Jump to ratings and reviews
Rate this book

Subuh Itu Biru, Chika

Rate this book
Apa jadinya jika dua pengarang cowok yang sama-sama punya karakter keras berkolaborasi menulis buku?

Gola gong pasti bukan nama baru. Serial Balada si Roy-nya lalu trilogi Pada-Mu Ku Bersimpuh yang sempat disinetronkan, dan sosoknya yang petualang, membuat buku-bukunya laris habis di pasaran.

Lalu Birulaut yang besar di dunia teater, menyelesaikan studi di IKJ dan terbiasa memotret adegan masyarakat di sekitarnya? Cerpen-cerpennya lahir dari kejujuran bertutur, hingga kegetiran atau keputusasaan yang tampak, kadang justru melahirkan senyum.

Terus, gimana dong kalau mereka berduet?
Ya, jadilah kumpulan cerita-cerita yang macho tapi manis, kocak, dan menyentuh sekaligus membawa cahaya baru!

221 pages, Paperback

First published January 1, 2002

1 person is currently reading
29 people want to read

About the author

Gola Gong

64 books93 followers
also known as Gol A. Gong.

Heri Hendrayana Harris, atau lebih dikenal dengan nama pena Gola Gong, lahir di Purwakarta,15 Agustus 1963, pernah kuliah di FASA UNPAD Bandung. Setelah diterbitkannya seri petualangan Balada si Roy pada tahun 1989,ia menjadi wartawan tabloid Warta Pramuka(1990-1995) dan tabloid Karina (1994-1995). Ia juga sempat menjadi reporter Freelance di beberapa media massa. Lalu ia terjun ke dunia televisi menjadi penulis skenario, di antaranya komedi situasi Keluarga Van Danoe di RCTI (1993) dan Pondok Indah II di Anteve. Pada tahun 1995 Gola Gong bergabung dengan INDOSIAR terlibat dalam produksi kuis Terserah Anda dan sinetron Remaja 5. Tahun 1996 ia hengkang ke RCTI dan menggarap opera sabun Dua Sisi Mata Uang, (Agustus 2000), komedi situasi Ikhlas (Ramadhan 1997), Papa (Lebaran 2000), komedi superhero Sang Prabu (1999), mega sinetron Tauke Tembakau (tayang 2001), drama misteri Maharani , Pe-De dot kom, dan program spesial Tanah Air.Beberapa novelnya sedang disinetronkan PT.Indika Entertainment, Petualangan si Roy, Mata Elang, sampai Aku Seorang Kapiten. Sinetron yang diangkat dari novel trilogi Islaminya (Pada-Mu Aku Bersimpuh) ditayangkan pada bulan Ramadhan 2001 di RCTI OKE, serta Al Bahri Aku Datang dari Lautan di TV7.Selain menulis novel, puisi-puisinya pernah dimuat di HAI, Republika, Suara Muhammadiyah, tabloid Hikmah, Mitra Desa Bandung, dan Harian Banten. Antologi puisinya bersama Toto ST Radik terkumpul dalam Jejak Tiga, Ode Kampung,dan Bebegig, serta tergabung dalam Antologi Puisi Indonesia 1997 versi Komunitas Sastra Indonesia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (10%)
4 stars
10 (13%)
3 stars
46 (60%)
2 stars
11 (14%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Femmy.
Author 34 books539 followers
November 26, 2007
-in progress-

SPOILER ALERT!

Arin *
Arin tidak setuju ibunya yang telah menjanda 10 tahun menikah lagi. Dia berdebat dengan kedua abangnya yang kembar, tapi sayang, argumen-argumen yang dilontarkan terkesan klise, tanpa penggalian lebih jauh. Demikian pula perdebatan tentang menikah tanpa pacaran di segmen kedua. Akhir ceritanya ketebak pun, meskipun mengandung hikmah, tidak terasa berkesan.

Subuh Itu Biru, Chika **
Adegan pertama adalah Adrian meninggalkan istrinya, Tuning, dengan alasan masih disamarkan. Tadinya kupikir, cerpen ini akan mengungkapkan alasan itu. Tapi, sebagian besar isinya (11 dari 15 halaman) ternyata berkisah tentang proses pertemuan Tuning-Adrian sampai akhirnya mereka menikah. Hanya dua halaman tentang proses hancurnya keluarga mereka, yang dipicu oleh keadaan Chika, anak mereka, yang ternyata terbelakang mental dan membuat suasana rumah tangga itu tertekan.

Aku jadi bingung, apa inti cerita ini? Lagi-lagi potret perempuan yang ditelantarkan lelaki? Padahal bahan ceritanya bagus. Kenapa yang dua halaman itu yang dikembangkan? Kisah orang tua yang memiliki anak terbelakang mental sebenarnya bisa lebih digali, misalkan dari sisi Adrian. Bikin dia lebih manusiawi, dengan kelemahannya, ketakmampuannya menghadapi kenyataan itu. Lebih bagus lagi kalau pembaca bisa dibikin bertanya-tanya, apa yang akan mereka lakukan seandainya berada di posisi yang sama. Yakinkah tak akan melakukan hal yang sama seperti Adrian?


Epitaf ***
Tom berusaha bunuh diri, tapi malah mengalami aneka kejadian yang kadang lucu, kadang aneh, kadang sedih, tapi selalu membuatku tersenyum. Hikmah cerita diselipkan cukup bagus.

Kepala **

Whua ***

KA Jabotabek ***

Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.