Buku ini adalah bagian dari kitab ihya ulumuddin, tepatnya dua bab besar yang dijadikan satu. Jika buku-buku pernikahan modern yang selama ini pernah kubaca menggambarkan pernikahan dengan cara yang santai bahkan terkesan agak "ihirrr", buku ini punya aura yang sangat serius, bahkan sejak dari pembukaannya.
Pernikahan merupakan upaya merawat agama dan melemahkan tipu daya setan. Pernikahan adalah benteng kokoh para hamba dalam menghadapi musuh Allah, juga salah satu cara memperbanyak umat Islam. (halaman 2)
Selama ini banyak orang yang mendegradasikan nilai pernikahan dalam Islam sebagai "daripada zina". Tren yang dimulai oleh golongan yang mempopulerkan prinsip "mending nikah dini daripada pacaran" yang akhirnya jadi ajang pembulian para jomlo. Jargon ini langsung menjadi bulan-bulanan oleh orang-orang yang berseberangan: "lawan dari zina adalah tidak berzina, bukan nikah dini". Yang sebenarnya logis juga, karena jelas tak elok jika menikah hanya untuk menyalurkan hawa nafsu secara legal. Hal ini diperparah dengan ramainya hasil tangkapan layar yang tersebar di internet tentang ulah para lelaki rendahan berkedok ikhwan yang berusaha berburu "ukhti" untuk pelampiasan kebejatannya. Banyak di antara mereka yang berusaha menundukkan para ukhti ini untuk meminimalkan mahar dan sok-sokan menasehati padahal aslinya bejat. Entah itu benar atau tidak, tapi jika memang semua hasil tangkapan layar itu benar adanya, fenomena ini benar-benar menjijikkan. Kurasa kedua golongan itu perlu membaca buku karangan Imam Al-Ghazali ini agar mindsetnya benar-benar diluruskan dan bisa memandang pernikahan sebagai sebuah konsep yang agung dan bukan main-main belaka.
"Sungguh kenikmatan syahwat hanya sedikit karena masa berlalunya amat cepat, tapi kenikmatan yang sedikit ini menjadi motivasi untuk mendapatkan kenikmatan yang sempurna dalam bentuk yang kekal. Hingga hal ini dapat mendorong semangat seseorang untuk selalu beribadah kepada Allah SWT.
Inilah manfaat yang akan didapatkan seorang hamba, yaitu motivasi mendapatkan kenikmatan akhirat dengan kenikmatan duniawi. Hingga ia merasa ringan untuk tetap konsisten pada amalan-amalan yang akan membawanya kepada kenikmatan-kenikmatan surga." (halaman 38)
Kurasa buku ini ditulis untuk laki-laki, ditujukan agar mereka menumbuhkan sense of leadership dan fatherhood-nya. Dikatakan dalam buku ini bahwa kesulitan dan penderitaan yang muncul karena membina anak dan istri sejajar dengan derita jihad di jalan Allah. Sedangkan derajat orang yang melarikan diri dari tuntutan keluarganya sama dengan budak yang melarikan diri. Allah tidak menerima shalat dan puasanya hingga ia kembali pada mereka. Sungguh berbeda dari buku-buku pernikahan yang hanya berfokus pada sisi indah pernikahan dan menggambarkannya dengan cara yang nyaris utopis. Buku ini terasa begitu realistis. Urusan nikah itu tidak segampang itu. Karena tidak gampang itulah pahalanya besar sekali. Begitu tegas Imam Al Ghazali.
Buku ini pun berisi soal rukun, kewajiban, juga sunah dalam menyelenggarakan pernikahan. Misalnya: disunahkan agar akad nikah diadakan di masjid dan pada bulan Syawal. (halaman 76)
Namun, kitab ini tidak hanya berfokus pada pernikahan saja. Yang jadi poin utamanya justru tentang bahaya syahwat dan metode untuk menundukkannya. Syahwat di sini ada dua: syahwat perut dan syahwat kemaluan. Metode utama yang dianjurkan untuk menundukkan dua syahwat ini adalah dengan berpuasa. Dan buku ini benar-benar menjabarkan mengapa puasa yang dijadikan metode. Jawabannya ternyata sangat sederhana dan saking simpelnya jadi tidak terduga: karena kalau dalam keadaan lapar, manusia jadi lemas. Kalau lemas, nggak punya energi buat berbuat maksiat.
BENER JUGA, YAK! HAHAHAHA! Kenapa yang gini aja aku enggak kepikiran, sih?
Pentingnya tidak memanjakan nafsu makan dibahas terus secara intens di sepanjang buku. Kayaknya sumber penyakit fisik dan rohani itu memang dari perut. Namun, mengendalikan nafsu makan ini pun juga tidak boleh berlebihan sampa zalim pada diri sendiri.
Tujuan makan ialah menjaga keberlangsungan hidup dan mendatangkan kekuatan beribadah. Rasa berat pada perut dapat menghalangi ibadah. Begitu juga rasa sakit akibat lapar, kondisi ini dapat mengganggu konsentrasi hati dan dapat menghalangi beribadah. (halaman 254)
Untuk mengendalikan syahwat, diperintahkan juga untuk menjaga mata. Perintah yang tampaknya begitu sering disepelekan oleh orang generasi sekarang.
Isa a.s. berkata, "Jauhilah memandang, karena itu akan menanamkan syahwat di hati, cukuplah syahwat sebagai fitnah."
Sa'id bin Jabir berkata, "Datangnya fitnah kepada Dawud a.s hanya karena memandang."
Yahya a.s. ditanya, "Apa permulaan zina?" ia berkata, "Memandang dan berangan-angan."
Al-Fudhail berkata, "Iblis berkata, 'Dialah anak panahku yang tidak pernah meleset dengannya.'" Maksudnya pandangan mata. (halaman 280).
Aku baru membaca buku ini sampai halaman 280 saja. Sebenarnya buku ini dibeli untuk dihadiahkan pada calon suami adikku. Sebelum diberikan, aku menyampulinya dengan sampul plastik lalu ngebut baca sebelum acara lamaran. Tapi... sayangnya nggak sempat selesai. Hahaha. Nanti kalau aku sudah baca lanjutannya, akan kulanjutkan lagi progress baca berikut reviewnya.