-in progress-
SPOILER ALERT!
Arin *
Arin tidak setuju ibunya yang telah menjanda 10 tahun menikah lagi. Dia berdebat dengan kedua abangnya yang kembar, tapi sayang, argumen-argumen yang dilontarkan terkesan klise, tanpa penggalian lebih jauh. Demikian pula perdebatan tentang menikah tanpa pacaran di segmen kedua. Akhir ceritanya ketebak pun, meskipun mengandung hikmah, tidak terasa berkesan.
Subuh Itu Biru, Chika **
Adegan pertama adalah Adrian meninggalkan istrinya, Tuning, dengan alasan masih disamarkan. Tadinya kupikir, cerpen ini akan mengungkapkan alasan itu. Tapi, sebagian besar isinya (11 dari 15 halaman) ternyata berkisah tentang proses pertemuan Tuning-Adrian sampai akhirnya mereka menikah. Hanya dua halaman tentang proses hancurnya keluarga mereka, yang dipicu oleh keadaan Chika, anak mereka, yang ternyata terbelakang mental dan membuat suasana rumah tangga itu tertekan.
Aku jadi bingung, apa inti cerita ini? Lagi-lagi potret perempuan yang ditelantarkan lelaki? Padahal bahan ceritanya bagus. Kenapa yang dua halaman itu yang dikembangkan? Kisah orang tua yang memiliki anak terbelakang mental sebenarnya bisa lebih digali, misalkan dari sisi Adrian. Bikin dia lebih manusiawi, dengan kelemahannya, ketakmampuannya menghadapi kenyataan itu. Lebih bagus lagi kalau pembaca bisa dibikin bertanya-tanya, apa yang akan mereka lakukan seandainya berada di posisi yang sama. Yakinkah tak akan melakukan hal yang sama seperti Adrian?
Epitaf ***
Tom berusaha bunuh diri, tapi malah mengalami aneka kejadian yang kadang lucu, kadang aneh, kadang sedih, tapi selalu membuatku tersenyum. Hikmah cerita diselipkan cukup bagus.
Kepala **
Whua ***
KA Jabotabek ***