Menyisipkan kembali mitologi, meresonansikan lagi suara-suara purba dan energi-energi primordial itulah yang dengan kuat menyeruak dalam sajak-sajak Ahda dalam kumpulan ini. Sajak-sajak mythopoesis yang mendenyarkan kelampauan dalam kekinian, keangkeran dalam kecerahan, keutuhan dalam keterputusan. Suatu meditasi di tengah puing-puing. Dia menampilkan kembali binatang-binatang mistis seperti ular dan rusa dan kalajengking, figur-figur adimanusia seperti Adam atau Isa atau Buddha atau membantun tokoh-tokoh dari legenda seperti Hermes, dan sebagainya dan seterusnya. Maka membaca sajak-sajaknya kita penaka menerobos lapisan-lapisan waktu, bolak-balik antara alam kenyataan dan alam kasunyataan. Sajak-sajak mythopoesis Ahda meminjam ungkapan Mario Vargas Llosa adalah godaan yang mustahil (the temptation of the impossible). Kita berada di sini dan sekaligus di sana, di mana-mana sekaligus tak dimanapun.
Memahami puisi barangkali adalah suatu pengalaman yang sulit diurai dengan kata-kata itu sendiri. "Saya paham, tapi saya tidak bisa menjelaskannya padamu". Di lain sisi, pemahaman puisi ini justru sangat mungkin didiskusikan (untuk tidak mengatakan diperdebatkan) karena sifatnya yang prismatif. Buku puisi ini ditutup dengan esai Tia Setiadi. Berisi sekelumit catatan atas sekelumit "Rusa Berbulu Merah"-nya Ahda. Tiga puluh empat halaman banyaknya, dan tentu saja, paling hanya sepuluh persen yang saya pahami.
Saya memahami, dan tentu saja menikmati, buku puisi ini sesederhana mungkin. Saking sederhananya, saya kembali lagi pada pemahaman awal: "saya paham, tapi saya tidak bisa menjelaskannya padamu". Payah memang.
Lima puisi yang akan terus menghantui saya: 1. Hikayat Tangan 2. Bermalam di Tubuhmu 3, Mengingatmu Sekali Lagi 4. Aku Telah Berangkat 5. Pelajaran Pertaama Menulis Puisi
Kumpulan puisi milik Ahda Imran ini dibagi menjadi beberapa bagian yaitu : Lubuk Kata, Puisi yang Berjalan, Bayang Cermin, Rusa Berbulu Merah, Hikayat Sebuah Meja, dan Empat pelajaran Menulis Puisi. Masing-masing bagian ini memiliki puisi-puisi yang menawan.
Selain itu, dalam buku ini juga terdapat sebuah esay penutup yang memberikan informasi bagaimana tulisan-tulisan ini dibuat dengan menjelaskan karakteristik setiap puisi Ahda Imran di dalamnya. Esay yang cukup detail memudahkanku untuk memahami bagaimana suatu karya terbentuk dan terilhami.
Setelah baca buku ini bapak Ahda Imran akan menjadi salah satu penyair favoritku!semua puisinya ga ada yg gagal dan tiap diksi dan majas yg dipake tuh selalu tepat sasaran, tp klo disuruh milih aku paling suka puisi yang judulnya Bermalam di tubuhmu dan Angin muara.
Selain itu dapet insights baru seiring menuju halaman terakhir, aku tuh serasa dijejelin sama istilah2 dan sejarah dunia yg baru, ADUH BEYOND AMAZING POKOKNYA!!!!
Saya sebagai pembaca sangat kesulitan memahami puisi-puisi Ahda Imran. Rusa Berbulu Merah, salah satu puisi yang ada di buku ini sekaligus sebagai judul bukunya.
Awalnya saya berpikir buku ini bercerita tentang rusa di hutan, setelah membacanya ternyata puisi tersebut membahas sosok Tan Malaka.
It was just okay. Many poems in this book were just boring. My faves: Angin Muara and Dari Bahasa Kepada Puisi (just because he dedicated this poem to Afrizal Malna).
"Maka diamlah tubuh biar kuurai seluruh ingatan, memisahkan nama-nama dari hasrat yang menamainya memulangkan ke dalam suaramu yang berlarian dan bergantungan di daun telinga dan kedua lenganku"
Kavernya bikin jatuh cinta. Isinya juga bikin kesengsem. Puisinya sederhana namun mencekam dan mendebarkan seperti menunggu kemunculan hewan mitos (naga).