Jump to ratings and reviews
Rate this book

Catatan Pinggir #2

CATATAN PINGGIR 2

Rate this book

539 pages, Paperback

First published November 1, 1989

26 people are currently reading
375 people want to read

About the author

Goenawan Mohamad

68 books506 followers
Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom “Catatan Pinggir” di Majalah Tempo.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.

Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).

Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. “Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang,” tutur Goenawan.

Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.

Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.

Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.

(from tokohindonesia.com)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
104 (36%)
4 stars
111 (38%)
3 stars
58 (20%)
2 stars
12 (4%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for akhwan j.s.
8 reviews
January 5, 2009
Tak perlu buru-buru menyelesaikan bacaan ini. santai saja. karena ini kumpulan tulisan catatan pinggir Mbah Goen di majalah TEMPO. masing-masing tulisan tak terkait satu sama lain. Tapi berbicara isinya...huhuhu..jangan ditanya. sejarah, filsafat, dsb.campur aduk menjadi sebuah tulisan yg ciamiiik.

Dari Catatan Pinggir 1,2,3,4,5,6....dengan gaya yang khas.
Sayangnya belum ada edisi cetak ulangnya. ada yg punya CaPing 1,3,4?
Profile Image for Iqbal Dalimunthe.
34 reviews44 followers
December 9, 2021
GM tak pernah mengecewakan, essay-nya selalu yang terbaik, walaupun isu yang dibahas disini mungkin beberapa diantaranya tidak relevan dengan keadaan saat ini (tulisan pada kumpulan essay ini dipublikasikan tahun 1980an)
Profile Image for Ivan.
79 reviews26 followers
October 22, 2010
Ini merupakan buku pertama dari pengarang Goenawan Mohamad yang saya selesaikan. Walau buku pertama dari pengarang kelahiran Batang Jawa Tengah yang saya dapatkan adalah Catatan Pinggir 3.
Catatan pinggir merupakan stereotipe dari G. Mohammad disamping karya-karyanya yang lain.
Saya berikan catatan kenapa harus membaca buku catatan pinggir :
1. Buku ini cukup bermanfaat untuk saya bukan hanya karena saya lahir pada tahun 1989 dan buku ini ditulis berdasarkan kumpulan artikel dalam majalah Tempo antara rentang waktu 19 September 1981 sampai 28 Desember 1985 sehingga secara tidak langsung saya mendapat point of view pengetahuan umum dan kejadian yang terjadi di sepanjang rentang waktu tersebut.
2. Topik bahasan yang diberikan oleh buku ini sangat luas dan tidak perlu membaca dari awal untuk mencerna isinya. Topik dalam Caping 2 ini meliputi Birokrasi, Etos Sosial, Ideologi, Ilmu dan Masyarakat, Peradaban dan Kebudayaan, Keadilan Sosial,Kemerdekaan dan Kebebasan, Kekuasaan dan Parsitipasi, Gaya Hidup, Moralitas, Negara dan Masyarakat, Perubahan Sosial dan Revolusi, Kepribadian, Sejarah, Tokoh.
3. Dari sebagaian artikel di dalamnya G. Mohammad tidak hanya mengutip dari sebagian reverensinya dari buku akan tetapi juga dari pengalaman pribadinya. Seperti ketika dia menceritakan pernah bertemu dengan pemimpin redaksi koran The Washington Post.
4. Secara garis besar sebagian karya-karyanya mudah dipahami dan mengalir. Tidak hanya mencakup isu-isu dalam negeri saja akan tetapi juga luar negeri seperti ketika Goen membahas masalah revolusi perancis, Khomeini, Stalin dll.
5. Secara umum artikel terakhirnya akan diakhiri dengan sebuah pertanyaan dan secara otomatis akan memancing pembaca dengan sebuah couragement untuk menelisik kembali mengenai topik yang diajukan.
6. Ideologi yang dicermati goenawan agaknya condong ke kiri. Walaupun Goen juga membahas tentang pasar bebas dan Kapitaslime.

Profile Image for Eko Indriantanto.
Author 4 books18 followers
April 14, 2013
Setelah sekian lama tergeletak tak berdaya tanpa penyelesaian di sudut berdebu rak buku, akhirnya tuntas juga Catatan Pinggir 2 saya baca. Namun, seperti lazimnya karyakarya GM, setelah lembaran terakhir tuntas terzikiri serasa ada kehampaan laksana lubang hitam menyergap. GM memang tak pernah menawarkan konklusi yang memuaskan dalam tiap titik yang dibuatnya, yang ada pikiran kita pun menjelma menjadi semacam lubang hitam, yang semakin rakus akan pertanyaanpertanyaan yang seakan tiada habisnya itu.
Profile Image for Lazuardyas Zhafran  Ligardi.
15 reviews
January 8, 2021
Bukunya ayah yang saya pertama baca ketika SMP. Berisi kumpulan esai-esai dengan gaya bahasa berat, terkesan bijak dan puitis, beberapa ada kritik terhadap orde baru. Memang, ini buku terbitan lama. Belakangan ketika SMA saya tahu Goenawan Muhammad adalah seorang jurnalis Tempo senior. Saya ingin re-read buku ini tahun 2021.
Profile Image for Isnaini Nuri.
94 reviews23 followers
July 20, 2013
Jujur, saya agak kesulitan memahami isi buku ini.. :D
Bahasanya terlalu tinggi buat saya, atau karena saya kurang konsentrasi dalam membacanya??

Terlihat betapa luas pengetahuan Om Gunawan Muhammad serta betapa kritis pemikirannya (gak heran, wartawan senior bo'...)

Tapi dari buku ini saya bisa mendapat banyak hal-hal yang tidak saya ketahui sebelumnya. Peristiwa-peristiwa di seluruh penjuru dunia meskipun hanya secuil tapi itu sudah cukup membuat saya....tambah penasaran :D
Profile Image for Nurliah.
26 reviews2 followers
Read
May 12, 2011
Selalu mengulang membacax. Setiap kali membaca ulang setiap kali pula seperti menemukan pencerahan baru
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.