Seseorang yang tak pernah mencintai, tak akan pernah bisa mencintai Tuhan dengan sepenuh hati. Maka, mencintai hal-hal yang bersifat duniawi menjadi penting sebagai persiapan mencintai Tuhan. Meski cinta kepada manusia ada batasnya, tapi mengajarkan hati untuk berkorban, memberi manfaat, dan hidup bermakna.
Jatuh cinta juga berarti siap mengalami kekecewaan dan patah hati dalam perjalanannya, yang jika dirawat dengan benar justru akan menumbuhkan cinta sejati. Karena cinta bukan sekadar relasi antarmanusia, tetapi berakar pada kasih sayang Ilahi yang menyatukan segala sesuatu. Sehingga, cinta tidak hanya menghangatkan jiwa, tetapi juga membersihkan hati dari belenggu duniawi.
Jatuh Cinta kepada-Nya adalah perjalanan menuju cinta hakiki, cinta yang mengalir dari hati yang telah melampaui keduniawian. Melalui ajaran-ajaran para sufi dan filsuf yang telah menempuh jalan ini, pembaca diajak merenungkan makna mendalam tentang cinta Ilahi dan langkah-langkah untuk menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Fahruddin Faiz adalah doktor ilmu filsafat di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia kini selain sebagai dosen Prodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), juga menjabat sebagai Wakil Dekan I di Fakultas Ushuluddin (teologi Islam).
Sudah sejak 2013, tiap malam Rabu di setiap pekannya, Pak Faiz, panggilan akrabnya, menjadi pengisi materi dan pemantik diskusi kajian filsafat di Masjid Jendral Sudirman.
Fahruddin Faiz lahir di Mojokerto pada 16 Agustus 1975. Dia meraih S-1 dari Jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1998), S-2 dari Jurusan Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2001), dan S-3 dari Jurusan Studi Islam UIN Sunan Kalijaga (2014).
Selain menjadi dosen dan wakil dekan di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penerima Short-Course on Research-Management, NTU Singapura (2006) dan Short-Course on Islamic-Philosophy, ICIS (International center for Islamic Studies), Qom, Iran (2007) ini juga merupakan seorang penulis yang cukup aktif.
Beberapa karyanya antara lain: Menjadi Manusia, Menjadi Hamba; Menghilang, Menemukan Diri Sejati; Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks-Konteks dan Kontekstualisasi; Tafsir Baru Studi Islam dalam Era Multikultural; Transfigurasi Manusia (Terjemahan); Perempuan dalam Agama-Agama Dunia (Terjemahan); Filosofi Cinta Kahlil Gibran; Bertuhan Ala Filosof (Terjemahan); Aku Bertanya Maka Aku Ada; Handbook of Broken Heart; Risalah Patah Hati; Filosof Juga Manusia; Sebelum Filsafat; Memaknai Kembali Sunan Kalijaga; Dunia Cinta Filosofis Kahlil Gibran; dan beberapa judul buku lain. Dia juga masih aktif memberikan ceramah keagamaan, khususnya bertema filsafat ke sepenjuru Nusantara.
Jika makna kata cinta di dalam kehidupan kita sesempit hubungan romantisme di antara lelaki dan perempuan, maka buku ini cocok untuk memperluas perspektif tersebut. Buku ini unik karena mengajak kita tidak hanya membaca dengan akal saja, tetapi juga dengan perasaan yang terkadang kita abaikan. Buku ini meluaskan perspektif kita bahwa cinta itu bukan hanya hubungan romantisme antara lelaki dan perempuan, lebih dari itu. Cinta bisa antar sesama keluarga, antar sesama teman, dan di setiap aspek kehidupan yang kita jalani.
Coba kita bayangkan kehidupan tanpa perasaan cinta, mungkin setiap hari kita akan tawuran di mana-mana. Nah, berbagai macam cinta yang terjadi dan mungkin di antaranya kita rasakan tentu ada maksud dan tujuannya. Kita bisa memaknai pengalaman perasaan cinta di kehidupan yang kita jalani dengan cinta ilahiah yang vertikal menuju Sang Maha Mencintai.
Bukankah di antara tanda-tanda kekuasaannya selain ayat qouliyah, Dia juga mengirimkan ayat kauniyah-Nya? yang tentu ayat kauniah ini adalah tanda-tanda yang Dia berikan untuk kita atas setiap kejadian di hidup ini. Karena cinta adalah bagian dari kehidupan, maka kita bisa belajar banyak dari cinta dan memaknainya sebagai ayat-ayat agar kita semakin mengenal-Nya.
Fahruddin Faiz dalam buku inilah menuntun kita agar mengenal cinta yang tidak hanya terbatas pada pengalaman di dunia yang bersifat material saja. Akan tetapi, cinta bisa menuntun kita lebih jauh lagi. Menembus akal-akal jumud, menyisihkan karakter-karakter kasar, dan membumi-langitkan cinta itu sendiri. Seperti seorang pencinta yang selalu merindukan yang dicintainya, maka apakah kita yang seringkali mengaku mencintai-Nya, juga selalu merindukan-Nya? Ah, isi buku ini bisa menjadi media refleksi juga bagi kita sudah sejauh mana kita benar-benar mencinta-NYa.
Ya, buku ini bercerita tentang cinta. Itu saja. Namun, jangan salah pikir bahwa cinta di sini seperti cintanya seorang remaja yang baru mengenal cinta. Lebih dari itu. Lagipula, ulasan ini tidak bisa menjelaskan apa itu artinya cinta. Mungkin buku ini bisa menjelaskannya lebih jauh. Mari membaca. Dan mari menjadi seorang yang mencintai Dirinya saja.
Kali kedua baca buku Mas Faiz yang bertema agama dan "oh pendekatannya Mas Faiz tu kayak gini kalau membahas agama", sebenernya tidak mengagetkan melihat latar belakang beliau sebagai dosen filsafat. Secara umum buku ini membahas "cinta kepada Allah", bagiku agak mengingatkan pada Secret of Divine Love - A. Helwa, pendekatannya juga mirip: sama-sama mengiblat kearah sufisme dan syair-syair. Bedanya, Mas Faiz ini lebih luas dan mendangkal, khas gaya menulisnya beliau banget (dibandingkan karya beliau Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika)
Bukunya diawali dengan kisah cinta Laila Majnun, sebenernya aku pernah baca zaman SD dan membekas banget (yhh kisahnya bikin otak kecilku hah heh hoh pada masanya :'v) dan baru kali ini diingatkan lagi. Pandangan Mas Faiz bahwa kisah itu menyimbolkan "cinta ilahi" itu cukup menarik buat dibahas. Ada lagi kisah Yusuf dan Zulaikha. Sebenernya di bagian awal ini banyak momen "hah mosok ceritane ngene sih" yah ternyata memang kisahnya "buatan" oleh Nizami, jadi memang ngga merujuk ke kisah aslinya. Agak kecewa dikit sih harusnya ini disebutkan di awal... tapi yaudah 😅
Mas Faiz juga membahas stoikisme di sini meskipun cuma sekilas dalam pandangan "cinta dan patah hati". Dulu waktu aku belajar soal stoikisme (yang maaf emang lagi patah hati :'v) aku kayak "lah ini mah konsep ikhlas", "lah ini mah konsep ikhtiar-tawakal", "lah ini sih qada dan qadar" dll. Stoikisme memang terasa seakan "konsep islam versi downgrade dan kurang memanusiakan manusia" (makanya ak ga cocok) dan meskipun cuma secuil, pembahasan Mas Faiz agak mirip sama pemikiranku waktu itu.
Banyak pembahasan konsep2 lain di buku ini (yang semuanya dibahas singkat) misal spiritual intelligence (SQ) sebagai padanan IQ dan EQ, dll. Tetapi konsep terakhir yang dibahas panjang dan lama adalah tasawuf. Aku pribadi kurang mengerti itu apa tetapi kayaknya konsep cinta kepada Allah bagi seorang sufi. Sampai sekarang hal kesufian memang agak kubaca dengan hati2 soalnya yaa... gitulah 😭 aku lebih suka kalau dibahas secara mendasar dari Al-Quran Hadits aja (kayak Reclaim Your Hearts - Yasmin Mogahed) daripada berangkat ke konsep kesufian... tetapi overall bukunya bagus kok ^_^
This entire review has been hidden because of spoilers.
Jatuh Cinta kepadaNya adalah sebuah karya yang sangat menginspirasi dan mengajak pembaca untuk lebih mengenal cinta yang sejati, yaitu cinta kepada Tuhan. Buku ini bukan hanya sekedar buku tentang spiritualitas, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa merasakan kedekatan dengan Allah dalam setiap langkah hidupnya. Fahruddin Faiz menyajikan setiap kalimat dengan penuh keikhlasan dan kehangatan yang bisa dirasakan oleh pembaca. Penulis membawa kita melalui perjalanan batin yang mendalam, mengajak untuk merenung tentang makna hidup, kebahagiaan sejati, dan bagaimana segala hal yang terjadi dalam hidup ini adalah bagian dari kasih sayang Allah. Salah satu kekuatan buku ini adalah cara penulis menggabungkan cerita dan renungan dengan bahasa yang sederhana namun sangat menyentuh. Setiap bab terasa seperti percakapan langsung dengan pembaca, seolah kita sedang diajak untuk berbicara dan bertanya tentang kehidupan dan iman. Secara keseluruhan, buku ini bukan hanya layak dibaca oleh mereka yang ingin mendalami spiritualitas, tetapi juga oleh siapa saja yang ingin merasakan kedamaian batin dan memperkuat hubungan dengan Tuhan. Dengan gaya penulisan yang penuh rasa, Jatuh Cinta kepadaNya adalah sebuah bacaan yang tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menyejukkan hati.
Jujur, ini bukan tipe buku yang dibaca sekali terus selesai. It’s the kind of book you wanna pause, stare at the wall a bit, terus bilang, “iya juga ya…” 😌
Dari awal, vibe-nya udah soft but deep. Pak Faiz nulisnya tuh kayak ngobrol pelan tapi nyentuh, bukan gaya ustaz yang ceramah dari podium — lebih kayak temen nongkrong yang pernah jatuh, pernah kehilangan, tapi akhirnya nemu makna cinta yang bener-bener ngebawa balik ke Allah. Dia ngingetin kita bahwa cinta itu nggak selalu harus berbunga-bunga. Kadang malah lewat rasa sakit, kecewa, kehilangan — di situ justru Allah lagi ngajarin makna cinta yang paling tulus.
Because sometimes, He breaks your heart just to open your soul. 💔
You start realizing that all those moments you thought were random — the heartbreaks, the waiting, the prayers that didn’t get answered right away — semuanya tuh bagian dari cara Allah ngajarin kita cinta yang sebenar-benarnya.
And the best part? It doesn’t force you to be “religious.” It just softly brings you closer to peace. Kayak, pelan-pelan kamu sadar, ternyata semua yang kamu cari di dunia ini, sebenarnya cuma mau ngerasain dicintai dan mencintai balik — sama Dia. 🤍
"Aku mencintai Allah", perlulah selalu meninjau ulang perkataan itu jika kita masih sulit menyayangi seluruh makhluk hidup terutama sesama manusia. Ketika kita merusak alam dan menganggap manusia lain tidak berharga, batal sudah cinta kita ke Allah.
Buku yang cocok untuk merenung tentang sudah sampai manakah cinta kita kepadaNya.