan dari Happy-Sadha untuk bisa menghanyutkan saya sehingga paham kepahitan macam apa cinta diam-diam yang dimiliki Happy. Untung di sini ada Gerald, meskipun saya akan lebih menyukai Gerald yang bukan dari lingkaran kehidupan Happy. Kayaknya konflik akan menjadi lebih lebar dan kompleks. Subjektif. Hahaha.

Komplain mulu ya, saya? Maafkan, ini memang rasa yang saya dapat ketika menyelesaikan lembar terakhir atau selama proses pembacaan novel Before Happiness ini. Untuk yang menyukai tema friendzone atau sahabat jadi cinta atau ingin menyelami perasaan seseorang yang sedang dalam proses memahami rasa terdalamnya dan hendak menerjemahkannya dalam aksi nyata, silakan untuk membaca novel debutan Abbas Aditya ini.

Selamat membaca, tweemans.

My rating: 1,5 out of 5 star
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
August 6, 2015
"Lagi dan lagi tentang "friendzone"....

"Cinta memang aneh. Lebih aneh lagi, kenapa aku mencintai sahabatku yang sejak kecil bersamaku. Aku sungguh tidak habis pikir. Dan itu begitu menyakitkan."

Ini tentang Happy, seorang cewek yang jatuh cinta terhadap Sadha teman masa kecilnya. Namun, Sadha tidak punya rasa yang sama terhadap Happy, bagi Sadha Happy sudah seperti adiknya sendiri yang disayang dan ingin dijaganya.

Disinilah melalui Before Happiness, kita diajak untuk menemani *kegalauan* Happy yang jatuh cinta diam-diam terhadap sahabatnya, berusaha ikhlas bahwa Sadha bukan untuknya, usaha move on hingga akhirnya menjemput kebahagiaannya sendiri...

Namun, walau diceritakan dari sudut pandang Happy, aku tidak bisa merasakan chemistry antara Happy dan Sadha, sahabat yang dicintainya. Hingga halaman akhir, aku masih mencari-cari apa yang membuat Happy jatuh cinta terlepas mereka "teman masa kecil" dan aku kurang begitu suka dengan panggilan "Prince-Princess" yang kurang cocok, tanpa ada pun novel ini jauh lebih menarik.

Novel ini gak begitu tebal, ringan dan bisa dibaca sekali duduk. Jalan ceritanya juga sangat mudah ditebak, tidak ada sesuatu yang membuat Before Happiness menjadi berbeda dengan novel "FriendZone" lainnya. Aku rasa penulis ingin bermain di zona aman, tidak berusaha mengeksplor lebih jauh novel ini.

Novel ini hanya bermain-main di perasaan Happy yang tak berbalas, Sadha yang malah memilih menikahi Yuna, kekasihnya dan malah meminta Happy membantu proses lamarannya yang cukup romantis. Ada juga sosok si brondong manis, Gerald sang gitaris yang jatuh cinta terhadap Happy. Ya hanya berputar-putar diantara cinta segitiga Happy-Sadha-Gerald. Dibumbui konflik keluarga Sadha-Gerald dengan neneknya Nara pun terkesan hanya sambil lalu, tanpa ada bagian ini pun tidak masalah.

Untungnya, gaya menulis novel ini cukup mengalir walau jujur banyaknya typo yang bertebaran di hampir keseluruhan novel ini cukup mengganggu mata, tapi aku masih bisa menamatkan novel ini juga tanpa menskip satu pun halaman.

Walau sebenarnya aku cukup berharap novel ini akan minim typo, apalagi penulis cukup kritis sekali masalah typo di beberapa novel yang dia baca. Ya, semoga di novel lainnya penulis bisa lebih baik lagi ^^ Dan buat penerbit Moka Media, semoga bisa lebih jeli lagi dalam proses editing sebelum naik cetak..
Profile Image for Agista Saraswati.
18 reviews60 followers
July 13, 2014
Friendzone, cinta pertama dan cinta sahabat sendiri? Sudah biasa, bahkan tema tersebut mainstream dijadikan basis cerita sebuah buku. Tak ada kisah semenarik jatuh cinta pada sahabat sendiri dan mengalah pada persahabatan, klise memang tapi tetap saja topik persahabatan dan cinta tak pernah lepas dari dunia literasi Indonesia.

Debut Abbas Aditya yang merangkum kepedihan friendzone inilah yang bakal menentukan masa depan Abbas sendiri. Well, sebetulnya ide cerita yang mainstream dapat menjadi batu loncatan yang baik atau malah jadi blunder bagi penulis itu sendiri. Sedangkan menurut ane, Abbas mempunyai masa depan yang cerah setelah debutnya ini.

Abbas memiliki gaya cerita dan diksi yang santai, kocak, dan tidak membosankan. Abbas lihai bermain kata dan mendeksripsikan setting secara visual. Meski begitu, harus diakui bahwa karya pertama penulis muda ini butuh beberapa pengembangan lagi, antara lain penggodokan konflik dan pematangan chemistry antar tokoh.

Before Happiness memang berakhir Happy, sayangnya menurut ane, akhir yang ditulis Abbas kurang memuaskan bagi pembaca apalagi konflik yang dihadirkan juga dirasa kurang panas. Kalau saja Abbas mau mengelaborasi konflik maka novel ini akan menjadi bacaan yang jauh dari kata klise. Ending sudah tertebak tapi Abbas mampu membuat pembaca enggan mempercayai ending yang sudah tercetak biru dalam imaji pembaca.

Dan yang patut diapresiasi dari Abbas adalah kemahirannya membuat pembaca betah berlama-lama membaca bukunya meski dua puluh halaman pertama telah lewat.

Good job! We'll wait for your next writing dude.
Profile Image for Marina Lee.
65 reviews26 followers
April 18, 2015
Sumpah, salah banget gue baca ini abis baca novel yang kemaren itu. Tau sih, premisnya sama. Model-model friendzone gitu. Cuma gue gak nyangka eksekusinya kayak gini.

Gue gak bisa berhenti ngebandingin si tokoh-tokohnya. Mana beberapa ada yang namanya mirip-mirip lagi. Gile banget. gue ngerasa kayak baca a bad rewrite meskipun novel ini terbit duluan. Iya, salah gue yang ini mah. Bukan salah penulisnya.

Dua halaman pertama, tiga halaman pertama ya bolelah. Sisanya, udah. Capek gue bacanya. Kayak di fast-forward aja. Chemistry-nya sama sekali bland, gue bahkan gak tau kenapa si Happy bisa naksir sama si Sadha, dan kenapa dia akhirnya milih Gerald (pantesan bukunya tipis). Terus gue ngerasa si Happy ini labil banget kayak anak SMA. Sadha juga nyebelin. Sama sekali gak ada appeal buat disukain. Gerald juga. Aduh bacanya gue mau marah.

Terus buat apa itu subplotnya tentang keluarga Sadha dan Gerald? Gak meaning banget, sumpah. Mendingan halamannya dipake buat ngedalemin chemistry si Happy-Gerald.

Endingnya? Cuma sebegitu doang. Dan gue rasa setting macem Malang sampe Thailand yang ada di buku ini gak ada maknanya banget. Gak ada signifikansi juga kalo gak ada acara jalan-jalan galau ke Malang dan ke Thailand.

Untung bukunya minjem. 1,5 bintang aja.
Profile Image for Khansa.
51 reviews
April 17, 2016
Lumayan. Tapi nggak bagus, hanya lumayan. Lumayan nanggung.

Semua yang ada di novel ini semua terasa nanggung. Ya konfliknya, ya karakternya, ya cara berceritanya. Semua nggak ada yang digali sampe dalam. Dan ya itu tadi, cara berceritanya kayak mau kayak nggak. Bahasanya nggak ngalir, kayak dipaksa aja. Setengah hati, dan ugh, please jangan menyalahkan editor. It's super-lame.

Katanya penulisnya nulis erotica di wattpad dan GWP juga ya? So sorry, tapi kayaknya kalau yang dijual hanya karya yang setengah-setengah begitu, I won't wait for your next book.
Profile Image for Adham Fusama.
Author 9 books72 followers
November 8, 2019
Resensi juga bisa dibaca di sini: http://adhamgoodbook.wordpress.com/20...

CERITA TENTANG HAPPY YANG TIDAK HAPPY

Orangtua Amalia Happy memberi nama anak mereka demikian berharap kehidupannya bisa happy. Namun nyatanya, Happy sedang tidak happy dan itu semua gara-gara Sadha akan menikah dengan Yuna.

Padahal, Sadha adalah teman masa kecilnya, yang begitu dia suka tapi tak pernah ada keberanian untuk mengutarakan rasa cintanya. Alih-alih, dia malah mengiyakan permintaan Sadha untuk mencomblanginya dengan Yuna—sahabat kuliahnya. Saat hubungan Sadha-Yuna langgeng hingga mau naik ke jenjang pernikahan, maka galaulah Happy.

Siapa yang salah? Kalau menilai dari kronologis di atas, salah Happy sendiri sampai dia merasakan pahit-getirnya cinta seperti itu. Happy adalah tipe perempuan galau yang barangkali akan saya benci di kehidupan nyata. Merasa dunianya muram dan tak adil padahal itu adalah konsekuensi dari kelakuannya sendiri.

Tapi… saya tidak bisa membenci Happy. Dewasa ini, siapa sih yang tidak pernah merasakan gengsi untuk menyatakan cinta, atau sedih gara-gara orang yang kita suka malah cinta dengan orang lain, atau galau karena kita memuluskan jalan mereka sementara kita kena status friendzone? Bahkan anak SMP zaman sekarang saja pernah merasakan pengalaman orang dewasa seperti ini alih-alih dipusingkan oleh PR.

Ini adalah salah satu kelebihan Abbas Aditya yang dapat membangun tokoh Happy dengan baik. Menggunakan POV orang pertama, narasi di novel ini pun semakin memperkuat karakternya. Saya suka gaya bercerita Abbas—yang tentu saja menjadi gaya bersikap Happy—yang happy-go-snappy. Kadang sinis, ironis, egois, tapi tetap menyisipkan kejenakaan.


"Bayangkan, apa kata dunia kalau ada cewek nembak cowok duluan?"


Di lain pihak, narasi yang dibawakan terlalu tell sehingga kedalaman emosinya tidak begitu terasa. Misalnya rasa cinta Happy pada Sadha sebagian besar cuma dikatakan karena mereka adalah teman kecil yang punya panggilan sayang Princess dan Prince (gara-gara adik bungsu saya rajin nonton sinetron dan memanggil diri sendiri “Princess” maka saya tidak terganggu dengan yang satu ini).

Alangkah lebih baik kalau ada adegan yang membuat Happy benar-benar jatuh cinta pada Sadha lebih dari sekadar liburan ke Malang berdua saat lulus SMA. Kalau pun ada adegan-adegan yang membuat Happy terkesan oleh pria itu, imbasnya tidak terlalu terasa.

Deskripsi setting-nya pun begitu. Sebagai anak gaul Jakarta, Abbas jelas tidak kesulitan dalam menceritakan seluk-beluk Jakarta (meski mungkin itu karena saya juga sering ke Jakarta. Entah bagaimana tanggapan pembaca yang belum pernah ke Ibukota). Penggambaran Malang pun terbilang sukses tapi tidak dengan Thailand. Abbas terasa terburu-buru memasukkan semua hal tentang Chou Praya sehingga terasa padat namun berakhir cepat.

Barangkali ada pengaruhnya dengan panjang tiap bab-nya yang bite size (rata-rata satu bab cuma 4-5 halaman). Di satu sisi, bab yang pendek-pendek itu membuat banyak adegan terasa seperti angin lalu. Tapi, di sisi lain, saya tidak membencinya. Menurut saya, bab-bab bite size ini menarik. Selain memperlancar cerita juga mencegah pembaca kelelahan di tengah jalan. Hanya saja, Abbas masih harus belajar bagaimana mengefektifkan cerita dalam bab yang pendek.

Secara keseluruhan, Before Happiness berpotensi untuk menjadi novel metropop yang urban, modern, dan edgy. Sayangnya, novel ini tidak diuntungkan oleh masalah-masalah teknis—di luar typo dan kesalahan EyD. Sampul depan, layout, hingga typography justru menutupi kesan muda dan segar di novel ini. Mudah-mudahan, sewaktu cetak ulang, semua masalah teknis itu bisa diperbaiki. Ceritanya yang filmable pun punya potensi untuk diangkat ke layar lebar atau minimal layar kaca. Lebih-lebih, Abbas sendiri berkecimpung di dunia perfilman.

BEFORE HAPPINESS
Penulis: Abbas Aditya
Penerbit: Moka Media
Hlm. + Ukuran: vi + 210 hlm; 12,7 x 19 cm
Terbit: 2014 (cetakan pertama)
ISBN (10): 979-795-841-8
ISBN (13): 978-979-795-841-1
Genre: Romance
Penilaian: 3/5
Profile Image for Laili Muttamimah.
Author 5 books39 followers
November 9, 2014
"Terkadang masa lalu adalah semak belukar yang harus kita babat habis, karena jika kita terus di dalamnya, kita akan sukar mendapat cinta yang baru, kebahagiaan yang baru." - Karel.

Before Happiness adalah kisah tentang seorang perempuan bernama Amalia Happy yang jatuh cinta diam-diam pada sahabatnya, Sadha Anugerah. Well, banyak orang yang bilang bahwa ide cerita tentang 'friendzone' itu klise, tapi sebenarnya kisah 'friendzone' itu sendiri memang masih banyak terjadi di kehidupan nyata. Entah kenapa, meski klise, saya menikmati novel-novel yang memiliki unsur 'friendzone' di dalamnya.

Happy membawa saya mengikuti perjalanan cintanya, bertemu dengan sosok Sadha yang selama ini membuat Happy buta akan kilaunya, juga Gerald, cowok dengan sifat kekanak-kanakan, namun bisa menempatkan kedewasaannya dalam mencintai Happy. Di awal bab, saya belum menemukan satu hal yang membuat saya tersentil. Namun, begitu masuk pada pertengahan, saya mulai tertarik untuk mengikuti perjalanan cinta Happy sampai akhir.

Saya menyukai cara (Mas) Abbas bercerita. Tulisannya mengalir, tidak terasa dibuat-buat, juga...melankolis. Hahaha. Saya jarang menemukan penulis laki-laki yang menempatkan POV 1 sebagai perempuan dengan gaya yang natural, namun Mas Abbas berhasil melakukannya. Karakter Happy terbentuk seperti seorang perempuan seutuhnya.

Novel ini mengambil aspek perfilman sebagai profesi dari beberapa tokohnya. Sejujurnya, saya berharap banyak ketika Sadha diceritakan sebagai seorang Produser Film, juga Nara dan Gerald yang terjun dalam industri perfilman Indonesia. Saya berharap bahwa penulis akan menjelaskan dengan detail tentang dunia perfilman yang tidak banyak diketahui oleh khalayak, karena saya termasuk salah satu orang yang 'kepo' terhadap dunia perfilman itu sendiri.

Menurut saya, karakter yang digambarkan paling kuat dalam novel ini adalah Gerald, mungkin itu alasan mengapa banyak pembaca menyukainya. Untuk karakter Sadha, karakternya masih tampak berubah-ubah. Lalu untuk panggilan "Prince-Princess", mungkin itu menjadi problem bagi beberapa pembaca, namun untuk saya it was ok. Karena pada kenyataannya, mereka yang bersahabat pasti memiliki panggilan khusus untuk menunjukkan rasa sayangnya meski terkadang itu terdengar berlebihan.

Satu hal lain yang sangat saya harapkan dalam novel ini adalah Thailand. Yap, sebagai salah satu penggemar Negeri Siam, saya tidak sabar untuk membaca bab ketika Happy berada di Thailand seperti yang dikatakan dalam sinopsis. Saya pikir, Happy akan pergi ke Thailand bersama Sadha karena laki-laki itu memiliki keperluan untuk film terbarunya di Bangkok, namun ternyata Happy pergi dengan Gerald untuk liburan. Tapi harapan saya tidak surut sampai di situ, karena ternyata mereka memiliki perjalanan yang menyenangkan di Bangkok. Saya menyukai hal-hal kecil romantis yang dilakukan Gerald kepada Happy, hanya untuk membuat perempuan itu tidak galau lagi. Saya sempat berpikir, "Enak ya punya pacar kayak Gerald, kalau gue galau bisa diajak ke Thailand" hahaha *bungkus Gerald bawa pulang* :p

Dan yang terakhir, untuk ending-nya, entah kenapa saya merasa ending-nya terlalu cepat :') saya menanti twist yang mengejutkan sebelum ending, namun ternyata hanya ditutup dengan adegan pernikahan Sadha dan Yuna. Namun, saya senang bahwa Happy berhasil menemukan kebahagiaannya di akhir cerita.

Meski novel ini masih memiliki typo yang menyebar, namun diksi yang digunakan Mas Abbas benar-benar quotable. Sukses selalu, Mas Abbas! :)
Profile Image for Rendi Febrian.
Author 5 books82 followers
June 25, 2014
Gue menghabiskan buku ini selama kurang lebih 4 jam. Padahal tipis, tapi kenapa bisa sampai 4 jam?

Oke, maybe karena banyaknya adegan yang, well, agak sinetron. Bahkan Abbas sendiri yang sebagai pelaku karakter Happy juga sering nulis gitu di narasi. Mirip adegan sinetron dan FTV. Dan gue sangat setuju. Eh, bukan berarti gue nggak suka ya, kehidupan manusia memang kyk sinetron kok. Kadang kita aja yang nggak sadar.

Kenapa hanya 3 bintang? Padahal karakter Happy kuat banget. Gue dapet kesan menye-nya Happy pas ditinggal Sadha. Atau kecewek-cewek-annya padahal yang nulis cowok. Alurnya juga bagus kok, dan menyenangkan untuk dibaca. Gue setuju sama Aziz, cerita ini mengalir.

Satu bintang buat alurnya.
Satu bintang buat karakternya.
Satu bintang buat isi ceritanya.

Nah, sekarang kita bahas yang buat gue ngurangin bintang.

Satu, one and only, covernya!!! WHAT THE HELL!!! Kenapa covernya gambar cewek mau pergi les? Kayak bingung lagi gitu dia di mana tempat lesnya? Mana mukanya bule. Emang Happy bule ya? Atau blasteran lah. Nggak nyambung aja sama isi bukunya tuh cover. Tapi tentu aja itu bukan salah Abbas, ini masukkan buat Moka kok. Siapa taukan naskah gue diterima terus pakek cover yg lebih--well, I dunno--lebih catchy gitu. #ditimpuk dildo

Dua, Abbas terlalu banyak tell daripada show. Narasinya bisa dipastikan panjang dan banyak. Itulah yang buat gue beberapa kali berhenti. Really, Bas? Kurangi deh narasi yang kepanjangan kayak gitu. Sebagai penulis, gue selalu ngerasa cepat bosan ketika menulis narasi panjang-panjang. Terus stuck dan males ngelanjutin tulisan. Itu kebiasaan gue dulu. Gue sadar pas gue baca ulang cerita-cerita gue. Ternyata show memang lebih enak daripada tell.

Perkembangan emosi dari Happy itu sendiri. Padahal pakek PoV pertama, tapi kok gue ngerasa emosi dari Happy nge-jump ya? Hampir seluruh buku diceritakan Happy susah melupakan Sadha, dan proses Happy bisa melupakan Sadha pas dia jalan-jalan ke Bangkok. Nggak slow banget jadinya. Harusnya Abbas buat si Happy ini mulai sedikit banyak bisa melupakan Sadha di sepanjang cerita, jadi pas di Bangkok Happy memutuskan untuk mengikhlaskan Sadha dan Yuna, biar nggak terasa janggal dan terlalu cepat. Aneh aja sih, itu menurut gue ya.

Tuh, kesalahannya sebenernya ada 3. Tapi karena masalah cover bukan salahnya penulis, jadi, whatsoever! Tetep kok ngasih 3 bintang. Plus setengah lagi untuk karakter...


GERALD!!!

OHMYFUCKING-GAY!!! Kenapa sih gue selalu jatuh cinta sama karakter fiksi? Kenapa hormon gay gue selalu menuntut mencintai cowok-cowok nakal kayak Gerald? Terus kenapa mereka straight? Hahaha, oke, udah terlalu banyak cowok ganteng di dunia nyata yang gay, jadi di fiksi bukan masalah kok untuk gue *ditampar istri orang!

Dan--ini masalah sepeleh sebenernya--ternyata Karel itu cewek!!! Damn!!! Gue pikir Karel itu cowok, semacam gay gitu. Eh, ternyata itu makhluk berdada wew... Itupun dijelasinnya pas di tengah buku. Dan gue ternganga... suer deh. Hahaha, lebay dan norak memang. Soalnya Karel yang sedang gue garap (gue tulis mksdnya)--ini cerita gay #promosi nggak penting--adalah seorang cowok. Huehehehe :D

Sudah ah, itu aja. 3 Bintang buat ceritanya.


Setengah lagi buat GERALD!!! :* :* :* :*
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Dion Sagirang.
Author 5 books56 followers
November 27, 2014
Oke, saya mulai.
Sebelumnya, thanks buat Abbas yang sudah kasih kesempatan saya untuk membuat reviu (kendati isinya berupa makian? Oh tidak juga, tenang saja :p)

Pertama, saya terlalu berharap pada penerbit Moka Media. Yang saya tahu, penerbit ini digagas oleh AS Laksana yang mana, saya mengagumi dia dan berharap Pak Sulak ini bisa menghadirkan sesuatu yang beda pada buku-buku remaja terbitannya, nyatanya tidak. Berarti, kesalahan mutlak ada dalam diri saya.

Mari mulai mengulas isi novel dari debut Abbas ini.

Kedua, saya mengira ini novel teenlit dan tentunya saya juga berharap pada Penulis yang merupakan teman di Goodreads. Ulasannya juga pedas-pedas, Man, dan sejauh ini, saya tahu Penulis menggemari teenlit. Lalu, setelah tahu Happy ini usia sekira 24, oke, saya pikir, ini kabar bagus.

Tetapi kabar sebaliknya yang saya dapat. Selama membaca, saya tidak berhasil menyukai Happy. Sejak awal, saya tidak bisa bersimpati, padahal seluruh cerita dituturkan dari gadis itu. Lalu, dengan begitu, bagaimana saya bisa menyukai ceritanya? Nyatanya saya bertahan. Kemudian, saya lihat, Penulis mencari aman dengan mengibaratkan tokohnya dengan seorang artis. Zayn Malik, misal. Ini tidak salah, tetapi lebih baik penulis memberikan gambaran rinci agar pembaca bisa mengetahui sosok tokoh tanpa menyebutkan artis ini-artis itu.

Lanjut dengan gaya bahasa. Saya tidak ada masalah dengan chicklit. Kadang, saya membaca chicklit saat membutuhkan bacaan ringan dan segar. Dan Penulis lumayan nanggung dalam menggunakan gaya bahasa di buku ini. Maksud saya, bahasanya memang agak chick, tapi lumayan kental dengan mellow-nya. Atau, saya mengindikasi karena tokoh Happy yang berantakan? Agak labil?

Pada banyak bagian, Penulis tampaknya lebih asyik bermain di telling, alih-alih memperlihatkan segala informasi tokohnya dari dialog, gerak-gerik, mimik dll. Come on, menulis itu seni, buatlah menjadi indah. Lalu, sepanjang cerita, saya malah membayangkan ini cerita teenlit. Para tokohnya sendiri tidak dewasa, saya rasa.

Dan terakhir, menyoal EyD dan tetek bengek teknis lainnya. Ini PR siapa, editor atau Penulis? Saya pikir keduanya. Sejauh ini, saya pembaca yang agak rese saat mendapati hal-hal tidak beres soal teknis. Hal sama saya terapkan ketika menulis.
Ada beberapa istilah yang tidak baku. Editor (atau penulis) tidak memperbarui pengetahuan pada KBBI yang sering berubah-ubah layaknya bunglon. Ini sebagian yang saya tangkap;

1. Acuh: Peduli: Mengindahkan (Di buku ini acuh dianggap tidak peduli. Kalau di Sunda sih dianggap begitu. Sebaliknya.)
2. Sumringah: Semringah
3. Jazz (di buku tidak dicetak miring) tetapi, bukan pula jaz yang sudah diserap.
4. Lagipula: Lagi pula (Di buku terakhir saya, saya masih pakai "lagipula" #mengaku)

Kisah yang klise, bagi saya, tidak masalah. Asal, Penulis bisa menyampaikannya dengan baik, dan di buku ini, Abbas belum berhasil melakukannya.

Dalam buku ini, ada kelebihan? Tentu saja. Ditulis dengan POV orang pertama. Bagi saya itu kelebihan. Apalagi, penulis yang notabenenya seorang laki-laki. Itu hebat.

Saya pikir cukup, semoga menjadi PR yang tepat untuk penulis (atau juga editor)

Tetap menulis, Abbas.
Profile Image for Sylvia.
Author 10 books71 followers
November 15, 2014
Setiap orang tua pasti memilihkan nama yang terbaik bagi anak-anaknya dengan harapan nama tersebut bisa menjadi doa setiap ada yang menyebut nama mereka. Termasuk karakter Happy dalam novel ini. Orang tuanya berharap Happy akan selalu menjadi orang yang berbahagia dalam hidupnya. Namun kenyataannya, terlepas dari nama yang melekat pada seseorang, hidup tidak selamanya bahagia. Ada kalanya senang, susah, sedih, galau, dan lain sebagainya.

Happy tumbuh besar bersama sahabat cowoknya, Sadha. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya kedewasaan, Happy jatuh cinta pada sahabatnya tersebut. Namun ungkapan perasaan dari Sadha yang diharapkannya tak kunjung muncul. Alih-alih menyatakan cinta padanya, Sadha malah minta dicomblangin dengan teman kampus Happy, Yuna. Dengan berat hati, meskipun tak ditunjukkannya, Happy pun mengenalkan mereka berdua, hingga akhirnya mereka pun jadian.

Sejak awal hingga akhir cerita, pembaca akan larut dalam kesedihan dan kegalauan Happy karena kedekatan Sadha dan Yuna yang belum juga bisa dia relakan itu. Di sisi lain, ada seorang cowok, Gerald, yang mati-matian jatuh cinta padanya, tak digubris sama sekali. Happy masih berharap agar Sadha segera sadar bahwa dirinya lah yang lebih tepat untuk mendampinginya. Sayangnya Sadha nggak sadar-sadar juga, gimana dong?

Patut diacungi jempol usaha Happy untuk berusaha melupakan Sadha, termasuk pergi ke Malang dan napak tilas. Meskipun tidak banyak membantu juga sih. Usahanya justru berhasil ketika Gerald yang gigih akhirnya mampu membuat Happy menerimanya menjadi pacar. Meskipun tahu Happy menyukai Sadha, Gerald tetap berada di sisinya dan menyadarkannya perlahan-lahan. I love him! OMG, I love this Gerald!

Minusnya dari novel ini adalah, dari halaman-halaman awal, sudah terlalu banyak typo. Mungkin editor kudu lebih semangat mencari ‘kutu-kutu’ typo agar pembaca tidak merasa terganggu dalam menikmati novel ini.

Plusnya, jalan cerita dan plottingnya enaknya diikuti, sehingga saya hanya membutuhkan beberapa jam saja untuk menyelesaikannya. Yang bikin lama posting tuh, koneksi internetnya yang alakazam. *curhat*

Ending dari cerita ini saya suka! Menginspirasi sekali bahwa moving on is a must! And we can not get whatever we want. We have to try in order to be happy.

Sangat cucok untuk remaja beranjak dewasa yang sudah mulai merasakan kegalauan cinta *tsaahh* dan kesulitan untuk move on. Kadang kita tak menyadari, bahwa kebahagiaan kita berada tepat di depan mata, sementara kita masih mencari ke kiri dan kanan. Open your eyes, open your heart, there it is! Happiness is right in front of you. All you have to do, is grab the opportunity and be happy :)
Profile Image for Sayfullan.
Author 10 books39 followers
January 21, 2015
Akhirnya sempet ng-erate dan ngomen juga karya perdana Mas Abbas. Sudah baca lama sih ni novel, tapi belum sempat buka GR lagi karena sedang sibuk bertapa #serasapendekar

Sebelumnya makasih mbak Dini Nov, yang sudah baik banget ngasih dua buntelan novel dari moka. Dan Before Happiness, ini salah satunya. SKIP. Oke sampai sini curhat dan lembar thanks to-nya yah. Lalu inget review, hehehe...

Kesan pertama, saya tidak begitu suka kavernya, tapi membaca lembar pertama saya suka gaya bercerita penulisnya.

Saya suka karakter Happy! Entah, meski ada cewek se-perfect Yuna, aku lebih memilih si ceria, centil, meski agak sentimentil ini. Dan tentu juga suka karakter si Gerld, yang punya muka oh-so-tapok-able daripada Sadha. Yeah, meskipun saya lebih suka nama Sadha daripada Gerald #NggakYambungWoiii oke, lupakan soal nama, itu hanya soal selera saya. Hehehe

Kalau soal premis si biasa ya, maksud saya konflik utama novel ini sudah banyak diangkat, tema TTM (teman tapi mau atau teman tapi ngarep) itu yang membuat saya kurang surprises!

Gaya berceritanya suka. Enak dan lancar, tapi... Tapi... Tapi...
Kurang panjang!!

Jangan dibaca harfiah ya. Maksud kurang panjang ini, adalah potongan-potongan adegan yang sebenarnya berpotensi untuk ditunjukkan, bukan dikatakan hanya sebuah informasi atau berita. Banyakkkkkk banget adegan yang seperti diringkas. Kayak cuma sekadar lewat sambil cerita, padahal saya sudah kepo, gimana detailnya kisah si happy ini. Mau dipanjangin dong mas Abbas, boleh? Hehehe

Meski tidak terlalu suka dengan novel bersetting over detail, tapi buku ini menurut saya malah minim sekali detail setting, yah ngerasa ada yang kurang gitu. Meskipun, cukup kok informasi singkat tentang Malang dan Bangkok yang saya input dari cerita Happy ini, tapi masih kurang merasakan ada di dalamnya.

Terakhir, Mas, kenapa ya Happy begitu mudah ngelupain cinta Sadha? Bukannya saya nggak rela si, tapi sebagai manusia normal, nggak terlalu cepat si Happy melakukan manuver cinta ya? Saya baca dari awal hingga 80% novel, bagaimana dalamnya, dramanya, hebohnya, Happy mencintai Shada, dan kok semudah itu berakhir seperti ending. (Penginnya ada twist gitu, hehehe)

Pokoknya, nggak nyesel saya baca buku ini. Yang buat nyesel, kurang tebal saja novelnya, Mas penulis! Hehehe Dan akhirulkalam wassalamualaikaum...

Ditunggu karya-karya selanjutnya :) (#apasudahterbit?) merasa nggak up date saya, lalu banting kepala ke depan laptop

Salam hangat
Sayfullan
Profile Image for Tyas Effendi.
Author 6 books49 followers
July 19, 2014
Selamat buat lahirnya novel perdana ini, ya!
Biasanya euforianya lama. Apalagi, saya tahu dari seorang sahabat penulis yang sekarang lagi di Jepang (you know who, ya Bas, haha) kalau sejak kecil, penulis novel ini memang punya minat besar di bidang kepenulisan. Jadi, terbitnya novel perdana ini pasti merupakan sebuah prestasi besar di karir kepenulisannya :D

Sebenarnya, saya sudah kenal Happy ketika novel ini masih dalam proses editing oleh penulis.
Ada perkembangan alur cerita yang cukup drastis juga dari draft yang saya baca sama novel yang terpajang di toko buku. Meski begitu, perubahan ini positif. Editing dan revisi yang memakan waktu cukup lama rupanya berbuah bagus juga. Sayangnya, masih ada beberapa hal yang kurang pas setelah buku ini terbit.

Pertama, saya lebih suka judul awalnya, OLTCY,--meski singkatannya lumayan ruwet--tapi kalau dipanjangin jatuhnya lebih bagus daripada Before Happiness alias BH. Tapi ya, begitulah, usulan penerbit dalam pemilihan judul biasanya lebih condong ke minat pasar.
Kedua, covernya yang kurang menunjukkan isi cerita. Saya tidak melihat sosok Happy di ilustrasi itu. Padahal, 'cover-cover iseng' buatan penulis biasanya lebih bagus dan romantis.
Terakhir, typo dan ukuran font perlu diperhatikan (mungkin ini komentar lebih cocok ditujukan buat penerbit ya). Soalnya, meski kedengarannya sepele, tapi dua hal ini mengganggu proses baca.

Mengambil tema yang menurut saya sangat klise, cinta pada sahabat sendiri, tentu menuliskannya butuh perjuangan. Penulis harus mampu mengajak pembaca untuk percaya bahwa tulisan yang ini berbeda dari cerita cinta-pada-sahabat-sendiri yang lainnya. Nah, di sini penulis sudah berhasil melakukannya.

Saya menduga bahwa aura novel ini nantinya akan gloomy. Tapi, saya tidak banyak menemukan sisi itu. Penulis mengembangkan alur dengan caranya sendiri. Gaya bahasanya cenderung kocak dengan diksi yang khas. Ini salah satu kelebihan Before Happiness. Dan saya rasa, gaya penulisan yang khas itu juga akan menempel pada novel-novel selanjutnya, sehingga penulis memiliki ciri khas tersendiri.
Selain itu, meski menulis dengan POV 1 wanita, tapi saya rasa penulis sudah mampu mempertahankan karakter tokoh utamanya dengan baik.

Terakhir, sekali lagi selamat buat terbitnya novel ini.
Good job. Semoga tulisan berikutnya semakin bagus.
Dan, semoga MH menjadi novel yang terbit berikutnya! Aamiin:))



Profile Image for Pattrycia.
351 reviews
July 20, 2014
Akhirnya setelah penundaan yang berlanjut2, sempet jg gw nulis review buat novelnya Abbas. Congrats ya buat novel solo pertamanya!

Temanya sebenernya klise & udah sering diangkat, tapi kecanggihan Abbas mengolah kata yang bikin novel ini jadi spesial. Happy & Sadha adalah sepasang childhood friends yang super lengket. Gw emang agak skeptis sih klo cwo & cwe itu bs jd temen tanpa ngelibatin perasaan sama sekali, pasti ujung2nya salah satu ada yang jatuh cinta. Bagus sih klo dua duanya ternyata sama2 suka, tapi klo casenya kyk si Happy yang bertepuk sebelah tangan kan bikin galau jg. Jd mereka berteman baik sampe suatu hari Sadha main ke kampus Happy & ketemu sm Nara, tmnnya Happy. Mereka trnyata naksir satu sm lain trus mnt dicomblangin sm Happy *ngenes abis* Kasian bgt si Happy harus jd nyamuk waktu diajak ikut mereka kencan. Puncaknya ketika Sadha minta bantuan Happy untuk melamar Nara *insert thunder sound* Ya ampun, namamu dan nasibmu sangat bertolak belakang nak. But, as the saying goes, every cloud has a silver lining. Untungnya ada Gerald yang sangat sayang sm Happy. Walaupun suka ngajak berantem, tapi Gerald itu super perhatian bgt sm Happy. Dia selalu ada buat nyelametin Happy di berbagai awkward situations. Dia jg yg ngertiin kesedihan Happy, gimana rasanya mencintai orang yang gak pernah menyadari cintanya. Gerald is like a superhero who always saves the day.

Ceritanya asyik, kalimatnya ngeflow. Tapi sayangnya masih byk typo bertebaran yang lumayan menganggu. Contohnya hal 41 faithfull harusnya faithful; hal 43 wajanhya harusnya wajahnya. Di hal 42, 2 paragraf pertama beda font. Narasi ttg recap perjalanan Happy ke Malang juga agak bertele-tele & terlalu detail, mnurut gw (sorry Bas) kyk karangan anak SD. Gw jg krg ngerti maksud kalimat pertama di paragraf ke 4 hal 84 yang bunyinya begini "Dia satu-satunya orang yang tahu bahwa selama ini perasaan gue." Correct me if I'm wrong, tapi setau gw yang main True Blood itu Alexander Skarsgård, bukan om Stellan yang merupakan bokapnya Alex.

All in all, gw suka sih novelnya Abbas ini, despite all those errors & flaws. Yah masih bisa dimaklumi deh. Sekali lagi selamat buat Abbas yang udah berhasil menelurkan sebuah novel. Moga2 novelnya jd best seller & ditunggu karya2 selanjutnya. Bravo!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book28 followers
July 29, 2014
Wawancara tentang Ulasan Singkat Novel “Before Happiness”

... Kover novel Before Happiness begitu sederhana. Ada gambar seorang wanita yang tengah melangkah dengan bayangannya mewujud siluet anak-anak kecil, dan sebuah tulisan berupa endorsement untuk novel itu. Tiga endorsement lainnya tercetak di sampul belakang. Nama mereka tak asing. Dua orang penulis, dan salah seorang lagi berkecimpung di dunia perfilman. Nampaknya novel ini menarik, jadi mari dibuktikan.

Beberapa jam berlalu akhirnya novel tersebut dapat kuselesaikan. Huh… aku butuh makanan sebelum menulis ulasannya. Selesai makan dan begitu hendak membuka laptop, seorang perempuan datang menghampiriku. Aku agak kaget. Kukira ia tamu yang hendak bertemu saudara perempuanku. Namun, ia memperkenalkan dirinya. Ia menyebutkan namanya Amalia Happy. Lho, kebetulan sekali aku baru saja selesai membaca sebuah buku dengan nama tokoh persis namanya. Ia memintaku untuk tidak bertanya. Ia membutuhkan jawaban saja dariku. Aku bertanya untuk apa, dan dijawabnya untuk wawancara ulasan buku Before Happiness. Aku terperanjat. Begitu hendak mengatakan keanehan ini, perempuan itu langsung menggulirkan pertanyaan padaku.

Bagaimana menurutmu isi buku Before Happiness ini?
(Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Mendadak jadi sulit bicara. Aku terdiam lama.)

Katakan saja pendapatmu tentang buku Before Happiness ini!
(Kupikir perempuan ini sedikit menjengkelkan. Sikapnya tenang, tapi sedikit mengintimidasiku)
Menurutku buku ini merupakan bacaan populer yang tentu saja sangat disukai kawula muda sekarang. Siapa yang tidak suka kisah romantis dengan balutan gaya penulisan yang mudah dicerna. Tak perlu susah-susah memikirkan alur cerita yang rumit dan buat sakit kepala.
Buku ini terasa ringan sehingga bisa dengan mudah ditamatkan dalam sekali duduk. kusarankan membacanya di atas kasur atau di sofa yang empuk. Jika tidak punya silakan lesehan saja di atas karpet.
Baru-baru ini aku juga membaca bacaan populer dengan tema serupa dan sempat membanding-bandingkan dalam hati apa saja kekurangan maupun keunggulan pada novel ini.

ulasan selengkapnya silakan baca di sini:
http://princedamorejeb.blogspot.com/2...
Profile Image for Nina Ardianti.
Author 10 books400 followers
August 11, 2014

Sejujurnya, saya adalah salah satu orang yang berharap banyak dari bukunya Abbas yang ini. Namun, setelah membaca sampai selesai, mungkin ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa saya hanya bisa memberikan dua bintang untuk Before Happiness.

Yang pertama, kita semua tahu bahwa tema jatuh cinta diam-diam kepada sahabat adalah hal yang sering banget digunakan sebagai premis sebuah novel. Namun, walaupun mungkin udah berjuta-juta penulis di luar sana menggunakan premis yang sama, eksekusi dan deliverablesnya pasti berbeda-beda. Seharusnya karena yang digunakan adalah POV orang pertama, bisa lebih digunakan untuk menunjukkan lebih jelas gimana perasaan Happy dan kenapa dia sampai segitu jatuh cintanya sama Sadha. Karena sejujurnya, saya nggak mengerti alasan mengapa Happy segitu cintanya sama Sadha (selain faktor mereka temenan dari kecil). Interaksi antara Happy dan Sadha juga kayaknya gitu-gitu aja, nggak bikin saya gemes-gemes gimana gituuu. Oh ya, saya sepakat dengan beberapa reviewer lain: what's with this 'Prince' and 'Princess' thingy?

Kedua, semuanya masih berasa 'tell' bukan 'show'. Kebanyakan deskripsi yang terasa 'datar' dan beberapa kali saya hanya membaca sambil lewat aja. Saya nggak merasakan kedalaman emosi, tempat, atau ambience.

Ketiga, ada beberapa plotholes, cuma saya lupa, hehe... Mungkin reviewer lain ada yang udah pernah bahas. Selain itu, terkait dengan masalah teknis, mungkin proofreader dan editor-nya harus lebih jeli lagi ya, baik dari logika cerita maupun ejaan dan bahasa. Kadang layoutnya juga tiba-tiba nggak nyaman buat diliat.

Keempat, side story-nya sebenernya bisa jadi lumayan drama kalau dieksekusi dengan lebih baik. Kalau yang ini kesannya cuma jadi tempelan aja.

Overall, ada beberapa lagi lainnya yang menjadi catatan saya selama membaca, namun kalau ditulis kayaknya kepanjangan. Sementara itu dulu, ya, hehehe...

Saya yakin, ke depannya, Abbas bisa menulis karya yang lebih baik dan saya tetap akan membaca buku Abbas berikutnya. Keep writing! :)


Profile Image for Dini Novita  Sari.
Author 2 books37 followers
July 26, 2014
Mau ngasih dua, tetapi dibandingkan temannya satu penerbit yaitu "Bunga di Atas Batu" yang kubaca juga dalam waktu dekat, novel ini lebih baik. Namun, belum sampai pula membuatku suka (3 bintang artinya: I like it). So, kesimpulannya, ratingnya: 2.5. Premisnya agak sama dengan BdAB: Cinta sama sahabat sendiri, bedanya kalau di sana cowoknya yang cinta, di sini ceweknya, dan harus rela melihat sang sahabat menjalin cinta dengan cewek lain. Secara cerita, menggunakan POV 1 sebenarnya berpotensi untuk membuat aku sebagai pembaca larut dalam penuturan si Happy. Tapi kok cara berceritanya kayak mendongeng, terlalu banyak ngasih tahu (telling) alih-alih menunjukkan (showing) jadinya flat. Aku nggak dapat gejolak galaunya Happy yang terlalu jelas disimpulkan olehnya. Ada beberapa hal "bolong" yang entah karena salah tulis atau apa tapi jadinya aneh. Misalnya, seperti kutulis di update status pas lagi baca, udah dibilang naik mobil sewaan tapi kok si Happy gelendotan mulu ke Gerald. Emang bisa ya nyetir mobil digelendotin, naik motor kali bisa. Lalu, secara penyuntingan, sama aja dengan BdAB, banyak kacaunya. Ya typo, ejaan nggak sesuai KBBI, sama terlalu banyak kata asing yang nggak dikursif. Oalah, ini editor sama proofreader-nya (dua-duanya ditulis namanya di KDT) terlalu terburu-buru atau gimana sih? Jujur, rasanya cukup dua inilah saya nyobain Moka. Dalam waktu dekat nggak dulu daripada nambah dosa dengan trolling melulu, hehe.

Resensi lengkap:
http://dinoybooksreview.wordpress.com...
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
September 1, 2015
Terus terang, seperti banyak orang, aku berharap menemukan sesuatu yang 'wah' di debut Kak Abbas ini. Tapi kelihatannya enggak..

Selain salah ketik, kelebihan ketik, typo dan lain-lain, aku merasa sulit merasakan perasaan Happy, memahami isi kepalanya, lebih jauh, menyelami ceritanya...

Aku bahkan bingung ketika menjelang akhir ada banyak info tambahan yang tiba-tiba banget hadir. Dan, mungkin ini aku aja, banyak sekali adegan yang juga tiba-tiba muncul tiba-tiba berakhir. Sepanjang cerita, aku sibuk sendiri merangkai ceritanya.

Lalu, masih ada beberapa flashback yang nggak bikin ngeh kalo itu flashback. Tahu-tahu si Happy cerita kalau dia sering bla bla bla. Bermonolog sendiri, sementara yang baca nggak dikasih clue apa-apa sebelumnya.

Idenya, meski umum, aku suka kok. Ide yang sebenernya kalau eksekusinya kece, pasti akan bikin aku galau berhari-hari x)))

Aku yakin buku Kak Abbas selanjutnya akan jauh lebih baik lagi. Ditunggu :)
Profile Image for Afifah Mazaya.
122 reviews7 followers
July 14, 2014
Saya tidak memiliki sahabat cowok, tapi saya memercayai satu hal: tidak ada persahabatan cewek-cowok tanpa tumbuh perasaan lain. Setidaknya, selalu ada salah satu pihak yang memendam perasaan. Syukur-syukur kalau berbalas, kalau tidak, malah bisa merusak persahabatan. Keep smile saja kalau sudah begitu.

Entah sudah ada berapa banyak buku yang mengangkat tema ini: sahabat jadi cinta dan move on. Saya sudah siap-siap dibuat galau dan diselubungi aura suram. Nyatanya, iya sih galau, tapi tidak sesuram yang saya bayangkan.

Dalam buku ini, beberapa kali Happy menyebutkan kenangan-kenangan masa kecil mereka. Bukan hanya kenangan-kenangan manis mainstream, tapi juga kenangan-kenangan konyol. Kenangan-kenangan konyol itulah yang menurut saya normal. Kalau tidak konyol, rasanya kurang anak kecil.

More: http://theladybooks.blogspot.com/2014...
Profile Image for Disty Oktavia.
1 review
July 16, 2014
Before HappinessCerita yang diangkat dari tema Friendzone ini cukup menarik minat saya buat baca...
karena penulis bisa menjabarkan dengan bahasa yang nyaman, santai dan membuat betah untuk baca..
walaupun ending udah bisa ditebak semenjak beberapa halaman awal, tapi penulis bisa bikin proses menuju ending yang lumayan oke..
memang ceritanya tidak panjang, klimaks/masalah kurang panas, tp untuk porsi novel yang hanya 210 halaman, menurut saya sih sudah pas pas saja..
Bukan tipe orang yang seneng baca sih, tapi karena pembahasaan penulis yang membuat saya nyaman itu akhirnya saya bisa bertahan hingga cerita berakhir..
Good Job!
Semoga buku selanjutnya semakin berkembang :)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.