Saya memulai Kagepro untuk Seto, tapi sepertinya pada titik ini (dan lagu Night Tales Deceive), Kano menang telak tanpa syarat. Parah. Parah. Mengonsumsi light novel adalah hobi yang saya idamkan dari lama, dan saat itu saya nggak bisa mewujudkannya karena saya belum bisa menikmati bahasa Inggris sebagaimana sekarang. Melalui Kagepro, saya menuntaskan itu.
Novel ini bercerita tentang pengorbanan dan keperihan yang dirasakan Kano. Kemampuan matanya sungguh nggak nalar, dia bisa memanipulasi pandangan orang menjadi apa yang dia inginkan. Dia ingin dilihat selalu tersenyum, dan dia mendapatkan itu. Sialan sekali. Sialan sekali, bahwa dia menyamar menjadi Ayano di sekolah dan bahkan dia menjadi mayat Ayano agar semua orang mengetahui bahwa dia bunuh diri. Sakit, astaga. I lowkey ship them, as a strong relationship one, though.
Saya jadi bertanya-tanya apakah sebenarnya yang bikin Ayano tampak bego itu karena Kano. XD Saya juga penasaran apakah ada hari yang dilalui dengan Shintaro ketika sebenarnya Kano-lah yang sedang bersamanya. Ngomong-ngomong soal kemampuannya Kano, di bagian awal cerita ketika rasa sakitlah yang membuatnya kembali pada dirinya, wow, betapa menyakitkan. Pada baris ini: ❝I thought I was used to the pain. But that was a grave mistake. To me, pain was something I needed to truly feel like myself. The only identity I really had.❞ Bagian ini sungguh bikin saya terdiam ... sigh.
Pada paralel "One day, on the street" dan "Today, on the street" itu sangat saya suka. Betapa perkembangan karakter Kano jelas kentara, ketika di sebelumnya ia masihlah manusia yang denial dan menyalahkan semua pada keadaan atau seseorang, sedangkan selanjutnya, ia sudah sungguhan nggak sanggup menahannya, dan akhirnya tumpah semua di depan Seto.
Saya merasa Kano punya semacam Fukube Satoshi's vibe. Huhu.