“Bali is a melting pot. Bukan hanya soal kewarganegaraan, tapi semua jenis orang bisa kamu temui di sini.”
Berbekal dua buah koper besar dan tekad menggunung, Jenny Jusuf resmi meninggalkan keriuhan kota Metropolitan dan memilih untuk menyepi di Ubud. Awalnya, ia mengira kesunyian Ubud akan menjadi sahabatnya. Nyatanya tidak! Alih-alih menikmati sepi, Jenny harus terus beradaptasi demi menemui orang-orang asing yang tingkah lakunya aneh bin ajaib.
Perempuan-perempuan lajang berkulit putih melamun dengan buku Eat Pray Love di pangkuan. Para lelaki setengah baya yang menganggap diri mereka sepupu jauh Brad Pitt, berusaha menarik perhatian perempuan Asia eksotis berkulit halus. Bule-bule berkaus lengan buntung dengan simbol yoga mentereng berseliweran sambil bertelanjang kaki. Hingga orang-orang asing yang berstatus menumpang, tetapi jauh dari ramah dan kerap menantang kesabaran.
Buku yang menarik dan menyenangkan. Disajikan dengan ringan dan segar, betah sekali membacanya. Membaca pengalaman orang yang memang lebih banyak memberikan 'ilmu', aku bisa mencuri banyak dari buku ini. Aku bisa tahu ada itu Couchsurfing dan bagaimana cara kerjanya, bagaimana rupa-rupa tingkah bule dan tentu saja bagaimana hidup di Bali. . Ubud. Dari kota kecil yang berjarak satu jam dari gunung Batur di Bali, semua kisah di buku ini bermula. Ya, Jenny Jusuf hijrah dari ibukota ke Ubud untuk menyepi, niat awalnya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, dia bertemu dan harus terbiasa dengan bule- bule bertingkah laku ajaib. Terlebih sejak menjadi tuan rumah di aplikasi couchsurfing. . Feza, bule perempuan asal Turki ini begitu menggemaskan. Dalam artian negatif tentu saja. Bau badan, jarang mandi(malas mandi lebih tepatnya), dan pelit. Kombinasi yang 'mematikan', bukan? Apalagi sejak drama 'penendangan' dia yang berlangsung alot, aku benar-benar gemas dengan dia. . Kero(ppi). Bule laki-laki yang mengaku dari Spanyol(padahal dari Turki) ini juga tak kalah menyebalkan. Dari awal sudah sok misterius. Mana bau kaki pula. Etapi aku dan Kero punya hobi yng sama lho, sama-sama suka 'menyempurnakan' letak spion. Hahaa . Isabella. Salah satu bule yang aku sukai. Pemikiran-pemikiran dia menyentil banget, terlebih soal kebiasaan mengkonsumsi obat kimia. . Cassie. Salah satu cerita yang paling aku sukai. Dari dia aku belajar satu hal, bahwa cinta itu akan menyapa siapa saja. Siapapun kamu. . Dan dari semua kisah ini aku bisa menarik satu kesimpulan, bahwa kehidupan seorang bule tidak sesempurna yang kita kira. Bule juga manusia. Aku jadi ingat kalau dulu suka minta foto bareng sama bule yang kutemui di tempat wisata. Siapapun. Asal bule (yang blonde). Hahaa . . Bukan kamu yang memilih Ubud. Ubud yang memilih kamu. -hal. 245-
terlalu sempurna untuk diberi 5 bintang tapi juga sepertinya kurang tepat kalau dibilang 4.
4,7 kali ya. mau dibulatkan menjadi 5 tapi agak kurang sreg dengan sampulnya hwhwh
***
pertama, mari izinkan saya bercerita bahwa saya adalah orang yang sering unfollow-follow mbak Jenny di twitter. semenjak menjalankan projek Filkop beberapa waktu lalu, entah mengapa bahasa twitnya mbak Jen kayak ''harus'' terlihat retweet-able gitu. agak ''geli'' sedikit aja gitu. pokoknya kelihatan deh tema twit mbak Jen sebelum dan sesudah menjalankan projek filkop. branding kali ya mungkin?
kedua, pada masanya saya pernah bergabung dengan grup CPS, circle penyerang selebtwit. trus suka ngomongin selebtwit dan bikin meme2 mereka gitu hhh surem. banyak teman saya yg di block oleh mbak jen dan sahabatnya, amrazing. trus saya jadi ''ikutan'' tidak suka sama mereka gitu wqwq
tapi itu dulu. 2 atau 3 tahun yang lalu. sekarang saya main twitter buat enjoy aja dan gak suka ikutan tubir lagi. dah tua. malu juga lagian. sekarang lebih suka ''nonton'' para keyboard warior yang tersisa.
nah, saya iseng membeli ini di google playbook akhir tahun kemarin karena hei harganya cuma 4.500 saja. saya kira ini isinya cuma bakal 1 bab gitu (karena playbook lagi bikin promo juga 1 bab dijual cuma 4000-7000an) eh ternyata nggak. 4.500 untuk satu buku. beli lah.
baca
gak berekspetasi apa2 ya. dari awal udah agak sinis sih sama buku ini kayak apaan sih sampulnya gini banget trus maksud judulnya apaan coba.
eh setelah baca baru ngeh dan rasa2nya judulnya tuh cocok banget sama buku ini.
***
menceritakan tentang catatan unik dan pengalaman yang dialami mbak Jenny selama menetap di Bali yang hm, bisa dikatakan ajaib semua. tema tulisan di buku ini beragam. mulai dari pengalaman berada di tempat baru, jatuh cinta, hubungan dengan keluarga juga hubungan dengan diri sendiri. setiap halamannya, saya benar2 merasa dibawa ke ''alam lain''. bahasa yang dipakai sama mbak Jen juga enak. bahkan di beberapa cerita, saya merasa seperti sedang ngobrol langsung dengan mbak Jen.
setelah membaca ini, rasa penasaran saya terhadap bali makin bertambah. walaupun mungkin, apa2 yang tertulis di sini sudah banyak yang berubah. entah itu makin ke arah yang positif ataupun negatif. kayak misal keramahan warganya atau harga makanannya.
cerita yang paling saya suka ada 2. soal Casie dan Rosalinda. asli. bikin saya ketawa, nangis dan gak habis pikir kalau ada orang ''ajaib'' kayak mereka. sebagai orang yang sudah 6 tahun terakhir ini ''diam'' di tempat, baca kisah mereka semakin membuat saya ingin pergi jauh.
well, terima kasih mbak Jen. karena sudah mau berbagi kisahnya disini. indah, mengajarkan banyak hal dan apa ya, saat membaca ini, saya merasa seperti sedang tidak membaca, tapi sedang mengobrol langsung dengan mbak.
Tertarik sama Jenny Jusuf karena doi yang nulis scriptnya Filosofi Kopi. Meski buku ini udah lama, tapi isinya masih kekinian aja. Buku ini berbagi banyak hal bagi saya, khususnya informasi mengenai couchsurfing, dimana backpackers bisa mendapatkan tempat tinggal gratis atau harga miring di kota yang mereka kunjungi dengan janjian terlebih dahulu oleh teman couchsurfing yang ingin menampungnya.
Pengalaman lucu sampai menyentuh lengkap dibagi Jenny di buku ini. Part Bajak Lau t Bau Kaki selalu terbayang di benak saya hingga kini (aplagi kalau lagi betulisn spion motor di jalan. maap curhat hehe)
Dan part Kisah Kasih Kasih Cassie membuat saya tersentuh sekaligus bertanya "Ini beneran ya ada bule yang kaya gini?
Sebenarnya menarik. Tapi sayang, cerita satu dan lain feelnya kurang lebih sama. utk ukuran casual reading, it took so long for me to finished it. Huhu.
Setelah diingat-ingat (dan tetap tidak ingat juga o_O ) saya beli buku EPL berdasarkan rekomendasi (ya itu dia saya lupa siapa yang rekomen, hehehe) di social media. :P
Tadinya saya berpikir buku ini hanya menceritakan tentang kekocakan bule-bule yang sedang melancong di Bali, namun ternyata tidak se-sederhana itu. Buku ini memberikan wawasan bahwa bule pun hanya manusia biasa yang memiliki sifat yang manusiawi juga, perasaan bimbang, senang, sedih, gembira, dan seperti halnya kita, mereka pun punya masalah hidup yang sulit. Penulisnya sendiri bercerita berdasarkan pengalamannya berinteraksi dengan para pelancong, ia mencoba untuk mengamati pola dan tingkah laku mulai dari semboyan gaya hidup seperti tokoh Isabella yang memutuskan untuk hidup selaras dengan alam, atau cinta buta seperti tokoh Cassie yang jatuh cinta pada pria Bali beristri, dan berbagai macam warna kehidupan penghuni Bali yang ditampikan secara narasi dengan latar belakang Ubud, tempat yang juga menjadi latar belakang buku Eat, Pray, Love.
Dari berbagai kisah yang diceritakan di buku, saya berkesimpulan bahwa kita baru bisa mengenal mereka secara personal jika ada jalinan komunikasi dua arah. Berbagai pola pikir, pandangan hidup, yang tidak dipungkiri ternyata sangat berbeda dengan kita sebagai orang Indonesia. Jika diterima dengan pemikiran terbuka, sebenarnya kita menyadari bahwa wawasan kita ini sangat sempit, masih banyak pemikiran lainnya yang bisa dipelajari dari sana sebagai masukan yang positif untuk diri sendiri. Buku EPL memberikan beberapa contoh dari pelajaran itu, ada alasan dibalik pola tingkah laku mereka yang kadangkala tidak masuk akal bagi kita, namun memahami mereka secara lebih personal mungkin itu salah satu cara agar kita bisa mengerti.
Saya baca buku EPL seperti membaca cerita-cerita pendek, tidak membosankan, dan saya juga suka komen-komen penulis yang diselip di berbagai dialog dengan para bule (dimana saya juga sering berpikiran sama dengannya). :P
Eat, Play, Leave; adalah sebuah buku yang saya rekomendasikan untuk pembaca yang penasaran dengan pola pikir bule-bule. ;)
Saya akui Jenny Jusuf adalah perempuan pemberani. Bagaimana tidak ? Ia ikut komunitas couch surfing yang membuatnya menjadi tuan rumah yang menampung orang asing. Tidak hanya berbagi rumah namun juga bisa berbagi kamar. Buku ini berisi kisah para pelancong yang singgah di indekos Jenny. Kisah kisah Jenny yang unik dan pengalamannya menantang kesabaran. Ya, bahkan orang yang berstatus numpang pun bisa jauh dari ramah. Padahal numpang.
Kutipan favorit : " Kenapa Indonesia? Karena saya cinta negeri ini. Alasannya ? Tidak tahu. Cinta itu kadang tidak bisa ditebak."
Buku bagus. Bagus di sini yaitu karena aku betah sekali membacanya. Habis dalam waktu sehari. Lagi senang dengan genre buku ringan dan segar seperti ini. Belajar banyak hal dari tulisan yang disajikan tidak melulu dengan serius. Berasa menyegarkan otak. Banget. Membaca pengalaman orang yang jauh sekali dengan kehidupan saya dan orang-orang disekitar saya yang cenderung masih kuno dan tipikal kehidupan orang dari kota kecil. Membaca buku ini membuka wawasan tentang kehidupan lain, cara hidup lain. Dan pada akhirnya: Tuhan memang Maha Kreatif. Love this book sooo much.
Satu kekurangannya sih: kurang banyak cerita bule yang ditulis. Saya mau ada buku kedua, ketiga, dan setersunya karena saya yakin jenis-jenis bule dan segala praharanya nggak hanya segitu aja. Untuk penulisan mungkin kurang WAYS (Write As You Speak). Saya juga nggak tahu Mbak Jenny ini berawal dari mana, but it's okay, Mbak Jenny masih mampu membawa saya sampai selesai membacanya.
bacaan ringan yang menyegarkan. Menarik melihat kehidupan turis/bule asing yang tinggal di Ubud, Bali. Bermacam tujuannya, tapi semenjak adanya film eat, pray and love memang membuat Ubud semakin menarik untuk dikunjungi para wisatawan.
cocok buat teman baca jk sedang dalam perjalanan liburan.
Mungkin cinta berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Dunia kian menua. Manusia semakin tergesa. Cinta pun terpaksa bergegas. Mungkin seratus tahun lagi cinta yang berumur panjang cuma bakal jadi mitos.
Teori konyol, memang, tapi yah, daripada nggak ada.
Jenny Jusuf is a storyteller. Buku ini ga cuma menceritakan tentang Bali, tapi juga sederet kisah-kisah menarik di dalamnya yang membuatku terhanyut. Ternyata, ada lebih banyak cerita di Ubud dari yang kubayangkan sebelumnya. Good job, Jen!
menilik motif para bule bule yang datang ke bali, dilihat dari kepala seorang Jenny Jusuf, yang bisa dibilang sedikit kasar tanpa tedeng aling-aling tapi benar adanya. Terkadang apa yang kita pikir tentang orang barat tidak selamanya benar. Beberapa dari mereka masih juga terbuai dengan kisah-kisah drama sama seperti orang orang kita pada umumnya.
Saya suka gaya bahasanya yang santai, lucu dan mengalir. Hal itulah yang membuat saya memutuskan .membeli versi e-book buku ini setelah membaca sample nya di google play.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk membaca buku ini kalau saja memiliki waktu senggang beberapa jam.
Kisah Cassie adalah kisah yang menurut saya paling menarik karena penuh misteri sampai akhir, walaupun dengan sense seorang penggemar novel detektif dan thriller, saya kurang lebih dapat menerka atau memiliki teori-teori sendiri atau lebih tepat diberi sebutan tebakan, apa yang sesungguhnya terjadi kepada Cassie. Yup, mungkin karena saya juga tinggal di Bali dan kurang lebih tau sedikit banyak seluk-beluk kisah kehidupan atau tepatnya percintaan antara penduduk lokal dan turis yang sering terjadi di sini.
Jenny Jusuf menceritakan kisahnya dengan alur yang teratur walaupun terlihat bahwa ia dibatasi dengan keterbatasan jumlah halaman atau problem editorial untuk menuliskan seluruh kisahnya.
Semoga ada EPL lanjutan yang dikisahkan Jenny dari berbagai belahan negara-negara di dunia lainnya yang akan ia bagi kepada para pembacanya ;)