Jump to ratings and reviews
Rate this book

1890

Rate this book
Berlatar zaman kolonial Belanda, menceritakan tentang kehidupan dan romansa yang pelik kaum ningrat Jawa di Hindia Belanda tahun 1890 .

Pamungkas, merupakan anak bungsu keluarga tuan tanah perkebunan tebu di Tulangan, Jawa Timur. Ketika masih berusia 9 tahun, terjadi kerusuhan di desanya akibat perebutan tanah milik orang tuanya oleh seorang pengusaha Belanda licik yang ingin membangun pabrik gula di sana. Peristiwa itu telah merenggut nyawa kakak kandungnya, juga memaksa keluarganya agar terusir dari tanah itu. Sejak itu, Pam harus tumbuh bersama dendam yang ada dalam dirinya.

Tujuh belas tahun kemudian, Pam bekerja untuk sebuah perusahaan surat kabar bernama Soerabajasch Handelsblad dan menjadi seorang pewarta. Ia mencari tahu tentang kejadian 17 tahun lalu, mencari tahu siapa dalang di balik itu, serta dokumen-dokumen lama yang bisa dijadikan bukti.

Tanpa sengaja, Pam bertemu dengan Raden Ajeng Utari Kasmirah, anak bangsawan dari seorang administratur pabrik gula terpandang di Surabaya, yang juga terlibat dalam kerusuhan kebun tebu di masa lalu yang membuat keluarganya sengsara. Pam pun mencari cara untuk mendekati Utari dengan dalih balas dendam. Namun lama-kelamaan, perasaan cinta tumbuh dalam hati keduanya.

Ia tak dapat menghindar. Namun dendam harus disudahi, entah dengan dibayarkan atau dilupakan.

280 pages, Paperback

Published December 18, 2024

3 people are currently reading
38 people want to read

About the author

Ayu Dewi

6 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (13%)
4 stars
22 (50%)
3 stars
14 (31%)
2 stars
2 (4%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 20 of 20 reviews
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 19 books462 followers
March 30, 2025
Pamungkas, seorang keturunan ningrat jawa, memendam dendam kepada orang yang sudah menghancurkan keluarganya 17 tahun lalu. Saat itu, perkebunan tebu milik ayahnya dirampas oleh orang Belanda yang bekerja sama dengan ningrat jawa lainnya dengan cara yang nggak sah. 17 tahun kemudian, Pamungkas bekerja di harian Soerabaya Hindelsbland (aduh, susah tulisannya dan aku lupa), dengan tujuan mencari informasi tentang peristiwa tersebut dan membalas dendam. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Raden Ajeng Utari, sosok penuh semangat yang sayangnya berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Selama ini aku kurang bisa menikmati hisfic Indonesia modern (termasuk isekai-isekai) karena gaya bahasa percakapan yang menurutku terlalu modern dan nggak sesuai. Tapi novel ini cukup bagus. Gaya bahasanya sesuai, interaksi antartokohnya juga sesuai dengan zamannya. Konfliknya sebenarnya pelik karena melibatkan dendam, tapi nggak sampai bikin pusing karena ini romance yaa.

Mungkin buku ini nggak cocok untuk menyuka novel dengan konflik jedar-jeder. Mungkin penyampaian alurnya sendiri agak flat. Tapi aku suka dengan pembangunan settingnya, juga dengan tulisan-tulisan Pamungkas sebagai Trunojoyo. Suka aja dengan gaya penyampaiannya yang berasa baca koran zaman dulu.

Oh, ada satu yang janggal, yaitu tentang penggunaan jam tangan Pamungkas. Apa saat itu jam tangan (yang dipake di pergelangan tangan) sudah umum di kalangan eropa? Sepertinga belum, karena kalo aku baca singkat di google, jam di pergelangan tangan itu baru umum dipakai setelah PD 1.

Hal aneh kedua, di akhir itu, Pamungkas kan bekerja selama 2 tahun sebagai juru tulis di sebuah surat kabar kecil, masa dia bisa terlewat berita menggemparkan itu sampai 2 tahun?

Sooo, buat penyuka genre ini, aku cukup merekomendasikan novel ini karena gaya bahasa dan penggambaran dunianya cukup sesuai (aku bilang cukup, karena aku juga nggak tahu gimana tepatnya pada masa itu. Tapi lumayan berbeda dengan kehidupan di masa ini).
Profile Image for Neysa.
120 reviews1 follower
February 16, 2025
The story is too bland and the storyline is too predictable for me as the reader. At first, I was searching new released books in Gramedia Digital and searching for new Indonesia hisfic book. The list of new releases suggested me this book as new releases one. At first, I eager to reading it because the blurb quite promising. However, after I read 3 chapters and start from that point, the storyline is easy to guess/ predict and I started not feel any excitement. I never read any kind of author works before so I really dont know what the kind of writing style that she wrote in every of her books.

The background story actually kind of remind me with Romeo and Julliette somehow but the author kind of twist the ending and let the ending of the story “hanging”. Maybe the author was inspired by it since the term of “Romeo and Julliette” also mentioned in this book few times. Probably not one of the best hisfic book that I read for this year. Although the storyline and plot is not exciting me. I really appreciate and praise the author ability to depicted how was Indonesians and Dutch colonials communicate at that time (especially in East of Java) with specific term of words that rarely being used for example like: Ndoro, Tuan, sahaya and so on. Even the names of the characters was written based on 19th century like “Raden Soerjo” not “Raden Suryo”. She also quite could describe the conditions of Indonesian at that time, the class differences between indigineous people and nobleman who close with the Dutch, including the condition of society and economy at that time. Sadly, I will rate this book as 2.7 out of 5, eventhough the execution of the plots and storyline could be better.
Profile Image for aynsrtn.
500 reviews17 followers
June 12, 2025
Romeo-Juliet versi zaman kolonialisme. 1890 menyajikan hisfic dengan tema rencana balas dendam yang berujung menjadi cinta, lalu memilih mundur. Dan di akhir, rencana “itu” malah diambil oleh tokoh lain. Sungguh plot yang sangat “berani” karena pasti nggak banyak orang yang suka dengan eksekusi seperti ini. Karena [biasanya] sang pemeran utama harusnya menjadi yang utama, bukan malah “pergi” dan menyadari semuanya setelah 2 tahun.

Ini adalah buku pertama penulis yang ku baca. Tulisannya rapi. Storyline-nya pelan, tapi pasti. Suka dengan pemilihan “tulisan” dijadikan sebagai senjata—ya meskipun tetap menggunakan senjata yang sebenarnya juga—tapi tema jurnalistik yang diambil patut diapresiasi.

Menurutku, bukan Pamungkas, Utari, atau Baskara yang menjadi MVP di buku ini, tetapi Suminah—abdi dalem yang kalau nggak ada dia, Utari semakin terbawa arus :””

❝Apakah orang baik akan selalu jauh dari penolakan, Ndoro Putri? Justru orang baik itu, akan selalu mendapat penolakan mendapat rasa sakit. Mendapat beribu rasa kecewa. Karena hatinya terlalu baik. Pun semua orang—meskipun ia orang baik, akan memiliki sisi jahat dalam hidup orang lain, Ndoro Putri. Hidup ini selalu begitu Hitam dan putih, saling tumpang tindih❞. - p. 196

Sebenarnya yang agak mengganjal buatku adalah motivasi [...] yang taking lead rencana “itu”. Okay, ada backstory-nya sih, tapi nggak linear aja rasanya. Bisa dengan cara lain. Tapi, mungkin penulis memilih penyelesaian ini agar pembaca lebih mengingat. Karena kepahitan biasanya lebih “berbekas”.

Ending-nya yang terbuka membuatku berandai-andai, seandainya mereka bertemu di era modern, apakah semua akan berbeda? #sebataskhayalanpembaca

Yang suka hisfic dengan bumbu romansa dan kamu menyukai bitter[not]sweet ending, bisa baca buku ini :”)
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
March 14, 2025
Pamungkas adalah anak kedua dari seorang pemilik lahan tebu yang cukup luas dan dihormati di Tulangan. Di masa kecilnya, hidupnya sangat berkecukupan. Ayahnya Raden Ngabehi adalah yang terkaya di Tulangan. Sampai ketika seorang Belanda ingin membeli tanah milik Raden Ngabehi untuk dijadikan pabrik gula. Tentu saja permintaan itu ditolak. Pieter van Rees akhirnya menggunakan cara licik. Dia menyuruh orang membakar kebun tebu milik Raden Ngabehi dan menyulut kerusuhan. Akibatnya putra pertama Raden Ngabehi ikut menjadi korban dalam kerusuhan itu.

Pamungkas menyimpan dendam atas kematian kakaknya dan kondisi yang dialami keluarganya. Yang dia tahu, salah seorang pemilik pabrik gula terkenal, Raden Soerjo adalah dalang di balik kerusuhan itu. Dia memilih membalaskan dendamnya melalui tulisan. Sebagai seorang wartawan yang bekerja di surat kabar, tulisan adalah senjata Pamungkas.

Suatu waktu, Pamungkas bertemu dengan seorang wanita ningrat yang membawa bunga matahari. Perkenalannya dengan wanita ini membuahkan perasaan baru. Apalagi Utari, nama wanita itu juga tertarik untuk menulis opini seperti yang disuarakan oleh Pamungkas. Cintanya bersemi, tapi tentu saja terhalang karena Utari adalah putri tunggal Raden Soerjo.

Mengambil latar jaman kolonial dan perkebunan tebu, novel ini mencoba mengangkat upaya seorang rakyat pribumi menyuarakan pendapatnya. Dia menulis tentang pendidikan, perkebunan tebu dan pabrik gula, dengan tujuan ingin menjatuhkan Raden Soerjo. Di sisi lain, ada seorang wanita ningrat yang ingin terlapas dari belenggu atas statusnya sebagai perempuan yang tidak berhak mendapatkan pendidikan dan kesetaraan. Romantisme antara Pamungkas dan Utari nggak begitu gamblang... hanya terjadi sekilas saja. Soalnya inti dari novel ini adalah pembalasan dendam Pamungkas. Sayangnya endingnya terasa kurang. Karena aksi heroiknya malah diambil alih oleh tokoh lain.
Profile Image for Between  The Page.
6 reviews
January 8, 2025
Novel berlatar belakang zaman kolonial yang sempat mengingatkan pada Minke --tokoh protagonis tetralogi Pulau Buru. Tidak seberat tulisan Pram tentu saja karena ini romance, obviously. Tata bahasanya mengalir nyaman walau menggunakan istilah lama seperti "Sahaya" "Ndoro" dsb. Alur ceritanya juga menarik, kisah cinta Pam dan Utari berlatar dendam dan konflik agraria. Namun, entah kenapa penyelesaian konflik pada novel ini masih kurang reasonable. Seperti terpaksa demikian agar "jadi". But, well hats off to author, keep up the good work! Saya cukup menikmati romansa di tengah Kota Surabaya zaman kolonial dan benar membayangkan senyaman apa cafe di pinggir sungai Kalimas. Apakah bangunan kuno peninggalan Belanda yang terlihat menjorok saat wisata perahu Kalimas adalah tempat Raras?
Profile Image for Nia potterr.
174 reviews3 followers
December 8, 2025
alurnya udh oke bgt tapi sayang sekali endingnya gantung😭
4 reviews
January 6, 2026
1890 —— Ayu Dewi

•••

280 halaman - 3,5 / 5 ⭐

📍 IpusSulteng



“Justru orang baik itu akan selalu mendapat penolakan. Mendapat rasa sakit. Mendapat beribu rasa kecewa. Karena hatinya terlalu baik. Pun semua orang—meskipun ia orang baik, akan memiliki sisi jahat dalam hidup orang lain. Hidup ini selalu begitu. Hitam dan putih, saling tumpang tindih.”



Wah~

Sebenarnya buku ini happy ending, ya, tapi aku terkena second lead syndrom saat membaca buku ini. Jadi, buatku ini sad ending. Aku masih gak terima sama ending-nya.

Bukunya sendiri menyenangkan, gak bikin bosan dan gak terlalu tebal. Alurnya lumayan bikin deg-deg-an, kadang gregetan, sesekali bikin pengen nangis dan karena aku pro sama second lead, bagian akhir bikin frustasi banget.

Buku ini sendiri bercerita tentang balas dendam Pamungkas terhadap ketidakadilan yang menimpa keluarganya 17 tahun lalu, tepatnya 1873.

Ayahnya, Raharjo Kusumoadiputro atau lebih sering dipanggil Raden Ngabehi punya berhektar-hektar kebun tebu yang mencakup sebuah desa bernama Tulungan. Warga desa yang tinggal di tanahnya gak dimintai uang sewa, mereka justru diminta bekerja sebagai petani tebu di tanahnya.

Punya tanah sebegitu luas, tentu banyak yang mengincar. Entah untuk bekerja sama atau dijual saja sekalian, tapi Raden Ngabehi gak mau melepas tanahnya karena kalau sampai tanahnya jatuh ke orang lain, gimana nasib warga desa Tulungan?

Akan tetapi, ada satu orang yang bersikeras menginginkan seluruh tanah Raden Ngabehi, namanya Pieter van Rees. Dengan bantuan asistennya, dia memaksa Raden Soerjo memalsukan dokumen penjualan tanah. Membuat kerusuhan dengan membakar ladang tebu dan membayar media untuk menyebar berita kalau pelakunya adalah Raden Ngabehi sendiri.

Raden Ngabehi dipanggil sebagai tersangka, tapi sebelum itu, sekali lagi Pieter mengirim asistennya. Raden Ngabehi bisa bebas dari tuduhan asal menyerahkan semua tanahnya. Inilah yang dipilih oleh Raden Ngabehi. Dia dibebaskan tapi harus angkat kaki dari tanahnya sendiri sebagai orang biasa. Mereka bangkrut.

Selain kehilangan tanahnya, Raden Ngabehi juga harus kehilangan anak sulungnya, Anung. Anung ini lumpuh, di saat kejadian (kebakaran kebun tebu) dia sedang bersama Pam. Namun, saat terdengar letusan, Pam panik dan tanpa sadar meninggalkan Anung. Jadi, sepanjang hidupnya Pam terus menerus merasa bersalah.

Meski bangkrut, Pam tetap sekolah. Dia harus menjadi orang hebat dan sukses lalu kemudian membuktikan semua ketidakadilan yang mereka terima. Ini perintah ayah dan ibunya, sekaligus tekadnya untuk membalaskan dendam atas kematian Anung.

Setelah dewasa, Pam jadi wartawan di sebuah surat kabar Belanda, Soerabjasch Handlesblad (kalau gak salah). Tujuannya tentu saja mencaritahu lebih dalam apa yang terjadi 17 tahun lalu. Dia yakin pasti ada jurnalis yang menuliskan berita ini dan dia perlu tahu, mungkin ada petunjuk di sana.

Sementara itu, Raden Soerjo, orang yang membantu memalsukan dokumen jual beli tanah, punya anak perempuan bernama Utari. Utari ini cerdas, dia termasuk salah satu perempuan yang bisa membaca dan berhitung. Utari juga diam-diam berlangganan koran meskipun sebenarnya Raden Soerjo melarang keras.

Sebenarnya ada alasan kenapa Raden Soerjo sekeras itu pada Utari. Tapi, bagi Utari, dia merasa ini gak adil. Mengapa perempuan cuma disuruh belajar membatik, memasak, dan menurut? Memangnya gak boleh perempuan itu bersuara?

Utari ini hidupnya sudah diatur, dia cuma bisa patuh. Bahkan urusan jodoh. Utari sudah dijodohkan dengan Baskara lelaki dari kaum bangsawan, terpelajar, tampan dan baik hati. Hubungan Utari dan Baskara sebenarnya seperti hubungan kakak adik, Baskara selalu melindungi Utari. Utari juga gak mau berharap lebih karena Baskara hatinya masih tergambar pada Ratih, cinta pertamanya.

Omong-omong, kisah Baskara dan Ratih ini lumayan menyakitkan. Sebenarnya aku kepingin menyalahkan Baskara. Tapi kalau dipikir-pikir, hubungan yang gak direstui itu resikonya emang besar banget. Dan yang paling menderita pada akhirnya tetap saja perempuan. Meskipun pada akhirnya Baskara berakhir sad ending sebagai bentuk penebusan dosanya, aku tetap gak rela.

Baskara~

Baskara diberi tugas rahasia untuk melatih Utari menembak. Menembak itu tabu bagi perempuan, tapi Raden Soerjo berpikir kalau Utari perlu punya kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri. Ada beberapa bagian antara ayah dan anak ini yang bikin haru. Hubungan mereka sebenarnya gak terlalu dekat, Utari kesal karena ayahnya selalu melarang ini dan itu. Sementara Raden Soerjo bukan gak mau Utari berkembang, dia terlalu takut akan ini dan itu.

Sebenarnya, kejadian 17 tahun lalu pun masih membayang-bayangi Raden Soerjo.

Nah, bicara soal perasaan, tentu kalian bisa menebak, Utari pada akhirnya jatuh cinta sama siapa? Yup, sama Pamungkas!

Pamungkas tahu kalau Utari anak Raden Soerjo, orang yang ikut menghancurkan keluarganya. Sementara Utari gak tahu siapa Pamungkas sebenarnya. Yang jatuh cinta bukan cuma Utari, tapi juga Pamungkas. Berbeda dengan Utari yang gak tahu apa-apa, buat Pam, jatuh cinta sama Utari itu menyakitkan.

Antara cinta dan balas dendam, siapa yang menang?

Konflik mendebarkannya adalah saat Pieter van Rees ditembak mati, siapa yang melakukannya? Pam? Atau malah Utari?

Sebenarnya, sepanjang membaca buku ini membuatku teringat sama drama Korea yang judulnya Mr. Sunshine. Mungkin ini gara-gara Utari juga pinter menembak. Tapi ada satu karakter lagi yang mirip sama karakter di Mr. Sunshine, yaitu mbak-mbak yang punya hotel. Di buku ini juga ada Nyai Raras, yang punya hotel + restoran. Cuma nanggung aja gitu karakternya.

Atau lanjutannya di buku lain? Soalnya buku ini pun endingnya agak menggantung.

Oke, segini dulu.

Sampai jumpa di buku berikutnya.

Bye~
Profile Image for Afriyani Khusna.
5 reviews1 follower
February 6, 2025
Novel ini adalah novel romansa yang berlatar di Surabaya pada zaman pemerintahan Hindia Belanda.Pamungkas adalah putra kedua dari bangsawan jawa kaya raya yang terpandang di Tulangan yang bernama Raden Ngabehi, sosok yang tidak hanya kaya harta tapi juga kaya hati. Ia memiliki kakak laki-laki yang mengidap Down Syndrome. Pam dan kakaknya dibesarkan dengan penuh cinta dan ia juga mendapatkan amanah dari kedua orangtuanya untuk menjaga Anung kakaknya yang disabilitas. Kehidupan Pam dan keluarga berubah karena ketamakan Pieter van Rees yang ingin membeli tanah perkebunan tebu milik Raden ngabehi untuk dijadikan pabrik gula. Permintaan Pieter tidak diindahkan oleh Raden ngabehi, ia bersikukuh tak menjual ribuan hektar tanah perkebunan tebunya. Ia tak mau melepas tanahnya untuk perusahaan swasta yang berimbas negatif pada kehidupan penduduk Desa Tulangan. Penolakan ini ternyata menjadi petaka bagi keluarga Pam. Pieter yang licik mencari cara untuk menfitnah Raden Ngabehi dengan melalukan hal yang sangat kotor, memalsukan sertifikat tanah dan bekerja sama dengan bangsawan jawa lain yaitu Raden Soerjo, hingga membakar perkebunan tebu yang merenggut nyawa kakaknya Anung. Kematian Anung membawa duka yang mendalam bagi keluarga Pram. Fitnah dan siasat Pieter juga berhasil merebut ribuan hektar tanah perkebunan ayah Pram dan bagai roda, garis kehidupan Pram dan keluarga berada pada poros terbawah. Hanya Ratmo, kusir keluarga mereka yang masih tetap setia mengabdi pada keluarga Raden ngabehi. Pram pun tumbuh besar dengan tetap membawa dendam didadanya dan misi untuk bukti dan mencari tahu siapa dalang yang menghancurkan kebahagiaan mereka. Dalam perjalanan balas dendamnya Pram bertemu seorang gadis Jawa ayu bernama Utari yang cerdas, berani dan tidak seperti gadis Jawa pada umumnya. Romansa mereka berdua cukup menarik untuk diikuti, slow burn dan dalam. Benih-benih cinta tumbuh di hati Utari sejak Pram mengajarkannya menulis. Sementara Pram telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Latar belakang keduanya membuat kita berfikir bahwa hubungan keduanya tidak akan mudah. Karena Utari adalah putri dari Raden Soerjo, bangsawan Jawa yang bekerjasama dengan Pieter dalam menjatuhkan keluarga Pram. Pram berada dalam dilema untuk memilih cinta atau dendam.

Novel romansa sejarah ini menarik untuk dinikmati. Setiap tokohnya punya karakter yang kuat terutama Pram. Menurutku meski kurang sempurna tapi penulis berhasil mendeskripsikan situasi masa lalu di zaman pemerintahan hindia Belanda dengan sangat baik. Saya juga menyukai tokoh Baskara, Pria pribumi tampan yang juga pintar dan bergelar bangsawan. Tokoh ini membuat saya terkena second lead syndrome, sehingga saya masih berharap sampai akhir tokoh utama bisa berakhir dengannya, tapi ternyata penulis malah menjadikan kisah hidupnya menjadi tragis di akhir. Menurut saya, jalan yang tragis itu tak sesuai untuknya, harusnya penulis tidak memberinya hukuman sekejam itu atas masa lalunya. Pengorbannya terlalu besar dan terlalu jomplang. Satu-satunya hal yang saya tidak sukai dalam novel ini adalah akhir cerita yg tragis untuk Baskara. Saya patah hati. Penulis juga menyuruhmu berpikir hingga akhir untuk merumuskan kisah romansa tokoh utamanya. Ya, novel ini open ending, yang mana nasib hubungan percintaan antara Pram dan Utari tidak dijelaskan secara pasti.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Hirai.
200 reviews5 followers
March 5, 2025
“Benarkah nyawa harus dibalas dengan nyawa? Apakah benar sudah tidak ada lagi keadilan yang mutlak di dunia ini?”
1890 adalah novel berlatar belakang sejarah era kolonial dimana kehidupan pribumi sangat sulit dan banyak dipengaruhi oleh kekuasaan Belanda. Apalagi untuk perempuan mereka seolah tidak diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan layak dan melihat dunia luar karena ditakutkan menjadi ancaman. Orang-orang pribumi yang memiliki pengetahuan tinggi sengaja dilenyapkan tidak memandang gender baik laki-laki maupun perempuan.
Kisah yang unik mengenai kilas balik kejadian mengerikan di masa lalu dan menyisakan dendam kesumat pada diri Pram. Dirinya merasa bersalah atas kematian Anung, kakaknya dan juga penasaran mengenai penyebab utama imbas dari kejahatan yang tak pernah mereka lakukan.
Alur berjalan cepat dengan pembahasan ciamik dan latar kejawen cukup kental. Kehidupan Pram mulai berubah tidak hanya fokus bekerja sebagai pewarta setelah pertemuannya dengan Utari. Utari adalah perwujudan perempuan yang menolak kungkungan dan ingin mendapatkan hak yang seharusnya didapatkannya. Gadis dengan segudang rasa ingin tahu itu berhasil menarik hatinya.
Kenyataan pahit dan dilema dendam dalam dirinya membuat kejelasan hubungan mereka semakin sulit. Lagi-lagi perihal perbedaan kasta apalagi masa lalu keluarga Utari yang menyulut api balas dendam itu kembali muncul. Pribumi kita banyak dipojokkan dengan ancaman pelenyapan keluarga lalu mereka bisa apa selain tunduk terhadap Belanda?
Kisah romantisme tipis-tipis membumbui semangat Pam dalam mengungkap kebenaran. Ditutup dengan penebusan yang setimpal meskipun masih menyisakan pertanyaan besar. Apakah benar apa yang mereka lakukan? Bukankah mereka tetap mengorbankan seseorang ke dalam kesengsaraan? Saya sangat menikmati cerita dari buku ini dari awal sampai akhir.
Mungkin bagi Pram mengalah adalah pilihan terbaik dan berusaha melupakan dendam yang menggerogoti dirinya tersebut. Sementara bagi Utari sudah saatnya dia bangkit dan membalas budi atas apa yang dilakukan Ayahnya sekaligus penebusan untuk luka keluarga Pram. Lalu apakah bagaimana dengan Baskara? Apakah dengan keputusannya tersebut bisa membuat hatinya merasa lebih baik?
37 reviews
Read
July 1, 2025
setelah baca novel ini, aku narik kesimpulan, "apapun akan kulakukan buat ayang, termasuk mbedil wong Landa." wkwkwk, bercanda.

1890 menceritakan tentang Pam dewasa yang ingin membalaskan dendam keluarganya pada Peter van Rees dan Raden Soerjo karena gara-gara fitnah kejam mereka, Pam dan keluarga jadi kehilangan Anung dan jatuh miskin. Tapi, Pam sadar, mereka adalah orang-orang yang susah buat digapai apalagi dengan kondisi Pam yang bukan orang kaya (lagi).

Selama mencari tau tentang pembantaian dan pembakaran di Tulangan (desa tempat tinggalnya), Pam bertemu dengan Utari. Utari adalah anak Raden Soerjo. Pam awalnya berniat balas dendam lewat Utari, tapi ternyata mereka malah saling jatuh cinta.

Saat Pam sudah menemukan cara bagaimana ia balas dendam, yaitu dengan menulis di kolom rakyat surat kabar tempatnya bekerja, Pam malah dilema besar antara melanjutkan membalas dendam atau tidak.

Kenapa kalian harus baca novel ini?
Gaya bahasanya sesuai di zaman itu. Kita jadi bisa ngebayangin seperti apa kondisi Hindia Belanda di tahun 1890.
Tokoh Utari yang bener-bener break the rule of patriarchy. Ia gak mau kalau perempuan dilarang untuk berpendidikan tinggi. Perempuan juga bisa melawan.
Kedua orangtua Pam yang legowo anaknya meninggal dan hartanya direbut paksa walau sudah 17 tahun berlalu ga ada permintaan maaf dari para pelaku.
Ratmo, abdi dalem keluarga Pam yang tetep setia sama tuannya karena dulu, sewaktu ia kehilangan ayahnya yang menjadi korban kerja paksa Anyer-Panarukan, keluarga Pam yang menolong. Definisi apa yang ditanam apa yang dituai.
Walaupun temanya berat banget; tentang balas dendam tapi ga bikin pusing karena ini novel romance. Wkwk.

Sebenernya aku kurang suka endingnya, kaya mikir aja, “Pam, seriusan kudet sampe 2 tahunan? ini Utari beneran udah balas dendam loh, wkwkwk.” Tapi gapapa. Aku tetep suka banget sama buku ini. Ringan buat dibaca. Cocok buat temen-temen yang mau mulai baca his-fic.

Dah ah, segitu dulu.
Have a nice day.
Bye!
Profile Image for Vindaa.
187 reviews2 followers
August 14, 2025
Aku tuh seneng banget, kalau karakter perempuan di novel hisfic tuh nggak menye-menye, pemberani, dan pembelajar keras, meski diam-diam melawan titah yang mana perempuan harus tunduk dalam tata aturan Jawa, seperti halnya Utari di novel ini, perempuan keturunan ningrat yang tidak diizinkan bersekolah oleh sang Ayah, namun dalam diamnya dia belajar membaca dan menulis, hingga pemikirannya menjadi lebih luas dan terbuka.

Selalu ya, jaman dulu tuh isu tentang gender pelik sekali. Ikutan gemes ! Belum lagi perbedaan kasta dan juga kewarganegaraan, antara ningrat dan rakyat biasa, orang pribumi atau Belanda totok, kental sekali kaitannya dengan diskriminasi.

Seperti judulnya, novel ini berada di latar 1890, saat Indonesia masih berada di tangan Belanda. Bercerita tentang bagaimana tragedi Tulangan pada tahun 1873, diperlihatkan gimana berkuasanya Belanda yg dengan seenaknya mencuri kuasa lahan tebu milik pribumi, dengan memanfaatkan pribumi lainnya, sehingga apa? Seakan akan Belanda lepas tangan, yang berselisih paham justru pribuminya. Duh ! Pribumi bisa apa jaman dulu kalau udah ditekuk begini 🥲

Disinilah Pamungkas, anak dari Raden Ngabehi, pemilik lahan tebu yang dicuri kuasanya, bergerak ingin membalaskan dendam keluarganya, melalui gerakan kata-kata. Dia bekerja sebagai wartawan dengan harapan bisa mengusut kebenaran di masa lalu.

Namun siapa sangka, perjalanan justru melabuhkan hatinya pada perempuan yang tak seharusnya dia cintai. Aaaaakk, rumiiitt, tapi ikut shac shec shock mengikuti Pam dan Utari tuh 😍

Keren sih ! Penulis bisa mengemas ceritanya dengan lengkap tanpa celah, tapi tetap ringan dinikmati. Bumbu romansa yang pas dan bikin krenyes krenyes atii itu lho bikin nagih, tapi anu, itu ending tolong bisa nggak ditambahi satu bab aja, pliiiss ! Nanggung i lhoooo ~ gemeeeesss 🤣

Buat kamu yang mau mencoba menikmati fiksi sejarah yang ga begitu berat, cobain deh baca ini.
Profile Image for Dina Meiladya.
38 reviews
October 1, 2025
Pam masih mengingat dengan jelas peristiwa berdarah tujuh belas tahun lalu itu. Tanah keluarga mereka dibakar dan dirampas. Kakak lelaki satu-satunya, Mas Anung juga meninggal saat peristiwa itu terjadi. Tak berhenti sampai di situ, ayahnya -Raden Ngabehi-lah yang dituduh melakukan pembakaran lahan untuk mengusir para petani tebu yang tak membayar sewa kepada mereka.

Pam tumbuh dengan misi untuk balas dendam kepada para pelaku yang telah menghancurkan hidupnya beserta keluarganya. Di perjalanan menjalankan misi itu, Pam bertemu dengan gadis ningrat Jawa yang anggun nan cantik jelita, Utari namanya. Pam terpesona sejak pandangan pertama. Namun seolah takdir tak mengijinkan, Utari ternyata adalah anak dari Raden Soerjo, orang yang dicurigai sebagai salah satu pelaku pembakaran lahan keluarga mereka yang otomatis menjadi target balas dendam Pam. Apakah Pram akan melanjutkan misi balas dendam dengan memanfaatkan Utari? Atau malah pasrah karena cinta tak bisa mengalah?

Seperti judulnya, latar utama novel ini adalah Hindia Belanda -tepatnya Jawa- di tahun 1800an. Aku suka bagaimana penulis menggambarkan latar setiap kejadian dengan detil dan disertai dengan suasana yang sangat mendukung. Misalnya, sebuah kafe yang disebut tempat plesiran yang dibangun dengan arsitektur khas Belanda beserta seorang Nyai sebagai pemiliknya digambarkan dengan begitu mempesona. Ada juga rumah kaca dengan kebun matahari yang begitu indah sebagai latar adegan romantis kedua tokoh utama yang saling jatuh cinta. Ah iya, ini jadi salah satu hal yang paling aku suka di novel ini: pilihan penulis dalam menggunakan bunga matahari sebagai simbol kisah romantis antara Pam dan Utari. Selain warnanya yang sangat cerah untuk latar kisah balas dendam yang sudah cukup gelap, bunga matahari juga melambangkan kehidupan baru dan pertumbuhan karakter para tokoh utamanya.

Review lebih lengkap ada di sini yaa guys~ https://www.dinameiladya.my.id/2025/0...
Profile Image for Day Nella.
253 reviews5 followers
December 7, 2025
Speechless baca buku ini. Jujur kali pertama baca karya penulis satu ini dan sudah dibuat jatuh cinta sama narasinya dan gaya berceritanya yang membawaku pada zaman tersebut.
-
Berlatar tempo doeloe Surabaya - Hindia Belanda 1873, saat Belanda masih menjadi penguasa dan para bangsawan ningrat pribumi hidup bersanding. Namun, dalam artian tunduk serta patuh karena kekuasaan dari kolonial yang terlalu mengakar. Membuat salah satu bangsawan pribumi harus digerus karena ketidakadilan. Dan bagaimana pun sejarah tidak bisa diubah.
-
Balas dendam jadi hal utama yang dilakukan salah satu putra mantan bangsawan ningrat pribumi terhadap Belanda yang licik dan bengis karena tidak ingin mengotori tangannya dan membuat siasat untuk menghancurkan kaum pribumi dan memperluas semua kekayaan.
Dengan kegigihannya berhasil mendapatkan impiannya menjadi seorang pencari berita di sebuah surat kabar Belanda ternama. Dan dengan jalur itu pula dia mencari cara untuk bisa mengungkapkan kerusuhan yang terjadi pada usaha keluarganya. Bak buah simalakama banyak hal yang terjadi. Dendam yang mulai dipertanyakan dan hal-hal di luar dugaan pun terjadi.
-
Aku suka dengan semua tokoh utamanya terutama tokoh perempuan yang berani dan mau mendongkrak hal tabu yang pelan-pelan diubahnya. Pendidikan haruslah setara, tidak hanya untuk lelaki, tapi juga perempuan. Meskipun pada akhirnya mereka akan dibungkam kekuasaan. Plot dan konfliknya pun seru. Gaya berceritanya asyik dan bikin nyaman terutama narasinya yang aku suka. Latar tempat dan semua suasananya seakan membawa pembaca merasakan langsung situasi pelik dan jangan lupa asmara yang tipis-tipis membuatnya jadi lebih hidup. Terlepas bagian penyelesaiannya yang ternyata tidak semua rasa penasaran pembaca terjawab di sana. Overall aku suka banget. Kayaknya bakalan baca karya lainnya dari penulis satu ini. Aku rekomendasikan buku ini untuk kalian baca juga.

Baca di PYC Library
Profile Image for Anastasia Noorma.
65 reviews2 followers
February 28, 2025
Bercerita tentang Pamungkas, wartawan surat kabar Belanda yang berada di Surabaya. Pamungkas dahulunya adalah anak seorang tuan tanah perkebunan tebu di Tulangan, Jawa Timur. Ketika Pamungkas masih kecil, terjadi kerusuhan di kebun tebu milik ayahnya yang mengakibatkan kakaknya meninggal dan tanah milik keluarganya hilang. Ketika sudah dewasa Pamungkas ingin membalas dendam dengan cara mencari informasi melalui pekerjaannya yaitu menjadi wartawan.
Tanpa disengaja Pamungkas bertemu dengan Utari. Utari adalah anak dari Raden Soerjo, salah satu orang yang membuat keluarganya menderita. Pamungkas yang awalnya ingin membalas dendam malah jatuh cinta kepada Utari.
Ceritanya berlatar belakang zaman kolonial, memperlihatkan perbedaan status antara warga pribumi dengan kolonial, wanita dengan pria, serta kaya dan miskin. Ceritanya cukup menggambarkan kondisi pada zaman itu, yang cukup plot twits adalah tokoh Baskara. Teman masa keci Utari yang sudah dianggap sebagai kakaknya.
Profile Image for ℛ..
136 reviews25 followers
July 11, 2025
ARGH, kenapa endingnya kayak gitu? :(

Buku ini adalah salah satu buku yang menarik perhatianku karena latar waktunya yang menggunakan latar sewaktu terjadi penjajahan Belanda. Bermula dari kisah masa kecil Pamungkas yang tiba-tiba harus kehilangan banyak hal termasuk kakaknya yang berkebutuhan khusus, membawa Pamungkas menjadi salah seorang pencari berita pada masanya.

Pekerjaan yang Pamungkas lakukan juga tidak lepas dari dendam masa lalu terhadap orang-orang yang terlibat dalam insiden pada masa lalu. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Utari. Dari sini, aku seperti diajak roller coaster perasaan. Ada waktu di mana aku dibuat senyum-senyum sendiri, tapi ada juga waktu di mana aku seperti dibuat ikut sedih.

Belum lagi dengan kehadiran Baskara yang rasanya buat aku mengalami second-lead syndrome.

Ada hal-hal di mana aku bisa membayangkan bagaimana tidak bebasnya mereka sebagai pribumi dalam mengemukakan sesuatu, meskipun mereka berasal dari golongan ningrat. Segalanya serba terantuk dalam peraturan tidak tertulis sebagai seorang pribumi. Sedih tapi juga bisa dibilang cukup relate.

TAPI, tolong, Baskara (dan Ratih) deserve better. HUHUHUHUHU. Aku sedih betul dengan dua orang ini, walaupun sebagian besar ada sedikit—hmm, apa ya ... kesalahan?—Baskara juga dalam hal ini?

Buku ini cukup recomended untuk yang menggemari buku-buku historical-romance, tapi jangan terlalu berkekpektasi dengan kemungkinan adegan heroik dari Pamungkas.



3.25⭐ untuk roller coaster perasaan dari buku ini.
Profile Image for nonraaa.
40 reviews
November 22, 2025
This 1890 novel feels like a “Romeo and Juliet colonial version.” The story is about love during the colonial era, full of complicated feelings, social boundaries, and even a revenge plot. The colonial atmosphere is very strong, from the setting to the conflicts. While reading, I even wrote a few notes just to curse at the colonizers. The ending is painful but sweet, perfect for anyone who likes historical romance drama.
Profile Image for Nisa Kamila.
128 reviews13 followers
January 19, 2025
Lumayan buat ngobatin reading slump. Ceritanya to the point ga bertele-tele. Jumlah halaman juga ga banyak, di bawah 300. Buat yang cepet baca mungkin seminggu juga abis. Awalnya aku pilih baca novel ini karena latarnya surabaya 1800an. Lalu ternyata emg suka. Endingnya masih gantung sih, gimana nasibnya 2 tokoh utama..
Tp buat mengawali tahun, novel ini cukup oke.
Profile Image for Sylvia.
86 reviews3 followers
February 1, 2025
SUKA BANGET
ga expect ceritanya menarik, awalnya ragu baca ini tapi sebagai pecinta Novel hisfic, aku gregetan penasaran mau baca. Awalnya intip beberapa halaman awal. Ehhhh malah keterusan sampe beres.

Dari blurb ceritanya kaya klise, tapi pas dibaca banyak twist yang menarikkkkk
Profile Image for Arutala.
506 reviews1 follower
July 22, 2025
Fiksi sejarah ringan yang dengan mengaitkan kisah asmara, daya tariknya lebih kuat terutama oleh kesulitan yang akan selalu dihadapi dan terjadi di masa Hindia Belanda kala bangsawan Jawa begitu berpengaruh pada 1890 serta terjebak di tengah pusaran muslihat yang dijalankan Belanda.

Pamungkas yang memiliki ingatan masa menyedihkan akibat fitnah keji dan permainan tipu daya yang dihadapi keluarganya, berjumpa dengan putri bangsawan bernama Utari yang memiliki masa depan cerah. Masa kolonial dengan sengketa keberadaan pabrik gula milik sang ayah Raden Ngabehi yang pernah direbut paksa oleh Raden Soerjo-ayah Utari, memantik luka lama dan dendam kesumat di hati Pam.

Alur ceritanya mengalir dan konfliknya halus tapi meletup. Pertemuan Pam dengan Jan Overtraten-sang pewarta yang menulis kerusuhan di ladang tebu pada 1873 di Semarang makin menggali luka dan menjadi puncak konflik.

Karakter tokoh utama di awal terkesan datar, namun mendekati detik akhir semuanya menemukan katarsisnya. Justru tokoh pendukung seperti Raras, Suminah, Isaac maupun Baskaralah yang menjadi pemegang kendali keseluruhan akhir cerita.
Displaying 1 - 20 of 20 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.