What do you think?


Tersesat Setelah Terlahir Kembali
Juara 1 Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023
Di hamparan tanah matrilineal pedalaman Sumatra, seorang lelaki asing dituntut mengikuti tradisi maskulin berburu babi. Tradisi itu kemudian menuntun si lelaki kepada obsesi dan kegilaan; melemparkannya kepada situasi asing dan baru; menjumpai mitos yang dikultuskan masyarakat setempat; dan menguak peristiwa pembantaian di masa silam. Di antara gegar budaya dan kegagalan beradaptasi, si lelaki juga berupaya menjawab dilema dari makna cinta yang sesungguhnya.
Di hamparan tanah matrilineal pedalaman Sumatra, seorang lelaki asing dituntut mengikuti tradisi maskulin berburu babi. Tradisi itu kemudian menuntun si lelaki kepada obsesi dan kegilaan; melemparkannya kepada situasi asing dan baru; menjumpai mitos yang dikultuskan masyarakat setempat; dan menguak peristiwa pembantaian di masa silam. Di antara gegar budaya dan kegagalan beradaptasi, si lelaki juga berupaya menjawab dilema dari makna cinta yang sesungguhnya.
170 pages, Paperback
Published January 1, 2025
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 30 of 31 reviews
February 1, 2025
Saya mencoba menahan dan menamatkan novel ini, padahal benar ketika selesai prolog saya sudah tidak menyukainya (secara personal). Tetapi, saya harus menamatkan dan ingin tahu sebagus apa yang telah membuat juri mendapuknya sebagai pemenang sayembara novel DKJ ini. Jujur, ketika menutup halaman (dan ketika di tengah-tengah) saya lagsung bertanya: “Beneran ini yang menang sayembara? Apakah juri salah baca? Atau juri salah nomor dokumen? Seperti inikah kualitasnya?”
Bahkan saya berpikir penulisnya sedang hijrah sastra, orang yang baru selesai ikut workshop menulis dan dibanjiri rekomendasi buku sastra, sehingga semua-mua tumpah buku ini: pembunuhan, isu lokalitas, isu lgbt, isu 65, adegan sex! Namun, benarlah semuanya jelek sekali.
Ada beberapa poin:
1. Banyak hal tampak dirahasiakan dan sayangnya tidak dijelaskan sampai akhir: sosok Dokter Darti yang menurutku menarik harus diceritakan, sayangnya nggak. Kemudian tokoh aku menyebut dua sejarah tanpa sekali pun itu dibahas lagi. (lah emang kita akan tahu apa itu dua sejarahnya?)
Saya sampai menandai hal ini dengan teks: menarik untuk ditagih. Sayangnya sama sekali nggak ada itu ini disebut. Hasrat untuk menyimpan rahasia seperti ini dikira pembaca bisa membaca isi kepala penulis kali ya… bahkan termasuk kalimat ayah mertuanya duduk di kursi empuk (asooooy, kenapa sih nggak disebut saja anggota DPR) —> bikin emosi untuk tidak dijelaskan secara terbuka. Sok iye dengan rahasia-rahasia.
2. Semua seperti kejutan dan intens untuk membuat plot twist: Adegan antara Leman dan Mak Utiah di bathtub rasanya hadir sekadar sebagai elemen kejut. Rasanya sedih sekali adegan queer menjadi seperti ini belaka. Kemudian lolosnya pembongkaran siapa di baik kematian Mak Utiah juga hadeeeeeeeeeeh.
3. Berburu babinya nggak ada dijelaskan lebih.
4. Agak aneh dengan blurb: tanah matrelinieal (tapi sama sekali ini nggak dibahas soal matrilineal dalam novel, seperti tidak penting itu disebut sebagai blurb).
5. Adegan seks antara tokoh aku dan istrinya: JELEEEEEEK! Sumpah ya, saya tidak menyukai adegan seks seperti ini. Nggak ada esensi anda menjelaskan sedetail itu dan sepanjang itu. Sama sekali nggak ada yang menarik dari segi bahasa. Malah sia-sia dan bikin male-gaze-nya kerasa.
6. Ada kejanggalan di halaman 149: katanya tokoh aku dijemput polisi. Tapi adegan selanjutnya kok beda…
7. Paya Nie jauh lebih baik.
Aku tidak menyukai novel ini. Penulisnya sangat berhasrat menyimpan rahasia-rahasia daripada menyajikan tulisan yang komprehensif. Menyinggung lgbt, isu 65, lokalitas tampak sekadar ingin dianggap sebagai “sastra”. Selesai membaca, saya berpikir apa kiranya yang bisa diolah kalau menghadapi teks seperti ini: sejarah dokter darti dan istri tokoh aku menarik dikulik, berburu babi dipanjangin, sejarah tokoh leman dikuatin (atau ya dibuat dua POV). Dan yang penting: please kalau bikin tokoh lgbt tidak setimpang ini doooong. Saya justru meragukan komentar juri sayembara novel DKJ: Kualitas kekriyaan yang tinggi, serta kepaduan dan keutuhan narasi menjadi kekuatan terbesar dari Tersesat Setelah Terlahir Kembali–satu hal yang membuat naskah ini menonjol dibandingkan semua naskah yang kami baca.
Saya jelas tidak menemukan kekriyaan tinggi dalam novel ini. Satu-satunya yang menarik bagi saya:
Bahkan saya berpikir penulisnya sedang hijrah sastra, orang yang baru selesai ikut workshop menulis dan dibanjiri rekomendasi buku sastra, sehingga semua-mua tumpah buku ini: pembunuhan, isu lokalitas, isu lgbt, isu 65, adegan sex! Namun, benarlah semuanya jelek sekali.
Ada beberapa poin:
1. Banyak hal tampak dirahasiakan dan sayangnya tidak dijelaskan sampai akhir: sosok Dokter Darti yang menurutku menarik harus diceritakan, sayangnya nggak. Kemudian tokoh aku menyebut dua sejarah tanpa sekali pun itu dibahas lagi. (lah emang kita akan tahu apa itu dua sejarahnya?)
…dan hal itu mengingatkanku kembali kepada masa lalu. Kepada dua masa lalu.(hal.31)
Saya sampai menandai hal ini dengan teks: menarik untuk ditagih. Sayangnya sama sekali nggak ada itu ini disebut. Hasrat untuk menyimpan rahasia seperti ini dikira pembaca bisa membaca isi kepala penulis kali ya… bahkan termasuk kalimat ayah mertuanya duduk di kursi empuk (asooooy, kenapa sih nggak disebut saja anggota DPR) —> bikin emosi untuk tidak dijelaskan secara terbuka. Sok iye dengan rahasia-rahasia.
2. Semua seperti kejutan dan intens untuk membuat plot twist: Adegan antara Leman dan Mak Utiah di bathtub rasanya hadir sekadar sebagai elemen kejut. Rasanya sedih sekali adegan queer menjadi seperti ini belaka. Kemudian lolosnya pembongkaran siapa di baik kematian Mak Utiah juga hadeeeeeeeeeeh.
3. Berburu babinya nggak ada dijelaskan lebih.
4. Agak aneh dengan blurb: tanah matrelinieal (tapi sama sekali ini nggak dibahas soal matrilineal dalam novel, seperti tidak penting itu disebut sebagai blurb).
5. Adegan seks antara tokoh aku dan istrinya: JELEEEEEEK! Sumpah ya, saya tidak menyukai adegan seks seperti ini. Nggak ada esensi anda menjelaskan sedetail itu dan sepanjang itu. Sama sekali nggak ada yang menarik dari segi bahasa. Malah sia-sia dan bikin male-gaze-nya kerasa.
6. Ada kejanggalan di halaman 149: katanya tokoh aku dijemput polisi. Tapi adegan selanjutnya kok beda…
7. Paya Nie jauh lebih baik.
Aku tidak menyukai novel ini. Penulisnya sangat berhasrat menyimpan rahasia-rahasia daripada menyajikan tulisan yang komprehensif. Menyinggung lgbt, isu 65, lokalitas tampak sekadar ingin dianggap sebagai “sastra”. Selesai membaca, saya berpikir apa kiranya yang bisa diolah kalau menghadapi teks seperti ini: sejarah dokter darti dan istri tokoh aku menarik dikulik, berburu babi dipanjangin, sejarah tokoh leman dikuatin (atau ya dibuat dua POV). Dan yang penting: please kalau bikin tokoh lgbt tidak setimpang ini doooong. Saya justru meragukan komentar juri sayembara novel DKJ: Kualitas kekriyaan yang tinggi, serta kepaduan dan keutuhan narasi menjadi kekuatan terbesar dari Tersesat Setelah Terlahir Kembali–satu hal yang membuat naskah ini menonjol dibandingkan semua naskah yang kami baca.
Saya jelas tidak menemukan kekriyaan tinggi dalam novel ini. Satu-satunya yang menarik bagi saya:
…memberi sebongkah roti tawar berisi belasan peniti. (hal.139)
Read
February 21, 2025Penafian: Saya menulis review panjang ini di HP jadi maaf kalau ada saltik.
Ketika sebuah buku sudah ditempel label juara, mau tidak mau pembaca akan membangun ekspektasi sendiri. Apalagi jika buku itu lahir dari Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), yang karya-karya pemenang sebelumnya seperti Orang-orang Oetimu dan Kereta Semar Lembu benar-benar memenuhi harapan. Namun, Tersesat Setelah Terlahir Kembali justru mengundang pertanyaan: apakah novel ini layak menyandang gelar yang sama?
Salah satu masalah utama novel ini, yang jarang dibahas, adalah kesulitan membuat sinopsis yang baik. Sinopsis seharusnya menjadi pintu masuk yang jujur ke dalam cerita, tetapi kalimat pembuka sinopsis ini justru menciptakan ekspektasi yang menyesatkan: "Di hamparan tanah matrilineal pedalaman Sumatra, seorang lelaki asing dituntut mengikuti tradisi maskulin berburu babi." Kata "hamparan tanah" membayangkan setting yang luas dan epik, tetapi kenyataannya, seperti diungkapkan dalam pertanggungjawaban juri DKJ, "Tersesat Setelah Terlahir Kembali secara konsisten menggawangi ceritanya dengan berpusat pada tokoh utama dan beberapa tokoh sampingan yang tinggal di satu wilayah yang berdekatan." Settingnya tidak seluas yang dibayangkan, dan adegan berburu babi pun terasa dipaksakan karena terasa singkat. Adegan ini sebenarnya bisa dihilangkan tanpa mengganggu alur cerita jika hanya diceritakan di depan dan hilang begitu saja. Sangat disayangkan karena menurut saya adegan ini menarik 😭
Kata "matrilineal" dalam sinopsis juga menciptakan ekspektasi yang tidak terpenuhi. Saya membayangkan akan ada intrik seputar perempuan dan sistem matrilineal, tetapi nyatanya, semua karakter perempuan dalam novel ini—istri tokoh aku (yang bahkan tidak diberi nama), Dokter Darti, dan Ibu Mertua—hanya menjadi tempelan. Mereka tidak memiliki agency atau karakter yang utuh. Male gaze terasa sangat kental, seolah-olah perempuan hanya ada untuk melayani narasi maskulin tokoh utama. Padahal, tema matrilineal bisa menjadi peluang untuk mengeksplorasi dinamika gender yang lebih kaya, tetapi sayangnya, peluang ini diabaikan.
Masalah lain adalah fetishisasi pengalaman queer melalui karakter Leman dan Mak Utiah. Hubungan mereka hanya dijadikan plot twist, tanpa diberi ruang untuk berkembang. Tokoh aku, yang awalnya terlihat adil karena menerima hubungan mereka, justru memperkuat stereotip dengan tidak memberikan agency pada Mak Utiah. Bahkan, ada bagian di mana narasi tiba-tiba beralih ke sudut pandang orang ketiga untuk menceritakan kisah Leman (yang sangat maskulin), tetapi hubungannya dengan Mak Utiah tidak dieksplorasi lebih dalam. Terasa disayangkan karena peralihan Leman dari tentara menjadi suami Dokter Darti lantas menjadi bersama Mak Utiah akan jadi menarik. Tapi semua tidak dijelaskan, karena itulah cerita ini menjadi terasa fetishizing. Sama seperti hubungan tokoh aku dan istrinya, yang hanya digambarkan secara dangkal: "Pokoknya tokoh aku cinta banget sama istrinya, percaya saja."
Novel ini juga menghadirkan beberapa peristiwa yang dibiarkan menggantung, seperti "pembantaian di masa silam" sampai "Dua Masa Lalu." Apakah ini mimpi tokoh aku? Atau bagian dari narasi yang sengaja tidak dijelaskan? Ketidakjelasan ini diperparah oleh ketidakkonsistenan sudut pandang. Meski menggunakan narasi orang pertama, penulis beberapa kali "terpleset" ke sudut pandang orang ketiga maha tahu, yang membuat cerita terasa tidak utuh.
Pertanyaan terbesar adalah: di mana letak "kualitas kekriyaan yang tinggi, serta kepaduan dan keutuhan narasi" yang disebutkan dalam pertanggungjawaban juri DKJ? Sebagai pembaca, saya justru menemukan ketidakpaduan dalam alur, karakter-karakter yang tidak berkembang, dan plotline yang dibiarkan menggantung.
Secara keseluruhan, novel ini masih layak dibaca, tetapi ia jauh dari sempurna. Beberapa puluh halaman tambahan mungkin bisa menyelamatkannya, memberikan ruang untuk mengembangkan karakter sekunder dan merapikan alur cerita. Namun, dalam bentuknya yang sekarang, Tersesat Setelah Terlahir Kembali hanya menjadi contoh bagaimana sebuah karya bisa jadi tidak padu meski menyandang gelar juara.
Ketika sebuah buku sudah ditempel label juara, mau tidak mau pembaca akan membangun ekspektasi sendiri. Apalagi jika buku itu lahir dari Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), yang karya-karya pemenang sebelumnya seperti Orang-orang Oetimu dan Kereta Semar Lembu benar-benar memenuhi harapan. Namun, Tersesat Setelah Terlahir Kembali justru mengundang pertanyaan: apakah novel ini layak menyandang gelar yang sama?
Salah satu masalah utama novel ini, yang jarang dibahas, adalah kesulitan membuat sinopsis yang baik. Sinopsis seharusnya menjadi pintu masuk yang jujur ke dalam cerita, tetapi kalimat pembuka sinopsis ini justru menciptakan ekspektasi yang menyesatkan: "Di hamparan tanah matrilineal pedalaman Sumatra, seorang lelaki asing dituntut mengikuti tradisi maskulin berburu babi." Kata "hamparan tanah" membayangkan setting yang luas dan epik, tetapi kenyataannya, seperti diungkapkan dalam pertanggungjawaban juri DKJ, "Tersesat Setelah Terlahir Kembali secara konsisten menggawangi ceritanya dengan berpusat pada tokoh utama dan beberapa tokoh sampingan yang tinggal di satu wilayah yang berdekatan." Settingnya tidak seluas yang dibayangkan, dan adegan berburu babi pun terasa dipaksakan karena terasa singkat. Adegan ini sebenarnya bisa dihilangkan tanpa mengganggu alur cerita jika hanya diceritakan di depan dan hilang begitu saja. Sangat disayangkan karena menurut saya adegan ini menarik 😭
Kata "matrilineal" dalam sinopsis juga menciptakan ekspektasi yang tidak terpenuhi. Saya membayangkan akan ada intrik seputar perempuan dan sistem matrilineal, tetapi nyatanya, semua karakter perempuan dalam novel ini—istri tokoh aku (yang bahkan tidak diberi nama), Dokter Darti, dan Ibu Mertua—hanya menjadi tempelan. Mereka tidak memiliki agency atau karakter yang utuh. Male gaze terasa sangat kental, seolah-olah perempuan hanya ada untuk melayani narasi maskulin tokoh utama. Padahal, tema matrilineal bisa menjadi peluang untuk mengeksplorasi dinamika gender yang lebih kaya, tetapi sayangnya, peluang ini diabaikan.
Masalah lain adalah fetishisasi pengalaman queer melalui karakter Leman dan Mak Utiah. Hubungan mereka hanya dijadikan plot twist, tanpa diberi ruang untuk berkembang. Tokoh aku, yang awalnya terlihat adil karena menerima hubungan mereka, justru memperkuat stereotip dengan tidak memberikan agency pada Mak Utiah. Bahkan, ada bagian di mana narasi tiba-tiba beralih ke sudut pandang orang ketiga untuk menceritakan kisah Leman (yang sangat maskulin), tetapi hubungannya dengan Mak Utiah tidak dieksplorasi lebih dalam. Terasa disayangkan karena peralihan Leman dari tentara menjadi suami Dokter Darti lantas menjadi bersama Mak Utiah akan jadi menarik. Tapi semua tidak dijelaskan, karena itulah cerita ini menjadi terasa fetishizing. Sama seperti hubungan tokoh aku dan istrinya, yang hanya digambarkan secara dangkal: "Pokoknya tokoh aku cinta banget sama istrinya, percaya saja."
Novel ini juga menghadirkan beberapa peristiwa yang dibiarkan menggantung, seperti "pembantaian di masa silam" sampai "Dua Masa Lalu." Apakah ini mimpi tokoh aku? Atau bagian dari narasi yang sengaja tidak dijelaskan? Ketidakjelasan ini diperparah oleh ketidakkonsistenan sudut pandang. Meski menggunakan narasi orang pertama, penulis beberapa kali "terpleset" ke sudut pandang orang ketiga maha tahu, yang membuat cerita terasa tidak utuh.
Pertanyaan terbesar adalah: di mana letak "kualitas kekriyaan yang tinggi, serta kepaduan dan keutuhan narasi" yang disebutkan dalam pertanggungjawaban juri DKJ? Sebagai pembaca, saya justru menemukan ketidakpaduan dalam alur, karakter-karakter yang tidak berkembang, dan plotline yang dibiarkan menggantung.
Secara keseluruhan, novel ini masih layak dibaca, tetapi ia jauh dari sempurna. Beberapa puluh halaman tambahan mungkin bisa menyelamatkannya, memberikan ruang untuk mengembangkan karakter sekunder dan merapikan alur cerita. Namun, dalam bentuknya yang sekarang, Tersesat Setelah Terlahir Kembali hanya menjadi contoh bagaimana sebuah karya bisa jadi tidak padu meski menyandang gelar juara.
April 7, 2025
1.5/5 maybe would be my rating for this book.
I started this book with such high hopes. It won the Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta award, after all. The cover was gorgeous, and the premise hooked me immediately. But oh my god, what a disappointment. They say, ‘don’t judge a book by its cover’ for a reason.
First, let’s talk about that awkward queer scene. It was so badly done it nearly made me bump my rating to 2/5 out of sheer pity. But no. Then came the sex scene. Who in their right mind wrote this atrocity? I can confidently say this is the worst sex scene I’ve ever read, even smut in AO3 fanfics written by 14 year olds is so much better than this. Probably worse than Icebreaker sex scene too. 🫤
The plot is another disaster. I know it’s supposed to be a mystery, but the entire story is just confusing for no reason. It’s like the author forgot they were supposed to make it engaging. Everything’s so vague and half baked, like they couldn’t decide what to focus on. Scenes that should’ve been tense just... sit there. Clues go nowhere. And don’t get me started on the characters. Zero depth, zero backstory, just cardboard cutouts moving through the plot. But the main character? Someone needs to lock this dude in a psychiatric ward. He’s not complex or interesting, just a straight up creepy pervert with zero redeeming qualities. Bro took the word ‘crazy’ literally. 😭🙏🏻
The only slightly decent thing was the language and dictionary aspects, and even that was barely worth 1 star. The rest? A solid 0.5.
After much deliberation, 1.5/5 feels right. Not bad enough to be truly memorable, not good enough to be worth anyone’s time. Hard pass. 😬✋🏻
I started this book with such high hopes. It won the Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta award, after all. The cover was gorgeous, and the premise hooked me immediately. But oh my god, what a disappointment. They say, ‘don’t judge a book by its cover’ for a reason.
First, let’s talk about that awkward queer scene. It was so badly done it nearly made me bump my rating to 2/5 out of sheer pity. But no. Then came the sex scene. Who in their right mind wrote this atrocity? I can confidently say this is the worst sex scene I’ve ever read, even smut in AO3 fanfics written by 14 year olds is so much better than this. Probably worse than Icebreaker sex scene too. 🫤
The plot is another disaster. I know it’s supposed to be a mystery, but the entire story is just confusing for no reason. It’s like the author forgot they were supposed to make it engaging. Everything’s so vague and half baked, like they couldn’t decide what to focus on. Scenes that should’ve been tense just... sit there. Clues go nowhere. And don’t get me started on the characters. Zero depth, zero backstory, just cardboard cutouts moving through the plot. But the main character? Someone needs to lock this dude in a psychiatric ward. He’s not complex or interesting, just a straight up creepy pervert with zero redeeming qualities. Bro took the word ‘crazy’ literally. 😭🙏🏻
The only slightly decent thing was the language and dictionary aspects, and even that was barely worth 1 star. The rest? A solid 0.5.
After much deliberation, 1.5/5 feels right. Not bad enough to be truly memorable, not good enough to be worth anyone’s time. Hard pass. 😬✋🏻
January 26, 2025
when u wrote a queer scene and destroyed the queer at the same time, smh. nothing special here.
February 18, 2025
2,5/5
jujur banyak gak ngertinya. bahkan di tengah baca, bolak-balik lihat belakang sampul untuk mastiin, “ini bakal nyeritain apa sih?”
“tanah matrilinieal” ternyata cuma untuk merujuk ke Sumatera Barat, bukan karena ada ikatan atau narasi mendalam yang hendak dijelaskan.
“berburu babi” juga cuma untuk plot, yang jujur gak ngerti ada di situ untuk apa:( bahkan walaupun tanpa adegan berburu babi, kalau mau cerita soal Leman-Mak Utiah, masih bisa aja 😭
“menguak pembantaian di masa silam” cuma tempelan sejarah tok. gak ada yang dikuak, cuma disebut sambil lalu. gak dijelaskan konflik batinnya, atau terus apa setelah itu?
tokoh-tokoh yang banyak disebut (Dokter Darti, Bernawi?) juga gak dijelaskan lebih lanjut. bahkan kematian istri (yang katanya dicintai) itu selesai dalam 2 paragraf. padahal katanya “berupaya menjawab dilema dan makna cinta”. asli sampul belakang bukunya kaya marketing overclaim click bait.
tapi masih bisa menikmati buku ini karena gaya menulis & menarasikannya detail, dan pake sudut pandang pertama. tetep menarik dibaca kalo penasaran karya DKJ.
jujur banyak gak ngertinya. bahkan di tengah baca, bolak-balik lihat belakang sampul untuk mastiin, “ini bakal nyeritain apa sih?”
“tanah matrilinieal” ternyata cuma untuk merujuk ke Sumatera Barat, bukan karena ada ikatan atau narasi mendalam yang hendak dijelaskan.
“berburu babi” juga cuma untuk plot, yang jujur gak ngerti ada di situ untuk apa:( bahkan walaupun tanpa adegan berburu babi, kalau mau cerita soal Leman-Mak Utiah, masih bisa aja 😭
“menguak pembantaian di masa silam” cuma tempelan sejarah tok. gak ada yang dikuak, cuma disebut sambil lalu. gak dijelaskan konflik batinnya, atau terus apa setelah itu?
tokoh-tokoh yang banyak disebut (Dokter Darti, Bernawi?) juga gak dijelaskan lebih lanjut. bahkan kematian istri (yang katanya dicintai) itu selesai dalam 2 paragraf. padahal katanya “berupaya menjawab dilema dan makna cinta”. asli sampul belakang bukunya kaya marketing overclaim click bait.
tapi masih bisa menikmati buku ini karena gaya menulis & menarasikannya detail, dan pake sudut pandang pertama. tetep menarik dibaca kalo penasaran karya DKJ.
May 15, 2025
Beneran tersesat pas baca sampe akhir alias teu kaditu teu kadieu.
June 3, 2025
Buku ini memberikan pengalaman yang kusuka ketika menamatkannya: gumaman "wtf did i just read?"
Sebelum membaca aku sudah baca beberapa review yang kasih beberapa spoiler: adegan bathtub dan skizofrenia dua di antaranya. Aku juga menandai bagian-bagian yang dipertanyakan review-review sebelumnya. Dan di akhir aku juga ikut-ikutan tersesat. Kurasa hal demikian juga terjadi pada para dewan juri Sayembara DKJ 2023.
Tapi pembacaan, pada buku apa pun, sebenarnya tak semestinya berhenti di sana saja. Dan novel ini, adalah tipe yang mendesak untuk mendiskusikan apa sebenarnya yang ingin disampaikannya. Aku membandingkan beberapa hal yang kudapatkan dari review lain, kemudian menyambungkannya dengan pendapat pribadi. Aku jatuh pada fase benci-suka-benci-suka-benci hingga memutuskan bahwa aku cukup suka. Cukup, karena ada beberapa hal yang mengurangi kesukaanku dan membuatku memutuskan mengurangi satu rating.
Untuk memahami cerita ini, peran prolog-epilog dan pemahaman atas tanda yang berusaha disampaikannya menjadi penting. Pada dua bagian itu, tokoh Aku menyebutkan bahwa ia menghabiskan waktu dengan menulis cerita. Lantas apa yang dituliskannya? Ya, cerita tokoh Aku-Leman-Mak Utiah yang terbentang dari bab 1-13. Dan ini menjadi kunci.
Cerita yang dikisahkan pada bab 1-13 terasa seperti mimpi buruk yang tak ada habisnya. Setamat cerita, aku jadi menyangsikan, apakah cerita itu benar-benar berasal dari pengalaman aku? Apa cerita itu kenyataan konkret yang benar-benar terjadi? Tapi, dari prolog maupun epilog tak ada indikasi yang mengatakan demikian. Ada beberapa detail yang tersambung dengan cerita itu, tapi lebih banyak yang kabur. Dan ini membuatku berkesimpulan bahwa cerita yang ditulis oleh tokoh Aku telah mengalami distoris. Pengalaman nyata dan tak nyata telah berpilin hingga mengaburkan batasan antara keduanya.
Kemudian muncul wacana tentang skizofrenia. Ciri-ciri skizofrenia ini tampil ketika beberapa kali tokoh aku mengalami halusinasi dan delusi seperti melihat sosok Leman ketika sedang bercinta dan mendengar bisikan-bisikan. Kemudian kepribadian tokoh aku yang rapuh dan berubah-ubah, perasaan teralienasi, turut menjadi indikasi. Dan ini yang paling penting: keberadaan tokoh Leman. Leman ini menurutku, juga termasuk delusi tokoh Aku. Leman ini adalah bagian dari dirinya sendiri. Tokoh Leman adalah bayangan hitam, yang awalnya menggentarkan tokoh Aku. Hingga terkuak bahwa ia adalah sosok yang rapuh, ini mencerminkan bahwa ia sebenarnya adalah bayangan hitam yang berisikan bagian rapuh dalam dirinya. Leman dan tokoh Aku adalah tokoh yang saling mirroring. Sama-sama sumando, sama-sama beristri dokter. Rumah mewah adalah manifestasi kemewahan yang tak mampu dimiliki oleh tokoh aku namun dimiliki oleh dirinya yang lain.
Setelah menyambungkan kisah di luar prolog-epilog dengan skizofrenia itulah semua cukup masuk akal. Cerita yang dituliskan tokoh aku, adalah cerita dari kepala seorang skizofrenia. Yang batas-batas logikanya melebur. Hal ini semakin jelas ketika pada epilog, tokoh aku bercerita dengan font miring semua, seperti bisikan-bisikan yang didengar tokoh aku di bab-bab sebelumnya.
Meski menawarkan pengalaman yang seru. Ada beberapa hal yang bagiku merusak dalam novel ini. Salah satu yang paling utamanya adalah ini: bathtub. Penggunaan bathtub dalam cerita ini terasa out of nowhere dan mengurangi nuansa cerita. Aku sampai searching apakah rumah jengki menggunakan bathtub dan tak ada yang menyebutkan demikian. Apalagi jika ditilik, budaya mandi di Indonesia belum terpengaruh oleh bathtub ketika rumah jengki sedang populer-populernya. Sementara itu tokoh aku secara sadar menggunakan istilah bathtub. Nah loh?
Yang lain adalah inkonsistensi penggunaan kata ganti. Ketika berbicara, penggunaan kata ganti orang pertama: saya dan aku, berganti-gantian timbul. Awalnya aku abai saja, namun, waktu sampai di halaman 45, di bagian dialog tokoh wanita, keningku makin mengerut. Penggunaan kata ganti orang pertama ini sebenarnya bisa saja kalau dengan tujuan tertentu. Namun, jika penggunaannya terasa tanpa tujuan apa-apa, seperti yang terdapat pada novel ini, sama sekali salah! Bayangkan, tokoh wanita di halaman 45 itu menggunakan kata ganti aku dan saya dalam satu kalimat! Aneh banget. Apalagi kalau membayangkan yang digunakan bukan saya-aku, tapi saya-gue. Inkonsistensi semacam ini makin tak termaafkan!
Sudah dulu, capek. Nanti kalau masih ada yang mau disambung bakal disambung.
Sebelum membaca aku sudah baca beberapa review yang kasih beberapa spoiler: adegan bathtub dan skizofrenia dua di antaranya. Aku juga menandai bagian-bagian yang dipertanyakan review-review sebelumnya. Dan di akhir aku juga ikut-ikutan tersesat. Kurasa hal demikian juga terjadi pada para dewan juri Sayembara DKJ 2023.
Tapi pembacaan, pada buku apa pun, sebenarnya tak semestinya berhenti di sana saja. Dan novel ini, adalah tipe yang mendesak untuk mendiskusikan apa sebenarnya yang ingin disampaikannya. Aku membandingkan beberapa hal yang kudapatkan dari review lain, kemudian menyambungkannya dengan pendapat pribadi. Aku jatuh pada fase benci-suka-benci-suka-benci hingga memutuskan bahwa aku cukup suka. Cukup, karena ada beberapa hal yang mengurangi kesukaanku dan membuatku memutuskan mengurangi satu rating.
Untuk memahami cerita ini, peran prolog-epilog dan pemahaman atas tanda yang berusaha disampaikannya menjadi penting. Pada dua bagian itu, tokoh Aku menyebutkan bahwa ia menghabiskan waktu dengan menulis cerita. Lantas apa yang dituliskannya? Ya, cerita tokoh Aku-Leman-Mak Utiah yang terbentang dari bab 1-13. Dan ini menjadi kunci.
Cerita yang dikisahkan pada bab 1-13 terasa seperti mimpi buruk yang tak ada habisnya. Setamat cerita, aku jadi menyangsikan, apakah cerita itu benar-benar berasal dari pengalaman aku? Apa cerita itu kenyataan konkret yang benar-benar terjadi? Tapi, dari prolog maupun epilog tak ada indikasi yang mengatakan demikian. Ada beberapa detail yang tersambung dengan cerita itu, tapi lebih banyak yang kabur. Dan ini membuatku berkesimpulan bahwa cerita yang ditulis oleh tokoh Aku telah mengalami distoris. Pengalaman nyata dan tak nyata telah berpilin hingga mengaburkan batasan antara keduanya.
Kemudian muncul wacana tentang skizofrenia. Ciri-ciri skizofrenia ini tampil ketika beberapa kali tokoh aku mengalami halusinasi dan delusi seperti melihat sosok Leman ketika sedang bercinta dan mendengar bisikan-bisikan. Kemudian kepribadian tokoh aku yang rapuh dan berubah-ubah, perasaan teralienasi, turut menjadi indikasi. Dan ini yang paling penting: keberadaan tokoh Leman. Leman ini menurutku, juga termasuk delusi tokoh Aku. Leman ini adalah bagian dari dirinya sendiri. Tokoh Leman adalah bayangan hitam, yang awalnya menggentarkan tokoh Aku. Hingga terkuak bahwa ia adalah sosok yang rapuh, ini mencerminkan bahwa ia sebenarnya adalah bayangan hitam yang berisikan bagian rapuh dalam dirinya. Leman dan tokoh Aku adalah tokoh yang saling mirroring. Sama-sama sumando, sama-sama beristri dokter. Rumah mewah adalah manifestasi kemewahan yang tak mampu dimiliki oleh tokoh aku namun dimiliki oleh dirinya yang lain.
Setelah menyambungkan kisah di luar prolog-epilog dengan skizofrenia itulah semua cukup masuk akal. Cerita yang dituliskan tokoh aku, adalah cerita dari kepala seorang skizofrenia. Yang batas-batas logikanya melebur. Hal ini semakin jelas ketika pada epilog, tokoh aku bercerita dengan font miring semua, seperti bisikan-bisikan yang didengar tokoh aku di bab-bab sebelumnya.
Meski menawarkan pengalaman yang seru. Ada beberapa hal yang bagiku merusak dalam novel ini. Salah satu yang paling utamanya adalah ini: bathtub. Penggunaan bathtub dalam cerita ini terasa out of nowhere dan mengurangi nuansa cerita. Aku sampai searching apakah rumah jengki menggunakan bathtub dan tak ada yang menyebutkan demikian. Apalagi jika ditilik, budaya mandi di Indonesia belum terpengaruh oleh bathtub ketika rumah jengki sedang populer-populernya. Sementara itu tokoh aku secara sadar menggunakan istilah bathtub. Nah loh?
Yang lain adalah inkonsistensi penggunaan kata ganti. Ketika berbicara, penggunaan kata ganti orang pertama: saya dan aku, berganti-gantian timbul. Awalnya aku abai saja, namun, waktu sampai di halaman 45, di bagian dialog tokoh wanita, keningku makin mengerut. Penggunaan kata ganti orang pertama ini sebenarnya bisa saja kalau dengan tujuan tertentu. Namun, jika penggunaannya terasa tanpa tujuan apa-apa, seperti yang terdapat pada novel ini, sama sekali salah! Bayangkan, tokoh wanita di halaman 45 itu menggunakan kata ganti aku dan saya dalam satu kalimat! Aneh banget. Apalagi kalau membayangkan yang digunakan bukan saya-aku, tapi saya-gue. Inkonsistensi semacam ini makin tak termaafkan!
Sudah dulu, capek. Nanti kalau masih ada yang mau disambung bakal disambung.
September 23, 2025
Saya memulai membaca novel ini dengan usaha penuh untuk tidak membandingkan dengan karya orang lain, supaya saya benar-benar mencerna proses cerita. Mungkin satu kesalahan yang saya buat yaitu membaca review-review dari pembaca lain yang lebih dulu selesai membaca buku ini. Tapi, saya tetap berusaha untuk mengabaikan dan kembali ke tujuan awal untuk tidak membandingkan dan cukup menikmati alur cerita yang ada.
Jika dibilang buku ini jelek, seharusnya tidak juga karena oleh para ahli sastra buku ini dipilih sebagai pemenang Sayembara Novel DKJ tahun 2023. Namun, penilaian pribadi saya semata dari sudut pandang pembaca awam yang pandangan mengenai sastra dan penulisan novel sangat begitu minim. Jadi yang saya rasakan setelah selesai membaca novel ini adalah ketidak mengertian tentang apa maksud dan makna dari cerita yang dituliskan di novel ini. Apakah saya tersesat seperti judulnya? Jika iya, penulis berhasil membuat seorang pembaca sampai pada titik itu.
Saya merasa ide cerita yang ingin disampaikan penulis terlalu banyak, tidak dikembangkan secara maksimal dan menjadi tumpang tindih. Bahkan ditengah-tengah proses membaca saya bertanya : Ini mau dibawa kemana sebenarnya? Dan setelah selesai, saya mendapati "ooh" yang menggantung tidak menemukan titik temunya. Bahkan untuk menulis ulasan ini, saya mendiamkan otak saya berpikir cukup lama untuk menimbang bagaimana saya harus menyampaikan pendapat atas perasaan saya seusai membaca.
Seandainya saja saya boleh memberikan saran (dari sisi pembaca awam), daripada terlalu banyak yang akan disampaikan namun tidak maksimal. Mungkin boleh satu saja isu yang jadi bahasan utama, selanjutnya boleh diturunkan ke detail-detail kecil yang bisa memberikan dukungan terhadap isu utama. Untuk teknis dan gaya kepenulisan serta teori-teori yang mendukung cerita dalam novel ini sudah banyak disampaikan pembaca lain yang lebih capable. Saya murni hanya mengomentari novel ini berdasarkan pengalaman baca. Sehingga pendapat saya bersifat personal dan bisa saja akan berbeda dengan pembaca yang lain.
Jika dibilang buku ini jelek, seharusnya tidak juga karena oleh para ahli sastra buku ini dipilih sebagai pemenang Sayembara Novel DKJ tahun 2023. Namun, penilaian pribadi saya semata dari sudut pandang pembaca awam yang pandangan mengenai sastra dan penulisan novel sangat begitu minim. Jadi yang saya rasakan setelah selesai membaca novel ini adalah ketidak mengertian tentang apa maksud dan makna dari cerita yang dituliskan di novel ini. Apakah saya tersesat seperti judulnya? Jika iya, penulis berhasil membuat seorang pembaca sampai pada titik itu.
Saya merasa ide cerita yang ingin disampaikan penulis terlalu banyak, tidak dikembangkan secara maksimal dan menjadi tumpang tindih. Bahkan ditengah-tengah proses membaca saya bertanya : Ini mau dibawa kemana sebenarnya? Dan setelah selesai, saya mendapati "ooh" yang menggantung tidak menemukan titik temunya. Bahkan untuk menulis ulasan ini, saya mendiamkan otak saya berpikir cukup lama untuk menimbang bagaimana saya harus menyampaikan pendapat atas perasaan saya seusai membaca.
Seandainya saja saya boleh memberikan saran (dari sisi pembaca awam), daripada terlalu banyak yang akan disampaikan namun tidak maksimal. Mungkin boleh satu saja isu yang jadi bahasan utama, selanjutnya boleh diturunkan ke detail-detail kecil yang bisa memberikan dukungan terhadap isu utama. Untuk teknis dan gaya kepenulisan serta teori-teori yang mendukung cerita dalam novel ini sudah banyak disampaikan pembaca lain yang lebih capable. Saya murni hanya mengomentari novel ini berdasarkan pengalaman baca. Sehingga pendapat saya bersifat personal dan bisa saja akan berbeda dengan pembaca yang lain.
September 9, 2026
Memulai buku ini dengan ekspektasi, “Apa, sih, yang bikin ini jadi pemenang sayembara novel DKJ 2023?”
Secara garis besar, buku ini menceritakan tokoh orang pertama tunggal (“Aku”, laki-laki) yang hidupnya berubah setelah menikah dan tinggal di rumah mertuanya. Ia mengalami culture shock dalam kehidupan barunya di lingkungan matriarki dan masih berpegang pada tradisi. Hal buruk terjadi padanya, sampai-sampai ia melakukan hal-hal “gila” dan terlibat dalam pembunuhan.
Aku menamatkan buku ini dengan penuh rasa penasaran. Bagiku ceritanya menarik dan aku enjoy bacanya, apalagi buku ini mengusung tema kultural yang belum pernah aku selami, dibalut dalam genre misteri-thriller (awalnya kupikir buku ini bergenre slice of life). Beberapa kali juga aku membatin, “HAH? Sinting!” karena novel ini benar-benar berisi kegilaan.
Kurasa penulis ingin menghadirkan sesuatu yang kompleks. Kepikiran buat mengusung tema budaya? Gas! Genrenya thriller kali, ya? Gas! Jelasin kalau kultur matriarki tidak serta-merta membuat lingkungan less-patriarki juga gak sih? Gas! Eh, gimana kalau masukin unsur politik, sejarah, dan kelompok kiri juga? Gas! Kayak ada yang kurang nih. Bahas bentuk cinta juga sih harusnya. Oke, akan kubabat semuanya! Pokoknya novel ini harus gila.
Aku tidak menganggap kompleksitas adalah hal yang buruk (preferensi pribadiku malah novel yang kompleks). Sayangnya, kompleksitas di buku ini tuh membuat semuanya berserakan. Penulis ingin mengangkat banyak hal, dan aku merasakan kebingungannya dalam memetakan serta membuat benang merah dari unsur satu ke yang lain.
Lagi, aku menikmati bukunya. Karena itu juga, aku dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Selain itu, ada hal yang rasanya terlalu tiba-tiba dan membuatku bertanya, “Lah? Kok gini?” Pada akhirnya, buku ini terlalu padat. Kompleks tapi terlalu singkat dan akhirnya banyak hal yang tak terselesaikan, kayak novel yang dikejar deadline.
Hal-hal yang kupertanyakan akan kucantumkan sebagai berikut dalam bentuk spoiler.
Seperti orang-orang di ulasan Goodreads ini, aku jadi menyayangkan ekspektasi yang dari awal sudah dibangun tinggi untuk buku ini. Blurb-nya juga akhirnya seperti menipu. Aku suka konsep dan jalan cerita yang dibangun, tapi aku gak suka sama cara buku ini meninggalkan banyak unresolved gap. Sayang sekali.
Secara garis besar, buku ini menceritakan tokoh orang pertama tunggal (“Aku”, laki-laki) yang hidupnya berubah setelah menikah dan tinggal di rumah mertuanya. Ia mengalami culture shock dalam kehidupan barunya di lingkungan matriarki dan masih berpegang pada tradisi. Hal buruk terjadi padanya, sampai-sampai ia melakukan hal-hal “gila” dan terlibat dalam pembunuhan.
Aku menamatkan buku ini dengan penuh rasa penasaran. Bagiku ceritanya menarik dan aku enjoy bacanya, apalagi buku ini mengusung tema kultural yang belum pernah aku selami, dibalut dalam genre misteri-thriller (awalnya kupikir buku ini bergenre slice of life). Beberapa kali juga aku membatin, “HAH? Sinting!” karena novel ini benar-benar berisi kegilaan.
Kurasa penulis ingin menghadirkan sesuatu yang kompleks. Kepikiran buat mengusung tema budaya? Gas! Genrenya thriller kali, ya? Gas! Jelasin kalau kultur matriarki tidak serta-merta membuat lingkungan less-patriarki juga gak sih? Gas! Eh, gimana kalau masukin unsur politik, sejarah, dan kelompok kiri juga? Gas! Kayak ada yang kurang nih. Bahas bentuk cinta juga sih harusnya. Oke, akan kubabat semuanya! Pokoknya novel ini harus gila.
Aku tidak menganggap kompleksitas adalah hal yang buruk (preferensi pribadiku malah novel yang kompleks). Sayangnya, kompleksitas di buku ini tuh membuat semuanya berserakan. Penulis ingin mengangkat banyak hal, dan aku merasakan kebingungannya dalam memetakan serta membuat benang merah dari unsur satu ke yang lain.
Lagi, aku menikmati bukunya. Karena itu juga, aku dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Selain itu, ada hal yang rasanya terlalu tiba-tiba dan membuatku bertanya, “Lah? Kok gini?” Pada akhirnya, buku ini terlalu padat. Kompleks tapi terlalu singkat dan akhirnya banyak hal yang tak terselesaikan, kayak novel yang dikejar deadline.
Hal-hal yang kupertanyakan akan kucantumkan sebagai berikut dalam bentuk spoiler.
Seperti orang-orang di ulasan Goodreads ini, aku jadi menyayangkan ekspektasi yang dari awal sudah dibangun tinggi untuk buku ini. Blurb-nya juga akhirnya seperti menipu. Aku suka konsep dan jalan cerita yang dibangun, tapi aku gak suka sama cara buku ini meninggalkan banyak unresolved gap. Sayang sekali.
May 30, 2025
Dengan ide cerita yang menjanjikan, menurut saya eksekusinya begitu berantakan. Ada beberapa cerita yang tidak membantu menjelaskan plot atau alur cerita, beberapa plot menimbulkan pertanyaan pribadi yang mengganggu (Cth: Selama tinggal di rumah Leman, tidak ada 'kah warga lain yang menegur atau penasaran?), dan saya sangat terganggu sekali melihat penggunaan kata "acuh" tidak sesuai dengan peruntukkannya. Terbalik antara "tidak acuh" dan "acuh".
Antara saya yang gagal menangkap makna dari novel ini atau memang selera DKJ yang bertentangan dengan selera saya. Tapi, Juara 1 Sayembara Novel DKJ 2023? Saya gagal menemukan jawabannya kenapa novel ini bisa layak terpilih. Tidak terlalu buruk, tapi terpilih menjadi Juara 1 adalah pertanyaan besar untuk novel ini.
Antara saya yang gagal menangkap makna dari novel ini atau memang selera DKJ yang bertentangan dengan selera saya. Tapi, Juara 1 Sayembara Novel DKJ 2023? Saya gagal menemukan jawabannya kenapa novel ini bisa layak terpilih. Tidak terlalu buruk, tapi terpilih menjadi Juara 1 adalah pertanyaan besar untuk novel ini.
February 25, 2025
Bila Kau Terobsesi pada Rumah Tua dan Orang Gila yang Menghuninya
Oleh Ragdi F. Daye
“Kau memang memimpikannya. Jangan berpura-pura bodoh tidak mengingatnya; suara tembakan, desing peluru, orang-orang tertawa dan menangis, derap langkah kaki yang berlari ketakutan, anjing-anjing yang menggonggong. Tentu saja kau juga memimpikan wajah lelaki itu. Kepala bertanduk rusa. Mata cekung yang tajam. Tulang pipi yang menonjol.”
Judul novel ini sangat menggoda, “Tersesat Setelah Dilahirkan Kembali”. Tersesat adalah sebuah kondisi yang menakutkan, kehilangan arah sehingga melenceng dari tujuan, berhadapan dengan marabahaya, dan bisa saja tidak kembali dalam keadaan selamat. Namun ganjilnya, tersesat juga mempunyai daya pukau begitu kuat, menarik-narik jiwa madar untuk menentang arus, mengabaikan tegah, dan terjebak di dalam kesalahan berulang—sengaja tersesat! Terlahir kembali juga merupakan frasa yang seksi; begitu banyak persona yang ingin terlahir kembali, sebut saja terlahir kembali setelah tersesat dalam kesalahan yang tak terampuni, misalnya.
Bagaimana saya tak akan tertarik membuka halaman demi halaman buku ini? Blurb di sampul belakang buku tak kalah merayu: Di hamparan tanah matrilineal pedalaman Sumatra, seorang lelaki asing dituntut mengikuti tradisi maskulin berburu babi. Tradisi itu kemudian menuntun si lelaki kepada obsesi dan kegilaan; melemparkannya kepada situasi asing dan baru; menjumpai mitos yang dikultuskan masyarakat setempat; dan menguak peristiwa pembantaian di masa silam. Di antara gegar budaya dan kegagalan beradaptasi, si lelaki juga berupaya menjawab dilema dari makna cinta yang sesungguhnya. Tak cuma blurb yang keren, foto profil dan bionarasi singkat sang pengarang juga sangat paten: Yoga Zen adalah penulis yang lahir di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Naskah novel pertamanya, Tersesat Setelah Terlahir Kembali, memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023.
Ada tiga hal yang menurut saya pesona kunci dari novel bersampul biru pudar dengan ilustrasi samar wajah manusia tirus kerempeng menyerupai tengkorak ini: rumah jengki yang eksotik, anjing pemburu babi, dan gejala skizofrenia pada tokoh (-tokoh) cerita. Ketiga hal ini saling berpilin, berjalin, berpulun-pulun hingga menjadi tragedi bathtub berdarah di bab sembilan.
Rumah Jengki adalah gaya arsitektur modernis yang berkembang di Indonesia pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an, menggantikan dominasi desain kolonial Belanda. Dipengaruhi oleh arsitektur Amerika pascaperang, gaya ini mencerminkan semangat kebebasan rakyat Indonesia. Ciri khasnya meliputi bentuk asimetris, sudut tajam, atap unik, serta fasad dan jendela dengan desain tidak konvensional. Rumah Jengki menolak bentuk geometris khas arsitektur kolonial dan menjadi simbol perubahan serta kebangkitan identitas nasional dalam desain bangunan.
Di dalam novel ini—lelaki asing si tokoh cerita yang saking teralienasinya tidak diberi nama oleh pengarang—melihat sebuah rumah mewah berasitektur jengki di kampung halaman istrinya (Kota K) ketika berjalan-jalan membawa anjing peliharaan. Tak hanya rumah jengki itu yang menyedot perhatiannya, seorang lelaki lain—parlente namun dikatakan orang tidak waras—yang menghuni rumah itu seorang diri membuat si lelaki asing terobsesi. Rumah jengki itu sangat mencolok, berdiri megah di dekat pohon beringin yang ‘ditunggui’ makhluk astral Inyiak Rampai. Kehadiran lelaki gila pensiunan tentara bernama Leman yang tinggal di sana menjadi paket lengkap yang membuat si lelaki asing tidak menuruti larangan istrinya. Galibnya anak kecil yang semakin dilarang semakin penasaran.
Berburu babi di Minangkabau merupakan tradisi turun-temurun yang bertujuan untuk memberantas hama babi yang merusak lahan pertanian. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh laki-laki dewasa dan menjadi bagian dari identitas mereka. Dalam pepatah Minang disebutkan, "baburu babi suntiang niniak mamak, pamenan dek nan mudo dalam nagari", yang menunjukkan bahwa berburu babi adalah kebanggaan bagi pemuka adat dan hiburan bagi para pemuda. Selain menjadi ajang kompetisi keterampilan dan keunggulan anjing pemburu, tradisi ini mencerminkan dinamika masyarakat Minangkabau, di mana individu bersaing untuk memperoleh pengakuan, status, dan kedudukan dalam adat. Lebih dari sekadar perburuan, kegiatan ini juga dianggap sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keseimbangan alam dan perannya dalam kehidupan.
Cerita dalam novel ini tak lepas dari ritual berburu babi, lengkap dengan anjing peburu yang mendapat perhatian dan kasih sayang induk semang melebihi keluarga sendiri. “Kau harus punya anjing, Sayang!” (hal. 6) kata istri si lelaki asing narsis bergaya flamboyan sebelum mereka menikah seolah anjing adalah prasyarat untuk dapat diterima sebagai bagian koloni. Hal ini dipenuhinya dengan memelihara seekor anjing yang dinamai Taro serta anjing pemberian sang mertua benama Poli. Kedua anjing ini kelak memicu konflik yang membuat si lelaki menunjukkan gejala skizofrenia mengalahkan veteran tidak waras di rumah jengki.
Menurut situs holodoc.com, skizofrenia adalah penyakit gangguan kejiwaan kronis yang terjadi ketika pengidapnya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan dalam berpikir, dan perubahan sikap. Umumnya, pengidap gangguan kesehatan mental ini menunjukkan gejala psikosis, yaitu kesulitan membedakan antara kenyataan dengan pikiran pada diri sendiri. Salah satunya skizofrenia paranoid yang didominasi gejala delusi dan halusinasi. Perilakunya sering tampak waspada, curiga, dan mungkin bersikap defensif atau agresif.
Berlapis-lapis realitas bersiliweran di kepala si lelaki asing; mengalami déjà vu sewaktu ikut berburu babi, dia seperti mendengar dan melihat objek-objek di masa lalu di daerah perbukitan dan lembah sekitar waduk yang terkait dengan peristiwa pembantaian oleh militer, mimpi-mimpi dan delusi ketika dia menggauli istrinya, suara-suara yang terus berbisik, “Tidak. Kehebatan itu muncul berkat perasaan benci yang begitu kuat. Dan kau sadar bahwa itu cuma bersifat sementara. Setelah kau kembali bergulat dengan kegelisahan. Kilat dan tembakan. Kau coba pejamkan mata dan berusaha keras untuk tidur. Gelap. Wajah itu kembali terbayang dalam kegelapan...” (hal. 89), kilasan-kilasan ingatan yang membentuk paralelisasi kehidupannya dengan sang istri yang berprofesi sebagai dokter dan mati muda dengan kehidupan Leman yang juga memiliki istri dokter, tiba-tiba pulang ke kota kelahiran dengan lelaki yang diakui sebagai suami, lalu mati muda pula tanpa keturunan, serta kehidupan Mak Utiah alias Bernawi yang mengaku pahanya cacat berlubang karena diparok anjing berbulu loreng bernama Sugeng yang identik dengan seseorang.
“Aku merasa seperti mengenal hutan ini, dan setiap tumbuhan yang tumbuh di dalamnya seakan menjadi bagian dari diriku dan hal itu mengingatkanku kembali kepada masa lalu. Kepada dua masa lalu,” (hal 31). Apa yang sesungguhnya terjadi? Anda akan menemukan fakta mengejutkan apabila sampai membaca ke bab sepuluh.
Yoga Zen dengan cerdik menyisipkan berbagai isu sensitif dalam labirin peristiwa novelnya, seperti kekerasan seksual dan pembungkaman di sekolah, pemujaan pada sosok mitologis di negeri berbudaya religius, hakikat cinta perilaku menyimpang, pembantaian massal dalam kemelut politik, dan gangguan kesehatan jiwa yang menjadi ancaman laten masyarakat modern. Rahasia-rahasia yang menempel ke tokoh-tokoh unik; Leman, Mak Utiah, Oho, Dokter Darti, Buya Roes, Haji Muncak, Kapten Sujoso, Siyo Gagok, dan seekor kucing kelabu tua bernama Qor. Benar-benar gila parah! Sungguh wajar rasanya bila nanti Marjin Kiri dengan Aliansi Penerbit Independen Internasional menerjemahkan novel ini. []
Keterangan Buku
Judul Buku : Tersesat Setelah Terlahir Kembali
Penulis : Yoga Zen
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan 1 : Januari 2025
Tebal : iv + 170 hlm; 14 x 20,3 cm
https://klikpositif.com/bila-kau-tero...
Oleh Ragdi F. Daye
“Kau memang memimpikannya. Jangan berpura-pura bodoh tidak mengingatnya; suara tembakan, desing peluru, orang-orang tertawa dan menangis, derap langkah kaki yang berlari ketakutan, anjing-anjing yang menggonggong. Tentu saja kau juga memimpikan wajah lelaki itu. Kepala bertanduk rusa. Mata cekung yang tajam. Tulang pipi yang menonjol.”
Judul novel ini sangat menggoda, “Tersesat Setelah Dilahirkan Kembali”. Tersesat adalah sebuah kondisi yang menakutkan, kehilangan arah sehingga melenceng dari tujuan, berhadapan dengan marabahaya, dan bisa saja tidak kembali dalam keadaan selamat. Namun ganjilnya, tersesat juga mempunyai daya pukau begitu kuat, menarik-narik jiwa madar untuk menentang arus, mengabaikan tegah, dan terjebak di dalam kesalahan berulang—sengaja tersesat! Terlahir kembali juga merupakan frasa yang seksi; begitu banyak persona yang ingin terlahir kembali, sebut saja terlahir kembali setelah tersesat dalam kesalahan yang tak terampuni, misalnya.
Bagaimana saya tak akan tertarik membuka halaman demi halaman buku ini? Blurb di sampul belakang buku tak kalah merayu: Di hamparan tanah matrilineal pedalaman Sumatra, seorang lelaki asing dituntut mengikuti tradisi maskulin berburu babi. Tradisi itu kemudian menuntun si lelaki kepada obsesi dan kegilaan; melemparkannya kepada situasi asing dan baru; menjumpai mitos yang dikultuskan masyarakat setempat; dan menguak peristiwa pembantaian di masa silam. Di antara gegar budaya dan kegagalan beradaptasi, si lelaki juga berupaya menjawab dilema dari makna cinta yang sesungguhnya. Tak cuma blurb yang keren, foto profil dan bionarasi singkat sang pengarang juga sangat paten: Yoga Zen adalah penulis yang lahir di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Naskah novel pertamanya, Tersesat Setelah Terlahir Kembali, memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023.
Ada tiga hal yang menurut saya pesona kunci dari novel bersampul biru pudar dengan ilustrasi samar wajah manusia tirus kerempeng menyerupai tengkorak ini: rumah jengki yang eksotik, anjing pemburu babi, dan gejala skizofrenia pada tokoh (-tokoh) cerita. Ketiga hal ini saling berpilin, berjalin, berpulun-pulun hingga menjadi tragedi bathtub berdarah di bab sembilan.
Rumah Jengki adalah gaya arsitektur modernis yang berkembang di Indonesia pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an, menggantikan dominasi desain kolonial Belanda. Dipengaruhi oleh arsitektur Amerika pascaperang, gaya ini mencerminkan semangat kebebasan rakyat Indonesia. Ciri khasnya meliputi bentuk asimetris, sudut tajam, atap unik, serta fasad dan jendela dengan desain tidak konvensional. Rumah Jengki menolak bentuk geometris khas arsitektur kolonial dan menjadi simbol perubahan serta kebangkitan identitas nasional dalam desain bangunan.
Di dalam novel ini—lelaki asing si tokoh cerita yang saking teralienasinya tidak diberi nama oleh pengarang—melihat sebuah rumah mewah berasitektur jengki di kampung halaman istrinya (Kota K) ketika berjalan-jalan membawa anjing peliharaan. Tak hanya rumah jengki itu yang menyedot perhatiannya, seorang lelaki lain—parlente namun dikatakan orang tidak waras—yang menghuni rumah itu seorang diri membuat si lelaki asing terobsesi. Rumah jengki itu sangat mencolok, berdiri megah di dekat pohon beringin yang ‘ditunggui’ makhluk astral Inyiak Rampai. Kehadiran lelaki gila pensiunan tentara bernama Leman yang tinggal di sana menjadi paket lengkap yang membuat si lelaki asing tidak menuruti larangan istrinya. Galibnya anak kecil yang semakin dilarang semakin penasaran.
Berburu babi di Minangkabau merupakan tradisi turun-temurun yang bertujuan untuk memberantas hama babi yang merusak lahan pertanian. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh laki-laki dewasa dan menjadi bagian dari identitas mereka. Dalam pepatah Minang disebutkan, "baburu babi suntiang niniak mamak, pamenan dek nan mudo dalam nagari", yang menunjukkan bahwa berburu babi adalah kebanggaan bagi pemuka adat dan hiburan bagi para pemuda. Selain menjadi ajang kompetisi keterampilan dan keunggulan anjing pemburu, tradisi ini mencerminkan dinamika masyarakat Minangkabau, di mana individu bersaing untuk memperoleh pengakuan, status, dan kedudukan dalam adat. Lebih dari sekadar perburuan, kegiatan ini juga dianggap sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keseimbangan alam dan perannya dalam kehidupan.
Cerita dalam novel ini tak lepas dari ritual berburu babi, lengkap dengan anjing peburu yang mendapat perhatian dan kasih sayang induk semang melebihi keluarga sendiri. “Kau harus punya anjing, Sayang!” (hal. 6) kata istri si lelaki asing narsis bergaya flamboyan sebelum mereka menikah seolah anjing adalah prasyarat untuk dapat diterima sebagai bagian koloni. Hal ini dipenuhinya dengan memelihara seekor anjing yang dinamai Taro serta anjing pemberian sang mertua benama Poli. Kedua anjing ini kelak memicu konflik yang membuat si lelaki menunjukkan gejala skizofrenia mengalahkan veteran tidak waras di rumah jengki.
Menurut situs holodoc.com, skizofrenia adalah penyakit gangguan kejiwaan kronis yang terjadi ketika pengidapnya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan dalam berpikir, dan perubahan sikap. Umumnya, pengidap gangguan kesehatan mental ini menunjukkan gejala psikosis, yaitu kesulitan membedakan antara kenyataan dengan pikiran pada diri sendiri. Salah satunya skizofrenia paranoid yang didominasi gejala delusi dan halusinasi. Perilakunya sering tampak waspada, curiga, dan mungkin bersikap defensif atau agresif.
Berlapis-lapis realitas bersiliweran di kepala si lelaki asing; mengalami déjà vu sewaktu ikut berburu babi, dia seperti mendengar dan melihat objek-objek di masa lalu di daerah perbukitan dan lembah sekitar waduk yang terkait dengan peristiwa pembantaian oleh militer, mimpi-mimpi dan delusi ketika dia menggauli istrinya, suara-suara yang terus berbisik, “Tidak. Kehebatan itu muncul berkat perasaan benci yang begitu kuat. Dan kau sadar bahwa itu cuma bersifat sementara. Setelah kau kembali bergulat dengan kegelisahan. Kilat dan tembakan. Kau coba pejamkan mata dan berusaha keras untuk tidur. Gelap. Wajah itu kembali terbayang dalam kegelapan...” (hal. 89), kilasan-kilasan ingatan yang membentuk paralelisasi kehidupannya dengan sang istri yang berprofesi sebagai dokter dan mati muda dengan kehidupan Leman yang juga memiliki istri dokter, tiba-tiba pulang ke kota kelahiran dengan lelaki yang diakui sebagai suami, lalu mati muda pula tanpa keturunan, serta kehidupan Mak Utiah alias Bernawi yang mengaku pahanya cacat berlubang karena diparok anjing berbulu loreng bernama Sugeng yang identik dengan seseorang.
“Aku merasa seperti mengenal hutan ini, dan setiap tumbuhan yang tumbuh di dalamnya seakan menjadi bagian dari diriku dan hal itu mengingatkanku kembali kepada masa lalu. Kepada dua masa lalu,” (hal 31). Apa yang sesungguhnya terjadi? Anda akan menemukan fakta mengejutkan apabila sampai membaca ke bab sepuluh.
Yoga Zen dengan cerdik menyisipkan berbagai isu sensitif dalam labirin peristiwa novelnya, seperti kekerasan seksual dan pembungkaman di sekolah, pemujaan pada sosok mitologis di negeri berbudaya religius, hakikat cinta perilaku menyimpang, pembantaian massal dalam kemelut politik, dan gangguan kesehatan jiwa yang menjadi ancaman laten masyarakat modern. Rahasia-rahasia yang menempel ke tokoh-tokoh unik; Leman, Mak Utiah, Oho, Dokter Darti, Buya Roes, Haji Muncak, Kapten Sujoso, Siyo Gagok, dan seekor kucing kelabu tua bernama Qor. Benar-benar gila parah! Sungguh wajar rasanya bila nanti Marjin Kiri dengan Aliansi Penerbit Independen Internasional menerjemahkan novel ini. []
Keterangan Buku
Judul Buku : Tersesat Setelah Terlahir Kembali
Penulis : Yoga Zen
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan 1 : Januari 2025
Tebal : iv + 170 hlm; 14 x 20,3 cm
https://klikpositif.com/bila-kau-tero...
May 28, 2025
jujur baca buku ini nggak membutuhkan waktu lama, hanya 2 hari sambil nyiapin pameran pengkhianatan reformasi dan HUT ke-12 SMI. meski sebentar, tapi ada kali kubaca bolak-balik tiap ada bagian yang menurutku membingungkan karena emang semembingungkan dan semenggantung itu!
dan ya Allah, aku pikir hanya aku yg merasa tersesat saat baca buku ini. rupanya setelah baca review di goodreads ini aku ketawa bgt..... hampir semua pemberi review juga merasa yang sama!
jujur iya, ada banget ekspektasi baca novel juara sayembara DKJ setelah baca kereta semar lembu-nya zaki yamani dan orang-orang oetimu-nya felix k. nesi, tapi baca buku ini... emang bener-bener bikin aku tersesat! XD
ketika ada yang ngasih bintang 5 di reviewnya, penasaran banget sudut pandang apa yang ia kasih untuk buku ini sehingga bisa memberi bintang yang amat banyak. akan kubaca setelah aku upload review ini.
dan ya Allah, aku pikir hanya aku yg merasa tersesat saat baca buku ini. rupanya setelah baca review di goodreads ini aku ketawa bgt..... hampir semua pemberi review juga merasa yang sama!
jujur iya, ada banget ekspektasi baca novel juara sayembara DKJ setelah baca kereta semar lembu-nya zaki yamani dan orang-orang oetimu-nya felix k. nesi, tapi baca buku ini... emang bener-bener bikin aku tersesat! XD
ketika ada yang ngasih bintang 5 di reviewnya, penasaran banget sudut pandang apa yang ia kasih untuk buku ini sehingga bisa memberi bintang yang amat banyak. akan kubaca setelah aku upload review ini.
August 23, 2025
Heran juga kenapa buku ini buku ini hanya mendapatkan bintang 2,42 di Goodreads. Menurutku, dia berhak mendapat nilai lebih tinggi. Paling tidak 3,5.
Sebab, buku ini menyajikan cerita segar tentang dilema seorang laki-laki muda di dunia matrilineal. Laki-laki yang terjebak dengan situasi baru di lingkungan keluarga istrinya, di mana dia harus tinggal sebagai bagian dari sistem perkawinan yang mengikuti perempuan.
Tradisi memelihara anjing dan berburu mengantarkan tokoh aku pada misteri tentang tetangganya, Leman, seorang pensiunan yang misterius. Ada luka batin di masa lalu Leman sebagai seorang tentara yang terlibat dalam pembantaian orang-orang komunis. Ada juga pergulatan tentang dendam dan cinta.
Aku sih sangat menikmatinya, termasuk membayangkan lebat hutan tempat berburu babi, amis darah di pasar daging, dan gairah percumbuan di ranjang meski hanya satu adegan. Karena itu, aku kasih bintang 4.
Sebab, buku ini menyajikan cerita segar tentang dilema seorang laki-laki muda di dunia matrilineal. Laki-laki yang terjebak dengan situasi baru di lingkungan keluarga istrinya, di mana dia harus tinggal sebagai bagian dari sistem perkawinan yang mengikuti perempuan.
Tradisi memelihara anjing dan berburu mengantarkan tokoh aku pada misteri tentang tetangganya, Leman, seorang pensiunan yang misterius. Ada luka batin di masa lalu Leman sebagai seorang tentara yang terlibat dalam pembantaian orang-orang komunis. Ada juga pergulatan tentang dendam dan cinta.
Aku sih sangat menikmatinya, termasuk membayangkan lebat hutan tempat berburu babi, amis darah di pasar daging, dan gairah percumbuan di ranjang meski hanya satu adegan. Karena itu, aku kasih bintang 4.
This entire review has been hidden because of spoilers.
December 31, 2025
Apakah blurb semua buku sama jeleknya dengan trailer film jaman sekarang? Kalau trailer pada umumnya sekarang terlalu membocorkan isi film, sinopsis buku malah bohong. Apa yang dijanjikan atau diiming-iming di sinopsis buku tidak lebih dari marketing ploy; padahal dengan naiknya tren BookTok dan Bookstagram, seharusnya penjualan buku jauh lebih baik di industri penerbitan sehingga rasanya trik marketing murahan seperti ini tidak lagi perlu, tapi sayang sekali bahkan Marjin Kiri pun tetap (terpaksa?) melakukannya. Ada bedanya ya, copywriting bagus sama taktik pemasaran menyedihkan level click-bait.
1. "Di tanah hamparan matrilineal," latar belakang tempat cerita tidak lain hanya di perkotaan kecil, bukan di tanah asing dengan berbagai tradisi yang khas; begitu pula dengan aspek matrilineal: narrative plot gaada kaitannya sama budaya matrilineal minang sama sekali, malahan tokoh perempuan semuanya pasif: tokoh istri bahkan tidak punya nama, dokter darti dipuji-puji tanpa punya karakterisasi yang multidimensional, ibu mertua literally tidak diberi suara karena karakternya terkena serangan stroke tapi pada akhirnya menghabiskan sisa hidupnya bersama menantunya/si narator sebagai pasangan setelah putrinya meninggal (?)
2. "tradisi maskulin berburu babi" diiming-iming sebagai titik balik transformatif, kita pembaca dan pembeli sudah membayangkan protagonis menghadapi trauma seumur hidup akibat pengalaman transendensi melampaui semesta ragawi, tapi kenyataannya perburuan babi cuma muncul seperti kameo. Betul lewat sesekali, tapi tidak pernah menjadi pengalaman transformatif ekstrem narator, meskipun sinopsisnya berbunyi "seorang lelaki asing dituntut mengikuti tradisi maskulin berburu babi. Tradisi itu kemudian menuntun si lelaki kepada obsesi dan kegilaan; melemparkannya kepada situasi asing dan baru; menjumpai mitos yang dikultuskan masyarakat setempat; dan menguak peristiwa pembantaian di masa silam.". Ekspektasi padahal sudah selevel At Night All Blood is Black, atau Lelaki Harimau. Yang membuatnya terobsesi penuh dendam bukan karena pengalamannya berburu babi hutan, tidak ada juga yang memaksanya ikut!, melainkan pembunuhan kedua anjingnya, yang seharusnya wajar saja sebagai pet-owner yang shock (atau malah jujur saja siapapun yang diteror dengan dikirimkan bongkahan bangkai kepala)
3. Si tiba-tiba istri meninggal - ya memang sih serangan jantung sifatnya datang tiba-tiba, tapi tanpa bukti penguat misal tokoh istri yang kebiasaan pola hidupnya tidak sehat, atau catatan kelainan sejak lahir? Malah jatuhnya cuma pengakhiran cerita yang malas.. mungkin waktu itu penulis dikejar tenggat waktu untuk pengumpulan karyanya?? -- tapi ga ngerti juga kenapa dewan juri sampai bisa memenangkan karya ini, sebagai juara satu, pula. Submission lain tahun itu sejelek apa?
4. Semua adegan seks jatuhnya gratuitous; niatnya woke kali ya, dengan menyertakan adegan queer juga, tapi karena klise dan lagi-lagi tanpa juntrungan yang jelas, sangat mudah jatuh ke kategori ofensif
5. Small-town gossip mungkin niatnya dimanfaatkan sebagai alat untuk membangun rasa misteri seperti The Virgin Suicides, tapi eksekusinya berantakan semua. Ambiguitas yang disengaja seharusnya berfungsi memperkaya interpretasi, malah terasa ceroboh, tidak konsisten. Banyak sekali bukti cerminan penulisan yang malas: pernikahan Leman dengan Dokter Darti tidak pernah diungkit padahal dengan Leman yang tersirat merupakan seorang homoseksual, pernikahan keduanya akan memberikan kedalaman dan kompleksitas isu penerimaan lgbt di tengah masyarakat; tiba-tiba narator diceritakan berakhir dengan ibu mertuanya sebagai pasangan; pernikahan ayah mertua dengan istri muda datang dan pergi begitu saja; rival politik ayah mertua bisa menawarkan subplot yang lebih seru; tapi tetep paling ga masuk akal tokoh istri tiba-tiba meninggal karena serangan jantung diceritakan bahkan tidak sampai satu paragraf
6. Apa motivasi pembunuhan kedua anjing narator? Tidak pernah dijelaskan, bahkan secara tersirat sekali pun. Pengembangan karakter semuanya (selain bocah yang menjadi saksi pelecehan seksual temannya) lemah sekali, semuanya bertindak tanpa motivasi yang meyakinkan
7. Suara siapa yang menceritakan saat flashback ke peristiwa Leman di hutan mengawal tahanan komunis? Lagi-lagi si tiba-tiba
Masih banyak lagi yang perlu ditagih, tapi intinya buku ini terobsesi menumpahkan adegan-adegan kontroversi yang niatnya dibuat terkesan mengejutkan untuk membumbui tulisan dan alur cerita yang ceroboh. Menyedihkan sekali.
1. "Di tanah hamparan matrilineal," latar belakang tempat cerita tidak lain hanya di perkotaan kecil, bukan di tanah asing dengan berbagai tradisi yang khas; begitu pula dengan aspek matrilineal: narrative plot gaada kaitannya sama budaya matrilineal minang sama sekali, malahan tokoh perempuan semuanya pasif: tokoh istri bahkan tidak punya nama, dokter darti dipuji-puji tanpa punya karakterisasi yang multidimensional, ibu mertua literally tidak diberi suara karena karakternya terkena serangan stroke tapi pada akhirnya menghabiskan sisa hidupnya bersama menantunya/si narator sebagai pasangan setelah putrinya meninggal (?)
2. "tradisi maskulin berburu babi" diiming-iming sebagai titik balik transformatif, kita pembaca dan pembeli sudah membayangkan protagonis menghadapi trauma seumur hidup akibat pengalaman transendensi melampaui semesta ragawi, tapi kenyataannya perburuan babi cuma muncul seperti kameo. Betul lewat sesekali, tapi tidak pernah menjadi pengalaman transformatif ekstrem narator, meskipun sinopsisnya berbunyi "seorang lelaki asing dituntut mengikuti tradisi maskulin berburu babi. Tradisi itu kemudian menuntun si lelaki kepada obsesi dan kegilaan; melemparkannya kepada situasi asing dan baru; menjumpai mitos yang dikultuskan masyarakat setempat; dan menguak peristiwa pembantaian di masa silam.". Ekspektasi padahal sudah selevel At Night All Blood is Black, atau Lelaki Harimau. Yang membuatnya terobsesi penuh dendam bukan karena pengalamannya berburu babi hutan, tidak ada juga yang memaksanya ikut!, melainkan pembunuhan kedua anjingnya, yang seharusnya wajar saja sebagai pet-owner yang shock (atau malah jujur saja siapapun yang diteror dengan dikirimkan bongkahan bangkai kepala)
3. Si tiba-tiba istri meninggal - ya memang sih serangan jantung sifatnya datang tiba-tiba, tapi tanpa bukti penguat misal tokoh istri yang kebiasaan pola hidupnya tidak sehat, atau catatan kelainan sejak lahir? Malah jatuhnya cuma pengakhiran cerita yang malas.. mungkin waktu itu penulis dikejar tenggat waktu untuk pengumpulan karyanya?? -- tapi ga ngerti juga kenapa dewan juri sampai bisa memenangkan karya ini, sebagai juara satu, pula. Submission lain tahun itu sejelek apa?
4. Semua adegan seks jatuhnya gratuitous; niatnya woke kali ya, dengan menyertakan adegan queer juga, tapi karena klise dan lagi-lagi tanpa juntrungan yang jelas, sangat mudah jatuh ke kategori ofensif
5. Small-town gossip mungkin niatnya dimanfaatkan sebagai alat untuk membangun rasa misteri seperti The Virgin Suicides, tapi eksekusinya berantakan semua. Ambiguitas yang disengaja seharusnya berfungsi memperkaya interpretasi, malah terasa ceroboh, tidak konsisten. Banyak sekali bukti cerminan penulisan yang malas: pernikahan Leman dengan Dokter Darti tidak pernah diungkit padahal dengan Leman yang tersirat merupakan seorang homoseksual, pernikahan keduanya akan memberikan kedalaman dan kompleksitas isu penerimaan lgbt di tengah masyarakat; tiba-tiba narator diceritakan berakhir dengan ibu mertuanya sebagai pasangan; pernikahan ayah mertua dengan istri muda datang dan pergi begitu saja; rival politik ayah mertua bisa menawarkan subplot yang lebih seru; tapi tetep paling ga masuk akal tokoh istri tiba-tiba meninggal karena serangan jantung diceritakan bahkan tidak sampai satu paragraf
6. Apa motivasi pembunuhan kedua anjing narator? Tidak pernah dijelaskan, bahkan secara tersirat sekali pun. Pengembangan karakter semuanya (selain bocah yang menjadi saksi pelecehan seksual temannya) lemah sekali, semuanya bertindak tanpa motivasi yang meyakinkan
7. Suara siapa yang menceritakan saat flashback ke peristiwa Leman di hutan mengawal tahanan komunis? Lagi-lagi si tiba-tiba
Masih banyak lagi yang perlu ditagih, tapi intinya buku ini terobsesi menumpahkan adegan-adegan kontroversi yang niatnya dibuat terkesan mengejutkan untuk membumbui tulisan dan alur cerita yang ceroboh. Menyedihkan sekali.
December 22, 2025
Agak kaget pas liat ratingnya yang ternyata di bawah tiga. Terlebih, novelnya ini menjadi pemenang Sayembara Novel DKJ. Aku rasa ada yang unik dari novel ini sehingga juri memutuskan novel ini sebagai pemenangnya.
Kisah di novel ini tidak berfokus pada kegiatan buru babi saja, tapi juga tentang hubungan Aku dengan beberapa karakter di novel ini. Aku rasa, ini yang dihighlight oleh penulis. Sejauh yang aku baca, hubungan yang paling disorot di novel ini adalah hubungan tokoh Aku dengan Leman, Mak Utiah, serta (sedikit tentang) ayah dan ibu mertuanya.
Membaca novel ini seperti dipaksa harus memahami semua cerita dari sudut pandang tokoh Aku. Mungkin awal mula kenapa dia menjadi aneh itu dimulai saat ia mengikuti kegiatan buru babi perdananya. Semua berjalan begitu saja. Tokoh Aku yang awalnya penasaran dengan Leman, malah berubah menjadi membencinya (sampai ingin membunuhnya) karena Leman yang telah membunuh Poli (salah satu anjing kesayangannya). Bagaimana tidak, bagi para pemburu babi, anjing-anjing mereka sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Itulah kenapa ayah mertua tokoh Aku sangat marah besar ketika tahu kalau Poli mati.
Saat membaca prolog, tadinya aku pikir ini akan menceritakan tentang Leman. Tapi ternyata mlah menceritakan tokoh Aku. Pada bagian epilog juga tokoh Aku malah mengatakan kalau ia menulis untuk meredam semua kenangan dan mimpi buruknya.
Soal adegan bathtub, jujur saja ini menjadi salah satu plot twist yang membuatku cuma bisa bengong (edan memang). Belum lagi part menuju ending, beneran mindblowing. Maksudku, kok bisa kepikiran sampe ke sana? Tapi sebenarnya saat menuju pertengahan cerita sudah ada hintnya. Terakhir, perihal dokter Darti, menurutku ini salah satu plot hole yang cukup disayangkan. Mungkin karena aku cukup penasaran dengan kisah dokter Darti itu sendiri.
Setelah menamatkan novel ini dan mengingat kembali beberapa hal yang, aku jadi berasumsi kalau Leman adalah halusinasi tokoh Aku. Karena ada beberapa kesamaan antara Leman dengan tokoh Aku: sama-sama memiliki istri seorang dokter, keduanya mengonsumsi obat yang sama, dan mereka berdua dicap gila. Belum lagi dengan obsesi tokoh Aku untuk membuktikan keberadaan sosok Leman.
Novel yang benar-benar membuatku mikir. Aku rasa aku ikutan tersesat dalam semua cerita tokoh Aku. Apa mungkin tokoh Aku terlahir kembali menjadi sosok Leman? Idk.
Kisah di novel ini tidak berfokus pada kegiatan buru babi saja, tapi juga tentang hubungan Aku dengan beberapa karakter di novel ini. Aku rasa, ini yang dihighlight oleh penulis. Sejauh yang aku baca, hubungan yang paling disorot di novel ini adalah hubungan tokoh Aku dengan Leman, Mak Utiah, serta (sedikit tentang) ayah dan ibu mertuanya.
Membaca novel ini seperti dipaksa harus memahami semua cerita dari sudut pandang tokoh Aku. Mungkin awal mula kenapa dia menjadi aneh itu dimulai saat ia mengikuti kegiatan buru babi perdananya. Semua berjalan begitu saja. Tokoh Aku yang awalnya penasaran dengan Leman, malah berubah menjadi membencinya (sampai ingin membunuhnya) karena Leman yang telah membunuh Poli (salah satu anjing kesayangannya). Bagaimana tidak, bagi para pemburu babi, anjing-anjing mereka sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Itulah kenapa ayah mertua tokoh Aku sangat marah besar ketika tahu kalau Poli mati.
Saat membaca prolog, tadinya aku pikir ini akan menceritakan tentang Leman. Tapi ternyata mlah menceritakan tokoh Aku. Pada bagian epilog juga tokoh Aku malah mengatakan kalau ia menulis untuk meredam semua kenangan dan mimpi buruknya.
Soal adegan bathtub, jujur saja ini menjadi salah satu plot twist yang membuatku cuma bisa bengong (edan memang). Belum lagi part menuju ending, beneran mindblowing. Maksudku, kok bisa kepikiran sampe ke sana? Tapi sebenarnya saat menuju pertengahan cerita sudah ada hintnya. Terakhir, perihal dokter Darti, menurutku ini salah satu plot hole yang cukup disayangkan. Mungkin karena aku cukup penasaran dengan kisah dokter Darti itu sendiri.
Setelah menamatkan novel ini dan mengingat kembali beberapa hal yang, aku jadi berasumsi kalau Leman adalah halusinasi tokoh Aku. Karena ada beberapa kesamaan antara Leman dengan tokoh Aku: sama-sama memiliki istri seorang dokter, keduanya mengonsumsi obat yang sama, dan mereka berdua dicap gila. Belum lagi dengan obsesi tokoh Aku untuk membuktikan keberadaan sosok Leman.
Novel yang benar-benar membuatku mikir. Aku rasa aku ikutan tersesat dalam semua cerita tokoh Aku. Apa mungkin tokoh Aku terlahir kembali menjadi sosok Leman? Idk.
April 21, 2025
⭐2.5/5
"Tersesat Setelah Terlahir Kembali" (TSTK), novel yang mencoba mengusung etnografi Minangkabau. Setidaknya, usai menyelesaikan buku ini, saya–dan pembaca–bakal mendapatkan sejumlah istilah-istilah baru yang ada di sana. Di samping itu, pembaca juga mengenal lebih jauh perihal tradisi tanah Minang, yakni berburu babi, yang identik dengan kehidupan sosial laki-laki di wilayah tersebut.
Tidak cukup memberikan referensi, TSTK turut menyisipkan berbagai isu-isu sensitif, seperti persoalan kesehatan mental yang bisa kita anggap sebagai ancaman untuk kehidupan modern dan serbacepat saat ini; pilihan orientasi seksual yang berbeda dari kebanyakan; pelanggaran HAM berupa pembantaian para terpidana yang diduga komunis; adanya potensi kekerasan seksual dalam dunia pendidikan serta ketakutan para korban untuk bersuara; menyentil kepolisian yang cenderung tak acuh terhadap laporan–bahkan yang setingkat pembunuhan–hingga kepercayaan masyarakat terhadap sosok mistis di daerah yang terkenal kental religiusnya.
Namun, isu-isu sosial yang bisa saya dapatkan itu tergilas dengan banyak hal yang mengganjal. Saya merasa penulis seolah enggan untuk membeberkan kisahnya, menutup-nutupinya hingga memunculkan banyak pertanyaan. Saya pahami jika pembaca tidak mululu dijejali cerita secara gamblang. Terkadang memang memerlukan 1-2 hal yang sengaja ditinggalkan untuk mengajak pembaca berdiskusi atau memberikan akhir terbuka (open ending) agar pembaca melatih interpretasinya.
Namun, dalam novel ini, keseluruhan ceritanya membingungkan, benar-benar membuat pembaca tersesat dalam arti sesungguhnya.
Resensi lengkap bisa dibaca di sini
"Tersesat Setelah Terlahir Kembali" (TSTK), novel yang mencoba mengusung etnografi Minangkabau. Setidaknya, usai menyelesaikan buku ini, saya–dan pembaca–bakal mendapatkan sejumlah istilah-istilah baru yang ada di sana. Di samping itu, pembaca juga mengenal lebih jauh perihal tradisi tanah Minang, yakni berburu babi, yang identik dengan kehidupan sosial laki-laki di wilayah tersebut.
Tidak cukup memberikan referensi, TSTK turut menyisipkan berbagai isu-isu sensitif, seperti persoalan kesehatan mental yang bisa kita anggap sebagai ancaman untuk kehidupan modern dan serbacepat saat ini; pilihan orientasi seksual yang berbeda dari kebanyakan; pelanggaran HAM berupa pembantaian para terpidana yang diduga komunis; adanya potensi kekerasan seksual dalam dunia pendidikan serta ketakutan para korban untuk bersuara; menyentil kepolisian yang cenderung tak acuh terhadap laporan–bahkan yang setingkat pembunuhan–hingga kepercayaan masyarakat terhadap sosok mistis di daerah yang terkenal kental religiusnya.
Namun, isu-isu sosial yang bisa saya dapatkan itu tergilas dengan banyak hal yang mengganjal. Saya merasa penulis seolah enggan untuk membeberkan kisahnya, menutup-nutupinya hingga memunculkan banyak pertanyaan. Saya pahami jika pembaca tidak mululu dijejali cerita secara gamblang. Terkadang memang memerlukan 1-2 hal yang sengaja ditinggalkan untuk mengajak pembaca berdiskusi atau memberikan akhir terbuka (open ending) agar pembaca melatih interpretasinya.
Namun, dalam novel ini, keseluruhan ceritanya membingungkan, benar-benar membuat pembaca tersesat dalam arti sesungguhnya.
Resensi lengkap bisa dibaca di sini
February 28, 2026
Aku tak menyangka rating buku ini 2 koma. Bagaimanapun kukira buku ini paling tidak mendapatkan 4 karena juara sayembara DKJ.
Aku memberi 4, karena aku cenderung menyukai ketidakteraturan. Dan buku ini memberi kesan seperti itu. Tidak rapi. Meledak. Penuh plot twist. Ya sih tidak jelas arahnya mau kemana, tapi buku-buku semacam ini membebaskanku dari rutinitas. Di luar dari kesan pribadiku ini, aku tahu, penulis sudah mencurahkan usahanya agar buku ini tidak se-sembrono itu.
Selesai membaca buku ini, aku jadi bertanya-tanya, apakah buku sastra yang bagus itu harus menyelipkan tragedi-tragedi kemanusiaan? Apakah dengan begitu tulisan menjadi sah menjadi karya sastra tingkat tinggi? Seperti novel ini, yang memuat tentang kisah hukuman para komunis. Begitu pula, banyak buku sastra lain yang juga menang juara, sepanjang yang dapat kuingat.
"Sebuah karya tidak harus memuat nilai moral" Ini adalah kalimat yang selintas lalu kubaca akhir-akhir ini. Lalu dipertemukan dengan novel ini. Sekali lagi, aku tidak mengabaikan bagaimana usaha penulis untuk menyelipkan nilai moral ke dalam semua teknik menulisnya, tapi buku ini sangat cocok dengan kalimat itu.
Dalam garis kurva, novel ini sedikit di kiri dari nol. Dengan buku Cantik Itu Luka jauh di kiri, dan Ayat-ayat Cinta jauh di kanan.
Aku memberi 4, karena aku cenderung menyukai ketidakteraturan. Dan buku ini memberi kesan seperti itu. Tidak rapi. Meledak. Penuh plot twist. Ya sih tidak jelas arahnya mau kemana, tapi buku-buku semacam ini membebaskanku dari rutinitas. Di luar dari kesan pribadiku ini, aku tahu, penulis sudah mencurahkan usahanya agar buku ini tidak se-sembrono itu.
Selesai membaca buku ini, aku jadi bertanya-tanya, apakah buku sastra yang bagus itu harus menyelipkan tragedi-tragedi kemanusiaan? Apakah dengan begitu tulisan menjadi sah menjadi karya sastra tingkat tinggi? Seperti novel ini, yang memuat tentang kisah hukuman para komunis. Begitu pula, banyak buku sastra lain yang juga menang juara, sepanjang yang dapat kuingat.
"Sebuah karya tidak harus memuat nilai moral" Ini adalah kalimat yang selintas lalu kubaca akhir-akhir ini. Lalu dipertemukan dengan novel ini. Sekali lagi, aku tidak mengabaikan bagaimana usaha penulis untuk menyelipkan nilai moral ke dalam semua teknik menulisnya, tapi buku ini sangat cocok dengan kalimat itu.
Dalam garis kurva, novel ini sedikit di kiri dari nol. Dengan buku Cantik Itu Luka jauh di kiri, dan Ayat-ayat Cinta jauh di kanan.
June 15, 2025
Premis yang ditawarkan cerita ini sebenarnya menurut saya pribadi adalah cukup unik dan penasaran. Meski di awal saya lumayan kesulitan masuk ke dalam cerita. Cerita ini juga mengangkat tradisi dan kekhasan budaya di Sumatra Barat barangkali.
Narasi digambarkan cukup baik dan detail. Hanya saja, entah kenapa masih banyak hal yang janggal dan terkesan tanggung. Seperti untuk apa ada perburuan babi di cerita ini? Rasa-rasanya sekadar lewat semata. Lalu, saya masih tak cukup menangkap niat Mak Utiah melakukan semua ini dan diam-diam tak menyukai si ‘Aku’? Sejujurnya, cerita ini cukup dapat dinikmati terutama terasa tegang saat si ‘Aku’ ingin melancarkan aksinya ke rumah Leman. Namun, di akhir cerita, saya merasa ada beberapa hal terkesan terlalu bergegas, tak cukup mendalam meninggalkan pemahaman yang berarti. Sangat disayangkan, mengingat premis cukup unik dengan tokoh-tokoh yang tak kalah berkarakter unik pula.
Mungkin boleh jadi saya perlu membaca ulang, untuk dapat benar-benar mengerti maksud yang ingin disampaikan cerita ini.
Narasi digambarkan cukup baik dan detail. Hanya saja, entah kenapa masih banyak hal yang janggal dan terkesan tanggung. Seperti untuk apa ada perburuan babi di cerita ini? Rasa-rasanya sekadar lewat semata. Lalu, saya masih tak cukup menangkap niat Mak Utiah melakukan semua ini dan diam-diam tak menyukai si ‘Aku’? Sejujurnya, cerita ini cukup dapat dinikmati terutama terasa tegang saat si ‘Aku’ ingin melancarkan aksinya ke rumah Leman. Namun, di akhir cerita, saya merasa ada beberapa hal terkesan terlalu bergegas, tak cukup mendalam meninggalkan pemahaman yang berarti. Sangat disayangkan, mengingat premis cukup unik dengan tokoh-tokoh yang tak kalah berkarakter unik pula.
Mungkin boleh jadi saya perlu membaca ulang, untuk dapat benar-benar mengerti maksud yang ingin disampaikan cerita ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
July 21, 2026
Karena ini penerbitan dari marjin kiri serta menjadi daftar panjang kursala yang membuat saya penasaran utk membaca buku ini, judulnya menarik covernya menarik.
Setelah dibaca memang benar benar membuat penasaran akan kelanjutan cerita nya, apalagi setelah suatu kejadian kecelakaan yang membuat semakin obsesi kepada salah satu tokoh.
Saya suka penjelasan dalam adegan-adegan di buku ini terasa seperti masuk di dalam dunianya termasuk di salah satu adegan yang mencekam, tidak lupa juga juga kritik sosial dengan keadaan yang ada dan penampilan kejadian gak biasa yang ada.
namun memang saya masih tersesat setelah selesai membaca nya, masih banyak hal yang bisa dieksplorasi dan dijelaskan lebih mendalam, beberapa tokoh yang kurang tereksplorasi, yang saya kurang pahami adalah muncul nya kejadian kwir dan kurang tereksplorasi tema matrilineal yg menjadi awal tema cerita.
Setelah dibaca memang benar benar membuat penasaran akan kelanjutan cerita nya, apalagi setelah suatu kejadian kecelakaan yang membuat semakin obsesi kepada salah satu tokoh.
Saya suka penjelasan dalam adegan-adegan di buku ini terasa seperti masuk di dalam dunianya termasuk di salah satu adegan yang mencekam, tidak lupa juga juga kritik sosial dengan keadaan yang ada dan penampilan kejadian gak biasa yang ada.
namun memang saya masih tersesat setelah selesai membaca nya, masih banyak hal yang bisa dieksplorasi dan dijelaskan lebih mendalam, beberapa tokoh yang kurang tereksplorasi, yang saya kurang pahami adalah muncul nya kejadian kwir dan kurang tereksplorasi tema matrilineal yg menjadi awal tema cerita.
September 20, 2026
70 - 2026
Membaca buku yang tipis ini butuh waktu berhari-hari, bukan karena dieman-eman tapi emang ga paham, mau menyampaikan apa sih sebenernya ceritanya ini?
Sampai akhir pun gak tau, tersesat seperti apa? dan siapa yang terlahir kembali?
Mungkin aku aja yang gak nyampe kali ya, padahal buku ini menang sayembara DKJ juara 1.
Membaca buku yang tipis ini butuh waktu berhari-hari, bukan karena dieman-eman tapi emang ga paham, mau menyampaikan apa sih sebenernya ceritanya ini?
Sampai akhir pun gak tau, tersesat seperti apa? dan siapa yang terlahir kembali?
Mungkin aku aja yang gak nyampe kali ya, padahal buku ini menang sayembara DKJ juara 1.
July 8, 2025
Aku suka tema yang diangkat penulis. POV dari orang dengan gangguan jiwa yang punya daya tilik diri yang rendah. Jadilah dia bercerita tanpa mengenal orientasi waktu, flight of idea, kadang tidak bisa dipercaya. Sayangnya saya hampir tersesat dan sedihnya tidak terlahir kembali
October 20, 2025
Kalimatnya padu, tiap bab terasa padat, namun beberapa kali ikatan antar bab yang menjadi kendalanya. Bukan tidak ingin menjelaskan, mungkin sebuah kesengajaan yang dilakukan oleh penulis. Tapi, saya menikmati membacanya.
April 22, 2025
Saya benar-benar tersesat membaca buku ini. Namun bagaimanapun, selamat sudah memenangkan Juara 1 Sayembara Novel DKJ 2023.
September 25, 2025
A masterpiece....
October 15, 2025
tolonnk cukubbb yappingnya
March 3, 2026
Jauh dari ekspektasi
September 27, 2026
Paya Nie deserved this spot i fear…….
January 22, 2026
Seusai membaca karya Yoga zen yang satu ini, actually setiap kali membaca adegan di dalam buku ini rasanya saya akan menutup kembali halaman dan berteriak ke udara:
FAHHHHH!!
Aku paham mengapa ratingnya masih begitu dibawah kkm untuk sekelas pemenang DKJ ataupun top 5 Sastra pilihan Tempo 2026 (atau 2025 i forgor)
I mean, dibandingkan buku Marjin kiri, lainnya buku ini under-rated. tapi seru kok guys buku ini, perasaan baca buku ini itu kaya disturbing, like different type of disturbing. bukan seperti gory-typa-shi (although juga ada sih) masih yang berdarah darah, tapi seperti... membuat dirimu cukup bergidik tanpa harus benar benar dideskripsikan yang berlebihan.
banyak bagian yang , apa ya, membuat diriku like. bro.
jujur aku awal kira ini buku berbau dunia medis cuz palet warnanya mengingatkan aku dengan gelas becker dan erlenmeyer beserta bau udara penuh dengan aroma kimia.
afterall bintang 5, bagus bagus bagus dan seru.
Update: aku Rubah Jadi 4 karena setelah kupikir ini buku ga meninggalkan bekas dalam kepalaku.
FAHHHHH!!
Aku paham mengapa ratingnya masih begitu dibawah kkm untuk sekelas pemenang DKJ ataupun top 5 Sastra pilihan Tempo 2026 (atau 2025 i forgor)
I mean, dibandingkan buku Marjin kiri, lainnya buku ini under-rated. tapi seru kok guys buku ini, perasaan baca buku ini itu kaya disturbing, like different type of disturbing. bukan seperti gory-typa-shi (although juga ada sih) masih yang berdarah darah, tapi seperti... membuat dirimu cukup bergidik tanpa harus benar benar dideskripsikan yang berlebihan.
banyak bagian yang , apa ya, membuat diriku like. bro.
jujur aku awal kira ini buku berbau dunia medis cuz palet warnanya mengingatkan aku dengan gelas becker dan erlenmeyer beserta bau udara penuh dengan aroma kimia.
afterall bintang 5, bagus bagus bagus dan seru.
Update: aku Rubah Jadi 4 karena setelah kupikir ini buku ga meninggalkan bekas dalam kepalaku.
January 21, 2025
Sulit memberikan penilaian terhadap buku ini tanpa membandingkan dengan buku pemenang Sayembara Novel DKJ sebelumnya. Dengan formula misteri yang disodorkan di prolog, cukup membuat penasaran dan menyelesaikan buku ini hingga akhir. Namun sayang, ada beberapa misteri yang tak terjawab. Apa yang terjadi dengan dokter Darti?, dua masa lalu? , bagaimana dengan bayi yang mati?
Mungkin perlu reread buat paham buku ini
Nanti kalo uda re-read bakal di update
Mungkin perlu reread buat paham buku ini
Nanti kalo uda re-read bakal di update
January 10, 2026
Sebagai pemenang sayembara bergengsi, buku ini datang dengan ekspektasi yang cukup tinggi. Blurb-nya menjanjikan sebuah eksplorasi budaya matrilineal yang mendalam dan pergulatan identitas yang intens, namun isinya justru lebih ke arah obsesi personal terhadap seorang tokoh militer. Ini membuat elemen matrilineal Sumatra hanya berakhir sebagai latar belakang yang tidak berfungsi secara organik dalam cerita.
Bagi saya, membaca buku ini justru terasa seperti melihat kain patchwork yang dijahit terburu-buru; alih-alih panorama yang jelas bentuknya, saya hanya mendapatkan potongan-potongan isu (politik, queer, obsesi) yang tidak menyatu dengan harmonis.
Beberapa poin yang cukup mengganggu untuk saya:
1. Judul, sinopsis, dan isi cerita terasa berjalan di jalurnya masing-masing. Tema besar "terlahir kembali" dan "matriarki" yang diagungkan di sampul belakang justru tenggelam oleh obsesi tokoh utama terhadap seorang pensiunan tentara.
2. Dalam beberapa bagian, penggunaan sudut pandang orang pertama terasa ganjil karena si tokoh "Aku" justru bersikap serba tahu layaknya narator orang ketiga, yang membuat jarak emosional dengan pembaca menjadi kacau.
3. Penulis seolah ingin mengangkat terlalu banyak hal sekaligus (trauma politik, identitas queer, hingga kritik budaya) namun gagal menjahitnya menjadi satu kesatuan yang koheren. Bukannya merasa tercerahkan oleh isu-isu tersebut, saya justru merasa lelah karena setiap elemen terasa berdiri sendiri tanpa fungsi yang jelas bagi perkembangan karakter maupun cerita utama.
Catatan ini tentu tidak dimaksudkan untuk mengevaluasi standar kurasi yang ada. Namun, sebagai pembaca, saya merasa predikat juara justru menjadi beban bagi buku ini karena ia gagal memenuhi janji-janji besar yang ia tawarkan sendiri pada sinopsisnya.
Bagi saya, membaca buku ini justru terasa seperti melihat kain patchwork yang dijahit terburu-buru; alih-alih panorama yang jelas bentuknya, saya hanya mendapatkan potongan-potongan isu (politik, queer, obsesi) yang tidak menyatu dengan harmonis.
Beberapa poin yang cukup mengganggu untuk saya:
1. Judul, sinopsis, dan isi cerita terasa berjalan di jalurnya masing-masing. Tema besar "terlahir kembali" dan "matriarki" yang diagungkan di sampul belakang justru tenggelam oleh obsesi tokoh utama terhadap seorang pensiunan tentara.
2. Dalam beberapa bagian, penggunaan sudut pandang orang pertama terasa ganjil karena si tokoh "Aku" justru bersikap serba tahu layaknya narator orang ketiga, yang membuat jarak emosional dengan pembaca menjadi kacau.
3. Penulis seolah ingin mengangkat terlalu banyak hal sekaligus (trauma politik, identitas queer, hingga kritik budaya) namun gagal menjahitnya menjadi satu kesatuan yang koheren. Bukannya merasa tercerahkan oleh isu-isu tersebut, saya justru merasa lelah karena setiap elemen terasa berdiri sendiri tanpa fungsi yang jelas bagi perkembangan karakter maupun cerita utama.
Catatan ini tentu tidak dimaksudkan untuk mengevaluasi standar kurasi yang ada. Namun, sebagai pembaca, saya merasa predikat juara justru menjadi beban bagi buku ini karena ia gagal memenuhi janji-janji besar yang ia tawarkan sendiri pada sinopsisnya.
Displaying 1 - 30 of 31 reviews




























