Monako menawarkan kemewahan yang berkilau. Lewat jemarinya, Arumi E. akan mengajak kita berkeliling di Monte Carlo dengan cerita cinta penuh kejutan.
Kiara Almira ingin menjauh dari seremoni membosankan pekerjaannya di Cannes. Ia nekat membeli tiket kereta menuju Kota Nice dan melarikan diri. Seorang lelaki asing yang dijumpainya di kereta membawanya ke Monte Carlo, menjelajah tiap sudut Old Town yang memukau. Kala Kiara ingin mengenalnya lebih dekat, lelaki itu menghilang di tengah senja di Kafe Le Portrait, menyisakan rasa penasaran yang tak bisa dihapusnya.
Obsesi yang tidak masuk akal terhadap lelaki asing itu membuatnya sulit menemukan kekasih hati, sampai ia bertemu Alaric Kanigara. Meski sang Sutradara mampu membuat perasaannya melambung tinggi, hati kecil Kiara masih bertanya-tanya, ke mana pria yang tiba-tiba meninggalkannya di Monte Carlo?
Setiap tempat punya cerita. Dari negeri Ratu Grace Kelly, skenario cinta hadir tanpa terduga.
terasa aneh dari awal, tapi saya tetap mencoba positive thinking. Mungkin seperti novel kebanyakan, yg ga asik di awal, tapi dahsyat di tengah dan akhirnya. Tapi ternyata ini termasuk novel yang membuat populasi pohon punah. Huhu...
kalau ada opsi tidak memberi bintang di goodreads, mungkin sudah saya lakukan yang kurang lebih artinya "I really really do not like it!!!" dengan tanda seru! Maaf kalau sarkas ya, tapi ini esuai juga dengan kekecewaan yang harus saya terima. Yang sudah membaca Serial STPC season 1, saya rasa akan sama, memiliki ekspektasi tinggi untuk setiap serial STPC. Dan STPC season 2, terutama Monte Carlo dengan menyebalkannya merusak ekspektasi itu. Gagal membawa kisah yang berkualitas.
Banyak banget yang terlalu mengada-ada. Nggak dapet sama sekali feel-nya. kadang saya cek lagi, ini bener ga sih terbitan Gagas? Banyak banget yang terkesan mengada-ada dan MAKSAIN. (maksain pakai huruf kapital means maksain banget nget nget nget)
Seperti apa itu Monte Carlo, gimana rasa penasaran Kiara sama si cowok Prancis yang bahkan saya lupa namanya, dan berbagai macam perasaan atau setting yang dihadirkan dalam ratusan halaman Monte Carlo sama sekali gak menimbulkan bayangan di otak, even saya membaca beberapa bagian berkali-kali (hanya untuk mencoba mengerti).
Saya setuju bingit nih sama review yang di bawah saya ini. Sama-sama manusia yang dikecewakan dengan sangat oleh Monte Carlo.
Hal yang aku suka dr buku ini: 1. Latar tempatnya!! Monte Carlo, Cannes, Nice dan Paris 😍 2. Bagaimana Penulis mampu membuat pembaca juga bisa berkeliling Prancis dan menikmati tempat² yg dikunjungi oleh para tokoh. 3. Perkembangan tokoh²nya, terutama kedua tokoh utama, Kiara dan Alaric. 4. Endingnya!! 5. Misteri Bertrand yg kabur. Kasian bgt sebenarnya pas kita tahu alasannya 🥺. 6. Gaya penulisannya yg ngalir bgt dan page turner!
Nothing special whatsoever. A romance book without anything romantic at all. The characters are so unlikable. I mean this is not a hate speech, but the heroine is just unbearable, very irresponsible even until the last scene. The only good thing is I can learn a little bit about Monte Carlo... sigh.
Masih saja dengan bodohnya bertanya-tanya dalam hati, apa alasan saya masih saja membeli STPC Season 2 ini? Novel pertama, kedua, dan sekarang yang ketiga, hanya menimbulkan kritik semata tanpa terselip sedikit pun pujian. Buang2 uang. Tapi apalah daya, saya sudah memutuskan untuk mengoleksi STPC-nya Gagas, jadi nggak bisa berhenti di tengah jalan begitu saja, sememuakkan apa pun kisah2nya.
Satu kata untuk menggambarkan novel ini: kaku. Dialog2nya luar biasa kaku dan tidak mengalir, aneh. Kata2 yg dipilih lebih pantas muncul di narasi daripada di dalam dialog, terlalu berbunga-bunga, dan kadang2 norak. Dan secuil pun saya tidak merasakan rasa simpati kepada tokoh Kiara. Ini gadis macam apa sebenarnya? Berteriak2 tentang tanggung jawab pada Alaric padahal dirinya sendiri nggak pernah bertanggung jawab sama sekali. Emosinya meledak-ledak, super kekanakan, dan sebaris sifat2 menjengkelkan lainnya. I do admit, I don't like this charater at all, yang berakhir pada pengakuan bahwa novel ini sangatlah membosankan, dengan konflik yang nanggung, anti klimaks. Konfliknya bisa dibilang bukan konflik sama sekali. Cuma rasa egoisme dalam diri masing2 karakter utama saja. Penggambaran setting jg bisa dibilang nggak menarik, kurang, seolah dibahas sambil lalu. Terutama setting waktu yang tidak jelas, tiba2 saja sudah loncat minggu, bahkan tahun. Oh, belum lagi typo dan kesalahan dalam EYD, seperti tanda baca dan huruf kapital, juga istilah2 asing yang tidak dimiringkan.
Halaman 63, "Tingginya mungkin kurang lebih sekitar seratus tujuh puluh sembilan sentimeter." Hellow, dia cuma memperkirakan tinggi orang loh, tapi kenapa bisa sampai sedetail itu? 175 atau 180 masih oke, tp ini? 179?
Halaman 115, "Jangan khawatir, Liv. Kali ini aku tak akan lebih bertanggung jawab." Typo-nya sampai mengubah arti kalimat dan makna yang dimaksudkan.
Eng ing eng, benar2 mengecewakan. Jika dibandingkan dgn STPC Season 1 yang ditulis dengan luar biasa oleh para penulis yang kemampuannya juga luar biasa, maka STPC kedua terkesan seperti ajang coba2 yang berakhir gagal. Padahal akan lbh bijak jika berhenti di STPC Season 1 saja, yang akan meninggalkan kesan manis di hati pembaca.
Hahaha tbh idk how to start this review 🫣 saking bingungnya, habis baca cuma ngang-ngong aja beberapa menit hahahaha.
2 bintang. satunya untuk konsep buku dari gagas media yang super cantik! satunya lagi untuk effort penulis sudah menyelesaikan buku ini hingga join di series STPC 😂
Sekarang kita mulai alasan kenapa aku cuma kasih 2 bintang untuk buku cover hijau ini. Pertama, mungkin aku udah kebawa alur bagus cerita STPC yang sebelumnya udah aku baca sampe akhirnya jadi naruh eskpektasi lebih sama cerita lainnya, DAN.. Montecarlo sendiri gak bisa menuhin harapan yang aku bangun ketika beli saat itu.
Jujur aku kecewa. Agak, sih. Aduh, entahlah.. mungkin kecewa pangkat 2 kali ya hahahaha. Gak nyalahin juga sebenernya mengingat aku beli karena murni kepingin koleksi series STPC yang waktu itu jejer banyak banget di rak gramedia. Aku bahkan sampe cari buku-buku yang belum aku dapetin di platform manapun. ALIAS, effortku buat beli dan nawar harga gede banget serius 😂 Tapi bayarannya? Aku kerasa sama sekali gak worth to buy! gak worth to read juga menurutku.. Aku bacanya agak cringe dan.. APA SIH? APAA??!! 😭 sorry author but this is my honest review 🫶
Jalan ceritanya gak kena banget. Penggambaran latar terlalu satset hingga Montecarlo itu sendiri gak kebayang jelas dalam otak.
Sedangkan tokohnya.. SUMPAH demi apapun aku gedeg bukan main sama sosok Kiara! Gak jelas banget kayak.. she's so childish and mwbsmwhsjshsjsjsj (mumet aku.) Berlaku juga untuk Alaric sendiri yang SAMA ANEHNYA buat aku. The character just so dramatic and SUPER LEBAY 😭 Gak ngerti, aku malah jatuh cinta sama sosok Bertrand! Dan gak ngertinya lagi AKU BINGUNG kenapa harus ada Bertrand disini? Kehadiran dia super nanggung. Muncul-ilang lama-muncul.. (ini kalo diterusin spoiler sih hahaha.)
Duh entahlah.. What i mean is.... Bingung.. Ngangngong lagi dah gue ngetiknya hahahahahahaha.
The only reason i finished this book adalah prinsip gue sendiri, "apapun buku yang udah lo buka segelnya, berarti lo harus bertanggung jawab buat baca sampe habis!"
meski gue bacanya terseok banget sampe habis 7 hari 🫶 once again, sorry not sorry author 🤝
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dari dua seri terakhir STPC, saya memilih Monte Carlo yang pertama kali dibaca sebelum Casa Blanca. Dari bagian awal novel tersebut, saya termasuk pembaca yang berada pada kategori bingung. Sosok Kiara Almira diceritakan bertemu atau berhubungan dengan banyak laki-laki dalam novel—Bertrand, Alaric, Oliver dan Tristan. Sepanjang perjalanan saya membaca buku tersebut, saya berusaha menangkap mana yang akan berakhir bersama Kiara, tapi ternyata dari empat, hanya satu yang memiliki porsi penuh, yaitu Alaric. Jadi saya tidak mengerti di mana pentingnya ada karakter laki-laki sebanyak itu? Sebut saja Tristan yang sebenarnya tidak begitu berperan dalam membangun plot cerita.
Kedua, dialog yang digunakan pada novel kurang mengalir natural. Masih ada yang terkesan kaku dan ‘nanggung’.
Dari segi latar, Monte Carlo cukup menyuguhkan latar yang baik. Pembaca dapat diajak merasakan indahnya Monte Carlo lewat tiap tempat-tempat yang menjadi trademark di sana.
Masalah karakter, cukup baik dibawakan. Tapi karakter yang paling terasa kuat adalah karakter Oliver. Sementara yang lain, just so so kalau menurut saya.
Oke. Semoga feedback ini bermanfaat ya, Kak. Keep writing! : )
This entire review has been hidden because of spoilers.
love the concept of the story and how it pictured how beautiful monte carlo was
hate the female character (minus two stars because of her). she was absolutely horrible. just because she was pretty and a celebrity, she thought the world evolved around her. she was also childish, rude, boring, unprofessional (and she said she was one of the most legit actress in indonesia🙄🙄), impulsive (to the point of idiotic), and a major hypocrite. what was worse though, it seemed like the character knew that she was acting like a bitch but she did nothing about it
what even worse was (if that was even possible) how she treated her best friend. she had a very loving and support best friend but she always treated her unkindly, while her best friend always tried to be patient with how she was treated. while her other guy best friend who (SURPRISE SURPRISE) liked her, she treated like an emotional dump for her. so insensitive. that only made me hated her more.
i also think the author was a bit delusional. suddenly met a hot French guy in a train and volunteered to be your guide in Nice and Monte Carlo? HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. in your dream. and that stupid bitch TURNED HIM DOWN 🙄🙄 oh, and the meeting hot guy in train scene? That happened TWICE :)
however, even though the female character was super annoying, i loved how cute the interactions between the couple, it was seriously cringe, but in a good (AND CUTE) way
Premis ceritanya cukup menarik hingga saya akhirnya memutuskan untuk membaca ini. Karakter-karakter utamanya juga kuat, sangking kuatnya jadi ikut sebel. Saya merasa tidak ada koneksi dengan karakter-karakternya.
Kiara menurut saya tidak bisa menjadi karakter yang lovable, dia digambarkan sebagai sosok artis yang tidak profesional, tidak bertanggung jawab, seenaknya, keras kepala, dan cenderung egois. Dan semua karakter yang ada di novel cukup membuat saya darah tinggi karena hampir semuanya memaklumi karakter Kiara. Saya nunggu-nunggu kapan Kiara seharusnya betul-betul instropeksi diri atau ada adegan di mana Kiara mendapat getah dari perbuatannya. Tapi nihil, sehingga akhirnya ceritanya kurang relatable dengan kondisi di kenyataan.
Kemistri antara Kiara dan Alaric juga kurang greget. Berasa ngambang dan seadanya. Malah justru cenderung dipaksakan dan terkesan hambar. Tadinya ngira bakal ada Betrand yang akan tiba-tiba hadir di antara hubungan mereka yang bisa jadi penambah keseruan cerita ternyata nihil juga.
Dialognya terasa kosong, kurang ada nyawa di dalamnya sehingga akhirnya agak sulit memaknai kisah dalam novel ini. Dialognya tipikal seperti dialog-dialog dalam novel atau film romantis klasik. Too fictional. I'm sorry 😔
Akhirnya saya menutup buku ini dengan ekspresi, "Hah? Ini barusan gue baca apaan sih? Nggak jelas tolong!"
This entire review has been hidden because of spoilers.
Baru tiba di halaman 201 dan sampai disini sudah ada 3 kata sanksi yang ditulis SANGSI. Bahasa Indonesia saya kah yang salah, atau penulis dan editornya?
Buku kedua di tahun ini yang membuatku ingin menangis; kok ceritanya kayak giniii, kok dibaca tapi ga habis-habis ya :'(
Mungkin kalau buku ini kubaca waktu masih remaja, aku akan suka. Bagian dimana si sutradara jadi labil antara suka sama si artis, cemburu, sok" judes, sudah bukan jenis jalan cerita yang akan kusukai sebagai orang yang sudah lebih dewasa. Jatuh"nya jadi merasa, ini buku kok bocah banget jalan ceritanya sih
"Jangan tanya kenapa, sering kali perasaan cinta datang tanpa kita tahu apa sebabnya. Aku hanya bisa merasakannya. Perasaan suka tiap kali berada di dekatmu." – halaman 257
Kiara Almari, seorang aktris Indonesia yang sedang naik daun, melakukan perjalanan kerja ke Cannes sebagai duta sebuah produk kecantikan. Kegiatannya padat dan membosankan. Itu membuat Kiara berani kabur ke Nice, sendirian, meninggalkan Livia, asisten pribadi dan sahabat baiknya kelimpungan. Di kereta menuju Nice, Kiara berkenalan dengan Bertrand LaForce, fotografer lepas yang sukarela menjadi pemandunya dan menantangnya ke Monte Carlo. Tapi lelaki itu meninggalkan Kiara tanpa pamit atau alasan di sebuah kafe di mana mereka menikmati makan malam. Di hari selanjutnya, dia bertemu dengan Alaric Kanigara, sutradara kelahiran Indonesia yang bermukim di Paris. Lelaki itu menarik tapi pengalaman Kiara dengan Bertrand membuatnya sangat berhati-hati.
Setahun kemudian, Kiara mendapatkan peran utama di sebuah film yang menggunakan Monte Carlo sebagai salah satu setting-nya. Kiara ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari jawaban atas kepergian Bertrand yang misterius. Namun Kiara malah bertemu dengan Alaric, yang didapuk menjadi sutradara film tersebut. Baik Kiara dan Alaric sempat kaget dengan pertemuan kedua itu. Kiara menemukan sisi menyebalkan dari Alaric saat mereka mulai menjalani syuting di Monte Carlo. Kiara memutuskan untuk kabur sejenak. Dia memutuskan untuk mengunjungi kafe yang dia kunjungi bersama Bertrand.
---
Aku beruntung sekali tidak memaksakan diri membeli novel ini karena Monte Carlo: Skenario ternyata sangat, sangat mengecewakan! Aku memang sudah baca banyak review penuh kekecewaan di Goodreads. Semua itu sedikit kuabaikan karena aku ingin mencobanya sendiri. Siapa tahu ini hanya masalah perbedaan selera. Ternyata aku salah besar. Semua yang tertulis di laman Goodreads itu mewakili apa yang kudapat dari novel ini, ceritanya datar, setting Monte Carlo-nya tidak terasa, ditambah beberapa hal lain yang tak kalah mengecewakan dan menyebalkan seperti mengulangan informasi yang berlebihan dan kadang malah saling berlawanan, perubahan perasaan para karakter yang tidak mengundang simpati pembaca dan sangat drastis. Padahal ceritanya menarik dan saat membaca bab-bab pertama, aku tidak merasakan ada yang salah. Premis Kiara yang pertama kali berkunjung ke kota asing dan dipandu lelaki asing sedikit mengingatkanku pada Just One Day. Lalu kemunculan Alaric yang gampang dikaitkan dengan pengalaman Kiara dan Bertrand membuatku sedikit menebak alur selanjutnya. Tebakan itu adalah tebakan yang udah umum seperti Alaric ini sepertinya akan jadi rebound-nya Kiara, seperti yang sinopsis di atas gambarkan, atau Bertrand akan muncul lagi, menjadi penghalang dua orang atau dia tidak akan muncul sama sekali. Semuanya salah. Yang terjadi malah Kiara dengan gampang ‘terpuaskan’ dengan alasan sederhana Bertrand dan tidak sedikitpun punya minat untuk melanjutkan atau membangun kembali hubungan singkat mereka sebelumnya. Aneh, terus kenapa Kiara bisa begitu penasaran selama setahun lamanya? Hubungan Kiara dan Alaric juga tidak begitu baik. Sampai halaman 200an, tidak ada tuh adegan yang menunjukan bahwa ‘sang Sutradara mampu membuat perasaan [Kiara] melambung tinggi’ dalam artian yang positif. Yang ada mereka bertengkar karena hal-hal sepele yang kadang menggelikan.
Kiara bertemu pria berkewarganegaraan Perancis yang baru saja dikenalnya di kereta. Pria itu bernama Bertrand Laforce, seorang fotografer lepas. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama di sebuah kafe bernama Le Portrait. Kafe yang tidak terlalu besar, namun di Kafe ini pengunjung dapat memandangi pesona Pantai Monte Carlo yang dipenuhi kapal- kapal mewah di sepanjang dermaga. Tak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk akrab, hingga akhirnya Kiara setuju untuk difoto oleh Bertrand. Namun, ditengah- tengah suasana itu, Bertrand mendapat telepon..
“Maaf, Kiara, aku menerima telepon dulu, ya. Tunggu sebentar,” Sekian lama menunggu, Kiara akhirnya memilih untuk meninggalkan kafe itu. Hari selanjutnya, Kiara kembali bertemu dengan seorang pria yang menarik perhatiaannya, Alaric Kanigara, sutradara kelahiran Indonesia yang bermukim di Perancis. Namun, hal itu masih kalah menarik, dibandingkan dengan pengalamannya dengan Bertrand, kemarin. Setahun berlalu, Kiara yang merupakan aktris Indonesia yang tengah naik daun, parasnya benar- benar membuat orang terpesona. Kiara mendapat peran utama pada sebuah film yang bersetting di Monte Carlo. Mendengar nama Monte Carlo, Kiara langsung setuju untuk menerima peran tersebut. Hal ini disebabkan oleh rasa penasarannya yang besar tentang sosok Bertrand, yang secara misterius hilang di Le Portrait. Namun, ternyata peran tersebut mempertemukannya dengan Alaric, yang baru ia ketahui ternyata didapuk sebagai Sutradara filmnya. Sosok Alaric yang dilihat Kiara setahun yang lalu, ternyata sangat berbeda yang sekarang, sikapnya yang sering menyalahkan Kiara saat syuting, membuat Kiara sebal, dan akhirnya memilih untuk kabur sejenak dari semua rutinitasnya. -- Well, saya sebenarnya agak telat membaca novel ini. Novel ini sudah ada di rak buku, sejak beberapa bulan yang lalu, namun membaca komentar negatif di goodreads mengurungkan niat saya untuk membacanya. Saya takut tidak bisa menyelesaikannya dan malah memutuskan untuk berhenti membacanya di tengah- tengah cerita. Tapi, hari ini saya mulai membacanya dan berniat harus menyelesaikannya. Dan... saya berhasil membacanya dalam waktu 3 jam. Selesai membaca, saya berpikir sejenak, Monte Carlo adalah sebuah novel yang tidak terlalu buruk, namun memang masih sangat pembenahan. Satu hal cukup menganggu disini, adalah bagaimana penulis menciptakan karakter Kiara Almira, okelah, tidak selamanya karakter itu berwujud protagonis, namun disini, saya benar- benar kehilangan respect kepada tokoh utama dalam novel ini. Kiara digambarkan bahwa ia seorang yang pekerja keras, bertanggung, namun nyatanya? Sudahlah saya tak menjabarkannya, banyak sekali adegan dimana Kiara benar- benar membuat saya ingin menutup novel ini. Sejujurnya, saya juga merasa bahwa Monte Carlo tak ubahnya sebuah teenlit, namun sedikit lebih tebal, tak ada konflik- konflik yang mampu membuat pembaca larut, semua terasa datar, tak ada letupan- letupan emosi. Diakhir novel, saya sempat berpikir bagaimana jika Bertrand dihadirkan di antara kedua tokoh, biarlah menjadi konflik yang klise, tentang dua orang pria yang memperebutkan seorang wanita, namun saya percaya penulis bisa merangkainya dengan narasi dan dialog yang apik.
Kiara Almira ingin menjauh dari seremoni membosankan pekerjaannya di Cannes. Ia nekat membeli tiket kereta menuju Kota Nice dan melarikan diri. Seoang lelaki asing yang dijumpainya di kereta membawanya ke Monte Carlo, menjelajah tiap sudut Old Town yang memukau. Kala Kiara ingin mengenalnya lebih dekat, lelaki itu menghilang di tengah senja di Kafe Le Portrait, menyisakan rasa penasaran yang tidak bisa dihapusnya.
Obsesi yang tidak masuk akal terhadap lelaki asing itu membuatnya sulit menemukan kekasih hati, sampai ia bertemu Alaric Kanigara. Meski sang Sutradara mampu membuat perasaannya melambung tinggi, hati kecil Kiara masih bertanya-tanya, ke mana pria yang tiba-tiba meninggalkannya di Monte Carlo? Setiap tempat punya cerita. Dari negeri Ratu Grace Kelly, scenario kisah cinta hadir terduga.
Kiara Almari, seorang aktris Indonesia yang sedang naik daun, melakukan perjalanan kerja ke Cannes sebagai duta sebuah produk kecantikan. Kegiatannya padat dan membosankan. Itu membuat Kiara berani kabur ke Nice, sendirian, meninggalkan Livia, asisten pribadi dan sahabat baiknya kelimpungan. Di kereta menuju Nice, Kiara berkenalan dengan Bertrand LaForce, fotografer lepas yang sukarela menjadi pemandunya dan menantangnya ke Monte Carlo. Tapi lelaki itu meninggalkan Kiara tanpa pamit atau alasan di sebuah kafe di mana mereka menikmati makan malam. Di hari selanjutnya, dia bertemu dengan Alaric Kanigara, sutradara kelahiran Indonesia yang bermukim di Paris. Lelaki itu menarik tapi pengalaman Kiara dengan Bertrand membuatnya sangat berhati-hati.
Setahun kemudian, Kiara mendapatkan peran utama di sebuah film yang menggunakan Monte Carlo sebagai salah satu setting-nya. Kiara ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari jawaban atas kepergian Bertrand yang misterius. Namun Kiara malah bertemu dengan Alaric, yang didapuk menjadi sutradara film tersebut. Baik Kiara dan Alaric sempat kaget dengan pertemuan kedua itu. Kiara menemukan sisi menyebalkan dari Alaric saat mereka mulai menjalani syuting di Monte Carlo. Kiara memutuskan untuk kabur sejenak. Dia memutuskan untuk mengunjungi kafe yang dia kunjungi bersama Bertrand.
Arumi E. Monte Carlo: Skenario GagasMedia 317 pages 1.6
Ingat waktu beberapa waktu yang lalu Gagas pernah menjual gratis ebook-nya di Google Books? Monte Carlo dari Arumi ini salah satunya. Untuk seorang penulis yang cukup prolific, saya sebenernya agak-agak gimana gitu karena terkadang kuantitas tidak berbanding lurus dengan kualitas. Apalagi yang bersangkutan pernah tersangkut masalah di buku Amsterdam Ik Hou van Je. Tapi saya mau pakai benefit of the doubt aja dan cuman mau nge-judge buku ini aja.
Yang sebenernya kurang lebih enggak jauh-jauh dari review yang sudah-sudah. Saya cuman bisa nyengir aja sepanjang baca buku ini. Narasinya terlalu banyak tell dan terasa kurang luwes dan fluid. Karakternya juga sangat cringeworthy dan questionable. Konflik ceritanya yang sangat sederhana. Sepanjang baca buku ini saya enggak bisa menemukan satu pun hal yang saya suka dari cerita ini, selain saya mesti mengakui deskripsi Monte Carlo-nya, yang meskipun terasa sedikit kaku, tapi cukup kuat dalam membangun cerita.
Semoga buku yang dijual gratis Gagas lainnya enggak seperti ini, ya.
Dari awal sudah banyak informasi yang tidak konsisten, bahkan sampai ke hal-hal kecil. Sikap tokoh utama tidak bertanggung jawab dengan pekerjaan--sampai dia bilang lupa kalau dia sendiri sudah menyepakati kontrak kerja tersebut, eh? Saya agak heran, bagaimana sikap seperti itu bisa bertahan dalam karier yang disebut 'berpotensi'? Bahkan saya bingung sebenarnya tujuan dia bekerja di dunia akting itu untuk apa? Toh dijelaskan kalau si tokoh utama tidak menikmati, mudah bosan, dan lain-lain.
Selain itu, mudah percaya dengan orang asing yang baru ditemui sampai mau dipegang tangan? Pffft. Padahal diawal dia bilang pengin jalan-jalan sendiri. Kemudian hal tersebut terulang dua kali.
Pengambaran tempatnya kurang pas, terlalu dipaksakan.
Terlalu banyak pengulangan informasi, yang seringnya tidak sesuai dengan isi info sebelumnya.
Aku suka bagaimana Mba Arumi menggambarkan Kota Nice dengan gamblang dan informative. Keindahan Montecarlo terasa banget. Aku baru tahu kalo ada kota seindah Nice di Prancis.
Sayangnya Mba Arumi banyak kecolongan dari konflik cerita yang biasa saja, bahkan di luar ekspektasiku saat membaca blurb-nya. Tentu saja aku menginginkan kisah yang penuh dengan gejolak emosi apalagi pertemuan kembali dengan Bertrand.
Karakter tokohnya pun tidak kuat dan tidak ada chemistry. Kecuali Livia, aku menyukai sosok Livia yang tegas dan karakternya sangat kuat.
Untuk alur ceritanya pun terdapat lonjakan cerita yang jauh banget di setiap babnya sehingga ada hal penting yang sekiranya harus dimunculkan untuk menambah konflik. Seperti gosip pertemuannya dengan Tristan yang memungkinkan akan mempengaruhi film terbaru. Tapi, eksekusinya biasa saja.
Selesai juga akhirnya. Ini novel Arumi saya yang pertama.
Warna covernya itu lho, unyu sekali. Awalnya, saya tidak menyangka bahwa novel ini tentang perfilman. Tapi, saya menyukainya, kok.
Ada beberapa bagian yang bikin saya kesal setengah mati. Seperti kala Kiara dan Amira shooting di Monte Carlo dan Alaric bersikap dingin. Ada juga beberapa kesalahan ketik di buku ini, terutama di bagian awal buku.
Sebenarnya pas bagian awal buku saya kurang sreg gitu dengan deskripsi tempatnya, tapi berjalan ke tengah saya semakin menikmatinya. Endingnya pun ditulis dengan baik.
Lagi-lagi saya harus menelan kekecewaan karena pengharapan yang berlebih, seperti kata adik saya yang juga sudah membacanya, lempeng.
Subyektif memang, tapi saya memang penganut (oh, bahasa saya) paham romantisme meradang, dan membaca buku ini saya merasa datar, saya tidak merasa ada chemistry di antara kedua tokoh buku ini, Kiara dan Alaric, bahkan saya sempat berpikir Bertrand akan masuk di tengah konflik mereka berdua, ternyata saya salah.
Sulit memang, kalau sudah membawa setting negara lain dengan menyelipkan berbagai detail tempat itu apalagi ini seri STPC yang memang sarat hal itu, tapi saya merasa kecewa...
butuh waktu lamaaaaaaaa buat kelarin novel ini saking 'males' bacanya. tapi karena gue tipikal orang yang 'kalo-uda-baca-wajib-dihabisin' yah gue kejer deh sambil skip sana sini.
imho..terlalu 'sinetron' dengan drama2 cheesy yang (sory) murahan, ga menarik dan seriously terlalu ringan.
intinya novel ini ngga berhasil nge-drive perasaan gue untuk ikut masuk ke dalam ceritanya.
banyak hal2 aneh dan maksa kayak misalnya tokoh bertrand yang uda nongol di halaman2 awal dan sinopsis eh ternyata cuma figuran :/
alaric yang pengenalannya cenderung datar malah ternyata prince charmingnya???
Dari sekian banyak seri STPC yang saya koleksi, sepertinya ini yang paling tidak memuaskan. Saya masih bisa memaafkan 'kebetulan-kebetulan' di Athena milik Erlin Natawira. Judul, sampul, tata letak, overall sebenarnya menggoda sekali. Apalagi novel ini adalah salah satu dari STPC-nya Gagas. Tapi yang sangat disayangkan, ini benar-benar mengecewakan. Biasanya saya menilai novel dari 10 halaman pertama, dan 10 halaman pertama novel ini tidak bisa membuat saya 'masuk' ke dalam cerita seperti novel-novel yang pernah saya baca sebelumnya. Saya juga nggak bisa menunjukkan perasaan peduli pada tokoh utamanya. Karakternya terlalu dibuat-buat, dramatis, dan terkadang nggak masuk akal.
Jujur, bingung mau kasih berapa bintang dan akhirnya saya memutuskan untuk memberikan 2 bintang. Agak aneh sih karena ternyata bukan Bertrand yang jadi pangerannya Kiara, secara Kiara sampe rela ke Monte Carlo. Yah kecewa sih, sama seperti komentar yang sudah disampaikan oleh pembaca-pembaca lainnya. Banyak yang maksa dan terlalu banyak kebetulan. Tidak masuk akal deh kalo menurutku dan Kiara terlalu childish. Flat banget novelnya, ga kerasa romantisnya.
Ide cerita menarik, cerita awal cukup membuat penasaran dan cukup bagus membangun mood pembaca. Tetapi saya cukup kecewa saat mulai bisa membaca kemana alur cerita ini akan mengalir. Seolah rasa penasaran yang diciptakan diawal hanya suguhan klise. Sampai di pertengahan buku aku sudah kehilangan greget akan cerita ini. Karena dialog dan adegan yang kurang menarik. Serasa ending terlalu dipaksakan.
Kalo di sinopsisnya ini Kiara pingin lagi ketemu dengan cowok yang ia jumpai di kereta, padahal Si Cowok itu perannya dikit banget. Jadi, pas aku baca sinopsisnya atau blurbnya ini, berandai-andai bahwa akhirnya mereka terlibat banyak adegan yang memungkinkan mereka bersatu. Ealah, taunya sama sutradara.
Sebenarnya kalo aku nggak baca sinopsisnya, ceritanya lumayan. Tapi, karena sudah tersugesti dan akhirnya berandai-andai nggak jelas, jadi salah persepsi deh.
huhuhu padahal saya udah suka banget sama awalnya. tapi kenapa pas di pertengahan mulai bosan? :( mungkin karena saya ngga nyangka, Kiara bakalan sama Alaric :(( Saya jadi hanya mempercepat halaman tanpa membacanya sampai akhir. Saya kira, Kiara bakalan sama Bertand yang dari awal diceritakan tentang kisah mereka. Aaahh kecewa nih sama endingnya...
sangat sangat sangat buruk. ini adalah buku terburuk yang pernah baca. cerita nya yang mengada-ada dan sangat sangat lempeng.
sangat kecewa. kalau begini mending saya pakai uangnya untuk nonton film atau beli makanan saja.
saya nggak ngerti apa penulisnya lagi pusing saat menulis cerita ini. tapi saya sangat kecewa buku ini MASIH di jual di toko buku dengan tulisan yang sangat jelek.
Ada hal yang sangat aku sayangin dari fisik bukunya--dan udah aku hadapin di seri STPC sebelum-sebelumnya-- yaitu itu setiap pertama kali dibuka lem perekat antara cover sama halaman awalnya selalu lepas. Entah karna aku yang kasar atau memang begitu ya._. *mikirkeras*