Tamaki yang pindah ke sekolah khusus perempuan di kampung halamannya, bertemu kembali dengan Otowa.
Terpengaruh oleh Tamaki yang merupakan seorang fotografer wanita, Otowa kemudian membeli sebuah kamera SLR kuno, tapi seperti yang sudah diduga, ia tidak dapat menggunakannya dengan baik. Otowa akhirnya memutuskan untuk memotret Sumire, cewek cantik di kelasnya, tetapi Tamaki tidak memberikan respon yang baik. Sumire sudah pernah menolak tawaran foto Tamaki sebelumnya.
Saat itu juga, muncullah ide untuk membangkitkan kembali klub fotografi yang telah berhenti beraktivitas...
Inilah sebuah cerita girls comedy tentang keseharian para fotografer wanita!
Aku sangat menyukai cerita ringan ini. Bagaimana hubungan para karakter berwatak sengklek bisa terjalin dengan begitu akrab dan dalam, serta guyonan-guyonan absurd yang terus keluar di sepanjang cerita. Awalnya hubungan para karakter yang wataknya begitu kontras seperti Tamaki dan Otowa kelihatannya nggak masuk akal. Tapi semua jadi terasa serius saat cerita-cerita masa lalu mereka dikuak.
Otowa yang sekilas terlihat bodoh dan suka sembarangan ngomong ternyata malah jadi orang yang bisa mendobrak tembok pertahanan anak-anak pendiam yang terkesan susah didekati seperti Tamaki dan Jyuumonji.
Sayang, bagian-bagian yang menjurus pada shoujo ai di sini beneran bikin risih. Dan ini jadi major plot, karena jadi salah satu solusi yang menghindarkan Jyuumonji dikejar-kejar oleh anggota klub pengagum dirinya!
Seringan-ringan cerita cewek yg mau seneng-seneng ini penuh pancingan yuri (serius) di beberapa momen mesumnya Otowa terutama.
Di luar kemesuman Otowa, cerita ini punya daya tarik sendiri sebagai bacaan senggang yg seketika bikin inget Oreki yg hobi beli buku saku sembarang buat ngisi waktu.
Lalu porsi karakternya memang dominan di duo Otowa-Tamaki, mana guru pembimbingnya sekilas numpang introduksi dan curhat (meski sikap blak-blakannya boleh juga)
Tapi, ada keluhanku sendiri lebih mengarah ke jilidan buku yg jauh lebih kaku sekalipun stok lama untuk ukuran buku saku, belum seluwes cetakan buku saku aslinya (sayangnya penerbit sudah sayonara)
Serius, sebenarnya, saya tidak menyangka bakal memberi bintang empat untuk LN ini. Itu karena penerjemahnya memiliki tata tulis yang amat buruk, di mana ia menabrak hampir semua aturan baku penulisan novel bahasa Indonesia. In fact, sebenarnya, kalau dari segi tata tulis saja, buku ini hanya mendapat bintang satu.
Dan, seriously, sampai sekitar tiga per empat buku, saya nggak memperoleh konflik dan plot yang berarti. Hingga setengah keseluruhan, Candid hanyalah LN tentang dua orang cewek penyuka fotografi--satu tipe protagonis (Tamaki) dan satu tipe genki girl (Otawa)--yang berkali-kali gagal memfoto seorang cewek cantik pendiam (Jyuumonji) dengan dibumbui berbagai flag yuri. Nah, saat itu, saya hanya bertekad untuk memberi nilainya dua--tiga paling banyak--karena karakternya asyik dan komedinya bikin ngakak (jujur, saya belum pernah terbahak sebelumnya ketika membaca sebuah novel). Namun, lama-kelamaan, saya mendapati kalau Candid juga makin lama makin "dalam". Semisal tentang masa lalu Tamaki, di mana ia bertransformasi dari gandis pendiam karena Otowa. Hal yang sama juga terjadi pada Jyuumonji. Dan meski adegan-adegan di sini kadang terlihat tidak menyatu (tidak seperti LN lain yang pernah saya baca, Iris on Rainy Days/Ame no Hi no Iris), tapi nanti adegan itu akan diungkit lagi. Nice. Selain itu, karakterisasi masing-masing juga bagus; meski tentu saja, Tamaki dan Otawa memperoleh porsi paling besar.
Jadi, kesimpulannya, arah cerita yang tak terduga itulah yang membuat saya memberikan Candid bintang empat.
...ouch. Terjemahannya sih as expected nggak bakalan bagus (biarpun aku sangat amat berharap mereka sudah punya EDITOR yang lumayan dan TL-Checker maybe plus QC buat edit bahasanya yang bikin pengen ngelus dada, "maan... kalau kayak gini sih mendingan baca teenlit gan"--kesampingkan soal cerita ala shitnetrong/efteve). Tapi ceritanya juga... ergh. Fanservice, fanservice everywhere. Sebenernya mau ngasih 2, kalau aja ceritanya nggak berasa makin konyol/dramatis di akhir-akhir.
Okeh, fanservice, okeh ini cerita supposedly kehidupan sehari-hari cewek-cewek gajes dengan foto dan kamera, okehhh... tapi throat thrust itu animanga worldo sekali. Dan beginian dipake pas lagi adegan dramatis... gw disuruh ketawa atau prihatin? Adegan tampar-tamparan aja udah cukup bikin facepillow (biar empuk, bantal sadja), masih ditambah kek gini lagi. Berasa tragedi Enjel Bits versi super lightnya.
'kay. Not my taste. I like my SoL to be as SoL as Possible.#ngacir
LN kedua dari penerbit Shining Rose yang aku baca setelah Penguin Summer. Aku nggak kapok setelah baca PS yang bahasanya membingungkan banget. Dan menurutku di LN yg ini udah agak membaik.
Ceritanya santai sih, ringan, dan aku yang sama sekali nggak ngerti fotografi juga bisa ngikutin lah. Tapi ternyata ini yuri banget....
Sewaktu menutup buku ini di halaman terakhir saya merasa sayang tidak akan melihat lebih banyak interaksi karakter - karakter yang menyenangkan di Candid. Terutama Saaya :"D
Suka sama ceritanya karena tokohnya cuma cewek-cewek. Ehe. Dan paling suka sama karakter utama yang punya kepribadian 'kalau aku mau itu ya harus itu'.