An enduing classic work on the etiquette that a Muslim must or should have with regard to handling and reciting the Quran (the Muslim scripture). The topics this volume raises include: ritual cleanliness, opportune times for recitation, the etiquette that students have with their teachers (and that teachers must have with their students), and variety of other issues that every Muslim should know and frequently ask about.
Abū Zakariyyā Yahya ibn Sharaf Al-Nawawi (Arabic: يحيى بن شرف النووي ; 1233–1277), popularly known as al-Nawawī or Imam Nawawī (631–676 A.H./1234–1277), was a Sunni Shafi'ite jurist and hadith scholar.[3] He authored numerous and lengthy works ranging from hadith, to theology, biography, and jurisprudence.[4] Al-Nawawi never married.[5]
Ma Shaa Allah. May Allah reward Musa Furber and bestow increased blessings upon Imam An-Nawawi! I had the honor of reading the manuscript of this book, given to me by Sheikh Abdullah Al-Kadi, when I lived in Saudi Arabia. While the manuscript was good, I was very impressed with the final version--this book is well-written in clear English prose--an irreplacable treasure for English speaking Muslims. There need to be more classical Islamic works well-translated into English, and both the translation and the notes are invaluable. Many copies of this work should be in all of our masajid and Islamic centers in the US and wherever English speaking Muslims reside and strive to practice our beautiful Deen.
Buku ini penting sebagai alat muhasabah diri dan juga menetapkan kayu ukur yang harus kita pegang apabila berhubung dengan Al-Qur'an.
Karangan Imam al-Nawawi yang juga telah mengarang Hadith 40: Terjemahan dan Sharahnya, buku ini menceritakan adab-adab dengan Al-Qur'an - tidak kira sebagai pembaca, pelajar mahupun guru Al-Qur'an.
Bonus tambahan yang sangat bernilai, adalah sisipan artikel yang dihimpunkan oleh penyusun buku ini mengenai kedudukan Al-Qur'an dalam hidup seorang Muslim.
Antara yang sangat menusuk dan mengesankan, adalah pesanan yang diberikan oleh Syeikh Sa'id Ramadan al-Buti, ulama' Syria yang telah meninggal dunia (insyaAllah Allah kurniakan kepada beliau syahid) ketika sedang mengajarkan Islam di masjid, kerana masjid itu dibom oleh pihak yang tidak dikenali.
Pilihan yang diberi oleh Rasulullah s.a.w. sebagai tempoh yang wajar untuk seseorang Muslim mengkhatam Al-Qur'an adalah 40 hari, paling maksimum. Pilihan lain adalah 30 hari, 20 hari, 15 hari, 10 hari atau 5 hari.
Antara para salafussoleh yang meninggal dunia dahulu, ada yang pernah mengkhatam Al-Qur'an 18,000 kali dalam rumahnya. Apabila ditangisi oleh saudara/anak mereka di ambang maut, justeru mereka yang berusaha memberi ketenangan kepada yang bakal ditinggalkan dengan berkata bahawa mereka sudah mengkhatam sebanyak ini dan sebanyak itu.
Jauhnya jarak kita dari Al-Qur'an hari ini, itulah yang sebenarnya menjadi punca kita tidak mendapat barakah yang dilimpahkan kepada orang-orang terdahulu.
Buku ini benar-benar menginsafkan dan sangat sesuai dihadam menjelang Ramadhan 2015 yang tinggal lebih kurang dua bulan lebih sahaja lagi.
Mudah-mudahan Allah menautkan hati kita lebih erat dengan Al-Qur'an dan memberi kita kekuatan untuk mentadabbur ayat-ayatnya, seterusnya mencari guru yang mursyid yang dapat membimbing kita supaya lebih dapat memaknai hidup kita berlandaskan Al-Qur'an.
Must have in every Muslim's library, especially if you are a student of the Quran. I greatly appreciated the extensive references and appendices at the end which come in handy for future rereads and further readings. May Allah bless Sheikh Musa Furber and Imam an-Nawawi for their services to the Dīn.
This is the only book that you will need that details the adab that one should have towards the Qur'an. It approaches the issue from almost every conceivable angle. Musa Furber has done a tremendous service to the English speaking world.
Adab Kepada Al-Quran Al-Quran tidak menjadi asing meski dibaca berulang kali. Bahasa al-Quran menjadi suatu hal yang mengkagumkan bangsa jin. Firman Allah dalam surah al-Jin, “Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk ke jalan yang benar, kemudian kami beriman kepadanya.” Buku ini diterjemah dari kitab Imam Nawawi iaitu Tibyaan. Betapa untuk mendamping diri dengan al-Quran, seseorang haruslah mengikut adab-adab dan disiplin tertentu. Tidak ada perkataan yang lebih baik daripada al-Quran. Berhujah dengan Al-Quran adalah hujah yang jitu. Beramal dengannya adalah buah kelazatan iman. Menghafaz al-Quran seumpama menjadikannya rakan terapat. Di akhirat nanti, al-Quran yang dibaca akan menjelma dalam bentuk seorang pemuda. Dia akan menemani kita di alam barzakh.
I had the privilege of learning this book at the hands of the translator and inheritor of authorisation to teach this book, when he conducted a course in Singapore. Learning the ettiquettes of the Qur'an had the effect of not only teaching me how to respect it properly, it also lifted my spirits in discovering the richness generosity of the benefits of cultivating a relationship with the book.
"Sesungguhnya orang yang tidak ada dalam tubuhnya sesuatu daripada Al-Quran adalah ibarat sebuah rumah yang runtuh." - Imam Al-Nawawi, Adab Berdamping Dengan Al-Quran . . 🖤 Melihat hurufnya, mendengar alunan bacaannya, malah membaca isi kandungannya sudah dijanjikan ganjaran yang besar. Apatah sekiranya mentadabbur dan mengamalkan segala suruhannya. . Buku Adab Berdamping dengan Al-Quran karya Imam An-Nawawi menggariskan panduan yang jelas berpandukan Al-Quran dan sunnah. . . 🖤 Pelbagai aspek berkaitan Al-Quran berjaya disentuh penulis dari sekecil-kecil persoalan ke sebesar-besar perkara. Terdapat pelbagai sub topik penting bermula dari kebaikan-kebaikan yang tersedia buat ahli Al-Quran sehinggalah kepada ayat dan surah yang mendapat galakan untuk dibaca di waktu-waktu tertentu. . . 🖤 "Sesiapa yang membaca Al-Quran dan beramal dengan apa yang dibacanya, Allah akan memakaikan ibu bapanya sebuah mahkota pada hari kiamat." . . 🖤 Semoga kita mampu mempelajari adab mendampingi kitab agung umat Islam sekaligus melayakkan kita untuk menempatkan diri dalam kalangan orang yang dikasihi Allah. . . #azurachanreads #adabberdampingdenganalquran #imamalnawawi #hakimrosly #bukujunkie #bookworm #bookjunkie #booklover #booknerd #ramadhanread #bookaddict #bukuilmiah #bukuislamik #bukuramadhan
Buku yang sangat baik untuk setiap Muslim. Ilmu adab terhadap Al-Quran yang dijelaskan amat baik untuk kita amalkan sebagai seorang Muslim untuk menghormati Kalamullah iaitu Al-Quran dan meletakkanNya di tempat yang sepatutnya. Barakallahufikum
It is established in Sahih Musilm, that Tamim al-Dari Stated, The Messenger of God (SAW) said, “Religion is sincerity.” We said, “To Whom” He said, “To God, His Book, His Messenger, the leaders of the Muslims, and their common folk.” Imam Nawawi, May Allah have mercy on his soul was the embodiment of all these principles. Imam Nawawi, May Allah have mercy on him, writes in the introduction of this book that I wanted to write a book that is to the point and short. He wanted the readers to memorize the contents of the book, so he kept the content of the books short and sweet. There was no distraction, always on point. His style of writing shorter chapters gives the reader the pleasure of consuming most of the content with a pleasure. Sheikh Musa Furber (May Allah bless him), kept the same spirit of the book, he has made a tremendous effort of keeping it in simple plain English for the reader. This book needs to be a must read for every Muslim to learn the Adhab that is required for handling the Holy Quran. It addresses most of the question that user might come across with handling of Quran. Topics like,
- How to Study the Quran -Adhab for Quran -Adhab for the Quran Teacher -Weeping during recitation -Humility -Repeating a verse in your prayer - Importance of Retaining the Quran
I highly recommend that multiple copies of this work should be available in every Masjid and every madrasah.
I like books yang bila mana membicara kan tentang Quran dan hadiths, ia nya menulis ayat quran dengan penuh dan menyatakan sanad hadiths berbanding buku yg hanya quote terjemahan Quran dan hadiths yg tak jelas rantaian sanadnya.
Buku ini ringkas tetapi sangat bagus dalam menerangkan sekecil-kecil adab (disarankan membersihkan gigi sebelum membaca AlQuran - sebab pembaca AlQuran akan dikelilingi oleh Malaikat dan malaikat tak mendekati pada bau busuk) sehingga kepada adab yang utama (haram hukumnya utk menyentuh mushaf dalam keadaan berhadas, junub atau haid - jika wanita haid ingin membaca Quran boleh substitute dengan e-Quran atau Quran yg tulisan tafsir lebih banyak drpd ayat Al-Quran tersebut).
Peace to all. I have browsed the Arabic version, read the Malay translation and currently going through this translation by Shaykh Musa Furber. I found that this version explains more clearly the Arabic meaning of the book and it encompasses the essence and spirit of the original. It is indeed a required reading for those who seek to be more sensitive and discerning when reading the Qur'an; how to prepare oneself to read and how to prepare oneself as a reader of the Qur'an. The book is indeed clear and informative. Alhamdulillah.
A book I often find myself going back Alhamdulilah when I feel the need to remind myself of the bond I should have with the Quran and am in need of strengthening that bond. The translation is easy to follow yet concise and uses an appropriate level of vocabulary ( doesn't 'dumb down' the content, something I find most islamic translations do).