Dalam tulisan berjudul "Hanya Bermodal Angin" Gus Mus mengeluh soal NU, "Kenapa NU dari dulu kok hanya berperan seperti satpam saja?" Ketika Gus Dur mendengar keluhan tersebut, lantas menjawab dengan jawaban khas Gus Dur, "Lha, apa kurang mulia menjadi satpam?" Sebagai Kiai pembelajar, tulisan Gus Mus dalam Buku ini memberikan pembeningan batin. Kalau kita tidak mau dihina, maka janganlah menghina. Bahkan ketika kita disakitipun, dianjurkan agar kita tetap bersabar. Apa arti semua itu? Kita tetap berbuat baik terhadap sesama, saling memaafkan, termasuk menaklikan kebakhilan dalam diri kita. Sehingga semua amal baik yang kita lakukan akan membuka pintu langit sebagai rahmat Allah kepada kita.
Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang. Mantan Rais PBNU ini dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Di masa mudanya ia pernah nyantri di berbagai pesantren seperti Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Marzuqi dan KH Mahrus Ali; Al Munawwar Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma'shum dan KH Abdul Qadir; dan Universitas Al Azhar Cairo, di samping mengaji di di pesantren milik ayahnya sendiri, KH Bisri Mustofa Rembang.
Gus Mus menikah dengan St. Fatma, dan dikaruniai 6 (enam) orang anak perempuan serta seorang anak laki-laki.
Selain dikenal sebagai ulama dan Rais Syuriah PBNU, Gus Mus juga budayawan dan penulis produktif. Ia kerap menulis kolom, esai, cerpen, dan puisi di berbagai media massa seperti: Intisari; Ummat; Amanah;Ulumul Qur’an; Panji Masyarakat; Horison; Jawa Pos; Republika; Media Indonesia; Tempo; Forum; Kompas; Suara Merdeka dll.
membaca tulisan yang lembut dan menyentuh nurani seperti tulisan Gus Mus sangat memberi kesan. Ketika dunia dipenuhi dengan carut marut dan sumpah seranah.
Gus Mus konsisten. dari dulu hingga sekarang ia setia untuk mengambil jarak dengan politik yang carut marut, dan pastinya ia lebih memilih tabayyun, pasemon, sindiran daripada konflik frontal. tulisan Gus Mus mendinginkan hati dan kepala...
Salah satu buku kumpulan tulisan K.H. Mustofa Bisri, buku yang mencerahkan dalam beragama. Saya suka tulisan-tulisan Gus Mus ini, karena tulisan nya renyah, penuh humor dan ber nas.
Wejangan dari seorang kiai yang bijak, open-minded, dan selalu mengingatkan untuk saling mencintai sesama, bahwa ibadah itu bukan melulu dengan Tuhan. Beliau bahkan berkata kalau bergaul dengan Tuhan itu lebih gampang ketimbang bergaul dengan sesama manusia. Meskipun tulisan-tulisan di buku ini kebanyakan sudah lama untuk "mengomentari" kejadian-kejadian yang juga sudah lama berlalu, tetapi inti pesan dan nasihatnya masih sangat relevan. Semoga Tuhan selalu merahmati Gus Mus. Amin.
Cerita dari Gus Mus selalu Indonesia banget, Islam banget, sarat makna. kisahnya tidak muluk muluk hanya keseharian saja, tapi begitu mengena. bahasa beliau pun bukan bahasa pujangga yang perlu mengeryitkan dahi ketika membacanya.
Mahakarya yg jujur, apa ada adanya, penuh kehati2an dr seorang Gusmus, Buku yg mendidik bagaimana seharusnya islam itu berada di masyarakat khususnya Indonesia kita, negara dengan mayoritas muslim yang sarat akan ragam budaya
Saya selalu menikmati tulisan-tulisan Gus Mus yang tersebar di berbagai media cetak, online, media sosial termasuk bunga rampai yang terkumpul dalam buku ini.
Banyak sekali nasihat-nasihat yang bikin adem hati, apalagi terkait dengan pilkada dan isu-isu radikalisme yang mulai menjamur di Indonesia. Coba baca deh dakwah versus menakut-nakuti, bagaimana Gus Mus memberikan gambaran secara gamblang tentang cara dakwah Rosullulloh yang baik dan bersifat ajakan dan bukan ancaman. Saya merekemodekasikan buku ini untuk bahan evaluasi pribadi dalam membangun karakter positif terhadap sesama maupun dalam beribadah.