Mendung tak berarti hujan, yakinlah itu suatu cobaan. Hmmm, kalimat pembukaannya kok terasa dangdut ya… Biarlah! Cuaca buruk tidak selalu menjengkelkan walau sering mendatangkan badai. Namun, karena badailah geng Aagaban (Aliansi Amersfort GAra-gara BAdai di Netherlands) terbentuk, beranggotakan Lintang, Wicak, Daus, Banjar, dan Geri. Mereka berlima bertemu di stasiun kereta Amersfort karena terjebak badai. Diperkuat akan kebutuhan rokok kretek yang susah didapatkan di negeri Belanda, tempat kelima orang Indonesia tersebut mengejar gelar S2.
Masing-masing punya alasan kenapa sampai harus terdampar di Belanda. Daus, putra Betawi asli anak gang Sanip, melanjutkan studi S2 ke Belanda karena dibiayai Departemen Agama tempatnya bekerja sebagai PNS. Dia jebol mendapatkan beasiswa kuliah di Utrecht karena saat itu hanya dia yang tertarik mendaftar untuk mempelajari hukum hak asasi manusia internasional.
Wicak, anak Banten asli, seorang aktivis lingkungan hidup yang bekerja pada sebuah LSM. Terbongkarnya penyamaran Wicak sebagai mata-mata praktek illegal logging di Kalimantan, membuat dia dikejar-kejar untuk dibunuh. Demi keamanan, dia diungsikan sambil kuliah di Wageningen. Berbeda dengan Geri, anak pengusaha tajir, tampan, baik hati, disukai banyak perempuan tapi tidak tertarik pada perempuan. Lahir di Bandung dan sudah melanjutkan kuliah di Belanda, tepatnya di Den Haag, sejak lulus SMA. Kuliah S2 sebagai persiapan untuk menjaga pengusaha.
Banjar, anak Banjarmasin, pengusaha muda dan mapan, yang mendapat tantangan dari temannya untuk sekolah lagi dan hidup dengan biaya terbatas di negeri orang. Dia memilih sekolah di Rotterdam. Sedangkan Lintang, perempuan Padang, cantik, dan menjadi rebutan anak geng Aagaban. Lintang kecil yang tomboi, suka manjat pohon dan menganggap ulat adalah jenis makanan pokok sehingga selalu berusaha memakannya saat memanjat pohon. Di hari ulang tahunnya, sang ibu memberikan uang tabungan (asuransi) yang dulunya dipersiapkan sebagai biaya pernikahannya. Tapi, karena melihat sejarah percintaanya yang selalu kandas dengan cara yang aneh, akhirnya uang itu dipergunakan untuk biaya kuliah Lintang di Leiden.
Dan, berkumpullah mereka di Belanda meski berlainan kota.
Banyak hal yang mereka alami. Permasalahan kuliah, kantong yang semakin menipis sehingga harus mencari kerja sampingan, sampai getaran cinta antar sahabat. Getaran cinta segitiga sama-sama (bukan sama kaki apalagi sama sisi). Maksudnya, Wicak, Banjar, dan Daus sama-sama naksir Lintang, sementara Lintang naksir Geri. Lalu Geri naksir siapa? Wicak kah? Daus kah? Atau malah Banjar yang suka ngeri berhadapan dengan gay? Kuliah sih kuliah, tapi mereka juga tidak sekali-sekali melupakan waktu untuk pelesiran.
Berbicara tentang pelesiran, buku ini juga memberikan informasi tempat-tempat pelesiran di Belanda. Selain tentunya, sejumlah tips bagi orang-orang yang ingin bersekolah di Belanda.
Dari isi ceritanya sih, menurutku biasa saja. Yang menjadi tidak biasa adalah cara keempat penulisnya mengekspresikan kisah mereka melalui kalimat-kalimat yang kocak. Jadi, tidak heran kalau aku tiba-tiba bisa menahan tawa yang berujung menjadi bunyi dengusan saat membaca buku ini di Kopaja 20, jurusan Lebak Bulus – Senen.
Ada juga toelan-toelan tentang anggota DPRD yang studi banding dengan fasilitas tours and travel, yang langsung kabur saat dijadwalkan berdiskusi dengan mahasiswa Indonesia di Belanda. Ada juga isu idelisme dan nasionalisme. Lalu, ada Tyas, “mafia” manja, sombong, tidak baik hati, dan tentunya tidak suka menabung. Menghamburkan uang negara, iya…!
Pernah membaca The Naked Traveler dan 40 Days in Europe?? Kalau kedua buku itu digabungkan, ya ceritanya jadi agak mirip dengan buku ini. Bedanya, 40 Days in Europe mengisahkan orang-orang Indonesia yang membawa misi kebudayaan ke luar negeri sementara buku ini mengisahkan orang-orang Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri (Belanda).
Dengan total 478 halaman, buku bersampul oranye ini (itu oranye apa merah yahh, agak-agak buta warna nih) cukup menghibur. Tanpa terasa, udah habis aja bacanya, dan begitu pula dengan ripiu ini. Habis juga. Tiga setengah bintang. Terima kasih.