Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Rate this book
Ale, seorang pria berusia 37 tahun memiliki tinggi badan 189 cm dan berat 138 kg. Badannya bongsor, berkulit hitam, dan memiliki masalah dengan bau badan. Sejak kecil, Ale hidup di lingkungan keluarga yang tidak mendukungnya. Ia tak memiliki teman dekat dan menjadi korban perundungan di sekolahnya.
Ale didiagnosis psikiaternya mengalami depresi akut. Bukannya Ale tidak peduli untuk memperbaiki dirinya sendiri, ia peduli. Ale telah berusaha mengatasi masalah-masalah yang timbul dari dirinya agar ia diterima di lingkungan pertemanan. Namun usahanya tidak pernah berhasil. Bahkan keluarganya pun tidak mendukungnya saat Ale membutuhkan sandaran dan dukungan.

Atas itu semua, Ale memutuskan untuk mati. Ia mempersiapkan kematiannya dengan baik. Agar ketika mati pun, Ale tidak banyak merepotkan orang. Dua puluh empat jam dari sekarang, ia akan menelan obat antidepresan yang dia punya sekaligus. Sebelum waktu itu tiba, Ale membersihkan apartemennya yang berantakan, makan makanan mahal yang tak pernah ia beli, pergi berkaraoke dan menyanyi sepuasnya hingga mabuk.

Saat 24 jam itu tiba, Ale telah bersiap dengan kemeja hitam dan celana hitam, bak baju melayat ke pemakamannya sendiri. Ia kenakan topi kecurut ulang tahun dan meletuskan konfeti yang ia beli untuk dirinya sendiri.
“Selamat ulang tahun yang terakhir, Ale.”

Ale siap menenggak seluruh obat antidepresan yang ia punya. Saat ia memain-mainkan botolnya, Ale terdiam saat membaca anjuran di kemasan botol itu, dikonsumsi sesudah makan. Seketika perutnya berbunyi. Dan Ale pun memutuskan untuk makan dulu sebelum mengakhiri hidupnya. Setidaknya, itu akan menjadi satu-satunya keputusan yang bisa dia ambil atas kehendaknya sendiri. Setelah selama hidupnya ia tak pernah mampu melakukan hal-hal yang ia inginkan.

Ale akan makan seporsi mie ayam sebelum mati.

216 pages, Paperback

Published January 29, 2025

346 people are currently reading
2978 people want to read

About the author

Brian Khrisna

11 books365 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
950 (34%)
4 stars
919 (33%)
3 stars
620 (22%)
2 stars
191 (6%)
1 star
56 (2%)
Displaying 1 - 30 of 801 reviews
Profile Image for Lifni Sanders.
13 reviews34 followers
March 25, 2025
Hampir mau DNF karena gak kuat dengan klise yg ada di buku ini. Buku ini pun tidak mampu menjelaskan depresi & suicidal ideation dengan baik. Fetish penulis terhadap kaum marginal amat sangat meletihkan untuk dibaca.
Profile Image for Arai.
10 reviews5 followers
April 16, 2025
I had high hopes for Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati given its focus on mental health, but sadly, this novel didn’t quite work for me. Brian Khrisna’s writing style felt cringeworthy in many parts, with dialogue and narration that often seemed forced in its attempt to be poetic or profound. This made it hard for me to connect with the story or characters, especially early on.

That said, I have to admit one part hit me hard: the scene with Ibu Murni. It was written with such sincerity that I cried my eyes out. Unfortunately, moments like this were rare, and the story often felt bogged down by convenient coincidences that didn’t feel convincing. I appreciate the author’s effort to tackle depression in a lighthearted way, but the execution fell flat for me. Readers who enjoy dramatic, sentimental narratives might find more to love here than I did.
Profile Image for Adi Abbas.
9 reviews5 followers
February 13, 2025
Ale memiliki penampilan yang jauh dari standar pria idaman masa kini. Dia memang bongsor, tapi bertubuh gemuk, berkulit hitam dan miliki masalah bau badan. Kondisi itu yang membuat Ale merasa sering diremehkan dan dianggap tidak ada, bukan hanya oleh teman kantor, tapi juga ibunya sendiri.

Sampai suatu hari Ale berniat mengakhiri hidupnya. Sebelum mati, dia ingin menghadiahi diri dengan memakan mie ayam langganan untuk terakhir kali. Namun saat hendak membeli mie ayam, Ale mendapat kabar bahwa penjual mie meninggal dunia.

Novel teranyar karya Brian Khrisna ini memiliki premis menarik. Cara bertuturnya pun asyik dengan pemilihan kata-kata kasual yang dirangkai sedemikian rupa. Namun keasyikan itu hanya bertahan sampai setengah halaman buku. Karena sisanya terasa menjemukan.

Brian Krishna tampak berusaha mengikuti tren dengan menjadikan bukunya sebuah fiksi tapi juga self improvement. Itu saya lihat menjadi batu sandungan karena di sisa buku seperti hanya dibuat untuk memberi pelajaran-pelajaran hidup pada pembaca lewat narasi dan dialog karakternya.

Kebetulan tema besar novel ini memang tentang kesehatan mental, dan materi tersebut yang dijadikan alat memasukan elemen self improvement. Dalam novel, tokohnya berkata kalau digurui adalah hal menyebalkan. Dan penulisnya melakukan hal itu secara tidak sadar ...atau sadar?
Profile Image for yulian.
33 reviews2 followers
May 25, 2025
Fetish penulis soal kaum-kamu marjinal di buku ini need to be studied
Profile Image for Henzi.
221 reviews26 followers
August 18, 2025
Apa bedanya buku ini dengan Sisi Tergelap Surga? Sama-sama menceritakan kaum marginal yang itu-itu lagi; yang cuma dikemas dengan karakter berbeda tapi kedalaman ceritanya hampir nihil alias dangkal.

Awalnya aku bisa menikmati cerita Ale—tokoh utama—di beberapa bab pertama. Penggambaran karakternya cukup jelas, permasalahan yang dihadapi juga dipaparkan, dan keputusan yang diambil (walau tak bisa dibenarkan) bisa ‘sedikit’ dimengerti. Tentang seorang pria kantoran berkulit hitam, bongsor, dan beraroma tidak sedap yang menghadapi kehidupan getir sendirian. Dia tidak diterima di lingkungan manapun, baik di tempat kerja maupun keluarga, termasuk ibunya sendiri. Saking depresinya, dia bertekad untuk bunuh diri, tapi mau santap mie ayam dulu sebelum mati.

Meski dunia selalu ramai, Ale tetap merasa sendirian. Sekalinya telpon ke rumah, ibunya malah marah-marah dan membandingkan dia dengan saudaranya. Sehari-hari ia nyebat terus, makan pun tak beraturan untuk menghalau stres. Kondisi tempat tinggalnya mengenaskan. Debu perabotan rumah mengendap, lampu rusak gak diganti, tumpukan piring kotor dibiarkan, sampah makanan dan rokok berceceran. Mau kasihan melihat kondisinya, tapi ya… cukup gedeg juga. Sekeras-kerasnya hidup, hal pertama yang mesti dibenahi adalah diri sendiri. Sebelum merasa dunia menjauh, ada baiknya introspeksi. Mengharap dari orang lain ya susah, apalagi diri sendiri tak terurus. Bagaimana orang lain bisa peduli? 🙂

Tibalah hari kematian yang direncanakan. Pagi-pagi, dia berangkat ke tempat mie ayam biasa langganannya yang ternyata… masih tutup! Dia ngedumel, merasa dunia ini seolah-olah tak adil kepadanya. Gimana ya, ini orang rasanya agak-agak. Gerai mie ayam tak buka saja rasanya sudah mau kiamat. Pikirannya sudah ke mana-mana, seolah-olah semua orang sedang berburu menggagalkan apa pun rencana hidupnya, termasuk bunuh diri. Nggak cuma perkara ini saja yang bikin dia merasa buruk, masih banyak kejadian-kejadian lain sepanjang perjalanannya yang bikin dia menyalahkan keadaan. 🙃
… sekarang dunia seakan mengatakan bahwa sejauh apa pun aku berkembang, aku akan tetap jadi manusia yang tidak bisa menyelesaikan apa-apa di hidupnya. Bahkan dititipi bolu kukus seperti ini saja aku gagal.


Selama perjalanan pulang ia bertemu dengan mafia narkoba, pemilik kelab pelacuran, OB kantornya, penjual layangan, ibu yang kehilangan anaknya, orang buta di jalan, dan lain-lain. Uniknya, mereka semua bijak-bijak dan jago ngasih motivasi. Mau dari kalangan apa pun, wih… sampai kenyang Ale. Aku pun tak kalah begah. Ale yang sebelumnya minim perhatian pun… jadi dapat banyak spotlight. Dibantuin sama OB lah, dianggap anak sendiri sama orang asing lah, diberi hidayah sama hostes lah, dan sebagainya. Selama ini—sebelum bundir—Ale ke mana?

Yang bikin geleng-geleng, cerita-cerita tokoh sampingannya—yang seharusnya mengharukan—terasa datar sebab sudah pernah ada di bukunya yang sebelum ini. Narasinya juga nggak tambah matang, masih terasa “karangan” seperti membaca tugas anak sekolahan. Ceritanya secuil-cuil, langsung pindah ke tokoh lain. 🫣

Intinya kurang lebih begitu. Buku yang bikin sakit kepala. Selesai baca langsung sampoan biar segar lagi. 🥲
Profile Image for aynsrtn.
515 reviews18 followers
August 21, 2025
2.5⭐

Sejujurnya ini pertama kalinya aku memberikan rating 2 bintang sekian pada sebuah buku. Se-tidakmasuk-nya sebuah buku ke dalam seleraku, setidaknya ku masih memberikan 3 bintang—meskipun lebih banyak yapping session-nya. Tapi, sorry to say untuk buku, i can’t hold this anymore.

#

Beberapa alasannya diantaranya:

1. Formulanya sama plek ketiplek dengan Sisi Tergelap Surga
Entah ini memang sudah menjadi ciri khas sang penulis atau bagaimana, tapi kisah orang-orang marjinal dengan segala dinamikanya tuh seakan udah jadi wajib aja ada di setiap novelnya. Masalahnya, lama-lama pembaca [aku sebagai pembaca] bosan juga. Seporsi Mie Ayam ini seperti Sisi Tergelap Surga, tetapi main character-nya cuma satu dan depresi. Udah itu aja.

2. Semua tokoh di buku ini menjelma menjadi motivator
Keren banget deh. Ketemu bandar narkoba yang dipenjara beberapa kali, tapi jago banget ngasih petuah kehidupan. Ketemu PSK dan mami germonya pun sudah bak pembicara golden way. Ketemu tukang kerupuk, tukang layangan, office boy di kantor, semua berlagak memberikan kutipan-kutipan yang bisa di-copas untuk dijadikan caption di insta story. Ya, okelah kalau niatnya demikian, tapi disesuaikan dengan background story para tokohnya. Katanya sih belajar dari gurunya, tukang kerupuk ngasih kutipan dalam bahasa inggris, *tsah. Sayangnya aku bacanya bukan seperti “mendengar” mereka para kaum marjinal ini yang berbicara, tapi seperti mendengar petuah-petuah dari sang penulisnya.

3. Telling not showing
Penulisnya sudah banyak menulis buku-buku dan ini merupakan karya terbarunya, tetapi masih pattern “nyekokin” pembaca, ketimbang memperlihatkan dengan gestur dan adegan. Contoh, melihat tukang kerupuk buta—Jipren sudah bisa menebak Ale–sang tokoh utama–sedang tidak baik-baik saja karena dia mendengar beberapa kali helaan nafas Ale. Sudah. Itu pembaca bisa nangkep kok. Tapi, ini dijelasin sama Jipren. Jadi, kayak berasa dijejelin terus oleh penulisnya. Nggak apa-apa lho kalau sedih, nggak apa-apa kalau mau istirahat dulu, kamu nggak pengen mati, kamu cuma ingin sakitnya hilang. Dan hal itu diulang berkali-kali.

4. Ale
Kenapa dari Ruslan Abdul Wardhana jadi dipanggil Ale? Okay, itu hanya sekadar pertanyaan saja. Tokoh Ale ini sama sekali tidak mendapat simpati dari aku. Mungkin karena kurang dalam pendalaman karakternya. Meski sudah ada beberapa kilas balik Ale di mata orang tuanya, Ale saat sekolah, bahkan Ale di masa dewasanya, tapi semua itu hanya seperti sekadar tempelan aja.

Sebenarnya di awal tuh udah menjanjikan. Tetapi, ketika Ale ketemu Murad, apaan ini? Terlalu jauh. Seakan harus ada orang-orang marjinalnya. Maksudku, nggak perlu sejauh ketemu bandar narkoba hanya untuk memperkuat dirimu agar bisa bertahan hidup. Tapi, balik lagi, mungkin penulis memiliki intensi yang berbeda.

#

Ya, ini hanyalah pendapat dan preferensi pribadi. Kurang lebihnya sekadar opini ku sebagai pembaca. Kalau suka buku self-improvement yang berkedok fiksi, monggo bisa dicoba untuk dibaca.
Profile Image for Cintya Faliana.
42 reviews12 followers
May 31, 2025
1,5/5 karena bukunya dibeliin sahabat baikku.

cara menulis & menarasikan cerita cringe banget, sangat gamblang seolah pembaca gak bisa berimajinasi apa-apa. semua tokoh yang ditemui mendadak mario teguh dan ingin memberikan petuah kehidupan. masing-masing karakter gaya tuturnya serupa, gak ada yang membuat spesial sama sekali. fokus cerita berputar ke ‘orang-orang susah’ tuh fetish penulis midde upper class banget😭

bertahan ‘serius’ membaca cuma di 1/3 buku, hampir menyerah tapi kuputuskan bertahan. memang kadang harus baca buku jelek buat tau buku bagus sih.
Profile Image for Lazar Nulfixar.
2 reviews
April 6, 2025
Premisnya mengenai orang yang mempersiapkan suicide sangat menarik, tapi isi novel bukan itu. Premis yang bisa dikapitalisasi menjadi plot thrilling dan reflektif itu, hanya pembuka singkat dan, menurut saya, hambar dari novel yang sesungguhnya berkisah mengenai: perjalanan emosional dan spiritual seorang manusia dipertemukan dengan beragam manusia lain yang menyadarkannya untuk tidak melakukan suicide. Serupa cerita-cerita ESQ.

Plotnya sistematis, tidak realistis, dan naif. Semua subplot dipaksakan berbaris untuk sebuah petualangan Ale memperoleh pelajaran hidup sampai dia mengubah keputusannya utk tidak suicide. Individualcpada barisan itu sendiri tidak terkesan punya cerita mandiri, eksistensinya sepenuhnya diadakan untuk kisah Ale. Mereka tidak memberikan kompleksitas dan kedalaman apa pun, shg alurnya terkesan seperti dongeng anak sebelum tidur. Kalau anda suka dengan prinsip mestakung (semesta medukung) mungkin cocok.

Banyak percakapan pun tidak realistis dan klise. Mulai dari beragam karakter yang punya gaya bahasa dan gaya menasihati sama - membuat karakternya tidak hidup, percakapannya yang berceramah daripada reflektif, hingga perkataan yang terdengar hanya mungkin dalam bentuk tulisan (buku motivasi) daripada lisan dari seorang preman, pelacur, atau OB. Kalau anda bisa menikmati novel yang semua karakternya bisa beradu puisi, mungkin tidak akan masalah.

Mungkin, karena bukan tipe novel preferensi saya. Kalau anda menyukai tipe novel seperti no longer human atau kokoro, novel ini bukan salah satu lainnya dari jenis itu. Bukan karena plotnya happy ending dan batal suicide, lebih karena proses penceritaan yang artificial dan lebih mendikte daripada memberikan medan refleksi.
Profile Image for Siti Hana.
29 reviews
February 5, 2025
Pertama kali saya baca buku Brian adalah yg berjudul “Sisi Tergelap Surga”. Disitu saya amaze dengan bagaimana Brian membawakan cerita yang sarat dengan pesan. Enak banget bacanya. Dari buku itu saya langsung kepo sama Brian, sampai kemudian tanpa ragu, saya ikutan PO buku “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” ini.
Ternyata dalamnya ada tokoh yg bersinggungan dengan tokoh di buku Sisi Tergelap Surga, menarik.
Tapi jujur, sepertinya ekspektasi saya terlalu tinggi, karena ternyata buku ini tidak semenarik Sisi Tergelap Surga. Di buku ini rasanya banyak sekali kebetulan-kebetulan yang seperti terlalu dipaksakan.
Profile Image for Fian.
46 reviews
February 5, 2025
Isu kesehatan mental menjadi tema utama dalam cerita ini. Penulis menarasikan bagaimana depresi bisa terjadi pada seseorang, apa penyebabnya dan bagaimana seharusnya sikap kita ketika dihadapkan dengan orang yang mengalami depresi.

Alur cerita di buku ini juga begitu mengalir dan tanpa sadar tiba di halaman terakhir. Semua tokoh dan latar diceritakan sangat hidup secara tidak langsung kita juga ikut merasakan apa yang dirasakan para tokoh dalam cerita ini. Buku ini juga terdapat ilustrasi hitam putih pada setiap awal bab, seolah memberitahu apa yang akan terjadi pada kisah berikutnya.

Buku ini bisa dijadikan sebagai bahan bacaan jika kalian sedang bersedih atau merasa cape dengan keadaan. Seperti kata penulisnya cerita dalam novel ini diambil dari kawan-kawan yang berhasil menyintas dari rasa depersi, tentang alasan kecil yang akhirnya bisa membuat mereka ingin hidup sekali lagi.
Profile Image for Sona.
34 reviews
June 15, 2025
udah selesai dari lama tapi baru punya energi buat review ini.... ya allah lemes banget mau mulainya juga.... aku sengaja gak liat isi buku ini dari postingan yang muncul biar aku dapet feelnya karena katanya bagus banget.... ternyata.... serius banyak banget yang harus dibahas ya allah... jalan dari buku ini CEPET banget gak masuk akal banget... lebih gak masuk akal lagi seorang MURAD yang udah berpengalaman berpuluh puluh tahun bisa percaya banget sama si blek yang baru kenal DUA MINGGU pas baca bagian si murad sama blek gelisah banget sumpah kayak ya allah dua minggu.... terlalu MEMAKSAKAN EMOSI banyak kalimat yang diulang ulang supaya kita sedih serius bagian ini tuh ganggu banget lagi pula buku ini gak bisa menyampaikan mental issue dengan baik..... beneran terobsesi sama kaum marginal ya allah.... bangga banget bisa nyelesain buku ini karena sayang uang juga sih wkwk... jadi ragu banget buat baca sisi tergelap surga ya allah takut ketipu lagi......
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for h.
375 reviews148 followers
July 10, 2025
This is just not for me, too many plot holes within the strory.
Profile Image for ★.
19 reviews2 followers
April 28, 2025
★★★★☆ (4/5)

  
'Selama ini aku selalu mencari jawaban dari tempat-tempat yang jauh, padahal Tuhan meletakkan jawaban itu begitu dekat denganku. Yang kubutuh hanya melihat lebih luas dan lebih bijaksana.'
Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna terasa seperti menemukan setangkup kehangatan di tengah dinginnya rasa putus asa. Premisnya sederhana—seorang pria yang ingin bunuh diri tapi memutuskan untuk terlebih dulu menyantap semangkuk mie ayam favoritnya. Tapi justru dari premis sesederhana itu, Brian membawa kita masuk ke perjalanan batin yang jauh lebih dalam daripada sekadar perut yang ingin diisi.

Cerita ini dibuka dengan Ale, seorang pekerja kantoran berusia 37 tahun, yang merasa tidak ada lagi alasan untuk hidup. Ia menyusun rencana untuk mengakhiri segalanya, tapi masih punya satu keinginan terakhir: semangkuk mie ayam. Dari situlah kisah bergulir, tidak dalam bentuk drama berat atau ceramah moral, melainkan melalui rangkaian kejadian kecil yang absurd, lucu, kadang menyentuh, yang justru membuat saya—sebagai pembaca—berhenti sejenak dan berpikir.

Yang paling menarik dari novel ini adalah caranya mengangkat tema kesehatan mental. Brian tidak mencoba menjadi psikolog di sini. Ia tidak menawarkan solusi instan atau kesimpulan berbunga-bunga. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa dalam dunia yang tampak begitu keras dan absurd ini, kadang satu porsi mie ayam saja cukup untuk membuat seseorang menunda keputusan fatal. Kadang, satu percakapan random dengan orang asing bisa mengubah jalannya hari, bahkan hidup.

Gaya bahasanya ringan, mengalir, dengan selipan humor tipis yang membuat tema berat ini terasa bisa didekati tanpa ketakutan. Meskipun membicarakan depresi dan suicidal ideation, buku ini tidak membebani pembaca dengan keputusasaan. Brian justru menulis dengan nada yang "menerima"—bahwa tidak apa-apa merasa hancur, dan bahwa kita tidak perlu alasan besar untuk tetap bertahan.

Karakter Ale sendiri terasa nyata. Ia bukan "hero" dalam arti konvensional; ia pasif, rapuh, dan kadang tampak konyol. Tapi justru di situlah kekuatannya: ia mewakili sisi manusiawi kita yang paling jujur—keinginan sederhana untuk merasa cukup, untuk merasa "masih ada artinya." Struktur ceritanya episodik, kadang terasa seperti kumpulan potongan kecil alih-alih narasi besar, tapi entah bagaimana itu cocok dengan perjalanan batin Ale yang tidak linear.

Kalau ada kekurangan, mungkin pada beberapa bagian cerita yang terasa terlalu kebetulan. Ada momen-momen di mana dunia tampak “terlalu baik” pada Ale dalam rentang waktu 24 jam—atau, selama tiga minggu—itu, seolah-olah semesta sedang menyiapkan terapi kilat. Meskipun saya mengerti itu bagian dari nuansa harapan yang ingin dibangun, ada kalanya peristiwa-peristiwa itu membuat saya sedikit terlepas dari realisme cerita. Selain itu, saya pribadi berharap ada eksplorasi lebih dalam soal rasa sakit Ale—tidak hanya diimpitkan lewat kejadian eksternal, tapi juga pergulatan internal yang lebih banyak diperlihatkan.

Tetapi pada akhirnya, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati bukan tentang menawarkan jawaban. Ini tentang menemani pembaca yang mungkin sedang lelah dan memberi ruang untuk merasa—tanpa menghakimi, tanpa melebih-lebihkan. Sebuah pengingat kecil bahwa kadang, kita tidak butuh alasan besar untuk bertahan hidup. Kadang, mie ayam saja cukup.

(P.S: Satu universe sama buku Sisi Tergelap Surga, ya? Apa karena latarnya sama-sama di Jakarta?)
Profile Image for Ya.
13 reviews
August 26, 2025
Secara keseluruhan ceritanya bagus, mengisahkan Ale yang ingin bunuh diri dikarenakan depresi yang dialaminya. Sebelum bunuh diri, dia ingin makan mie ayam langganannya dulu dan ternyata warungnya tutup, lalu titik balik hidup Ale dimulai.

Aku tidak menyalahkan depresi yang dialami Ale karena disebabkan oleh segala tekanan yang dialaminya sejak kecil, dimulai dari orangtuanya sendiri, lingkungan sekolah, hingga lingkungan kerjanya. Ale terbiasa memendam semua sakitnya sendirian hingga akhirnya menggerogoti dirinya pelan-pelan. Ale tanpa sadar memandang dirinya rendah seperti orang-orang di sekitarnya memandang dirinya, Ale mencela dirinya sendiri, berasumsi semua orang membenci dan menghindarinya.

Lalu tiba saatnya Ale memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, dan dia ingin memakan mie ayam langganannya terlebih dahulu sebelum meninggalkan dunia... eh ternyata warung mie ayamnya tutup. Dari situ Ale malah terjebak dengan mafia narkoba, wanita malam, OB di kantornya, wanita tua, pedagang layangan, tuna netra daaann hebatnya, semuanya secara beruntun memberi motivasi pada hidup Ale.

Ale yang awalnya sangat tertutup tiba-tiba membuka dan menceritakan kisah hidupnya kepada orang-orang asing tsb. Ale yang tidak suka digurui dan dinasehati tiba-tiba dapat nasehat dari sana-sini. Ceritanya mulai membosankan... seketika orang-orang asing tersebut memberi Ale kata-kata bijak, aku berasa baca buku self improvement atau nonton Mario Teguh Golden Ways. Kalau aku tipe pembaca yang suka highlight quotes bijak, mungkin 1 buku ini berwarna semua saking penuhnya dengan kata-kata mutiara.

Jujur, kalimatnya bagus-bagus tapi kalo diberondong gitu, aku pun mual juga. Jadinya flat gitu aja, kayak ga ada bijak-bijaknya. Aku mikirnya "ngapain Ale capek-capek ke psikiater kalo pada akhirnya termotivasinya di pinggiran kota? Kemarin si Ale ngapain aja pas jumpa psikiater?"
Dahlah, aku tamatin buku ini karena berasa sayang aja masa harus dnf... pas tamat tu rasanya legaaa, dah gitu aja.
Profile Image for Seara Maheswari.
80 reviews1 follower
January 8, 2026
Cuma perkara nyari mie ayam, Ale harus berkelana kesana kemari dan menemukan jawaban atas alasan kenapa dia harus bertahan hidup. Alur yang simpel, tapi mengandung perjalanan hidup yang bermakna.

"Kamu akan dihargai di tempat yang seharusnya," begitulah salah satu kutipan yang membuatku makin semangat menjalani hidup.
Profile Image for Chacha.
90 reviews6 followers
April 15, 2025
Kalo aku diminta list buku yang wajib dibaca minimal sekali seumur hidup, fix aku bakalan masukkin buku ini. Rasanya penantian dari sejak PO sampai buku ini bisa aku peluk bener-bener sepadan, bahkan lebih dari sepadan💙.

🍲Selesai baca buku ini, caraku memandang seporsi mie ayam berubah. Setiap denger dan liat mie ayam, aku auto ingat sama kisah Ale di buku ini yang sukses bikin NANGISS tapi sekaligus juga bikin aku MERENUNG. Walaupun nggak mengalami hal yang sama persis dengan Ale. Tapi beberapa perasaan yang ia rasain, pernah aku rasakan (mungkin juga kalian). Dan udah nggak kehitung banyaknya bagian buku yang aku tandain, karna isinya yang bener" related dan punya makna yang deep.

🍲Kita bakalan mengikuti cerita Ale yang diceritakan langsung oleh dirinya sendiri di buku ini. Ale terlahir dengan fisik yang mungkin bagi pandangan masyarakat nggak "good looking" membuat Ale setiap harinya merasa ia nggak berharga. Badan besar, dengan kulit hitam dan wajah yang jauh dari kata tampan membuat Ale dipandang sebelah mata. Sejak sekolah ia sudah sering di-bully karna fisiknya dan sampai ia sudah bekerja pun dia masih melalui hal yang sama. Orang-orang memandangnya dengan tatapan remeh + komentar pedas tentang bentuk tubuhnya. Mirisnya keluarganya sendiri juga nggak peduli dengan keadaan Ale😭.
Keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang dan berkeluh kesah malah tapi justru sebaliknya.

🍲Di hari ulangtahunnya yang ke 37, Ale mutusin untuk bunuh diri, karena ya untuk apa ia hidup. Mungkin jika ia meninggal pun, nggak ada teman kantor atau keluarga yang merasa kehilangan. Bukankah selama ini ia juga tidak pernah dianggap ada. Tidak pernah dicari tapi jadi pihak yang selalu mencari. Dan jujur Ale lelah. Lelah dengan dunia yang tidak berpihak padanya.

🍲Semua rencana udah ia susun untuk aksi bunuh dirinya. Namun, semesta punya cerita untuk Ale. Seporsi mie ayam mengubah hidupnya. Kejadian yang nggak terduga terjadi pada Ale dan justru karena kejadian itu membawa Ale berkenalan dengan orang" baru dalam hidupnya. Orang-orang yang justru nggak memandang rendah dirinya. Orang" yang nggak ragu untuk berinteraksi dengannya bahkan memberikan pelajaran hidup kepadanya.

🍲Ale belajar menerima kenyataan hidup justru dengan mendengarkan cerita" orang asing yang baru ia temui. Jalan hidup Ale yang nggak pernah ia kira justru mempertemukannya dengan orang -orang baru yang juga memberikan arti baru bagi kehidupannya.

🍲Perasaanku tersayat-sayat ketika membaca cerita hidup Ale, apalagi buku ini ditulis dengan POV Ale. Perasaan Ale tergambarkan dengan jelas. Berat menjadi sosok Ale, hanya karena fisik yang dinilai nggak menarik di mata masyarakat, ia harus mengalami hal-hal yang menyedihkan. Nggak dianggap dan jadi korban bully bukan hanya saat masih sekolah bahkan sampai ia dewasa.

🍲Di buku ini Kak Brian kembali memilih profesi" yang dianggap sebelah mata oleh masyarakat di buku ini. Profesi yang dianggap remeh, namun justru pengalaman hidup mereka mengubah sudut pandang Ale memandang hidupnya selama ini.

🍲Jujur semua chapter di buku ini tuh favorit. Tapi kalau disuruh pilih best chapter, aku pribadi punya dua chapter terfavorit yaitu "Bandring" dan "Kerupuk Bangka Orang Buta". Tokoh pendukung dalam kedua chapter ini adalah karakter favoritku dan cerita mereka bikin aku sadar banyak hal.

🍲Kesimpulannya, buku ini sangat meaningful untukku, selama membaca buku ini bukan hanya Ale yang merenung, tapi aku juga. Setiap sudut pandang pemikiran dari tokoh" pendukung di buku ini sukses bikin aku tertampar. Dari mereka aku belajar untuk bersyukur apapun keadaan yang lagi kita lalui.

🍲Terimakasih Kak Brian atas kerja keras dan waktunya untuk menulis buku ini. Banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan dari kisah Ale dan seporsi mie ayam ini.

"SEMANGAT KARENA MIE AYAM MASIH ENAK".

N: Ada kejutan di buku ini, kita akan ketemu karakter" yang ada di buku Kak Brian sebelumnya. Siapa itu? Kalian bisa coba baca ya di bukunya. Karakternya cukup memorable untuk aku.
Profile Image for Hirai.
208 reviews5 followers
May 31, 2025
"Apakah mati adalah solusi dari semua masalah dalam hidup ini? Apakah dengan mati kita bisa bahagia?"

Memang benar, terkadang kita terlalu jauh memandang apa yg ada dalam jangkauan dan menganggap kecil apa-apa yg sebenarnya dekat dengan kita. Hidup seperti selalu bercanda tak pernah serius dalam memarkirkan tujuan hidup hanya sebatas mimpi-mimpi dan harapan semu. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati adalah buku yg berisi perjalanan seseorang mencari makna kehidupan dan alasan sederhana untuk tetap berjuang di atas puing-puing keinginan ada di dunia ini. Membawa tokoh penyintas kesehatan mental membuat saya lebih memahami apa yg selama ini membebani mereka disamping kehidupan yg memang sangat melelahkan ini.

Dibuka dengan cerita dan narasi kelam tentang tokoh Ale yg tak pernah beruntung dalam segala hal. Sayapun jadi berkaca, dunia memang tak pernah adil untuk tokoh-tokoh bayangan seperti kita. Ada dan tak ada kita tak pernah memberikan efek terlalu signifikan bahkan ketika hilang juga akan sangat lama ditemukan. Lalu, untuk siapa kita hidup? Mengikuti perjalanan tokoh Ale yg berniat bunuh diri sebenarnya juga menjadi sentilan untuk diri saya sendiri yg selalu berniat mengakhiri semuanya hanya karena lelah dikalahkan oleh kehidupan.

Buku yg mengajarkan kita membuka sudut pandang lebih luas dan luas lagi tentang apa yang sebenarnya ada di belahan bumi lain. Hidup memang tak selalu terpusat pada kita namun kita punya kewajiban untuk memperhatikan diri kita sendiri agar lebih berwarna. Bukan kita yg tak layak namun bisa jadi pemikiran kita sendiri yg mengurung asumsi tersebut. Sejujurnya asumsi juga lahir akibat perasaan tak percaya diri padahal orang lain belum tentu berpikir yg sedemikian. Ale yg sudah merencanakan ulang tahun terakhirnya ingin menutup hidup dengan makan mie ayam. Dia mengira setelah itu semua akan selesai, justru disitulah awal mula dari segalanya.

Ale ditunjukkan betapa luasnya dunia ini meskipun hanya dicomot dari sekelumit kecil ragam manusia yg dipertemukan padanya. Ale menemukan tempat yg tepat dimana dia benar-benar dihargai, Ale menemukan teman sejati yg menganggapnya "Baik" karena memang Ale baik bukan ada alasan lainnya. Ale memahami alasan seseorang untuk memilih hidupnya dan juga sudut pandang yg lebih luas dari sebelumnya. Orang-orang yg putus asa seperti Ale memang membutuhkan dukungan bukan justru semakin dipojokkan. Tuhan adil bukan? Memang kita harus jatuh sejatuh-jatuhnya dulu untuk bisa mendapatkan kebahagiaan. Saya cukup senang dengan penyelesaian buku ini ditambah sentuhan adanya tokoh dari buku sebelumnya hehe jadi kayak nyambung gitu 🫶. Terimakasih nasihat kehidupannya, terimakasih sudah membuat saya menangis.

Sesekali coba lihat yg ada di bawah kita sesekali tundukkan dirimu untuk melihat orang-orang yg lebih tidak beruntung dari kamu. Bukan berarti sebagai pembanding namun sekedar mensyukuri apa-apa yg berhasil didapatkan selama ini. Hanya berfokus pada hal-hal yg sifatnya langit akan membuat kita menderita dan lelah sepanjang hari. Carilah pencapaian sederhana setiap harinya seperti bisa bangun pagi, berhasil mengurangi makan lemak dan sejenisnya tidak perlu yg berat2. Cari alasan bahagia yg sederhana seperti beli buku setelah gajian, makan makanan masakan mama dan apapun itu yg bikin senang.

Hidup kita sudah berat.... di sekitar kitapun banyak orang spt Ale atau kitakah Ale dalam buku ini?
Profile Image for Nuggetfiesta.
5 reviews1 follower
November 3, 2025
hadeh.

gua mayan tertarik baca ni buku krn mungkin bisa ngerasa relate ye sama kehidupan gua skarang gitu and can shine some new perspective lah apalah.

jujur gua ga ada ekspektasi yg gimana2 and im trying to keep an open mind but hadeh kureng bgt jujur.

dari cara nulisnya yg aduh kurang bgt dan cringeworthy, kebanyakan ngejelasin sesuatu yg obvious jadinya ngerasa gua sebagai pembaca didumbdown bgt gt, dan dialog yg preachy dan tidak realistis. otot muka gua capek krn CRINGE MULU dan banyak ngakak cause of how RIDICULOUS some parts are.
ada di bagian rada akhir pas si ale awal2 ketemu bapak2 yg buta, intinya si bapak buta bilang ke dia "kamu knp? lg sedih?" trs si ale mikir gini intinya 'aku bukannya tidak mau menjawab tp aku tdk mau cerita ttg diriku ke orang asing' BRROOOOOOO lu dari awal aje udh overshare ke orang sanasini cok kok bisa2nya lu baru kepikiran begitu sekarang WKKWKWKWKWKWW.

yg paling bikin gua kecewa sebenernya ceritanya sih. dari judulnya yg jujur gua suka, gua kira arahnya akan ke gimana org yg mungkin pen bundir akhirnya menyadari hal2 kecil yg bisa disyukuri kek, ato ga krn melakuin hal2 yg dia ga pernah lakuin sebelumnya jadinya yolo dan mau hidup lagi BUT NOOOOOOOOOOOOO ujung2nya tetep aje berasa lg baca/nonton konten tiktod dmn ngejadiin orang2 kurang beruntung sbg bahan bersyukur.

yg gua mayan suka paling pas bagian bu murni dan speechnya si bapak buta, bagian ttg bundir itu pilihan blabla ya itu okelah tp yg lainnya GAK BGT.

as someone whos been depressed and suicidal for years, idk berasa bgt ni ditulis sama org yg ga pernah ngerasa demikian. which is fine, tp research dan interview mungkin bisa lebih supaya gak shallow gt. apakek.

oiya gua jg ga suka bgt sama endingnya MUBAZIR BGT COK WKWKWK

ya gt deh. disappointed. not for me.
Profile Image for Matchanillaaa.
93 reviews1 follower
October 19, 2025
I'm sorry, it's not my cup of tea 😭 entah cerita ini terlalu gelap sehingga cukup menguras energi ku, atau justru karena tokoh Ale terlalu digambarkan depresi. Padahal menurutku Ale itu cuma minder dan enggan untuk keluar dari zona nyaman. Segala usahanya untuk memperbaiki diri masih belum maksimal, kalau aja Ale mau berusaha sedikit lagi aku yakin dia bakal punya teman, seperti ketika dia berinteraksi dengan para pengedar itu.

Menurutku buku ini juga kurang jelas menjelaskan alasan kenapa Ale sampai depresi akut. Padahal Ale termasuk orang yang rajin. Kenapa juga sama keluarganya? Depresi yang ditimbulkan karena perilakunya sendiri dengan cara mengasingkan diri itu jadi seperti salah Ale juga. Aku jadi gereget sendiri, Ale ini kenapa sih? 😭😭

Aku juga merasa ngga related dengan cerita ini ketika aku membacanya dalam keadaan bahagia. Mood ku lagi bagus, jadi ketika dihadapkan dengan pribadi seperti Ale, aku ngga merasakan kesakitan Ale itu. (Apakah mood mempengaruhi feel membaca? 😭)

Rasanya terlalu banyak kebetulan, setiap kali Ale bertemu orang-orang marjinal, mereka semua dengan suka rela mau menceritakan masa lalu mereka. Hah? Emang orang-orang mau ya terbuka dengan mudah ke orang asing? Terutama terbuka pada Ale yang notabene-nya introvert. Mendadak semua orang yang ditemui Ale jadi penceramah 😭. Aku jadi merasa agak aneh aja 😭 kaum marjinal di sini terlalu dipaksakan untuk bisa open sama Ale.

Sorry, aku biasanya menemukan dialog -dialog lucu dari buku kak Brian Khrisna, tapi di buku ini dialognya vulgar.
23 reviews
April 20, 2025
I had high hopes for this book because a lot of people seemed to like it. But I’m sorry, this book just wasn’t for me :(

To be honest, I was instantly hooked in the first two chapters. I found myself highlighting so many sentences because I could relate to them somehow. But then things went south for me… I felt like the story became too cliché, and many scenes and conversations felt cringe-worthy.

That being said, it’s still a good book in terms of character development. It brought a new perspective, and I can see why people like it.

Also, this is for my future self because I tend to forget the books I’ve read.

The story is about Ale, who suffers from depression. He wanted to end things, but before he committed to it, he wanted to eat his last mie ayam. But then, things took an unexpected turn. Along the way, he learned so many things and eventually found reasons to live again.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Tika Nia.
229 reviews4 followers
March 8, 2025
Di ulang tahunnya ke-37, Ale merasa sepi. Hingar-bingar Jakarta di malam hari berbanding terbalik dengan hatinya yang sunyi. Selepas lembur malam hari, dia meratapi nasibnya. Sejak kecil di-bully, semasa kerja tak segera naik pangkat. Tak punya teman dekat apalagi pacar. Dilangkahi dalam pernikahan, adik laki-lakinya telah menikah duluan!

Ale merasa tak pernah mencapai apapun dalam hidupnya. Apalagi orang tuanya selalu membandingkan dengan teman-temannya. Maka 24 jam dari sekarang, Ale berencana akan mengakhiri hidupnya! Sebelum itu, dia ingin menikmati seporsi Mie Ayam favoritnya untuk terakhir kalinya.

Tapi sungguh sial, mie ayam langganannya tutup! Dia justru jadi korban salah tangkap oleh polisi. Tiba-tiba jadi kaki tangan preman paling bengis. Berkenalan dengan wanita penghibur, penjual layangan hingga seorang tunanetra. Mendengar kisah mereka semua membuatnya mampu memandang dengan kacamata baru. Akankah kali ini dia berubah pikiran? Apakah pertemuan-pertemuan kebetulan itu bisa menghentikan niatnya untuk bun*h diri??

🍜🍜🍜 Baca review buku lainnya di IG ku @tika_nia

Novel ini menjadi karya Brian Khrisna kedua yang ku baca. Menurutku sangat berbeda dengan Kudasai. Novel ini lebih "terasa", kaya makna, humornya juga lebih segar dan menampar! Banyak sekali insight yang ku dapatkan saat membacanya.

Setiap tokoh yang ditemui Ale dalam novel ini benar-benar terasa nyata. Setiap kisahnya memberikan pelajaran berharga. Aku banjir air mata saat membaca bagian Pak Uju dan kue pandan satu loyang. Begitu juga saat membaca kisah Ibu Murni dan anaknya. Kisah Murad, Mami Louisse, dan Saleha tampak jauh dari lingkunganku. Tapi aku tau di luar sana, memang ada kisah-kisah nyata seperti mereka 😭 Pertemuan dengan bapak tunanetra juga sangat berkesan ✨

Aku merekomendasikan buku ini untuk siapa saja ingin melihat dunia dengan beragam sudut pandang, untuk yang pernah berniat mengakhiri hidup, dan untuk yang mencoba bertahan 🤍 Aku ingat kata-kata Brian di akhir Booktalk bulan lalu, "Dihadapan luka dan rasa sakit kita semua adalah pemula. Rasa sakit itu valid," dan kamu tak perlu menyembunyikannya 🥲 Terimakasih masih bertahan hingga sekarang, kamu hebat 🤍
Profile Image for Ms.TDA.
247 reviews5 followers
July 24, 2025
Jujur aku tak berharap byk dari buku ini karna karya Brian sebelumnya agak kurang puas. Dan ternyata buku ini berhasil membawaku masuk ke cerita Ale dg segala emosi2 yg dimainkan. Mana bbrp related lagi ._.”

Dan ternyata bbrp tokoh ada sangkut paut di buku Sisi Tergelap Surga, walau ga begitu menganggu sih kalo blm baca yg sebelumny, kek cuman cameo gt. Ada beberapa percakapan dari tokoh2 dibuku ini yg cukup kena di aku;
- Orang-orang bilang, bagian terberat dari menjadi dewasa adalah kamu akan dipaksa untuk selalu berjalan, tidak peduli sedang sesulit apa keadaanmu saat itu, kamu harus tetap berjalan. Sebab, hidup memang seperti itu. -Ale-
- Hidup bakal jadi lebih gampang kalau kita sudah bisa belajar untuk menerima kekecewaan dan melihatnya sebagai sebuah berkah yang asing. -Mas Ipul, OB-
- Kebahagiaan itu hanya sebentar. Dan lucunya, saat ini kita hidup di dalam masyarakat yg memandang bahwa kebahagiaan adalah sebuah kewajiban dalam menjalani kehidupan. Itulah yang sering membuat kita merasa tertekan. Org2 dipaksa untuk terus mencari kebahagiaan, tanpa di ajari bagaimana caranya hidup sambil membawa kesedihan. Tidak ada buku pelajaran yang membahas bagaimana caranya menangis, bagaimana caranya mengeluh, dan bagaimana caranya tegar di hadapan kesedihan.
- Berhenti terkejut ketika ada suatu hal yang baik terjadi di hidupmu. Kamu orang baik. Dan kamu berhak mendapatkan itu. -Bu Murni-
- Jangan lupa untuk memberikan apresiasi kepada dirimu sendiri. Hidup itu sudah sulit. Jangan paksa kakimu untuk terus melangkah. Cobalah sesekali beristirahat. Nikmati mie ayam itu dg perasaan senang, bukan untuk dinikmati sbg makanan terakhir sebelum mati. Hargailah prncapaian di hidupmu meski itu hanya pencapaian kecil, sebab kamu memang pantas untuk itu. -Pak Jipren-

At the end of the day, maybe, it’s just a bad day, not a bad life afterall.

Maybe life is worth living again. 🤍

Walau aku agak greget dg kelanjutan di tiap kejadian Ale bertemu bbrp tokoh dan juga kehidupan Ale, but overall I’m gonna give it🍜4,2/5🌟👏🏻
1 review
March 12, 2025
Sangat relate, minusnya cuman gimana nasib karakter" lain di akhir cerita?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
January 30, 2026
Ale, seorang pemuda bertubuh besar, berkulit hitam, dan punya masalah bau badan karena badannya yang gemuk. Sepanjang hidupnya dia berpikir dirinya adalah orang yang selalu dihindari, tidak diinginkan, mendapatkan berbagai kemalangan. Hingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya saja. Dia mulai menyiapkan rencananya. Kamar apartemennya dibersihkan, obat-obatan depresi dari psikiaternya ditebusnya sebagai alat untuk mengakhiri hidupnya. Segala sesuatunya sudah siap, sampai ketika lima menit sebelum tiba waktunya, matanya menangkap pesan di kemasan obat bahwa obatnya harus diminum setelah makan. Tiba-tiba saja dia ingin makan mie ayam sebelum mati.

Judul dan sinopsisnya memang menarik. Mengapa harus mie ayam sih? Kenapa ga bubur ayam atau soto ayam? Saya pribadi ga kepikiran mau sarapan mie ayam. Dan bisa-bisanya dia kepikiran harus makan dulu bahkan ketia dia sudah putus asa ingin mati. Tapi bisa jadi itulah jalannya. Dari pencarian mie ayam itu, Ale akhirnya harus menghadapi berbagai kejadian dan orang-orang yang tidak pernah ada di bayangannya sebelumnya. Dan dia mendapatkan banyak pelajaran di sana. meski dengan sejumlah kebetulan-kebetulan yang ditemuinya.

Well... setidaknya saya pernah membaca buku best seller satu ini.
Profile Image for alletssbacabuku.
10 reviews3 followers
April 25, 2025
“Hidup itu seperti pertandingan tinju. Kekalahan tidak ditentukan ketika kamu jatuh, tetapi ketika kamu memutuskan untuk tidak mau bangkit lagi.” Pg. 195

•••

Awal aku baca cerita ini, aku pengen nanya ke Bri, penulisnyaaa, adaa apaaaaa sebenarnya dengan dirinyaaaa, karena karakter Ale di dalamnya iniii kaya totalitas banget penderitaannya. Paket komplit sial banget hidup Ale.. tapii, setelah baca ceritanya sampai akhir.. Akhirnya aku paham tujuan Bri nulis cerita Ale iniii😭😭

Ditulis menggunakan POV orang pertama, kita akan dibawa untuk berjumpa dengan Ale, seorang pria hitam, besar, dekil, bau, introvert sekaligus pengidap depresi akut. Asli semua yang jelek-jelek ini ke Ale semua🥺Nggak ada teman, korban bullying, tidak dihiraukan oleh orang tua..

Buku ini berisi tentang keadaan Ale yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri.. tapi dalam proses itu.. ada saja hal yang tidak berjalan sesuai dengan kemauannya. Dan dalam 3 minggu itu, rentetan kejadian membuat kehidupan Ale menjadi jungkir balik dan membuka matanya.

Aku suka cara penulis yang mengangkat tema tentang kaum marjinal yang mencoba untuk bertahan hidup. Setiap pertemuan Ale dengan orang-orang di dalamnya seakan membuka pandangan hidup Ale.

Semua kisah di dalam cerita memiliki dua sisi kehidupan, tergantung dari mana sudut pandang kita memandang. Apa yang terlihat jahat, ternyata menyimpan sebuah kebaikan, begitu pula sebaliknya.

Di dalamnya banyak disturbing words, narasi dan dialog yang cukup wild, serta banyak TW (narcotics, sexual desire, suicide attempt, depression hingga abusive behavior) dan menurutku itu sangat menggambarkan kehidupan kaum marjinal tsb.

Dalam perjalanan Ale juga, aku notice ada beberapa tokoh yang menurutku cukup familiar (tokoh yang uda pernah muncul di Sisi Tergelap Surga) dan some parts of pertemuan itu cukup mengharukan.

Tapi, ada beberapa parts yang menurutku kurang masuk di aku (seperti kesamaan suara karakter antar tokoh). Meski begitu, cerita-cerita di dalamnya cukup realistis banget di dalam kehidupan di sekitar kita.

Most part of the books ini bisa jadi bahan perenungan untuk kita-kita yang sedang berada dalam fase denial terhadap diri kita sendiri dan sedang mencoba untuk berdamai dengan diri kita sendiri.

Overall, buku ini cukup gloomy dan nyesek untukku. Tipikal buku berat dengan padatnya konflik cerita. Alur ceritanya fast paced dan intriguing, serta closure cerita yang menurutku udah cukup make sense.

Cerita tentang kaum marjinal yang sedang ataupun telah berdamai dengan diri mereka sendiri ini, boleh coba kalian baca!

Profile Image for Anneke Natasya.
5 reviews
December 15, 2025
Alasan tertarik baca buku ini karena mengangkat isu tentang mental health. Di awal cerita, pasti banyak yang relate dengan pikiran si tokoh utama. But idk, semakin dibaca semakin banyak dialog yg ga make sense karena ga sesuai dengan mindset si tokoh utama sebelumnya.
Selain itu, banyak kata-kata dan cerita yg terlalu vulgar dan personally bikin mual. Hampir ga mau lanjut baca di pertengahan buku, tapi masih berekspektasi akan bagus di akhir.
Ternyata semakin dibaca malah nemu banyak hal cringe di buku ini, salah satunya dengan menjadikan someone else’s suffering as a benchmark to feel grateful.

“You should be grateful for X, because some people don’t have X.”

But is comparison a necessary component of gratitude?

Because for me, ignoring your feelings or comparing your situation to others is not what gratitude is about.
Profile Image for Icha.
5 reviews
May 26, 2025
╭── ⋅ 𓆩⋅⟡⋅𝐁𝐨𝐨𝐤 𝐈𝐧𝐟𝐨⋅⟡⋅𓆪 ⋅ ──╮
Judul : Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis : Brian Khrisna
Penerbit : PT Gramedia Widiasarana
Jumlah Halaman : 208 halaman
Genre : adult, slice of life, heartwarming, mental heath
Rating versi aku : : 4.8★ / 5
╰─── ⋅⟡⋅ ───── ⋅⟡⋅ ───╯

⤷ *Kutipan Berkesan*
"Kalau lo hidup dan besar di jalanan, jadi orang jahat itu akan jauh lebih aman ketimbang jadi orang baik...." ~hlm.57

⤷ *S i n o p s i s S i n g k a t*
Buku ini menceritakan tentang Ale, pria 37 tahun sekaligus pekerja kantoran, yang mengalami depresi akut hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dalam 24 jam.
Ale merasa hidupnya hampa dan tanpa penerimaan, sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan yang tidak suportif. Tekanan, perundungan, dan kesepian itu membekas hingga ia dewasa.
Sebelum mengakhiri hidup, Ale ingin menikmati satu hal terakhir yang sederhana namun bermakna: seporsi mie ayam favoritnya. Namun ketika mie ayam itu tak bisa ia temukan, ia malah terjebak dalam perjalanan singkat yang mempertemukannya dengan orang-orang asing.
Tanpa disadari, pertemuan-pertemuan itu justru perlahan menuntunnya kembali pada makna hidup yang sempat hilang.

⤷ *R e v i e w v e r s i A k u*
𝐀𝐥𝐮𝐫 & 𝐏𝐥𝐨𝐭. Aku suka alurnya yang mengalir cepat tapi sisi emosionalnya tetap dapet. Cerita dibuka dengan Ale yang sudah bulat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya malam itu, lewat overdosis obat. Tapi sebelum menelan obat, ia sadar: perutnya kosong dan obat itu harus dikonsumsi sesudah makan. Alee kemudian teringat seporsi mie ayam favorit yang selalu menemaninya sebagai budak korporat. Dan ia berpikir, masak mau mati aja menyedihkan, dalam keadaan lapar? Setidaknya ada satu rencana yang berhasil, dan sebelum dia mati dia merasa berhak bahagia....
⋆. 𐙚 ˚
Dari rasa lapar itulah perjalanan Ale dimulai. Ia pergi mencari mie ayam yang selama ini jadi penghibur kecil dalam hidupnya. Tapi ternyata, mie ayam itu tutup. Dari situlah alur cerita jadi makin menarik. Ia bertemu dengan anak penjual mie ayam, lalu pertemuan satu demi satu orang asing yang tak terduga.
⋆. 𐙚 ˚
Plotnya juga menarik banget. Perjalanan mencari mie ayam itu pelan-pelan berubah jadi perjalanan menemukan harapan. Setiap karakter yang ditemui Ale bukan cuma figuran biasa, tapi benar-benar berkontribusi membentuk proses penyadaran dirinya🥺 Cerita ini dikemas dengan sangat apik, ringan tapi ngena, absurd tapi deep🥺 dan bikin aku sangat, sangat terpesona!
⋆. 𐙚 ˚
𝐊𝐚𝐫𝐚𝐤𝐭𝐞𝐫 & 𝐊𝐨𝐧𝐟𝐥𝐢𝐤. Tokoh utamanya, Ale, menurutku ditulis dengan realistis banget. Sosok pria 37 tahun yang lagi capek sama hidup, patah, dan kehilangan arah. Dari awal aku langsung simpati, karena Ale tuh rasanya deket banget sama kenyataan. Dia bukan seseorang yang sempurna, tapi justru itu yang bikin dia relatable. Perasaan hampa, merasa ditolak, sampai rasa nggak pernah cukup, itu semua familiar banget buat banyak orang yang mungkin sedang diam-diam berjuang sendirian.
⋆. 𐙚 ˚
Konflik utamanya tentu soal niat Ale yang pengen mengakhiri hidupnya. Tapi justru menariknya, rencana itu malah terus keganggu sama hal-hal yang kelihatannya sepele. Kayak mie ayam yang tutup, kejebak ritual 'setor kepala', sampai di mana dia akhirnya bisa melihat hal-hal yang selama ini nggak terlihat di matanya, berkat bantuan orang-orang yang tak ia sangka.
⋆. 𐙚 ˚
Aku ngerasa konfliknya juga dalem secara emosional. Luka masa kecil, perasaan kesepian, sampai trauma lama yang kayaknya sulit untuk sembuh. Semua itu pelan-pelan muncul ke permukaan lewat pertemuan Ale dengan karakter-karakter baru yang hadir satu per satu. Dan setiap pertemuan itu bukan cuma sekadar lewat, tapi jadi titik balik kecil yang bikin Ale mulai goyah dari niat awalnya.
⋆. 𐙚 ˚
𝐄𝐦𝐨𝐬𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐢𝐫𝐚𝐬𝐚𝐤𝐚𝐧. Emosi yang aku rasain pas baca Seporsi Mie Ayam tuh campur aduk banget. Kadang sedih, haru, juga bingung sama perjalanan Ale yang berat. Ada momen yang bikin aku ngerasa terharu dan ikut merasakan beban batinnya. Tapi jujur, ada bagian yang kurang nyaman buat aku pribadi, terutama waktu di adegan penjara. Di situ aku sampai ngerasa mual karena gambaran yang cukup brutal dan kata-kata yang frontal banget. Tapi ya, mungkin itu memang ciri khas gaya Brian Khrisna yang nggak takut nunjukin sisi gelap dan pahit kehidupan secara nyata. Jadi, meskipun agak berat, justru bikin cerita ini makin kuat dan nyata.
⋆. 𐙚 ˚
𝐏𝐞𝐧𝐲𝐞𝐥𝐞𝐬𝐚𝐢𝐚𝐧 / 𝐄𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠. Endingnya bikin kesan mendalam. Ale nggak langsung berubah drastis, tapi mulai punya pandangan baru tentang hidupnya. Cerita ini menutup dengan jujur, menunjukkan bahwa proses bangkit itu perlahan dan penuh perjuangan. Pesan yang disampaikan tetap hangat, bahwa dari hal sederhana sekalipun, seperti seporsi mie ayam, bisa muncul alasan untuk terus melangkah.
⋆. 𐙚 ˚
Salah satu pesan yang juga terasa kuat adalah bagaimana sikap orangtua Ale yang nggak pernah benar-benar mengapresiasi atau menerima dirinya, yang bikin luka batinnya makin dalam. Ini ngingetin kita kalau lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang, dan penting banget buat memberi dukungan dan penerimaan tanpa syarat 🫂
⋆. 𐙚 ˚
Aku juga suka banget pesan bahwa manusia itu nggak harus sempurna. Ale bukan sosok pahlawan yang hebat, dia justru terasa sangat manusiawi, dengan segala kerentanan dan kekurangannya. Itu bikin aku merasa cerita sangat dekat dengan realita. Selain itu, perjalanan Ale juga nunjukin kalau pertemuan dan koneksi sama orang lain bisa jadi penyelamat yang nggak disangka-sangka. Orang-orang yang kita temui kadang bisa membantu kita nemuin kembali arti hidup dan harapan, bahkan saat kita sendiri nggak sadar lagi caranya 🥹
⋆. 𐙚 ˚
Pokoknya Seporsi Mie Ayam bukan cuma cerita tentang depresi atau rasa putus asa, tapi juga tentang bagaimana kita bisa bangkit, bahkan dari hal-hal kecil sekalipun 🤍
⋆. 𐙚 ˚
𝐄𝐦𝐨𝐬𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐢𝐫𝐚𝐬𝐚𝐤𝐚𝐧. Emosi yang aku rasain pas baca Seporsi Mie Ayam tuh campur aduk banget. Kadang sedih, haru, juga bingung sama perjalanan Ale yang berat. Ada momen yang bikin aku ngerasa terharu dan ikut merasakan beban batinnya. Tapi jujur, ada bagian yang kurang nyaman buat aku pribadi, terutama waktu di adegan penjara. Di situ aku sampai ngerasa mual karena gambaran yang cukup brutal dan kata-kata yang frontal banget. Tapi ya, mungkin itu memang ciri khas gaya Brian Khrisna yang nggak takut nunjukin sisi gelap dan pahit kehidupan secara nyata. Jadi, meskipun agak berat, justru bikin cerita ini makin kuat dan nyata.
⋆. 𐙚 ˚
𝐏𝐞𝐧𝐲𝐞𝐥𝐞𝐬𝐚𝐢𝐚𝐧 / 𝐄𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠. Endingnya bikin kesan mendalam. Ale nggak langsung berubah drastis, tapi mulai punya pandangan baru tentang hidupnya. Cerita ini menutup dengan jujur, menunjukkan bahwa proses bangkit itu perlahan dan penuh perjuangan. Pesan yang disampaikan tetap hangat, bahwa dari hal sederhana sekalipun, seperti seporsi mie ayam, bisa muncul alasan untuk terus melangkah.
⋆. 𐙚 ˚
Profile Image for Vindaa.
190 reviews3 followers
December 24, 2025
NYESEEEEEKKK 🥹💔

Rasanya ikutan depresi sejak awal mengikuti perjalanan Ale. Gimana dia merasa direndahkan, tidak dianggap ada, jadi bahan bullying, bahkan oleh orang tuanya sendiri, yang bisanya hanya menuntut, tanpa pernah memberinya apa yang ia yang butuhkan.

Makanya saat dia memutuskan untuk bunuh diri, aku tuh kayak ikutan ngerasain gimana terpuruknya hidupnya. Nelangsa ! Benar-benar nelangsa rasanya hidup ketika melihat dari sudut pandang Ale di fase ini.

Bahkan untuk sekedar mau makan mie ayam favoritnya sebelum mati aja, masih juga gagal. Senggak mendukungnya kah dunia terhadap dirinya?

🔸🔸🔸

Brian Khrisna benar-benar gacor sih kalau udah nulis beginian, setelah Sisi Tergelap Surga, buku ini juga mendapatkan lima bintang dariku ✨ karena memang sengejleb ituuuuuu isinyaa 😭

Bagaimana tidak, setelah gagalnya usaha Ale untuk bunuh diri, ia justru bertemu dengan berbagai orang yang tak pernah ia sangka. Bos mafia narkoba, seorang OB, bapak penjual layangan, ibu yang merindukan anaknya, hingga bapak tua tunanetra.

Pertemuan Ale dengan mereka inilah yang nggak cuma memberikan pencerahan untuk apa yang Ale hadapi, tapi juga menohok pembaca tak terkecuali aku.

Lagi-lagi, diajari banyaaaaaak hal oleh mereka yang mungkin selama ini tak pernah ‘dilihat’ 😭 Makanya ngelihatnya jangan pake mata, tapi pake hati. Duh!

Kelassss pokoknyaa buku ini mah. Highly Recommended ! Setelah baca buku ini, rasanya ada yang penuh di dada. Secara nggak langsung buku ini bisa bikin kamu lebih bisa menerima apa-apa yang terjadi dalam hidup ini dengan lapang. Dengan penuh syukur.
Profile Image for Nurul Hanifah.
6 reviews
September 30, 2025
saya mengapresiasi penulis mengangkat topik mental health—depresi. akan tetapi eksekusinya terasa flat. setiap tokoh tiba-tiba memberikan petuah hidup yang saya pikir tidak realistis. cukup kecewa karena saya berharap pemicu depresi Ale bisa digali lebih dalam dengan psikiaternya, tidak hanya didiagnosa dan diberi obat.

narasi dan dialognya berulang, cukup dengan dialog saja sebenarnya pembaca sudah mampu membayangkan situasinya, tanpa perlu mengulang dengan narasi. hal ini bikin menjadikan terlalu panjang dan lama. saya hampir menyerah menamatkan buku ini, tapi akhirnya memutuskan untuk tetap menyelesaikannya. terkadang untuk mengetahui sebuah buku bagus atau tidaknya memang harus menyelesaikannya kan.
Profile Image for sesamesyrup.
58 reviews
June 19, 2025
⭐3,5/5

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati menjadi novel kedua Bang Brian yang kubaca setelah Sisi Tergelap Surga dan aku tidak bekspektasi apa-apa terhadap novel ini. Secara keseluruhan, apa yang ingin disampaikan oleh penulis dalam novel ini sangat bagus. Kalau Sisi Tergelap Surga menceritakan tentang kehidupan orang-orang di garis kemiskinan, novel ini menceritakan tentang seseorang dengan masalah kesehatan mental. Pembawaan dalam novel ini seperti gaya bahasa, penokohan, dan suasananya sangat mudah dipahami karena dituliskan dengan secara lugas dan mengalir. Sayangnya plot yang dihadirkan terasa klise, tidak natural, dan tidak realistis.

Memang, jalan kehidupan manusia dan apa yang akan terjadi selanjutnya hanya Tuhan yang tahu. Kejadian-kejadian yang entah direncanakan atau tidak bisa muncul sesuai harapan maupun hilang begitu saja, serta datangnya kesialan dan keberuntungan pastinya dapat ditemukan dalam kehidupan kita selama ini.
Displaying 1 - 30 of 801 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.