Gemeente Huis (Balai Kota) Bandung adalah salah satu bangunan bernilai sejarah dan memiliki nilai arsitektur klasik yang tinggi di Kota Bandung pada masanya. Sebelum dibangun menjadi Gemeente Huis, konon, merupakan gudang kopi milik Asisten Residen wilayah Priangan pada waktu itu. Dulu Taman Merdeka (Taman Dewi Sartika) yang berada di dalam kompleks perkantoran Pemerintah Kota Bandung sekarang sudah merupakan kebun yang asri dengan pepohonan rindang yang banyak dikunjungi warga kota untuk berekreasi. Bukan hanya sejarah bangunan dan pemerintahan Kota Bandung yang dikaji dalam buku Gemeente Huis ini, melainkan juga sejarah keberadaan sejumlah bangunan di seputar Gemeente Huis dan situasi lingkungannya pada waktu itu serta kondisinya dewasa ini.
Sebagai orang (yang lahir, bersekolah, ber-KTP, dan seterusnya di Kodya) Bandung, saya merasa lumayan akrab dengan kawasan balai kota dan sekitarnya. Tempat ini ada juga yang menyebutnya dengan Taman Badak Putih serta Taman Dewi Sartika, sebab ada patung keduanya di sana. Sebetulnya, baru sejak masa kuliah, ketika ada teman SMP yang mengusulkan untuk piknik di sana--dia menyebutnya dengan Taman Dewi Sartika--saya menyadari bahwa itu memang tempat yang bagus untuk dijadikan titik kumpul. Sejak itu, berkali-kali lagi saya berkumpul di sana baik dengan teman maupun bersama komunitas. Tambah akrab ketika untuk keperluan skripsi--mengurus izin dan mencari data--saya harus bolak-balik luntang-lantung ke sana. Masjid Al-Ukhuwwah yang berada di seberangnya pun jadi persinggahan yang sejuk untuk salat. Kemudian, saya harus ke Polwiltabes di sisi yang lain untuk membuat SKCK. Belum lagi, tak jauh amat dari situ ada BIP dan Braga (khususnya Landmark) yang kalau kedua tempat itu mah sudah saya akrabi sedari kecil tapi tidak tercakup dalam buku ini.
Oh, di Taman Balai Kota ini juga saya pernah menemui pemandangan mesum yang sekarang saya sudah bosan menceritakannya. Hanya peringatan bagi kaum perempuan baik di jalan maupun di tempat umum, sekalipun sudah berpakaian tertutup, tetap saja jadi sasaran laki-laki yang tidak punya penyaluran lain apa ya.
Alur buku ini dimulai dengan menceritakan sejarah pembukaan Kota Bandung, yang memunculkan kebutuhan akan Gemeente Huis (selanjutnya GH) atau kantor pemerintahan kota, lalu merembet ke Jalan Kebon Radja yang memisahkan antara GH dan taman di belakang atau depannya (karena bangunan awalnya menghadap ke Jalan Aceh kemudian beralih ke jalan Kebon Radja), pembuatan taman hingga menjadi satu komplek dengan kantor balai kota, sampai keterangan mengenai bangunan-bangunan yang mengelilingi komplek ini. Semua dilengkapi dengan foto-foto perkembangannya dari masa Hindia Belanda ke dekade-dekade belakangan. Buku ini bisa jadi referensi kalau mau mengarang cerita dengan latar Kota Bandung zaman dahulu, misal si tokoh ada janji kencan di Taman Balai Kota tapi malah diganggu waria~
Buku ini sangat padat sekali dengan informasi. Siapa sangka sejarah dibukanya Bandung persis dengan Australia, yaitu dahulu merupakan pembuangan orang-orang jahat dan salah. Ternyata tempat itu malah menjadi "surga" karena sumber daya alam yang melimpah dapat mereka manfaatkan untuk berusaha. Takjub mengetahui bahwa sebelumnya wilayah ini hanya dapat dimasuki melalui sungai (Citarum dan Cimanuk), masih berupa hutan lebat yang dihuni badak dan harimau, serta banyak tergenang air (danau, rawa, situ, lahan berpaya-paya). Hingga Daendels menginisiasi Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang menewaskan ratusan ribu jiwa pribumi pekerjanya itu. Daendels menghendaki dibangun kota di titik yang akan dilewati jalan tersebut. Alih-alih, bupati ketika itu yakni Wiranatakusumah II menggunakan cara tradisional untuk menentukan titik awal pembangunan kota; bukan titik yang ditunjuk Daendels, melainkan area lain yang tak jauh dari situ yaitu tempat berkubangnya badak putih yang miring ke selatan. Cerita ini sepertinya sudah saya temui di buku Haryoto Kunto, Semerbak Bunga di Bandung Raya. Begitu pula dengan gagasan pembangunan kota yang mengacu pada konsep "kota taman" seperti di negara-negara Eropa, maka taman di belakang/depan bangunan GH itu pun menjadi yang tertua dan pertama di Kota Bandung (Pieter Sijthoffpark, 1885). Taman ini kemudian jadi tempat flexing mobil mewah para pengusaha kebun di Priangan.
Kalau di buku Pak Sudarsono Katam lainnya yang saya sudah baca yaitu Tjitaroemplein: Dari Kantor Pos, Monumen Radio Malabar, sampai Masjid Istiqamah, ada pengetahuan mengenai teknik elektro, di buku ini ada tentang arsitektur bangunan sekalian dengan lanskapnya. Disebutkan nama-nama tanaman pengisi seperti pohon karet, kenari, kihujan, dan kiangsret atau sepatu dewa. Seperti di buku Tjitaroemplein pula, di buku ini tersisip cerita-cerita yang jangan-jangan adalah kenangan pribadi penulisnya, misal bagaimana bunga dan buah sepatu dewa itu dijadikan mainan oleh anak-anak '50-an. Ada juga pertemuan dengan orang Dayak asli di Braga Festival yang pernah diadakan di taman itu, serta perjumpaan dengan para waria Kebon Radja yang kemudian berpindah-pindah tongkrongan sampai akhirnya ke Taman Maluku.
Buku ini dibahas di Klub Buku Laswi pada 11 September 2024. Tercetus isu-isu mengenai ruang publik khususnya ruang terbuka hijau, tempat masyarakat semestinya boleh leluasa beraktivitas. Namun kemudian terjadi pembatasan dengan didirikannya pagar-pagar tinggi yang dijaga satpam, membuat orang segan untuk masuk. Terlepas dari bagaimana semestinya peran pemerintah, masyarakat sendiri tampak mempunyai andil sebab ada yang memanfaatkan taman secara tidak bertanggung jawab, semisal membuang sampah sembarangan, merusak fasilitas, dan berbuat mesum. Ruang publik seperti taman seyogianya dimanfaatkan dan dipelihara bersama-sama oleh seluruh warga, tapi pagar tinggi menunjukkan adanya rasa tidak aman. Rasa tidak aman dari siapa? Masyarakat? Seakan-akan segenap masyarakat disamakan dengan sampah, yang kalau dibiarkan masuk ke taman bakal secara otomatis mengotorinya.
Saya sendiri sudah bertahun-tahun tidak mengunjungi taman-taman termasuk yang itu. Hanya buku ini mengingatkan pada Semerbak Bunga di Bandung Raya, yang bisa dijadikan sarana edukasi masyarakat tentang ruang terbuka hijau, sepetak alam yang tersisa di sela-sela kepadatan dan kekumuhan Kota Bandung. Namun buku ini selain sangat langka juga sangat tebal sehingga orang pada umumnya mungkin bakal enggan membacanya, padahal di dalamnya terkandung kekayaan pengetahuan yang siapa tahu saja dengan cara penyampaian yang menarik (misalnya sambil jalan-jalan mengunjungi tempat yang disebutkan, serta mengamati tumbuh-tumbuhannya) dapat membuat warga Kota Bandung lebih menghargai sepetak alam yang dimiliki bersama. Memelihara alam toh bukan cuma tanggung jawab petugas konservasi di pedalaman saja, biarpun yang kita punya hanya sepetak. Buku Pak Sudarsono Katam yang hanya 140 halaman ini (sudah termasuk kover di Ipusnas) boleh dibilang versi terfokus lagi ringkas dari buku Pak Haryoto Kunto itu, malah tidak hanya mencakup soal taman tetapi juga bangunan-bangunan bersejarah di sekitarnya--paket lengkap apresiasi alam dan perkembangan kebudayaan manusia.
Buku sejarah terkadang kurang peminatnya karena dianggap berisi sesuatu yang berat dan rumit. Namun penulis buku ini berhasil memadatkan materinya menjadi beberapa bagian yang masing-masing dikemas dengan bahasa yang ringan namun tetap informatif. Kawasan di sekitar Balaikota Bandung saat ini beberapa lokasi sudah berubah. Meski dikategorikan sebagai cagar budaya, masihh ada yang membangun semaunya saja. Tidak perlu jauh-jauh, sekarang tatkala berdiri di depan gedung Balaikota ada pemandangan yang mengganggu visual gedung itu sendiri, di belakangnya kita bisa melihat gedung modern tinggi menjulang yang karakternya amat kontras. Begitupula latar belakang katedral yang bernasib serupa. Mungkin banyak yang tidak peduli akan hal ini dan sebagian menganggap perpaduan modern dan sejarah, namun ini tidak sama dengan halnya bahkan dengan Museum Louvre, Perancis. Dengan hadirnya buku sejarah ini akan mengingatkan kita tentang pentingnya menghargai karya arsitektur masa lampau.
Untuk pegiat sejarah dan senang jalan-jalan dan nongkrong-nongkrong sekitar Balai Kota Bandung, buku ini bakal lebih asik dibaca sambil napak tilas bangunan yang semapat ada, dialih fungsi dan telah tiada.
Baca ini supaya semakin afdol kalau disuruh jadi tour guide keliling Bandung, hehe.
Sangat menarik membaca sejarah Gemeente Huis (Balai Kota) Bandung dari zaman masih dimiliki juragan kebun kopi sampai sekarang. Juga dilengkapi dengan sejarah singkat Kota Bandung, serta bangunan-bangunan lain di sekitar Balai Kota. Akan menarik kalau buku ini dibuat versi "mutakhir"-nya, dengan menyertakan perubahan-perubahan lain di Balai Kota semasa kepemimpinan Ridwan Kamil (yang kayaknya sih jauh lebih banyak dibandingkan dengan masa jabatan pendahulunya).
Sayang banget, foto-foto Gemeente Huis zaman dulu dan sekitar tahun 2010, yang terkadang dipasang sebelahan untuk perbandingan, sama-sama hitam putih jadi berasa lawas dua-duanya. Tapi nggak apa-apa, setidaknya saya jadi punya banyak "bahan" baru kalau nanti "ditanggap" jadi tour guide lagi, hehe.
Hal random lain yang saya sadari setelah membaca buku ini : kabel listrik di Kota Bandung (juga yang di sekitar Gemeente Huis) itu semrawut dan ganggu banget kalau mau foto bangunan...
Di buku ini Gemente Huis (Balaikota) Bandung dibahas secara ringkas namun padat dan informatif, mulai dari pemilik tanah/bangunan pertamanya merupakan gudang kopi milik Asisten Residen wilayah Priangan pada waktu itu hingga kini yang digunakan sebagai gedung/kantor resmi Balaikota Bandung.
Tidak hanya tentang gedung Gemente Huis, buku ini juga memaparkan wilayah dan bangunan yang berada di sekitarnya baik pada masa lampau hingga masa kini yang turut menyertai keberadaan Gemente Huis lengkap dengan kisah-kisah sederhana yang terjadi di sekitar kawasan tersebut.
Buku ini juga dihiasi dengan puluhan foto2 lawas dan kini. Buku yang sangat layak dikoleksi oleh khususunya para pecinta/kolektor/pembaca buku2 ttg Bandung atau pecinta/pemerhati bangunan2 bersejarah.