Aku tumbuh dalam keluarga yang tampaknya baik-baik saja. Keluargaku berkecukupan, ayah ibuku pekerja yang ulet dan bertanggung jawab, jauh dari alkohol, judi, dan perselingkuhan.
Beberapa tahun kemudian, barulah aku sadar betapa parahnya konflik yang terjadi antara ibuku dan ibu mertuanya –nenekku- yang tinggal bersama kami. Tak jarang pertengkaran mertua-menantu itu memicu pertengkaran antara ibu dan ayahku. Aku pun jadi selalu merasa cemas, takut, dan kesepian meski tinggal di rumah bersama keluarga. Belum lagi aku pun sering dibanding-bandingkan dengan kakak laki-lakiku.
30 tahun kemudian setelah aku berkeluarga dan mempelajari ilmu konseling, barulah aku sadar kalau sebenarnya aku mengalami depresi saat anak-anak dan remaja. Orang tua membesarkan kita dengan apa yang mereka alami dan pelajari. Oleh karena itu, aku berharap kita semua berhasil memutus rantai luka yang didapat dari orang tua, agar tidak terwariskan pada anak-anak kita.
We’re Family But We’re Strangers is one of those books that makes you feel seen, especially if you’ve ever felt alone in your own home 😶 Won Jung Mee shares her story with so much honesty, it’s like she’s saying... “Hey, I’ve felt that too.”
It’s about growing up around love that felt distant, unspoken pain, and the quiet sadness of not feeling truly understood by the people closest to you. Through her personal story, she gently reveals the invisible wounds and mother-daughter dynamics, silent anxieties, and the ache of feeling like a stranger in your own family 🥲
This book doesn’t try to fix you. It just sits with you, like a friend who gets it 🥲 It helps you name the things you’ve carried for so long and reminds you that it’s okay to feel the way you do 🌼 Healing isn’t quick, but it’s real and it starts by noticing what hurt in the first place.
Most of all, this book offers hope. That even if you didn’t grow up with the warmth you needed, you can still learn how to give it, whether to yourself, and maybe one day, to someone else too 🥲🌿🌟
Highlights from this book : “Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan suara napas demi menjaga suasana hati para orang dewasa (di rumah)”
“Aku memang memiliki tempat berteduh Dan tidak kelaparan, namun setiap hari merasa cemas dan takut. Aku juga kesepian.. rasanya seperti tak ada seorang pun yang menyayangiku”