Saya Imama, Imama Al-Hafidzh. Saya berusia dua puluh dua tahun. Saya tinggal di rumah tua dalam hutan, sebab trauma masa lalu yang saya alami.
Malam itu, ada seorang gadis yang tersesat di hutan. Karena satu hal yang tak memungkinkan untuk saya mengantarkannya pulang, saya pun memutuskan untuk membawa gadis itu masuk ke dalam rumah saya.
Hal yang saya takutkan pun terjadi. Setan berusaha menggoda saya untuk menyentuh gadis yang berpakaian tertutup itu. Karena saya tidak tahan dengan godaan setan tersebut, saya pun akhirnya menyalakan lilin dan meletakkan jari saya di api lilin itu untuk mengingat api akhirat. Demi Allah, pikiran kotor saya terhadap gadis itu lebih menyakitkan daripada sekadar membakar jari-jari saya.
🕯️Imama Al-Hafidzh || Tri Lyagustina || Cloud Books || 279 Hlm || Cetakan Pertama, Juni 2023 🕯️
⚠️Trigger Warning : Obsesi, Jebakan, Fitnah, Menikah Muda ⚠️
"Cinta saya ke kamu, tidak ada puluhan ataupun ribuan. Melainkan, Lillahi ta'ala." - Imama Al-Hafidzh
"Hawa nafsu adalah pertarungan yang tidak akan berakhir. Maka lawanlah hawa nafsumu, sebelum dia mengalahkanmu. Jangan menjadi lilin yang membakar dirinya sendiri dan perangilah hawa nafsu karena itu adalah musuhmu. - Hal. 278.
Q : Apa kalian pernah berkeinginan untuk menimba ilmu di Pesantren?
Jujur aku sempat ada keinginan untuk menimba ilmu di pesantren, tapi ada beberapa hal yang membuatku akhirnya tidak melanjutkan keinginan itu.
Imama Al-Hafidzh, sebenarnya aku tau novel ini lantaran banyak yang menyebut novel ini wishlistnya ketika ada giveaway atau di beberapa postingan ketika novel ini open PO. Dari judulnya saja sudah terlihat kalau ini ada unsur Islami, jadi aku memutuskan untuk tidak kepo awalnya karena aku masih trauma membaca novel dengan genre Islami, takut menemukan kasus poligami. Namun, sampai datang sebuah jalan sampai akhirnya aku membaca novel ini. Awalnya aku search setelah baca blurb novel ini untuk memastikan apa hal yang kutakuti tadi akan ada di novel ini atau tidak.
Imama Al-Hafidzh berkisah tentang seorang pemuda yang bernama Imama yang berusia 22 tahun dan tinggal di rumah tua dalam hutan sebab trauma masa lalu yang dia alami. Suatu malam, ada seorang gadis yang tersesat di hutan dan karena satu hal yang tak memungkinkan Imama untuk mengantarkan gadis itu pulang, maka dia membawa gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Apa yang akan terjadi selanjutnya ketika ada dua manusia berbeda jenis dan bukan mahram berada di bawah satu atap? Penasaran? Yuk, langsung baca saja!
Novel ini berhasil banget bikin aku takjub dari awal aku mulai membacanya, bagaimana tidak takjub? kalau dari awal saja aku disuguhi begitu banyak ilmu agama Islam yang berhasil banget membuatku tertampar, tersadar dan bersyukur. Ketika membaca prolog sampai pertengahan novel, aku nggak berhenti-henti dibuat salting sama salah satu tokoh utama dalam novel ini sampai aku mikir kenapa dia harus fiksi? kenapa tidak kutemui di dunia nyata.
Selain dibuat salting, aku juga merasa dejavu dengan salah satu scene, yaitu scene akad nikah, lho kenapa dejavu? Bagaimana tidak? ketika membaca lafal akad nikahnya aku jadi mengingat satu prosesi yang selalu kupanjatkan itu adalah akad nikah pertama dan terakhirku bersama seseorang yang Allah SWT datangkan menjadi jodohku.
Konflik novel ini termasuk ke dalam konflik yang sedang karena nggak membuatku sampai darah tinggi ketika membacanya dan konfliknya related dengan kehidupan di sekitar kita atau kehidupan sehari-hari. Aku suka bagaimana penulis mendatangkan konfliknya karena berhasil banget mengaduk-aduk emosiku. Apalagi pemakaian sudut pandang orang ketiga serbatahu membuatku semakin mengetahui masalah di dalam novel ini dari berbagai sudut pandang tokohnya. Jujur aku masih selalu was was tiap membuka halamannya takut ada hal yang kukhawatirkan terjadi.
Di novel ini, aku kagum dengan para tokoh utamanya yang hidupnya berlandaskan Rasulullah SAW dan Sayyidah Fatimah. Aku suka dengan sosok Alisha, dia gadis yang penurut, nggak pernah pacaran dan kalau bisa tidak ingin berurusan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Prinsipnya yang membuatku kagum karena jarang kutemui gadis seperti Alish (nama panggilan Alisha) di sekitarku.
Selain Alish, aku juga kagum dengan sosok Imama, usianya masih terbilang sangat muda untuk dibilang laki-laki mapan versiku, tapi sikap dan kepribadiannya nggak berhenti membuatku salting dan baper. Dia benar-benar menjaga pandangan dan bisa memerangi hawa nafsunya. Sosok suamiable sebenarnya yang bisa membimbing istrinya untuk ke Surga.
Ada Abi dan Uminya Alish yang aku kagum dengan cara beliau mendidik putra-putrinya. Rasanya aku perlu berguru dengan mereka. Nayyara, sosok sahabat setia Alisha yang persahabatan mereka berhasil membuatku iri, Nayyara selalu ada di depan melindungi Alish dari laki-laki yang bukan mahramnya. Iqbal, sosok Abang yang sayang dengan adiknya, dia nggak mau adiknya sampai salah jalan.
Di dalam novel ini tidak hanya ada mereka yang membuatku kagum, ada pula yang berhasil bikin emosiku naik dan rasanya aku ingin memusnahkan 2 tokoh ini setiap ada scene mereka, siapa lagi kalau bukan Arya dan Fatim. Aku dibuat nggak habis pikir sama tingkah dan pikiran mereka. Jujur aku merasa malu dengan tingkah Fatim, kok ada perempuan seperti ini. Aku sangat berharap tidak pernah bertemu seseorang seperti Fatim di kehidupan nyata. Naudzubillah, jangan sampai.
Semua tokoh dalam novel ini punya porsi yang pas entah itu tokoh utama dan tokoh pendukung, sehingga nggak ada kesan tokoh tempelan. Meski begitu, aku suka dengan cara penulis menciptakan semua tokoh dalam novel ini, tokoh-tokoh yang kusebutkan tadi juga diciptakan memiliki kelemahan. Semua tokoh dalam novel ini dibuat selayaknya manusia pada dunia nyata. Yang punya dosa, bisa cemburu, bisa khilaf, dsb.
Imama Al-Hafidzh termasuk ke dalam genre romance islami, aku suka romancenya bener-bener sopan dan nggak membuat cringe. Nggak hanya punya cover yang sangat menggambarkan isinya, layoutnya juga nggak kalah cantik. Aku suka dengan pemilihan font untuk isi novel ini, ukurannya pas sehingga nggak membuat mata sakit ketika membacanya. Untuk scene masa kini dan masa lalu menggunakan font yang berbeda, sehingga aku tidak dibuat bingung ketika membacanya.
Dari novel ini aku belajar banyak tentang ilmu agama Islam. Mulai dari cara wanita menjaga diri, hisab di akhirat, tata cara berwudhu, bagaimana menjadi istri yang sholeha, menjadi anak yang berbakti, menjaga ibadah kita, tata cara berziarah kubur dan masih banyak lagi lainnya. Tidak hanya itu, di dalam novel ini aku juga dikenalkan dengan kehidupan perempuan di Kota Tarim (Yaman) yang beberapa sudah kuketahui dari suami.
Aku suka dengan beberapa pelajaran dan ilmu agama Islam yang dijelaskan dengan kesan tidak menggurui, tapi ada beberapa juga yang menurutku pribadi masih ada yang terkesan menggurui, serta aku juga menemukan masih ada typo dan kesalahan letak tanda baca. Namun, itu tidak menjadi masalah besar untukku karena aku merasa nyaman dan asyik ketika membaca novel ini.
Membaca novel ini, nggak hanya membuatku salting, baper dan emosi karena tingkah Arya dan Fatim, tapi aku terhibur dengan tingkah Nayyara dan Alish di beberapa scene. Aku juga diajak untuk tau kondisi Ndalem Pesantren seperti apa. Selain itu, novel romance islami ini berhasil mengubah persepsiku kalau nggak semua novel bergenre romance islami selalu berkisah tentang poligami.
Aku rekomendasikan novel ini untuk kalian yang suka baca novel bergenre romance-islami, buat kalian yang suka baca novel tentang Gus dan Ning, buat kalian yang sedang berhijrah, buat kalian yang suka baca novel yang bisa bikin tertampar dan tersadar.
Novel Imama Al-Hafidzh karya kak Tri Lyagustina menceritakan tentang seorang gadis yang baru lulus SMA - Alisha Kinanan Jannah dan Muhammad Imama Hafiz Al-Ayyubi - seorang laki-laki yang hidup di rumah tengah hutan. Pertemuan pertama mereka terjadi saat Alisha dan teman-temannya melaksanakan kemah - merayakan kelulusan dan setelah tragedi yang membuat Alisha ditinggal sendirian di tengah hutan oleh seluruh rombongannya. Alisha menemukan rumah kosong di hutan - tidak terlalu jauh dari pemukiman warga, yang ternyata bukan rumah kosong karena ada penghuninya - seorang pemuda yang ternyata adalah pemuda yang namanya sudah tertulis di Lauhul Mahfuz untuk menjadi pasangan hidupnya. Setelah lulus SMA, Alisha sangat ingin menjadi santri di pondok pesantren ternama, yaitu Pesantren Al-Hafizma. Namun, siapa sangka Alisha malah menjadi bagian dari keluarga Al-Hafizma dan menjadi ibu dari anak-anak Gus Raden (Imama Al-Hafiz). Ceritanya menarik dan sangat Islami, karena hampir setiap percakapan terdapat sumber-sumber hukum Islam. Banyak sekali ilmu baru tentang larangan dan perintah Allah yang lengkap dengan sumber Hadits maupun ayat Al-Qur’an. Pesan yang bisa diambil dari novel ini adalah sebagai anak muda jangan sampai mengikuti hawa nafsu dan trend yang terjadi di zaman yang super canggih ini. Sepertinya halnya Imama, dia mampu menahan hawa nafsunya dan qodarullah dia mendapatkan nikmat yang berkali-kali lipat darj Allah SWT. Semoga setiap ilmu yang tertulis di novel ini menjadi amal jariyah bagi kak Triilyynaa.