Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

Rate this book
Jawab dengan cepat: Seandainya terlahir kembali di kehidupan berikutnya, kamu ingin menjadi apa?

Berikut beberapa jawaban unik yang pernah kudengar baik dalam ruang praktik maupun ketika ngobrol santai dengan teman-teman:
“Aku ingin menjadi ubur-ubur, melayang bebas tanpa tekanan atasan dan ekspektasi sosial.”
“Aku ingin menjadi pohon pinus, karena tinggi dan keren.”
“Aku ingin menjadi ikan mas koki. Katanya memorinya cuma bertahan lima detik, jadi aku tidak akan overthinking.”

Suatu hari, seorang pasien perempuan mengatakan bahwa ia ingin terlahir kembali menjadi bunga matahari. Terdengar sangat indah, ya? Tapi, di sesi berikutnya, dia merevisi pendapatnya. “Aku ingin menjadi pohon semangka di kehidupan berikutnya.” Kehidupan menyakitkan seperti apa yang dia alami sampai dia berpikir lebih baik menjadi pohon semangka?

Ini adalah buku tentang kekecewaan, penyesalan, dan ketidaksempurnaan. Buku ini cocok untuk kalian yang sering dituduh kurang bersyukur, yang suka duduk di kursi besi minimarket di akhir hari, yang ingin belajar menanam bunga matahari, dan tentunya yang masih mencari arti dari kata kebahagiaan.

230 pages, Paperback

Published February 9, 2025

138 people are currently reading
870 people want to read

About the author

Andreas Kurniawan

5 books82 followers
A psychiatrist with a sense of humor

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
322 (59%)
4 stars
181 (33%)
3 stars
35 (6%)
2 stars
4 (<1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 142 reviews
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,398 followers
February 15, 2025
Menurut saya dr. Andreas betul-betul punya kekuatan super yaitu memeluk dengan tulisan! Kalau di buku 'cuci piring' dr. Andreas menceritakan pengalaman pribadinya soal duka, buku ini menghadirkan karakter semi-fiksi bernama Lalin yang menjadi pasiennya. Lalin diceritakan sebagai perempuan yang terkena penyakit berat dan harus beraktivitas dengan kursi roda.

Sesi Lalin dimulai dengan dirinya yang datang sekadar untuk meminta obat tidur dengan penuh kemarahan kepada dunia, kemudian perlahan ia membuka diri untuk bercerita kepada sang psikiater. Percakapan reflektif yang terjadi antara mereka berdua dengan berbagai tema inilah yang menjadi isi dari buku ini. Walau seolah Lalin yang curhat, tapi saya rasa Lalin mewakili banyak dari kita. Lalin dan dr. Andreas bercakap-cakap tentang kehidupan, kematian, hubungan dengan orang-orang di sekitar, hingga ketidaksempurnaan.

Menurut saya dr. Andreas sangat mahir menjelaskan hal-hal secara sederhana dan hangat, sehingga alih-alih merasa dinasehati, baik tokoh Lalin maupun saya sebagai pembaca, justru jadi mampu memikirkan ulang banyak hal secara mandiri.

Kalau kamu suka tipe hugging essays ala Korea, rasanya kamu akan suka buku ini. Vibenya mirip, tapi lebih bagus lagi dan sesekali ada lucu-lucunya, hehehe.
Profile Image for raafi.
931 reviews451 followers
July 11, 2025
Panjang umur kegoblokan! (hlm. 154)


Saya bersyukur buku ini menjadi best seller. Itu berarti banyak orang yang (semoga) membacanya habis dan memahami lebih dalam tentang kondisi psikis mereka.

Buku ini berpusat pada seorang wanita yang tenggelam dalam keputusasaan dan perlahan belajar menerima dirinya sendiri. Lewat percakapan santai namun penuh makna dengan seorang psikiater, kita melihat proses penyembuhan yang jujur, penuh luka, tetapi juga dipenuhi harapan. Saya merasa beberapa "permasalahan-permasalahan" wanita tersebut juga adalah "permasalahan" saya.

Dari segi penyampaian, buku ini terasa mengalir. Meski sarat pesan moral dan praktikal, saya sebagai pembaca tidak merasa digurui. Bahkan, beberapa kali saya tergelak oleh celetukan-celetukan sang narator, yang membawakan kisah dengan nada ceria dan jenaka—sesuatu yang mencerminkan sosok dr. Andreas (sebagai penulis buku ini) yang memang tampil demikian di media sosial. Dan, FYI, kutipan di awal itu benar-benar ada di dalam buku ini lho!

Saya dibuat kagum dengan bab lima yang berjudul "Tutorial Menanam Bunga Matahari". Penulis dengan lihai mengaitkan lima tahapan menanam biji bunga matahari dengan lima pelajaran tentang hidup. Rasanya, setiap orang perlu membaca bagian ini. Dan, mungkin, buku ini layak juga kalau diberi judul "Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Bunga Matahari di Hidupnya yang Sekarang".

Terlepas dari setiap babnya yang menjelaskan tentang hidup-harus-terus-diperjuangkan yang sangat umum dan tidak berfokus di salah satu masalah/kondisi/situasi, saya merasa buku ini justru sebuah paket lengkap. Pembaca seperti diberi kebebasan memilih untuk mengikuti arahan di bab yang mana demi bisa berjuang dalam hidupnya.

Seperti saya yang akhirnya memilih untuk fokus pada bab empat, "Kebahagiaan dalam Tiga Kata". Bab ini menjelaskan bahwa pada dasarnya, kondisi perasaan manusia itu netral. Bahwa kebahagiaan dan kesedihanlah yang membuatnya bergeser ke arah positif atau negatif. Bahwa kebahagiaan dan kedukaan sama-sama perasaan yang fluktuatif dan perlu dirawat serta dikontrol. Sebagaimana kesedihan yang terlalu lama bisa mengguncang hidup, kebahagiaan yang terus-menerus juga bisa menjadi tidak sehat.

Yang menjadi tantangan adalah saat kita terjebak dalam kondisi negatif—sedih, kecewa, putus asa, dan rekan-rekannya. Pada saat seperti itulah, kita perlu mengingat satu rumus sederhana untuk kembali ke sisi positif atau netral—dalam tiga kata saja: menemukan rasa takjub. Begitu ujar dr. Andreas.

Sebuah buku pengembangan diri yang penting dari seorang pakar di bidangnya!
Profile Image for Ms.TDA.
244 reviews5 followers
March 12, 2025
Seperti yang kita tau, manusia sendiri punya kemampuan berdiskusi dengan diri sendiri. Disini, sebenarnya ‘bukan apa yang harus dilakukan, melainkan apa yang mau dilakukan. Dan bukan apa yang benar dilakukan, melainkan apa yang nyaman dilakukan.’ Astaga Dok!!🥲 banyak banget kalimat dan juga frase yg aku dapatkan dari cerita Lalin kali ini🍉

Btw, kalau org2 suka dg Buku pertama ‘Cuci Piring’, aku lebih nyess kena nya di buku Semangka ini🥹🫠 Dan juga suka banget dg closing:
“Seseorang senang kamu hadir di dunia ini.”🥺🤍

My rate 4,5/5🌟
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books100 followers
October 20, 2025
Sejenak beralih dari topik tentang proses berduka, yang sebelumnya dibahas oleh dr. Andreas dalam “Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring”—yang menurut saya terlalu personal dan sarat 'keakuan'—sebaliknya buku ini justru membicarakan topik sebelum berduka, yaitu rasa penyesalan karena dilahirkan. Sebagaimana orang-orang yang mempertanyakan, “Mengapa saya dilahirkan ke dunia ini?”

Berangkat dari narasi tersebut, penulis yang notabene ialah seorang psikiater, membahas tema-tema seperti ketidaksempurnaan, penyesalan, pencarian makna hidup, kesehatan mental, dan bagaimana seseorang bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Semua topik itu direfleksikan melalui karakter pasien perempuan bernama Lalin; sekaligus ornamen-ornamen metaforis seperti "bunga matahari", "pertanda ombak", hingga "pohon semangka" yang jadi ide marketing buku ini untuk membantu pembaca memasuki wacana yang dalam tanpa dirasa terlalu berat.

Secara garis besar, buku ini mengajak kita untuk meredefinisi kebahagiaan dan ekspektasi atas kehidupan. Misalnya, bahwa sejatinya tidak setiap orang harus tinggi atau besar atau menonjol untuk menjadi berarti—sebagaimana pemaknaan subtil dari perumpamaan pohon semangka. Atau definisi itu bisa sesederhana keinginan Lalin ketika dalam satu sesi konsultasi ia berucap, “Mungkin aku sudah terlalu lelah untuk menjadi seseorang yang merawat. Sesekali, aku ingin dirawat dan diperhatikan seperti suatu bunga.”

Bagi pembaca yang mungkin baru tertarik dengan literatur pengembangan diri atau psikologi populer, buku ini jelas bisa jadi pintu masuk yang ramah. Namun, jika para pembaca ingin mencari analisis mendalam secara klinis atau solusi berbasis penelitian untuk depresi/trauma berat, buku ini mungkin terasa kurang "substantif"—tapi rasanya memang inilah keputusan kreatif yang secara sadar dipilih oleh penulis dalam setiap tulisan-tulisannya.
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books103 followers
May 20, 2025
Iseng baca ini di Gramid waktu kebangun malam dan ga bisa tidur. Ternyata mengalir dan menyenangkan dibaca. Hal 108-109 seperti menyuarakan kepalaku dulu, bahkan lagu favoritku SMA ada di sana. Wkwk
Ending utk Lalin, adalah akhir yang manis.
Profile Image for literatu._.reclub.
44 reviews
March 22, 2025
Awalnya sedikit skeptis membaca buku ini (karena memang aku dasarnya sering skeptis ketika membaca buku self-help, terutama yang tidak science-based, dan ditulis seorang 'motivator') but it turned out to be a great book!

Karena ditulis oleh seorang psikiater, berbagai penjelasan mengenai kondisi mental di buku ini bisa dibilang 'legit' dan memberikan banyak insight.

Di samping itu, Andreas adalah penulis yang sangat baik. Pengetahuan dan filosofi yang dikenalkan oleh Andreas bukanlah konsep-konsep yang sepenuhnya baru, tetapi ketika disampaikan lewat cerita kehidupan 'Lalin' yang ia tulis, kita seperti diajak memahaminya dengan sudut pandang baru yang lebih humanis, sehingga bukunya terasa menenangkan dan tidak menggurui. Ia juga tidak mengarahkan pembaca untuk 'mengilhami' satu konsep tertentu, tetapi mengajaknya untuk mengeksplorasi bersama.

Anyway, this is a good enough Indonesian self help book, buat kalian yang butuh sebuah bacaan comforting, dan lebih dari sekadar 'random instagram quotes and author's personal opinion/value/principles' in a book format.

A phrase I that I like:
"Dalam narasi menanam tumbuhan, peranmu sebagai penanam tak lebih sebagai orang yang berusaha memberikan kondisi yang optimal untuk tumbuhnya tanaman itu. Kamu tidak menarik tunas tanaman agar tumbuh ke atas dan tidak mengorek ranting agar daunnya keluar. Dalam sebagian besar kasus, kamu hanya perlu menyediakan tanah, air, angin, cahaya matahari, dan nutrisi yang dibutuhkan si tanaman. Selanjutnya, kita percayakan pada benih tersebut."
Profile Image for amrifaizalm.
22 reviews
October 30, 2025
Lebih terhubung daripada buku pertamanya karena pembahasannya lebih luas. Serasa ikut sesi terapi tetapi lewat buku. Gambaran dari tokoh Lalin yang awalnya cukup cuek dan penuh benci, lalu terurai perlahan sepanjang prosesnya menjadi manusia yang lebih menyadari. Lagi-lagi, dr. Andreas membuatku merasa lebih baik dan nyaman setelah membaca bukunya.
Profile Image for theresia cleopatra.
167 reviews2 followers
May 15, 2025
aku lama banget menyelesaikan buku ini 😭 jujur aja selain karena agak reading slump, aku setiap baca tuh tertampar dan merenung dulu baru melanjutkan next pages 😔🫶🏼 aku suka banget dengan cara penceritaan dokter Andreas! berasa kek baca novel/fiksi tapi diselingi dengan nonfiksi >< (gitu deh, maaf kalo ga paham maksudku) 🥺 jadi, di buku ini dokter Andreas mengutarakan poin-poin tentang kekecewaan, penyesalan dan ketidaksempurnaan melalui cerita tokoh Lalin (seorang wanita yang menjalani konseling dengan dokter kejiwaan). aku sempat melihat beberapa orang bilang kalo Lalin itu mengesalkan.. mungkin first impressionnya seperti itu, tapi setelah tahu lebih dalam tentang Lalin, aku jadi memaklumi pola pikirnya. Aku suka banget melihat progress Lalin dalam menjalani hidupnya <33 ikut bangga dan terharu 🥹😭💖

oh iya, ini tuh bukunya terdiri 11 bab. semua bab bener-bener memberikan perspektif baru dan menyadarkan banyak hal bagi ku 😭🫶🏼 favoritku tuh bab 3 (Menjadi Orang Jahat di Cerita Orang Lain), bab 5 (Tutorial Menanam Bunga Matahari) dan bab 8 (Kita Semua Pernah Goblok) 🥺❣️ pokoknya aku rekomendasiin banget buku ini buat kita-kita yang sering merasa stuck dan sering berangan-angan “what if” 😔
Profile Image for ileftmybookshere.
226 reviews82 followers
July 29, 2025
Sebenernya rada gak rela selesein buku ini karena aku jatuh hati sama isinya dan rasanya pengen lama-lama sama buku ini karena rasanya kayak seorang teman di kala badai kehidupan melanda ehehe🌪 soalnya isinya super heartwarming bahkan sampai halaman terakhir pun!

Yuk kita bahas isinya buku semangka ini, singkatin aja deh judulnya😭☝🏻 jujur, aku bingung mau ngerangkai kata-kata buat review buku ini karena rasanya campur aduk abis baca ini tapi mari kita mulai semuanya dari satu pertanyaan sederhana tapi bikin kita merenung, “kalo kehidupan berikutnya memang ada, kalian ingin jadi apa?”👀

Satu pertanyaan yang pada akhirnya membuat kita mau nggak mau jadi merenungi kehidupan yang sudah berjalan selama ini. Di dalam perenungan itu, kita pasti banyak menemukan momen-momen yang udah pasti gak semuanya full happy tapi ada momen-momen yang isinya tuh penyesalan, kekecewaan, dan kesedihan nah di buku ini, dokter Andreas ngajakin kita berbincang-bincang tentang hal tersebut. Ditulis dengan gaya bahasa yang santai dan as always selalu penuh kehangatan dan humor yang bikin aku pas baca tuh ngerasain ketenangan kayak lagi curcol sama teman terdekatku🥹 Di buku ini dokter Andreas ngajakin pembacanya menelusuri kehidupan dengan tokoh bernama Lalin, Lalin ini diceritakan merupakan pasien dari dokter Andreas jadi sesi konsultasi akan menjadi bahan perenungan selama kita baca ini.

Banyak banget hal-hal seputaran kehidupan yang super related dibahas di sini dan jujur, ada di beberapa bagian yang bikin mataku berkaca-kaca kayak di bab-bab awal itu terus mendekati endingnya, duh rasanya tuh makin lama dibuka nih buku, makin related 🥹👍🏻 Aku juga diajak belajar untuk mensyukuri apa yang ada di hidupku terus juga belajar buat menerima hal-hal yang terjadi di hidup kita karena memang ada beberapa hal yang gak bisa diubah dan kita harus menerima hal tersebut seperti tokoh Lalin yang harus menerima fakta kalo hidupnya berubah karena sakit yang dia derita terus di sini tuh kita dikasih liat proses penerimaan Lalin akan sakitnya and it was a beautiful journey menurutku dan emang it’s not an easy thing to do, menerima apa yang menyakitkan itu gak pernah gampang dilakuin dan semuanya butuh waktu!✨

Aku juga suka dengan filosofi menanam bunga matahari yang bikin aku mau nanam bunga matahari (will do it someday). Di pembahasan soal menanam bunga matahari ini aku belajar kalo ada waktunya untuk kita keluar dari zona yang menurut kita nyaman padahal sebenernya udah gak baik untuk berada di zona itu, zona ini bisa jadi tempat maupun suatu hubungan dan bisa aja kita keluar dari sana entah karena kitanya atau karena orangnya dan tempatnya. Lewat metode menanam bunga matahari, kita diajak untuk take time dulu untuk mengakui kegagalan kita lalu dan menerima rasa sakit yang ada dan melihat rasa sakit itu sebagai bagian dari perkembangan pribadi kita untuk jadi lebih baik💪🏻 Pokoknya ini tutorial yang bisa perlahan kita praktekkan, gak cuma beneran nanam bunga mataharinya aja tapi juga bikin kita mulai berpikir untuk keluar dari rasa sakit lalu menikmati prosesnya seperti proses menanam bunga matahari yang dimulai dari biji hingga akhirnya dia tumbuh menjadi bunga yang cantik dan proses itu gak mudah, penuh tantangan yang buat aku jadi percaya kalo kita berani melangkah dari rasa sakit dan menikmati proses sembuh dari rasa sakit, kita bisa tumbuh lebih baik seperti lagu Nina nya Feast!

Apalagi ya yang ngena di aku, kayaknya hampir semua cuma yang masih terngiang di kepalaku setelah hampir 1 bulan lebih kelarin buku ini tuh Bab 3 nya yang bahas kalo kita bisa jadi orang jahat di cerita seseorang and vice versa. Orang jahat or let’s say villain itu dibutuhin supaya cerita hidup kita gak flat aja gitu dan ya mau gak mau, kita harus terima fakta bahwa ada seseorang yang memberikan gelar “penjahat” ke kita kayak gak peduli sebaik apa kita jalanin hidup ini, lagian kita jadi jahat cuma di mata seseorang tapi bisa jadi di mata orang lain, kita baik kan? Ya, namanya juga hidup ges, gak mungkin bisa senengin semua orang jadi it’s okaylah🤝🏻 Bab 3 ini juga ngajarin kalo kita punya power untuk menentukan sejauh mana kita mau melibatkan orang-orang dalam hidup kita, menentukan siapa yang jadi kawan dan lawan kita😌🤙🏻

And then, aku suka dengan penutup di buku semangka ini yang kasih satu kesimpulan bahwa hidup ini tidak sempurna, ya iyalah soalnya kesempurnaan cuma milik Tuhan tapi ketidaksempurnaan yang ada di hidup kita itu bisa diibaratkan sebagai potongan-potongan foto atau video perjalanan kita dari waktu ke waktu. Kita mungkin belum sampai di tujuan akhir yang sempurna tapi perjalanan yang udah kita lalui itu adalah sesuatu yang indah!❤️ Inget filosofi Jepang, wabi-sabi yang ngajarin kita untuk menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan!

Overall, it’s a great nonfic dan buku-buku dokter Andreas selalu jadi nonfiksi favoritku karena aku gak pernah bosen bacanya bahkan pengen stay lebih lama alias gak mau cepet-cepet bacanya karena senyaman itu sama tulisan beliau!🥹 such a heartwarming book, pokoknya aku sangat amat menantikan karya-karya beliau selanjutnya😌

Aku rekomendasiin buku ini buat siapapun yang lagi butuh semangat buat jalanin gonjang-ganjingnya kehidupan ini terus buat yang mau coba baca nonfiksi, buku ini cocok buat kalian dan aku jamin gak bosen bacanya!✌🏻 jangan lupa baca Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring juga ya, itu buku nonfiksi yang berhasil bikin aku nangis eheheh. Reviewnya udah aku tulis juga, mampir ke #taareviewnonfic aja ya ges🫶🏻
Profile Image for Et.
54 reviews
January 4, 2026
“Aku bersyukur membuka 2026 dengan membaca buku ini.”

Itu bukan kutipan, melainkan isi hatiku sendiri. Rasanya senang membaca buku baru, ilmu baru yang bisa aku selesaikan dalm kurun waktu tiga hari.


Secara garis besar, buku ini menceritakan salah seorang pasien bernama Lalin yang melakukan sesi terapi bersama dr. Andreas. Lalin digambarkan seseorang yg pedes dalam berucap, meremehkan ketika ditanya dan harapannya hanya satu : ia ingin mati dan bereinkarnasi menjadi pohon semangka.
Hal itu bukan tanpa alasan, Lalin adalah seorang dgn kondisi fisk kurang sempurna, ia harus menggunakan kursi roda untuk gerak bebasnya karena kakinya tidak kuat menopang berat tubuhnya karena ia terdiagnosis memiliki penyakit autoimun.

Melalui sesi terapi, Lalin hanya ingin memiliki seseorang untuk didengar. Dan dr. Andreas lah orangnya. Melalui buku ini, aku belajar banyak hal. Pengetahuan baru. Kata-kata yang dirangkai menjadi kalimat yang mudah dipahami. Dan ada banyak sekali kutipan-kutipan yang menjadi favoritku, tentunya ngga bisa aku utarakan semua, aku tuliskan salah satunya (sisanya bisa kalian baca sendiri di buku dr. Andreas yang satu ini ya hihi)

“Kita sering tidak siap berhadapan dengan pilihan yang tidak kita pahami.”

“Masa lalu itu ada di belakang kita dan kita tidak sedang menuju ke situ. Kita melaju ke depan. Itulah mengapa kaca depan mobil lebih besar daripada kaca spion. Kita lebih dipersiapkan untuk maju ke depan sesekalinmelihat refleksi di bekakang, untuk mengingat darimana kita berasal.”


“Hal negatif lebih dianggap penting oleh otak kita dibanding hal positif.”


Kelebihan buku yang ditulis dr. Andreas (yg kebetulan aku sudah baca Seorang Pria yang melalui duka dengan mencuci piring) adalah beliau menuliskan buku tidak hanya tentang teori semata, namun dr. Andreas sering menyisipkan analogi atau pengandaian yang membuat pembaca awam sepertiku mudah mengerti apa yang ingin disampaikan. Tulisannya ringan, kadang menohok karena tepat sasaran. Dan seperti biasa juga, ada satu bab yang membuatku merosot dari kursi ketika membaca satu paragraf awalnya. Dan aku yakin dr. Andreas pasti tahu di bab mana yang kumaksud. 🫠
Profile Image for Caca.
194 reviews10 followers
July 20, 2025
"Keinginan untuk sesekali saja melawan putaran dunia dan apa yang selama ini dilakukan. Sesekali saja, coba untuk jujur, sampaikan apa yang kamu mau. Sesekali saja, coba untuk dengarkan suara hati kita yang sudah lama hilang dan mencoba mengejar itu."

"Tapi, manusia membutuhkan koneksi dengan manusia lain. Dan kurasa wajar saja kalau koneksi terdekat itu adalah dari keluarga kita. Ketika itu tidak terpenuhi, mungkin kita akan mencari ke teman."


ada yang membuatku menarik saat membaca buku ini, di dalam bukunya dr. Andreas menjelaskan bahwa "Ego tidak mau menjadi bahagia. Ego maunya jadi benar." dengan penjelasan kita mengatakan bahwa hari ini pasti akan buruk dan kita berhasil membuktikannya, kita memang jadi ga bahagia. nah kalo kaya gitu bukannya kita bikin narasi "Hari ini akan jadi indah!" bukankah dengan mengubah narasi kita bakalan bahagia?? dr. Andreas menjelaskan bahwa ada dua hal yang mungkin menghambat itu, yang pertama untuk mengubah narasi kita harus percaya dengan narasi tersebut, dan seberapa yakin diri kamu bahwa hari ini pasti akan jadi indah, ketika kamu memulai dengan hari air yang tumpah atau jari kelingking kaki kanan yang tersandung kaki meja? kalau ga yakin, kayanya narasi tersebut akan sia-sia. jadi sia-sia mengatakan, "Hari ini akan jadi indah," ketika kita tidak bisa mengendalikan hari ini.😅😅😅 YAPSSS BTUL sekali, dengan sekalipun mengubah narasi tersebut bukan berarti hari kita akan menjadi indah...

lewat buku ini, kita sebagai manusia harus aware terhadap kondisi psikis diri kita sendiri. kekhawatiran dr. Andreas dalam menulis buku ini, takut buku ini tidak sebagus Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring, TAPI BUKU INI SANGAT AMAT BAGUS!
Profile Image for Ilhan Juldan.
53 reviews
September 15, 2025
this book feels like slaps and hugs. i had to stop reading it couple times and contemplate it. chapter 3 is just wow, hits real hard. one of the quotes that i remember is "dont let 5 minutes of bad thing effects the rest of the day, if it doesnt have effect for 5 years ahead maybe you only need to think about it for 5 minutes. this book also talked about become the villain in someone else's story and it blew my mind.
Profile Image for Irma Setiani.
82 reviews10 followers
May 13, 2025
Kalo buku pertama dominan membahas mengenai duka, buku kedua ini lebih variatif dalam segi topik yang diangkat. Misalnya, tentang definisi bahagia, tentang bersyukur, dan banyak topik lain yang diangkat lewat narasi yang ringan, ilustrasi-ilustrasi kisah, dan gaya bercerita santuy ala dr. Andreas.
Profile Image for Lauditta.
3 reviews1 follower
March 25, 2025
If this is a soft selling ad for Dr. Andreas' session, then it works. Lol.

Ngambil buku ini di Gramedia random karena cover ilustrasinya yang bagus #judgethebookbyitscover dan gak menyesal. Dr. Andreas ngebungkus insight soal menjalani hidup dan berdamai dengan ketidaksempurnaan dengan kisah pertemuannya dengan pasien yang ingin jadi semangka di kehidupan berikutnya. Lihai dengan penceritaannya yang hangat, apa adanya, dan menertawakan diri sendiri. Ow, he's funny!

Jadi betul rasanya kalo buku ini seperti baca novel ketimbang baca kiat-kiat tetep eling dan ngerasa digurui. Kelarin buku ini membawa gue ke perasaan bersyukur sama jalan hidup yang kita laluin, the good and bad that make us human. Wabi-sabi.
Profile Image for Kustin Desmuflihah.
114 reviews6 followers
June 22, 2025
Buku ini berbeda vibe nya dengan buku dr. Andreas yang pertama. Kalau yang pertama sediiiih banget dan lebih menjelaskan bagaimana mengatasi kedukaan atas kehilangan, yang satu ini justru dari PoV orang yang akan meninggalkan, terutama meninggalkan dunia dengan seluruh anggapan bahwa dirinya tidak berharga, bahwa hidup tidak berharga. Dan menurutku buku ini sedih di level berbeda!

Menurutku buku ini akan sangat relate dengan banyak orang yang merasa hidupnya berat, capek, dan tidak punya relasi kuat dengan orang lain. Typical hidup orang perkotaan yang sepi dan sibuk, padahal kita bertemu orang setiap hari, tapi rasanya kita tidak berharga untuk siapa-siapa. Tokoh kita dalam buku ini yaitu Lalin tidak menemukan alasan kenapa harus terus menjalani hidupnya yang pahit karena sakit. Dr. Andreas akan jadi teman ngobrol yang seru dengan analoginya yang amusing (yang bikin aku main Harvest Moon).

Bagian terbaik dari buku ini adalah menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini membutuhkan proses, termasuk proses belajar menerima nasib kurang beruntung atau sesuatu hal berjalan tidak sempurna. Perjalanan itu mungkin tidak seperti yang kita inginkan, tapi bisa jadi lebih indah dan mengajarkan sesuatu yang penting. Lalin, meskipunya tokoh semi-fiktif, bikin aku beneran bangga dan tersedot ke dalam buku self-improvement ini. Menurutku, ini adalah story-telling yang brilian walaupun bukunya bukan fiksi. Cocok untuk temen-temen yang suka baca buku fiksi tapi pengen coba non-fiksi. Kiddos untuk dr. Andreas. You did it! You made me cry, AGAIN on the subway.
Profile Image for Tamira Bella.
179 reviews
July 31, 2025
Satu lagi buku dari dr. Andreas yang menarik untuk diulas. Buku ini mengajak pembaca menyelami beragam emosi manusia, seperti penyesalan, kecemasan, hingga pencarian makna hidup. Meskipun ditulis dengan bahasa yang ringan, tiap tulisannya mengandung pandangan yang dalam mengenai kehidupan dan kesehatan mental.

Pada bagian awal, gaya kepenulisan cenderung terasa cukup lambat, meski begitu buku ini ditulis dengan nuansa yang hangat, empatik, dan menyentuh pembaca dengan cara yang tidak menggurui. Setiap esai seakan menawarkan refleksi yang menenangkan.

Sosok Lalin merupakan tokoh utama yang di bahas pada buku ini. Lalin sendiri merupakan seorang perempuan muda berkursi roda sebab mengalami penyakit auto-imun yang parah. Penyakit fisik yang diderita Lalin juga mempengaruhi kesehatan mentalnya. Disini kita akan diperlihatkan proses amarah Lalin terhadap keadaan yang ia alami secara tiba-tiba, hingga dealing-nya dengan segala hal yang terjadi.

Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya bukan semata buku bergenre self-help biasa buku ini mungkin dapat menjadi teman bagi siapa saja yang ingin belajar merawat luka batin, berdamai dengan ketidaksempurnaan, dan melihat hidup dari sudut pandang yang lebih lembut. Bahasanya indah namun tetap membumi, menjadikan buku ini mudah dinikmati siapa pun yang terbuka untuk menelisik renungan ke dalam diri.
Profile Image for Alham Manazil.
9 reviews
January 19, 2026
Selesai membaca 'Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya', rasanya seperti ikut duduk sebentar di ruang konsultasi yang tenang—tempat seseorang akhirnya berani mengakui bahwa hidup memang bisa melelahkan. Buku ini disampaikan lewat percakapan dr. Andreas dengan Lalin, dan dari situ pembahasannya melebar ke hal-hal yang sering dialami banyak orang: kekecewaan, penyesalan, rasa tidak cukup, dan pikiran yang terlalu ramai.

Yang membuat buku ini terasa “kena” adalah caranya mengajak pembaca menurunkan ekspektasi yang kadang tidak masuk akal—bukan untuk menyerah, tetapi untuk bernapas dan melihat ulang hidup dengan lebih jernih. Alih-alih memberi nasihat yang terasa seperti perintah, buku ini lebih mirip teman ngobrol: pelan, hangat, dan cukup tajam untuk membuat kita berhenti sejenak lalu bertanya, “Jangan-jangan selama ini aku terlalu keras pada diri sendiri.”​

Pada akhirnya, judul yang terdengar nyeleneh itu justru terasa pas: untuk hidup yang lebih sederhana—cukup bertumbuh, menjalani hari, dan tidak selalu menuntut diri untuk tampak baik-baik saja. Buat yang sedang lelah dengan rutinitas atau sedang mencoba berdamai dengan keadaan yang tidak ideal, buku ini cocok dibaca pelan-pelan, karena ia menenangkan tanpa menghilangkan kenyataan bahwa hidup memang tidak selalu rapi.
Profile Image for Dekisugi.
39 reviews1 follower
February 27, 2025
Karya kedua dari Dr. Andreas Kurniawan, perihal manusia dan perasaan kecewa, penyesalan dan juga ketidaksempurnaan. Dibawa dengan 11 Bab untuk me-recharge kembali perasaaan perasaan lelah kita dan melihat dengan perspektif yang lebih baik lagi.

Bercerita tentang konsul salah satu pasien dr yg bernama anonim Lalin. Seorang Gadis dengan rambut setengah putih dan hitam dan duduk diatas kursi roda dikarenakan penyakit antiimun yg menyerang kekebalan tubuhnya yg membuatnya mudah lelah.Menganggap semua orang bodoh dan tidak ada yg mempedulikan dia . Membuat lalin susah tidur dan bertemulah lalin dengan dr kita yg awalnya hanya sebatas meminta resep obat tidur menjadi perbincangan yg membuat kita menyadari apa yg membuat kita tidak tidur nyenyak, apa yg membuat kita lelah dan bagaimana kita menyikapinya. Hehehehe

Buku yg menarik , sbg reminder kembali buat fikiran kita.


Buat suci yg nanya pohon semangkanya di bagian mana? Awalan menjadi judul hanya sebatas Judul yg Eyecatching sehingga membuat orang mempertanyakan judul buku ini dan semangka disini berasal dari Game SUIKA T__T dan arti semangka disini adalah kita tahu kalo semangka bukan Pohon . Akan tetapi walaupun tidak memiliki penompang , Semangka tetap bisa menutrisi tubuhnya sehingga menjadi buah yang manis.

Buat makna lebih dalamnya saya menyarankan untuk membaca buku ini . Sekian dan semangka kakak.
Profile Image for acashaa.
4 reviews
November 20, 2025
I extremely like this book with no exception!!. Buku ini bener-bener cerminan seorang temen yang mungkin kadang untuk beberapa orang itu susah buat dapetin temen yang seperti ini. Buku ini beneran pengertian banget, real kayak dia punya nyawa sendiri dan memilih untuk mengertikan kondisi kita. jadinya seolah-olah kita ngerasa ada yang ngertiin kita. Mungkin karena penulisnya juga seorang psikiater, makanya itu jadi lebih ngena di aku. dari segi penulisannya juga ringan banget dan mudah buat dicerna pikiran dari tiap pesan yang coba disampaikan. pokoknya ini my book of the year deh
Profile Image for Fany Arfi.
52 reviews48 followers
January 21, 2026
Buku ini (ceritanya) kumpulan kisah pasien dr. Andre bernama Lalin yg melakukan sesi terapi. Banyak kisah-kisah dari Lalin yang reflektif dikehidupan sehari-hari. tp alih2 dengerin sesi terapi Lalin, tp sebenarnya apa yang diceritakan Lalin dalam sesi terapinya sebenarnya ya tidak lain adalah kumpulan tulisan dari dokter Andre untuk para pembacanya. saat membacanya, saya serasa lagi ada disesi terapi itu, diajak merefleksikan ini dan itu, sambil mikir... angguk2: "iya juga ya..".

kebetulan ini buku pertama yang kuselesaikan di tahun 2026, cocok banget refleksi diri. kalau tahun lalu kita selalu ngepush buat jadi lebih baik, tp ada part dibuku ini meminta kita untuk slow down, merenungi penyesalan, memaafkan masa lalu, restart lagi pelan-pelan, gapapa coba dulu daripada nyesel, sampai akhirnya ya gapapa kalo hasilnya gak sempurna.

Jadi penasaran dengan buku dokter Andre sebelumnya tentang cuci piring.
Profile Image for Adara Kirana.
Author 2 books207 followers
August 2, 2025
3.5

Buku ini tidak terasa terlalu personal seperti buku sebelumnya (yang bikin saya sampai nangis pas baca!) tapi membuat pembaca malah (mungkin) lebih banyak yang bisa relate dengan esai-esai di dalamnya. Disampaikan dengan lucu, mudah diterima & menenangkan. Sukaa banget! Saya juga suka gimana dr. Andreas menggambarkan hubungan dokter-pasien yang realistis, apalagi sebagai psikiater yang tentu banyak tantangannya. Salut banget! ><
Profile Image for Ira Madan.
32 reviews2 followers
November 9, 2025
Astaga, menurut saya ini bukan sekadar novel. Buku ini fiksi filosofis yang kental dengan insight non-fiksi mendalam. Novel ini memakai kisah seorang pasien, Lalin, sebagai bingkai untuk mengeksplorasi isu kekecewaan, overthinking, dan pencarian kebahagiaan.

Menampar sekaligus mengobati. Saya sangat suka Teori Kegoblokan Tupai; pesannya kuat: "Panjang Umur Kegoblokan!" Haha 😂 Selain itu, Teori Mobil Merah juga sangat mencerahkan, terutama tentang mengapa kita cenderung mencari villain (mencari sesuatu untuk disalahkan) dalam hidup daripada mengambil alih kendali diri.

Oh, ya. Spoiler Alert! Kekecewaan saya atas jawaban yang tidak saya dapatkan dari banyak review pembaca atas pertanyaan kenapa dia harus menjadi pohon semangka, akan saya tulis di review saya ini: alasan kenapa ada wanita ingin menjadi pohon semangka ada di Halaman 125. Haha... 😁

Begitu saya tahu Lalin suka lagu The Band Perry - If I Die Young, saya coba ngopi sambil mendengarkan lagu ini beberapa kali. Tapi maaf Lalin, ternyata selera kita memang beda. Oleh karenanya, Game Suika itu pun belum aku coba. Mungkin di lain kesempatan.

Damai selalu membersamaimu, Lalin🌹
Profile Image for Annisa Erou.
67 reviews1 follower
September 26, 2025
First of all, I would like to say that this book is undeniably different to the Cuci Piring one. Not a good thing or a bad thing different but just factually different. I feel that this one is more sporadic about a whole lot of different things and the previous book is about a big theme, which is grief. And because of that, I personally find the previous book to be more relatable for me.

I didn't particularly enjoy a certain part of the book, namely Shizu's story, because it was told with a tinge of Cinderella syndrome. Let's move away from the narrative that women need to be saved by men or any external force out there. Women are strong and empowered, period.

Dr Andreas is a bit skeptical with the approach of "today will be a good day" because of 2 things: 1) it will only work if you believe it; and 2) it's outside of your control, meaning you can't control it. I agree with the first point, but for the second point, I don't fully agree with him.

Neuroscience and Psychology have a concept of confirmation bias, and even Dr Andreas pointed that out himself on the other side of the book, so I believe once you believe "today will be a good day", your brain will find endless opportunities to make such a thing happen (in other words: it's kinda in your control).

This book has sweet perspectives of death, which are shown by the analogy of falling asleep on the sofa and getting carried by a bigger, soothing figure; as well as the analogy of ocean waves. I love both of them.

It also covers great, important topics: being the bad guy in other people's stories, choices, regrets, gratitude, impermanence and closure.
Profile Image for Lulu Khodijah.
440 reviews10 followers
June 2, 2025
Banyak pelajarannya meski secara fisik bukunya tipis. Intinya sih mengingatkan betapa kecilnya kita sbg manusia, dan akhir yg pasti adalah meninggal dunia.

Senang secukupnya.
Sedih sewajarnya.
Kecewa tanpa berlarut.
Berbuat baik ke sesama karena akan berbalik ke diri kita juga.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
June 25, 2025
Temanku mengatakan, kita bisa mati kapan saja. Bukankah sangat rugi bila kita mati, hal terakhir yang ada dalam pikiran kita adalah hal negatif? Apalagi pikiran itu adalah tentang seseorang yang sungguh tidak penting dalam hidup kita!

Mulai saat itu, dia memegang prinsip: "Jangan sampai lima menit hal buruk merusak satu hari," dan "Kalau hal itu nggak akan berdampak sampai lima tahun ke depan, mungkin nggak ada gunanya memikirkan lebih dari lima menit." Hal.15.

Setelah sukses dengan buku "Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring" dokter Andreas kembali hadir dengan buku terbaru dengan judul yang tak kalah unik. Jika di buku sebelumnya ada Hiro, anaknya yang hadir sebagai benang merah kisah serba-serbi mengenai duka, di buku ini pembaca akan dikenalkan terhadap sosok Lalin, salah satu pasien dokter Andreas yang memiliki pribadi yang unik dan juga luka yang sulit untuk disembuhkan.

"Menurutku, sih, sudah terlambat. Hubunganku dengan keluarga sudah kacau. Seandainya aku bisa memutar balik ke sepuluh tahun yang lalu, untuk memperbaiki ini semua." Hal. 116

Ah percayalah, aku pun sering berfikir demikian. Berfikir tentang keputusan-keputusan masa lalu yang bukannya disesali tapi seharusnya bisa diantisipasi atas segala dampak saat keputusan itu diambil. Termasuk juga, keputusan orang-orang sekitar yang jika dulu aku tahu, rasanya ingin hadir dan menentang sekuat tenaga agar tidak terjadi dan merusak hidup yang dijalani sekarang. Tapi, itu artinya mengutak atik takdir, ya! dan mungkin Tuhan tidak suka bahkan ketika manusia memikirkannya. Mungkin loh ya.

Lalin yang 8 tahun terakhir hidup dalam kondisi fisik yang tidak prima, harus memakai kursi roda pada mulanya datang hanya untuk meminta obat tidur. Ia memintanya dengan ketus. Sebagai psikiater mungkin ini bukan kali pertama dokter Andreas mengalami pengalaman itu. Tapi Lalin membawanya ke level yang berbeda. Wanita ini begitu banyak menyimpan kecewa, marah dan benci dalam hatinya. Dan, walaupun pertemuan pertama mereka tak begitu mulus, pada akhirnya psikiater dan pasien ini menjalani relasi yang sebenarnya. Yang satu menyediakan kuping -dan menyarankan solusi, sedangkan yang satu menumpahkan segala keresahan.

"Iri itu boleh?"

"Tentu saja boleh. Iri menandakan kamu menginginkan sesuatu yang dimiliki oleh orang lain. Bukankah kamu sangat menginginkan hidup seperti itu? Sebagai individu, kamu iri. Tapi sebagai seorang teman, kamu senang mendengar pencapaiannya." hal.163.

Jika di buku Pria-Cuci-Piring tema besarnya tentang duka, di Wanita-Pohon-Semangka ini temanya lebih beragam. Aku pribadi paling suka bab Menjadi Orang Jahat di Cerita Orang Lain. "Kita adalah orang jahat di cerita seseorang. Bukan di mata semua orang." hal.36.

Well, aku sendiri, di titik sekarang, sudah tak sebegitu pedulinya anggapan orang. Ada masanya aku begitu kepikiran dengan tanggapan orang dan itu sangat melelahkan. Pada akhirnya ya harus punya batasan dan lapisan di hidup. Ketika meyakini yang kita perbuat tidak melawan aturan dan norma, ya lakukanlah walau mungkin tidak ikut arus manusia/kehidupan masyarakat pada umumnya. Apalagi, masing-masing orang punya waktunya tersendiri, kan?

Banyak insight dan kutipan menarik dari buku ini -seperti pada buku pertama juga. Aku harap, dokter Andreas gak berhenti menulis di buku Wanita-Pohon-Semangka ini. Akan menarik melihat sudut pandang beliau sebagai psikiater atau -setidak-tidaknya, sebagai manusia biasa pada umumnya.

Skor 8,7/10

Profile Image for Rah.
1 review
April 1, 2025
Setelah mengunduh file buku ini di Gramedia Digital, aku baru nyadar kalau penulis buku ini sama dengan buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring! Pantas saja judul bukunya terasa familiar.

Kalau di buku sebelumnya penulis membahas tentang kedukaan, di buku ini, penulis membahas tentang perasaan manusia seperti kecewa, takut dan ketidaksempurnaan. Buku ini punya efek menentramkan saat membacanya. Rasanya seperti perasaan kita divalidasi, kemudian dievaluasi dengan cara yang jauh dari kata menggurui. Beberapa pembahasan buku ini yang menarik bagiku:

Pertama, penulis menyadarkan pembaca bahwa kehidupan ini tidak lain adalah sebuah cerita. Dan seperti umumnya cerita, kehidupan kita juga memiliki narasi. Jadi, dengan mengubah kata-kata, kita bisa mengubah narasi hidup kita. Nah, tapi untuk mengubah narasi, kita perlu memiliki data baru dan juga percaya dengan data tersebut.

Kedua, data baru akan terupdate secara otomatis seiring berjalannya waktu dan pengalaman yang kita miliki. Jadi, kalau kita menganggap diri dan kelakuan kita di masa lalu begitu goblok dan memalukan, itu adalah hal yang wajar karena itulah reaksi dan pilihan terbaik kita berdasarkan data yang kita miliki di waktu itu. Adapun kita di masa kini bisa merasa malu dan bodoh itu tidak lain karena kita sekarang sudah sedikit lebih pintar dengan adanya data baru.

Ketiga, semua orang jahat menurut sudut pandang seseorang/beberapa orang, bukan semua orang. Kenapa? karena realitanya hidup kita selalu butuh orang jahat untuk disalahkan. Jadi, kita perlu belajar untuk menjadi orang jahat dalam cerita orang lain. Tentu saja, sambil terus berbuat baik, ya! Jangan malah dijadiin alasan untuk merealisasikan perspektif itu!--ini reminder, sih, haha.

Keempat, kondisi dasar perasaan manusia adalah netral. Tidak senang, dan tidak sedih. Jadi, disaat-saat kita ngga merasa senang, bukan berarti hidup kita itu gagal. Bisa jadi kita lagi di titik nol perasaan kita aja, ngga senang dan ngga sedih.

Kelima, pembaharuan data untuk narasi kita ngga harus berupa menjadikan sesuatu lebih baik, lebih besar atau lebih banyak. Bisa juga dengan mengurangi. Mengurangi keterlibatan dalam urusan orang lain. Mengurangi kemarahan yang berlebihan, itu pembaruan.

Keenam, dengan mengubah narasi tujuan belajar dari 'berubah dari salah menjadi benar' menjadi 'dari salah menjadi tidak terlalu salah' maka akan mengurangi beban kita dan menjadikan kesalahan sebagai sesuatu yang wajar asal ada yang bisa dipelajari.

Ketujuh, tujuan memilih adalah untuk memilih saja, bukan memilih yang terbaik. Toh, ketika kita memilih, kita memilih berdasarkan data terbaik saat itu. Dan ketika data kita diupade nanti, pasti ada saja data baru yang lebih baik dan membuat pilihan yang kita ambil seolah salah, padahal itu kan pilihan terbaik saat itu! Maka, yang perlu kita lakukan adalah memilih dengan sadar. Menyadari kita punya kemampuan untuk memilih sesering mungkin.

Terakhir, buku ini juga mengingatkan kita untuk merawat kehidupan dengan ketidaksempurnaan dan menerima bahwa ketidaksempurnaan adalah satu bagian tersendiri dan bukan jalan menuju kesempurnaan.

"Yang penting bukan sebersih atau sepulih apa hatimu dari luka, tapi bagaimana menggunakannya dalam relasi sehari-hari"
Profile Image for Hirai.
207 reviews6 followers
May 10, 2025
Setelah membaca buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring tahun lalu akhirnya saya berkesempatan Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya bulan ini. Buku yang menggunakan latar suasana konsultasi antara pasien bernama Lalin dan dr Andreas sebagai psikolog membawa pembaca menelisik jauh mengenai apa yang dirisaukan serta dialami tokoh Lalin dalam buku ini.
Bagusnya suasana yang dibangun tidak kaku, dikemas dengan gaya penulisan santai membuat buku yang lekat makna ini mampu tersampaikan dengan hangat pada hati pembacanya. Penulis memadukan bahasa medis dengan penjelasan lugas yang mampu dipahami mudah bahkan oleh orang awam sekalipun. Alur yang digunakan maju dengan samar-samar menyimpulkan setiap konsekuensi dan nasihat yang ingin ditegaskan pada setiap babnya.
Untuk tipe buku Self Improvement buku yang satu ini tidak banyak menonjolkan tokoh hanya Lalin, penulis dan beberapa keluarga dan teman Lalin lainnya yang hanya disebut sekilas sebagai penjol suasana. Mengapa harus pohon semangka? Ada apa dengan pohon tersebut? Dibuka dengan bab “Surat Ajaib dari Masa Depan” yang membawa pembaca menelisik lebih jauh tentang persiapan dan penerimaan apa saja yang harus dibuat untuk kehidupan masa depan yang masih jauh dari jangkauan. Buku yang memberikan pemahaman pada pembaca pentingnya memiliki tujuan hidup dan juga perubahan diri ke arah positif meskipun hanya sejengkal saja.
Pembaca tidak perlu khawatir, buku semangka bukan tipe yang mengajak kita harus selalu memiliki semangat dan berpositif diri namun lebih realistis dalam menghadapi semua realita yang ada. Nyatanya memang benar ada hal-hal yang bisa kita terima namun ada sebagian yang seharusnya harus kita perjuangkan agar lebih baik dari yang sudah ada. Dengan keterbatasan yang ada hendaknya kita memiliki semangat lebih tinggi agar bisa menjadi makhluk lebih baik dari sebelumnya.
Buku yang membahas mengenai kematian yang sempurna. Jangan menyerah, tentu saja kematian yang terjadi kemarin, hari ini atau 7 tahun lagi akan berbeda. Kita harus menjadi lebih baik dan meninggalkan hal-hal baik sebelum pergi agar orang-orang yang datang pada pemakaman kita juga ikut bangga.
Terimakasih sudah ada di dunia ini
Terimakasih sudah hidup dan menjalaninya semuanya sangat baik sampai hari ini
Sama halnya dengan Lalin semoga di kehidupan selanjutnya kita juga menjadi orang-orang bahagia dengan memanen banyak semangka. Semangka adalah representasi dari kebaikan dan kebahagiaan.
Profile Image for yrn..
7 reviews
April 26, 2025
Oke first of all, title-nya aja udah absurd banget kan? "Pohon semangka?" I was like, what?! Tapi pas baca, loh… ternyata dalem banget maknanya. Jadi, ini tuh bukan literally pengen jadi pohon semangka ya, tapi lebih kayak metafora gitu. Kayak, "Gue capek, pengin hidup simple, diem aja, gak dituntut macem-macem." And honestly same. Buku ini isinya tuh banyak cerita pendek mostly dari pengalaman dr. Andreas yang kerja sebagai psikiater. Tapi gak bahas medis yang ribet-ribet kok. Gaya nulisnya chill banget, kayak lagi dengerin cerita dari orang bijak tapi super lowkey. No pressure. No judgment. Just vibes. Ada satu kalimat yang stuck di kepala aku

"bedakan bagaimana kamu harus menjalani hidup dengan bagaimana kamu mau menjalani hidup. Ketika keduanya tertukar hidupmu jadi tidak masuk akal."

bro that hit. Kayak ya, I felt that. Kadang aku juga suka bingung antara apa yang aku harus lakuin dan apa yang sebenernya aku mau lakuin. Kadang kita kejebak banget sama ekspektasi orang lain, atau pressure dari luar, dan lupa sama diri kita sendiri. In the end, everything feels off, and life jadi nggak asik. Buku ini ngingetin aku buat stop sejenak, dan mulai bedain antara keduanya. When you start doing what you want instead of just what you should, life feels so much more genuine and peaceful.
Its like the kind of book you read sambil ngopi, sambil hujan di luar, sambil diem, sambil mikir, "Ya udah, aku cukup kok."

Honestly, this book feels like a break. A safe space. Jadi kalau lagi butuh napas sebentar dari hidup yang heboh ini, coba baca ini. Well, kadang gaya tulisannya terlalu "halus" dan datar, jadi beberapa bagian tuh kayak lewat aja gitu. kamu baca, tapi gak terlalu nempel. kayak ya udah, oke, next. Mungkin karena vibes-nya calm terus, jadi gak ada emotional high yang bikin "boom!" di kepala atau dada. Terus ada juga cerita-cerita yang agak mirip satu sama lain. Not in a bad way, cuma kadang bikin aku mikir, "Eh ini cerita tadi atau yang baru ya?"
So yeah, kalau kamu tipe yang suka plot twist atau narasi yang dramatis, mungkin bakal ngerasa ini buku agak flat. But overall, its still a good read. Worth it.
Dan menurut aku, buku ini bukan yang bisa di baca sekali trus selesai, tapi yang bisa dibuka lagi pas kita butuh kayak selimut tipis yang selalu enak dipeluk pas dingin (jokingly). Soalnya aku baru selesai baca buku ini tuh di minggu ketiga, guys. Jadi lebih kurangnya mending baca aja sendiri aku capek ngetik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 142 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.