Norbertus (Nano) Riantiarno (lahir di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949) adalah seorang aktor, penulis, sutradara, wartawan dan tokoh teater Indonesia, pendiri Teater Koma (1977).
Buku yang mahal... tapi saya suka sama covernya, memanggil-manggil saya untuk membeli. Saya udah gak inget lagi jalan ceritaya gimana secara bacanya dah lama banget. Berarti isi bukunya kurang berkesan sampe gak nempel di otak saya yang short memory ini :)
Novel/film dengan setting kolonial biasanya isinya selalu "UOOO ORANG KULIT PUTIH JAHAT UOOO!!!", sampai saya malas dekat-dekat dengan tema ini. Jujur, saya baca buku ini karena isinya tidak begitu, dan saya sebenarnya memang dari dulu penasaran dengan teater zaman kolonial itu seperti apa. Di sisi lain saya senang karena kontennya menyegarkan dan bukan "AUOOO LAWAN KULIT PUTIH!!!", dan Kedjora juga sebagai perempuan tidak parah-parah amat lemahnya seperti karakter perempuan lain di novel setting kolonial (uhukAnneliesBumimanusiauhuk). Sisi negatifnya, saya merasa Ketjubung terlalu one dimensional, kayak kurang berkarakter seolah dia cuma sekadar dibikin kayak "DIA JAHAT LOH, JAHATTTTT!!!". Baling juga rasanya agak hambar padahal dia salah satu tokoh utama. Selain itu saya juga merasa plot santet-santetan agak maksa, malah kayaknya ngak perlu.
Roman ini bercerita tentang kehidupan Kejora seorang primadona opera dengan setting kehidupan Hindia Belanda tahun 1920-1930an.
Kedjora merupakan anak petani miskin yang dititipkan kepada Petro dan Miss Ketjubung. Petro dan Miss Ketjubung merupakan pemilik sekaligus sutradara dan primadona grup opera Miss Ketjubung. Kedjora yang tumbuh menjadi wanita dewasa jelita, menimbulkan kecemburuan bagi Miss Ketjubung yang kuatir posisinya sebagai primadona akan tergusur. Tanda-tanda ketergusuran itu nmulai muncul misalnya Rama Oembara yang merupakan actor pria lebih suka mengundurkan diri dari grup opera Miss Kecubung karena bosa dipaksa memainkan lakon yang sama dengan Miss Ketjubung sampai puluhan kali.
Kondisi Miss Ketjubung yang sedang hamil muda membuat kesempatan bagi Kedjora untuk mengorbit menjadi terbuka luas. Miss Ketjubung yang tidak rela status primadonanya tersisih berupaya menahan laju kemajuan Kedjora dengan mengawinkan Kedjora dengan pemain badut dari grup opera itu. Kedjora akhirnya menikah dengan Badut Baling karena ingin membalas budi Petro dan Ketjubung. Kedjora memaksa Baluing untuk bersumpah bahwa Baling tidak akan menyentuh Kedjora, karena hati Kedjora telah terpikat dengan Rama Oembara. Karena perasaan cinta yang sangat dalam, Balingpun berikrar untuk tidak menyentuh Kedjora walaupun mereka tinggal dalam satu rumah dan satu kamar.
Rama Oembara yang kemudian mendirikan grup opera Gardanella berhasil meraih sukses besar. Dia merayu Kedjora untuk bergabung di Gardanella. Dengan situasi di grup opera Miss Ketjubung yang selalu dalam tekanan dari Miss Ketubung bahkan sempat kena guna-guna, tawaran Gardanella diterima oleh Kedjora apalagi di situ dia akan berkumpul dengan Rama Oembara pujaan hatinya. Kepindahan Kedjora ke Gardanella juga diikuti oleh Baling waalaupun Baling tahu dia akan menghadapi kenyataan menyakitkan karena Kedjora akan bertemu dan bersatu dengan Rama Oembara, dan meninggalkannya. Kepergian mereka ke Gardanella juga diikuti oleh Tio yang menjadi cukong sekaligus manajer Miss Ketjubung.
Hilangnya Kedjora dan Tio membuat grup opera Miss Ketjubung menjadi bangkrut karena asset-asetnya secara licik diambil alih oleh Tio. Petro yang tidak kuat menanggung beban akhirnya meninggal gantung diri. Miss Ketjubung sendiri mengajak anak buahnya pulang ke Surabaya untuk membangun kembali puing-puing grup opera Miss Ketjubung. Namun tiadanya dukungan teknis maupun manajemen memadai membuat grup ini tidak bertahan lama dan Miss Ketjubung mengalami depressi. Akhirnya Miss Ketjubung meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan karena nyala lilin menyambar kasur rombeng tempat dia tidur terbakar habis beserta bangunan opera dimana dia tinggal.
Meninggalnya Petro dan Miss Ketjubung tidak banyak diketahui oleh Kedjora yang saat itu selama 5 tahun mengadakan perjalanan pentas opera keliling dunia. Selama perjalan itu Kedjora menunggu Rama Oembara untuk menyatakan cinta dan melamarnya. Namun Rama Oembara sendiri tidak pernah berani mengungkapkan isi hatinya secara terbuka.
Suatu hari Kedjora menemukan kenyataan pahit bahwa Rama yang bersikap santun padanya ternyata suka main perempuan. Dia memergoki Rama main perempuan dalam gedung opera, dan dia mendengar sendiri cinta Rama padanya hanya cinta sementara. Dengaan hati yang pilu, Kedjora saat pentas secara elegan berpamitan kepada para penonton dan pengagumnya. Dia pamit mundur dari dunia opera selamanya….
Kedjora kemudian tinggal di kampong Cirebon dengan Baling. Ikrar Baling tidak akan menyentuhnya pun masih berlaku. Kedjora yang belum bisa melupakan cintanya meminta Baling untuk memainkan opera berdua setiap sabtu sore yaitu opera tentang surat cinta Rama Oembara….Opera itu mereka mainkan setiap minggu sampai 40 tahun lamanya.
Suatu saat Kedjora nendengar Rama meninggal dunia karena sakit Raja Singa. Dia melayat ke makam Rama, dan dari Soebro yang crew grup opera Miss Ketjubung diperoleh informasi bahwa Rama-lah yang pernah mengguna-guna Kedjora agar jatuh dalam pelukannya. Informasi itu membuat Kedjora tercenung dan dia sadar bahwa selama ini dia telah dibutakan oleh cinta buta. Dia menyadari bahwa selama ini terdapat pria sejati yang seharusnya dia cintai sepenuh hati..yaitu Baling. Akhirnya dengan kehidupan yang sudah beranjak tua, cinta suci Kedjora dan Balingpun bisa bersatu…..
Roman ini merupakan karya pertama N. Rintiarno yang saya baca. Saya langsung tertarik dengan gaya bahasa dan alur ceritanya begitu mengalir nan indah. Beliau sangat lihai menggambarkan kehidupan opera saat itu, sehingga anganku terbang jauh ke era Hindia Belanda untuk menikmati kepiawaian penampilan primadona Kedjora. Roman ini sangat layak dibaca karena juga memiliki pesan moral yang indah, yakni: 1. Cinta sejati suatu saat pasti akan akan terkuak bila kita memiliki kesabaran untuk merawatnya. Karena cinta sejati itu seringkali baru akan ditemukan dan dirasakan maknanya setelah suatu kurun perjalanan hidup seseorang. 2. Keberhasilan menjadi “superstar” tidak hanya karena bakat tetapi juga tuntunan dari pihak lain yang berpengalaman dan juga hasil kerja keras. 3. Kehidupan selebriti yang bergelimang kemewahan dan ketenaran seringkali hanya merupakan kehidupan dunia panggung dan beda jauh dalam kehidupan sehari-hari yang sering penuh gelimang derita dan pilu. 4. Seorang seniman haruusnya seorang pionir yang mampu menyuarakan suara public atau pionir yang mampu mengajak masyarakat berpikir ke depan (visioner). Seniman dituntut harus selalu mau berubah dan tidak boleh puas dengan apa yang ada. 5. Keberhasilan memadukan seni dengan bisnis harus ditopang oleh dua keahlian berbeda yaitu keahlian “berkreasi” dan keahlian “manajemen”.
"...Petro sayang sama orang-orang yang akhirnya berkhianat. Petro malah lebih sayang mereka dibanding kepada saya. Petro, Petro, kau mati sia-sia. Kau kasih segalanya kepada orang-orang yang keliru...." -294
***
"Baling, mengapa nasib sering berlaku tidak adil kepada orang yang setia?" "Saya tidak tahu. Mungkin karena ujian bagi orang-orang yang setia, jauh lebih besar dibanding ujian kepada mereka yang tidak setia. Atau, barangkali, justru di situ letak operanya." Kedjora tertawa getir, "Ah, Baling. Ini kenyataan. Bukan opera." -268
*** Kisahnya tentang perjalanan Kedjora di dunia opera. Lika-liku dari titik nol hingga menjadi primadona. Kena sikut miss Kecubung yang tak mau disaingi sebagai primadona. Penantian Baling, yang cinta buta padanya. Oembara yang dicintai Kedjora sama butanya dengan Baling. Tragisnya kehidupan Petro. Betapa hidup adalah suatu siklus, roda berputar. Dari bawah bergerak ke atas, hingga akhirnya ke bawah lagi. *** Bahasanya asik, karakter2 yang manusiawi (it makes the book so lovable), cerita yang ga kalah asik meski penantian 50 tahun itu kurang bisa diterima logika (setua itu masih bisa ngomong cinta sebegitunya? wow). Yah gapapa sih, bukan masalah besar buat saya. Penulisnya jago mengilustrasikan detail-detail latarnya dengan bahasa yang asik. Mungkin karena kepiawaian ini, detail awal aja sampe ngabisin 3 halaman. Saya ketawa aja setelah loncat-loncat baca detail, ternyata si tokoh baru disebutin di halaman ketiga. Baris kedua dari terakhir pula. Berasa kita diperkenalkan dari tingkat galaksinya dulu, terus alam semesta, terus benua, terus negara, pulau, kabupaten, baru sampe ke halaman rumah orangnya (oke ini cuma komentar lebay, abaikan. Aslinya sih, kalo yang baca santai bacanya pasti enak ngikutinnya (perhaps you'll get the surprise too when read 'bukit' part). Saya sok sibuk aja jadi detail latarnya saya lewat-lewatin).
Terlepas dari unsur-unsur 21 tahun ke atas, saya suka gaya bahasa N. Riantiarno ini. SUKAAAAA banget. Mbok aku diajarin bikin kata-kata apik nan mengena kaya gini ;)
Mungkin ini buku terlama yang saya baca. Bukan karena jenuh, namun tiap detil yang terlalu sayang untuk terlewat. Saya membayangkan Jakarta yang nyaman di buku ini. Penggambaran tentang Kali Ciliwung yang bersih (rombongan perempuan mencuci di sana), indah (banyak kapal kecil tertambat di dermaga, sekadar milik orang kaya yang hobi plesir), dan seterusnya.
Lalu secara jahat, imaji saya membaningkan dengan kondisi JAkarta hari-hari ini, yang minggu lalu dilanda banjir hebat (ya, meski banjir juga sudah setua Jakarta).
Ini buku sangat bagus, meski awalnya membosankan karena alur yang terlalu lama akibat detil yang terlalu penuh. Ya, Riantiarno menggambarkan secara detil tiap peristiwa, tiap setting, dan tiap penokohan. Hingga saya membayangkan peniti jenis apa yang digunakan Kedjora, tulisan batik apa yang digunakan pemain lainnya. Akhirnya, saya menikmati dan memuji detil itu. Hingga saya baca berulang-ulang. Indah!