Entah sejak kapan Ares selalu mengikutiku, aku tidak begitu peduli. Bagiku, Ares hanya teman masa kecil yang pernah mencuri pakaian dalamku, tidak lebih. Ares mungkin menyukaiku tapi apa peduliku?
Ketika kini aku bekerja di Kafe Tante Mariam bersamanya, tidak banyak pula yang berubah. Ares hanya teman yang kebetulan bekerja sebagai koki. Ares hanya teman yang, dengan tanpa malu, memamerkan celana renangnya.
Namun sebagian dari diriku tahu, bahwa perlahan Ares mulai memasuki kehidupanku dan aku tidak ingin itu terjadi. Aku harus menghentikan kegilaan ini sebelum terlambat!
“Kadang lelaki, sehebat apapun dia, bisa juga melakukan hal bodoh. Misalnya, jatuh cinta sendiri.” – Ares.
Lulusan studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, Surabaya. Saat ini bekerja sebagai seorang pegawai lembaga publik negara dan tengah melanjutkan studi masternya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan University of Melbourne, Australia.
Untuk berteman: twitter: @Dannesya email: annesya.devania@gmail.com FB: Devania Annesya
Queen Arinda mengalaminya. Hidup Queen yang dulu begitu mudah sampai akhirnya berubah 180 derajat karena ayahnya yang jendral dituduh korupsi. Queen terpaksa keluar dari rumahnya. Saudara mau pun teman terdekat, tak ada satu pun yang mau membantunya.
Di saat itulah Ares muncul menawarkan pekerjaan di Kafe Tante Mariam. Ares sendiri adalah anak yang pernah mencuri celana dalam Queen saat kelas enam SD. Sampai SMA, Ares seolah menjadi bayangan Queen walaupun dia pernah ditolak jadi pasangan prom saat masih SMP.
Kehadiran Ares membuat Queen sedikit lupa dengan kehidupan barunya. Queen juga belajar banyak tentang arti hidup dari Ares. Sayangnya, Queen sudah memiliki Demian dan Ares memiliki Zahara. Akankah Queen kembali pada kehidupan lamanya? Bagaimana hubungannya dengan Ares nanti? “Di dunia ini akan ada sesuatu yang kau inginkan namun tak bisa kau dapatkan” (Hal 132)
Novel ini mencerminkan bagaimana sosok muda-mudi yang mandiri dengan bekerja paruh waktu dan bagaimana kita bertahan hidup ketika semua orang tak peduli. Sering kali kita juga buta dengan segala kemewahan, padahal kita hanya menginginkan bukan membutuhkan.
“Kau memberikan semua hal... yang tidak kuperlukan. Itu masalahnya.” (Hal 135)
Dan suatu ketika dalam hati kecil kita bertanya, Apa yang terpenting dalam hidup? Kekayaan? Status sosial? Atau cinta? Mungkin kita memiliki segalanya, tapi apakah kita bahagia?
“Kadang lelaki, sehebat apapun dia, bisa juga melakukan hal bodoh. Misalnya jatuh cinta sendiri.” (Hal 128)
Yang jelas, dari novel ini kita diingatkan bahwa kebaikan kecil yang kita lakukan kepada orang lain, semua akan kembali kepada kita sendiri.