Jump to ratings and reviews
Rate this book

Makanya, Mikir!: Panduan Berpikir untuk Hidup Lebih Bahagia

Rate this book
"Makanya, mikir!"

Pernah nggak, kalian bilang ini ke diri sendiri pas bikin keputusan yang malah nambah masalah atau bikin hidup lebih ribet? Atau, mungkin itu terucap ke orang lain?

We've all been there!

Sering kali, masalah dan keribetan hidup itu disebabkan bukan karena orang jahat atau bencana besar, tapi karena kita sendiri atau orang lain di sekitar kita yang mikirnya kusut. Karea itu, mikir dengan benar jadi penting banget buat hidup yang lebih nyaman dan anti-ribet.

Di buku ini, kami mengumpulkan berbagai kerangka berpikir beserta studi kasusnya yang secara personal sudah kami pakai dalam hidup dan sangat berguna. Mulai dari menentukan tujuan hidup, menyusun argumen, mengatur prioritas, mengambil keputusan dalam karier dan hubungan, menimbang risiko, memilah pertemanan, dan banyak lagi!

Buat kalian yang bingung, di persimpangan, mengalami turbulensi kehidupan, atau kepingin menambah referensi saja, buku ini ditulis untuk kalian!

296 pages, Paperback

Published January 1, 2025

193 people are currently reading
1072 people want to read

About the author

Abigail Limuria

2 books63 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
289 (53%)
4 stars
194 (36%)
3 stars
48 (8%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
6 (1%)
Displaying 1 - 30 of 125 reviews
12 reviews1 follower
February 3, 2025
[Overview]
Mengumpulkan dan menyederhanakan framework desicion making dilengkapi dengan BUANYAK study cases biar kebayang dan konkret.

[Fresh-from-the-oven-thoughts]
- Referensi acuannya juga menarik semuaa. Banyak yang dari keilmuan psikologi dan memang masih relevan (approved by psychology student)
- Flow story tellingnya enakk, tiap bab gak patah, such a nice page turner, apalagi untuk kategori non fiksi (at least for me)
- Rasanya kaya baca blogspot. Bahasanya bikin aku ngerasa kaya diajak ngobrol gaya “Lo, iya elo!🫵”. Jadi lumayan engaging
- Illustrasinya tuh loh… top notch! Aku apresiasi banget sih, tepat sasaran
- Ini personal dan minor, tapi aku gatel sama layout text yang gak justify haha
- Of course karena aim buku ini untuk membawa frameworks decision making sesederhana mungkin untuk pembaca awam, tentu ada limitasi over generalisasi teoretik di beberapa sisi. Karena udah di declare di bagian akhir buku, so ini fair lah ya
Profile Image for Henzi.
221 reviews26 followers
July 2, 2025
Pemilihan judul yang meyakinkan, warna sampulnya berani, serta tagline & pesan tokoh ternama membuat kupercaya bakalan mikir keras selama baca.

Pembahasan buku ini dibagi ke dalam beberapa bagian mulai dari peta realitas menentukan tujuan hidup hingga cara mengambil keputusan yang baik dan benar (dimaksimalkan).

Penulisannya terstruktur, kerangkanya bagus, lengkap (beberapa di antaranya) dengan teori sebagai landasan pre-pembahasan topik. Berikut adalah hal-hal menarik yang kucatat (sebagiannya sudah tahu meskipun gak ngeh sama istilah kerennya):
- tipe strategi bisnis deliberate (perencanaan dari awal) dan emergent (strategi baru yang bisa diselipkan di tengah-tengah karena ada urgensi mendadak)
- ranah realitas (sifatnya sudah pasti benar/salah) dan ranah preferensi (selera)
- menerapkan pola pikir dari konsep dasar ilmiah (pengamatan hingga kesimpulan)
- pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan opsi-opsi melalui kalkulasi Cost-Benefit Analysis (CBA) x Value (V) x Probabilitas (P)
- bias kesalahan berpikir (contoh: causation fallacy, false comparison, dan lain-lain)
- modifikasi matriks Eisenhower
- prinsip Pareto
… dan masih ada beberapa lagi.

Setiap penjelasan sudah disertai dengan sampel untuk kemudahan pemahaman. Bagus, tapi menurutku kurang impactful, karena mostly terlalu sederhana. Sebagian dari kita kemungkinan ‘sudah tahu’ jika ketemu masalah A, B, C (yang dicontohkan di buku) yang gitu-gitu aja memang sebaiknya diselesaikan dengan cara P, Q, R beserta valid reason-nya.

Akibatnya, buku ini jatuhnya cukup ‘mild’ dan mungkin kurang cocok dengan audiens yang butuh tamparan ekstra. Ditambah lagi, contoh yang diberikan pada beberapa konsep terlalu banyak (bisa lebih dari 3)—ini jadi minus buatku karena kesannya terlalu ‘telling’. Di sisi lain, ada juga jawaban-jawaban dari contoh yang kelihatannya bias. Aku prefer Abigail dan Cania bisa memberikan studi kasus yang berkesinambungan antar bab supaya feel diajak mikir lebih dapet.

Plus side-nya, buku ini interaktif karena disajikan dalam full color, banyak varian font jadi nggak bosen, penggunaan tabel untuk komparasi, ilustrasi gonjreng dan mind map untuk memetakan konsep. Cocok bagi yang visual oriented, nggak full text yang bisa jadi boring untuk sebagian orang.

Favoritku? Cost-Benefit Analysis yang dipadukan dengan Value dan Probabilitas! Insightful banget bab ini, sebab ternyata pemilihan solusi dari segala opsi itu kemungkinan bisa ditakar, meskipun sebagian kriteria penilaiannya bisa jadi adalah ranah preferensi. Bakalan kepake nanti buat penentuan keputusan-keputusan hidup yang akan datang.
Profile Image for Anisa Bintang.
13 reviews
October 20, 2025
Sebenernya dulu udah pernah baca tapi metode skimming dan beberapa di-skip. Anggapanku isinya terlalu obvious dan common, aku nggak butuh ini.

Namun beberapa bulan kemudian, aku ketemu orang-orang nyebelin yang menurutku kurang bisa mikir. Jadi, aku mendapat tujuan untuk membaca buku ini dengan lebih serius, yaitu demi mendapatkan flow penjelasan yang mudah dipahami untuk orang lain. Abigail and Cania nailed it👌

Sekarang utiwi lempar buku ini ke orang yang membutuhkan
Profile Image for Fitri Annisa.
17 reviews7 followers
January 29, 2025
a good book buat referensi membangun kerangka berpikir secara logis untuk beginner sepertiku. aku awalnya bukan orang yang logis2 amat, cenderung impulsif dan emosional malahan. terutama dalam pengambilan keputusan. setelah mengikuti konten2nya Cania dan Abigail, yang mengajak untuk berpikir logis dan kritis, akhirnya otakku mulai "dipake" 😂
Profile Image for Kartika.
170 reviews19 followers
December 16, 2025
Buku ini menyajikan kerangka pemikiran kritis dan rasional dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami, menjadikannya bacaan ringan namun tetap berbobot. Akan lebih kaya jika dilengkapi dengan lebih banyak studi kasus dari penelitian.
Profile Image for Ms.TDA.
249 reviews5 followers
January 20, 2026
“Bertanya adalah awal terjadinya pemikiran kritis.” What an strong opening 💥🧐

Buku ini menawarkan betapa penting “kerangka berpikir” sebelum kita memutuskan suatu problem di kehidupan keseharian. Selain itu, penjelasan alur yg lumayan pelan tapi dapet esensi nya. Disini juga ditawarkan opsi cara paling efektif agar dapat hidup yg sukses yaitu dengan memaksimalkan faktor internal di diri sendiri. Dan tentu apa yg kita cari adalah pilihan terbaik bukan pilihan telanjur.

Yg aku senang, buku ini juga di berikan bbrp halaman ekstra agar pembaca bisa interaktif dalam introspeksi ke diri sendiri. 👍🏻
Profile Image for meisana.
27 reviews
December 31, 2025
hmmm… i think 50% aku merasa ini biasa aku pikirkan dan lakukan tanpa harus membaca, tapi akhirnya tervalidasi berarti selama ini aku tidak salah. 50% aku dapet teori baru yang membuatku lebih bisa mengkategorikan sesuatu dengan lebih tepat.
Profile Image for nava.
25 reviews
July 7, 2025
insightful, helpful, and very beginner friendly! bagian favoritku ialah yang membahas mengenai cost-benefit analysis+value+probability XD
Profile Image for Schala.
20 reviews
May 8, 2025
Ekspetasi
Jujur, pada buku ini aku menaruh ekspektasi yang tinggi. Aku baru mengikuti Cania dan Abigail kira kira 1 bulan. Sempat muncul video tentang Cania di YouTube aku, video reels, dan sejenisnya. Aku mendengarkan pendapat mereka seperti, wah, isinya berbobot sekali, apalagi mereka menulis buku ini, Makanya Mikir! Di mana katanya mereka membuat framework berpikir. Lalu juga disampaikan bahwa buku ini berbeda dari yang lain, bukan writer centric, tapi reader centric. Sedikit background, aku dan teman temanku sering ngobrol seputar penggunaan framework, baik mengerjakan tugas, membuat presentasi, berpikir dalam masalah, lomba, dan lain lain. Sehingga saat mereka mengatakan kata framework, dan approach yang digunakan, aku sangat tertarik, tetapi masih ragu untuk membeli buku ini. Sebelum membeli, aku menonton podcast, video YouTube penulis (kebanyakan Abigail), dan aku sangat suka sudut pandang penulis. Sehingga pada akhirnya aku memutuskan untuk membeli buku ini.


Pro
Aku sangat suka pada bagian awal yang membahas karir. Mungkin kebanyakan dari kita sebagai manusia berpikir terhadap suatu hal hanya ada suka dan tidak suka. Dalam konteks karir, penulis menyampaikan bahwa dalam pekerjaan ada 2 variabel, yaitu Higiene dan Motivasi. Di mana Higiene merupakan faktor yang menentukan kebencian, dan Motivasi yang menentukan kesenangan. Jadi ada 2 variabel. Bukan sekadar suka pekerjaan atau tidak suka pekerjaan. Secara mendalam, Higiene lebih mengarah kepada gaji, sikon kerja, bos, yang di mana semakin baik maka rasa tidak suka akan berkurang. Sedangkan untuk variabel Motivasi seperti tantangan, tanggung jawab, respect, yang jika semakin baik, maka rasa suka makin bertambah. Kedua variabel ini berbeda. Jadi kita tidak bisa mengatakan ih gw suka banget kerjaan gw, atau gw gk suka kerjaan gw. Karena ingat, bukan hanya suka atau tidak suka saja. Tetapi apa yang memotivasi kalian, serta apa hal yang mengurangi ketidaksukaan kalian. Pada bagian ini, ini sangat kena kepada saya, dan membuka sudut pandang baru.
Tidak hanya kerja, penulis juga memberikan banyak konsep baru seperti kesesatan berpikir. Mungkin saya akan memberikan beberapa contoh apa yang ditulis oleh penulis seperti survivorship bias, sunk cost, dan banyak lagi.
Penulis juga memberi tentang konsep prioritas, salah satu yang terkenal adalah 80 20 atau pareto chart.
Ada juga pembahasan tentang relationship (lebih ke pertemanan) yang di mana dibagi menjadi 7 bagian.


Kontra / Kritik
Seperti yang kubilang, ekspektasiku terlalu tinggi terhadap buku ini. Menurutku, ada hal yang membuat aku sangat kecewa.
Aku sebelumnya tidak aware dengan istilah writer centric dan reader centric. Jadi ketika mendengar kata ini, wah, sepertinya sangat seru jika membaca buku yang lebih sesuai dan bisa dipahami oleh diri kita sendiri. Aku bukan orang yang jarang baca. Mungkin sejak 2021, aku sudah menargetkan minimal 12 buku dalam 1 tahun.
Ketika aku baca buku ini, hanya bagian awal saja yang terasa relate. Selebihnya aku kurang merasa terhubung. Mungkin saja target pasarnya memang bukan untuk diri saya hehe.

a. Pola pikir ilmiah
Selanjutnya, ada hal yang menurut saya sangat krusial, yaitu ketika penulis membahas pola pikir ilmiah. Penulis menyediakan framework seperti berikut (aku langsung kasih contoh yang diberikan, yaitu membuat telur):
1. Pengamatan
Memasak telur dadar lebih enak dengan api kecil daripada api besar.
2. Pembentukan Hipotesis
Memasak telur dadar dengan api kecil membuat telur matang lebih merata dan teksturnya lebih lembut karena tidak gampang overcooked.
3. Eksperimen
Masak telur dengan bumbu yang sama, bedanya hanya api besar dan kecil.
4. Analisis data
Matang, makan bersama keluarga, tanpa memberi tahu metode masaknya, lalu lihat mana yang lebih enak.
Mungkin bagi pembaca lain, contoh ini tidak ada masalah. Tapi menurut saya, ini cukup fatal. Kenapa saya bilang begitu? Karena pada bagian pembentukan hipotesis, penulis langsung menyebutkan variabel seperti “matang lebih merata”, “lebih lembut”, “tidak overcooked”.
Anehnya di mana? Saya bingung, bagaimana caranya bisa langsung mengambil variabel variabel tersebut. Lah, situ nggak bisa mikir? Telur doang, toh? Wkwkwk.
Permasalahannya bukan di telurnya. Saya merasa contoh yang diberikan memang mudah dipahami karena semua orang makan telur. Tapi penulis tidak mengarahkan kita untuk berpikir ke arah sana.
Apakah kalian yang jarang masak atau tidak suka masak akan langsung kepikiran soal lembutnya telur? Menurut saya, sebelum membuat hipotesis, harus dikemas dulu:
• Apa yang sedang kita teliti (misalnya makanan),
• Dalam makanan ada variabel apa saja (rasa, tekstur, dan lain lain),
baru setelah itu diarahkan ke pembentukan hipotesis.
Lalu pada bagian analisis data, target uji coba hanya keluarga. Bukankah ini sangat bias? Misalnya keluarga lebih suka telur yang crispy atau sebaliknya lebih suka yang basah seperti omelet? Tapi penulis tidak menjelaskan ini dengan detail.
Ya, ini memang contoh sederhana. Tapi bagaimana jika pembaca menghadapi kasus yang lebih kompleks? Misalnya soal memilih kuliah, kerja, dan lain lain. Variabel apa yang harus ditentukan? Penulis lebih banyak mengarahkan kita untuk menentukan nilai sendiri.
Menurut saya ini kurang valid. Kenapa? Karena bisa saja pembaca kurang melakukan research atau belum punya pemikiran tajam.
Contoh: kalian suka sesuatu, lalu ada event konser artis kesukaan. Walau duit kalian terbatas, mungkin kalian berpikir:
“Yah, hidup cuma sekali. Beli aja deh. Ini juga jarang jarang, kan?” atau “Event ini sekali doang di Indonesia, beli ajalah.”
Nilai di sini adalah kesenangan karena bisa nonton konser favorit. Tapi bagaimana kalau kalian belajar hal lain?
Disclaimer, saya bukan ahli personal finance atau orang sukses. Tapi saya mencoba menerapkan beberapa prinsip, seperti konsep 50 30 20. 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, 20% untuk tabungan.
Kalau saya bisa bersenang senang dalam 30% dari gaji saya, sudah oke. Atau minimal ada dana darurat. Jadi kalau duit minim, opsi konser harusnya langsung dieliminasi karena jelas jelas sudah di luar budget.
Kenapa? Bisa saja bulan depan kena PHK. Tapi duit sudah habis? Mau makan apa?
Oleh karena itu menurut saya, penulis kurang bagus dalam menyampaikan case study, di mana kita diarahkan menilai sesuatu secara mandiri, tanpa tolak ukur yang jelas.

b. Study case
Sebenarnya dalam contoh contoh case study yang diberikan, mayoritas aku tidak mengerti. Aku tidak paham logika dari contoh contoh tersebut.
Ekspektasiku terhadap bagian ini sangat tinggi karena aku sempat menonton podcast di mana Aby bilang bahwa bagian tersulit dalam menulis buku ini adalah membuat case study, karena dia harus melakukan riset mendalam.
Tapi saat aku baca, menurutku case study nya tidak sedalam itu.
Contohnya: ada pembahasan soal benefit (nilai yang menguntungkan) dan cost (nilai yang merugikan).
Diberikan contoh mempertimbangkan beli rumah.
Rumah seharga 450 juta diberi nilai +4. Tapi rumah seharga 800 juta diberi nilai 5.
Disclaimer, saya belum membeli rumah sendiri. Tapi saya bingung, bagaimana cara menentukan angka 4 dan 5 itu?
Saya paham harganya hampir dua kali lipat. Tapi tolak ukurnya di mana?
Rumah impian saya sendiri besar dan harganya di atas 1M (masih mimpi). Jadi saya kurang bisa relate. Apakah penilaiannya hanya berdasarkan mahal minus, murah plus? Kan agak aneh.
Contoh lain: penulis memberikan contoh memilih kerja. Menurut saya ini juga kurang masuk akal. Lagi lagi, saya bukan orang yang sudah sukses, tapi saya bisa menilai pekerjaan mana yang bagus. Konsep cost benefit memang bisa digunakan, karena nilainya dinilai oleh diri sendiri. Tapi tidak ada benchmark yang jelas. Menurutku, contoh contoh yang diberikan hanya cocok untuk jangka pendek. Padahal, apa pun yang kita lakukan sekarang akan berdampak di masa depan.
Misalnya, saat bekerja secara profesional, kita tidak hanya mendapatkan gaji. Tapi juga hard skill, soft skill, network, dan sebagainya (tergantung individu gimana). Menurut saya, ini berdampak pada jangka panjang. Tapi buku ini hanya fokus ke jangka pendek. Dan faktor faktor seperti ini tidak dibahas sama sekali.

c. Sesat berpikir dan bias
Tidak ada masalah utama di bagian ini. Menurut saya, penjelasannya sudah oke.
Menurut saya, ini adalah bagian yang penting dan berpengaruh dalam pengambilan keputusan ketika seseorang menghadapi masalah.
Tapi sayangnya, pembahasan ini hanya singkat, sekitar 2–3 halaman. Jadi kesannya kurang mendalam dan cukup disayangkan.

d. Penilaian subjektif
Seperti yang sebelumnya saya sampaikan, penulis mengatakan bahwa setiap nilai yang diberikan adalah subjektif.
Memang benar, nilai setiap orang itu subjektif. Tapi setidaknya bisa diberikan benchmark yang jelas.


Refleksi Pribadi
Terlepas dari berbagai kontra yang saya sebutkan di atas, saya tetap menghargai usaha dan niat baik penulis. Alasan saya menulis panjang lebar adalah karena ekspektasi saya terhadap buku ini sangat tinggi. Saya berharap akan mendapatkan panduan berpikir yang lebih mendalam dan aplikatif, namun yang saya temukan lebih cenderung berupa penyajian framework secara garis besar.
Saya menyadari bahwa buku ini mungkin memang tidak cocok untuk saya pribadi. Bagi saya, penjelasan yang diberikan terasa kurang dalam dan tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan berpikir kritis yang saya harapkan. Namun, saya tetap merekomendasikan buku ini bagi mereka yang sering merasa ragu dalam mengambil keputusan, atau bagi kalian yang merasa sulit menyelesaikan suatu masalah. Buku ini berhasil merangkum berbagai sudut pandang yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya, dan bisa menjadi pembuka wawasan baru.
Secara keseluruhan, saya memberikan nilai 3.5/5 bintang untuk buku ini.


Framework
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya cukup familiar dengan penggunaan berbagai pendekatan atau framework dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Dalam berbagai perlombaan, saya sering mengandalkan framework seperti SCQA, Design Thinking, dan lainnya. Namun, saya menyadari bahwa memahami framework hanya di permukaannya saja tidaklah cukup. Tanpa pemahaman mendalam, framework tersebut tidak akan memberikan nilai nyata.
Sebagai contoh, SCQA adalah singkatan dari Situation, Complication, Question, dan Answer. Sekilas, keempat elemen tersebut terdengar sederhana dan mudah dimengerti. Tapi dalam praktiknya, penerapannya sangatlah kompleks.
Dalam lomba, bagian Situation digunakan untuk menjelaskan kondisi saat ini dan mengidentifikasi masalah yang ada. Untuk memperkuat pemahaman, biasanya saya menggunakan framework tambahan seperti SWOT, PESTEL, atau Porters Five Forces untuk menggali konteks bisnis yang sedang dibahas. Tujuannya adalah untuk membangun pemahaman yang sama tentang arah bisnis dan tantangan yang dihadapi.
Selanjutnya, Complication menjadi bagian di mana kita mulai menganalisis berbagai variabel yang memengaruhi masalah tersebut. Di sini, framework seperti Gap Analysis, Customer Journey, atau User Persona sering saya gunakan untuk mengidentifikasi hambatan atau masala0068 yang terjadi.
Kemudian masuk ke tahap Question, yaitu merumuskan masalah masalah utama dalam bentuk pertanyaan. Saya biasa menggunakan pendekatan seperti How Might We (HMW), Root Cause Analysis, atau Problem Tree untuk mengubah temuan temuan analisis menjadi pertanyaan yang strategis.
Terakhir, pada bagian Answer, kita mencoba menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut dengan solusi yang konkret. Framework seperti Business Model Canvas (BMC), Value Proposition Canvas, atau metode SMART Goals sering digunakan tergantung pada konteks masalah yang dibahas.
Melalui contoh ini, terlihat jelas bahwa penggunaan framework tidak bisa dipisahkan dari pemahaman menyeluruh dan penyatuan dengan pendekatan lain. Bahkan dalam satu bagian dari SCQA saja bisa digunakan beberapa framework sekaligus. Karena itu, ekspektasi saya terhadap buku Makanya Mikir! adalah mendapatkan penjelasan yang komprehensif dan mendalam terkait cara berpikir menggunakan framework. Namun yang saya temukan dalam buku ini terasa seperti pengenalan permukaan saja, misalnya hanya menjelaskan apa itu SCQA, tanpa benar benar membedah bagaimana cara menggunakannya secara strategis dan aplikatif.
Perlu saya tekankan bahwa kritik ini bukan ditujukan untuk menjatuhkan penulis, melainkan sebagai masukan membangun. Jika penulis menerbitkan buku lain ke depannya, saya tetap terbuka untuk membacanya. Saya berharap penulis dapat mengembangkan penyajian konten yang lebih matang dan mendalam.
Meskipun saya mengalami banyak kekecewaan saat membaca buku ini, ada satu hal menarik yang sempat membuat saya merenung, yakni tentang karier. Buku ini menyentuh sebuah pemikiran bahwa dalam bekerja, kita tidak hanya berhadapan dengan hal yang “kita suka” atau “tidak suka”. Tapi juga ada dua variabel penting: hal hal yang membuat kita suka, dan hal hal yang membuat kita tidak suka. Bagi saya, ini adalah perspektif baru yang cukup berkesan, karena sebelumnya saya belum pernah memikirkan hal itu dengan jelas.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for killua.
17 reviews2 followers
March 21, 2025
ibarat buku saku yg bisa ditengok kapan aja, buku ini berisi kumpulan framework berpikir serta contoh yg bs langsung dipraktekin. misalnya, soal pemilihan sirkel yg harusnya ga berdasarkan sefrekuensi aja tp jg harus mempertimbangkan kompetensi untuk memaksimalkan hidup kita
Profile Image for Nendra Yelena.
19 reviews
April 5, 2025
This one is a must-have book for everyone,especially for those who seeks answer for everyday's problem. "Makanya,Mikir!" offers readers practical frameworks and mental models to enhance critical thinking and decision-making. Additionally, it emphasizes the importance of empathy alongside logic, advocating for a balanced approach to rational and compassionate thinking
Profile Image for oliviasther.
15 reviews1 follower
March 31, 2025
BAGUUUUUUSSSSSSS BGT! ngasih framework cara berpikir yg lengkap beserta cost benefit dan sebagainya sebelum ngambil keputusan 🤓🫂
Profile Image for Zipora Zipora.
202 reviews5 followers
December 17, 2025
“Berpegang kuat pada sebuah pendapat di hadapan bukti yang lemah adalah tanda bahwa kamu
tidak berpikir kritis. Keyakinan harus mengikuti fakta, bukan mendahuluinya. Apa yang ingin kamu percayai seharusnya tidak mendikte apa yang kamu percayai. Kunci belajar seumur hidup adalah menghargai rasa ingin tahu lebih daripada rasa yakin."- Adam Grant
Ketika kita nggak takut dibuktikan salah dan nggak anti terhadap perubahan, di situlah kita bisa belajar. Karena yang terpenting adalah mengetahui hal-hal yang benar, bukannya jadi si paling benar; bukan sok tahu, tapi mencari tahu.
Keputusan yang tepat bisa dibuat ketika kita memiliki informasi yang benar (isi peta realitas yang akurat) dan penalaran yang benar (bisa baca peta realitas yang akurat) juga.
Tapi, ada seseorang yang bilang gini ke aku,
"Lo sadar, kan, masalah yang lo hadepin itu masalah yang seru? Lo bingung karena terlalu banyak kesempatan dan pilihan. That's a good problem to have. I'd rather be lost in opportunities than stuck in a situation."
Jadi, bagi kalian yang ngerasa krisis identitas dan bingung karena kebanyakan opsi, mungkin bisa melihat masalah dengan kacamata yang lebih optimis. Pelan-pelan, terus navigasi deh antara strategi deliberate dan emergent.
Strategi yang digunakan bisnis/ institusi dalam mengejar goal mereka: deliberate & emergent.
deliberate = strategi yang sudah direncanakan dari awal & dieksekusi.
emergent = strategi yang muncul di tengah-tengah jalan pas mereka lagi menjalankan strategi deliberate. Ada peluang baru, informasi baru, tantangan baru, yang bikin mereka harus tukar arah & ganti strategi.
Clayton M. Christensen, professor Harvard Business School, dalam buku How will you Measure Your Life? banyak orang yang gagal bahagia karena menentukan karier dan goal hidupnya hanya dari faktor higiene saja. Fokus mencara karier yang bisa kasih gaji atau uang terbesar, dengan kantor termewah, atau hal eksternal lainnya. Padahal, hal-hal yang bikin kita termotivasi dan merasa hidup itu bermakna ada di faktor motivasi.
Dalam mencari goal besar hidup, jangan lupa bertanya:
apa yang kasih kita kesempatan buat berkembang?
di mana kita bisa terus belajar hal baru?
di mana kita bakal diapresiasi dan dihargai?
apa yang bikin kita merasa hidup itu bermakna?
tapi yang juga bisa terpenuhi faktor higiene kita.

Hidup yang sukses adalah hidup yang dipenuhi oleh ketercapaian goals; ketercapaian goals bergantung pada faktor eksternal dan internal;
faktor eksternal tidak bisa kita kontrol; faktor internal bisa kita kontrol dan bisa kita gunakan untuk "menaklukkan" faktor eksternal.
Therefore... Cara paling efektif buat punya hidup yang sukses adalah memaksimalkan faktor internal kita.

Survivorship Bias: kondisi di mana kita menarik kesimpulan bahwa sesuatu tidak terjadi karena ada sampel yang tidak mengalami hal itu (alias ada survivornya, yang tdk kena kejadiannya).
Ostrich Bias : denial terhadap fakta yang nggak kita sukai atau nggak sesuai harapan kita. Memilih tidak tahu dan “memendam kepala kita ke dalam pasr” bukanlah tindakan yang tepat.
Hasty generalisation: menggeneralisasikan. Menjadikan keadaan atau kenyataan dalam suatu kasus sebagai keadaan atau kenyataan yang berlaku di semua kasus serupa lainnya.
Causation Fallacy: Istilah ini merujuk kepada kesalahan berpikir yang mengakibatkan terjadinya kesalanan dalam menentukan penyebab dari sesuatu. Maksudnya, penalaran yang salah itu bikin kita jadi salah memahami penyebab sebenarnya dari suatu kejadian, yang akhirnya bisa mengarah pada keputusan yang nggak tepat.
False dichotomy: Istilah ini dipakai untuk menyebut kesalahan berpikir yang menganggap hanya ada dua pilihan mutlak yang saling bertentangan satu sama lain. Padahal, kenyataannya pilihan yang tersedia bisa jauh lebih banyak dan beragam. Dengan kata lain, "If not this, then that." ("kalau bukan ini, berarti itu"). Seakan-akan, kemungkinan yang tersedia hanya ini atau itu, nggak ada lagi yang di luar keduanya. Misalnya saja, mungkin nggak ini sekaligus itu? Atau keduanya pasti bertentangan?
False comparison: menyebut kesalahan berpikir dalam melakukan perbandingan & menarik kesimpulan dari perbandingan tersebut.

Dalam mengambil keputusan, kita perlu menakar kemampuan kita untuk meraih suatu pilihan dengan tepat agar tidak "delulu" atau "halu" (dalam bahasa slang-nya, hehe). Yang dimaksud dengan delulu di sini adalah kondisi di mana kita salah menakar kemampuan sehingga akhirnya kita gagal mendapatkan pilihan optimal. Delulu di sini bisa dalam bentuk overestimate alias estimasi kita lebih tinggi dari kemampuan kita sebenarnya, bisa juga underestimate alias estimasi kita lebih rendah dari kemampuan kita sebenarnya.

Sunk cost fallacy : bias kognitif yang membuat kita enggan meninggalkan investasi yang sudah kita buat, meskipun itu tidak lagi menguntungkan atau malah merugikan. Nama "sunk cost" sendiri merujuk pada biaya yang sudah kita keluarkan dan tidak bisa dikembalikan, baik itu dalam bentuk uang, waktu, atau tenaga. bias kognitif yang membuat kita
enggan meninggalkan investasi yang sudah kita buat, meskipun itu tidak lagi menguntungkan atau malah merugikan. Nama "sunk cost" sendiri merujuk pada biaya yang sudah kita keluarkan dan tidak bisa dikembalikan, baik itu dalam bentuk uang, waktu, atau tenaga.
Untuk menghindari sunk cost fallacy, bisa melakukan beberapa hal berikut:
1. Tetapkan tujuan yang jelas dan terukur: Di setiap keputusan, kita harus punya tujuan yang jelas dan terukur, sehingga ketika ada tanda-tanda jalan kita tidak mengarah ke sana, kita dapat segera melakukan penyesuaian.
2. Evaluasi objektif:
Lakukan evaluasi berkala untuk keputusan yang kita buat dan pertimbangkan manfaat (benefit) yang masih bisa diraih, bukan hanya biaya (cost) yang sudah dikeluarkan.
3. Pertimbangkan kesempatan yang hilang (opportunity cost):
 Selalu pikirkan tentang kesempatan atau alternatif lain yang mungkin lebih bermanfaat daripada melanjutkan investasi di suatu keputusan yang sudah jelas terus rugi.
4. Belajar menerima kegagalan:
Terima lah kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran.


Dengan memahami bagaimana sunk cost fallacy memengaruhi cara kita membuat keputusan, kita bisa melatih diri untuk lebih objektif serta berani mengambil langkah mundur dari situasi yang jelas merugikan kita, yang kemungkinan besarnya, tidak akan pernah bisa menjadi untung• Yang kita cari adalah pilihan terbaik, bukan pilihan telanjur:)

Prinsip Pareto mengatakan bahwa seringkali, secara garis besar, 80% hasil akan datang hanya dari 20% effort/ kerjaan yang kita lakukan. Hukum 80/20 ini adalah sebuah fenomena yang diamati oleh Vilfredo Pareto, seorang ekonom Italia, di tahun 1896. Pada waktu itu, ia melihat bahwa 80% tanah di taladmilk oleh 20% populasi sementara 20% tanaman di tanah yang ia miliki menghasilkan 80% hasil yang dipanen. la pun menyelidiki berbagai industri serta sektor lainnya, dan menemukan pola yang sama.
Charlie Munger, seorang investor terkenal dari Amerika, pernah berkata, "Kalau kamu memiliki sistem insentif yang bodoh, kamu pun akan mendapatkan hasil yang bodoh."
Kita akan mendapatkan apa yang kita insentifkan, kita tidak akan mendapatkan apa yang kita disinsentifkan.

Empati kognitif (cognitive empathy): memahami (pikiran, perasaan, emosi, dll) pihak lain.
Empati emosional (emotional empathy): ikut merasakan apa yang dirasakan pihak lain.
Empati belas kasih (compassionate empathy): memilih tindakan yang mengurangi penderitaan atau menambah kebahagiaan pihak lain.

Carlo M. Cipolla > “The Basic Laws of Human Stupidity” membagi orang ke dalam 4 kategori:
1. Orang Cerdas (Intelligent people): menguntungkan diri sendiri & orang lain.
2. Orang Bodoh (Stupid people): merugikan diri sendiri & orang lain.
3. Orang tak berdaya (Helpless people): merugikan diri sendiri, tapi menguntungkan orang lain.
4. Orang jahat (Bandits): menguntungkan diri sendiri, tapi merugikan orang lain.

Kenapa orang bodoh lebih bahaya dari orang jahat?
Karena orang jahat (yang tidak bodoh) lebih bisa diprediksi. Ketika tujuannya sudah jelas, yaknı menguntungkan dirinya sendiri, orang jahat akan bisa diprediksi langkah-langkahnya. la akan mengambil pilihan rasional yang mendekatkannya ke tujuan. Hal ini membuat pencegahan kejahatan lebih bisa dilakukan.
Ring 1
I trust you with my life
(Pasangan hidup/pacar/teman dekat)
Ring 2
Close friend but I don't trust you with my life
Ring 3
PDKT jadi teman dekat
Ring 4
Kita kerja bareng saja, tapi jangan temanan
Ring 5
Kita saling dukung tapi dari jauh (jauh banget)
Ring 6
Saling kenalan lebih jauh dulu sebelum ada apa-apa
Ring 7
Ya... coba deh jadi kenalan saja.
Di Luar Ring
Nggak dulu.


Kebahagiaan Hidup : bukan berada di akhir perjalanan/ perjalanan itu sendiri, melainkan pada proses belajar & bertumbuh dalam seni menavigasi hidup. Bisa juga pada rasa bangga yang dirasakan karena bisa menaklukan ombak & bertemu dengan orang-orang hebat. Termasuk ketika mampu menyenangkan yang berlayar bersama kita sampai akhir perjalanan.
Profile Image for Safira Azhiim.
40 reviews
March 24, 2025
buku self improvement yg menurutku mudah dipahami dan diikutin. cocok bgt buat kaum yg bimbang 24/7. buku ini bakal bantu kita buat navigate our goals dengan framework yg logis dan baik menurut kita sendiri ya (karna pov org lain blm tentu sm ky kita). buku ini bakal nemenin kita buat belajar mereduksi hal2 yg gapenting di hidup kita, kayak drama2 hidup (lagi2 yg menurut masing2 dari kita gapenting). buat yg bingung jalan hidupnya abis ini kemana, i highly recommend this book! selamat membaca🌻
Profile Image for Widhya.
18 reviews2 followers
July 6, 2025
Makanya, Mikir! positions itself as an accessible guide to critical thinking, a skill often misconstrued as the exclusive domain of academics. The book's central premise, which it largely succeeds in conveying, is that critical thinking is a universal, learnable competency essential for navigating daily life and achieving personal growth, moving beyond mere intellectual exercise to a practical survival skill. Here are my key takeaways from the book:

1. Strategic Goal Pursuit
The book introduces Clayton M. Christensen's framework of deliberate and emergent strategies for achieving significant life goals. The former involves meticulous, pre-planned execution, while the latter acknowledges the dynamic nature of reality, allowing for adaptive strategies that arise in response to unforeseen opportunities or challenges.

The Wejangan Abigail section particularly underscores the value of being presented with an abundance of options, even if confusing, over stagnation. This emphasizes the critical role of adaptability and continuous problem-solving in goal pursuit.

2. Navigating Reality
A core tenet of the book is the imperative to understand reality through two lenses:
- Mapping Cause & Effect: This involves identifying the underlying relationships that govern events, moving past superficial observations to understand root causes and potential consequences.
- Differentiating Reality from Preference: The ability to distinguish between objective truths (what is) and subjective desires or biases (what one wishes to be) is crucial for sound judgment. This discernment is presented as vital for filtering information and making decisions based on facts rather than emotional or pre-existing biases.

While the fundamental importance of this distinction is clear, the book's exposition, by design, might not delve into the cognitive biases (e.g. confirmation bias, anchoring effect) that frequently blur these lines. A more rigorous, perhaps less 'bahasa bayi' approach, could have provided a richer framework for readers to identify and counteract these pervasive mental traps.

3. The Scientific Mindset
The book champions a scientific mindset as foundational to critical thinking, articulating four key principles:
- Skepticism: A healthy questioning of claims and assumptions.
- Openness to Being Wrong & Correction: Prioritizing the pursuit of truth over egoistic self-validation, embracing the willingness to revise beliefs based on new evidence. This is arguably one of the most critical and empowering takeaways, fostering intellectual humility and continuous learning.
- Objectivity: Striving for impartial evaluation, minimizing personal bias.
- Evidence-Based Reasoning: Grounding conclusions in verifiable facts rather than unsubstantiated claims.

These principles are presented as vital tools for navigating an information-saturated world, serving as an antidote to misinformation and cognitive biases. The book's accessible presentation of these concepts is valuable, yet a more elaborate discussion on the practical application of these principles in complex, ambiguous real-world scenarios, where evidence is often incomplete or conflicting, might have offered greater depth.

4. Decision-Making Tools
Cost-Benefit Analysis (CBA) is introduced as a straightforward framework for weighing the pros against the cons of a decision. While its conceptual simplicity and the provision of case studies aim for immediate applicability, the inherent challenge lies in its execution for qualitatively complex decisions.

As noted, CBA can feel tricky when the benefits and costs are not easily quantifiable (e.g. ethical implications, emotional well-being, long-term societal impact). The book's simplified approach, while making the concept digestible, may not fully equip readers with strategies for robustly integrating non-monetary or intangible variables into the CBA framework.

5. Understanding Incentives & Disincentives
Drawing parallels to behavioral psychology (e.g. B.F. Skinner's principles), the book elucidates the power of incentives (factors encouraging behavior) and disincentives (factors discouraging behavior) in shaping actions.

The importance of recognizing these forces for personal goal attainment and influencing others is well-articulated. A crucial warning regarding the cobra effect—unintended negative consequences arising from poorly designed incentives—serves as a vital reminder for critical analysis. However, a deeper dive into the psychological intricacies of motivation, such as the distinction between intrinsic and extrinsic motivation and how over-reliance on external incentives can erode internal drive, might have provided a more comprehensive understanding beyond mere behavioral conditioning.

6. Understanding Human Interaction
The book likely discusses Carlo M. Cipolla's Matrix, which categorizes people based on the outcomes of their actions for themselves and others:
- Intelligent: Benefits both self and others.
- Stupid: Harms others without benefiting self (often harms self too).
- Helpless: Benefits others but harms self.
- Bandits: Benefits self but harms others.

While conceptually useful for understanding behavioral impacts, the concern arises that its application can become overtly judgmental and oversimplify human complexity. A more critical discussion could underscore the ethical pitfalls of rigid categorization and emphasize its utility as a framework for understanding dynamic interactions, not fixed personalities.

7. Critical Thinking as a Foundation for Authentic Love
The Wejangan Cania section presents a profoundly compelling argument that the capacity for genuine, profound love is intrinsically linked to the ability for clear, disciplined thought.

This challenges the common romanticized notion of love as solely an emotional phenomenon. By advocating that a systematic and logical mind can prevent one from becoming an emotional or practical burden, and instead enable strategic, effective efforts to nurture a relationship and genuinely bring happiness, the book elevates critical thinking to an ethical and relational virtue. It posits that love, to be truly great, requires not just feeling, but also responsible, considered action and the mental clarity to navigate its complexities.

While Makanya, Mikir! excels at making complex ideas accessible, I sometimes wished for a more comprehensive and 'well-written' exposition—less informal, more substantial. The simplified style, though effective for broad reach, occasionally felt like it skimmed the surface where deeper, more nuanced discussions could have profoundly enriched the material.

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for fiana.
5 reviews
July 14, 2025
"lo sadar, kan, masalah yang lo hadepin itu masalah yang seru? lo bingung karena terlalu banyak kesempatan dan pilihan. that's a good problem to have. I'd rather be lost in opportunities than stuck in a situation"

as early twenties + maba jujur aku relate bangett sama buku ini 😭. waktu semester 1 kemarin aku ngerasa energiku terkuras habis karena 'semuanya' aku ikutin. . . kepanitiaan ini, kepanitiaan itu, ukm ini, ukm itu, seminar ini, event itu 😮‍💨 tanpa pertimbangan yg matang. cuma mengandalkan lirik lagunya niki "in the end we only regret the chances we didn't take" n aku ayo-in aja semua kesempatan 😔🫰🏻. tapi setelah dipikir-pikir lagi, keputusanku buat ngikutin kegiatan-kegiatan itu ternyata ga seburuk itu kok. aku jadi bisa belajar dari situ biar kedepannya lebih pilih-pilih lagi. karena—kalo kata buku ini—ada cost yg harus dikorbanin (entah itu materi kayak uang, energi, maupun waktu).

thanks abby n cania yang udah bikin karya sekeren ini. pas baca buku ini aku jadi ngerasa lagi belajar penalaran bareng cania di zenius haha. bahasanya enak, font sama ilustrasinya eye-catching bgt, n contoh-contohnya juga up to date. pages 'rekap' helpful bgt buat ngingetin lagi bab ini/itu bahas apa. banyak tools kayak CBA terintegrasi n pareto yg sangat berguna untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari. pak prabowo sama mas gibran wajib baca buku ini sii 😁⭐️
Profile Image for Laily.
29 reviews
May 15, 2025
Mulanya kagok sama penulisan yang santai ala "thread" di X. Tapi lambat laun, seiring dengan topik materi yang makin berat, saya jadi bersyukur karena kak Abi dan kak Cania membungkus ini layaknya berbincang ringan.

Hal yang paling saya suka adalah ketika mereka seakan tahu betul di posisi mana pembaca berada—tidak ragu untuk berhenti sejenak karena sadar otak pembaca mulai panas :)

Saya jadi refleksi soal gaya penulisan orang-orang. Terkadang ada beberapa yang memilih untuk menjelaskan tanpa mau tahu sisi orang yang dijelaskan, alhasil kata-kata yang digunakan terasa"ndakik-ndakik" dan tidak membentuk pemahaman yang baik.

Terakhir, buat kalian yang masih bingung mau baca atau nggak: bacalah, lalu kalian akan segera tahu betapa besar investasi dari meluangkan waktu membaca ini untuk hidup kalian ♥️
9 reviews1 follower
July 7, 2025
Eye opening. Written in Indonesian, and I admired how they can communicate well in this book using Indonesian. I think this book is timeless. It can help young adults or old adults (lol) to sanity check their mind. Constant reminder of what we have known and the unknown. Favorite quotes: “Bedakan mana yang bodoh dan mana yang beneran berniat jahat.”
2 reviews
February 3, 2026
Recently, this book has been quite popular on social media, especially because both authors are active content creators with many followers. Combined with its positive ratings, it made me curious to read it.

After finishing the book, I found it interesting because it provides practical thinking frameworks that can be applied in daily life. It helps readers distinguish between reality and preference, and encourages a more systematic way of thinking when making decisions.

This book is suitable for readers who tend to overthink, feel uncertain when making choices, or want to become more rational without losing empathy.

My Personal Notes
1. Internal vs External Factors
This book reminds me that success is influenced by both internal and external factors. While external factors are mostly outside my control, internal factors such as mindset, effort, skills, and consistency are fully mine to manage. Since I cannot control external conditions, the best approach is to maximize what I can improve within myself, which is also the main focus of this book.

2. The Importance of Clear Goals
Having clear goals is essential because whether a decision is good or bad, effective or ineffective, profitable or unprofitable depends on the goal I want to achieve. Everything depends on context and purpose. Goals become the foundation that guides my thinking and directs the decisions I should take.

3. Herzberg’s Theory (Hygiene & Motivation)
This book explains that the opposite of hate is not love, but “not hating,” which relates to hygiene factors. Likewise, the opposite of love is not hate, but “not loving,” which relates to motivation factors. Some elements only prevent dissatisfaction, while real motivation comes from deeper sources.

4. Deliberate vs Emergent Strategy
To pursue my goals, there are two main strategies. Deliberate strategy means planning from the beginning and executing step by step. Emergent strategy means adjusting and developing plans along the way based on new situations.

5. Reality vs Preference in Decision-Making
Making the right decision requires accurate reasoning and reliable information. This book emphasizes the importance of distinguishing between objective reality and personal preferences. Many mistakes happen when I confuse what I want with what is actually true.

6. Scientific Thinking Process
The scientific mindset involves observing situations, forming hypotheses, testing them through experiments, analyzing data, and drawing conclusions. This process can be applied to daily life to avoid assumptions and encourage continuous learning.

7. Object-Oriented Principle (Perspective Matters)
Profit and loss are determined by personal goals, needs, and desires, not by other people’s standards. What seems beneficial to others may not be beneficial to me. Therefore, decisions should be evaluated based on my own objectives rather than social pressure.

8. Cost-Benefit Analysis (CBA)
Every decision involves both costs and benefits. A good decision is one that produces more benefits than costs. This concept works together with the object-oriented principle to ensure that choices align with personal goals.

9. Threshold, Value, and Probability
For complex decisions, cost-benefit analysis can be combined with thresholds to narrow down options. After that, each variable can be assigned a value based on importance. Probability is also needed to measure uncertainty, since some costs or benefits may not actually happen. Together, these factors help make decisions more structured.

10. Prioritization Methods
To determine priorities, methods such as the Eisenhower Matrix and the Pareto Principle can be used. These tools help me focus on what truly matters instead of being busy with low-impact tasks.

11. Intelligence, Incentives, and Empathy
The book discusses that being intelligent is not enough if someone is unpleasant to work with. Understanding human self-interest, incentives, and disincentives can help influence behavior. However, this must be balanced with empathy to avoid manipulation.

12. Understanding Human Behavior (Cipolla’s Model)
This model helps distinguish between harmful and unproductive behavior. It provides insight into how certain people’s actions can negatively affect themselves and others, which can be useful when making decisions.

13. Cost & Benefit Are Personal
Cost and benefit are subjective and differ from person to person. When applying decision-making frameworks, it is important to use the perspective of the person involved, not my own. This connects closely with the importance of empathy.

14. Choosing the Right People
The book concludes by emphasizing how crucial it is to choose the right people, especially those involved in achieving goals. Character, values, and competence should be carefully considered, as they strongly influence long-term success.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Anggun  Mita Kusumawardani .
13 reviews
February 1, 2025
Sewaktu Cania dan Abigail mengumumkan akan menerbitkan buku, awalnya kupikir bukunya berbentuk esai dengan topik tertentu. Ternyata self improvement. Buku ini kubeli waktu acara launching. Kulihat beberapa orang agak bingung antara melihat suasana waktu launching atau membaca sekilas bukunya. Tidak semua sih, karena yang pre order masih belum datang bukunya. Saat membaca buku ini aku teringat pesan salah satu sahabatku, katanya,”Membaca buku yang pertama adalah untuk menolong diri sendiri.” Buku ini sebenarnya bertujuan untuk iru pertama kalinya, dan selanjutnya adalah untuk menolong orang lain.
Aku mengikuti konten Cania sekitar tahun 2018. Sebenarnya yang disampaikan Cania dan Abigail di konten-konten mereka, Cania utamanya sudah sering disebutkan. Namun dalam buku ini lebih terdokumentasi dan terkonsep. Banyak ilustrasi yang sangat membantu untuk lebih mudah mencerna yang dijelaskan dalam buku.
Terdapat 7 bab dalam buku ini. Pada Bab 1 sampai Bab 5 kubaca dalam waktu cukup 2 jam saja (sekitar 100 halaman). Bab 5 adalah Cost-Benefit-Analysis yang membahas tentang bagaimana framework berpikir dengan cara memetakan pilihan yang ada supaya mendapat pilihan yang terbaik, tentunya rumus ini tidak baku. Banyak ilustrasi contoh kasus sehingga penjelasan mudah dicerna.
Pada Bab 6 dalam judul Sesat Pikir dan Bias dalam Pengambilan Keputusan terdapat beberapa bias yakni:
1. Survivor Bias
2. Ostrich Bias
3. Hasty Generalisation
4. Causation Fallacy
5. False Dichotomy
6. False Comparison
7. Kesalahan Menakar Peluang
8. Sunk Cost Fallacy

Kedelapan istilah dalam sesat pikir tersebut cukup sering kutemui di kehidupan sehari-hari. Tentunya untuk pelan-pelan merubah kebiasaan butuh waktu. Buku ini cukup membantuku untuk memperbaiki bias dan sesat pikirku.
Bagian terdahsyat menurutku adalah 7 Rings Of Relationship. Bagian ini merupakan penegasan bagiku jika dalam memilih hubungan apapun, lebih baik dipertimbangkan. Bahkan di booklet edisi khusus 10 Momen Bodoh Cania& Abigail pada momen ke 5 yakni “Inner Circle” dan momen ke 8 yakni “Memilih Teman Hanya Berdasarkan Rasa Sefrekuensi” juga disinggung. Sepenting itulah lingkungan pergaulan mempengaruhi hidup. Cania dan Abigail memberi istilah “Ring”. Ring 1 sampai ring 7. Ada penjelasan juga tentang nilai, karakter, dan kompetensi masing-masing “ring” nya.
Buku ini adalah sebuah panduan, seperti penjelasan pada judul. Belum cukup dibaca sekali. Buku ini harus diresume ulang, dipetakan ulang pilihan hidup, disesuaikan dengan yang sudah dijelaskan serta dipraktekkan. Dengan begitu maka kupikir tujuan Cania dan Abigail menulis buku untuk membuat hidup kita lebih bahagia akan tercapai.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,972 followers
January 23, 2025
"Mending aku nikah dulu atau lanjut sekolah dulu, guys?"--ragam pertanyaan seperti ini sudah sangat lumrah ada di Twitter.

Yang menjawab pun juga bermacam-macam. Ada yang menggunakan pendekatan empatik, ada juga yang memaksakan standar hidup & value-nya.

Pertanyaan semacam itu, juga DM yang kerap diterima oleh kedua penulis menjadi pemantik mereka untuk menyusun Makanya, Mikir! Di dalamnya ada alat bantu dan kan kerangka berpikir yang bisa dimaksimalkan untuk pengambilan keputusan.

Contohnya saja terkait Cost-Benefit Analysis, Peluang, dan Value. Juga tidak lupa, penulis mengingatkan pembaca untuk tetap punya empati dan perasaan.

Dalam proses membacanya, aku cukup kesulitan. Mungkin karena aku nggak biasa mendengar intonasi bicara para penulis sehingga bahasa tulisan-semi lisan mereka terasa aneh untuk ku simak.

Awalnya aku agak lama mencerna. Mungkin karena di kepalaku, akan lebih mudah jika dijelaskan menggunakan pendekatan matematika 😅 Tapi begitu get the idea, selanjutnya terasa lebih enteng.

Buat pembaca yang sudah terbiasa dengan teori-teori bias berpikir atau logical fallacy mungkin bisa membacanya dengan lebih mudah. Bagi yang belum, nggak apa! Buku ini memang untuk dicerna pelan-pelan supaya ilmunya lebih nempel & bisa dipraktikkan.

Makanya, Mikir! bagiku seperti buku pelengkap untuk mereka yang ingin menavigasi usia 20an dengan lebih terarah.

Dari buku-buku Pear Press, aku mengusulkan urutan sbb:

1. "You Do You: Discovering Live Through Experiments and Self-Awareness" untuk memberikan pengetahuan & wawasan, membantu bagaimana caranya membentuk "Peta Realitas"--ini dibahas di buku Makanya, Mikir!
2. "Menjadi: Seni Membangun Kesadaran tentang Diri dan Sekitar" untuk mengecek kembali apa betul informasi yang didapat bisa dianggap "Peta Realias" atau hanya sekadar preferensi

Ketika kedua buku itu sudah dipahami dengan baik, rasanya pemggodokan informasi menggunakan alat bantu dalam Makanya, Mikir! bisa dilakukan.

Jadi, siapa yang perlu membaca buku ini? Siapa pun yang ingin belajar mengambil keputusan hidup dengan lebih bijak 😇
Profile Image for Bivisyani Questibrilia.
Author 1 book23 followers
January 11, 2026
Buku yang tepat untuk memulai tahun baru!

Awalnya kupikir buku ini akan membahas tentang pola pikir orang Indonesia yang salah dan memberikan koreksi terhadap pola pikir tersebut. Semacam buku yang melakukan mythbusting gitu lah. Tapi ternyata aku salah: buku ini memberikan ulasan dan bimbingan menyeluruh dan mudah dimengerti untuk membantu siapa saja berpikir secara kritis dan analitis, bukannya terburu-buru mengambil keputusan.

Jujur saja, aku adalah salah satu dari orang-orang yang mungkin merasa pola pikir dan caranya mengambil keputusan sudah tepat. Tapi aku bertekad untuk membaca buku ini dengan pikiran terbuka, terutama sejak mengalami hal yang aku alami di kehidupan pribadiku beberapa bulan belakangan. Dan memang, setelah mulai membaca buku ini, ternyata memang pola pikirku dan caraku mengambil keputusan sudah di jalan yang benar, meskipun tentu masih bisa dikembangkan lagi.

Buku ini benar-benar menjelaskan proses menganalisis dan mengambil keputusan dengan sangat luwes dan mudah dimengerti. Mungkin memang cara berpikirku sudah tepat, begitu pula dengan perjalananku untuk mencapai keputusan yang aku ambil—tapi buku ini bisa menjabarkannya dengan baik, sehingga aku juga jadi paham sebetulnya apa pertimbangan yang aku ambil dan bagaimana aku bisa sampai ke keputusan yang telah aku ambil.

Salah satu hal yang membantu adalah adanya ilustrasi dan diagram yang menghiasi buku ini, dibantu juga dengan layout bukunya yang menarik, sehingga membuat bahasannya jadi menarik dan tidak membosankan. Abigal dan Cania juga menyediakan berbagai kolom yang memudahkan kita untuk mempraktikkan apa yang mereka ajarkan dengan situasi nyata yang sedang atau sudah kita alami.

Yang menarik, framework ini diperuntukkan bukan hanya untuk pemikiran ilmiah atau akademis, melainkan juga bisa diaplikasikan dalam hubungan sosial dan pribadi. Karena, bagaimanapun juga, kita harus berpikir di berbagai situasi hidup kita.

Aku sangat merekomendasikan buku ini kepada siapapun yang suka merasa kesulitan mengambil keputusan—seperti aku—dan/atau sedang berada dalam persimpangan hidup untuk mengambil keputusan yang penting.
Profile Image for Harum IP.
87 reviews
June 18, 2025
sepertinya, aku salah sangka.

beberapa waktu lalu, aku bikin podcast yg ngomongin soal pengen beli buku ini. semula kukira (berdasarkan konten-konten promosi ttg buku ini) cara mengambil manfaat dari buku ini adalah dgn memilih salah satu 'perkakas'-nya dari apa yg tertera di daftar isi, lalu tutup yg sekiranya 'belum penting'.

ternyata, aku salah besar (eh, besar atau kecil ya? hehe).

buku ini menawarkan pengalaman membaca yg terstruktur (read: harus baca secara urut). mulai dari penjelasan yg mendasari terbentuknya buku ini, lalu diajak pelan-pelan menyusuri pentingnya memiliki tujuan hidup, merumuskannya menggunakan kerangka berpikir yg "bener" (membedakan ranah realitas dan preferensi, kenalan sama konsep cost-benefit analysis, trio threshold - value - probability, dan tak lupa pembahasan ttg bias-bias / logical fallacy yg mesti diperhatikan, dll).

setelah 'dilatih' membangun kesadaran diri lewat aktivitas berpikir, duo kakak penulis jg menyantumkan bagaimana kecerdasan sosial jg penting untuk dipelajari. di sinilah letak keunikan dari buku ini (in my opinion). sebab, dalam perjalanan meraih tujuan hidup, ada kalanya kita akan bersinggungan (atau bahkan berkolaborasi?) dgn orang lain. nah, tentu kita perlu melatih skill sosial (e.g empati) agar tercipta kondisi yg menunjang tercapainya goals dan ngga jadi si "pinter yg nyebelin", hehehe.

selain isinya yg "daging banget", aku jg suka ilustrasi & moodboard-nya!

kombinasi merah-hitam-putih-nya itu lho, gong bgt! *chef kiss*

overall, buku ini cocok buat siapa aja yg lagi butuh menata hidupnya, wabil khusus sesama kaum hawa yg sering "kewalahan" dgn dominasi perasaannya. yuk, mulai mikir yuk, jgn pakai hati terus bisa kali ah~ :)

4/5 ⭐⭐⭐⭐
Profile Image for Niken Vintang Erdwiyana.
1 review
January 22, 2026
Buku Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria ditulis dengan bahasa yang ringan dan mengalir, seperti sebuah percakapan. Namun di balik kesederhanaannya, buku ini memuat pembahasan yang dalam tentang cara berpikir dan kerangka pengambilan keputusan dalam kehidupan.

Saya sering berada di posisi di mana orang-orang; bahkan yang tidak terlalu dekat, bertanya mengenai pilihan hidup mereka: “Saya sebaiknya memilih yang ini atau yang itu?” Dan kerap kali, jawabannya memang tidak hitam-putih. Setiap keputusan selalu bergantung pada prioritas dan situasi yang dihadapi masing-masing individu.

Melalui buku ini, Cania dan Abigail mengajak pembaca untuk memahami bahwa kualitas keputusan tidak hanya ditentukan oleh benar atau salah, melainkan oleh kejernihan berpikir. Dengan membedakan ranah realitas dan ranah preferensi, kita dapat mengurangi perdebatan kusir. Lalu buku ini juga mengajari kita untuk membangun empati yang lebih tepat sasaran.

Buku ini juga menyinggung relasi antarmanusia, termasuk konsep seven rings of relationship, serta mengajak pembaca menjadi pribadi yang cerdas; bukan yang tidak berdaya, apalagi yang menyakiti orang lain. Karena pada akhirnya, kepintaran tanpa kebijaksanaan hanya akan menjauhkan kita dari sesama.

Kekuatan utama buku ini terletak pada cara penyampaiannya. Berbagai framework seperti Eisenhower Matrix, Pareto, kesalahan berpikir, dan pola pengambilan keputusan dijelaskan secara bertahap: dari yang paling sederhana hingga yang lebih kompleks, dengan bahasa yang sangat mudah dipahami.

Bagi saya, Makanya, Mikir! adalah bacaan yang relevan untuk dibaca di masa dewasa ini untuk membantu kita berpikir dengan lebih jernih sebelum melangkah.
Profile Image for cloudy.
3 reviews
September 23, 2025
Buku ini bikin aku lebih sadar kalau goals hidup itu sebenarnya memang lebih banyak dipengaruhi faktor internal daripada eksternal. Setiap orang punya life goals yang beda2, jadi keputusan kita ya pasti punya arah masing2. Tapi hanya dengan tau tujuan dan kebutuhan kita bukan berarti langsung bikin kita otomatis bahagia. Pertanyaannya: tujuan itu realistis atau idealis? Karena kuncinya justru ada di balance tentang gimana caranya tetap idealis biar kita semangat berkembang, tapi juga realistis supaya kebutuhan hidup kita tetep bisa kecukupan.

Kalau kita belum nemu “big goals” hidup, kita nggak harus buru2 langsung serius pake strategi Deliberate yang super terencana (oke gas kejar). Bisa mulai dari strategi Emergent. Coba-coba dulu, ambil kesempatan yang ada, buka diri sama hal2 baru. Dari eksperimen coba2 itulah kita bisa makin kenal diri sendiri. Dan bahkan buat yang udah punya tujuan jelas, tetap jangan nutup diri. Bisa jadi ada jalan lain yang lebih cocok dari yang kita kira? Hal yang sering bikin orang bingung justru banyaknya pilihan. Tapi kalau dipikir2 lagi, justru itu problem yang sebenernya bagus. Mendingan bingung karena kebanyakan peluang daripada stuck nggak ada opsi kan?

Yang paling aku dapet dari buku ini sih tentang pentingnya bikin “peta realitas” biar kita nggak salah arah. Peta itu harus dibangun dengan logika yang waras, jadi tiap keputusan nyambung sama konsekuensinya. Dan kerennya, buku ini kasih kerangka berpikir yang super sistematis. Bahkan sampai ada rumusnya! Personally buku ini jujurly sangat insightful, karena bikin aku lebih mikir dua kali sebelum ambil keputusan, sekecil apapun.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Aidah Zahrah Nurrahmah.
23 reviews1 follower
December 2, 2025
WKWKWK BUKUNYA ENGAGING MAKSIMAL! Heyyy teman-temankuuu, plis ini helpful sekaliii untuk menavigasi kebingungan di persimpangan hidup yang semisal, “aduh, aku mending pilih kerja dulu, bisnis dulu, atau S2 dulu ya?” Terkupas juga kalau mau solving pilihan krusial lainnya, kayak pemilihan jurusan, nentuin pembelian tempat tinggal, atau mana orang yang tepat buat diajak nikah (wkwk serius bisa dijawab pake buku ini!). Say no to quarter life crisis! 😭👌🏻

Real seperti judul yang ‘ditodong untuk mikir’, pas baca tuh makin kebelakang memang makin kita beneran dipaksa ovt, tapi ovt yang bermutu dan ‘pasti menemukan ujung’ karena dikasih selengkap itu 101 framework secara ilmiah buat menuntaskan gimana cara keluar dari pertanyaan yang frekuensi munculnya paling tinggi dari umat manusia: “mending ini atau itu?”

Disini aku jadi belajar bedain mengkategorikan suatu input (misal informasi) ke ranah realitas atau ranah preferensi, prinsip objective-oriented, cost benefit analysis (CBA), bahkan lebih jauh lagi mix CBA + step threshold, value, dan probabilitas… hingga sejauh… integrasi CBA + teori Cipolla. Nggak cukup disitu, aku kenalan juga sama beragam logical fallacy/bias dalam berpikir yang seruuu bingbing HUHEH! ✊🏻

At the end, muara buku ini ngebantu membentuk kemampuan proses berpikir kita supaya ga ngaco (hanya by feeling atau cerobohnya malah jadi orang konformis untuk hal penting yang beresiko fatal), lebih berempati (karena buah pikiran kita akan dirasakan orang lain juga!) dan menghasilkan keputusan jernih nan cerdas dibarengi rasa down to earth alias tidak serta-merta menganggap diri jadi yang paling pintar.
Beyond than worth to read! 🌟
2 reviews
January 7, 2026
Mengawali 2026 dengan buku yang sudah masuk reading list sejak akhir tahun lalu. Judulnya-kalau kita baca pakai nada cewe baca chat yang ada intonasinya-sekilas terdengar sedikit nyolot dan ngenye. Tapi, justru ini bagian menariknya. Sejak awal kita sebagai pembaca udah diajak dan disentil untuk penasaran.

Ini apaan sih? Emangnya isinya gimana? Udah umur segini harus mikir dengan cara apa lagi?

Sepanjang baca buku ini, bahkan dari bab awal udah ngerasa asik sendiri. Vibesnya kayak lagi nonton youtube tapi dibaca. Penulisannya kasual, cenderung kayak ngobrol. Pemilihan katanya mudah buat dicerna padahal referencesnya buku-buku berat. So far, ini jadi buku non-fiksi pertama yang selesai aku baca kurang dari seminggu.

Selain pemilihan bahasa yang ringan, part yang bikin asik dan anti ngantuk tuh karena di sini ada macam-macam ilustrasi, grafik, tabel, sampai exercise yang bikin pembaca beneran diajak seru-seruan. Belum lagi banyak case study yang relate sama kehidupan gen z sebagai warga negara dan netizen sosmed. Interaktif dan informatifnya dapet banget deh.

Kalau dari rate usia yang tercantum sih 16+ ya, bisalah temen-temen yang masih SMA buat lirik buku ini. Karena, jujur aja kalau bisa nerapin 'tata cara berpikir yang bikin kita untung' sedini mungkin, bakalan bermanfaat banget buat kedepannya.

Cuma kalau aku pribadi, rasanya waktu aku 16 tahun, aku belum bisa nangkap ini bukunya tentang apa meski udah sesederhana itu jelasinnya. Jadi, ada beberapa bagian yang memang bahasanya cukup akademis. Tapi tenang, selalu ada penjelasannya dulu di awal bab biar makin banyak baca makin paham, bukan makin bingung.

Kata aku sih, ayo ikut baca guys ini buku keren banget
6 reviews
July 21, 2025
As an overthinker dan labil akut survivor, buku ini bener-bener membantu untuk merapikan isi otak yang rasanya asjxsjncjdsijncdejn. Mulai dari cara menentukan tujuan hidup, kerangka dan pola berpikir terhadap hal-hal yang ada disekitar kita, bahkan teori analisis hingga contoh-contoh nyata yang makin dibaca, makin ngomong "iya lagi" "iya banget lagi" "sumpah iya". Buku ini mengajak pembacanya untuk evaluasi diri dan berbenah pikiran yang ruwet dengan gaya penulisan yang ringan seakan-akan lagi ngobrol. BELUM LAGI ILUSTRASI NYA YANG KEREN-KEREN AMAT yang somehow sangat-sangat menggambarkan pesan yang lagi disampaikan penulis di setiap bagiannya. Panduan-panduan yang ditawarkan penulis di buku ini juga sangat practical yang membuat pembaca bisa merefleksikan setiap keputusan yang telah diambil sebelumnya atau bahkan keputusan yang sedang akan diambil. Rasanya kalau lagi labil atau galau karena suatu hal, jadi pengen langsung ambil kertas dan pena untuk membuat kerangka berpikirnya. Bukan cuman lebih mengenal dan mengulik diri sendiri, buku ini juga menekankan pentingnya peran orang-orang disekitar kita yang secara sadar ataupun tidak sadar, mau tidak mau, berpengaruh terhadap kehidupan kita. Bisa dikatakan buku ini paket lengkap untuk kita yang punya banyak pertanyaan dalam hidup, bukan sebagai kunci jawaban, tetapi sebagai panduan menemukan jawaban yang kita butuhkan.
Profile Image for ReByf.
21 reviews
January 5, 2026
Buku ini bagus untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada semua orang. Mungkin bagus juga jika buku ini mulai dibaca pada masa remaja sehingga pemikiran kita sudah mulai terbentuk pada masa remaja. Buku ini memiliki kelebihan dalam penggunaan bahasa yang lebih mudah dipahami dan sesuai dengan generasi sekarang. Contoh yang diberikan juga berkaitan dengan sehari-hari yang masih dapat kita temui dan dapat kita bayangkan. Penulis juga memberikan banyak ilustrasi, tabel yang mempermudah pembaca untuk memahami teori yang diberikan. Istilah-istilah yang masih asing di telinga awam dijelaskan kembali dengan bahasa dari penulis.

Buku ini masih memiliki kekurangan di bagian contoh yang terkadang masih terlalu banyak sehingga membuat kesan bertele-tele, disini saya paham bahwa penulis ingin memberikan pemahaman yang sejelas0-jelasnya bagi pembaca, namun alangkah baiknya untuk memberikan contoh yang lebih efektif. Kemudian ada beberapa contoh yang masih sulit untuk dipahami berdasarkan pembahasan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Jadi contoh ini terkesan berbeda dengan yang dibahas, padahal hanya sulit dimengerti saja. Kemudian ada beberapa saja contoh yang masih menghayal bagi saya seorang pembaca, mungkin ini dipengaruhi oleh studi kasus itu belum pernah pembaca temui di kehidupan sehari-hari.
Displaying 1 - 30 of 125 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.