(Bukan) Pengantin Baru || Yessie L. Rismar || Penerbit Elex Media Komputindo || 190 Hlm || Terbit Th. 2024
Di kehidupan ini rasanya akan selalu ada pertanyaan yang sering mengikuti setiap orang. Di mana pertanyaan itu bukan hanya datang dari orang lain, tapi bisa juga dari keluarga dan saudara.
Pertanyaan seperti ‘Kapan lulus?’ , ‘Kapan wisuda?’ , ‘Udah punya pasangan belum?’ , ‘Udah kerja belum?’ , ‘Kerja di mana?’ , ‘Kapan nikah?’ , ‘Udah isi (hamil) belum?’ , ‘Kapan mau nambah anak?’ sudah kerap kali kita dengarkan. Kebanyakan pertanyaan tersebut membuat kita risih atau nggak nyaman dan sakit hati.
Kebanyakan orang yang bertanya menganggap pertanyaan itu biasa saja, padahal pertanyaan tersebut sangat tidak penting menurutku. Nggak perlu berbasa-basi dengan pertanyaan tersebut karena setiap orang pasti sudah bekerja keras dan nggak ingin mendengarkan pertanyaan itu.
Kenapa harus sekali kepo sama kehidupan orang lain dengan mengajukan pertanyaan seperti itu? Apakah akan ikut berkontribusi dengan biaya atau tenaga hingga sampai ingin sekali tau jawabannya. Rata-rata hanya kepo dan untuk bahan gosip. Padahal sangat tidak bagus terlalu ikut campur dengan urusan orang lain.
Setiap orang pasti memiliki ujiannya masing-masing, begitu juga dengan kehidupan rumah tangga. Ada yang diuji dengan memiliki mertua atau ipar yang toxic, ada yang diuji dengan perekonomian, ada yang diuji dengan pasangan yang banyak tingkah dan ada pula yang diuji dengan keturunan.
Begitu pula dengan kehidupan Kiara dan Yaris. Pasangan romantis dari novel ‘(Bukan) Pengantin Baru’ ini diuji dengan keturunan. Di awal pernikahan mereka nggak pernah terusik dengan pertanyaan kapan punya anak. Namun, ibarat suara nyamuk lama-kelamaan pertanyaan itu menganggu juga.
Terlebih ketika mertua Kiara yang biasanya adem ayem mulai merengek ingin cucu dan membandingkan mereka dengan orang lain. Masalahnya, bagaimana bisa punya anak kalau berhubungan suami-istri saja Kiara dan Yaris tidak bisa? Lalu bagaimana akhirnya kehidupan pasutri satu ini? Kalo penasaran sama kisah mereka bisa langsung baca novelnya!!
Novel ini kerap kali berseliweran di sosial mediaku dan sudah banyak teman booksta yang mereview novel ini. Mereka bilang kalo male lead novel ini tuh green flag banget. Tentu aja aku penasaran banget dan akhirnya memutuskan baca digital di aplikasi gramdig karena waktu itu sedang memiliki paket full premium.
Eh, baru baca beberapa bab ternyata novelnya sudah ditarik dari paket premium dan alhasil aku nggak bisa melanjutkan mengikuti kisah Kiara dan Yaris. Sampai akhirnya kesempatan untuk melanjutkan baca kisah mereka datang kembali dari perantara Kak Yessie sendiri.
Kisah Kiara dan Yaris ini memang bukan karya pertama Kak Yessie yang terbit, tapi novel BPB ini menjadi awal perkenalanku dengan karya Kak Yessie. Di mana aku begitu enjoy dan cocok dengan gaya bercerita Kak Yessie yang mengalir, santai dan bahasanya menggunakan bahasa sehari-hari.
Kisah Kiara dan Yaris ini dikisahkan dari sudut pandang orang ketiga serbatahu yang mana itu membuatku lebih paham semua masalah yang terjadi dalam novel ini serta jadi tau apa yang tokohnya rasakan dan pikirkan. Topik yang diangkat Kak Yessie dalam novel BPB ini termasuk topik yang sering banget kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Namun, Kak Yessie mengemasnya menjadi lebih apik, fresh dan informatif.
Sepanjang baca kisah Kiara dan Yaris, aku nggak berhenti dibuat menahan amarah karena kelakuan orang-orang di sekitar mereka. Melihat kelakuan mereka tuh rasanya seperti aku yang diperlakukan seperti itu. Aku paham banget bagaimana nggak enaknya menjadi Kiara. Namun, dibalik itu semua yang terpenting adalah Kiara punya Yaris yang selalu ada di samping dia.
Aku pernah dengar kalimat yang mengatakan bahwa mau sejahat apa pun dunia sama kita, tapi selagi suami ada di pihak kita maka semua akan baik-baik aja. Dan aku setuju sekali dengan kalimat tersebut. Aku melihat hal tersebut di novel BPB ini.
Kiara sangat beruntung memiliki Yaris sebagai suaminya yang selalu ada di pihak dia. Namun, aku suka sebal dengan beberapa kelakuan Kiara. Padahal udah jelas-jelas suaminya segreen forest itu. Kayak kalo nggak bertingkah rasanya meriang si Kiara ini. Memang sih Kiara ini adalah gambaran kebanyakan perempuan di muka bumi ini. Sadar atau nggak mungkin kita juga pernah bersikap begitu menyebalkan seperti yang dilakukan Kiara, tapi kalo melihat hal tersebut dilakukan oleh orang lain atau tokoh fiksi ternyata sebal sekali rasanya.
Beberapa teman booksta yang sudah lebih dulu membaca novel BPB ini mengatakan kalo seharusnya setiap rumah itu ada Yaris dan aku setuju dengan statement tersebut. Kalo bisa sih semua laki-laki di dunia ini wajib seperti Yaris untuk sikapnya, itu bisa dipastikan dunia ini akan aman sejahtera dan kehidupan rumah tangga pun adem ayem.
Novel dengan tebal 190 halaman ini memiliki konflik yang begitu menguras emosiku, tapi aku mampu menyelesaikan baca novel ini hanya dalam waktu sekali duduk aja karena saking serunya kisah mereka, nggak mau melewatkan sekecil apa pun dan memang kisahnya sepage-turner itu.
Novel bergenre romance ini dikisahkan menggunakan alur campuran dengan pergantian yang sangat smooth sehingga nggak membuatku bingung selama mengikuti kisah Kiara dan Yaris. Menurutku pemilihan alurnya sangat tepat karena itu berhasil memberikan warna dalam novel ini dan juga berhasil bikin aku seperti seseorang yang baru aja merasakan kasmaran.
Aku suka dengan teknik yang digunakan Kak Yessie dalam mengolah konflik dalam novel ini karena nggak terkesan terburu-buru, tapi nggak lambat. Cara Kak Yessie tersebut membuatku menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi pada Kiara, tapi ternyata tebakanku salah besar.
Saat fakta tentang Kiara terungkap, aku justru menemukan informasi atau pengetahuan baru yang mana ini nggak sefamiliar itu di telinga kita. Di zaman sekarang malah kebanyakan perempuan yang rela-rela saja melepas mahkotanya untuk laki-laki yang belum tentu menjadi pasangan sahnya.
Apa yang dialami Kiara ini jelas sekali pengetahuan baru yang sangat bermanfaat. Meski pernah 3 tahun terjun di dunia kesehatan belum sekalipun aku bertemu pasien yang seperti Kiara. Saat scene dokter yang pertama, aku nggak menyalahkan kedua pihak. Justru aku kesal sekali dengan dokternya dan kesal pula dengan Kiara. Di sini aku mengacungkan 4 jempol untuk kesabaran Yaris yang seluas samudera itu.
Aku paham sekali dokter pasti capek dan nggak sesabar pasangan Kiara, tapi aku nggak pernah membenarkan apa yang dia lakukan karena jelas aja kalo aku yang ada di sana pun aku sebal. Kiara hanya belum bertemu dengan dokter yang tepat.
Scene tersebut menggambarkan representasi kehidupan nyata tentang seorang dokter. Kadang ada dokter yang memang enak untuk diajak komunikasi atau konsultasi dan nggak sedikit pula dokter yang begitu menyebalkan atau nggak enak untuk sekadar diajak konsultasi tentang apa yang dirasakan.
Saat bertemu dokter yang seperti dokter pertama Kiara itu memang nggak menutup kemungkinan membuat orang trauma, tapi kita nggak boleh berputus asa karena di luar sana pasti ada dokter yang tepat untuk masalah kita. Nah, langkah yang diambil Kiara sebelum bertemu dengan dokter selanjutnya menurutku adalah langkah yang wajar dan tepat. Nggak apa-apa untuk ambil jeda atau istirahat sebelum akhirnya berjuang kembali.
Tokoh-tokoh dalam novel BPB ini merupakan gambaran orang-orang di sekitar kita. Mereka dibuat dengan memiliki struggle masing-masing. Semuanya memiliki kelemahan dan kelebihan atau nggak dibuat sesempurna itu. Porsi kemunculan mereka pun terasa sangat pas dan nggak ada kesan tokoh tempelan. Semua tokohnya punya peran penting dalam menghidupkan cerita di novel ini.
Tokoh favoritku dalam novel ini udah jelas banget si Yaris. Dia segreen forest itu, aku kagum sama sikapnya dia. Laki-laki langka yang susah ditemukan di kehidupan nyata. Prinsip Yaris perihal mobil ini mengingatkanku dengan prinsip almarhum ayah mertuaku. Dan aku setuju dengan prinsip mereka untuk satu hal tersebut.
Aku suka Arc positif dari tokoh-tokoh lain selain Yaris. Kiara selain beruntung memiliki Yaris sebagai pasangan sahnya, dia juga beruntung memiliki Ibunya yang paham dengan kondisi Kiara meski sempat ada bibit seperti tokoh lainnya dan Kiara juga beruntung memiliki sahabat seperti Sava, Alin serta Indi.
Interaksi para tokohnya pun nggak kalah menyita perhatianku. Interaksi Kiara dan sahabatnya ini bikin aku terharu karena persahabatan mereka didasari oleh kasih sayang, saling support dan ketulusan. 3 sahabat Kiara nggak ada bibit-bibit sahabat yang resek atau menghakimi setelah tau apa yang sebenarnya terjadi. Malah bisa menjadi tempat berbagi cerita yang amanah.
Interaksi Kiara dan Yaris sudah nggak perlu diragukan lagi betapa aku ingin rasanya merasakan seperti itu. Momen yang paling pengen kurasakan juga adalah momen saat mereka berada di halaman belakang setelah salat isya’. Aku seperti bisa melihat langsung seperti apa tata letak rumah mereka.
Nggak ketinggalan pula interaksi Kiara dan Ibunya yang terlihat sekali hubungan mereka yang begitu dekat. Setiap melihat interaksi mereka ada rasa haru dalam dadaku. Di salah satu scene interaksi mereka, aku malah dibuat ngiler dengan masakan Ibunya Kiara karena masakan tersebut termasuk salah satu makanan favoritku. Aku bisa makan berkali-kali kalo Mamaku lagi masak masakan tersebut.
Kiara hanya nggak beruntung dengan memiliki tetangga seperti Bu Wiwin. Tiap si Bu Wiwin ini muncul ingin rasanya aku menjahit mulutnya karena setiap perkataannya begitu menyakitkan.
Perbuatan Mamanya Yaris memang sudah kelewat batas dan nggak pernah dibenarkan sama sekali. Padahal beliau juga seorang perempuan. Untung saja ada Papa yang nggak memihak pada Mama yang sudah keterlaluan. Beliau sosok suami yang bisa dengan tegas menegur istrinya bila si istri berbuat salah. Cara beliau menegur itu justru lebih ngena di hati.
Baca di bab-bab mendekati ending, aku dibuat takut akan kenyataan yang akan kulihat soal Kiara dan Yaris, tapi resolusi yang dipilih oleh Kak Yessie sangat melegakan hati. Novel ini nggak berhenti-henti memberikan aku kejutan, di akhir novel aku mendapat kejutan berupa sebuah fakta yang mana cerita ini berkaitan dengan Kak Yessie. Saat baca fakta tersebut aku membatin ‘ternyata dalam 2 hari berturut-turut aku baca novel yang memiliki sebuah fakta serupa dan hanya berbeda sedikit di kondisi’.
Jujur aja setelah baca novel ini aku malah dibuat lega luar biasa dan nangis bahagia. Selain menyuguhkan ilmu pengetahuan baru, novel ini juga membuatku belajar banyak hal seperti; belajar untuk nggak ikut campur urusan rumah tangga anak dan menantu, belajar untuk nggak terlalu kepo dengan masalah orang lain, belajar untuk nggak menjudge sikap orang lain dengan begitu mudahnya.
Belajar menjadi orang tua dan mertua yang baik, belajar untuk meminta maaf bila salah meski itu pada anak atau menantu serta masih banyak lagi moral value lainnya dari novel BPB ini yang bisa kuterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Aku suka banget dengan cover novel novel ini yang begitu cantik. Aku nggak berhenti-henti memandangi covernya karena saking suka dan terlihat aura romantisnya. Layout, pemilihan font dan ukurannya terasa sangat pas. Uniknya di novel ini nomer halamannya berada di atas.
Di beberapa halaman aku bukan bertemu typo, tapi bertemu tanda [] di paragraf terakhir sebelum bab baru. Sebenarnya nggak menjadi masalah besar hanya saja meninggalkan kesan aneh buatku. Meski sepanjang baca, tanda tersebut nggak kupedulikan sama sekali karena saking fokusnya dengan kisah Kiara dan Yaris.
Menurutku novel ini wajib sekali dibaca oleh semua orang di Indonesia. Mulai dari orang tua dan putra-putrinya agar lebih aware dengan kasus yang belum pernah ditemui dan bisa menentukan sikap untuk ke depannya.