Harian Kompas sejak awal berkomitmen kuat untuk memberi ruang bagi sastrawan. Cerpen Pilihan Kompas adalah ikhtiar Harian Kompas dalam berkomitmen dan bersetia merawat dan memajukan sastra Indonesia. Cerpen Pilihan Kompas sudah terselenggara sejak 1992 dengan terbitnya buku Cerpen Pilihan Kompas bertajuk “Kado Istimewa”. Lalu, dilanjutkan dengan malam penganugerahan Cerpen Pilihan Kompas.
Tahun ini kami hadir dan semoga tetap bisa hadir pada tahun-tahun berikutnya mengiringi perkembangan sastra Indonesia yang kian matang, meski tak kunjung mapan. Sebagian besar cerpen-cerpen yang dimuat selama 2023 masih menggunakan gaya realisme sosial. Isu-isu yang diangkat dalam cerpen-cerpen kali ini relatif beragam dan relevan. Isu itu, antara lain kekerasan terhadap perempuan, kerusakan lingkungan, dan kematian. Isu-isu ini memang berulang hampir setiap tahun, tetapi tetap saja menarik karena dalam dunia nyata isu-isu tersebut tak pernah surut, seolah abadi. Maka, menjadi penting untuk menceritakannya kembali, terus, dan berulang kali guna menjaga kewarasan kita bahwa masih banyak hal-hal yang menjadi pekerjaan bersama.
Pas liat di gramedia lumayan tertarik sama koleksi dari kompas ini, dan i decided to buy one book. Agak bingung pas baca buku ini sama kosakata2 yg baru buat aku, dan agak plot twist pas baca tentang istri yang sempurna.
Secara pribadi saya jatuh cinta dengan cerpen Kompas melalui cerpen terbaik Kompas tahun 2004, yaitu "Sepi Pun Menari di Tepi Hari" karya Radhar Panca Dahana. Dan saya jatuh cinta lagi dengan cerpen "Istri Sempurna" karya Aveus Har. Sehingga atas cerpen ini saja, bagi saya kumcer ini layak mendapat bintang 5 di mata saya. Cerpen yang sangat dekat sekaligus futuristik, cerpen yang sederhana tapi mengena, cerpen yang membuat kita menggali sisi kemanusiaan kita.
Di "Istri Sempurna", kita bertemu pada seorang istri yang merupakan gynoid, alias robot. Robot yang bahkan lebih paham sang suami, dibanding suami tersebut paham dirinya sendiri. Sebelum menikah, saya merenungkan kalau menikah atau mengerti satu sama lain itu sama seperti mengerjakan persamaaan matematika. Untuk menemukan berapa nilai "x", kita perlu saling menambahkan (kesabaran), saling mengurangi (ego), mengali (energi dan pengertian), ataupun membagi (waktu dan emosi). Dengan menemukan "x", kita paham apa yang pasangan kita butuhkan, misal yang sederhana butuh uang, atau butuh kehadiran kita. Sayang seringkali, persamaan matematika hidup menikah bisa puluhan variabel, sehingga penyelesaian paling sederhananya, kita hanya menemukannya dalam sebuah formula atau rumus. Misal, kita masih tidak paham kenapa pasangan kita sangat sulit sekali untuk minum air putih. Ya sudah kita pakai rumus, selalu sediakan air putih di mana pun dia berada, mengingatkan dia setiap kesempatan, dan tentu mencontohkan sendiri.
Nah si "Istri Sempurna" di sini sudah katham dengan segala persamaan, variabel, dan rumus dalam menghadapi suaminya. Bahkan si istri lebih paham dibanding suami sendiri, seperti algoritma internet lebih paham kita dibanding kita sendiri. Namun, sang suami masih merasa kosong, padahal punya istri yang sempurna. Memang di akhir cerita, si suami menyatakan kalau sangat boros "langganan istri" ini, Namun, saya juga menggaris bawahi bahwa jangan-jangan rasa kosong ini sama dengan rasa kosong yang kita rasakan saat kita doom-scrolling media sosial. Kita senang dapat dopamine kecil-kecil, namun kita merasa kosong, kita disetir algoritma, kita disetir dopamine kita sendiri, kita tidak menguasai diri untuk mau berkembang lebih. Si suami akhirnya berusaha mencari manusia kemudian hari sebagai jodohnya. Ya manusia memang tidak sempurna, namun ternyata yang kocak di cerpen ini, kita disodorkan pertanyaan, bahwa yang sempurna pun tidak menjadikan kita merasa penuh, justru membuat kita merasa kosong. Catatan berharga ini layaknya bekal bagi saya dalam menghadapi ketidakpastian dunia setelah AI merajalela. Terima kasih Aveus Har, terima kasih cerpen Kompas.
This entire review has been hidden because of spoilers.